cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
+6285377767024
Journal Mail Official
criksetra@fkip.unsri.ac.id
Editorial Address
Jl. Palembang-Prabumulih, km. 32. Indralaya-Ogan Ilir
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : https://doi.org/10.36706/jc.v13i2.13
Historiography means the writing of history based on the critical examination of sources, the selection of particular details from the authentic materials in those sources, and the synthesis of those details into a narrative that stands the test of critical examination. Historiography studies cover chronologically various themes, such as local history, social history, cultural history, economic history, political history, military history, intellectual history, environmental history, and other historical studies. History of education is a study of the past that focuses on educational issues. These include education systems, institutions, theories, themes and other related phenomena in the past. History education includes studies of how history teaches in school or society, curriculum, educational values in events, figures, and historical heritage, media and sources of historical learning, history teachers, and studies of textbooks.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2014)" : 10 Documents clear
MUSIK, LAGU,DAN TARI MELAYU SUMATERA UTARA Heristina Dewi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.238

Abstract

Abstrak: Musik adalah salah satu cabang kesenian.Sementara itu, kesenian adalah salah satu unsure kebudayaan.Kadangkala istilah kesenian selalu diidentikkan dengan kebudayaan.Bahkan banyak orang mengartikan kesenian sinonim dengan kebudayaan, Namun menurut kajian-kajian ilmu budaya, kesenian hanya salah satu bagian dari kebudayaan yang amat luas.Kesenian ini dapat berwujud ide, kegiatan, atau benda-benda.Di antara benda-benda seni musik, adalah alat-alat musik.Demikian pula yang terdapat dalam kebudayaan musik Melayu Sumatera Utara. Pada prinsipnya, musik terdiri dari wuhud gagasan, seperti konsep tentang ruang: tangga nada, wilayah nada, nada dasar, interval, frekuensi nada, sebaran nada-nada, kontur, formula meloadi, dan lain-lainnya. Dimensi ruang dalam music ini merupakan organisasi suara. Sementara, di sisi lain, music juga di bangun oleh dimensi waktu, yang terdiri dari: metrum atau birama, nilai not (panjang pendeknya durasi not), kecepatan (seperti lambat, sedang, cepat, sangat cepat), dan lainnya. Kedua dimensi pendukung musik ini, kadang juga berhubungan dengan seni tari yang diiringinya. Dalam konteks budaya Melayu sendiri, integrasi antara music dengan tari terwujud dalam konsep begitu musik begitu pulatarinya. Dengan demikian, budaya musik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kebudayaan Melayu pada umumnya. Musik adalah salah satu media ungkap kesenian.Kesenian adalah salah satu daripada unsure kebudayaan universal.Musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam music, terkandung nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi bahagian daripada proses enkulturasi budaya—baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari pada structural maupun genrenya dalam kebudayaan.Demikian juga yang terjadi music dalam kebudayaan masyarakat Melayu Sumatera Utara.
MEMBANGUN BUDAYA HARMONIS DAN RELIGIUS DI ERA GLOBAL Isputaminingsiih
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.239

Abstract

Abstrak: Pada era globalisasi sekarang ini, sangat penting bagi bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia, untuk melakukan rekonstruksi peradabannya dalam kerangka membangun budaya harmonis dan religius. Di dalam masyarakat manusia yang sudah mengglobal, akan terjadi pola-pola hubungan sosial yang berbeda dari sebelumnya di mana kemudahan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan jaringan komunikasi yang menjangkau setiap pelosok hunian manusia akan menciptakan komunitas global dimana anggota-anggotanya akan saling kenal dengan berbagai etnis dan budayanya. Pola-pola hubungan sosial baru ini dimungkinkan karena kemajuan sains dan teknologi yang dilahirkan oleh peradaban Barat moderen. Melalui kemajuan teknologi informasi, dunia yang sebelumnya diklasifikasikan menjadi Barat dan Timur, Utara dan Selatan, desa dan kota, pada era globalisasi, pembagian itu terasa tidak penting lagi. Dunia telah menjadi satu kesatuan di mana masyarakat yang ada di dalamnya, terlepas dari latar belakang etnis, bahasa dan agama telah mejadi satu, yaitu kesatuan manusia. Untuk itu komunikasi yang harmoni antar umat yang mengacu pada nilai-nilai humanity dan toleransimelalui dialogis haruslah dibudayakan
"KERJA TAHUNAN “, PESTA TRADISI MASYARAKAT KARO Junita Setiana Ginting
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.240

Abstract

Abstrak: Karya Tulis ini berjudul “Kerja Tahun”,Pesta Tradisi Masyarakat Karo. Masyarakat Karo adalah etnis yang tinggal di dataran tinggi Karo dan mengandalkan kehidupan ekonomi pada sektor pertanian, khususnya tanaman padi. Begitu pentingnya tanaman padi sehingga dilakukan acara khusus sebagai upacara syukur maupun kegembiraan atas hasil yang diperoleh. Kerja Tahun adalah tradisi yang berhubungan dengan pertanian padi tersebut. Kerja Tahun bermakna Pesta Rakyat yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Pelaksanaannya tidak bersamaan di setiap desa. Ada yang merayakan pada masa awal tanam, masa padi mulai berdaun, menguning maupun setelah panen. Nama yang diberikan pada Kerja Tahun disesuaikan dengan waktu dilaksanakan. Kerja Tahun dilaksanakan dengan persiapan dan anggaran dana cukup besar, dalam waktu tiga hari yaitu motong (persiapan), matana (hari puncak) dan nimpa (penutup). Tradisi ini tetap bertahan di beberapa desa walaupun tanaman padi tidak ditemukan lagi. Kerja Tahun berhubungan dengan aspek religi, sosial ekonomi dan kekerabatan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu terjadi perubahan. Pesta Tradisi ini juga menjadi sarana menunjukkan prestise bagi perantau yang telah berhasil di perantauan.Acara ini juga mulai dimanfaatkan sebagai sarana promosi atau kampanye untuk hal tertentu.
PERANAN MASAGUS HAJI ABDUL HAMID (KI MAROGAN) TERHADAP PERKEMBANGAN MASJID LAWANG KIDUL DI KAMPUNG 5 ILIR PALEMBANG (1881-1914) Nanda Julian Utama; Alian Sair
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.242

Abstract

Abstrak: Tulisan ini membahas Peranan Mgs. H. Abdul Hamid (Ki Marogan) terhadap perkembangan agama Islam di masjid Lawang Kidul baik dari segi agama, sosial dan pendidikan. Masjid Lawang Kidul merupakan salah satu masjid tua di Kota Palembang. Masjid ini dibangun oleh Mgs. H. Abdul Hamid atau Ki Marogan di kampung 5 ilir Palembang. Ki Marogan adalah salah satu ulama yang terkenal di kota Palembang pada Akhir abad ke-19. Selain sebagai seorang Ulama, beliau juga terkenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Palembang. Pembangunan masjid ini sebenarnya didasari sebagai sarana atau wadah bagi umat muslim di kota Palembang untuk beribadah, mengingat sekitar abad ke-19 jumlah ummat muslim kota Palembang tidak sebanding dengan jumlah masjid yang ada. Peranan beliau terhadap perkembangan masjid Lawang Kidul amatlah besar baik itu sebagai Imam, suri tauladan, dan guru bagi masyarakat kampung 5 Ilir yang menjadi jamaah masjid Lawang Kidul.
KAJIAN SOSIOLINGUISTIK SYAIR PERANG PALEMBANG: UPAYA MENGGALI DATA KEBAHASAAN DALAM TEKS SASTRA SEJARAH Raden Muhammad Ali Masri
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.243

Abstract

Abstrak: Karya sastra (baca: teks sastra) tidak hanya muncul sebagai sebuah produk estetika, melainkan juga merekam atau menghadirkan fenomena kebahasaan sesuai dengan zamannya. Sebagai produk yang juga dapat disebut dengan dokumen sosial, pada dasarnya teks sastra tidak hanya muat fenomena sosiolinguistik pada masa ia ditulis, yang tentu saja dapat menggambarkan setting masyarakat pada masa itu, melainkan juga konteks sosial dan budaya yang diembannya, terlepas dari verbal repertoire yang dimiliki oleh penulisnya. Sebagai produk masa lalu, yang diyakini ditulis sekitar tahun 1819, Syair Perang Palembang, setidaknya menjadi artefak kebahasaan masyarakat pada masa itu, selain menjadi bukti tertulis ikhwal “cara” orang zaman dahulu “bercerita” tentang perang yang terjadi di Palembang. Hal yang tentunya sungguh menarik bahwa sebagai teks sastra Syair Perang Palembang, menyuguhkan data kebahasaan yang sangat menarik untuk dikaji, terutama dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Melayu di wilayah Indonesia, jauh sebelum pengakuan terhadap bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda 1928. Di sisi lain, teks syair yang menggunakan bahasa Melayu, yang dalam konteks lokal sering disebut dengan “bahasa Melayu tinggi” justru menjadi alat bukti betapa bahasa Melayu pada masa itu telah menjadi alat komunikasi Kesultanan Palembang Darussalam, di atas bahasa Palembang halus ataupun bahasa Palembang sehari-hari yang hidup secara berdampingan. Untuk itu, kajian sosiolinguistik yang dilakukan, secara garis besar tidak dapat dilepaskan dari konteks bahasa dan budaya, termasuk kajian terhadap unsur dialek, kronolek, sapaan, dan unsur lain yang terekam di dalamnya
PEMBELAJARAN IPS PADA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH (SUATU REDEFENISI DAN REPOSISI) Sani Safitri
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.244

Abstract

Abstrak: tulisan berjudul “Pembelajaran IPS Pada Pendidikan Dasar Dan Menengah (Suatu Redefenisi Dan Reposisi)”. Tujuan tulisan ini yaitu menelaah kembali pembelajaran IPS pada pendidikan dasar dan menengah. Mengingat kenyataan dan tantangan yang terjadi sekarang, rasanya perlu refedinisi dan reposisi pembelajaran IPS di pendidikan dasar dan menengah, dengan menerima fungsi IPS sebagai kegiatan belajar yang menekankan pada aspek pendidikannya. Penekanan dalam IPS pada kurikulum 2013 adalah pada proses, maka penilaian juga seharusnya mengutamakan penilaian proses, terutama dalam penilaian terhadap sikap dan kebiasaan.
DESAIN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN YANG MENGINTEGRASIKAN NILAI-NILAI PANCASILA UNTUK MEMBANTU GURU PKn MEMBELAJARKAN NILAI-NILAI Umi Chotimah
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.245

Abstract

Abstrak: Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan desain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai nilai Pancasila (RPPMNP) untuk membantu guru PKn dalam membelajarkan nilai-nilai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode R & D. Responden pada saat studi pendahuluan adalah 20 orang guru PKn dari sepuluh SMPN di kota Palembang dan lima orang validator, serta dua orang guru PKn kelas VII SMPN yang menjadi guru model pada saat uji coba terbatas dan ujicoba lebih luas. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, observasi dan dokumentasi. Simpulannya bahwa desain RPPMNP adalah RPP yang semua komponennya diintegrasikan dengan nilai-nilai Pancasila yaitu mulai dari penentuan indikator, tujuan pembelajaran, bahan ajar, model dan metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, media dan sumber belajar, serta instrumen penilaian
PERUBAHAN SOSIAL DI KELURAHAN SARI BUNGAMAS KABUPATEN LAHAT TAHUN 2007-2013 (SUMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS IX MADRASAH TSANAWIYAH SABILUL MUTTAQIN) Chusnul Adam; Alian Sair; Supriyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.251

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berjudul “Perubahan Sosial di Kelurahan Sari Bungamas Kabupaten Lahat Tahun 2007-2013” dengan rumusan masalah mengenai bagaimanakah perubahan sosial yang terjadi di Kelurahan Sari Bungamas, hal apakah yang mendorong perubahan sosial tersebut dan bagaimanakah pengaruh adanya perubahan struktur pemerintahan terhadap kondisi perekonomian, pendidikan dan kondisi politik masyarakat di Kelurahan Sari Bungamas. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sosial yang terjadi di Kelurahan Sari Bungamas dalam kurun waktu mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2013. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah yang dilakukan meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sedangkan pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan dari berbagai ilmu sosial seperti, sosiologi, antropologi dan ekonomi. Berdasarkan penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial di Kelurahan Sari Bungamas terjadi dalam sistem pemerintahannya, dimana sistem pemerintahan awal menggunakan sistem pemerintahan desa, kemudian berubah menjadi sistem pemerintahan kelurahan pada tahun 2007. Perubahan ini didorong oleh karena adanya kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan formal yang relatif maju, toleransi, penduduk yang heterogen, dan karena adanya orientasi masa depan. Perubahan sosial tersebut memberikan pengaruh terhadap struktur pemerintahan, kondisi perekonomian, kondisi pendidikan dan kondisi politik masyarakatnya baik yang bersifat positif maupun negatif.
MENGINTEGRASIKAN NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH Agustinus Ufie
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.253

Abstract

Abstrak: Kajian ini, sesungguhnya mengungkapkan kekhawatiran tentang semakin rapuhnya semangat keberagaman kita sebagai suatu nation, konflik, kekerasan dan berbagai situasi sosial kemasyarakatan lainya yang terus merongrong identitas kebangsaan kita.Semua fenomena ini terjadi karena ketidakmampuan kita untuk mengapresiasi, mengartikulasikan keberagaman dalam semangat persatuan, secara konkrit dalam semua lini kehidupan kita.Berbagai gerakan dan upayadalam mempertahankan identitas kebangsaan dan mengkongkritkan keberagaman sebagai sebuah kekuatan bangsa terus digalahkan.Hal ini tentunya tidak semudah membalik telapak tangan namun paling tidak proses kearah penyadaran bahwa bangsa ini ada karena kepelbagaian dan keragaman mulai menunjukan kekuatannya.Mengintegrasikan nilai-nilai multikultural berbasil kearifan lokal dalam pembelajaran disekolah-sekolah melalui mata pelajaran yang relevan harusnya sesegera mungkin dilakukan.Dengan demikian maka iklim kebersamaan, dalam tata pergaulan yang lebih demokratis, humanis, toleran dan etis demi Indonesian yang kita cintai dapat dijumpai dimana-mana. Sektor pendidikan merupakan wadah yang sangat strategis karena sesungguhnya masa depan bangsa dan keberagaman ini terletak pada para siswa generasi muda bangsa ini. Menyadarkan kaum muda untuk terus menjunjung tinggi toleransi, kerja sama, mengasihi, hormat menghormati, rasa kebangsaan dan sebagainya adalah cara kita untuk memperkuat kohesi sosial serta memperkokoh integrasi bangsa sehingga konflik sosial yang terus terjadi dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa dapat dieliminir bahkan dihentikan. Dengan demikian Indonesia yang kita impikan adalah Indonesia yang rukun dan damai, maju, mandiri dan bersahaja dalam keberagaman sebagai identitas dapat terwujud
KERJASAMA KERAJAAN SRIWIJAYA DENGAN DINASTI TANG PADA TAHUN 683-740 M Alan Saputra; Yunani Hasan
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v3i2.255

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berjudul Kerjasama Kerajaan Sriwijaya dengan Dinasti Tang pada Tahun 683-740 M (Sumbangan Materi Mata Pelajaran Sejarah Nasional Kelas X di SMA Negeri 8 Palembang). Adapun rumusan masalah yang ambil dalam penulisan skripsi ini adalah meneliti mengenai Hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Dinasti Tang pada Abad VII-VIII M dan dampaknya terhadap perkembangan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya di kedua kerajaan besar itu. Metode penulisan yang digunakan oleh penulis adalah Metode Historis dengan langkah-langkah yang terdiri dari Heuristik, Kritik Sumber baik itu yang sifatnya internal maupun eksternal, Interpretasi Data dan Historiografi. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Buddha yang muncul pada Abad VII M di pulau Sumatera. Pada Abad VIII M, Sriwijaya terus berkembang menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Dengan kekuatan politik dan militernya, Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungan Barat (Arab, Persia dan India) dengan China. Atas dasar kepentingan politik dan ekonomi, Sriwijaya menjalin hubungan dengan Dinasti Tang di China dengan cara saling mengirimkan utusan dan upeti. Hal tersebut merupakan langkah strategis yang tepat, dan sangat menguntungkan bagi Sriwijaya maupun Dinasti Tang. Hubungan itu juga berpengaruh pada bidang sosial yang terlihat dari interaksi antara masyarakat Sriwijaya dengan masyarakat Dinasti Tang dan di bidang Kebudayaan melalaui agama Buddha. Sriwijaya merupakan pusat pendidikan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara yang sangat maju. Kemajuan agama Buddha di Sriwijaya “diabadikan” oleh seorang Bhiksu Agung Dinasti Tang bernama I-Tsing melalui catatan-catatannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10