cover
Contact Name
Gandi Wibowo
Contact Email
lppm@sttbk.ac.id
Phone
+6281382326154
Journal Mail Official
jurnalvoice@sttbk.ac.id
Editorial Address
Jl. Gunung Sahari VI No. 36, Gunung Sahari Utara, Sawah Besar, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal VOICE
ISSN : 27744752     EISSN : 2775264X     DOI : 10.54636
Jurnal VOICE merupakan wadah publikasi hasil penelitian dengan nomor ISSN: 2774-4762 (print) dan 2775-264X (online), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Kalvari dalam lingkup: Teologi biblika Teologi sistematika Teologi praktika Sejarah teologi dan gereja Pendidikan Kristen (gereja dan sekolah)
Articles 54 Documents
Dua Bagian Roh: Tanggung Jawab Profetik Elisa terhadap Allah dalam Mengemban Misi Agustinus Ruben; Nelvi Datu Rombe
Voice Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/d6c00619

Abstract

The purpose of this paper is to explain the biblical study of the responsibility of a leader named Elisha. The research method used is qualitative research method. Responsibility has the purpose of expressing the importance of the desire to lead and even continue a ministry that is expected to lead God's people with power and wisdom. Elisha was called to a tremendous prophetic responsibility in his journey of serving God and His people. This responsibility is not just about fulfilling a task, but it has a deeper purpose of expressing the importance of sincere desire in spiritual leadership. The responsibility that lies within a person should be a moment to continue to develop integrity and passion. A person needs to understand himself in his responsibility that there are limitations and even inability, and with this awareness man can focus the responsibility on the highest authority, namely Jesus Christ who will be the center of help. Thus man is able to step forward in leading God's people as evidence of this responsibility.
Kualifikasi Seorang Diaken dalam Gereja Berdasarkan 1Timotius 3:8-13Kajian Eksegesis Metode 4 Lapisan Makna Alkitab Mainyer for Jaya Gulo; Yaaro Harefa
Voice Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/1xw6vm89

Abstract

This article is the result of research conducted using qualitative methods. The author uses this method by collecting various library data sourced from books, theses, and other articles. In addition, in this research, the author also approaches the exegesis method by using the 4 layersof biblical meaning, namely, layer 1: Historia/Sarkic, layer 2: Noetic/spiritual meaning, layer 3: Psychic/moral, and layer 4: Anagogic/Escatological. These 4 layers are very helpful for the author to approach exegesis. In this study, the author provides an understanding of the importance of the character and example of a servant of God who reflects Christ. Based on the findings that a servant of God who becomes a deacon must have integrity, be able to control himself, have faith and live the teachings of Christ, have a good household example and be able to be responsible for his family, making the position of deacon a bridge in preaching Christ. These deacon qualifications are very important for all ministers of God because ministers of God are people serving God and of course the guideline for serving is Christ Himself. In this study, the author examines the requirements or qualifications to become a deacon based on the context of 1Timothy 3:8-13
Pengaruh Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Lainnya Silas Sudarman; Candra Nugraha Wati
Voice Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/g6q91453

Abstract

Christian Education plays an important role in students’ holistic lives. Schools need to pay attention to Christian Education so that it can run well and have an impact on students’ lives. This study aims to determine the effect of Christian Education on student learning outcomes in other subjects. Sampling using simple purposive sampling technique. The population is students of class VIII from 32 junior high schools in Salatiga. From those 32 junior high schools, one representative school was selected that has equivalent academic abilities. This study uses a quantitative method design with an ex post facto design. The data analysis technique uses simple regression analysis with the help of the SPSS 24 application. The results of this study show that the significance value (Sign.) of the variable is 0.284> 0.05, which means that the value is greater than 0.05. Thus, it can be concluded that the hypothesis H0 in this study is accepted, namely that the Christian Education learning variable (X) does not affect student learning outcomes in other subjects in junior high schools in Salatiga (Y).
Tafsir Fungsional, AI, dan Etika: Menjembatani Peran dan Agensi Moral Manusia Dalam Teknologi Denny Andreas; Sharon Evangelica Manete
Voice Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/c2209v73

Abstract

This article explores the intersection of artificial intelligence (AI), theology, and ethics, focusing on the concept of Imago Dei and its implications for human identity and moral agency. The research begins with a systematic literature review across three domains: theological perspectives on the Imago Dei, ethical considerations in AI, and philosophical discourses on human identity and moral agency. The review identified key themes and debates, facilitating a comprehensive understanding of how AI and theology intersect. The findings emphasize the importance of integrating theological frameworks with AI ethics to ensure that technological advancements are aligned with inherent human values. The study highlights significant gaps in existing literature, particularly the lack of a comprehensive framework that combines theological insights with practical ethical considerations. The research suggests a collaborative approach between theologians, ethicists, and technologists to address the moral dilemmas posed by AI. The results underscore the importance of contextualizing the Imago Dei within diverse cultural and religious frameworks, which enriches theological and ethical discussions. Ultimately, this research advocates for a nuanced understanding of what it means to be human in an increasingly technological world, emphasizing the ethical responsibilities that accompany the integration of AI into everyday life.
Kebijaksanaan yang Terwujud: Mengintegrasikan Inkarnasi dan Kenosis dalam Kontekstualisasi Sains dan Spiritualitas untuk Keterlibatan Masyarakat Denny Andreas
Voice Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/rbydqe24

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk menyelidiki titik temu antara sains dan spiritualitas melalui lensa inkarnasi dan kenosis. Inkarnasi dipahami sebagai Allah mengambil rupa manusia, sementara kenosis dianggap sebagai pengosongan diri seseorang untuk diisi oleh kehendak ilahi. Penelitian ini menyatakan bahwa tantangan global seperti perubahan iklim dan ketidakadilan sosial membutuhkan perhatian ilmiah di samping nilai-nilai spiritual yang mengakar. Dengan menggunakan metodologi Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA), penelitian ini menganalisis narasi persinggungan (spiritualitas dan sains) dengan meneliti hubungan kekuasaan dan tatanan sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan konstruksi spiritualitas inkarnasional dan kenosis, mengevaluasi literatur tentang spiritualitas dan sains, serta merumuskan kebijakan tata kelola yang akan memajukan kerja sama antara kedua bidang tersebut. Data yang digunakan terdiri dari publikasi akademis, makalah konferensi, dan teks wacana publik tentang bagaimana karya ilmiah dan kegiatan intelektual dapat menginformasikan dan menginspirasi tindakan melalui lensa nilai-nilai spiritual. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan referensi tentang konsep inkarnasi ke ranah ilmu lingkungan dan kesehatan masyarakat yang menekankan pada tanggung jawab moral dan sosial. Gagasan kenosis memupuk hubungan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas dan membantu membentuk pendekatan integratif. Argumen-argumen baru bermunculan yang mendukung integrasi spiritualitas ke dalam ilmu pengetahuan, menantang batas-batas yang sudah ada. Studi ini menawarkan praktik-praktik khusus bagi para akademisi yang mencakup membina kolaborasi lintas disiplin ilmu, berpartisipasi aktif dalam debat publik, dan mengintegrasikan etika spiritual ke dalam kerangka kerja pendidikan. Wacana ini memperluas diskusi akademis tentang hubungan antara teologi, filsafat, dan ilmu pengetahuan dengan mempertimbangkan pengaruh spiritualitas pada penyelidikan ilmiah.
Kasih Sebagai Dasar Moderasi Beragama Kristiani John Abraham Steve Kalalo
Voice Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/btt39j84

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah konsep kasih sebagai landasan harmoni hubungan interreligius bagi umat kristiani melalui pendekatan teologis-normatif. Dengan menggunakan metode studi pustaka, kajian ini menggali dasar-dasar iman Kristen yang mendukung sikap toleransi dan perdamaian antar umat beragama di tengah keberagaman Indonesia. Alkitab dijadikan sumber utama dalam membangun argumentasi bahwa moderasi beragama bukan hanya relevan, tetapi merupakan bagian esensial dari iman Kristen. Melalui analisis historis dan doktrinal tentang keselamatan, hukum kasih, serta karya Roh Kudus dalam proses pengudusan, penelitian ini menunjukkan bahwa Kekristenan pada dasarnya mengajarkan kasih yang inklusif dan penghargaan terhadap sesama tanpa memaksakan keyakinan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan nilai-nilai moderasi beragama dan memperkuat peran gereja dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.
Internalisasi Empat Nilai Dasar Kristiani dalam Pembinaan Moralitas dan Spiritualitas Mahasiswa Kristen Hanoch Herkanus Hamadi
Voice Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/3xfnw425

Abstract

Institusi pendidikan tinggi Kristen di Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk mahasiswa secara komprehensif, yang mencakup dimensi spiritual, moral, dan intelektual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai Kristiani yang diinternalisasikan melalui para dosen wali dalam membina perkembangan moral-spiritual mahasiswa. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tinjauan literatur, penelitian ini menggabungkan analisis induktif untuk mengekstraksi nilai-nilai pembangunan karakter. Temuan penelitian ini mengungkapkan empat nilai dasar: (1) Kasih sebagai fondasi hubungan intrinsik-ekstrinsik, yang mencerminkan kasih Allah yang transformatif; (2) Integritas, yang didefinisikan sebagai keselarasan antara keyakinan, perkataan, dan tindakan berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab; (3) Tanggung jawab dalam panggilan akademis yang dilandasi oleh teladan Kristus; dan (4) Kesetiaan pada kebenaran Firman Tuhan sebagai sumber moralitas. Peran penasihat fakultas tidak hanya sebatas bimbingan akademik, tetapi juga mencakup bimbingan rohani melalui keteladanan, dialog reflektif, dan integrasi nilai-nilai Kristiani ke dalam praktik-praktik bimbingan. Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya kedewasaan rohani dosen sebagai teladan dan kolaborasi institusional untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi transformasi karakter mahasiswa. Studi ini menyoroti integrasi nilai-nilai berbasis iman dalam pendidikan tinggi Kristen sebagai respons terhadap tantangan dunia modern.
Theologia Sistematika & Biblical Preaching Nahor Banfatin
Voice Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/2k5egs39

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memperkuat integrasi teologi sistematika dan khotbah yang Alkitabiah (biblical preaching), serta berupaya untuk mengatasi kesenjangan antara keduanya. Masalah yang ditemui, banyak pengkhotbah namun tidak banyak yang memberitakan Injil Yesus Kristus. Hal ini disebabkan oleh karena alpanya teologi sistematika dalam praktik biblical preaching, menganggap bahwa teologi sistematika adalah rumpun ilmu yang berbeda dengan biblical preaching dengan pemahaman bahwa berkhotbah itu hanya memberitakan Injil saja tanpa adanya pengaruh dari bidang ilmu yang lain. Melalui tinjauan literatur, artikel ini mencoba menindaklanjuti prinsip teologi sistematika yang dapat diintegrasikan dengan biblical preaching dan tulisan lain yang dianggap kredibel dan mendukung fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi sistematika tidak dapat dipisahkan dari biblical preaching, keduanya saling mengisi. Untuk menghasilkan khotbah yang Alkitabiah, sangat penting mengintegrasikan teologi sistematika dalam membangun fondasi khotbah yang Alkitabiah. Oleh karena itu, tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi para pengkhotbah untuk mengintegrasikan teologi sistematika dan biblical preaching dan tidak mengabaikan salah satu dari keduanya.
Kebijaksanaan Salomo dalam Kitab Amsal dan Aplikasinya Terhadap Etos Kerja di Abad 21 Joy Rema; Ni Nyoman Fransiska; Manuel Huwae
Voice Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/mqx61205

Abstract

Penelitian ini membahas kebijaksanaan Salomo dalam Amsal 18:9 dan relevansinya terhadap etos kerja di abad ke-21. Amsal 18:9 memperingatkan bahwa kemalasan memiliki konsekuensi destruktif, baik bagi individu maupun komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna teks tersebut melalui analisa eksegetis dan menghubungkannya dengan isu-isu etos kerja dalam konteks modern. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika untuk menggali makna teks dan aplikasi praktisnya di dunia kerja saat ini. Adapun hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kerja yang ditawarkan dalam Amsal masih relevan untuk meningkatkan disiplin, tanggung jawab, dan produktivitas di abad ke-21. Meskipun motivasi dalam dunia kerja modern lebih sering didorong oleh pencapaian karier dan profesionalisme, prinsip-prinsip yang terdapat dalam kebijaksanaan Salomo dapat memberikan landasan etis yang kuat dalam menghadapi tantangan kerja di era ini.
Dari Mimbar ke Medsos: Teologi Sosial Sebagai Jembatan Antara Gereja dan Generasi Z Sri Tandirapang
Voice Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Voice
Publisher : LPPM STT Baptis Kalvari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54636/26krb837

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak signifikan terhadap kehidupan Generasi Z, terutama dalam hal interaksi sosial dan keterlibatan mereka dengan gereja. Generasi Z, yang lahir antara 1995 hingga 2012, sering kali mengalami kesulitan dalam membangun relasi autentik karena ketergantungan pada teknologi dan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran teologi sosial sebagai jembatan antara gereja dan Generasi Z di era digital. Dengan pendekatan kualitatif melalui kajian literatur, penelitian ini menyoroti pentingnya media sosial sebagai sarana untuk menjangkau dan membina hubungan rohani dengan generasi muda. Gereja perlu beradaptasi dengan kebutuhan dan karakteristik Generasi Z yang lebih akrab dengan dunia maya daripada dengan interaksi fisik. Teologi sosial, dengan fokus pada nilai-nilai keadilan dan kepedulian sosial, dapat diterapkan melalui konten digital yang relevan, serta membangun komunitas online yang inklusif. Dengan demikian, gereja dapat tetap relevan, mengurangi keterasingan, dan meningkatkan partisipasi Generasi Z dalam kegiatan rohani dan pelayanan sosial.