cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
IRRADIATION EFFECTS ON INSECTICIDES AS A POLLUTANT MODEL IN AQUEOUS SOLUTION Hendig Winarno; Ermin Katrin Harantung
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 3, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2007.3.2.557

Abstract

Degradation of some insecticides i.e.: fenitrothion, prothiofos, and cypermetrin as a model pollutant was carried out using gamma irradiation of 60Co. Irradiation-induced of fenitrothion in solution acid medium gave the significant effect on the decrease of its concentration. The optimum condition for degradation of fenitrothion (55.5 mg/L) was irradiation at 6 kGy with aeration in initial pH 5.6. At this condition, the concentration of fenitrothion decreased up to 97%. Determination of organic acids in irradiated product by HPLC method showed that oxalic acid and formic acid were clarified as organic acid-degraded products of fenitrothion with the concentration of 23.0 mg/L and 2.5 mg/L respectively. The irradiation of prothiofos in aqueous solution (50 mg/L), showed that irradiation at a dose of 8 kGy and initial pH 7 gave the optimum degradation. At this condition, the concentration of prothiofos decreased up to 98%. Determination of irradiated product by HPLC method showed that oxalic acid (18 mg/L) was clarified as organic acid-degraded product of prothiofos. In the case of cypermetrin, the optimum condition for its degradation was irradiation with aeration of cypermetrin (40 mg/L) at a dose of 20 kGy, initial pH 11, and adding the catalyst 0.05% of FeCl3. At that condition, cypermetrin decreased up to 87% and COD of solution decreased up to 78%. The organic acid detected at optimum condition as degradation products were oxalic acid (1.1 g/L), maleic acid (9.0 g/L), formic acid (127.0 g/L), and acetic acid (286.0 g/L). From these results, it could be concluded that ionizing radiation can be used as a tool to degrade insecticides as organic pollutants.
Pengaruh Radiasi Pengion Terhadap Kerusakan DNA pada Sel Limfosit Pekerja Medis dengan Menggunakan Uji Komet Teja Kisnanto; Dalina Darlina; Tur Raharjo
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 14, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2018.14.2.4664

Abstract

              Pemanfaatan teknologi nuklir dibidang medis sudah banyak digunakan untuk diagnosa maupun terapi. Pasien maupun pekerja radiasi yang bertindak sebagai operator yang membantu pasien berisiko terpapar radiasi. Paparan radiasi pengion dapat menginduksi mutasi dan transformasi sel terutama sebagai konsekuensi dari kerusakan pada DNA Dengan demikian perlu dievaluasi kerusakan DNA dengan membandingkan dengan kontrol. Uji Comet merupakan salah satu biomarker untuk mengevaluasi kerusakan DNA karena paparan radiasi dengan mengukur tingkat migrasi DNA di limfosit darah tepi. Salah satu parameter yang umum digunakan pada uji komet adalah panjang ekor komet (Tail Length/TL). Pada penelitian ini dilakukan analisis TL pada citra komet dari sampel pekerja radiasi medis suatu Rumah Sakit di Jakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa TL kelompok pekerja radiasi medis lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Nilai TL pada pekerja radiasi medis pria lebih tinggi dibandingkan wanita. Dengan demikian aspek proteksi dan keselamatan radiasi terhadap paparan radiasi dosis rendah tidak dapat diabaikan lagi dan harus mulai untuk diprioritaskan.
Teknik Pb-210 excess untuk Estimasi Laju Erosi Lahan Berlereng di Kabupaten Nganjuk Yang Lebih Akurat Barokah Aliyanta
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2706

Abstract

Penelitian laju erosi dengan menggunakan teknikperunut Pb-210 excess telah dilakukan di daerah Nganjuk. Penelitian mencakup daerahKecamatan Sawahan, Ngetos dan Loceret, dengan luas area berkisar 11.000 ha. Pengambilancontoh tanah dilakukan dengan pendekatan pengelompokan berdasarkan lokasi, peta jenistanah, peta tataguna lahan, peta topografi dan peta drainage. Dari tiap kelompok tanah, contohtanah diambil mengikuti transek lerengan (hillslope transect) dengan kedalaman 30 cm.Adapun contoh pembanding diambil pada lokasi lerengan bukit (hillslope) dengan ciri tertutupsecara baik dengan tanaman rumput dan tanaman utama pinus. Hasil inventori pembandingPb-210 excess rerata adalah 2465 Bq/m2, dan nilai ini digunakan untuk menghitung laju erosirata-rata tahunan dari rentang waktu tahun 1963 sampai 2006. Estimasi laju erosi yangdidapat bervariasi dari suatu lokasi ke lokasi lainnya adalah antara 5 sampai mendekati 100ton/ha/th, dan nilai rasio penghantaran sedimen (SDR) adalah dari 12 % sampai 100%. Proseserosi terjadi di semua jenis tanah. Hal ini disebabkan belum diterapkannya secara bersamasamatindakan konservasi lahan secara fisik dan vegetatif.Kata kunci : Pb-210 excess, inventori, transek, laju erosi, rasio penghantaran sedimen
Karakteristika dan Khasiat Daun Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne) Iradiasi Ermin Katrin; Fahrul Nizar Novagusda; . Susanto; Hendig Winarno
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.1.492

Abstract

Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne), Araceae, merupakan salah satutanaman Indonesia yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Teknik pengawetansimplisia obat herbal menggunakan iradiasi gamma telah lama digunakan untukmemperpanjang masa simpan, namun baru sedikit data-data ilmiah yang mempelajaripengaruh iradiasi terhadap khasiat simplisia tersebut. Pada penelitian ini dilakukan iradiasiterhadap simplisia daun keladi tikus dengan dosis 0, 5, 7,5, 10 dan 15 kGy, kemudiandilanjutkan dengan maserasi setiap sampel daun keladi tikus dengan n-heksan, etil asetat danetanol berturut-turut. Pengaruh iradiasi gamma dipelajari melalui uji aktivitas inhibisi selleukemia L1210 terhadap ekstrak, fraksinasi secara kromatografi kolom, KLT, KCKT danspektrofotometri. Hasil uji sitotoksisitas terhadap sel leukemia L1210 menunjukan bahwaekstrak etil asetat paling aktif berpotensi sebagai antikanker nilai IC50 11,81 μg/mL. Hasilfraksinasi ekstrak etil asetat dengan kromatografi kolom diperoleh 6 fraksi. Fraksi 2merupakan fraksi paling aktif dengan nilai IC50 terendah 4,14 μg/mL. Iradiasi gamma hinggadosis 15 kGy menurunkan aktivitas sitotoksik fraksi 2 terhadap pertumbuhan sel leukemiaL1210, namun masih dalam batas aktif (nilai IC50 ≤ 20 μg/mL) sebagai inhibitor terhadappertumbuhan leukemia L1210. Berdasarkan data sitotoksisitas, profil KLT, spektrum UV-VISdan KCKT antara kontrol dengan sampel yang diradiasi menunjukkan bahwa dosismaksimum untuk iradiasi daun keladi tikus adalah 7,5 kGy.Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne), Araceae, is one ofIndonesia plants that can inhibit cancer cell growth. Preservation techniques of herbalmedicine using gamma irradiation has long been used to prolong shelf life, but only a littlescientific data that study the effect of irradiation on the properties of them. In this studyirradiation of keladi tikus leaves with a dose of 0, 5, 7.5, 10 and 15 kGy, followed bymaceration of each with n-hexane, ethyl acetate and ethanol, respectively. Effects of gammairradiation were studied by testing the inhibitory activity against the L1210 leukemia cell forthe extracts, fractionation by column chromatography, analysis by TLC, spectrophotometerand HPLC. The result of cytotoxicity test against L1210 leukemia cells showed that the ethylacetate extract of the most active potential as anticancer IC50 value respectively 11.81 μg/ml.Result of fractionation of ethyl acetate extract were obtained by column chromatography with6 fractions. Fraction 2 was the most active fraction with the lowest IC50 value of 4.14 μg/ml. Gamma irradiation dose of 15 kGy reduced the cytotoxic activity of fraction 2 against L1210leukemia cells, but still within the active potent (IC50 values ≤ 20 μg/ml) as an inhibitor to thegrowth of leukemia L1210. Based on the cytotoxicity data, profiles of TLC, UV-VIS spectrumand HPLC between control and irradiated samples showed that the maximum dose forirradiation of keladi tikus leaves was 7.5 kGy.
Efek Pupuk Hayati Terhadap Serapan N (N-15) pada Fase Awal Pertumbuhan Tanaman Jagung Taufiq Bachtiar; Anggi Nico Flatian; Nurrobifahmi Nurrobifahmi; Setiyo Hadi Waluyo
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 12, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2016.12.1.3218

Abstract

Efek Pupuk Hayati Terhadap Serapan N (N-15) pada Fase Awal Pertumbuhan Tanaman Jagung. Telah dipelajari dengan percobaan pot di rumah kaca PAIR BATAN. Inokulan mikrob Azotobacter vinelandii (A), Bacillus cereus (B), Bacillus megaterium (C), dan campuran dari ketiga jenis mikrob tersebut (ABC) digunakan sebagai pupuk hayati yang diaplikasikan pada tanaman jagung yang tumbuh dalam pot. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 kali ulangan digunakan dalam percobaan ini. Parameter yang diukur meliputi serapan Nitrogen (N) tanaman, N berasal dari tanah, N berasal dari pupuk hayati dan berat kering tanaman pada 20 HST. Kandungan N berasal dari pupuk hayati dan N berasal dari tanah ditentukan dengan menggunakan teknik isotop N-15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara signifikan aplikasi pupuk hayati ABC meningkatkan total N tanaman (142,42 %) dan berat kering tanaman (129,03 %) dari kontrol. Berdasarkaan analisis dengan teknik isotop N - 15 menunjukkan bahwa kontribusi yang paling signifikan dalam meningkatkan N tanaman (67,92 %) ditemukan pada perlakuan pupuk hayati ABC.
STUDI HUBUNGAN KONSENTRASI HORMON PROGESTERON DENGAN JUMLAH KORPUS LUTEUM PADA KAMBING Totti Tjiptosumirat
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 5, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2009.5.1.524

Abstract

Sebagai upaya untuk mengetahui akan adanya bunting kembar secara alami, studi hubungan antara jumlah sel telur (ova), yang digambarkan dengan jumlah korpora lutea (CL), dengankonsentrasi hormon progesteron pada 12 ekor ternak kambing betina dewasa telah dilakukan. Percobaan ini bertujuan melihat hubungan antara jumlah sel telur, yang digambarkan dengan jumlah korpora lutea, dengan konsentrasi hormon progesteronpada ternak kambing. Dalam percobaan, seluruh ternak (n=12) mendapatkan perlakuan sinkronisasi estrus (birahi) dengan mengijeksikan secara intra muskular (i.m.) Estrumate® sebanyak 2 kali dengan interval 10 hari. Observasi jumlah sel telur yang dilepaskan dari ovarium, yang digambarkan dengan jumlah CL terpantau, dilakukan dengan aplikasi teknik laparoskopi. Hewan percobaan dibagi menjadi dua kelompok pengamatan berdasarkan pada jumlah sel telur terobservasi, yaitu kelompok K ≤2CL dan K >2CL. Sampel darah diambil dari seluruh hewan percobaan saat dilakukan sinkronisasi birahi, yaitu: -10, -1, 0, 2, 11 dan 21 hari periode birahi untuk dianalisis konsentrasi hormon progesteron. Analisis dilakukanmemakai teknik radioimmunoassay (RIA). Terdapat hubungan yang signifikan (P<0,01) antara jumlah sel telur terovulasi dengan konsentrasi progesteron dalam serum pada pertengahan siklus birahi (fase luteal). Rata—rata konsentrasi progesteron pada fase ini 4,00 ± 0,89 dan 5,95 ± 0,90 nMol/L masing—masing untuk kelompok K≤2CL dan K>2CL. Kegiatan pengamatan ini mengkonfirmasikan bahwa konsentrasi hormon progesteron dapat digunakan sebagai indikator untukmemprediksi jumlah sel telur terovulasi yang dapat digunakan dalam program twinning pada ternak ruminansia kecil.Kata kunci : progesterone, RIA, korpus l
PENGARUH PUPUK FOSFAT ALAM PADA TANAH MASAM TERHADAP PERTUMBUHAN JAGUNG SERTA SERAPAN N-ZA DAN N-UREA Haryanto .; Komaruddin Idris; Rafli I. Kawalusa; Elsje L. Sisworo
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2008.4.2.548

Abstract

Sebuah percobaan pot telah dilakukan di rumah kaca IPB Darmaga, bertujuan untuk mempelajari pengaruh pupuk fosfat alam (FA) pada tanah masam terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan serapan N berasal dari ZA (N-Z) dan Urea (N-U). Jenis tanah yang digunakana adalah Typic Dystrudepts yang mempunyaisifat kimia dan fisik antara lain pH rendah dan kandungan pasir cukup tinggi. Tanah ini memiliki daya fiksasi terhadap unsur P yang tinggi sehingga kurang tersedia bagi tanaman. Oleh karena sifat tanah yang masam, maka ketika pupuk fosfat alamdiaplikasikan ke tanah tersebut akan lebih terlarut. Interaksinya dengan pupuk yang lain berpengaruh pada serapan N oleh tanaman. Tanaman percobaan yang digunakan adalah jagung varietas Pioneer. Tiga taraf pemupukan fosfat alam yaitu setara dengan 0, 50, dan 100 kg P2O5/ha dikombinasikan dengan pupuk ZA dan Urea masing-masing tiga taraf yaitu setara dengan 0, 50, dan 100 kg N/ha. ZA dan Urea bertanda 15N dengan atom ekses masing-masing sebesar 9,984 % dan 9,754 % diaplikasikan pada percobaan ini untuk mempelajari serapan N oleh tanaman jagung.Panen dilakukan pada saat pertumbuhan vegetatif maksimum yaitu 40 hari setelah tanam. Parameter yang diamati antara lain pertumbuhan tanaman dinyatakan dalam bobot kering (g), persentase N-total, serapan N-total (mg N/tanaman) serta persentase dan serapan N-berasal dari ZA dan Urea (% N-Z/U, serapan N-Z/U dinyatakan dalam mg N/tanaman). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa baik pemberian N-ZA (NZ)maupun N-urea (N-U) dan P (FA) secara sendiri-sendiri maupun gabungan dapat mendorong pertumbuhan tanaman (bobot kering, g/tanaman) dan serapan N-total (mg N/tanaman) serta % atom ekses 15N. Dalam hal ini pupuk P (FA) memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan dengan pupuk N. Terdapat interaksiyang nyata antara pemberian N (pupuk ZA/Urea) dan P (fosfat alam) sehingga untuk memberikan kedua jenis pupuk tersebut secara bersamaan perlu dipertimbangkan adanya pemberian yang seimbang takarannya agar dapat diperoleh serapan N yangpaling optimal.
Eliminasi Bakteri Patogen pada Sayur dan Buah sebagai Bahan Baku Salad Siap Santap dengan Iradiasi Gamma Angelina Rianti; Efendi Oulan Gustav Nata Buana; Warsono El Kiyat; Harsojo Harsojo
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2018.14.1.4246

Abstract

Salad siap santap dikategorikan sebagai produk rentan kontaminasi mikroba, sehingga untuk dapat mengurangi risiko tersebut dibutuhkan usaha eliminasi, salah satunya dengan iradiasi gamma. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pemanfaatan iradiasi gamma mampu atau tidak meningkatkan kualitas salad siap santap dari sisi mikrobiologisnya, menjaga sifat fisik dan kimia produk, serta menguji sensitivitas bakteri patogen terhadap iradiasi dan antibiotik. Sampel penelitian adalah sayur selada keriting (Lactuca sativa L. var. crispa) dan buah mentimun Jepang (Cucumis sativus L. var. kyuri) dengan perlakuan iradiasi 0,5 dan 1 kGy (laju iradiasi 1 kGy/jam). Dilakukan uji mikrobiologi, sifat fisik, kadar air, dan kadar serat kasar. Iradiasi gamma pada sayur selada keriting dan buah mentimun Jepang dengan dosis 0,5 dan 1 kGy terbukti mampu meningkatkan kualitas salad siap santap dengan mereduksi kontaminasi hingga 3 siklus log mikroba, serta mempertahankan sifat fisik dan kimia produk. Sensitivitas bakteri E. coli sayur selada keriting terhadap iradiasi dan antibiotik lebih tinggi dibandingkan dengan buah mentimun Jepang.
Aplikasi Iradiasi Gamma untuk Pemuliaan Mutasi Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis Bl.) Umur Genjah. Sasanti Widiarsih; Ita Dwimahyani
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2013.9.1.1202

Abstract

Anggrek bulan merupakan puspa pesona yang populer di Indonesia. PATIR-BATAN menerapkan teknik mutasi sebagai alternatif terhadap metode persilangan untuk memperkaya keragaman genetik dalam rangka memperoleh varietas tanaman hias yang unggul. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari 2011. Materi tanaman berupa plantlet kultur jaringan Phalaenopsis amabilis siap tanam dari Lab. KonservasiTumbuhan, Kebun Raya Bogor, dan diiradiasi dengan sinar gamma masing-masing dengan dosis 0, 5, 10, 15, 20, dan 25 Gy. Plantlet diaklimatisasi pada media pakis cacah steril selama 3 minggu, kemudian dipindahkan ke pot individu dan dipelihara di rumah kaca KebunPercobaan Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Pada usia 13 bulan (Februari 2012) didapati satu tanaman dengan dosis iradiasi 25 Gy yang menunjukkan tanda-tanda pembungaan. Sekitar lima minggu kemudian, kuntum bunga mulai mekar. Warna dan bentuk bunga hampir samadengan bunga tanaman induk dengan diameter bunga 8 cm. Mengingat tanaman anggrek bulan umumnya membutuhkan waktu lebih dari dua tahun sejak masa aklimatisasi hingga memasuki masa generatif, dan khususnya genus Phalaenopsis lebih rajin berbunga di dataran tinggi, maka temuan mutan anggrek bulan berumur genjah ini merupakan indikasi yang menjanjikan. Observasi lebih lanjut masih diperlukan terhadap kestabilan karakter mutan pada generasi berikutnya.
Peningkatan Reproduksi Sapi Induk Brahman Cross Post Partum dengan Pemberian Pakan Suplemen Multinutrient Block Plus Medicated Nursyam Andi Syarifuddin; Anis Wahdi
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2011.7.2.87

Abstract

Multinutrient Block Plus Medicated. Salah satu permasalahan dalam pembibitan sapi Brahman Cross adalah rendahnya efisiensi reproduksi akibat panjangnya anestrus post partum dan tingginya angka service per conception yang antara lain disebabkan oleh rendahnya kandungan nutrisi ransum. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan reproduksi sapi induk Brahman Cross post partum dengan pemberian pakan suplemen Multinutrient Block plus Medicated (MBPM) yang dimulai dengan memperbaiki skor kondisi induk sehingga dapat mempercepat proses munculnya berahi post partum kemudian meningkatkan angka kebuntingan dengan memperkecil angka service per conception serta memperbaiki pertumbuhan pedet yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan 16ekor sapi induk Brahman Cross post partum yang tidak melebihi 90 hari terdiriatas 9 ekor diberi pakan suplemen MBPM dibandingkan dengan 7 ekor tidakdiberi pakan suplemen MBPM sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemberian pakan suplemen MBPM dapat meningkatkan reproduksi sapi induk Brahman Cross post partum yaitu mempertahankan skor kondisi induk pada awal post partum sampai terjadinya kebuntingan, mempercepat 24,8 hari munculnya berahi post partum, angka service per conception = 1 dan angka kebuntingan dapat mencapai 60%, mempertahankan kadar urea plasma darah dan kadar glukosa darah dalam batas normal baik pada saat post partum maupun setelah berahi post partum. Pemberian pakan suplemen MBPM pada sapi induk BrahmanCross post partum dapat memberikan pertambahan bobot badan pada pedetnya yang menyusui sebesar 0,51kg/ hari.