cover
Contact Name
Lukman Cahyadi
Contact Email
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Phone
+6221-5674223
Journal Mail Official
nutrirediaita.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Nutrire/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
NUTRIRE DIAITA
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 19798539     EISSN : 27461734     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
Journal Description NUTRIRE DIAITA publishes original research articles, review articles, and clinical studies covering the broad and multidisciplinary field of human nutrition. In the aim of improving the quality of the journal since Oktober 2019 this journal officially had made a cooperation with Nutrition Department Universitas Esa Unggul FOCUS AND SCOPE NUTRIRE DIAITA aim to deliver findings and innovations in the field of nutrition and health. NUTRIRE DIAITA is published 2 times per year (April and October). The journal covers all aspect relating to Human Nutrition including clinical nutrition, community nutrition, food service management, food technology and sport nutrition.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA" : 7 Documents clear
Obesitas dan Sindrom Metabolik pada Pasien Medical Check Up, Siloam Hospitals Lippo-Karawaci Wahyu, Indriyani; Prasetyaningsih, Ani; Ngadiarti, Iskari
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1236

Abstract

AbstractMetabolic syndrome is a collection of complaints and symptoms based on the presence of insulin resistance. The main factor which can cause insulin became resistance is obesity. The aims of this study was to understand the relationship between obesity and the metabolic syndrome indicators in patients undergoing medical check-up, Siloam Hospitals Lippo Karawaci. This study is associative with cross-sectional design. The total of population are patients who are obese at the medical check up of Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Whereas, the total of sample are 50 people were patients with a BMI > 25 with the inclusive criteria, age above 35 years, had never been diagnosed the disease associated with the metabolic syndrome and had never received the treatment. We used Correlation- Regression Test. The results shows that the majority of male respondents (82 %), mean age (44.6 ±7.07). From the data, most of respondents did not smoke (66 %). The bivariate test results shows there is significant relationship between BMI and blood triglyceride levels and waist circumference (P <0.05), but no significant relationship between BMI and fasting blood sugar levels, HDL cholesterol levels and blood pressure (P≥0.05). We found also, there is no significant association between dietary intake and BMI of the respondents (P≥0.05). BMI is an important indicator of the level of blood triglycerides and waist circumference. Key Words: Obesity, Metabolic Syndrome, BMI  AbstrakSindrom metabolik adalah sekumpulan keluhan dan gejala yang didasari oleh adanya resistensi insulin. Faktor penyebab resistensi insulin antara lain obesitas. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan antara obesitas dan indikator-indikator sindrom metabolik pada pasien yang melakukan medical check up di Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Jenis penelitian ini bersifat assosiatif dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah semua pasien yang obesitas di bagian medical check up Siloam Hospitals Lippo Karawaci. Sedangkan sampelnya sebanyak 50 orang adalah pasien dengan BMI > 25 dengan inclusive kriteria, usia di atas 35 tahun, belum pernah didiagnosa suatu penyakit yang berhubungan dengan sindrom metabolik dan belum pernah mendapatkan pengobatan. Uji yang digunakan Uji Korelasi. Berdasarkan hasil didapat bahwa sebagian besar responden pria ( 82 %), rata-rata usia 44,6 + 7.07. Dari seluruh responden, sebagian besar (66 %) responden tidak merokok. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara BMI dan kadar trigliserida darah dan ukuran lingkar pinggang (p< 0.05); namun tidak ada hubungan yang bermakna antara BMI dan kadar gula darah puasa, kadar HDL dan tekanan darah. Juga tidak ada hubungan yang bermakna antara asupan makanan dan BMI responden. BMI merupakan indikator penting tingkat trigliserida darah dan ukuran lingkar pinggang. Kata Kunci: Obesitas, Sindrom Metabolik, BMI
Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan Lepong, Maria; Amrihati, Endang Titi; Hosizah, Hosizah
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1237

Abstract

AbstractEarly Initiation of Breastfeeding (IMD) is a government program to increase the quality and quantity of breast feeding for infants. Breast milk is the main food for infants, it also reduce the risk of infectious diseases that can adversely affect to the growth of infants. The objective of this study was to understanding the effect of IMD on the growth and health for infants aged 2 months. This study is retrospective study with total sample was 41 and get data from KMS with the complete data of birth weight and routinely monitored every month until the age of 2 months. The infants do not have abnormality or specific disease since birth. The Indicators of this study is IMD with breastfeeding within 1 hour after birth. The growth of infants, measured by an increase in body weight (BW ) and body length ( PB ) from birth until the age of 2 months. The health data, measured by the frequency of occurrence of illness from birth until the age of 2 months. Analysis of the data using T-test Independent and regression test. The results shows the number of infants who with IMD is 31.96 %. The average of weight and length infants who with IMD greater than infants with non-IMD. The increase average of weight and length for infant with IMD respectively are ± 179.89 g ( t = 2.197 , p = 0.034 ) and ± 2.138 cm ( t = 2.197 , p = 0.034 ). The incidence of illness in infants with IMD less than infants with non-IMD, which is about -7.034 ( t = 1.953 , p = 0.048 ) scor event of sickness. IMD in this study led to the growth and health of infants to be better than non-IMD. Keywords: IMD, Growth and Health, Infants 2 months  AbstrakInisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberian ASI kepada bayi.  ASI merupakan makanan utama bagi bayi, ASI juga dapat mengurangi risiko penyakit infeksi yang dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan bayi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh IMD terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi berusia 2 bulan. Penelitian bersifat retrospektif dengan sampel berjumlah 41 dan memiliki data KMS  dan  berat  badan  lengkap dari kelahiran dan dipantau  rutin  setiap  bulannya hingga berusia 2 bulan. Bayi tidak mempunyai kelaianan atau penyakit khusus sejak lahir. Indikator penelitian ini ialah IMD yaitu pemberian ASI dalam waktu 1 jam setelah lahir. Pertumbuhan bayi, diukur berdasarkan peningkatan  berat badan (BB) dan panjang badan (PB) sejak lahir sampai usia 2 bulan. Kesehatan, diukur berdasarkan frekuensi kejadian sakit dari lahir sampai usia 2 bulan. Analisa data yang digunakan adalah uji T dan uji regresi., Berdasarkan hasil analisis diketahui jumlah bayi yang IMD sebesar 31,96%. Rata-rata BB dan PB bayi IMD lebih besar dibandingkan bayi non-IMD. Bayi IMD rata-rata peningkatan BB ±179,89g (t=2,197; p=0,034) dan rata-rata peningkatan PB ±2,138cm (t=2,197; p=0,034). Kejadian sakit pada bayi IMD lebih sedikit dibandingkan bayi non-IMD, yaitu sebanyak -7,034 (t=1,953; p=0,048) scor kejadian sakit. IMD dalam studi ini menyebabkan pertumbuhan dan kesehatan bayi menjadi lebih baik dibandingkan non-IMD Kata Kunci: IMD, Pertumbuhan dan Kesehatan, Bayi usia 2 bulan
Pengaruh Kepatuhan Menjalani Diet Rendah Garam Terhadap Kadar Tekanan Darah Hayati, Risma; Bahar, Herwanti
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1239

Abstract

AbstractThe compliance of patient to consume of low-salt diet is relatively low compared to consume of drugs. The objective of this study was to understand the effect of obedience consumption low-salt diet to blood pressure levels in patients with hypertension. The population study is hypertensive patients in the Outpatient Clinic, Hospital R. SYAMSUDIN, SH Sukabumi, we got the sample total are 37 respondents. This study is experimental without a control group. This study used Chi-Square test, Independent T-test, correlation-regression. Most of respondents are 57.6 years, 70.3 % women, 35% of junior high school education, and 81.1 % are retired. Respondents who has suffer long history of hypertension (81.1%), and most suffer from mild hypertension (94.6 %). Nutritional counseling process by local dietitian as 81.1 % of intervention does not match score and the majority of respondents do not comply diet (78.4 %). The first measurement of mean systolic and diastolic pressure respectively are 164.86 ± 11.2 mmHg and 98.92 ± 8.42 mmHg. The end measurement of mean systolic and diastolic pressure respectively are 127.3 ± 17.74 mmHg and 82.43 ± 4.94 mmHg. The mean changes of systolic and diastolic pressure in compliance respondents, respectively are (-55.00 ± 5.34) mm Hg;(-28.75 ± 6.40) mm Hg and the mean non-compliance (-32,75 ± 17.50) mmHg, (14.13 ± 8.66) mm Hg. The differences in blood pressure both of groups are significant with p-value<0.05. The effect of dietary compliance is decreasing of systolic and diastolic blood pressure depends on age respectively, -22.241 mmHg and -14.612 mmHg. Low-salt diet may contribute to maintain the levels of blood pressure of hypertensive patients. Keywords: Dietary Compliance, Low-Salt diet, Blood pressure levels   AbstrakAsupan natrium yang berlebihan dapat menyebabkan hipertensi. Kepatuhan pasien terhadap anjuran diet rendah garam relative rendah dibanding anjuran penggunaan obat.Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kepatuhan menjalankan diet rendah garam terhadap kadar tekanan darah pada penderita hipertensi. Populasi penelitian ini adalah penderita hipertensi di Poliklinik Rawat Jalan, RSUD R. Syamsudin, SH Sukabumi,  sampel 37 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Rancangan penelitian eksperimen semua tanpa kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan Uji Chi-Square, T-test Independent, Korelasi-Regresi. Rerata umur responden 57,6 tahun, 70,3% perempuan, berpendidikan SMP sebanyak 35% dan 81,1% merupakan kelompok yang telah tidak bekerja. Responden dengan riwayat hipertensi lama (81,1%), dan sebagian besar menderita hipertensi ringan (94,6%). Proses konseling gizi oleh ahli gizi setempat sebagai intervensi 81,1% tidak sesuai skor dan sebagian besar responden menyatakan tidak patuh menjalani diet (78,4%). Rerata tekanan sistolik awal (164,86±11,21)mmHg dan diastolik awal (98,92±8,42) mmHg. Rerata tekanan sistolik akhir (127,3±17,74) mmHg dan diastolic akhir (82,43±4,94). Rerata perubahan tekanan sistolik dan diastolik pada responden yang patuh yaitu masing-masing     ((-55,00±5,34)mmHg;(-28,75±6,40)mmHg)dan Rerata pada yang tidak patuh ((-32,75±17,50) mmHg;(14,13±8,66) mmHg). Perbedaan tekanan darah kedua kelompok bermakna dengan nilai p<0.05. Kepatuhan menjalani diet memberikan pengaruh penurunan tekanan darah Sistolik sebesar -22,241 mmHg tergantung umur dan penurunan tekanan darah Diastolik sebesar -14,612 mmHg tergantung umur. Kepatuhan menjalani diet rendah garam dapat turut menjaga kadar tekanan darah penderita hipertensi. Kata Kunci: Kepatuhan Diet, Diet Rendah Garam, Kadar Tekanan Darah
Perbedaan Tinggi Badan Anak Sekolah Dasar yang Mengonsumsi Iodium di Jakarta Utara Mabruroh, Faizul; Mulyani, Erry Yudhya; Afif, Irfani
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1240

Abstract

AbstractGrowth Period influenced by intrinsic factors (genetic) and ekstrensik factors (nutrients , oxygen, hormones), growth factors, psychosocial and chronic-diseases. The aims of this study was to determine the differences height gain of 4-5 graders who consume enough iodine and less. The data was conducted in June-August 2009. This research is a comparative study with a longitudinal approach. The population of this study is a public elementary school students Lagoa 06, we got the sample total are 74 respondents. We used t-test to analyzed data. Data collected includes are characteristics of sampling population, gender, age and consumption patterns iodine, intake of iodine from food frequency and iodine test from salt. Based on consumption patterns found that 41.9 % good, 54.1 % fairly good and 4.1 % less consumption. The average of accretion height from iodine intake with category fairly good and less, respectively (0.92 ± 0.517) and (0.39 ± 0.261). The result found that there's significant difference accretion of height between the fairly good iodine intake and less (p<0.05). Need to consume food high iodine to assist the growth of school age children.  Keywords: Height, Iodium, School-age Children  AbstrakPertumbuhan dipengaruhi oleh faktor intrinsik (genetik) dan faktor ekstrensik (zat gizi, oksigen, hormon), faktor pertumbuhan, psikososial dan berbagai penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertambahan tinggi badan anak kelas 4-5 yang mengonsumsi iodium cukup dan kurang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2009. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat komparatif dengan pendekatan longitudinal. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri Lagoa 06 sedangkan sampelnya sebanyak 74 responden. Analisa pada data penelitian ini dengan menggunakan uji beda rata–rata (t-test). Data yang dikumpulkan meliputi: Karakteristik sampel, jenis kelamin, umur dan pola konsumsi iodium, konsumsi iodium diambil melalui food frekuensi dan tes iodium pada garam. Berdasarkan pola konsumsi 41,9% dinyatakan baik 54,1% cukup dan 4,1% konsumsi kurang. Pertambahan tinggi badan rata-rata konsumsi iodium cukup diperoleh nilai (0,92±0,517) dan untuk iodium kurang (0,39±0,261). Dari hasil uji komparasi, didapatkan adanya perbedaan penambahan tinggi badan antara yang mengkonsumsi iodium cukup dan yang kurang secara signifikan dengan nilai P<0,05. Diperlukannya konsumsi sumber makanan tinggi iodium untuk membantu pertumbuhan anak usia sekolah. Kata Kunci: Tinggi badan, Iodium, Anak Sekolah
Kejadian Jerawat pada Remaja di Sma Yadika 3 Prayitno, Nanang; Brahmani, Rima Nurisa
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1234

Abstract

AbstractAlthough the pathogenesis of acne is currently unknown, recent epidemiologic studies of non-Westernized populations suggest that dietary factors, including the type of foods consumed may be involved. The objective was to know the internal and external factors that are related with acne vulgaris in the senior high school students. The study used the crossectional design with the  total sample of  135 students of  the SMA YADIKA 3 Ciledug Tangerang. The data of foods consumption  were collected by using  24 hours recall method, the nutritional status of the students is determined by using  Body Mass Index (BMI). These informations are collected by nutritionis. The type of the skins were collected by general practioner.The study was conducted on April 30-31 April and  Mei 5-6 Mei 2009. The statistical analysis of this study by using Chi-Square. Of the internal factors, only the type of the skins is associated with the acne vulgaris. Meanwhile of the external factors, only the higiene of the skin is associated with the acne vulgaris. Keywords: Acne, Nutritional Status, Body Mass Index (BMI) AbstrakPada penelitian yang dilakukan Nurhidayati (2007), ditemukan bahwa sampel yang mengkonsumsi keju (80%) dan susu cair (85%)  dengan frekwensi 1-3 kali seminggu adalah responden yang berjerawat. Namun di dalam penelitian Nurhidayati tidak meneliti faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan jerawat. Sehingga kemungkinan fakto rinternal dan eksternal dapat mempengaruhi timbulnya jerawat. Tujuan dari penelitianini adalah untuk mengetahui faktor internal dan faktor eksternal yang berhubungan dengan kejadian timbulnya jerawat pada remaja. Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan menggunakan desain cross sectional dilakukan di SMA YADIKA 3 Ciledug tanggal 30 April-31 April dan 5 Mei-6 Mei 2009 dengan jumlah sampel 135 remaja kelas XI SMA YADIKA 3. Dari faktor internal yang meliputi jenis kulit wajah, keturunan, ras, dan status gizi yang mempengaruhi kejadian jerawat adalah jenis kulit wajah. Sedangkan factor eksternal yang meliputi kebersihan kulit wajah, frekuensi membersihkan kulit wajah, tingkat konsumsi lemak dan faktor bahan makanan penyebab jerawat yang mempengaruhi kejadian timbulnya jerawat adalah kebersihan kulit wajah. Kata kunci: Jerawat, Status Gizi, Indeks Masa Tubuh (IMT)
Asupan Energi-Protein dengan Status-Gizi Anak Umur 6-24 Bulan di Daerah Pesisir Tanjung-Kait Tangerang Yustrina, Artha; Angkasa, Dudung
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1241

Abstract

Abstract6-24 months is a golden period for children because in this period occurred rapid growth and development and almost 80% of the brain will be formed. The objective of this study was to determine the relationship of energy intake, protein intake, and other factors towards nutritional status of children in coastal areas of Tanjung Kait. This study is observational study with cross-sectional design and used T-test to analyze the data. Samples were children aged 6-24 months. The data of protein-energy intake was measured by 24 hour-food recall, others data using questionnaires and observation. The results shows that most of children were 14-22 months (53.3%), female (63.3%), energy intake <80% (80%), protein intake <80% (60%), fathers occupation as fisherman (53.3%), non-working mothers (96.7%), parent’s education was elementary/junior high school (83.3%), income status of poor families (90%), and no history of infectious disease (93.3%). The average energy and protein intake, respectively are (-1.498±1.777) kcal and (-1.757±1.947) g. The average z -score W/A is 2.97 (±0.718). There is a relationship between energy-protein intake and  nutritional status (t = -1.97; t= -2.22; p< 0.05), whereas there is no association between other factors (occupation, mother-father education , income, infectious disease) and nutritional status (t = 0.128 ; t = 0.253 ; t = 1.046 ; t = 0.412 ; t = - .418, p ≥ 0.05). Cadres is needed to be involved in providing information related to Recommended Daily Intake (RDI) of energy and protein to the community.  Keywords: nutritional status, intake, coastal area  AbstrakUsia 6-24 bulan adalah masa emas bagi anak karena cepatnya perkembangan dan pertumbuhan pada masa ini dan hampir 80% otak akan dibentuk pada masa tersebut. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui hubungan asupan energi, asupan protein, dan faktor-faktor lain terhadap status gizi anak-anak di daerah pesisir pantai Tanjung Kait. Penelitian ini menggunakan observasional dengan pendekatan cross sectional study dan dianalisa T-test. Sampel adalah anak-anak umur 6-24 bulan dari daerah pesisir pantai Tanjung Kait. Data asupan energi-protein diukur dengan food recall sedangkan faktor-faktor lain dengan kuesioner serta observasi. Status gizi dinilai dengan z-score WHO 2005. Hasil uji statistik menunjukkan sebagian besar anak-anak berumur 14-22 bulan (53.3%), jenis kelamin perempuan (63.3%), asupan energi < 80% (80%), asupan protein < 80% (60%), pekerjaan bapak sebagai nelayan (53.3%) dan ibu yang tidak bekerja (96.7%), pendidikan orang tua SD/SMP (83.3%), pendapatan status keluarga tidak miskin (90%), dan yang tidak memiliki riwayat penyakit infeksi (93.3%). Rata-rata asupan energi -1,498 (±1,777) kkal dan asupan protein -1,757 (±1,947) gr. Rata-rata z-score BB/U adalah 2.97 (±0.718). Ada hubungan antara asupan energi dan protein berdasarkan status gizi (t=-1.97;t=-2.22; p<0.05) sedangkan tidak ada hubungan antara faktor lain (pekerjaan, pendidikan ibu-bapak, pendapatan, penyakit infeksi) berdasarkan status gizi (t=0,128; t=0,253; t=1,046; t= 0,412; t=- 0,418; p≥0.05). Perlu dilibatkanya para kader untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai Angka Kecukupan Gizi (AKG) energi dan protein kepada masyarakat. Kata kunci: status gizi, asupan, pesisir pantai.
Konsumsi Zat-Zat Gizi Menurut Metode Recall-Record Berdasarkan Waktu Makan Remaja Putri Silvia, Merryna Nia; Marudut, Marudut; Jusat, Idrus
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1235

Abstract

AbstractLevel of dietary intakes for individual and community can be obtained by food consumption surveys. By increasing the measurement, the quantitative estimates of  habitual food intake will be getting closer to actual food intake. The aims of this study was to determine the differences energy consumption and dietary intake according to recall –record method with time interval based on food consumption Ibadurrahman Boarding School Tangerang municipality. This study is cross-sectional. Total of Respondents are 109 adolescence girls. We used independent t-test and ANOVA test to compare two methods of assessing food consumption according to the average length of days. The average intake of energy and carbohydrates for 1 day and 7 days recall shows that there is significant difference, with the difference means respectively are 143.71 kcal and 22:28 g(P<0.05). There is no difference in the average intake of protein, fat, Fe, Vitamin C, Vitamin A, and folic acid (P≥0.05). In the record-method shows that there is differences in average intake of Vitamin C in 1 day to 7 days and 3 days to 7 days, with the difference means respectively are (- 5.27) mg and (- 4.91) mg (P<0.05). However, we can't found significant difference in the average intake of energy, protein, fat, Fe, vitamin A, folic acid. The comparison of recall and record methods also showed no difference in intake of energy and macro nutrients.The pattern of homogeneous food services should be made at least 3 days for recall and 7 days for record method. Keywords: Dietary Intake, Recall-Record Method, Adolescence girls AbstrakTingkat kecukupan zat gizi individu maupun kelompok masyarakat dapat diperoleh melalui survei konsumsi pangan. Dengan meningkatkan hari pengukuran, perkiraan kuantitatif terhadap kebiasaan asupan makanan akan semakin mendekati asupan makanan yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan konsumsi energi dan zat-zat gizi menurut metode recall dan record berdasarkan interval waktu konsumsi makanan di Pondok Pesantren Ibadurrahman Kotamadya Tangerang. Jenis Penelitian ini adalah cross sectional. Responden berjumlah 109 remaja putri. Analisa data menggunakan uji t-independen dan uji anova untuk menilai perbandingan dua metode konsumsi makanan menurut rata-rata lama hari. Rata-rata konsumsi energi dan karbohidrat 1 hari dan 7 hari recall menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan selisih 143.71 kkal (p <0.05) dan  22.28 g (p <0.05). Tidak ada perbedaan rata-rata konsumsi protein, lemak, Fe, Vitamin C, Vitamin A, dan asam folat. Rata-rata konsumsi 3 hari dan 7 hari hampir sama. Metode record menunjukkan adanya perbedaan rata-rata konsumsi Vitamin C pada 1 hari dengan 7 hari dan 3 hari dengan 7 hari, selisih - 5.27 mg (p <0.05) dan - 4.91 mg (p <0.05). Sedangkan, rata-rata konsumsi energi, protein, lemak, Fe, Vitamin A, dan asam folat tidak ada perbedaan yang signifikan. Perbandingan antara metode recall dan record juga menunjukkan tidak ada perbedaan konsumsi energi dan zat gizi makro. Pola penyelenggaraan makanan homogen sebaiknya dilakukan minimal recall 3 hari dan record 7 hari. Kata Kunci: Zat Gizi, Waktu Makan, Remaja Putri

Page 1 of 1 | Total Record : 7