cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER" : 7 Documents clear
Eksistensi Diri Perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger Melisa Mukaromah; Aan Supian; Rahmat Ramdhani; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.5837

Abstract

Abstract: existence, in this case the author focuses the research on the perspective of Ibn Thufail and Martin Heidegger. The research objectives are: (1) Examining the concept of self-existence in the thinking of Ibn Thufail and Martin Heidegger. (2) Describe and examine the factors that influenced the emergence of Ibn Thufail and Martin Heidegger's concept of self-existence. (3) Examining, analyzing and interpreting the implementation of Ibn Thufail and Martin Heidegger's thoughts about self-existence towards the meaning and purpose of human life. This research uses library research methods using a philosophical approach. The results of this research include: (1) The concept of self-existence in Ibn Thufail's view is the ability to think about his existence, how he can be in this world and have divine consciousness and unity with nature as a form of self-existence. Martin Heidegger stated that Dasein is self-existence. The meaning of Ada can have meaning only for those who question their own existence. Dasein is therefore Being-in-the-World, the existence-to-death as being towards an end and anxiety as Dasein's typical way of expression. (2) The emergence of Ibn Thufail's concept of self-existence was due to the wave of Hellenism that entered the Islamic world, while Hidegger, namely Dehumination or Depersonalization. (3) Ibn Thufail's thoughts on self-existence encourage humans to seek knowledge, find a balance between reason and revelation, increase self-awareness and live in harmony with nature. The implementation of Heidegger's thought involves a deep awareness of our position in the world, understanding the value of time and death, building sincere relationships with other people and remaining open to life's experiences. Keywords: Self-existence, Ibn Thufail, Martin Heidegger. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat menunjukkan eksistensi dirinya, dalam hal ini penulis memfokuskan penelitian pada perspektif Ibn Thufail dan Martin Heidegger. Adapun tujuan penelitiannya adalah: (1) Mengkaji konsep eksistensi diri dalam pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger. (2) Mendeskripsikan dan mengkaji faktor yang mempengaruhi munculnya pemikiran konsep eksitensi diri Ibn Thufail dan Martin Heidegger. (3) Menelaah, menganalisa serta memaknai implementasi pemikiran Ibn Thufail dan Martin Heidegger tentang eksitensi diri terhadap makna dan tujuan hidup manusia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan filosofis. Hasil penelitian ini meliputi: (1) Konsep eksistensi diri dalam pandangan Ibn Thufail adalah kemampuan dalam memikirkan keberadaanya, bagaimana ia bisa berada di dunia ini serta memiliki kesadaran ilahi serta kesatuan dengan alam sebagai wujud dari eksitensi diri. Martin Heidegger menyatakan bahwa Dasein sebagai eksistensi diri. Makna Ada bisa memiliki arti hanya bagi mereka yang mempertanyakan tentang keberadaannya sendiri. Karenanya Dasein merupakan Ada-di-dalam-Dunia, eksitensi keberadaan-untuk-kematian sebagai wujud menuju akhir dan kecemasan sebagai cara khas pengungkapan Dasein. (2) Munculnya konsep eksitensi diri Ibn Thufail dikarenkan gelombang Hellenisme yang masuk ke dunia Islam, Sedangkan Hidegger, Yaitu Dehuminasi atau Depersonalisasi. (3) Pemikiran Ibn Thufail tentang eksistensi diri mendorong manusia untuk mencari pengetahuan, menemukan keseimbangan antara akal dan wahyu, meningkatkan kesadaran diri dan hidup harmonis dengan alam. Adapun Implementasi pemikiran Heidegger melibatkan kesadaran mendalam tentang posisi kita di dunia, memahami nilai waktu dan kematian, membangun hubungan tulus dengan orang lain dan tetap terbuka terhadap pengalaman hidup. Kata kunci: Eksitensi diri, Ibn Thufail, Martin Heidegger.
Esensi Bertuhan Dalam Pandangan Metafisika Islam Fahrizal Fahrizal; Syarifuddin Syarifuddin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.5838

Abstract

Abstract: Discussion of the Spirit is a discussion that cannot be separated from metaphysics. Metaphysics is a part of the philosophy of science that studies behind reality. Metaphysics is a part of philosophy about the nature behind physics (which appears). In reality, the concept of divine metaphysics is not well understood by adherents of the monotheistic sect themselves, even by Muslims themselves. Muslims, as well as adherents of this monotheistic sect, are still fixated on the concept level explicitly and not implicitly, so that much is understood using reason (aqli) and not with the soul (naqli). This causes the spirit of monotheism among Muslims and adherents of monotheism to be doubted, thereby affecting their ability to reflect monotheism in their environment, so that enlightenment regarding monotheism is reduced. This research aims to find out and analyze how to increase monotheism among Muslims and also adherents of monotheism themselves. The research method applied is descriptive qualitative with documentation studies, where the data collection technique uses documentation studies. In accordance with the results of existing research, it can be concluded that there are several ways to introduce the teachings of monotheism to Muslims and adherents of the monotheism sect, where these methods are by carrying out religious and theological education, socializing the values of monotheism, practicing worship. consistently, studying the Qur'an and hadith, increasing awareness and cleanliness of the heart, avoiding heresy and heresy, explaining monotheism on social media and da'wah, as well as conducting religious discussions and dialogue. Keywords: The essence of god in Islamic metaphysics. Abstrak: Pembahasan tentang Roh adalah pembahasan tidak terlepas dari metafisika. Metafisika adalah bagian dari filsafat ilmu yang memperlajari di balik realitas. Metafisika merupakan bagian falsafah tentang hakikat yang ada di balik fisika (yang nampak). Dalam kenyataannya konsep metafisika ketuhanan ini kurang dipahami oleh penganut aliran tauhid itu sendiri, bahkan oleh umat Islam itu sendiri. Umat Islam, maupun penganut aliran tauhid ini masih terpaku dalam tataran konsep secara tersurat dan bukan tersirat, sehingga banyak dipahami dengan menggunakan akal (aqli) dan bukan dengan jiwa (naqli). Hal ini menyebabkan jiwa ketauhidan seseorang dari umat islam dan juga penganut tauhid masih diragukan, sehingga mempengaruhi kemampuan mereka dalam merefleksikan ketauhidan di lingkungan mereka, sehingga pencerahan mengenai ketauhidan menjadi berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa bagaimana cara meningkatkan ketauhidan umat Islam dan juga penganut aliran tauhid itu sendiri. Adapun metode penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan studi dokumentasi, dimana teknik pengumpulan data dengan menggunakan studi dokumentasi. Sesuai dengan hasil penelitian yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa cara yang dilakukan untuk memperkenalkan ajaran tauhid kepada umat Islam dan penganut aliran tauhid, dimana cara tersebut adalah dengan melaksanakan pendidikan agama dan teologi, melakukan sosialisasi terhadap nilai-nilai tauhid, melakukan praktek ibadah secara konsisten, studi al-qur’an dan hadits, meningkatkan kesadaran dan kebersihan hati, menghindari bid’ah dan kesesatan, menjabarkan tauhid di media sosial dan dakwah, serta melakukan diskusi dan dialog agama. Kata kunci: Esensi bertuhan dalam metafisika Islam.
Relasi Akal dan Wahyu Era Modern (Analisis Teologis Pemikiran Ibnu Taymiyyah) Sindi Lestari; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.5835

Abstract

Abstract: The results of this study are; 1) Ibn Taymiyyah adheres to tauhid uluhiyah because rububiyyah has included it. Ibn Taimiyah divided the concept of Tauhid into three parts, Tauhid Asma' Wa-asshifat, Tauhid Uluhiyyah and Tauhid Rububiyah. Ibn Taimiyyah prioritized revelation over reason, revelation was considered higher than reason but did not leave reason behind, he equated reason and revelation by viewing the position of reason as "gharizah". Ibn Taimiyah's thoughts on the relationship between reason and revelation, namely by concluding that revelation is higher than philosophy and then also trying to reconcile reason and revelation by relating reason and revelation in interpretation in order to understand the sharia by returning to the concept of its suitability because it involves reason. according to him reason and revelation are in harmony. Real revelation and a straight intellectual perspective are always in line. Ibn Taymiyyah formulated the concept of conformity to overcome the conflict between reason and revelation. 2) Theological analysis of Mrs. Taymiyyah's thoughts on the relationship between reason and revelation that has an impact on the modern era with its advantages and disadvantages, namely there are 5 components, first, revelation is prioritized over reason, second, reason may be equal to revelation, third, the conflict between reason and revelation by prioritizing reason, fourth, Ibn Taymiyyah's method of interpretation and fifth, Ibn Taymiyyah's concept of fitrah. Ibn Taymiyyah's thoughts contributed to the progress of the modern era in several fields, first, Ibn Taymiyyah is used in a number of modern disciplines, second, Ibn Taymiyyah's modern Tafsir Al-Quran, third, Islamic Law is influenced by Ibn Taymiyyah, fourth, The impact of modern politics from Ibn Taymiyyah, fifth, Ibn Taymiyyah's Contribution to the modern economy, sixth, Ibn Taymiyyah's Influence on modern thought. Keywords: The Relationship between Reason and Revelation in the Modern Era. Abstrak: Hasil penelitian ini adalah; 1) Ibnu Taymiyyah menganut tauhid uluhiyah. Ibnu Taimiyah membagi pengertian Tauhid menjadi tiga bagian, Tauhid Asma' Wa-asshifat, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rububiyah. Ibnu Taimiyyah memprioritaskan wahyu dari pada akal, wahyu dianggap lebih tinggi dari akal namun tidak menerbelakangi akal, beliau menyama ratakan akal dan wahyu dengan memandang posisi akal sebagai “gharizah”. Pemikiran Ibnu Taimiyah pada relasi akal dan wahyu yaitu dengan model menyimpulkan bahwa wahyu lebih tinggi dari filsafat kemudian juga berupaya mendamaikan akal dan wahyu dengan merelasikan akal dan wahyu dalam takwil guna memahami syariat dengan kembali pada konsep kesuaiannya karena melibatkan akal menurutnya akal dan wahyu adalah selaras. Ibnu Taimiyah merumuskan konsep kesesuaian guna mengatasi konflik antara akal dan wahyu.2) Analisis teologis pemikiran Ibu Taymiyyah terhadap relasi akal dan wahyu yang berdampak pada era modern dengan kelebihan dan kekurangannya yaitu ada 5 komponen, pertama, wahyu lebih diprioritaskan dari pada akal, kedua, akal boleh setara dengan wahyu, ketiga, konflik relasi akal dan wahyu dengan mendahulukan akal, keempat, metode penafsiran Ibnu Taymiyyah dan yang kelima, konsep fitrah Ibnu Taymiyyah. Pemikiran Ibnu Taimiyah berkontribusi dalam kemajuan era modern dalam beberapa bidang, pertama, Ibnu Taimiyah digunakan dalam sejumlah disiplin ilmu modern, kedua, Tafsir Al-Quran modern Ibnu Taimiyyah, ketiga, Hukum Islam dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah, keempat, Dampak politik modern dari Ibnu Taimiyah, kelima, Kontribusi Ibnu Taimiyah terhadap perekonomian modern, keenam, Pengaruh Ibnu Taimiyyah terhadap pemikiran modern. Kata kunci : Relasi Akal dan Wahyu Era Modern.
Struktur Matematika Al-Qur’an atau Metafisika dalam Kerohanian Roni Roni; Syarifuddin Syarifuddin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.5839

Abstract

Abstract: What is an obstacle for Muslims is that they still have a weak understanding of the mathematical structure in the Al-Quran and also in Islamic metaphysics, so that the lack of understanding among Muslims means that the Al-Quran cannot be used properly in creating something related to mathematics in comparison. with Islamic thinkers in the 10th to 20th centuries AD. The aim of this research is to find out and analyze the ways in which Muslims understand mathematical structures in the Koran or metaphysics in spirituality. The research method applied is descriptive qualitative with literature study, where data collection techniques use observation and documentation study. In accordance with the results of existing research, it can be concluded that the way to understand the relationship between the mathematical aspects of the Al-Qur'an and the metaphysical aspects of spirituality, such as studying the interpretation of the Al-Qur'an, the use of kalam science, the study of numerology, analysis of Arabic and semantics, study Islamic philosophy, participation in religious discussions, and modern scientific studies. Keywords: Mathematical structures in the koran and spiritual metaphysics. Abstrak: Yang menjadi kendala bagi umat islam adalah masih lemahnya pemahaman mengenai pemahaman struktur matematika dalam al-quran dan juga di dalam metafisika Islam, sehingga kurang pahamnya umat Islam yang membuat al-quran tidak bisa dimanfaatkan dengan baik dalam menciptakan sesuatu hal yang ebrkaitan dengan matematika jika dibandingkan dengan pemikir Islam di abad 10 hingga abad 20 Masehi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuai dan menganalisa cara yang dilakukan umat islam dalam memahami struktur matematikan dalam al-quran atau metafisika dalam kerohanian. Adapun metode penelitian yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan, dimana teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan studi dokumentasi. Sesuai dengan hasil penelitian yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa cara memahami hubungan antara aspek matematika Al-Qur'an dan aspek metafisik kerohanian, seperti mempelajari tafsir al-qur’an, penggunaan ilmu kalam, pengkajian numerologi, analisis Bahasa arab dan semantik, studi filsafat Islam, partisipasi dalam diskusi keagamaan, dan kajian keilmuan modern. Kata kunci: Struktur matematika dalam al-quran dan metafisika kerohanian.
Analisis Corak Pemikiran Masyarakat Dalam Melaksanakan Sedekah Jumat Berkah Yuhaswita Yuhaswita; Imam Mahdi; Moch. Iqbal; Fatihatur Rahmi Azizah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.4984

Abstract

The Friday blessings charity movement has gained popularity and is being actively discussed and practiced by the community some years after the Covid-19 era. The community is competing to carry out Friday blessings charity, which is a manifestation of the community's concern for those in dire need of assistance to fulfill their food needs. The purpose of this study is to analyze the Friday Blessing charity activities using an Islamic Theology approach. The research method employed in this study is qualitative descriptive research, namely a literature review. The sources of data include journals and books on Islamic theology. The research findings reveal that the act of giving Friday alms is considered a virtuous deed due to its concern for fellow human beings. According to Islamic theology, those who engage in Friday alms have utilized their intellect to contemplate both good and evil. Furthermore, individuals who participate in the act of giving Friday alms are considered to be believers in their heart, speech, and actions. The community that has engaged in the blessed Friday activities is a community that thinks rationally, similar to the Mu'tazilah and Qadariyah schools of thought.
Paradigma Pemahaman Hadist Tekstual dan Kontekstual; Analisis Muhammad Syuhudi Ismail Ismail Ismail; Sultan Gholand Astapala; Nafilah Chaudittisreen; Najma Namiril Kamila
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.6663

Abstract

Abstract: This research explains the paradigm of textual and contextual hadith. The figure studied is Syuhudi Ismail, who is a hadith figure in Indonesia whose book he wrote is Textual and Contextual Hadith of the Prophet. In understanding a hadith, Syuhudi Ismail does it methodically. First, analyze the text. Second, identifying the historical context for the emergence of hadith. Third, contextualization of hadith. The type of research used in this research is using library methods. The sources used in this writing are Textualist and Contextualist Hadith books as well as other books or articles as supporting material in this research. This research resulted in the conclusion that in understanding hadith, Syuhudi Ismail used a hermeneutic approach which was explained by text-context analysis. In analyzing the context of the hadith, he was also influenced by several hadith figures such as Imam Syihabuddin al-Qarafi and Syah Waliyullah al-Dahlawi. This influence is strengthened by the scientific research work of Syuhudi Ismail which analyzes the thoughts of these two figures.Keywords: Syuhudi Ismail, Hadith paradigm, textual and contextual. Abstrak: Penelitian ini menjelaskan tentang paradigma terhadap hadist tekstual dan kontekstual. Tokoh yang diteliti adalah Syuhudi Ismail, yang merupakan tokoh hadist di Indonesia dengan buku yang ditulis yaitu, Hadist Nabi yang Tekstual dan Kontekstual. Dalam memahami sebuah hadist, Syuhudi Ismail melakukannya dengan metode. Pertama, menganalisis teks. Kedua, Mengidentifikasikan konteks historis munculnya hadist. Ketiga, kontekstualisasi hadist. Jenis penelitian yang digunakan dalam riset ini yakni menggunakan metode kepistakaan. Adapun sumber yang digunakan dalam penulisan ini adalah buku Hadist yang Tekstualis dan Kontekstualis serta buku lain atau artikel lain sebagai bahan pendukung dalam penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa dalam memahami hadist, Syuhudi Ismail menggunakan pendekatan hermeneutik yang dijelaskan dengan adanya analisis teks-konteks. Dalam menganalisis konteks dari hadist, ia juga terpengaruh oleh beberapa tokoh hadist seperti Imam Syihabuddin al-Qarafi dan Syah Waliyullah al-Dahlawi. Pengaruh tersebut diperkuat dengan adanya penelitian karya ilmiah dari Syuhudi Ismail yang menganalisis pemikiran kedua tokoh tersebut.Kata kunci: Syuhudi Ismail, Paradigma hadist, tekstual dan kontekstual.
Epistimologi Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif John Locke dan Al-ghazali Fadhli Hafizh; Rohanda Rohanda; Abdul Kodir
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i2.6764

Abstract

Abstract: This article discusses the epistemology of knowledge from the perspectives of John Locke and Al-Ghazali. It also examines three Western epistemological schools: rationalism, empiricism, and criticism, as well as three Islamic intellectual traditions: bayani, burhani, and irfani. The study conducts a comparative analysis of the epistemologies of Al-Ghazali and John Locke, aiming to provide a comprehensive overview of their thoughts and examine the epistemological implications for the dynamics of knowledge and religion.John Locke developed the empiricist school, emphasizing the importance of experience in acquiring knowledge. He criticized the rationalist view that relies solely on reason while still acknowledging reason's role in understanding the world. In contrast, according to Al-Ghazali, true epistemological understanding comes from knowledge directly granted by God, inherent within an individual, signifying a person's spiritual closeness to God.Keywords: Al-Ghazali, Epistimology, John Lock. Abstrak: Artikel ini membahas epistemologi ilmu pengetahuan dalam perspektif John Locke dan Al-Ghazali. John Locke, Artikel ini juga mengkaji tiga aliran epistemologi Barat: rasionalisme, empirisme, dan kritisisme, serta tiga tradisi pemikiran Islam: bayani, burhani, dan irfani. Penelitian ini melakukan kajian komparatif terhadap epistemologi al-Ghazali dan John Locke dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pemikiran keduanya, serta mengkaji konsekuensi epistemologis mereka terhadap dinamika ilmu pengetahuan dan agama.jonh Locke mengembangkan aliran empirisme yang menekankan pentingnya pengalaman dalam memperoleh pengetahuan. Ia mengkritik pandangan rasionalis yang terlalu mengandalkan akal semata, namun tetap mengakui peran akal dalam memahami dunia. Sedangkan Menurut Al-Ghazali, pemahaman epistimologi ilmu yang benar adalah hasil dari pengetahuan yang berasal langsung dari Allah dan telah melekat dalam diri seseorang. Hal ini menandakan kedekatan spiritual seseorang dengan Tuhan.Kata kunci: Epistimologi , John Locke , Al-Ghazali.

Page 1 of 1 | Total Record : 7