cover
Contact Name
Otto Fajarianto
Contact Email
ofajarianto@gmail.com
Phone
+6281296890687
Journal Mail Official
jurnal.peradaban@paramadina.ac.id
Editorial Address
Universitas Paramadina Jl. Raya Mabes Hankam No.Kav 9, Setu, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13880
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama)
Published by Universitas Paramadina
ISSN : 27753875     EISSN : 30467136     DOI : https://doi.org/10.51353/cxxqkb93
Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama), is a peer-reviewed journal, and specializes in philosophy, religion, and ethics studies. The aim is to provide readers with a deep understanding of philosophical, religious, and ethical problems in many aspects. The journal invites scholars and experts working in all disciplines in the humanities and social sciences. Articles should be original, inspiring, research-based, unpublished and not under review for possible publication in other journals. All submitted papers are subject to review of the editors, editorial board, and blind reviewers. Submissions that violate our guidelines on formatting or length will be rejected without review. Jurnal Peradaban (Filsafat, Etika, dan Agama) publishes two issues per year (June and December), published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Paramadina.
Articles 41 Documents
Pemahaman Tradisional mengenai Alam Menurut SeyyedHossein Nasr Dalam Upaya Mengatasi Krisis Lingkungan Iman Santosa; Husain Heriyanto
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i1.659

Abstract

Kelangsungan hidup umat manusia saat ini terancam sebagai akibat dari krisislingkungan yang kian parah. Seyyed Hossein Nasr semenjak dekade 1960 telahmemberikan peringatan mengenai akan timbulnya krisis lingkungan yang menurutnya disebabkan olehberubahnya pandangan tradisional mengenai alam menjadi pandangan modern. Tulisan ini bertujuan untuk memahami pandangan tradisonal Seyyed Hossein Nasr mengenai alam, mengetahui pengaruh dari pandangan modern mengenai alam terhadap terjadinya krisis lingkungan dan menjabarkan solusi yang ditawarkannya dalam upaya mengatasi krisis lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif dengan metode analisis konsep dengan tujuan untuk mengidentifikasi makna esensial dari suatu konsep. Sejak awal sejarah manusia telah hadir kebenaran universal atau sophia perennis yang terwujud dalam semua tradisi agama otentik dimanadidalam intinya terdapat sains sakral yaitu pengetahuan akan Realitas Utama. Sedangkan modernisme yang terwujud dalam modern sains berupaya untukmenyingkirkan tradisi agama dengan menempatkan manusia sebagai pusat danmemandang alam hanya sebagai material sehingga mendorong pemanfaatan alam berlebihan. Menurut Seyyed Hossein Nasr hanya dengan memahami realitas metafisik dari alam yang merupakan refleksi dari Sang Pencipta dan menyadari bahwa manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga ciptaan Nya maka krisis lingkungandapat dicegah.
Diskursus “Insan Kamil” Perspektif Avicenna: Peran Kekuatan Jiwa Mencapai Kesempurnaan Arba’iyah yusuf
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i1.662

Abstract

Insan kamil merupakan posisi tertinggi manusia yang setiap hamba Allahberhak berupaya mencapainya bahkan mencapainya. Penelitian pustakatentang diskursus insan kamil perspektif Avicenna memberikan gambaranbahwa manusia dengan kekuatan sebagai potensi yang diberikan Allahmemiliki kesempatan mencapai derajat sebagai insan kamil. Kekuatan sebagaipotensi itu hanya dimiliki manusia sebagai rational soul. Empat level intellectyang bisa dicapai manusia yaitu potential (material) intellect, intellect in habitu,intellect in actu, dan acquired intellect. Dalam perspektif ini insan kamil adalahyang mencapai level acquired intellect. Selain itu dari perspektif tasawuf,Avicenna membagi level manusia menjadi tiga tingkatan yaitu ‘abid, zahid, dan, ‘arif. Dalam perspektif ini insan kamil adalah seseorang yang mencapai posisi‘arif. Dua posisi (acquired intellect dan ‘arif) ini ada pada diri nabi, sufi, danfilosof. Nabi adalah pribadi yang tertinggi karena nabi memiliki revelationintellect yang tidak dimiliki oleh siapapun. Secara spesifik, kekuatan-kekuatanjiwa insan kamil berperan secara maksimal hingga level acquired intellect.
Membaca Kembali Gerakan Humanisme dalam Islam Luthfi Assyaukanie
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i2.729

Abstract

Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan mengapa gerakan humanisme yang pernah terjadi di era keemasan Islam abad ke-9 hingga abad ke-12 tidak melahirkan pencerahan dan revolusi ilmiah, seperti yang terjadi di dunia Barat? Dengan melihat karakter gerakan ini dan bagaimana pengetahuan diproduksi selama era kejayaan Islam, penulis artikel ini menemukan perbedaan mendasar antara humanisme Islam dan humanisme yang berkembang di Eropa. Di dunia Islam, kaum humanis adalah para sarjana yang bekerja untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan sekaligus melayani kebutuhan umat beragama. Banyak dari mereka bekerja di istana sebagai qadi (hakim) atau penasehat raja dalam bidang agama. Karena itu, gerakan humanisme cenderung berperan sebagai agen atau perluasan dari institusi agama. Hal ini berbeda dari gerakan humanisme Eropa yang justru melakukan perlawanan terhadap agama dan --pada tingkat tertentu-- juga negara.
KEBAHAGIAAN DALAM PANDANGAN IBNU AL-QAYYIM AL-JAUZIYAH DAN RELEVANSINYA TERHADAP MASYARKAT MODERN Ade Lutfi Nugraha Putra
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i2.731

Abstract

Persoalan kebahagiaan telah menjadi tema utama pembahasan para sastrawan, agamawan, dan filsuf selama berabad-abad. Pemikiran para filsuf Yunani, Barat, dan Islam telah memberi banyak pengaruh terhadap konsep kebahagiaan, termasuk cara menggapainya. Dalam hal ini, Ibnu Al-Qayyim menganggap penting untuk secara khusus membahas tentang kebahagiaan. Fenomena ini mendorong suatu penelitian untuk menggali makna kebahagiaan yang hakiki. Secara naturalistik, peneliti mengkonstruksikan berbagai macam pendapat para tokoh mengenai konsep dan cara menggapai kebahagiaan, baik dari Yunani, Barat, maupun Islam. Melalui metode deskriptif-analitis dan deskriptif-interpretatif, peneliti memaparkan sekaligus menganalisis konsep para tokoh tentang kebahagiaan untuk selanjutnya diinterpretasikan sesuai dengan konteks masyarakat modern. Plato berpendapat bahwa kebahagiaan hakiki tidak mungkin diraih di dunia. Sementara Al-Farabi meyakini bahwa kebahagiaan bisa diraih, baik di dunia maupun di akhirat. Aristoteles mengedepankan kehidupan yang penuh dengan kebaikan sebagai prasyarat meraih kebahagiaan. Sementara itu Al-Ghazali berpendapat bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih jika manusia mengenal Tuhannya (Ma’rifatullah) dengan cara mengenal dirinya. Dalam konsepnya mengenai kebahagiaan, Ibnu Al-Qayyim meyakini bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih melalui ilmu dan kalbu. Inilah pintu masuk kebahagiaan menurut Ibnu Al-Qayyim. Kemuliaan ilmu dan kebersihan kalbu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Restorasi Filsafat, Dialog Mutual, dan Syari'ah: Ibn Rusyd dan Reformasi Islam dalam Fashl al-maqal Ibnu Rusyd
Jurnal Peradaban Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v3i2.739

Abstract

Ibn Rushd is one of the most important philosophers in the classical world of Islam. Without him, Aristotle would have remained a great mystery to the Western scientific world. It was he, who managed to provide the longest commentary on almost all of Aristotle's works, and his commentary, along with some of the doctrines of Averroism, created the great rationalist movement in the Latin West. However, unlike his philosophical dimension, which some Muslim scholars find too Aristotelian and therefore more impactful in the West and not in the Islamic world, Ibn Rushd's Islamic reform dimension has not received enough attention. I expose Ibn Rusyd's reform, in this study, as contained in one of his books, Fasl al-maqal fi taqrir ma bayna ash-shari'ah wa al-hikmah min al-ittisal (The decisive book on the certainty that there is a connection between shari'ah and philosophy). There are at least three main themes in his reform: restoration of philosophy, restoration of mutual dialogue, and restoration of the shari'ah. With these three themes of reform, we will realize not only Ibn Rushd's contribution to philosophy, but also his great concern for a number of crises in Islam, and for solutions to resolve them.
Pemikiran Islam Liberal tentang Wahyu dan Pluralisme Agama Muhamad Ali
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i2.760

Abstract

Pemikiran Islam Liberal, sebagai upaya pembaharuan (tajdid) dalam Islam, lahir dalam konteks moderen. Islam Liberal adalah produk modernitas, meskipun sebagian rujukannya juga ke tradisi dan masa lalu. Di Indonesia, Islam Liberal dipengaruhi gerakan dan pemikiran dari berbagai tempat: Timur Tengah, Amerika, Eropa, Afrika, dan Asia. Pemikiran Islam Liberal memproduksi ilmu pengetahuan yang tak hanya berakar pada teks-teks Islam, sejarah dunia, dan pencerahan Eropa, tapi juga dipengaruhi realitas sosial-politik Indonesia dan globalisasi. Islam Liberal muncul dan berkembang sebagai respons terhadap Islam “konservatif” dan “fundamental” yang dinilai terlalu berorientasi pada masa lalu (salaf), sehingga literal, kaku, dan tidak cocok bagi kemajuan umat Islam dan umat manusia secara umum.[1] Pemikiran dan gerakan Islam Salafi dan varian-variannya (jihadis, Islamis, dan post-Islamis) terus menjadi lawan ataupun mitra dialog pemikiran Islam Liberal. Masing-masing terus memperkuat akar-akar metodologis dan strategi perjuangan mereka, dipengaruhi konteks sosio-kultural, keagamaan, dan politik masyarakat global dan lokal yang berubah. Salah satu tema penting dalam debat ini adalah posisi wahyu dan agama-agama. Tulisan ini menelaah bagaimana pemikira Islam Liberal di Indonesia memahami fenomena wahyu dan realitas agama-agama, sekaligus melakukan kritik yang konstruktif. Pembacaan terhadap wahyu sebagai teks dan konteks, terhadap Islam dan agama-agama yang ada, belum cukup optimal dan belum koheren di kalangan pemikir Islam Liberal sendiri. Pemikiran tentang wahyu dan agama-agama masih terpisah-pisah dan belum tersistematisasikan
CATATAN KRITIS BUDAYA KEKUASAAN VERSUS ETIKA MODERN DALAM POLITIK INDONESIA Fachry Ali
Jurnal Peradaban Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v2i2.761

Abstract

Seperti terjangkiti pada semua penulis, selalu ada pertanyaan berkecamuk dalam hati tiap saya akan menulis sesuatu. Kecamuk ini kian kuat karena ketika makalah ini ditulis, saya tengah mengedit terjemahan bahasa Inggris karya saya tentang Tanri Abeng setebal 500 halaman. Maka, kecamuk pertanyaan tentang “apakah saya memberikan, jika bukan ‘baru’, makna tertentu dalam setiap tulisan” kian menekan. Maka, ketika mulai menulis makalah ini, saya terkungkung oleh sergapan pertanyaan tersebut. Sepanjang belum melaksanakannya, pertanyaan itu biasanya terbawa ke mana saya pergi. Kali ini, ia terbawa ke restoran Cina Muslim di Casablanca, Kuningan, Jakarta Selatan pada sore yang cerah, 23 Februari 2020. Lama menunggu pesanan datang, saya keluar. Di kursi-kursi yang khusus disediakan untuk perokok, saya duduk. Di hadapan saya sederetan gedung-gedung megah memamerkan diri. Ketika melayangkan pandangan ke gedung tertinggi yang menempelkan angka “88” di puncaknya, mata saya terpergok pada sebuah layang-layang. Tak mampu terbang bahkan hingga setengah dari ketinggian gedung tersebut, layang-layang itu tiba-tiba lenyap dari pandangan mata. Selang beberapa menit kemudian, saya melihat layang-layang itu terbang rendah di belakang deretan gedung-gedung yang lebih pendek. Saya memperkirakan di balik deretan gedung-gedung yang lebih pendek itu terdapat perkampungan penduduk dari mana layang-layang itu berasal. Dan, mungkin sekitar 3 atau 4 menit kemudian, layang-layang itu tampak melayang tak terkendali. Dalam pengalaman saya, itu menunjukan bahwa layang-layang tersebut telah terputus dari talinya.
Melupakan Great Chain of Being Intelektual Muslim Dalam Tegangan Antara Sekularisme dan Skizofrenia Kultural Alfathri Adlin; Yasraf Amir Piliang; Bambang Sugiharto; Irma Damajanti
Jurnal Peradaban Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v3i2.905

Abstract

The integration of (post)modern Western thought by some Indonesian Muslim intellectuals needs to be critiqued regarding, first, the modern historical bias as progress, which leads to the appropriation of the latest thoughts into Islamic thinking as a sign of progress and openness. Second, the forgetting of the Great Chain of Being, resulting in the adaptation and revision of Islamic thought through the dynamics of Western (post)modern thought born from different historical contexts. Third, the tendency to graft secularism as a historical inevitability in the Islamic world, as well as the cultural schizophrenia among educated Muslims when integrating secular (post)modern knowledge into Islamic teachings and its hierarchical structure of reality.
Melampaui Dua Rezim: Analisa Politik Pemikiran Keislaman Nurcholish Madjid Fachry Ali
Jurnal Peradaban Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jpb.v3i2.906

Abstract

This research investigates the political analysis of Nurcholish Madjid's Islamic thought, transcending the confines of two dominant regimes: conservatism and secularism. The paper poses a pivotal question regarding Madjid's intellectual journey in the socio-political context of Indonesia, particularly considering the absence of the New Order regime. By examining Madjid's embedded intellectualism, the study explores how historical contexts shape his Islamic perspectives, highlighting fundamental shifts influenced by pre- and post-New Order periods.
Mengurus Homo Indonesiaensis Abdul Malik Gismar
Jurnal Peradaban Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Peradaban
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/7gdwwr48

Abstract

Diskusi-diskusi mengenai Indonesia, Negara Indonesia, NKRI, kebangsaan Indonesia, dan sebagainya sering lupa bahwa Indonesia bukanlah sekedar fakta geografis, demografis, politis, ataupun yuridis saja. Indonesia adalah sebuah proyek kultural psikologis besar. Oleh karena itu, untuk mengurus Indonesia diperlukan juga strategi kultural psikologis yang komprehensif, bukan sekedar jargon dan seremoni saja. Pada gilirannya, mencari strategi budaya yang pas bagi Indonesia hari ini menuntut kita untuk memahami Indonesia sebagai suatu modern post-colonial state. Identitas dan dinamika kebangsaan hari ini merupakan fungsi dari warisan kolonial sebelum kemerdekaan dan apa yang terjadi setelahnya. Dengan demikian, pertama-tama yang perlu untuk dilihat adalah Indonesia sebagai suatu “projek’ psikologis besar dan faktor-faktor yang terlibat di dalamnya; kedua, kondisi Indonesia/manusia Indonesia hari ini; dan yang ketiga, atas dasar kedua hal di atas, bagaimana kita membangun fondasi bagi strategi kebudayaan yang pas.