cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Efek Iradiasi Gamma dan Penyimpanan Dingin terhadap Total Mikroorganisme dan Daya Patah Kwetiau Bryan Raharja; Efendi Oulan Gustav Nata Buana; Harsojo Harsojo
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2018.14.1.4247

Abstract

Kadar air yang tinggi menyebabkan umur simpan kwetiau menjadi singkat. Hal ini menyebabkan banyaknya produsen yang menambahkan formalin pada kwetiau. Iradiasi gamma merupakan metode untuk memperpanjang umur simpan yang ekonomis serta tidak mengubah tekstur secara signifikan sehingga berpotensi diaplikasikan pada kwetiau. Pengujian dilakukan dengan iradiasi sampel menggunakan dosis 0, 2, dan 4 kGy dengan laju dosis 1 kGy per jam yang diikuti dengan penyimpanan dingin dengan memperhatikan perubahan ALT, total koliform, Salmonella spp., nilai D10, sensitivitas antibiotik serta daya putus kwetiau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi iradiasi gamma dengan penyimpanan dingin mampu menurunkan hingga 6,2 log CFU/g bakteri aerob dan 5,8 log CFU/g bakteri koliform pada dosis 4 kGy serta menurunkan hingga 4,9 log CFU/g bakteri aerob dan 4,6  log CFU/g bakteri koliform pada dosis 2 kGy. Bakteri Escherichia coli yang diisolasi memiliki nilai D10 sebesar 0,403 kGy yang sensitif terhadap amoxicillin dan tetracyclin serta memiliki sensitivitas intermediate terhadap sefoksitin. Iradiasi pada dosis 2 kGy meningkatkan nilai titik putus kwetiau. Pada penelitian tidak ditemukan Salmonella spp. pada sampel E dan semua sampel positif mengandung formalin.
Karakteristik Degradasi dari Biomaterial Poli- (kaprolakton-kitosan-hidroksiapatit) Iradiasi Dalam Larutan Simulated Body Fluid Yessy Warastuti; Nani Suryani; Nani Suryani Suryani
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2013.9.1.1198

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik degradasi komposit poli-(kaprolakton-kitosan-hidroksiapatit) dalam larutan simulated body fluid (SBF). Membran komposit dibuat dengan metodepencampuran dan pengadukan sampai homogen menggunakan pelarut asam asetat kemudian dicetak menjadi membran tipis. Iradiasi dengan mesin berkas elektron pada dosis 0 kGy s/d 30 kGy dilakukan untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik membran. Pengujianabsorpsi dalam SBF dilakukan dengan variasi waktu perendaman, dan uji degradasi dilakukan selama 0 s/d 12 minggu, sedangkan identifikasi gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR), serta analisis struktur mikro permukaan membran kompositsebelum dan setelah perendaman dalam SBF dilakukan dengan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa absorbsi membran dalam SBF menurun karena proses iradiasi yang menyebabkan gugus NH2 yang berkontribusi pada sifat hidrofilisitas pada kitosan mengalami pemutusan. Absorbsi maksimal pada komposit III (58,2% ± 2,22) disebabkan karena komposit III memiliki konsentrasi polikaprolakton paling kecil dan kitosan paling besar, sehingga sifat hidrofobisitasnya menurun. Uji degradasi menunjukkan bahwa degradasi optimal dicapai oleh komposit III (1,3% ± 0,98) setelah 8 minggu perendaman. Hasil uji spektrum FTIR menunjukkan gabungan puncak yang khas dari bahan penyusunnya dan terbentuk spektrum spesifik untuk CO3 2- dari apatit terkarbonasi akibat perendaman dalam SBF. Hal tersebut diperkuat dari hasil uji struktur mikro dengan SEM yangmemperlihatkan adanya lapisan apatit atau endapan kalsium fosfat, berbentuk seperti jarum kecil merata pada seluruh permukaan membran. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa komposit poli-(kaprolakton-kitosan-hidroksiapatit) potensial digunakan sebagaibiomaterial.
Sintesis dan Karakterisasi Pasta Injectable Bone Substitute Iradiasi Berbasis Hidroksiapatit Yessy Warastuti; Basril Abbas
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2011.7.2.76

Abstract

Sintesis dan Karakterisasi Pasta Injectable Bone Substitute Iradiasi Berbasis Hidroksiapatit. Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi komposit hidroksiapatit -kitosan -hidroxypropyl methylcellulose (HPMC) dalam bentuk pasta injectable bone substitute (IBS). Komposit dibuat melalui pengadukan hidroksiapatit, kitosan dan HPMC sampai homogen. Pasta IBS diiradiasi pada dosis steril 25 kGy dengan mesin berkas elektron. Karakterisasi pasta IBS dilakukan dengan mengukur kadar air, identifikasi gugus fungsi dengan Fourier Transform Infra Red Spectrophotometer (FTIR) dan morfologi sampel dengan Scanning Electron Microscope Energy Dispersive Spectrophotometer (SEM EDS). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar air pasta IBS iradiasi lebih tinggi jika dibanding dengan pasta non iradiasi karena proses radiolisis dari air. Beberapa pita serapan yang khas dari pasta IBS teridentifikasi yaitu karbonat (CO32-) pada bilangan gelombang 1420 cm-1, fosfat (PO43-) pada bilangan gelombang 1043 cm-1, 605 cm-1 dan 568 cm-1 serta pita serapan NH2 dari kitosan pada bilangan gelombang 1599 cm-1. Gugus fungsi pasta IBS non iradiasi tidak berbeda signifikan dengan pasta IBS iradiasi. Pasta IBS berukuran mikro yaitu 0,05 sampai 0,1 μm. Iradiasi pasta IBS dengan EBM tidak mengubah morfologi dan struktur sampel. Kata kunci : Injectable Bone Substitute, hidroksiapatit, iradiasi berkas elektron
Pengaruh Iradiasi Gamma dan Ethyl Methan Sulfonate Terhadap Pembentukan Embriosomatik Kedelai (Glycine max L.) Ragapadmi Purnamaningsih; Ika Mariska; E.G. Lestari; Sri Hutami; Rossa Yunita
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2014.10.1.2746

Abstract

Kedelai merupakan salah satu sumber protein dan lemak nabati yang penting. Perubahan iklim global berpengaruh terhadap produktivitas kedelai, sehingga diperlukan kultivar-kultivar baru yang mempunyai sifat unggul tertentu agar produktivitas kedelai dapat ditingkatkan. Teknik in vitro dengan mutasi dan keragaman somaklonal merupakan meoda alternatif untuk memperoleh varietas baru apabila material genetik sebagai bahan seleksi tidak tersedia. Induksi mutasi dapat dilakukan pada populasi sel embriogenik dengan menggunakan iradiasi sinar gamma atau senyawa kimia, antara lain Ethyl Methan Sulfonate (EMS). Kedua metoda tersebut telah banyak digunakan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman dan telah dihasilkan galur-galur baru dengan sifat unggul. Salah satu masalah penting yang harus dikuasai dalam penerapan teknologi tersebut adalah meregenerasikan sel somatik hasil mutasi dan keragaman somaklonal agar dapat ditumbuhkan menjadi planlet (tunas in vitro). Beberapa faktor yang mempengaruhi regenerasi tanaman adalah jenis bahan tanaman, genotipe, komposisi media, dll. Perlakuan keragaman somaklonal dan mutasi yang diberikan dapat menyebabkan kerusakan pada sel sehingga diperlukan modifikasi pada metoda regenerasi yang sudah diketahui agar populasi sel yang hidup setelah perlakuan mutasi dapat tumbuh menjadi tunas-tunas mutan. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan planlet mutan hasil perlakuan mutasi dengan iradiasi gamma dan EMS. Varietas kedelai yang digunakan adalah Wilis, Burangrang, Baluran dan aksesi No. B 3592. Eksplan yang digunakan adalah embriozigotik muda berasal dari polong yang berumur 12-20 hari setelah penyerbukan. Induksi kalus embriogenik dilakukan dengan menggunakan media MS + vitamin Gamborg (B5) dengan penambahan 2,4-D 20 mg/l dan sukrosa 3%. Kalus yang didapatkan diberi perlakuan mutasi menggunakan sinar gamma pada dosis 400 rad atau direndam dalam larutan EMS (0.1 %, 0.3 %, dan 0.5 %) selama 1, 2 dan 3 jam. Selanjutnya kalus dipindahkan pada media untuk menginduksi pembentukan benih somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kalus dipengaruhi oleh genotipe tanaman. Pembentukan kalus tertinggi dihasilkan dari Baluran (93.40%) dan terendah Burangrang (75.90%). Perlakuan iradiasi gamma menurunkan pembentukan struktur torpedo, dimana struktur torpedo tertinggi diperoleh dari Burangrang (25.4-26.3/eksplan). Aksesi B 3592 mempunyai kemampuan membentuk struktur torpedo paling tinggi pada semua perlakuan EMS yang digunakan. Perendaman kalus dalam larutan EMS 0.5% selama 1, 2, dan 3 jam menurunkan regenerasinya membentuk struktur torpedo pada semua genotipe. Perlakuan EMS menyebabkan kerusakan sel yang lebih besar dibandingkan dengan iradiasi sinar gamma, ditunjukkan dengan persentase pembentukan struktur torpedo setelah perlakuan EMS (0-15/eksplan) lebih kecil dibanding dengan iradiasi sinar gamma (10.3-26.3/eksplan). Kata kunci :   Glycine max, iradiasi sinar gamma, Ethyl Methan Sulfonate, embriogenesis somatik
PENELITIAN BOCORAN BENDUNGAN SENGGURUH, MALANG, DENGAN TEKNIK PERUNUT RADIOISOTOP Paston Sidauruk; Wibagiyo .; Satrio -
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2010.6.1.511

Abstract

Penelitian bocoran bendungan Sengguruh, Malang, telah dilakukan dengan teknik perunut radioisotop. Penelitian ini dilakukan dengan menaburkan perunut radioisotop 198Au sekitar 20-30 meter di bagian hulu daerah yang diteliti dan dibiarkan 10 jam untuk bercampur dan bergerak mengikuti dinamika air waduk. Selama tahapan ini seluruh pintu keluar airharus tertutup rapat, sehingga pergerakan air diharapkan hanya disebabkan oleh bocoran yang terjadi. Posisi pergerakan radioisotop 198Au dapat dijejak dengan menggunakan detektor. Gambar isokontour cacahan hasil dari penjejakan ini dapat memberikan pola pergerakan sekaligus lokasi bocoran. Dari hasil interpretasi gambar isokontour cacahan yang dilakukan sebanyak enam kali dengan selang 1 hari antarapenjejakan menunjukkan adanya konsistensi pola pergerakan perunut 198Au yang mengerucut dan terkonsentrasi di suatu titik di sekitar pintu pelimpah waduk. Hal ini menunjukkan adanya bocoran disekitar pintu pelimpah waduk.
Evaluasi Jerami Sorgum Varietas Samurai 2 Hasil Iradiasi Gamma secara In Sacco Teguh Wahyono; Widia Apriliani; Anna Muawanah; Sihono Sihono
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2017.13.2.3527

Abstract

Studi in sacco dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh iradiasi gamma terhadap degradasi dan produk fermentasi rumen dari substrat jerami sorgum varietas Samurai 2. Dosis iradiasi yang digunakan sebesar 0, 100 dan 150 kGy bersumber dari cobalt-60. Metode yang digunakan adalah evaluasi secara in sacco dengan titik pengambilan parameter pada jam ke-0, 12, 24, 48 dan 72. Variabel yang diamati adalah degradasi Bahan Kering (BK), karakteristik degradasi BK, degradasi Bahan Organik (BO), karakteristik degradasi BO dan produk fermentasi rumen. Produk fermentasi rumen yang diamati meliputi kondisi pH, konsentrasi amoniak (NH3) dan produksi volatile fatty acid (VFA) total. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode inkubasi ke-72 jam, dosis iradiasi 150 kGy mampu meningkatkan degradasi BK sebesar 21,66% dibandingkan kontrol dan 12,09% dibandingkan dosis 100 kGy (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dapat meningkatkan nilai degradasi maksimum (a+b) BK pada jerami sorgum varietas Samurai 2 (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dosis 150 kGy juga mempengaruhi karakteristik degradasi BO yaitu peningkatan parameter degradasi efektif (DE) pada nilai k 0,02 (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dapat meningkatkan kondisi pH dan konsentrasi NH3 (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Iradiasi gamma dosis 100 dan 150 kGy mampu meningkatkan degradasi BK dan BO. Dosis radiasi 150 kGy merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan degradasi BK maksimum (a+b).
PEMULIAAN MUTASI UNTUK MENURUNKAN KANDUNGAN ASAM FITAT (Low Phytic Acid) PADA PADI (Oryza sativa, L.) Azri Kusuma Dewi
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2008.4.2.544

Abstract

Asam fitat, myo-inositol1,2,3,4,5,6-hexakis phosphate (Ins P6), adalah salah satu senyawa yang mengandung posphat terbanyak dalam biji yang masak dan senyawa anti nutrisi dalam tanaman.Senyawa ini dianggap dapat menyerap ion-ion logam, garam yang sebagian besar dibuang melalui urin dan feses, sehingga mengurangi penyerapan unsur mineral penting baik pada manusia dan hewan. Beras dengan asam fitat rendah merupakanmakanan yang baik bagi masyarakat penderita malnutrisi dan sangat cocok untuk makanan bayi, dan orang lanjut usia. Beras dengan asam fitat rendah dapat dihasilkan melalui teknik mutasi induksi. Kegiatan penelitian untuk menurunkan kandungan asam fitat pada padi telah dilakukan terhadap 3 varietas padi hasil litbang BATAN yaitu Atomita 1, Atomita 4 dan Diah Suci. Ketiga varietas ini diiradiasi dengan sinar gamma dosis 0,2 kGy. Seleksi mutan rendah asam fitat dimulai pada malai M2. Dari hasil seleksi hanya galur mutan 873 yang berasal dari radiasi Diah Suci homogen rendah asam fitat pada standar 3 dan hasil analisisnyastabil dari generasi ke generasi, dan galur ini masih dalam uji dan evaluasi agronomik dan genetik.
USING THE N-15 METHOD TO DETERMINE N-SOIL, N-GREEN MANURE, AND N-UREA AVAILABILITY AFTER SIX SEASONS IN AN ALLEY CROPPING SYSTEM Elsje L. Sisworo; Haryanto .; Ania Citraresmini
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2006.2.2.571

Abstract

Nitrogen (N) is the most important nutrient for crop growth and production. This study was conducted to determine whether in each of six seasons and after these seasons the N-soil, N-green manure, N-green manure + urea, and N-urea is still available for crops. Upland rice and corn were planted successively for six seasons. In each season upland rice and corn were planted andapplied with N-fertilizers at rate of: control (0N), N1 (100% green manure), N2 (50% green manure + 50% urea), N3 (100% urea). N-15 labelled urea was added at each season to determine the A-value of the crops. In each seasons it was shown that crops used N-soil as well as N-fertilizer. With the increase of the availability of N-fertilizers the use of N-soil decrease and so couldpreserve N-soil. With preservation of N-soil it could be assumed that soil quality has increased. The N-15 method could be used to determine the availability at each fertilizer rate’s in each season and at the end of the sixth season.
Analisis Stabilitas dan Adaptabilitas Beberapa Galur Padi Dataran Tinggi Hasil Mutasi Induksi Sherly Rahayu; Azri Kusuma Dewi; Yulidar Yulidar; Desta Wirnas; Hajrial Aswidinnoor
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2013.9.2.2731

Abstract

Fenotipe tanaman ditentukan oleh faktor genetik, faktor lingkungan dan interaksi genetik x lingkungan. Dalam penelitian ini, dilakukan uji daya hasil dua puluh genotipe padi, lima belas diantaranya merupakan galur mutan. Pengujian dilakukan di lima lingkungan dengan tiga ketinggian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui interaksi genotipe x lingkungan (GxE) genotipe padi yang adaptif terhadap suhu rendah. Tiga metode analisis stabilitas digunakan untuk melihat stabilitas galur harapan padi sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi G x E yang signifikan untuk semua karakter agronomi yang diamati. Galur mutan OS-30-199 memiliki produksi tertinggi (4,69 ton / ha) berbeda signifikan dengan genotipe lain  yang diuji dan varietas pembanding, Sarinah (3,42 ton / ha). Galur IPB117-F-20, RB-10-95, C3-10-171, OS-30-199, KK-10-249 dan CM-20-251 diklasifikasikan sebagai galur yang stabil dengan metode analisis stabilitas Finlay-Wilkinson, Eberhart - Russel dan Francis - Kannenberg. Genotipe RB-30-82, KN-30-186, Kuning, dan IPB97-F-13 memiliki adaptasi baik pada lingkungan yang optimal. Sedangkan genotipe KN-10-111, PK-30-131, Randah Batu Hampa dan Sarinah dapat beradaptasi pada lingkungan marjinal. Secara keseluruhan galur mutan memiliki produksi yang lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding dan dapat beradaptasi pada lingkungan dengan cekaman suhu rendah. Perbedaan ketinggian tempat telah mempengaruhi hasil pada musim kemarau sementara itu, tidak berpengaruh terhadap produksi pada musim hujan di tiga ketinggian tempat yang diuji. Kata Kunci : padi, stabilitas hasil, dataran tinggi, galur mutan
Studi Asal-Usul Air Lumpur Lapindo Periode 2007 — 2012 Menggunakan Isotop Alam Satrio Satrio; Bungkus Pratikno; Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.2.502

Abstract

Telah dilakukan penelitian air tanah menggunakan isotop alam pada area semburan lumpur Lapindo Sidoarjo yang dilakukan dari tahun 2007 hingga 2012. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkiraan asal-usul air pusat semburan berdasarkan pemantauan data isotop alam yang dilakukan hampir setiap tahun. Untuk analisis isotop 14C, pengambilan sampel yang berasal dari pusat semburan dilakukan dengan cara memisahkan lumpur dengan air selama semalam, sedangkan untuk analisis isotop 18O dan 2H sampel langsung diambil dari sekitar lokasi dan dimasukkan ke dalam botol 30 ml. Sebagai pembanding, dilakukan pula pengambilan dan analisis isotop terhadap sampel yang berasal dari luar pusat semburan, yaitu di sumur bor milik pabrik es di Porong yang berjarak sekitar 1 km dari pusat semburan. Hasil analisis isotop alam dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O dari tahun 2007 hingga 2012 menunjukkan bahwa air yang berasal dari pusat semburan merupakan air yang berinteraksi dengan magma atau bersifat magmatik dengan variasi isotop 18O dan 2H masing-masing bernilai antara 8,33 ‰ hingga 12,49 ‰ dan -8,9 ‰ hingga 1,8 ‰. Data isotop alam air tanah dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O yang berasal dari pabrik es masih menunjukkan air meteorik. Di samping itu, berdasarkan data isotop 18O dan 2H juga terlihat bahwa air tanah pabrik es memiliki kemiripan asal dengan air tanah daerah Pasuruan. Hasil analisis isotop 14C tahun 2007 diperoleh umur di atas 40.000 tahun yang menunjukkan bahwa air tersebut diduga merupakan air yang telah terjebak selama ribuan hingga jutaan tahun dan tergolongfosil air. Antara tahun 2008 hingga 2012, umur airnya bervariasi dari Modern hingga sekitar 20.000 tahun yang mengindikasikan adanya kontribusi dari air tanah atau air laut terhadap air yang keluar dari pusat semburan.