cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Study of Susceptibility of Pari Island Groundwater – To Surface Water Using Natural Isotopes and Hydrochemicals E. Ristin Pujiindiyati; Paston Sidauruk; Satrio Satrio; Agustin Rustam
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2721

Abstract

The Pari Island with a total area of 40,32 ha is situated at the southern end of a chain of more than a hundred islands, commonly known as Seribu Islands, in Java Sea.  Its topography is flat land and mainly consists of coral reefs such that fresh water supply for local people is very limited. The scarcity of fresh water to the local people  is still worsen by the intrusion of sea water to the aquifer system. The objective of this study is to get a better understanding of mixing process between sea water and ground water and to trace the sources of salinity in shallow groundwater of Pari Island. The combinations of natural isotopes of 18O and 2H in water and hydrochemical (such as Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42- and HCO3-) content were used in this study. Results of hydrochemicals showed that almost all of the shallow groundwaters of Pari island had undergone mixing process with sea water. Mostly, they were classified as brackish water and gradually changed to saline water along the flowpath of the water. Only two groundwater samples were still characterized as fresh water type. Mixing ratios of seawater-groundwater water were estimated to be between 2% and 38%. Isotopic results of 18O and 2H revealed that slope of groundwater samples had decreased compared to local water meteoric line. Obviously, those distributions a long the mixing line of sea water – rain water, indicated that high salinity of groundwaters in Pari Island  originated from encroachment of sea water. It implied that the salinity was caused by flushing of minerals into soil by direct precipitation could not be taken into consideration. Key words: Pari Island, groundwater, sea water intrusion, natural isotopes, hydrochemicals
Studi Iklim dan Vegetasi Menggunakan Pengukuran Isotop Alam Stalaktit Goa Seropan, Gunung Kidul-Yogyakarta Satrio .; Paston Sidauruk; Bungkus Pratikno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.497

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mempelajariperubahan iklim dan vegetasi menggunakan isotop alam 13C, 14C dan 18O yang berasal darisampel stalaktit. Sampel stalaktit diambil dari goa Seropan yang terletak di KecamatanSemanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan iklim,vegetasi, temperatur atmosfer, umur dan pertumbuhan stalaktit. Kandungan CaCO3 dalamstalaktit digunakan untuk mendapatkan data dari ke tiga jenis isotop alam tersebut. Dataisotop 13C digunakan untuk mengetahui fluktuasi iklim dan vegetasi. Data isotop 18O, baikyang berasal dari stalaktit maupun dari air tanah yang menetes dalam stalaktit digunakanuntuk mengetahui perubahan temperatur atmosfer, sedangkan isotop 14C digunakan untukmengetahui umur dan pertumbuhan stalaktit. Hasil analisis isotop alam 13C menunjukkanbahwa iklim daerah Gunung Kidul didominasi iklim kering. Hampir 87,5 % menunjukkanvegetasi kering C4, di mana kandungan 13C-nya lebih kaya (-6 o/oo hingga +2 o/oo Pee DeeBelemnite, PDB) dan hanya 12,5 % saja kadang-kadang vegetasinya basah C3, di manakandungan 13C-nya lebih miskin (-14 o/oo hingga -6 o/oo PDB). Dari hasil analisis 18O (stalaktit,PDB) dan 18O (tetesan air, Standard Mean Ocean Water, SMOW) menghasilkan data temperaturantara 12,2 oC hingga 32,1 oC dalam kurun waktu dari tahun 1621 hingga 2011 dengantemperatur rata-rata 19,5 oC, sedangkan dari hasil analisis 14C menunjukkan bahwapertumbuhan stalaktit sekitar 0,1 mm/tahun atau dalam sepuluh tahun hanya tumbuh sekitar1 mm saja. Pertumbuhan ini tergolong lambat dan hal ini lazim untuk daerah tropis denganiklim/vegetasi kering seperti Gunung Kidul.Climate and vegetation study usingenvironmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) variations of stalactite has been conducted atSeropan cave, Gunung Kidul Karst area. The stalactite samples were collected from SeropanCave at Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. The objective of study is to understand theclimate change, and vegetation types, temperature of atmosphere, age and stalactite growthrate through the interpretation of environmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) of stalactitesamples. The environmental isotope content of stalactite samples were analysed throughCaCO3 compound that was found at the stalactite samples. The 13C content of samples isimportant to understand climate undulation and also vegetation variation. On the other hand,the variation of 18O and 14C contents is important to predict past temperature of atmosphere,and the age as well as stalactite growth rate, respectively. The result of environmental 13Cisotope analysis showed that Gunung Kidul area in general can be classified as dry climate. Itis also indicated that almost 87.5 % of local vegetation can be classified as dry vegetation C4as can be seen from the variation of 13C content that is -6 o/oo to +2 o/oo vs PDB. This can alsomean that only 12.5 % of the time that the vegetation in the area is wet in which the variationof 13C content is in the range -14 o/oo to -6 o/oo vs PDB. The variations of 18O contents of thesamples (carbonate stalactite, or drip water) showed that the average temperature since 1621to 2011 was around 19.5 oC. On the other hand, the variations of 14C contents of the samplesshowed that stalactite growth rate was around 0.1 mm/year or one mm in ten years. Theresult shows that the stalactite growth is very slow as generally expected in tropical area suchas Gunung Kidul.
Aplikasi Isotop Alam untuk Pendugaan Daerah Resapan Air Bagi Mataair Di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat iffatul izza siftianida; Agus Budhie Wijatna; Bungkus Pratikno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 12, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2016.12.2.2274

Abstract

Mataair sebagai sumber airtanah di Kecamatan Cijeruk dimanfaatkan oleh warga sekitar maupun perusahaan air. Pemanfaatan air yang berlebihan menyebabkan terjadinya kekeringan air selama musim kemarau. Perlu adanya konservasi pada daerah resapan air bagi mataair di Kecamatan Cijeruk untuk menjaga ketersediaan air di mataair agar mencukupi permintaan air. Penentuan titik lokasi daerah resapan dan analisis kimia airtanah perlu dilakukan untuk memberi informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan konservasi pada daerah resapan mataair. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan: (1) menentukan asal usul dan genesis airtanah, (2) menentukan daerah resapan air bagi mataair, (3) mengetahui fasies airtanah, dan (4) mengetahui kualitas airtanah.Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Cijeruk, dengan mengambil sampel airtanah yang berasal dari 10 lokasi sumber mataair yang digunakan oleh perusahaan air dan warga pada bulan Mei 2015. Rasio isotop D dan  pada sampel air diukur dengan liquid water stable isotope analyzer LGR DLT-100 untuk menentukan genesis airtanah dan daerah resapan mataair. Analisis hidrokimia untuk mengetahui fasies dan kualitas airtanah. Parameter kimia yang digunakan adalah pH, Daya Hantar Listrik (DHL), Total dissolved Solid (TDS), dan ion mayor.Hasil penelitian menunjukan: (a) mataair berasal dari beberapa sumber yaitu air hujan dan airtanah, (b) daerah resapan CJR01, CJR02, CJR03, dan CJR04 berada pada elevasi 1988 – 2055 m.dpl, (c) daerah resapan CJR06 dan CJR09 pada elevasi 1379 – 1430 m.dpl, (d) daerah resapan mataair CJR07 dan CJR08 pada elevasi 811 – 836 m.dpl, (e) daerah resapan CJR05, dan CJR10 masing – masing berada pada elevasi 1475 mdpl, dan 1932 m.dpl, (f) fasies airtanah tergolong dalam fasies Mg-HCO3 (magnesium bikarbonat), dan (g) kualitas airtanah merupakan air tawar segar (fresh water).Kata kunci: deuterium, oksigen-18, resapan air, fasies, kualitas, airtanah. 
PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA TAHU YANG DIJUAL DI WILAYAH PASAR JAKARTA SELATAN Idrus Kadir; Harsojo .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2009.5.2.529

Abstract

Tahu adalah salah satu sumber panganbergizi yang banyak dikonsumsi masyarakat luas. Akan tetapi, akhir-akhir ini didugaada produksi tahu yang kualitas higieniknya rendah karena mengandung bahan berbahaya seperti formalin. Oleh karena itu, pengujian terhadap kualitas tahu yang beredar di pasar swalayan maupun tradisional perlu dilakukan. Pengambilan contohdilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu contoh diambil dari lokasi dan jenis tahu yang telah ditentukan di wilayah Jakarta Selatan. Contoh tahu tersebut kemudian diiradiasi dengan dosis 3 kGy. Parameter yang diamati adalah ada tidaknya kandungan formalin, jumlah total bakteri aerob, bakteri koli, Staphylococcusspp dan cemaran Salmonella. Hasil menunjukkan bahwa semua contoh tahu yang diteliti mengandung formalin. Kandungan bakteri aerob pada contoh tahu yang tidak diiradiasi berkisar antara 2,2 x 105 dan 1,4 x 107 koloni/g, sedangkan pada yang diiradiasi dengan dosis 3 kGy jumlah bakteri aerob berkisar antara 2,5 x 102 dan 2,0 x 104 koloni/g. Kandungan bakteri koli pada contoh tahu yang tidak diiradiasi berkisar antara 0 dan 7,0 x 105 koloni/g, sedangkan pada yang diiradiasi berkisar antara 2,5 x 102 dan 2,2 x 103 koloni/g. Jumlah bakteri Staphylococcus pada contohtahu yang tidak diiradiasi berkisar antara 0 dan 1,3 x 106 koloni/g, sedangkan pada yang diiradiasi berkisar antara 0 dan 1,5 x 102 koloni/g. Tidak ditemukan adanya Salmonella pada semua contoh tahu yang diteliti. Derajat keasaman (pH) contoh tahu berkisar antara 5,33 dan 5,93, sedangkan kadar air dan kandungan protein masing masing berkisar antara 75,11% dan 76,99% serta 7,93% dan 8,83%. Kata kunci : formalin, mikroba, iradiasi gamma, bakteri koli, Staphylococcus
STUDI DISTRIBUSI EROSI/DEPOSISI TANAH MENGGUNAKAN ISOTOP ALAM 137Cs DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BESAI HULU - LAMPUNG Nita Suhartini; Barokah Alyanta
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 3, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2007.3.1.553

Abstract

Radiogenik 137Cs yang terdapat di tanah dapat digunakan sebagai perunut untuk mengestimasi besarnya laju erosi/deposisi di suatu lahan tertentu yang telah terjadi sejak tahun 1950-an, dengan membandingkan nilai aktivitas total 137Cs di suatu lokasi penelitian dengan suatu lokasi pembanding. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari profil distribusi laju erosi/deposisi suatu lahan olahan. Lokasi penelitian adalah daerah pertanian kopi di Lampung Barat. Pengambilan cuplikan dilakukan menggunakan alat scraper (20 x 50) cm.untuk distribusi lokasi pembanding dan coring (di = 6,9 cm) untuk distribusi laju erosi/deposisi. Delapan lokasi dipilih untuk pengambilan cuplikan yang dilakukan secara transek dengan jumlah titik percobaan setiap transek bekisar antara 4 sampai dengan 12 titik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi laju erosi/deposisi titik-titik percobaan berkisar antara -0,4 t/ha.thn sampai dengan 40,0 t/ha.thn., dan net laju erosi/deposisi untuk 8 transek yang berbeda berkisar antara -5,6 t/ha.thn sampai dengan 11,5 t/ha.thn.
Perlakuan Sinar Gamma pada Substrat Jerami Padi dan Kapang Phanerochaete Chrysosporium untuk Meningkatkan Delignifikasi melalui Fermentasi Padat Dadang Sudrajat; Nana Mulyana; Tri Retno Diah Larashati; Anna Muawanah; Anisa Ulfatu Aeni
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 14, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2018.14.2.4635

Abstract

ABSTRAK  Delignifikasi pada biomasa lignoselulosa perlu dilakukan untuk mempermudah hidrolisis selulosa. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan efisiensi delignifikasi substrat jerami padi oleh kapang Phanerochaete. chrysosporium dengan perlakuan sinar gamma. Metode delignifikasi yang digunakan yaitu metode solid state fermentation. Perlakuan pada penelitian ini adalah iradiasi dosis rendah pada kapang P. chrysosporium 0, 500, 1000, 1500, 2000 Gy, iradiasi dosis tinggi pada jerami padi 0, 50, 100 kGy dan pretreatment NaOH (0%, 1%,2%, 3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa delignifikasi dengan fermentasi padat oleh kapang P. chrysosporium yang dipapari sinar gamma 1000 Gy dan substrat jerami padi yang di pretreatment NaOH 2% dan diiradiasi 100 kGy dapat meningkatkan efisiensi delignifikasi 85,95% lebih tinggi dibandingkan tanpa iradiasi. Hasil delignifikasi maksimum pada hari ke-12 dengan kadar lignin sebesar 1,634
Subsurface Flow and Surface Water Interactions Quantification in Gunung Kidul Karst Area Using Hydro- Chemical and Stable Isotopes Data Variations Paston Sidauruk; E. Ristin Pujiindiyati; Satrio Satrio
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2700

Abstract

Subsurface flow is one of the available water sources in the Karsts area such as in GunungKidul. The study of the pattern of the variations of stable isotopes content as a function oftime and its interaction with other water sources such as rain waters, groundwater, riverwater will be a very good tool to assess the potential of the subsurface flow as a water source.For this purpose, the variations of stable isotopes content of subsurface flow around GunungKidul Karsts area and its interactions with other local water sources have been studied for thelast two years. From the comparison of stable isotopes variations pattern of the subsurfaceflow with monthly rain water, the interaction of the subsurface flow with other water sourcesin the area has been quantified. Based on hydro-chemical data, it was found that the rechargearea of subsurface flow were relatively further than other samples and it was also found thatSeropan and Bribin subsurface flow systems originate from different geologic structures.Based on stable isotopes relative contents, it was found Ngobaran and Baron Caves have beenmixed with domestic sewerage water or other surface water.Keywords : Karsts area, stable isotopes, subsurface flow
Variasi Genetik Anggrek Alam Phalaenopsis amabilis (L.) Blume Hasil Iradiasi Sinar Gamma Rahayu Sulistianingsih; Aziz Purwantoro; Woerjono Mangoendidjojo; Endang Semiarti
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.488

Abstract

Untuk mendapatkan kultivar baru anggrek alam Phalaenopsis amabilis (L.)Blume telah dilaksanakan iradiasi sinar gamma Co-60. Hasil iradiasi menunjukkan keragamanfenotip, sehingga perlu dilakukan penelitian secara biologi molekuler untuk mengetahuiapakah keragaman fenotip tersebut memang disebabkan karena adanya perbedaan genotippada tanaman-tanaman hasil iradiasi tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan analisiskeragaman genetic antar individu dalam populasi tanaman hasil iradiasi dengan menggunakanteknik RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). Bahan tanaman berupa hasil iradiasi sinargamma 0, 15, 20, 25, 20+20 dan 40 Gray. Masing-masing diisolasi DNA genom dari tanamantersebut dan diamplifikasi dengan 22 primer yang ditentukan secara random. Hasil PCR(Polymease Chain Reaction) dianalisis dengan elektrophoresis dengan 1.5 % agarose. AnalisisDNA dilakukan dengan teknik RAPD menggunakan 8 primer terseleksi dari 22 primer yangdigunakan analisis polimorfis dan keragaman molekuler dianalisis dengan metode Nei’s genediversity dengan program GenAlEx 6.1. Hasil penelitian menunjukkan Keragaman geneticdapat dianalisis pada awal pertumbuhan tanaman anggrek bulan alam Phalaenopsis amabilis(L.) Blume hasil iradiasi sinar gamma Co-60 dengan menggunakan teknik RAPD dan dosisiradiasi 15 dan 40 Gy memberikan variabilitas genetik tinggi dibandingkan tanpa perlakuan
Evaluasi In Vitro Silase Sinambung Sorgum Varietas Samurai 2 yang Mengandung Probiotic BIOS K2 dalam Cairan Rumen Kerbau Shafa Imanda; Yunus Effendi; Sihono Sihono; Irawan Sugoro
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2016.12.1.3193

Abstract

Evaluasi In Vitro Silase Sinambung Sorgum Varietas Samurai 2 yang Mengandung Probiotik BIOS K2 dalam Cairan Rumen Kerbau. Kebutuhan pakan hijauan ternak ruminansia dapat ditingkatkan kualitasnya dengan pembuatan silase. Salah satu teknik silase yang dikembangkan adalah silase sinambung, yaitu suatu teknologi modifikasi pembuatan silase dengan waktu fermentasi yang lebih singkat akibat pemberian bibit silase pada saat awal pembuatannya. Peningkatan kualitas silase dapat dilakukan dengan menambah suplemen berupa probiotik seperti BIOS K2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pakan silase sinambung hijauan sorghum varietas Samurai 2 yang mengandung probiotik BIOS K2. Evaluasi pakan dilakukan dengan metode in vitro Hohenheim gas test menggunakan inokulum cairan rumen dari kerbau berfistula yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 390C. Perlakuan terdiri dari pakan A (silase sorgum 21 hari), B (silase sinambung sorghum 3 hari), dan C (silase sinambung sorgum 7 hari). Parameter yang diuji adalah konsentrasi amonia, volatile fatty acids (VFA), sintesis protein mikroba (bakteri dan protozoa), degradasi bahan organik (%DBO), konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Data hasil perlakuan dianalisis dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil pengujian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan perlakuan pakan terhadap konsentrasi amonia, konsentrasi VFA, sintesis protein mikroba dan %DBO, sedangkan untuk konsentrasi gas CO2 dan CH4 tidak ada pengaruh. Perlakuan pakan C menghasilkan konsentrasi amonia, VFA dan sintesis protein bakteri berturut-turut sebesar 0,44 mg/ml; 0,89 mg/ml; dan 5,18 mg/ml/jam, lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A dan B. %DBO tertinggi terjadi pada perlakuan A sebesar 47,30%, sedangkan B dan C sebesar 25,18 dan 37,15%. Sintesis protein mikroba protozoa tertinggi terjadi pada perlakuan A dan B sebesar 2,62 mg/ml/jam, sedangkan perlakuan C sebesar 2,55 mg/ml/jam. Disimpulkan dari percobaan ini bahwa pakan silase sinambung sorgum varitetas Samurai 2 dengan lama inkubasi selama 7 hari (C) memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan silase sorgum yang diinkubasi 21 hari (A).
THE RATE OF 45Ca UPTAKE BY TWO CORALS SPECIES AT WATERS OF PULAU BURUNG, BANGKA-BELITUNG PROVINCE Zulkifli Dahlan; Gusti Diansyah; T. Zia Ulqodry; Ania Citraresmin Ania Citraresmin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2010.6.2.520

Abstract

Coral reefs transplantation is the most technique used for coral reefs rehabilitation, at the present. Recently the 45Ca techniquehas been using for determining growth appearances in corals because of its ability to calculate the calcification process. For this reason, the study on the rate of 45Ca uptake by natural coralsAcropora formosa and Acropora nobilis was carried out between June and December 2009 at the waters of Pulau Burung Island, Bangka-Belitung Province. The coral fragments of about 5cm were harvested and put into a PVC container filled with 2 liters of fresh sea water, then incubated with 45CaCl2 solutions with an activity of 11.04 μCi/ml for 8 hour under fluorescent light. After the incubation, the “labeled” coral fragments were transplanted to where they have been taken from, and after such period will be re-harvested to determine their 45Ca uptake content. The results showed that the 45Ca technique was a reliable method to calculate the rate 45Ca uptake by coral fragments, which were studied in different depths and time periods of light exposure. There was a significant difference in the 45Ca uptake by the twodifferent coral species. A. formosa up took more 45Ca than A. nobilis did. The highest 45Ca uptake was shown by A. formosa at 5 m. This was true for all the lengths of time to light exposure (1, 3, 5 and 7 hours). Different pattern of 45Ca uptake showed by A. nobilis at 10 m depth, where it could be recognized that after a drop of 45Ca the uptake increase continuously until the end of the light exposure (7 hours). The difference in 45Ca uptake between the coral fragments is assumed to be influence by light and the algae species living symbiotically with the coral species that will further influence the CO2-fixation. This process will influence thecalcification process, which is expressed in 45Ca uptake. Further studies should be carried out to exactly gathered data of all the factors which could influence the calcification process by coral reefs, the factors could be CO2-fixation, flow of sedimentation, etc.