cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 865 Documents
PENGARUH KONSENTRASI POLIETILEN GLIKOL(PEG) TERHADAP KARAKTERISTIK NANO FLUIDA AIR-ALUMINA Pipih Nurhidayati; Dani Gustaman Syarif; Hasniah Aliah
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 17, No 2: JANUARI 2016
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.314 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2016.17.2.4206

Abstract

PENGARUH KONSENTRASI POLIETILEN GLIKOL(PEG) TERHADAP KARAKTERISTIK NANO FLUIDA AIR-ALUMINA. Telah dilakukan penelitian pengaruh Polietilen Glikol (PEG) terhadap transfer panas pada nanofluida air alumina (Air-Al2O3). Sintesis nanofluida dilakukan dengan mendispersikan nanopartikel alumina (Al2O3) ke dalam fluida konvensional air (H2O). Pada penelitian ini dikaji pengaruh penambahan PEG terhadap karakteristik nanofluida air-Al2O3. Karakterisasi nanofluida yang dilakukan adalah pengukuran zeta potensial, viskositas, konduktivitas termal, dan Critical Heat Flux (CHF). Serbuk Al2O3 untuk nanofluida dianalisis menggunakan Scanning ElectronMicroscope (SEM) dan X-RayDffactometer (XRD), luas permukaannya diukur dengan alat surface areameter dengan menggunakan metode Brunauer-Emmett-Teller (BET). Penambahan Al2O3 sebesar 1 gram dapat meningkatkan konduktivitas termal sebesar 6% dan peningkaktan CHF sebesar 149% dibandingkan dengan konduktivitas termal dan CHF air. Nilai optimum konsentrasi PEG adalah 0,3%. Penambahan PEG 0,3% dapat meningkatkan konduktivitas termal sebesar 7,6% dan CHF sebesar 232% di bandingkan dengan konduktivitas termal and CHF air.
PENGARUH PERLAKUAN PANAS PADA PEMBENTUKAN FASA B2 PADUAN Ti-24At%Al-l1At%Nb Suryanto Suryanto
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.7 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2001.2.2.4900

Abstract

PENGARUH PERLAKUAN PANAS PADA PEMBENTUKAN FASA B2 PADUAN Ti-24At%Al-l1At%Nb. Paduan yang digunakan pada temperatur tinggi ini cocok digunakan sebagai bahan baku komponen mesin pesawat terbang dan mesin pembangkit daya. Paduan dipanasi hingga 1300 °C, dan diquench ke dalam air, minyak atau nitrogen cair. Pengamatan strukturmikro paduan dilakukan menggunakan TEM. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa strukturmikro paduan bergantung pada media quenching yang digunakan. Besarnya fasa α2 menurun untuk paduan yang diquench ke dalam air, minyak dan nitrogen cair. Hubungan fasa pada paduan ini setelah dipanaskan dan diquench ke dalam air, minyak dan nitrogen cair adalah (110)[111]B2// (0001)[1210]α2. Perubahan yang sama terlihat pada perubahan waktu pemanasan. Konsentrasi fasa α2 menurun jika waktu perlakuan berubah dari l jam, 2,5 jam dan 4jam. Hubungan fasa pada paduan ini setelah dipanaskan selama 1 dan 2,5 jam dan diquench ke dalam air adalah (110)[111]B2//(0001)[1210]α2 dan setelah dipanaskan selama 4jam dan diquench ke dalam air adalah (110)[001]B2//(0001)[1210]α2.
AFINITAS PENGIKATAN ANTIBODI MONOKLONALTRASTUZUMAB TERHADAP HUMAN EPIDERMAL RECEPTOR-2 YANG DIEKSPRESIKAN TUMOR GANAS OVARIUM Ilma Fiddiyamti; Martalena Ramli; Ristaniah D. Soetikno; Abdul Mutalib
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.178 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.4.4757

Abstract

AFINITAS PENGIKATAN ANTIBODI MONOKLONALTRASTUZUMAB TERHADAP HUMAN EPIDERMAL RECEPTOR-2 YANG DIEKSPRESIKAN TUMOR GANAS OVARIUM.Tumor ganas ovarium merupakan tumor ganas keempat tersering pada wanita dan tumor ganas ginekologi kedua tersering setelah tumor ganas endometrium. Angka kematian dan angka kesakitan yang tinggi pada tumor ganas ovarium sebagian besar diakibatkan belum adanya cara untuk mengenal stadium awal dari tumor ganas ini, dimana hampir 65% hingga 70% kasus tumor ganas ovarium ditemukan pada stadium lanjut, dengan harapan hidup sekitar 5%hingga 50%. Human Epidermal Receptor-2 (HER-2) merupakan epidermal growth faktor receptor yang terdapat pada permukaan sel ovarium. Interaksi HER-2 dengan antibodi monoklonal (mAb) adalah salah satu pendekatan untuk diagnosis dikaitkan dengan kespesifikan interaksinya yang lebih terarah mencapai target molekul. Trastuzumab merupakan humanized antibodi monoklonal yang rangkaian asam aminonya mirip dengan rangkaian asamamino antibodimanusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi afinitas pengikatan antara mAb (trastuzumab) dan reseptor HER-2 yang diekspresikan tumor ganas ovarium. Hasil penelitian ini akanmenjadi dasar untuk penggunaan trastuzumab sebagaimolekul pembawa senyawa pengontras pada prosdur Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk tumor ganas ovariumyang target spesifik. Penelitian inimerupakan studi deskriptif untuk penandaan trastuzumab dan studi analitik korelasional dengan rancangan eksperimental untukmenilai interaksi trastuzumab dengan reseptor HER-2 yang diekspresikan cell-line tumor ganas ovarium. Cell-line tumor ganas ovarium SKOV-3 yang didapat dari LAPTIAB-BBPT, diberikan sejumlah trastuzumab yang telah ditandai dengan 125I. Selanjutnya, dilakukan penentuan interaksi trastuzumab dengan HER-2 secara in vitro menggunakan formula Scatchard. Hasil analisis interaksi memberikan nilai maksimum binding capacity, Bmax dan konstanta disosiasi, Kd berturut-turut adalah 4 x 10-7M dan 9,17 x 10-9M yang menunjukkan adanya afinitas pengikatan yang kuat antara trastuzumab dengan HER-2 yang diekspresikan tumor ganas ovarium.
PENGARUH SUHU PIROLISIS CANGKANG SAWIT TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS ASAP CAIR Ratnawati Ratnawati; Singgih Hartanto
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.109 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4551

Abstract

PENGARUH SUHU PIROLISIS CANGKANG SAWIT TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS ASAP CAIR. Pembuatan asap cair merupakan salah satu usaha pemanfaatan cangkang sawit menjadi produk yang mempunyai nilai guna, dilakukan dengan cara mengkondensasi asap yang terbentuk dari proses pirolisis cangkang sawit. Dalam penelitian ini diproduksi asap cair dari hasil pirolisis 5 kg cangkang sawit pada suhu 200 °C, 300 °C dan 400 °C selama 4 jam, dan komposisi asap cair yang diperoleh dianalisis dengan alat Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pirolisis pada suhu 200 °C, 300 °C dan 400 °C, didapatkan volume asap cair masing masing sebanyak 460 mL, 510 mL dan 550 mL dengan rendemen arang sebesar 3,98 kg, 3,24 kg dan 1,49 kg. Komponen asap cair hasil pirolisis pada suhu 200 °C yang bisa digunakan sebagai antioksidan dan menambah citarasa makanan (guaiacol, 2,3-butanedione, furfural dan 2-methyl-2-cyclopentenone) sebesar 30,73 %berat dan komponen yang berbahaya bagi kesehatan (phenol , 2-propanone, 2-butanone dan cyclopentanone) sebesar 34,31 %berat. Sedangkan pada suhu 400 °C diperoleh komponen yang bisa digunakan pada produk makanan sebesar 27,39 %berat dan komponen yang berbahaya sebesar 26,51 %berat. Asap cair yang diperoleh dari penelitian ini belum dapat digunakan pada produk makanan karena masih terdapat senyawa yang berbahaya bagi kesehatan sehingga perlu proses pemisahan lebih lanjut
STATUS PENELITIAN BAHAN GIANT MAGNETORESISTANCE PADUAN LOGAM TANAH JARANG DI P3IB BATAN Setyo Purwanto; Ridwan Ridwan; Mujamilah Mujamilah; Wisnu Ari Adi; Ahmad S.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.134 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2002.3.2.5258

Abstract

STATUS PENELITIAN BAHAN GIANT MAGNETORESISTANCE PADUAN LOGAM TANAH JARANG DI P3IB BATAN. Penelitian bahan Giant Magnetoresistance (GMR) - suatu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai sensor magnetik maupun perekam data magnetik- berbasis Logam Tanah Jarang(LTJ) di P3IB-BATAN telah dimulai sejak tahun 1998 dengan objek studi paduan (Sm,La)Mn2Ge2. Dari studi tersebut telah berhasil disintesis suatu paduan yang memiliki rasio Magneto-Resistance (MR) meneapai 66% pada suhu ruang setelah perlakuan sintering. Diketahui bahwa ukuran butiran, densitas cuplikan mempengaruhi rasio Magnetoresistance (MR) bahan. Selanjutnya studi dilakukan melalui program Riset Unggulan Terpadu Vl yang berakhir tahun 2001 pada paduan (Sm,Y)Mn2Ge2 dan (Sm,Gd)Mn2Ge2 dalam bentuk pelet dan film tipis. Dari studi tersebut diketahui bahwa pengaruh ukuran butiran pada cuplikan pelet mampu meningkatkan harga rasio MR sebesar 45%. Pada cuplikan pelet harga rasio MR yang besar diduga berkaitan dengan roughness/kekasaran dari pennukaan sehingga kontribusi bulkscattering menjadi sangat dominan. Studi simulasi dengan model magnetic granular pada berbagai paduan ini. menunjukkan hal tersebut. Sedangkan pada cuplikan film tipis dimana faktor , roughness sangat berkurang diketahui peranan under layer Ag dan Cu serta proses sintering yang berkaitan dengan ukuran butiran pada tingkat mikro bahkan nanometer temyata dapat mengoptimalkan harga rasio Magnetoresistance (MR) sampai rasio MR sekitar 6%. Pengukuran sifat GMR dilakukan dengan peralatan four point probe sampai dengan medan magnet luar 2 Tesla.
THE STRUCTURAL AND MICROSTRUCTURAL characteristics IN THE MILLED Fe50C50 MAGNETIC COMPOSITES Setyo Purwanto; Engkir Sukirman
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.437 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5113

Abstract

THE STRUCTURAL AND MICROSTRUCTURAL characteristics IN THE MILLED Fe50C50 MAGNETIC COMPOSITES. The structural and microstructural characteristics in the milled Fe50C50 magnetic composites have been investigated by the x-ray diffraction technique using Rietveld analysis method. The starting materials of composite were the pure iron (Fe) and carbon (C) powders (weight ratio Fe:C = 50:50). The composites were prepared by mixing Fe and C powders by high energy milling (HEM) at various milling time start from 1.5 to 4.5 h. The x-rays diffraction measurements were performed by using a Philips X-Ray Diffractometer, PW170 type at room temperature with CuKα radiation, 2θ range = 10°-100°, preset time = 1 sec, and step size = 0.020°. With a mechanical milling of 4.5 hours, the elemental powders undergo a better crystallization. It means that the amorphization. Of its components do not happen yet. The carbon elements in composites get a homogeneous strain field, while the iron elements get an inhomogeneous strain field. The crystallite size of C particles almost do not change yet until the milling time of 4.5 hours. This is presumably due to the C particles are trapped at the weld interfaces between the Fe particles. While, the Fe particles fracture into smaller segments on the milling time of 1.5 hours. On the further milling, the Fe particles undergo welding processes to be bigger crystallites. Magnetic parameter such as Hc, Ms and Ku were confirmed this suggestion.
ANALISIS STRUKTUR KRISTAL SrO.6Fe2O3 MENGGUNAKAN PROGRAM GENERAL STRUCTURE ANALYSIS SYSTEM DAN PENGUJIAN SIFAT MAGNETNYA Perdamean Sebayang; Muljadi Muljadi; Wisnu Ari Adi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 3: JUNI 2011
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.509 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2011.12.3.4617

Abstract

ANALISIS STRUKTUR KRISTAL SrO.6Fe2O3 MENGGUNAKAN PROGRAM GENERAL STRUCTURE ANALYSIS SYSTEM DAN PENGUJIAN SIFAT MAGNETNYA. Telah dilakukan analisis bahan magnet single phase SrO.6Fe2O3 dengan menggunakan General Structure Analysis System (GSAS) dan pengukuran sifat magnetnya dengan menggunakan Vibrating Sample Magnetometer (VSM). Bahan magnet SrO.6Fe2O3 dibuat dengan metode reaksi padatan menggunakan proses mechanical alloying dan disintering pada suhu 1200 oC selama 10 jam. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa telah terbentuk single phase bahan magnet sistem SrFe12O19 dengan struktur kristal heksagonal (grup ruang P 63/mmc), parameter kisi a = b = 5,9033(5) Å dan c = 23,239(2) Å, α = β = 90o dan γ = 120o, volume unit sel sebesar V = 701.3(1) Å3 dan kerapatan atomik sebesar ρ = 5,72 g.cm-3. Struktur heksagonal ini dibangun menjadi 4 blok sub unit yang disebut dengan 2 blok sub unit S (Fe6 3+O82-)2+ dan 2 blok sub unit R (Sr2+Fe63+O112-)2-. Hasil pengukuran sifat magnetik menunjukkan bahwa bahan SrFe12O19 memiliki medan koersivitas, magnetisasi saturasi, dan magnetisasi remanen berturut-turut adalah 1650 Oe, 63,21 emu/g dan 48,01 emu/g.
ACRYLIC SEBAGAI COMPATIBILIZER AGENT PADA PLASTIK PATI TAPIOKA/LATEKS KARET ALAM Mardiyati Mardiyati; Steven Steven
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 16, No 1: OKTOBER 2014
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.011 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2014.16.1.4330

Abstract

ACRYLIC SEBAGAI COMPATIBILIZER AGENT PADA PLASTIK PATI TAPIOKA/LATEKS KARET ALAM. Pati tapioka dan lateks Karet Alam(KA) merupakan dua polimer hayati yang banyak dihasilkan oleh alam Indonesia. Pati tapioka merupakan polimer hayati yang banyak dikembangkan sebagai bioplastik karenamemiliki kekuatan tarik yang tinggi namun memiliki kelemahan dalam ketahanan air. Sementara, lateks KAmerupakan polimer alam yangmemiliki elongasi dan ketahanan air yang tinggi. Dengan mencampurkan pati tapioka dengan lateks KA, diharapkan diperoleh sifat unggul dari kedua polimer tersebut. Namun, pencampuran pati dan lateks KA menghasilkan tingkat homogenitas yang rendah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini acrylic ditambahkan ke dalam campuran pati dan lateks KA untuk meningkatkan homogenitasnya. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan plastik campuran pati tapioka/lateks KA dengan menggunakan metode solution casting. Campuran pati tapioka/lateks KA ditambahkan acrylic sebagai compatibilizer agent dengan berbagai komposisi, sebesar 10%berat, 15%berat, 20%berat dan 25%berat. Untuk mengetahui kehomogenan campuran dilakukan karakterisasi dengan mengunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC). Kekuatan mekanik plastik diuji dengan pengujian tarik.Ketahanan air plastik diuji dengan pengujian celup. Semakin banyak jumlah acrylic yang ditambahkan kedalam campuran pati tapioka/lateks KA, maka kekuatan tarik,modulus elastisitas, elongasi serta ketahanan air plastik semakin meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh homogenitas yang baik dari campuran yang ditunjukkan oleh hasil kareakterisasi dengan menggunakan DSC.
CORROSION STUDIES ON SS-321 IN CHLORIC-ACID SOLUTION MEDIUM Nurdin Effendi; Aziz K. Jahja
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.993 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4944

Abstract

CORROSION STUDIES ON SS-321 IN CHLORIC-ACID SOLUTION MEDIUM. Experimental corrosion studies on commercial AISI-321 have been carried out. The experiments were carried out in a chloric- acid medium with a concentration variation of 0.1 mol. 0.2 mol.. 0.3 mol. and 0.4 mol corresponding to pH values of 1.0, 0.7, 0.523, and 0.4 respectively. The experiments were carried out using a type M-273 EG&G potentiostat/galvanometer test instrument. The post-corrosion samples’ microstructure were analyzed with the aid of EDS (energy dispersive spectroscopy) equipped SEM instrument to detect the presence of any viable corrosion byproducts. For further verification. X-ray diffraction method was also used to detect any possible emerging corrosion byproducts on the samples’ surfaces. Experimental results confirm that AISI-321 commercial alloys immersed in a chloric acid corrosion medium with a variation of concentration experience very little or almost no corrosion, and that according to the so-called Fontana’s criteria these test-materials turn out to have an excellent resistance toward chloric acid corrosion. This is also evidenced by the very low corrosion rate value measured in this study. EDS study and X-ray diffraction results indicate that the possible ensuing corrosion byproducts are iron oxides, chrome oxides, and iron chlorides.
PENGARUH PENAMBAHAN Ag2O TERHADAP PENINGKATAN RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x HASIL PROSES PELELEHAN Didin S. Winatapura; Wisnu Ari Adi; Yustinus P.; E. Sukirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.061 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2007.8.2.4804

Abstract

PENGARUH PENAMBAHAN Ag2O TERHADAP PENINGKATAN RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x HASIL PROSES PELELEHAN. Telah dilakukan pembuatan superkonduktor YBa2Cu3O7-x (YBCO) dan YBa2Cu3O7-x/Ag (YBCO/Ag) menggunakan metode Modified Melt Textured Growth (MMTG). Pembuatan prekursor menggunakan metode reaksi padatan dari bahan-bahan dasar Y2O3, BaCO3 dan CuO dengan kemurnian 99,99 persen. Pembuatan cuplikan YBCO/Ag dilakukan dengan cara menambahkan serbuk Ag2O untuk 10 dan 30 persen berat. Pengujian cuplikan dilakukan dengan efek Meissner, teknik difraksi sinar-x (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM), mikroscop optik (MO), Electron Dispersion X-rays (EDX), dan metode probe empat titik. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa cuplikan merupakan bahan superkonduktor YBCO yang memperlihatkan fenomena superkonduktivitas pada suhu nitrogen cair dan telah mengkristal dengan baik dengan dicirikan oleh puncak pola difraksi yang tajam. Cuplikan hasil sinter memiliki sedikit porous, berbutir halus dan strukturmikro yang terorientasi secara acak. Sebaliknya, cuplikan hasil proses pelelehan memperlihatkan strukturmikro yang rapat dan highly textured yang tersusun dari butiran berukuran panjang berbentuk pelat. Butiran bentuk pelat diidentifikasi sebagai fasa YBCO. Fasa lain yang diendapkan didalam dalam bulk YBCO diketahui sebagai fasa Y2BaCuO5 (211) dan fasa Ag. Suhu kritis, Tc ≈ 91 K dari semua cuplikan dan tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan. Dari kurva I-V diperoleh rapat arus kritis Jc = 3,98 A.cm-2; 135,35 A.cm-2; 143,32 A.cm-2 dan 282,644 A.cm-2, berturut turut untuk cuplikan CSIN, YM-Ag2O, YM-10Ag2O dan YM-30Ag2O. Dapat disimpulkan bahwa dengan substitusi Ag2O pada bulk YBCO dapat meningkatkan nilai Jc.

Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue