cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Perbaikan Genetik Kultivar Padi Beras Hitam Lokal Sumatera Barat Melalui Mutasi Induksi Benny Warman; Sobrizal Sobrizal; Irfan Suliansyah; Etti Swasti; Auzar Syarif
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2015.11.2.2791

Abstract

Kultivar padi beras hitam merupakan padi lokal yang berasal dari Pasaman Timur yang memiliki umur panjang dan tinggi tanamannya terlalu tinggi.  Penelitian ini dilaksanakan sejak Maret 2012 sampai Maret 2013 bertujuan untuk memperbaiki genetik padi beras hitam lokal Sumatera Barat khususnya terkait umur tanaman agar lebih genjah melalui pemuliaan mutasi.  Untuk mendapatkan dosis optimum, benih padi beras hitam diiradiasi dengan sinar gamma 60Co dosis 0, 100, 200, 300, 400 dan 500 Gy di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR – BATAN), Jakarta. Dari hasil pengamatan persentase kecambah, tinggi tanaman dan panjang akar pada fase pembibitan, dan persentase kehampaan gabah M1 diperoleh dosis iradiasi 200 - 300 Gy merupakan dosis yang efektif dalam menghasilkan keragaman genetik.  Hal ini juga terlihat pada populasi M2 hasil iradiasi 200 Gy menghasilkan keragaman genetik yang luas pada variabel karakter tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan umur tanaman. Dari hasil seleksi yang dilakukan pada populasi M2 diperoleh kandidat mutan genjah sebanyak 81 kandidat dengan frekuensi mutasi sebesar 0.08 %.  Tanaman genjah terseleksi tentu akan sangat berguna sebagai bahan tanaman awal dalam perbaikan varietas padi beras hitam di masa yang akan datang. Kata kunci : Padi beras hitam, mutasi induksi, genjah.
2-METOKSIETILAMIN SEBAGAI ALTERNATIF ABSORBER CO2 UNTUK ANALISIS 14C DALAM TANAH DAN AIR TANAH Satrio .; Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 6, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2010.6.2.515

Abstract

Di laboratorium hidrologi PATIR BATAN, analisis 14C menggunakan Carbosorb sebagai absorber CO2 telah dikembangkan danditerapkan dalam berbagai penelitian khususnya tanah dan air tanah. Saat ini, keberadaanCarbosorbTM buatan Packard untuk analisis 14C sudah tidak tersedia di pasaran karena tidakdiproduksi lagi, sehingga perlu dicari bahan alternatif sebagai penganti. Salah satu bahan pengganti Carbosorb adalah 2-metoksietilamin yang cukup tersedia di pasaran. Tujuan studiini adalah mengetahui kemampuan 2-metoksietilamin untuk analisis 14C sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif absorber. Dari beberapa kali analisis diperoleh data bahwa untuk larutan 2-metoksietilamin (M)/Sintilator (S) 21 ml memiliki daya serap antara 2,61 - 3,08 gram CO2 atau setara dengan kandungan 14C antara 0,713 — 0,810 gram, temperatur jenuh sekitar 53oC dan terjadi peningkatan massa jenis larutan dari semula 0,866 gram/ml menjadi sekitar 0,974 gram/ml. Hasil pengujian background dan standar yang dilakukan sebanyak tiga kalipengulangan mendapatkan nilai cacahan yang relatif stabil, yang masing-masing 20,36 ± 0,10 cpm dan 32,74 ± 0,06 cpm. Dari hasil analisis beberapa sampel, nilai cacahannya berada diantara cacahan background dan standar yang menunjukkan bahwa sampel tersebut dapat ditentukan umurnya. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa 2-metoksietilamin sangat relevan sebagai absorber untuk analisis 14C tanah maupun air tanah.
Potensi Kombinasi Teknologi Mutan Padi Toleran Kekeringan dan Polimer Superabsorben: Peran IPTEK Nuklir dalam Peningkatan Produksi Padi Lahan Kering Bagus Herwibawa; Florentina Kusmiyati
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2017.13.2.4012

Abstract

Padi merupakan sumber bahan pangan pokok, yang dikonsumsi lebih dari 95% penduduk Indonesia. Kebutuhannya terus meningkat tiap tahun, namun belum berhasil dicukupi dari produksi sendiri, sehingga masih bergantung impor hingga 1.347.856 ton per tahun. Upaya yang dapat dilakukan selain impor, adalah peningkatan produksi padi melalui ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Namun 72,98% daratan Indonesia yang sesuai untuk pertanian merupakan lahan kering, tentu akan menghambat peningkatan produksi padi. IPTEK Nuklir dapat berperan dalam optimalisasi pemanfaatan lahan kering, dimana keterbatasan keragaman alami dalam pemuliaan tanaman padi toleran kekeringan, dan polimerasi serta grafting polimer superabsorben, keduanya dapat diperbaiki melalui radiasi pengion. Kombinasi teknologi mutan padi toleran kekeringan dan polimer superabsorben sangat potensial sebagai satu diantara upaya-upaya untuk meningkatkan produksi padi. Namun, upaya penerapan teknologi tersebut tentu akan menimbukan masalah karena lemahnya diseminasi teknologi inovatif, dan lambatnya adopsi teknologi. Diperlukan  perhatian yang lebih besar dari peneliti, pengambil kebijakan, dan masyarakat pengguna.
PENYELIDIKAN AIR TANAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN TEKNIK ISOTOP ALAM Wandowo, .; Zainal Abidin; Djijono .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 1, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2005.1.1.575

Abstract

Telah dilakukan survei untuk mengetahui proses salinisasi air tanah di kota Pasuruan dengan metode isotop alam dan hidrokimia. Penelitian dilakukan dengan mengkaji korelasi parameter isotop stabil dan unsur kimia utama dalam contoh airhujan, air tanah dangkal, air tanah-dalam dan air laut. Pengkajian ini dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah sifat isotop stabil oksigen-18 dan deuterium dalam fenomena siklus hidrologiserta berdasarkan terjadinya perubahan kimia yang menyertai mekanisme proses hidrogeologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar klorida yang menjadi indikator airpayau di wilayah pantai kota Pasuruan bukan akibat dari intrusi air laut tetapi disebabkan oleh pelarutan aerosol garam yang meresap bersama air hujan lokal sebagai air tanah dangkal.Sedang air payau pada akuifer tertekan (air tanah-dalam) disebabkan terjadinya pelindian formasi akuifer yang berupa batuan sedimen pantai.
Sintesis Kopolimer Ikatan Silang Gelatin Sisik Ikan-Kitosan Menggunakan Iradiasi Gamma Erizal Erizal; Dian Peribadi Perkasa; Basril Abbas; Sulistioso G.S.
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2013.9.2.2735

Abstract

Gelatin merupakan salah satu komponen yang penting dari limbah sisik ikan. Pada saat ini perhatian terhadap manfaat dan cara pengolahan gelatin sisik ikan meningkat. Penelitian ini dilakukan guna meningkatkan sifat fisik gelatin hasil olah sisik ikan yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatannya. Gelatin (G) mudah terdegradasi atau larut dalam air pada suhu kamar, sehingga untuk memperpanjang umurnya perlu dimodifikasi, misalnya dengan kitosan. Kitosan (Ks) bersifat biodegradabel dan anti bakteri. Oleh karena itu, dalam penelitian ini larutan gelatin dicampurkan dengan larutan kitosan pada variasi perbandingan (100/0, 75/25, 50/50, 25/75, 0/100), dan dicetak pada suhu kamar menjadi film komposit, kemudian diuji efektifitas radiasi gamma pada dosis 10-40 kGy untuk pengikatan silang kedua polimer tersebut. Perubahan kimia film G-Ks diukur menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR), fraksi gel ditentukan secara gravimetri, dan sifak mekanik tegangan putus dan perpanjangan putus diukur menggunakan Universal Testing Machine. Pada kondisi optimum (dosis 30 kGy dan konsentrasi kitosan 75%), fraksi gel, tegangan putus dan perpanjangan putus fmeningkat sehingga menyebabkan film komposit  lebih kuat dibandingkan film gelatin. Tetapi, sifat fisik tersebut menurun pada dosis 40 kGy. Spektrum FTIR menunjukkan terjadinya ikatan silang pada film G-Ks. Disimpulkan bahwa film G-Ks yang dibuat menggunakan iradiasi gamma dapat meningkatkan sifat mekaniknya dibandingkan film gelatin.Kata kunci : Gelatin, kitosan, film, radiasi, ikatan silang.
Tinjauan Teknik Isotop dan Radiasi Dalam Penyelidikan Potensi Sumber Daya Air Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2012.8.2.506

Abstract

Aplikasi teknik isotop dalam penyelidikan sumber daya air baik sumber air permukaan,air tanah, maupun interaksi antara air permukaan dengan air tanah telah berkembang baik khususnya pada empat dekade terakhir. Teknologi ini dalam perannya sebagai salah satu metode penyelidikan dalam masalah hidrologi secara bersama-sama dengan teknik hidrologi lainnya maupun secara independent sudah terbukti dapat menjawab beberapa masalah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Di Indonesia, teknologi isotop ini telah banyak diaplikasikan diantaranya untuk: penelitian daerah imbuh cekungan air tanah, umur air tanah, penyelidikan pola dynamika dan neraca air waduk atau danau, interaksi antara air tanah dan air permukaan, debit air permukaan, penelitian interkoneksi antara sistem sungai bawah tanah di daerah karst, dan keselamatan bendungan. Dalam dua studi kasus yang dibahas dalam makalah ini yaitu penyelidikan asal usul air keluaran ditubuh bendungan Wlingi, Jawa Timur, dan lokasi bocoran di Bendungan Ngancar, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa teknik isotop ini terbukti mampu menjawab masalah yang dihadapi secara efektitif dan efisien.
Uji Adaptasi Galur Mutan Harapan Kedelai Hitam DT17 G1 dan DT19 G1-2 Tarmizi, SP; Lilik Harsanti
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2017.13.1.3949

Abstract

Upaya peningkatan produksi kedelai hitam (Glycine max L. Merr.) di dalam negeri untuk ketersediaan bahan baku industri pangan adalah penyediaan varietas unggul kedelai produksi tinggi, berumur genjah, tahan hama dan penyakit utama. Varietas unggul kedelai hitam sebagai bahan baku kecap masih sangat sedikit, untuk itu BATAN ikut berkontribusi untuk merakit, meneliti dan mengembangkan varietas unggul kedelai hitam. Metode untuk meningkatkan variasi genetik dalam mendapatkan varietas unggul diantaranya adalah dengan teknik nuklir menggunakan sinar gamma sehingga terjadi mutasi. Varietas Cikuray telah diiradiasi sinar γ Co-60 dengan dosis 200 Gy pada tahun 2008 dan terpilih 5 galur mutan harapan kedelai hitam. Uji adaptasi sudah dilakukan di 10 lokasi melalui Konsorsium Kedelai Nasional, dengan tambahan 5 galur dari Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI) Malang, 5 galur dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan 2 varietas kontrol (Cikuray dan Detam 1). Dari analisis keragaman menunjukkan seluruh komponen genotip menunjukan beda nyata pada taraf uji F 5%. Interaksi genotip dengan lingkungan (linier) yang nyata menunjukkan bahwa peningkatan hasil galur sejalan dengan meningkatnya produktivitas lingkungan. Berdasarkan uji F pada simpangan gabungan menunjukkan beda nyata pada  taraf 5%. Galur DT 17 G1 dan DT 19 G1-2 memiliki daya stabilitas dan adaptabilitas. Genotip yang dinilai stabil sekaligus memiliki rata-rata hasil biji lebih tinggi di 10 lokasi adalah galur DT 17 G1 dan mampu berproduksi optimal pada rentang lingkungan yang relatif luas dibandingkan dengan galur lainnya, termasuk galur DT 19 G1-2 meskipun yang tidak dinilai stabil. Galur DT 19 G1-2 mencapai hasil biji tertinggi, juga memiliki nilai koefisien regresi tertinggi dan positif, artinya galur tersebut beradaptasi khusus untuk dikembangkan pada daerah yang memiliki tingkat produktivitas lahan yang subur. Produktivitas galur DT 19 G1-2 rata-rata 2,42 t/ha dengan potensi 3,17 t/ha dan galur DT 17 G1 2,32 t/ha dengan potensi 3,04 t/ha. Ukuran biji kedua galur lebih besar dari pada induknya Cikuray. Berdasarkan data dan hasil pengujian tersebut, maka galur DT17 G1 dan DT19 G1-2 dapat diajukan untuk dievaluasi dan diusulkan menjadi varietas unggul baru kedelai hitam.
PENELITIAN POLA PERGERAKAN AIR WADUK JATILUHUR SECARA LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PERUNUT ISOTOP ALAM Paston Sidauruk
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 4, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2008.4.1.538

Abstract

Penyelidikan pola pergerakan secara lateral air waduk Jatiluhur telah dilakukan dengan menggunakan teknik perunut isotop alam yang ditunjang dengan kandungan ion utama air. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan contoh air pada beberapa lokasi berbeda pada dua periode yaitu pada bulan Agustus 2004 dan Oktober 2004. Titik pengambilan contoh ditentukan sedemikian rupa sehingga dapat mewakili seluruh permukaan air waduk dari hulu hingga ke hilir waduk. Setiap contoh yang diambil dimasukkan dalam botol contoh untuk dinalisis kandungan ion utama maupun kelimpahan relatif Oksigen-18. Analysis dilakukan di laboratorium PATIR-BATAN, Jakarta. Hasil penelitian khususnya hasil interpretasi analisis kelimpahan isotop alam menunjukkan kelimpahan contoh yang diambil dari bagian tengah air waduk mempunyai kelimpahan isotop stabil oksigen-18 yang lebih rendah (depleted) jika dibanding dengan contoh yang diambil dari bagian pinggir waduk. Fenomena ini menunjukkan bahwa air waduk yang berada di tengah waduk mempunyai pergerakan yang lebih dinamis jika dibanding dengan air dibagian pinggir waduk. Hal ini juga dapat berarti bahwa air waduk menerima masukan dari air tanah lokal dari sekitar waduk
TANGGAP KEBAL SAPI TERHADAP FASCIOLOSIS AKIBAT INOKULASI METASERKARIA Fasciola gigantica IRADIASI Muchson Arifin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.562

Abstract

Suatu percobaantelah dilakukan untuk mempelajari tanggap kebal sapi terhadap fasciolosis setelah mendapatkan inokulasi metaserkaria F. gigantica iradiasi. Digunakan empat kelompok sapi dengan perlakuan sebagai berikut: kelompok pertama (Vp) diinoklasi dengan metaserkaria infektif sebagai kontrol positif, kelompok ke dua (Vi) diinokulasi satu kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke tiga (Vii) diinokulasi dua kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke empat (Vn) tanpa inokulasi metaserkaria sebagai kontrol negatif. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 45 Gy, sedangkan dosis inokulasi untuk semua kelompok adalah 700 metaserkaria F. gigantica per ekor sapi. Tanggap kebal yang terjadi diamati dengan melihat pertambahan bobot badan, jumlah sel darah merah (RBC), jumlah sel darah putih (WBC), kadar haemoglobin (Hb), persentase PCV (Packed cellvolume), persentase jumlah sel eosinofil, uji serologis secara ELISA, kondisi patologis anatomi hati, dan perkembangan cacing hati. Rataan pertambahan bobot badan yang diperoleh dari setiap pengukuran adalah Vp = 6 kg, Vi = 9 kg, Vii = 9 kg dan Vn = 10 kg. Hati tidak mengalami perubahan baik untuk Vi, Vii maupunVn, sedangkan Vp hatinya mengalami perubahan patologi yang serius. Cacing dewasa negatif pada Vi, Vii dan Vn, sedang Vp banyak ditemukan cacing dewasa. Hasil ini menunjukkan bahwa inokulasi metaserkaria F. gigantica memberikan perlindungan yang cukup baik terhadap tantangan yang diberikan pada sapi.
Efek Vaksinasi Berulang Plasmodium berghei Radiasi dalam Menginduksi Kekebalan Humoral dan Proteksi pada Mencit (Mus musculus) Swiss Webster Darlina Yusuf; Tur Rahardjo; Siti Nurhayati; Teja Kisnanto
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2019.15.1.4659

Abstract

Radiasi gamma dapat digunakan untuk melemahkan parasit. Parasit yang lemah memberikan kesempatan bagi inangnya untuk mengembangkan respon imun yang mampu mengatasi penyakit paska infeksi. Antibodi merupakan komponen kekebalan tubuh yang berperan dalam respon imun humoral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh imunisasi berulang dan uji tantang terhadap respon antibodi dan pertumbuhan parasit. Penelitian ini menggunakan rancang acak dengan 60 ekor mencit Swiss Webster yang dibagi menjadi 3 kelompok dan dilakukan selama 62 hari. Dosis radiasi yang digunakan adalah 150 Gy, 175 Gy, dan kontrol positif (0 Gy), dosis imunisasi dengan 1 x 107 parasit diradiasi per ml. Imunisasi ulang dilakukan 1 dan 2 minggu setelah imunisasi pertama.  Uji tantang dilakukan satu bulan setelah imunisasi pertama. Pertumbuhan parasit diamati setiap dua hari dan pengamatan respon antibodi diamati pada hari ke - 8, 15, 40, 47, dan 62. Hasil yang diperoleh adalah, konsentrasi antibodi mencit diimunisasi dengan dosis 175 Gy meningkat hingga 3 kali setelah imunisasi kedua, pertumbuhan parasit relatif rendah, dan 60% mencit tetap sehat hingga hari ke 62. Dapat disimpulkan bahwa imunisasi ulangan P. berghei yang diradiasi 175 Gy dapat meningkatkan konsentrasi antibodi, menekan pertumbuhan parasit, mencegah manifestasi gejala klinis dan mencit tetap sehat sampai hari ke – 62.