cover
Contact Name
Otto Fajarianto
Contact Email
ofajarianto@gmail.com
Phone
+6281296890687
Journal Mail Official
jurnal.peradaban@paramadina.ac.id
Editorial Address
Universitas Paramadina Jl. Raya Mabes Hankam No.Kav 9, Setu, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13880
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama)
Published by Universitas Paramadina
ISSN : 27753875     EISSN : 30467136     DOI : https://doi.org/10.51353/cxxqkb93
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama), is a peer-reviewed journal, and specializes in philosophy, religion, and ethics studies. The aim is to provide readers with a deep understanding of philosophical, religious, and ethical problems in many aspects. The journal invites scholars and experts working in all disciplines in the humanities and social sciences. Articles should be original, inspiring, research-based, unpublished and not under review for possible publication in other journals. All submitted papers are subject to review of the editors, editorial board, and blind reviewers. Submissions that violate our guidelines on formatting or length will be rejected without review. Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama) publishes two issues per year (June and December), published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Paramadina.
Articles 41 Documents
Kausalitas dalam Sains dan Teologi: Perbandingan Pandangan Mu’tazilah dan Asyariyah Lexi Zulkarnaen Hikmah
Jurnal Peradaban Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v3i2.923

Abstract

The Mu'tazilites believed in deterministic causality explained by human reason. Humans have freedom and are responsible for their actions. Ashariyah, on the other hand, believes in occasional causality controlled by God's will. Events in the universe are not connected and only happen because of God's will. Modern science, with its developments, shows that causality is not a simple concept. From classical physics to quantum physics, understanding of causality continues to evolve and challenge traditional thinking. The meeting point between theology and modern science lies in the question of God's role in the universe. Theologians' questions about miracles and divine intervention parallel physicists' questions about cause-and-effect relationships and the behavior of objects. This journal concludes that causality is a complex and multidimensional concept that requires understanding from various perspectives, including theology and science.
Sinergi Hak Asasi Manusia, Agama, dan Sekularisme: Telaah Etis-Kultural atas Gagasan Abdullahi A. An-Na‘Im Eko Yudi Prasetyo; Sunaryo
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/0ny6xv25

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran Abdullahi A. An-Na‘im mengenai sinergi antara hak asasi manusia (HAM), agama, dan sekularisme dalam kerangka etika publik global. Berbeda dari pendekatan dikotomis yang memperhadapkan ketiganya secara konflik, An-Na‘im menawarkan paradigma sinergi dan interdependensi yang menekankan pentingnya penguatan timbal balik antara nilai-nilai universal HAM, prinsip keadilan agama, dan sekularisme sipil yang netral terhadap semua sistem kepercayaan. Dengan menggunakan metode kualitatif normatif-filosofis, penelitian ini menganalisis konstruksi etis yang ditawarkan An-Na‘im serta relevansinya terhadap konteks sosial-politik Indonesia. Hasil temuan menunjukkan bahwa pendekatan sinergis ini mampu menjadi alternatif untuk meredakan ketegangan antara hukum nasional, norma agama, dan kebebasan individu di masyarakat pluralistik. Diskursus ini diperkaya dengan gagasan sekularisasi sehat Nurcholish Madjid, prinsip overlapping consensus dari John Rawls, dan politik pengakuan dari Charles Taylor. Secara teoritis, penelitian ini memperluas wacana etika global dan filsafat agama; secara praktis, ia menawarkan model reformasi kebijakan publik berbasis pluralisme nilai. Penelitian ini merekomendasikan penguatan masyarakat sipil, reformasi tafsir keagamaan, dan pengembangan pendidikan publik inklusif sebagai langkah strategis dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.
Intelektualisme Cak Nur dan Sisi-Sisi Argumentatifnya Amir Ahmad Nabil; Tasmin Abdul Rahman
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/x3ys9j71

Abstract

The paper highlights the intellectual biography of Nurcholish Madjid (17 March 1939-29 August 2005) and his perennial ideas and influence in modern Islamic tradition and its lasting impact in Indonesia. Looking from its surface, the highly superior and exceptional works of Pak Nurcholish Madjid seems to invite his readers to argue and converse with him with absolute freedom without giving bother to any accusations or charges of anarchy. His writings that was full with philosophical arguments was constructed to inspired dialectical discussion and reasoning without ascribing to any established school of thought of the past. With his masterful works, it tries to challenges and draws our consciousness of the real force of intellectualism that was derived from scientific reflection and critical philosophical inquiry. The study is based on descriptive-qualitative approaches in the form of library and literature survey. The data were analysed by way of analytics, synthesis, biographical, historical and empirical techniques. The finding shows that Cak Nur’s intellectual strength was derived from the underlying empirical and historic method and framework in his effort to formulate and comprehend classical Islam and its intellectual tradition in term of its contextual and modern understanding and process.
Dialog Agama dan Ekologi Budhy Munawar-Rachman
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v4i1.1092

Abstract

Artikel ini membahas hubungan antara agama dan ekologi, yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai spiritual dan ilmiah dalam mengatasi krisis lingkungan global. Refleksi ini menunjukkan bagaimana tradisi agama, dengan pandangan terhadap alam sebagai ciptaan suci, dapat mendukung praktik pelestarian lingkungan yang lebih efektif. Pendekatan holistik ini menekankan peran nilai-nilai agama seperti stewardship, keadilan antargenerasi, dan keterhubungan semua ciptaan dalam mendukung keberlanjutan. Artikel ini juga menyoroti contoh konkret dari berbagai tradisi agama yang telah berhasil menginspirasi aksi lingkungan.
Perkawinan Dengan Ahli Kitab Perspektif Ulama Indonesia: Sebuah Kajian Literatur Lexi Zulkarnaen Hikmah
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v4i1.1093

Abstract

Dalam konteks keimanan, Ahli Kitab merupakan terma khusus dalam al-Quran dan kajian hukum Islam yang membedakan dari terma lain seperti muslim, mukmin, musyrik dan kafir. Karena merupakan terma yang khusus, interaksi umat muslim, seperti perkawinan dengan Ahli Kitab memiliki implikasi hukum syariat yang berbeda dengan musyrik dan kafir. Meskipun demikian, pandangan para ulama berbeda pendapat mengenai siapa dan implikasi hukum yang menyertai Ahli Kitab. Dengan menggunakan metode kualitatif dan kajian kepustakaan, penelitian ini membahas mengenai pandangan ulama atau organisasi keagamaan mengenai Ahli Kitab dalam pembahasan di jurnal akademik periode 2019-2023. Hasil penelusuran mengenai pandangan ulama atau organisasi keagamaan mengenai Ahli Kitab tidak tunggal. Ada kelompok yang mendefinisikan secara sempit sehingga memiliki implikasi hukum perkawinan dengan Ahli Kitab menjadi haram. Kemudian ada kelompok yang memperluas definisi Ahli Kitab bukan hanya terbatas pada kaum Nasrani/Kristen tetapi agama lain seperti Majusi, Zoroaster, Konghucu dan lainnya sehingga memiliki implikasi kebolehan perkawinan dengan Ahli Kitab.
Islam Dan Kepemimpinan Perempuan Klasik Dan Kontemporer Rinawati
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v4i1.1094

Abstract

Sebelum kedatangan Islam, perempuan mengalami penindasan dan ketidakadilan di berbagai peradaban seperti Yunani, Romawi, dan Persia. Mereka diperlakukan sebagai properti dan tidak memiliki hak-hak dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana Islam mengangkat derajat perempuan dengan memberikan hak-hak yang setara dengan laki-laki, serta menyoroti peran penting perempuan dalam sejarah Islam klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam memberikan hak-hak yang setara dan memuliakan perempuan. Tokoh seperti Ratu Balqis, Benazir Bhutto, dan Megawati Soekarnoputri memperlihatkan kontribusi perempuan dalam kepemimpinan politik dan sosial. Meskipun terdapat perdebatan di kalangan ulama tentang kepemimpinan perempuan, mayoritas ulama kontemporer mendukungnya jika memenuhi syarat-syarat tertentu, dengan tafsir yang mendukung kesetaraan gender.
Mengugat Narasi Asy’ariyah Dan Imam Ghazali Penyebab Kemunduran Peradaban Islam Andi Darmawan Putra
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/s3cdxd84

Abstract

Dalam penelitian ini, penulis menelisik anggapan paradoksial tentang menurunnya kejayaan peradaban Islam dalam ilmu pengetahuan, yang dinamakan narasi klasik oleh George Saliba, karena tidak diadopsinya teologi Mu’tazilah sebagai aqidah yang dominan di dunia Islam dan munculnya doktrin keagamaan yang digagas Imam Ghazali. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk melihat apakah anggapan tersebut sesuai dengan fakta historis dan apakah akibat dari realitas menurunnya dominasi peradaban Islam bisa dibebankan pada kedua kejadian tersebut. Dengan mengetahui fakta historis yang penulis sajikan, pembaca dapat pencerahan tambahan dalam subyek tentang peradaban Islam dan tidak membebankan penyebab penurunan peran Islam dalam peradaban dunia pada Imam Ghazali dan aqidah Mu’tazilah. Penulis menggunakan metode studi kepustakaan dalam penelitian ini dengan pendekatan kualitatif komparatif. Hasil dari penilitian ini adalah bahwa kemunculan Imam Ghazali dan hilangnya dominasi Mu’tazilah bukanlah penyebab utama dan signifikan seperti banyak yang dinarasikan para orientalis dan akademisi lainnya dalam menyimpulkan kemunduran peradaban Islam. Kemunculan karya-karya ilmiah banyak dihasilkan era berakhirnya dominasi Mu’tazilah yang digantikan oleh mazhab Asy’ariyah dan wafatnya Imam Ghazali sehingga kedua faktor tersebut bukanlah penyebab utama dan signifikan kemunduran peradaban Islam. Beberapa faktor yang lebih punya signifikasi dalam pengaruh kemunduran tersebut adalah ditemukannya dunia baru, gerakan humanisme di Eropa dan kolonisasi barat terhadap wilayah Islam yang berlangsung ratusan tahun.
The Corona Pandemic, Lockdown Dilemma In Indonesia And The Need Of The Social-Economic Solidarity: A Lesson From The Past Herdi Sahrasad; Aris Arif Mundayat; Al Chaidar
Jurnal Peradaban Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/4vvvgb98

Abstract

Studi ini mengkaji berbagai cara akademisi, ulama, dan kyai Muslim di Indonesia pada tahun 2020 menanggapi pandemi Corona (Covid-19), dan bagaimana hal ini menyebabkan kebingungan di antara orang-orang yang tidak mengenal prinsip-prinsip Islam. Mereka berpendapat bahwa penggunaan pengobatan farmasi dan medis untuk memerangi pandemi Corona (Covid-19) sejalan dengan aspirasi manusia yang lebih luas untuk perdamaian dan kesejahteraan global. Meskipun mengalami kemunduran, upaya untuk mencapai tujuan ini terus berlanjut. Respons emosional oleh beberapa cendekiawan Muslim dan lembaga keagamaan menyebabkan kekecewaan dan skeptisisme yang meluas di dalam dan keluarnya beberapa sekte Muslim. Pemerintah juga kehilangan kesempatan untuk mendorong reformasi yang lebih tercerahkan, manusiawi, dan beradab. Selama era produksi kekuasaan, peluang seperti ini sering muncul. Banyak antropolog dan ilmuwan sosial lainnya yang telah menyelidiki dampak mendalam dari penyakit, pandemi, dan bencana alam, baik yang diakibatkan oleh kesalahan manusia atau perubahan iklim yang besar, disebut sebagai otoritas dalam konteks ini. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia tengah mengalami sejumlah transformasi mendadak yang telah menyebabkan pergolakan masyarakat yang meluas tanpa tujuan yang jelas. Di sini mereka belajar dari masa lalu bahwa solidaritas sosial dan ekonomi sangat penting dalam mengurangi dampak pandemi global yang menghancurkan. Para penulis menggunakan strategi kualitatif berdasarkan analisis dokumen dan tinjauan pustaka untuk mendukung temuan mereka. Mereka juga meneliti literatur tentang keyakinan Islam, pergeseran masyarakat, dan dampak pandemi. Analisis wacana kritis digunakan untuk menganalisis bagaimana bahasa digunakan untuk menghasilkan makna dan hubungan kekuasaan dalam teks, sementara analisis tematik digunakan untuk menemukan tema dan pola utama dalam data dan literatur. Akademisi, ulama, dan ulama Muslim dibahas, dan berbagai sudut pandang serta argumen mereka dipertentangkan dan dianalisis dalam kaitannya dengan konsekuensinya bagi reformasi, integrasi sosial dan persatuan masyarakat.
Indonesia, Debt Burden and Development in the Era of Joko Widodo: A Critical Note Herdi Sahrasad
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/xm7hkj23

Abstract

Indonesia's economy under Jokowi confronts severe corruption and an escalating debt burden. The populace confronts a deterioration in economic growth and purchasing capacity. Indonesia faces the risk of becoming a "systemically failed state" due to its excessive debt payments outpacing its allocation for healthcare and education, according to UN Secretary General Antonio Guterres. Sri Mulyani Indrawati, Indonesia's Minister of Finance, stated that 40% of the population would be classified as impoverished according to the World Bank's poverty threshold. This is the PPP value, denoting purchasing power parity. Developing nations in Southeast and South Asia, along with the remainder of Asia, are on the brink of an economic catastrophe, prompting a warning from the UN. More severe than the crises of 2008 and the COVID-19 pandemic of 2020, as stated by the international organization.
Mendialogkan Ajaran Agama Dengan Damai Valensius Ngardi; Gratia Wing Artha
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/af9htc35

Abstract

Penelitian ini membahas persoalan kekerasan dan intoleransi antarumat beragama di Kota Yogyakarta, dengan fokus pada relasi antara komunitas Islam dan Katolik. Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai kota berbudaya, humanis, dan plural, dalam satu dekade terakhir muncul berbagai peristiwa intoleransi yang mencederai relasi sosial-keagamaan, salah satunya kasus pemotongan simbol salib pada makam warga Katolik di Kotagede. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai akar persoalan kekerasan agama serta menawarkan dialog kehidupan sebagai jalan etis dan kultural untuk membangun perdamaian antarumat beragama. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan perspektif ekonomi-sosial, budaya, serta teori perlawanan sosial, artikel ini menunjukkan bahwa intoleransi tidak semata-mata dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan juga oleh faktor struktural seperti ketimpangan ekonomi, identitas mayoritas–minoritas, stereotip historis, dan lemahnya dialog di tingkat akar rumput. Temuan penelitian menegaskan bahwa dialog kehidupan—yang diwujudkan melalui kerja sama sosial, solidaritas ekonomi, dan keterlibatan lintas iman—merupakan strategi efektif untuk meredam konflik dan membangun relasi kemanusiaan yang berkeadaban di masyarakat plural.