cover
Contact Name
Efa Ida Amaliyah
Contact Email
efa@iainkudus.ac.id
Phone
+628157699032
Journal Mail Official
palastren@iainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo PO BOX 51 Kudus Jawa Tengah 59322
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN: Jurnal Studi Gender
ISSN : 19796056     EISSN : 24775215     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/palastren
Kajian dalam Isu Gender dan anak dalam perspektif Islam maupun studi gender secara umum. Sub Tema yang Terkait dengan Gender dan Anak berciri crosscuting issues dalam berbagai aspek seperti Gender dan Pendidikan, Gender dan Hukum, Gender dan Politik, Gender dan Psikologi, Gender dan Agama, Sastra dan Gender, Gender dan Sosiologi, Gender dan Antropologi; Gender dan Budaya .
Articles 149 Documents
IMPLIKASI HUKUM DARI PERKAWINAN SIRI TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i1.1011

Abstract

Pernikahan sirri dianggap tidak sah oleh negara, oleh karena itu, anak-anak yang lahir dari pernikahan ini dianggap sebagai anak yang lahir di luar pernikahan.Hal ini berbeda dengan sudut pandang agama. Pendapatini didasarkan pada pasal 43 ayat (1) Undang-UndangPerkawinan mengatakan bahwa “Anak-anak yang lahirdi luar pernikahan hanya mungkin memiliki hubunganperdata dengan ibu dan keluarga ibu mereka. Oleh karena itu pernikahan sirri  akan menganulir hak istri dan anak-anak. Dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII / 2010, anak yang lahir di luar pernikahanmungkin memiliki hubungan perdata dengan laki-lakiyang terbukti menjadi ayah biologisnya. Berdasarkan halini, Pasal 43 ayat (1) berbunyi: “anak-anak yang lahir diluar nikah memiliki hubungan perdata dengan ibu dankeluarga ibunya serta dengan ayah mereka dan keluargaayah mereka dalam kasus hubungan biologis ini dapatterbukti secara ilmiah atau teknologi, dan / atau ada bukti lain seperti hubungan darah, termasuk hubungan sipil dengan keluarga ayah mereka dapat dibuktikan.kata kunci: Pernikahan sirri, Anak ilegal, Keputusan Mahkamah Konstitusi “Sirri marriage is not considered valid by the state, therefore, children born out of marriage are regardedas children born outside of marriage. This is differentfrom the religious point of view. This oppinion based onarticle 43 paragraph (1) Marriage Act tells that “Childrenwho are born outside of marriage may only have a civilrelationship with their mother and their mother’s family. Sirri mariage therefore will decrease the right of  the wifeand children. With the decision of the ConstitutionalCourt No. 46/PUU-VIII/2010, children born outsideof marriage may have a civil relationship with the manwho is proved to be the biological father.Thus Article 43paragraph (1) shall read: “Children born out of wedlockhave a civil relationship with their mother and theirmother’s family as well as with their father and theirfather’s family in case the fathership can be scientificallyor technologically proved, and / or other evidence suchas blood relations, including civil relationship with their father’s family can be proved.”Keywords: Sirri marriage, illegal child, the Constitutional Court Decision
Women and Islamic Financial Literacy
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.6523

Abstract

This study aims to understand about Islamic financial literacy of women’s groups. The measurement includes financial goals and concepts, efforts to achieve financial goals, preferences for financial institutions both in product and services, knowledge of Islamic financial literacy, and financial practices. This study used survey method and carried out in 64 female respondents with various professional backgrounds. This research found several findings. The main financial purposes are to fulfill basic need, children’s education costs, and survive. The efforts to achieve financial goals are by working, saving, or reducing expenditure. When respondents have a surplus of money, they choose for saving, pay for the hajj or umrah, or support orphans and the poor. Saving and pension funds will be used to meet requirement in the elderly. Financial security if lack of money or loss of income was by take saving, find a new job, or open a business. Bank is the main choice in carrying out of financial transaction, the pension fund and health insurance. The preferred informal financial institution is social gathering or called as “arisan”. Respondents prefer to choose Islamic financial institutions due to fit with religious values and give an inner peace, however not refuse to choose conventional financial institutions because it is guaranteed by the governance. The knowledge of Islamic finance is quite good (sufficient literate) with a correct answer score at 51% to 75%. While the financial practices that have been carried out are saving, transferring, and paying installments.
POLIGAMI DALAM PERDEBATAN TEKS DAN KONTEKS : MELACAK JEJAK ARGUMENTASI POLIGAMI DALAM TEKS SUCI
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.933

Abstract

Wacana poligami dalam pemikiran Islam telah menjadikontroversi dan menarik dibahas. Setiap argumen mempunyai dasar yang sama dari teks Alquran yaitusurah An Nisa; 3 dan hadits nabi. Wacana poligami dapat dibagi dalam tiga pendapat. Pertama, poligami benarbenar diizinkan dalam hukum Islam, kedua, poligami diizinkan dalam kondisi dan konteks tertentu. Ketiga,Poligami benar-benar dilarang, karena prinsip perkawinan Islam adalah monogami. Dalam konteks Indonesia,poligami dapat dibagi ke empat pendapat. Pertama, opini bahwa poligami sebagai pesanan syariah, kedua, opin bahwa poligami secara substantif  bukan ajaran Islam,tapi Islam secara bertahap mengubah praktek poligami di era Jahiliyyah untuk monogami tersebut. Ketiga, opini bahwa poligami bukan hanya masalah agama, tetapi jugamasalah sosial-budaya, dan keempat, pendapat bahwa poligami dapat dipraktekkan untuk anak yatim dan janda dengan tujuan untuk melindungi mereka.kata kunci: Poligami, Keadilan Gender, Teks Suci.
Gender Equality In Civic Education Textbook
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 16, No 2 (2023): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v16i2.19089

Abstract

Textbooks have an important role to promoting gender equality. Apart from being a source of learning that transmits knowledge, textbooks also form students' values, worldviews and gender roles. This research aims to find out whether the Civic Education textbooks used in the high school in this study have a gender equality perspective. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. Collecting data in this research using interview techniques, documentation studies, and literature studies. The data analysis using triangulation. Respondents in this study were Civic Education teachers and class XI students at SMA Negeri 1 Kandanghaur and SMA Negeri 1 Sindang. The results of the study showed that the Civic Education textbooks paid little attention to gender equality which appeared on the cover which did not show equal gender representation; textbook materials and illustrations that have not paid attention to gender equality. Based on the results of this research, it is recommended to integrate gender equality into Civic Education textbooks both in terms of content and illustrations, so that the role of Civic Education as democratic education upholds human rights, including the right to be treated equally without discrimination on any basis, including on the basis of gender can be realized.
POSISI WANITA DALAM IDEOLOGI KANURAGAN WAROK PONOROGO
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 2 (2018): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i2.3896

Abstract

Berperan sebagai istri warok, mengharuskan wanita menerima kodrat sebagai wani di tata yakni diharuskan tunduk terhadap suami. Sistem patriarki yang mengakar kuat memposisikan wanita pada golongan lemah. Stereotip menjadi wanita baik (konsep jawa) telah menjadi pedoman hidup dalam berumah tangga dan tanpa disadari membawanya pada posisi yang lemah. Dalam menjalai kehidupan sebagai istri warok, seorang wanita harus rela untuk membagi ranah publik pada gemblak yang berperan sebagai pendamping warok. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis posisi wanita dalam konteks keluarga sebagai konsekuensi dari ideologi kanuragan yang dianut oleh warok. Pasrah dan lega lila adalah dua kata yang dirasa tepat untuk menggambarkan posisi wanita di tengah budaya menggemblak yang hanya bersifat nerimo. Metode yang digunakan adalah historis dengan menggunakan sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kepemilikan atas gemblak yang dinobatkan sebagai tradisi dan konsekuensi dari ideologi kanuragan telah menempatkan wanita pada posisi lemah dalam konteks keluarga.
KERENTANAN PEREMPUAN TERHADAP PENULARAN HIV & AIDS : STUDI PADA IBU RUMAH TANGGA PENGIDAP HIV/AIDS DI KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i1.983

Abstract

Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia terus meningkat. Di Kabupaten Pati angka prevalensi kasus HIV & AIDS daritahun 1996 hingga bulan September 2014 sebanyak 642 kasus dan angka sebaran infeksi seksual menular yang ada di tiap kecamatan di Kabupaten Pati. Kerentanan perempuan terhadap penularan penyakit seperti HIV ini didasarkan pada beberapa faktor yang terjadi pada level yang berbeda yaitu dari level individu, rumah tangga dan masyarakat serta level makro yang sering membuat perempuan tidak menyadari bahaya HIV danAIDS. Gambaran perilaku berisiko yang menyebabkan kerentanan perempuan dalam hal ini Ibu Rumah Tangga karena perilaku beresiko dialami oleh pasangannya,pemaksaan secara seksual dan penggunaan kondom yang rendah karena ketidaktahuan dan perasaan tidak enak untuk meminta pasangannya menggunakan kondom. Stigmatisasi dan diskriminasi masih dialami oleh para ODHA perempuan dalam hal ini Ibu Rumah Tangga.Kata Kunci : Kerentanan Perempuan, Perilaku Berisiko,HIV & AIDS. HIV and AIDS epidemic in Indonesia continues toincrease. Pati Regency prevalence rate in HIV and AIDScases from 1996 to September 2014 as many as 642 casesand the number of sexually transmitted infections spreadin every district in Pati regency. Women’s vulnerabilityto transmission of diseases like HIV is based on several factors that occur at different levels, namely on the levelof individuals, households and communities as well as themacro level often make women aware of the dangers ofHIV and AIDS. Overview risky behavior that led to thevulnerability of women in this case Housewife becauserisky behaviors experienced by their partner, sexualcoercion and low condom use because of ignoranceand feel bad to ask their partners to use condoms.Stigmatisation and discrimination still experienced by HIV positive people are women in this case Housewife.Keywords: Women’s Vulnerability, Risk Behavior, HIV and AIDS
Perempuan dan Rekonsiliasi Peran Mama-mama Papalele dalam Membangun Rekonsiliasi Haria-Porto, Maluku
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.8050

Abstract

ABSTRAKTujuan yang hendak dicapai dalam tulisan ini yaitu mengidentifikasi dan menganalisis peran mama-mama papalele dalam rekonsiliasi Haria-Porto melalui aktivitas ekonomi lokal. Peran mama-mama melalui aktivitas ekonomi lokal yakni papalele mampu untuk menciptakan rekonsiliasi bagi Haria-Porto. Penulis menggunakan metode penelitian yaitu pengumpulan data yang dapat memberikan gambaran terhadap obyek yang hendak diteliti. Pendekatan yang dipakai yaitu pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Pendekatan ini dilakukan agar penulis dapat mengamati secara langsung transaksi jual-beli yang terjadi di pasar Haria-Porto dan mendapat gambaran mengenai peran mama-mama papalele dalam proses rekonsiliasi. Peran mama-mama papalele ini juga dapat menjadi suatu upaya bagi rekonsiliasi Haria-Porto. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah melalui peran mama-mama papalele dalam melakukan aktivitas ekonomi lokal ketika konflik terjadi,  dapat menciptakan dan membangun rekonsiliasi bagi Haria-Porto.ABSTRACTThis article aims to identify and analyze the role of mama-mama papalele in Haria-Porto reconciliation through local economic activity. Mama-mama’s functions through time economic activity, namely, papalele can make peace between Haria-Porto communities. Data collection is used as a research method to comprehend the object in the research. Besides, a qualitative approach combined with observation and interview method is utilized in this. It is done to directly observe the buying and selling transaction that occurs in the Haria-Porto market and have rough information regarding the role of mama-mama papalele in reconciliation’s process of Haria-Porto. This project concludes that the role of mama-mama papalele is doing a local economic activity during the conflict can promote reconciliation between Haria-Porto.
GELIAT ECOFEMINISME PEDESAAN DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Di Desa Curug Muncar Pekalongan)
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2266

Abstract

ABSTRACTEnvironmental conservation issues always take the woman existence behind. Meanwhile, they have strategic contributions on it. This paper aims to reveal the approach and the reason for the implementation of women's empowerment in environmental conservation in order to support environmental conservation in Curug Muncar Pekalongan. The method of this research is qualitative and the approach method is participatory action research. The first reasons for justifying the implementation of women's empowerment activities are based on the need assessment of the multidimensional existence (ecological, psychological, economic and social) vulnerabilities. The second reason reveal that the sustainability of women's empowerment is by applying three pillars of sustainable. It synergize the ecological, economic and social dimension. It mobilize Kelompok Perempuan Peduli Dalam Pelestarian Lingkungan (P3L) in this region to care for environmental conservation. Keywords:ecofeminism, participatory action research, sustainability development, sak uwong sak uwit programs.
RENTAL ISTRI: Komodifikasi Perempuan Dalam Keluarga Di Area Eksplorasi Migas Bojonegoro Jawa Timur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.5294

Abstract

Praktik komodifikasi perempuan di area eksplorasi migas di kawasan Gayam Bojonegoro sangat menarik. Praktik tersebut dimulai dari perubahan penampilan perempuan, kemudian menjalar pada tata pergaulan yang bertentangan dengan norma sosial dan agama sampai dengan menjajakan dirinya karena terlanjur ternoda dan atau karena alasan ekonomi. Alasan ekonomi juga dipakai oleh suami yang mengijinkan istrinya di’sewakan’ kepada orang lain.Adapun hasil penelitian sebagai berikut; Pertama, Struktur sosial masyarakat Gayam bersifat transformatif; sebuah masyarakat yang transisional dari masyarakat tertutup menuju masyarakat terbuka yang sedang melakukan hibridasi budaya. Kedua,Penyebab komodifikasi perempuan berkeluarga yang dianggap sebagai penyimpangan sosial atau sebuah anomi yang terjadi dalam masyarakat Gayam adalah struktur sosial masyarakat Gayam yang transformatif yang menyebabkan adanya ambiguitas peran, status, dan  norma yang belum disepakati secara jelas oleh masyarakat yang akhirnya berdampak pada adanya disfungsi sosial/social disorder. Sedangkan motif komodifikasi istri/perempuan yang sudah berkeluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan fisiologis keluarga.
PENDIDIKAN SASTRA SENSITIF GENDER: ALTERNATIF METODE PEMBELAJARAN SASTRA BERPERSPEKTIF GENDER UNTUK JENJANG SEKOLAH DASAR
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.971

Abstract

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang paling strategis menanamkan perspektif gender dalam pendidi-kan. Penanaman nilai-nilai wacana gender harus dimu-lai sejak dini, terutama sejak sekolah dasar. Pemilihan bahan ajar yang sesuai dan proses belajar yang tidak diskriminatif merupakan faktor penentu dalam keber-hasilan penanaman wacana gender. Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam merancang pembelajaran dan memilih sumber belajar mengajar. Penanaman nilai-nilai kesetaraan gender pada siswa sejak apresiasi awal sastra melalui karya sastra dalam mata pelajaran bahasa dapat dilakukan dengan; (1) Memilih contoh dalam karya sas-tra sebagai bahan ajar. (2) Menyajikan contoh kutipan karya sastra dalam bentuk gambar seperti anak-anak ataupun foto-foto. (3) Memilih buku teks yang berisi karya-karya sastra yang mengutip kesetaraan gender School as an educational institutionis has strategic position in internalizing the gender perspective in education including the values of gender discourse that must be started earlier, especially since the basic education level. The selection of appropriate teaching materials and learning process that is not discriminatory is a determinant factor in the success of the internalizing of gender discourse. Teachers are required to be creative and innovative in designing a learning and teaching resources. Internalizing the values of gender equality in the students since the early appreciation of literature through the works of literature in the language subjects can be done with; (1) Choosing an example in the case of works of literature as teaching materials. (2) Presenting examples of the quote in the paper literature such as children and photographers. (3) Selection of a text book that contains the works of literature that quote intensive gender.

Page 9 of 15 | Total Record : 149