cover
Contact Name
Gandi Wibowo
Contact Email
lppm@sttbk.ac.id
Phone
+6281382326154
Journal Mail Official
jurnalvoice@sttbk.ac.id
Editorial Address
Jl. Gunung Sahari VI No. 36, Gunung Sahari Utara, Sawah Besar, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal VOICE
ISSN : 27744752     EISSN : 2775264X     DOI : 10.54636
Jurnal VOICE merupakan wadah publikasi hasil penelitian dengan nomor ISSN: 2774-4762 (print) dan 2775-264X (online), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Kalvari dalam lingkup: Teologi biblika Teologi sistematika Teologi praktika Sejarah teologi dan gereja Pendidikan Kristen (gereja dan sekolah)
Articles 59 Documents
Pembelajaran Kreatif di Sekolah Minggu: Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Spiritual Anak Zunieli Zebua; Sandra Rosiana Tapilaha
Voice Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/h7bxbg07

Abstract

Pembelajaran kreatif dalam pendidikan agama Kristen, khususnya di Sekolah Minggu, berperan penting dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman anak terhadap nilai-nilai spiritual. Metode inovatif, seperti bercerita, media visual/audio visual, permainan edukatif, dan drama/role play, terbukti efektif menyampaikan konsep iman secara interaktif dan menarik. Meski demikian, implementasi pendekatan ini menghadapi tantangan, termasuk keterbatasan metode yang variatif, kompetensi guru yang sebagian besar relawan, serta keterlibatan orang tua yang belum optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis efektivitas pembelajaran kreatif dan dampaknya terhadap perkembangan spiritual anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode berbasis pengalaman meningkatkan pemahaman, keterlibatan emosional, kreativitas, serta pembentukan karakter moral dan spiritual sejak dini, sementara integrasi teknologi dengan metode tradisional memperkuat internalisasi nilai Kristiani. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan pengembangan kurikulum yang adaptif dan kontekstual, pelatihan berkelanjutan bagi guru, keterlibatan aktif orang tua, serta evaluasi rutin terhadap metode pembelajaran. Dengan strategi ini, Sekolah Minggu dapat menjadi ruang pembinaan iman yang menyenangkan, transformatif, dan efektif dalam menumbuhkan pemahaman rohani, kebiasaan spiritual, serta karakter beriman pada anak-anak, sehingga mampu menjawab kebutuhan pendidikan iman yang relevan di era digital.
Perbandingan Kurikulum Cambridge dan Merdeka Belajar dalam Perspektif Pendidikan Kristen Gian Gideon Akin; Ruth Damaris Siahaan
Voice Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/fcb7me89

Abstract

Artikel ini mengkaji perbandingan antara Kurikulum Cambridge dan Kurikulum Merdeka Belajar yang diterapkan di Indonesia, ditinjau dari sudut pandang pendidikan Kristen. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini menggunakan metode komparatif dan kepustakaan, di mana penulis menganalisis persamaan dan perbedaan antara kedua kurikulum berdasarkan struktur, pendekatan pengajaran, penilaian, serta tujuan pendidikan. Kurikulum Cambridge dikenal dengan standar akademik internasionalnya dan difokuskan pada pengembangan kompetensi berpikir kritis serta keterampilan akademis yang tinggi. Sementara itu, Kurikulum Merdeka Belajar menekankan fleksibilitas, penguatan karakter, dan keterampilan hidup yang sesuai dengan konteks lokal serta nilai-nilai Pancasila. Meskipun keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, tantangan terbesar dalam penerapan kedua kurikulum ini terletak pada kesiapan sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik, serta keterbatasan infrastruktur di berbagai sekolah. Artikel ini juga mengkaji peran penting pendidik dalam mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani ke dalam proses pembelajaran di kedua kurikulum tersebut. Pada akhirnya, integrasi antara aspek akademis dan nilai-nilai spiritual dianggap krusial untuk menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beriman dan berkarakter kuat.
Kajian Eklesiologi: Otoritas Gereja Dalam Mempertahankan Essentia Dan Identitas Pemuda Ditengah Arus Perubahan Zaman Di Era Postmodern Faa Halawa; Aprianus Lendrik Moimau
Voice Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/7500sc39

Abstract

Di tengah pergeseran menuju era pascamodern, generasi muda terjebak dalam pusaran tantangan yang tidak hanya bersifat sosial dan budaya, tetapi juga spiritual dan berkaitan dengan identitas keagamaan mereka. Mengingat situasi ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman baru tentang otoritas gereja dalam menjaga identitas generasi muda di tengah dinamika era pascamodern yang dipenuhi dengan relativisme dan perubahan nilai-nilai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan menelusuri, membaca, memahami, dan menganalisis secara kritis berbagai sumber tertulis yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas gereja memiliki peran strategis dalam menanggapi relativisme moral dan spiritual dengan menyajikan otoritas yang berakar pada kebenaran Kristus dan kasih yang membebaskan. Pendekatan pastoral yang kontekstual, dialogis, dan relasional terbukti lebih efektif dalam membantu pemuda menemukan kembali identitas mereka sebagai pengikut Kristus di tengah krisis makna di era ini. Strategi yang diusulkan dalam studi ini meliputi pembinaan pribadi yang berkelanjutan, pelayanan relasional yang menekankan kedekatan emosional dan spiritual, pengajaran apologetika dasar untuk memperkuat iman, pembinaan karakter dan kepemimpinan Kristen yang mendorong tanggung jawab moral, serta keterlibatan aktif pemuda sebagai agen perubahan sosial yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah. Refleksi akhir menekankan bahwa gereja perlu secara aktif dan autentik mewujudkan otoritasnya, bukan sekadar mempertahankan struktur formalnya, tetapi memulihkan fungsi spiritualnya sebagai komunitas pembentuk identitas. Pemuda perlu diperlakukan bukan sebagai objek pelayanan, tetapi sebagai subjek iman yang dipanggil untuk hidup, melayani, dan bersaksi di tengah dunia pascamodern yang menantang, sehingga iman Kristen tetap hidup dan transformatif sepanjang masa.
EKSISTENSI DAN RELEVANSI BUDAYA MA’PASILLAGA TEDONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT TORAJA PADA MASA KINI Reynaldo Pabebang
Voice Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/9czq6d82

Abstract

Budaya Ma’pasilaga Tedong di Masyarakat Toraja, yang merupakan bagian penting dari upacara Rambu Solo’, mengalami perubahan pandangan dan makna seiring waktu dan memunculkan perdebatan etika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan literature review untuk mengevaluasi dampak eksploitasi dan kerusakan budaya tersebut, terutama oleh oknum tidak bertanggung jawab dan dampak modernisasi. Praktik Ma’pasilaga Tedong memberikan dampak negatif pada berbagai kalangan, terutama anak remaja, dan dianggap sebagai transaksi perjudian, mengubah makna dari bentuk penghormatan menjadi kontroversial. Isu-isu keagamaan dan hukum muncul, menyoroti konflik antara praktik budaya dan norma-norma agama dan hukum. Relevansi makna budaya Ma’pasilaga Tedong bagi masyarakat Toraja saat ini menghadapi perubahan dan tantangan serius, menciptakan dilema identitas dan merusak keaslian tradisi. Diperlukan langkah-langkah bijaksana untuk memahami kembali dan menjaga warisan budaya ini agar tetap bermakna dalam konteks modern.
Telaah Galatia 6:2: Menata Ulang Diakonia Dari Charity Menuju Empati Andi Audi Lukito; Yohanes Edi Saputra
Voice Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/72n4k609

Abstract

Diakonia merupakan elemen fundamental dalam kehidupan gereja yang mencerminkan perwujudan kasih Allah melalui pelayanan kepada sesama. Namun, dalam praktik gerejawi, diakonia kerap direduksi menjadi tindakan karitatif semata yang berfokus pada pemberian bantuan material, sehingga berpotensi melahirkan ketergantungan dan tidak mendorong kemandirian penerima. Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini mengkaji Galatia 6:2 melalui pendekatan hermeneutika dan analisis kata untuk menawarkan pemahaman teologis yang lebih mendalam tentang diakonia. Frasa “menanggung beban satu sama lain” mengandung makna partisipasi aktif dan relasional dalam kehidupan sesama, yang mencakup dimensi fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Dengan demikian, diakonia tidak hanya dipahami sebagai tindakan memberi, tetapi sebagai praktik empati dan solidaritas. Penelitian ini mengusulkan model diakonia transformatif yang menekankan relasi sejajar antara pemberi dan penerima, pemberdayaan, serta advokasi sosial. Pendekatan ini memungkinkan gereja menghadirkan pelayanan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan kontekstual dalam menjawab tantangan masyarakat modern.
Komunikasi dalam Pernikahan Lintas Budaya berdasarkan Matius 22:37-39 Djun Tjhong Pan; Grace Thenu
Voice Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/dj5zrp05

Abstract

Interaksi antara dua individu yang memiliki perbedaan ras, budaya, bahasa, dan kepercayaan sering menimbulkan kesalahpahaman yang dapat memicu ketegangan emosional. Kondisi ini dapat ditemukan dalam kehidupan pernikahan, karena pasangan suami-istri memiliki latar belakang yang berbeda dalam hubungan mereka. Penulisan jurnal ini memiliki tujuan untuk menerangkan pentingnya memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dalam mengatur perbedaan dalam pernikahan sehingga tidak terjadi konflik yang merusak kesehatan emosional dan mental keluarga. Penelitian ini memakai pendekatan deskriptif konseptual dengan menganalisa fenomena hubungan sosial dalam pernikahan serta pentingnya kesanggupan berkomunikasi secara interpersonal dalam membangun hubungan yang sehat. Hasil kajian yang didapatkan  bahwa ketegangan yang seringkali terjadi dalam pernikahan bukan disebabkan oleh kesalahan individu, melainkan karena kurang memiliki kemampuan untuk mengerti perbedaan dan lemahnya keterampilan membangun komunikasi yang efektif. Untuk mengatasi perbedaan dalam pernikahan sangat diperlukan keterampilan komunikasi yang mencakup aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Pengembangan kesanggupan dalam berkomunikasi yang baik dapat menolong pasangan mengelola ketegangan secara positif sehingga dapat menjaga kesehatan mental pasangan serta dapat mencapai keharmonisan dalam hubungan rumah tangga.
Social and Emotional Learning dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Penguatan Kesehatan Mental Remaja Candra Nugraha Wati; Ignatius Agus Budiono; Maria Benedicta Dian Savitri
Voice Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/aq3cwf79

Abstract

Kesehatan mental berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan siswa secara holistik. Dalam konteks sekolah, siswa remaja yang mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya akan mengalami gangguan pada proses pembelajarannya, sehingga hasil belajar menjadi kurang optimal. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peranan yang penting dalam mendukung kesehatan mental anak didiknya yang memasuki masa remaja, sehingga siswa remaja dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Pendekatan model Social and Emotional Learning (SEL) dalam pembelajaran merupakan pendekatan yang dapat membantu perkembangan sosial-emosional siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis model SEL dalam PAK untuk penguatan kesehatan mental siswa remaja. Metode studi pustaka digunakan dalam penelitian ini. Penulis meninjau literatur dari berbagai sumber, seperti jurnal ilmiah, web ilmiah, dan buku, untuk mengembangkan konsep-konsep yang relevan tentang SEL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan model SEL berbasis kasih Kristus dalam Pendidikan Agama Kristen dapat menguatkan kesehatan mental siswa remaja. Model SEL dalam pembelajaran di kelas mampu menurunkan kecemasan dan stres siswa, meningkatkan kompetensi psikososial, dan menguatkan kesehatan mental. Guru PAK memiliki peranan yang krusial dalam memberikan dukungan bagi kesehatan mental siswa. Dukungan guru PAK yang menghadirkan kasih Kristus menjadi dasar yang penting untuk pengembangan model SEL di kelas PAK. Iklim kelas yang menghadirkan kasih Kristus dalam model SEL di kelas PAK menjadi fondasi yang kuat bagi kesehatan mental siswa remaja.
Ancient Eco-Theology of  Resting the Land: Between Indigenous Ecological Knowledge and Postcolonial Legacies in Indonesia Mario Christian
Voice Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/q1qajs74

Abstract

This article presents a postcolonial eco-theological study at the intersection of biblical hermeneutics, Ancient Near Eastern (ANE) literature, colonial history, and indigenous ecological knowledge in Indonesia. Rooted in the Levitical concept of land Sabbath and Jubilee (Leviticus 25), the study situates this tradition within a broader ANE framework of periodic land and debt restitution to establish land rest as a trans-cultural, ancient ecological wisdom rather than a narrow religious directive. Drawing on postcolonial analysis of Dutch-colonized Indonesia, the research examines how distinct colonial land governance regimes as the domein verklaring principle converged in their ecological disruption and suppression of indigenous ecological knowledge. The indigenous cosmological frameworks of Dayak communities in Indonesia which encode reciprocal and relational obligations towards land are examined in light of biblical-ANE tradition. The study also employs methodology of grounded postcolonial theological hermeneutics and archival colonial legal analysis. These findings contribute a constructive and decolonized eco-theological framework for land justice advocacy in postcolonial Indonesia, by positioning ancient land rest wisdom as a generative resource for contemporary environmental governance and indigenous rights advocacy.
Calling in Context: Relational Fracture and Divine Initiative in Genesis Henry Darmawan
Voice Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/wj8z9m54

Abstract

Divine calling is often framed within coherent and purpose-driven models that emphasize clarity and fulfillment. Yet, such approaches tend to overlook the disruptive relational contexts in which calling is discerned. This study examines the role of relational fracture in the formation of calling, focusing on sibling narratives in Genesis. Using a biblical-theological approach with a narrative-critical orientation, the study analyzes the accounts of Cain and Abel, Jacob and Esau, and Joseph and his brothers. The findings demonstrate that relational fracture does not function as a formative mechanism of calling, but as a revelatory and destabilizing condition that exposes how individuals respond to divine initiative. The same condition of fracture produces divergent outcomes—distortion in Cain, transformation in Jacob, and providential formation in Joseph—indicating that suffering does not possess inherent formative power. Instead, the outcome is determined by the dynamic interplay between divine initiative and human response. This study contributes to a more precise theological framework by redefining relational fracture as a revelatory condition rather than a formative process, offering a nuanced understanding of calling that is grounded in biblical narrative and responsive to the complexity of human experience.