cover
Contact Name
Otto Fajarianto
Contact Email
ofajarianto@gmail.com
Phone
+6281296890687
Journal Mail Official
jurnal.peradaban@paramadina.ac.id
Editorial Address
Universitas Paramadina Jl. Raya Mabes Hankam No.Kav 9, Setu, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13880
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama)
Published by Universitas Paramadina
ISSN : 27753875     EISSN : 30467136     DOI : https://doi.org/10.51353/cxxqkb93
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama), is a peer-reviewed journal, and specializes in philosophy, religion, and ethics studies. The aim is to provide readers with a deep understanding of philosophical, religious, and ethical problems in many aspects. The journal invites scholars and experts working in all disciplines in the humanities and social sciences. Articles should be original, inspiring, research-based, unpublished and not under review for possible publication in other journals. All submitted papers are subject to review of the editors, editorial board, and blind reviewers. Submissions that violate our guidelines on formatting or length will be rejected without review. Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama) publishes two issues per year (June and December), published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Paramadina.
Articles 41 Documents
Etika Human-Centered Design Thinking: Refleksi Filosofis dan Implikasi bagi Manajemen Administrasi Nayla Saiba Zaliya; Rizka Zahra Qonita; Otto Fajarianto; Titim Nurlia
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/54q4fx93

Abstract

Design Thinking memiliki peran penting sebagai pendekatan inovasi yang berpusat pada manusia. Pendekatan ini tidak hanya menekankan penciptaan solusi kreatif, tetapi juga mengandung dimensi etika dan filsafat yang menempatkan martabat manusia sebagai inti. Melalui penelusuran literatur dan analisis konseptual, artikel ini menguraikan lima tahapan utama Design Thinking: membangun empati, merumuskan masalah, menghasilkan ide, membuat prototipe, dan melakukan pengujian. Setiap tahapan dikaji dari perspektif filsafat (humanisme, fenomenologi, pragmatisme, dan eksistensialisme) serta etika tanggung jawab. Selain itu, artikel ini menyoroti implikasi Design Thinking dalam manajemen administrasi, khususnya dalam konteks pengambilan keputusan, pelayanan publik, dan pengelolaan organisasi. Dengan demikian, Design Thinking dipahami bukan sekadar metode teknis, melainkan juga refleksi etis-filosofis yang memberi arah bagi manajemen administrasi yang humanis dan berkelanjutan.
Questioning Reform, Democracy and the Rule of Law in Indonesia Gratia Wing Artha; Herdi Sahrasad; Safrizal Rambe
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/b8n24p89

Abstract

Peneitian ini menganalisis kemunduran demokrasi, reformasi, dan supremasi hukum di Indonesia yang ditandai dengan fenomena stagnasi serta regresi. Melalui tinjauan literatur dan analisis situasi terkini, penulis menyoroti bagaimana demokrasi Indonesia telah dibajak oleh kekuatan oligarki, plutokrat, dan kapitalisme neoliberal yang memperlebar jurang ketimpangan ekonomi dan sosial. Data menunjukkan adanya ketimpangan aset finansial dan lahan yang ekstrem, serta dominasi asing yang kuat dalam sektor sumber daya alam seperti migas dan pertambangan. Rezim reformasi, khususnya pada era Presiden Joko Widodo, dinilai gagal mewujudkan keadilan sosial karena terjebak dalam praktik neo-KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) dan pelemahan etika kepemimpinan. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memikul tanggung jawab besar untuk memulihkan cita-cita Proklamasi 1945 melalui penegakan hukum yang tanpa pandang bulu, penguatan masyarakat sipil, dan tata kelola ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat guna menghindari risiko negara gagal.
Musik sebagai Jalan Pencerahan Spiritual dalam Doktrin As-Sama Hazrat Inayat Khan Rico Somala; Mohammad Subhi
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/ec3fyk96

Abstract

Penelitian ini membahas pemikiran seorang tokoh sufi modern yang berhasil mempertemukan tradisi timur dan barat melalui medium musik. Hazrat Inayat Khan (1882–1927) memandang musik bukan sekadar seni hiburan atau ekspresi estetis, tetapi sebagai jalan menuju pengalaman spiritual yang lebih tinggi. Baginya, musik adalah bahasa universal yang melampaui batas agama, budaya, dan etnis, serta mampu menghubungkan manusia dengan realitas transendental. Penelitian ini berupaya mengurai secara mendalam pemahaman tentang musik dalam tradisi sufisme Hazrat Inayat Khan, dengan sorotan pada dimensi spiritual, kedalaman metafisik, serta klaim universalitasnya. Kajian ini disusun melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka (library research), dengan menelusuri karya-karya utama Hazrat Inayat Khan, terutama The Mysticism of Sound and Music, serta menimbang literatur sekunder yang relevan sebagai landasan komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Hazrat Inayat Khan memandang musik sebagai wahana penyelarasan antara harmoni batin manusia dengan harmoni kosmos. Melalui getaran, nada, dan irama, musik berfungsi sebagai medium kontemplasi dan transformasi spiritual. Lebih jauh, musik menjadi jalan penyatuan manusia dengan sumber ilahi, sehingga setiap pengalaman musikal memiliki dimensi sakral. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Universal Sufism yang ia kembangkan, yakni sebuah sufisme terbuka yang menekankan nilai kesatuan seluruh agama dan tradisi spiritual. Penelitian ini menegaskan bahwa musik, menurut Hazrat Inayat Khan, adalah sarana pencerahan batin yang berperan penting dalam pembentukan karakter spiritual manusia modern. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya studi tentang hubungan seni dan sufisme, sekaligus membuka perspektif baru tentang relevansi musik sebagai wahana spiritual dalam kehidupan kontemporer.
Dialog Agama Dari Hati ke Hati: Mewujudkan Eksistensi Dialog Agama di Ruang Sosial Gratia Wing Artha; Valensius Ngardi
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jy8sqw61

Abstract

Dialog antaragama antara Islam dan Kristen telah menjadi topik yang penting dalam kajian keagamaan kontemporer. Walaupun sejarah dialog ini begitu panjang, namun tetap menjadi relevan bagi studi di bidang kajian filsafat ilmu-ilmu keislaman saat ini.  Perspektif ahli praksis agama dapat melacak dan mengeksplorasi tentang pemahaman konsep-konsep ketuhanan dengan framing  tentang keesaan Allah (Tauhid). Analisis komparatif, diharapkan dapat menemukan titik-titik persamaan dan perbedaan yang memperkaya pemahaman kita tentang dialog teologis antara Islam dan Kristen yang mencerahkan. Kebaruan (Novelty), dalam tulisan ini adalah metode dan pendekatan (methods and approaches) cara berpikir  dari para ahli membawa pencerahan dalam dialog teologis sehingga  menjadi oase kesejukan dan keteduhan dalam pemahaman agama dan keagamaan  masing-masing di bagian akhir dari makalah ini. Pendekatan normatif religius didukung oleh literatur serta hasil temuan dari pandangan para tokoh agama semakin mencerahkan dalam pengembangan tulisan ini, sehingga  memberikan kontribusi (contribution to knowledge) bagi pengembangan dialog yang harmonis di tengah masyarakat multikultural  dan kontemporer di abad 21 ini. Tulisan ini didukung oleh ungkapan keprihatinan  Charles J. Adams yang berhubungan dengan metodologi dan pendekatan yang digunakan dalam studi Islam, khususnya mencatat kegagalan sejarawan agama untuk memperluas pemahaman tentang Islam sebagai sebuah agama dan secara tepat menjelaskan fenomena religiusitas Islam serta konsep teori dialog teologis dari Ibrahim Kalin dan Daniel A.Madigan, membawa pencerahan ketika perbedaan teologis menjadi kekayaan dalam hidup beragama.
Membuka Toleransi Beragam Dalam Merajut Harmoni Sosial : Belajar Memanusiakan-Manusia Melalui Toleransi Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/46yeag07

Abstract

On the other hand, others are already striving to implement the values ​​inherent in us as citizens of Indonesian culture, such as egalitarianism, tolerance, and humanism, with interfaith dialogue that should adorn our daily lives with others. Furthermore, there is another view that the governance of religious diversity under the auspices of Pancasila and the 1945 Constitution does not guarantee the humane and wise recognition of religious rights regarding one's beliefs in the public sphere. Minority rights are often ignored due to the influence of various interests in identity politics, power relations, and hegemonic leadership. Each citizen still understands tolerance as merely discourse and an idea. In dialogue spaces, the implementation of a culture of tolerance becomes a heated discussion, although in certain areas, people can still coexist within the framework of differing beliefs. Identity politics is increasingly strengthened when relations between religious communities are fraught with group mapping based on identity, race, ethnicity, and religion. This simple article is merely a reflection aimed at presenting harmony of tolerance as a social control to prevent ripples of intolerance issues in Indonesia as the author's reflection on cases that touch on religion through various approaches. Three approaches: Power, Rights, & Interests, according to Samsu Rizal Panggabean, are a strong foundation in finding a space for togetherness and religious differences in Indonesia. For the case in this article, the author takes a power approach. This is also supported by Bhiku Parekh on the theory of religious tolerance in the context of multiculturalism. In addition, in the study of religious phenomenology, it is supported by Jacques Waardenburg's view of three urgent needs in studying Muslim-Christian relations as a fundamental framework by unraveling the problems of religious conflict that occur in Indonesian society today.
Hakikat Manusia Dalam Kehidupan Beragama Untuk Mencapai  Predikat “Insan Kamil” (Perspektif Pemikiran Ibnu Arabi) Sandy Aji Suhada
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/afpg9h91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas hakikat manusia dalam kehidupan Beragama untuk mencapai predikat insan kamil dengan perspektif pemikiran ibnu Arabi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif. Hasil dan pembahasan dari penelitian ini menjelaskan bahwa sejatinya proses dari pembentukan pribadi manusia memerlukan proses yang panjang dengan berbagai aspek yang ada dalam hakikat manusia serta penerapan konsep insan kamil dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga nantinya peran manusia dalam menjalankan kehidupan beragama tidak menjadi sia-sia dan dapat membentuk sebuah pribadi yang sholeh, pribadi yang memiliki sikap dan tindakannya yang mempunyai nilai-nilai keislaman yang datang dari Allah SWT melalui Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan umat islam dalam pembentukan akhlak dan karakter manusia yang mulia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa esensi jiwa dalam manusia dalam proses pemurnian diri harus didasari dengan nilai-nilai keagamaan dan unsur estetika dalam kehidupan umat beragama.
Menjadi Perempuan dalam Jaringan Gerakan Radikal : Sebuah Pengalaman Tentang Konstruksi Sosial, Agensi dan Paradigma Eksistensial vs Komunal Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/axeqf949

Abstract

Artikel ini, bertujuan untuk menjelaskan status peran perempuan dalam aktivitas ekstremisme dan partisipasinya dalam aksi kekerasan dan gerakan jaringan radikal. Di beberapa masyarakat, peran perempuan tidak terlalu terlihat di ruang publik. Identitas mereka sering diabaikan. Begitu kuatnya relasi kekuasaan membuat peran mereka dalam masyarakat berbeda-beda. Ketika dominasi laki-laki kuat, maka peran perempuan dalam masyarakat berubah di banyak bidang  aspek kehidupan. Masyarakat yang mengkonstruksi perempuan menciptakan sterotip ganda. Pertama, perempuan lemah dan tidak berdaya. Jadi ada kekuatan penyeimbangnya yaitu laki-laki. Kedua, di beberapa lapisan masyarakat, perempuan termasuk dalam kelas sosial bawah (working class atau lower class), sedangkan laki-laki termasuk dalam kelas atas (upper class atau  elite class). Ketika perempuan pemberani dan heroik muncul di ruang publik, definisi-definisi yang sudah mapan pun hilang dari kontruksi sosial. Mereka berani melawan ketidakadilan dalam masyarakat dan  mereka bisa mandiri baik untuk keluarga maupun untuk dirinya. Peran mereka tidak hanya sekedar sebagai institusi sosial, tetapi mereka berperan penting dalam  perubahan sosial yang terjadi. Ketika perempuan melakukan aktivitas ekstrem dalam jaringan radikal, maka masyarakat semakin melihat sisi gelap yang tidak pernah berhenti, terutama di dunia komunitas Muslim. Aktivitas jihad dan penanaman ideologi kekerasan telah menjadi fobia bagi masyarakat. Berbagai permasalahan terkait hal ini menjadi topik diskusi yang menarik di lembaga akademisi dan  lembaga penelitian  tentang fenomena a radikalisme dalam agama Islam. Tulisan ini, sebagian besar dari berbagai literatur pustaka didukung oleh temuan dari hasil  wawancara beberapa perempuan sebagai sumber primer melaluli media WhatsApp. Menganalisis cara pandang para perempuan menanggapi masalah ini, dapat  dilihat pada bagian pembahasan akhir di artikel ini.
Sejarah pendidikan Islam di Nusantara: Dari masa klasik hingga modern Rikma Ariani
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/k3mdtx41

Abstract

Periode klasik pendidikan Islam bermula pada masa Rasulullah SAW, yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perkembangan sejarah pendidikan Islam dari masa klasik, pertengahan, hingga modern, serta menganalisis perubahan-perubahan signifikan yang terjadi. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan studi kepustakaan, dimana seluruh data diambil melalui buku, jurnal dan dokumen yang berkaitan dengan tema penelitian. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pendidikan Islam pada periode klasik (abad ke-7 hingga ke-12) berkembang seiring dengan penyebaran Islam. Pada masa ini, pendidikan berfokus pada pengajaran agama, dengan Al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber utama ilmu pengetahuan. Pendidikan dimulai di rumah, kemudian berlanjut di masjid dan madrasah. Masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan utama, tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga ilmu pengetahuan lain seperti matematika dan astronomi. Madrasah pertama kali didirikan pada masa Dinasti Abbasiyah, dan menjadi lembaga yang mengajarkan berbagai disiplin ilmu, baik agama maupun duniawi, termasuk kedokteran dan filsafat. Pada masa pertengahan (abad ke-8 hingga ke-15), perkembangan pendidikan Islam mengalami stagnasi akibat konflik dan serangan luar, seperti serangan Mongol. Fokus pendidikan lebih pada hafalan ilmu agama, meskipun terjadi upaya pembaruan, seperti yang dilakukan Sultan Mahmud II dari Turki Utsmani yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum ke dalam sistem pendidikan madrasah. Dalam periode modern (abad ke-19 hingga sekarang), pendidikan Islam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi.  
Jejak Peradaban Islam di era Budaya Digital:Transformasi dan Tantangan Arini Vina Mawaddah
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/v074mc71

Abstract

This study aims to describe how the traces of Islamic civilization are changing within the development of digital culture and to identify the challenges that arise throughout this process. This research uses a descriptive qualitative method by collecting data through literature review and observing various forms of digital content that present Islamic values, history, and expressions. Data were analyzed using a thematic approach to identify patterns of transformation, such as the digitization of Islamic knowledge sources, shifts in the ways people learn about religion, and the emergence of more interactive modes of religious communication. The findings indicate that digital culture offers wide opportunities for preserving Islamic heritage through easier access to information, diverse learning media, and increased community engagement. However, the study also identifies significant challenges, including the spread of inaccurate religious information, a growing tendency toward
Peran Aktif Perempuan Dalam Kemajuan Peradaban Islam dari Masa Kemasa Ahla
Jurnal Peradaban Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/qgapjc10

Abstract

Peran perempuan dalam peradaban Islam merupakan faktor sejarah yang kerap terabaikan, meskipun memiliki dampak yang bermakna dalam berbagai bidang kehidupan. Sejak masa awal Islam, perempuan telah berperan aktif dalam ranah keagamaan, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, hingga perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran perempuan dalam lintasan sejarah peradaban Islam secara menyeluruh dari masa ke masa, meliputi masa Nabi, periode klasik, abad pertengahan, hingga era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan historissosiologis dengan melakukan analisis mendalam terhadap sumber-sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan dalam peradaban Islam bersifat dinamis dan kontekstual, dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik pada setiap periode. Pada masa awal Islam, perempuan berperan dalam dakwah, transmisi hadis, dan kehidupan sosial. Pada periode klasik dan pertengahan, perempuan berperan dalam pendidikan, keilmuan, filantropi, serta lembaga wakaf. Sementara pada era modern peran perempuan semakin meluas melalui pendidikan formal, aktivisme sosial, kepemimpinan publik, dan wacana pembaruan pemikiran Islam. Penelitian ini menegaskan bahwa perempuan merupakan bagian integral dari kemajuan peradaban Islam dan memiliki kapasitas yang besar dalam membentuk perkembangan umat di masa depan.