Claim Missing Document
Check
Articles

STATUS GIZI BERDASARKAN POLA MAKAN ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN RAJEG TANGERANG (NUTRITIONAL STATUS BASED ON PRIMARY SCHOOL STUDENT’S DIETARY INTAKE IN RAJEG DISTRICT TANGERANG CITY) Anzarkusuma, Indah Suci; Mulyani, Erry Yudhya; Jus’at, Idrus; Angkasa, Dudung
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.411 KB)

Abstract

Abstrak Penduduk yang mengkonsumsi makanan dengan nilai gizi di bawah 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) masih tinggi (40,6%) dan banyak dijumpai pada anak usia sekolah (41,2%). Prevalensi anak usia sekolah dengan status gizi kurus di provinsi Banten sebesar 9,5% lebih tinggi dari angka nasional (7,6%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi berdasarkan pola makan anak sekolah di Kecamatan Rajeg Tangerang. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi merupakan anak sekolah dasar di wilayah Kecamatan Rajeg Tangerang. Sampel berjumlah 124 anak. Analisis data dengan menggunakan pengujian statisik dengan uji t tidak berpasangan, one-way ANNOVA dan korelasi Pearson. Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (53.2%) dengan rata-rata umur 10 tahun dan berada pada kelas 4 SD (37.9%). Berdasarkan IMT/U didapatkan rata-rata nilai Z-score (-0.4±1.8). Responden yang memiliki frekuensi makan 3 kali dalam sehari sebanyak 53.2%, memiliki kebiasaan sarapan pagi sebanyak (94.4%) dan tidak memiliki kebiasaan membawa bekal makanan sebanyak (79,0%), dengan rata-rata nominal uang saku sebesar (3200±1.400) rupiah. Ada perbedaan status gizi anak berdasarkan frekuensi makan (p<0,05), tidak ada perbedaan status gizi anak berdasarkan jenis kelamin, umur,  nominal uang saku, kebiasaan sarapan pagi dan kebiasaan membawa bekal makanan (p≥0.05). Perlu dilakukan program pembinaan gizi dan pengetahuan kesehatan seperti diadakannya penyuluhan untuk siswa dan pembinaan UKS tentang pentingnya sarapan dan membawa bekal makanan, sanitasi dan makanan jajanan yang sehat Kata Kunci: Status Gizi, Pola Makan, Anak Sekolah Dasar AbstractRISKESDAS 2010 showed the prevalence of food consumption below 70% of Recommended Daily Intake (RDI) 2004 was 40.6% while among school-age children was about 41.2 %. The prevalence of underweight (Body-Mass-Index for age = BMI/A) was 7.6%; in Banten province was about 9.5%. This study aims to determine the differences of nutritional status among school aged children in relation to their dietary pattern in a primary school, District of Rajeg, Tangerang, Banten. This is a cross-sectional study. The population is a primary school children, with total respondent of 124 children. Dietary patterns and anthropometric measurements were conducted by trained junior nutritionists. Independent t-test, correlation and one-way Anova were employed to answer research questions. Most of respondent are male (53.2 %) with an average 10 years of age and in mostly in 5th grade (62.1 %). Average value of Z –score BMI/Age was (-0.4 ± 1.8). About 53.2% have 3 meals a day, 94.4 % having breakfast, and if there is no breakfast at home (79%) those students get their pocket money about 3200 ± 1400 rupiah/day. There is a difference OF nutritional status based on the frequency of meals (p< 0.05). There were no difference in nutritional status by sex, age, having breakfast at home, and no correlation with nominal allowances (p ≥ 0.05). Intensive counseling and nutrition education for school children should be given by teacher, especially information regarding the importance of breakfast or habit of bringing food or healthy snack, sanitation and personal hygiene. Keywords: Nutritional Status, Dietary Pattern, School Aged-children
Konsumsi Fast Food, Soft Drink, Aktivitas Fisik, dan Kejadian Overweight Siswa Sekolah Dasar di Jakarta Putri, Vina Rizky; Angkasa, Dudung; Nuzrina, Rachmanida
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.988 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.01.5

Abstract

AbstrakPrevalensi overweight pada anak umur 5-12 tahun di provinsi Jakarta tertinggi (30,1%,  nasional 10,8%) Tujuan penelitian ialah 1) menganalisis hubungan konsumsi fast food, soft drink, dan aktivitas fisik (AF) dengan kejadian overweight 2) mengetahui perbedaan asupan, lingkar pinggang (LP) dan total lemak tubuh (TLB) pada anak sekolah dasar. Studi potong lintang dilakukan dengan jumlah responden yang terdiri dari masing-masing 57 anak overweight dan berat normal di sekolah dasar negeri di Jakarta. Konsumsi fast food,soft drink diukur dengan FFQ, asupan energi dan zat gizi makro dengan recall tiga hari tak berturut, AF dengan kuesioner aktivitas fisik anak, LP dengan pita standar dan TLB dengan bodyfat analyzer. Odd risk/OR (95%CI) dan uji beda sebagai uji statistik, signifikan jika (p<0,05). Hasil menunjukkan anak dengan AF ringan, konsumsi gorengan (≥3x/minggu), dan minuman bergula (≥3x/minggu) berisiko 2,5 (95% CI 1,19-5,39), 6,8 (CI 2,82-16,52), dan 10,7 (CI 4,46-25,72) kali mengalami overweight, secara berturut, dibanding anak dengan AF sedang, konsumsi gorengan dan minuman gula tinggi (masing-masing <3x/minggu). Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok overweight dibanding berat normal berdasarkan asupan energi dan zat gizi makro,  LP dan TLB. Perlu ditekankan pola makan dan pola hidup sehat untuk menghindari dampak negatif overweight di masa depan.Kata kunci: fast food, IMT, lemak tubuh, lingkar pinggang, soft drink Abstract The prevalence of overweight children aged 5-12 years in Jakarta province is the highest (30.1%, national is 10.8%). This study aims (1.) to analyze the relationship among fast food, soft drink, and physical activity (PA) with overweight status and (2.) to know the difference of intake, waist circumference (WC), and total body fat (TBF) in primary school children. This cross sectional study was conducted with a number of respondents consisting of 57 overweight and 57 normal weight children in public primary schools in Jakarta. The consumption of fast food and soft drink was measured using food frequency questionnaire, energy and macro nutrient intake by using three non-consecutive day recall method, PA by using physical activity questionnaire, WC by using standard tape, and TBF by using bodyfat analyzer. Odd risk/OR (95% CI) and different test were used as statistical test with p <0.05. The results showed that children with low PA, ≥3x/week fritter consumption, and ≥3x/week sugary drinks were at risk 2.5 times (95% CI 1.19-5.39), 6.8 times (CI 2.82 -16.52), and 10.7 times (CI 4.46-25.72) to overweight, respectively, compared with children with moderate PA, <3x/week fritter consumption, and <3x/week high sugar drink. There were significant differences between the overweight group compared with the normal weight based on energy and macro nutrient intake, WC, and TBF. Diet and healthy lifestyle should be emphasized to avoid negative impact of overweight in the future.Keywords: fast food, body mass index, body fat, waist circumference, soft drink
SARAPAN SEHAT MENUJU GENERASI SEHAT BERPRESTASI Sitoayu, Laras; Wahyuni, Yulia; Angkasa, Dudung; Noviyanti, Anugrah
Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractGood food for school children is a food that contains many varieties and in accordance with the recommended dietary allowance, one through breakfast habit. In fact, not all school children have breakfast habits. Only 10.6% of the children breakfast sufficient energy (&gt;30%) and still very lack of breakfast with diverse food. Breakfast habit is important not only taught at home, but also need to be socialized at school. Teacher, as parent in the school need to understand the importance of a healthy breakfast habit and are able expected to socialize. This activity is one of the implementation of the Circular of Kementerian Dalam Negeri No. 444/1123/ PMD dated 4 February 2013 to the Governor throughout Indonesia, to support and implement the Week Breakfast National or Pekan Sarapan Nasional (PESAN) with campaigning and encouraging people to adopt a healthy breakfast behave through seminars. This event aims to disseminate a healthy breakfast for any teacher PAUD/ kindergarten for a whole West Jakarta through seminars, conducted in Ballroom Kemala Esa Unggul University. Socialization is done with providing counselling and using comics "Come Breakfast" or “Ayo Sarapan” as a medium of education. A total of 302 teachers early childhood /kindergarten throughout West Jakarta attended and participated in this well. Understanding and socialization reinforced by educational media used and given to participants, so easy to understand and can be applied in everyday life. Events like this are important to do every year to different participant, so socialization healthy breakfast can be achieved with good.Keywords : healthy breakfast, teacher, schoolAbstrakMakanan yang baik untuk anak sekolah adalah yang beraneka ragam jenisnya dan sesuai dengan kecukupan gizi yang dianjurkan, salah satunya melalui kebiasaan sarapan. Pada kenyataannya, tidak semua anak sekolah mempunyai kebiasaan sarapan. Hanya 10.6% dari sarapan anak yang mencukupi energi (&gt;30%) dan masih sangat kurangnya sarapan dengan makanan yang beranekaragam. Kebiasaan sarapan tidak hanya penting diajarkan di rumah namun juga perlu disosialisasikan di sekolah. Guru, sebagai pengganti orang tua siswa di sekolah perlu memahami pentingnya kebiasaan sarapan sehat dan diharapkan mampu mensosialisasikannya. Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi dari Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 444/1123/PMD tanggal 4 Febuari 2013 kepada Gubernur di seluruh Indonesia, untuk mendukung dan melaksanakan Pekan Sarapan Nasional (PESAN) dengan mengampanyekan dan mendorong masyarakat agar menerapkan perilaku sarapan sehat melalui seminar. Kegiatan ini bertujuan mensosialisasikan sarapan sehat kepada Guru PAUD/TK se-Jakarta Barat melalui seminar, yang dilakukan di Ballroom Kemala Universitas Esa Unggul. Sosialisasi dilakukan dengan memberikan penyuluhan dan menggunakan media komik “Ayo Sarapan” sebagai salah satu media edukasi. Sebanyak 302 Guru PAUD/TK se-Jakarta Barat hadir dan mengikuti kegiatan ini dengan baik. Pemahaman dan sosialisasi diperkuat dengan adanya media edukasi yang digunakan serta diberikan pada peserta sehingga mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan seperti ini penting dilakukan setiap tahun dengan target sasaran yang berbeda-beda, sehingga sosialisasi sarapan sehat dapat tercapai dengan baik.Kata Kunci : sarapan sehat, guru, sekolah
PEDULI SARAPAN DAN JAJANAN SEHAT, SERTA HIGIENE DAN SANITASI LINGUNGAN SEKOLAH PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN SEPATAN TIMUR Angkasa, Dudung; Sitoayu, Laras; Fauzi, Maulana; Putri, Vina Rizky; Mulyadi, Mulyadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Pengabdian Masyarakat ABDIMAS
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractSchool-aged children are among those vulnerable to nutritional problems. Irregular breakfast, unable to choose healthy snacks and poor personal hygiene are major factors in promoting nutritional problems among school-age children. Provision of nutritional and hygiene education is needed to improve students eating knowledge, attitudes and behavior as well as personal hygiene. Preliminary survey showed about 24.5% of students had underweight, 12.2% overweight based on BMI for age; Most students (92%) have a regular daily breakfast; however based on single 24 hours food recall, only 3%, 6.7%, 24.2% and 13.7% met energy, carbohydrate, protein and fat intake, respectively ; 54% of students have high snacking frequency  (&gt; 3x / day); small proportion of them consume vegetable (20%) and fruit (15%); proportion of student with poor personal hygiene about 28.4%. This activity was carried out in 14 primary schools in the working area of West Kedaung Community Health Center, East Sepatan, Tangerang District. A total of 1300 students from 14 schools were involved in this activity. The activity namely 1) nutrition counseling with the topics were:  food guide, breakfast and healthy snacks which followed by pre-post test; 2) seven-step handwashing practice; 3) Personal hygiene  practices; 4) distribution of educational posters; 5) a nutrition and seven-step dance hand washing contest. Results showed score increment for nutrition knowledge, breakfast and healthy snacks from 47.63 to 60.49; student were ablet to carry out a healthy meal, capable of performing seven handwashing steps, able to dispose of the garbage in its place, and the creation of a seven-step handwashing dance. Related to sanitation, the results of the activities show the improvement of school environment cleanliness such as toilets, yard, and classroom. However, only 10 out of 14 schools who progress to nutrition and seven-step handwashing dance creations contest. This activity should be continued to promote good eating and hygiene habits that can prevent nutritional problems in the future . Keywords: nutrition knowledge, breakfast, hand washing, sanitation, school children AbstrakAnak usia sekolah termasuk kelompok yang rentan terhadap masalah gizi. Tidak teratur sarapan, tidak mampu memilih jajanan sehat dan jeleknya hygiene individu merupakan faktor utama dalam mencentus masalah gizi pada anak usia sekolah. Pemberian pendidikan gizi dan hygiene diperlukan agar dapat meningkatkan pengetahuan siswa, memperbaiki sikap dan perilaku makan dan hygiene. Hasil survey pendahuluan menunjukkan sebanyak 24.5% siswa/i mengalami kurus+sangat kurus, 12.2% kegemukan berdasarkan IMT/U; sebanyak 92% memiliki kebiasaan  rutin sarapan tetapi berdasarkan recall asupan 24 jam, hanya 3%, 6.7%, 24.2% dan 13.7% secara berturut yang cukup energi, karbohidrat, protein dan lemak; 54% siswa/i memiliki perilaku jajan yang tinggi (&gt;3x/hari); asupan sayur dan buah masing-masing 20% dan 15% serta perilaku hygiene yang kurang sebanyak 28.4%. Kegiatan ini dilaksanakan di 14 sekolah dasar di wilayah kerja puskesmas Kedaung Barat, Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang. Total 1300 siswa/i dari 14 sekolah terlibat dalam kegiatan ini. Kegiatan ini berupa penyuluhan tentang gizi, sarapan pagi dan jajanan sehat yang dilanjutkan dengan pre-post test; praktek tujuh langkah cuci tangan; praktek kebersihan dengan operasi semut; penyebaran poster; lomba cerdas cermat dan lomba tari tujuh langkah cuci tangan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan skor pengetahuan gizi, sarapan dan jajanan sehat dari 47.63 menjadi 60.49, dibawanya bekal sehat, mampunya melakukan tujuh langkah cuci tangan, mampunya membuang sampah pada tempatnya, dan adanya kreasi tarian tujuh langkah cuci tangan. Terkait sanitasi, hasil kegiatan menunjukkan terlihatnya peningkatan kebersihan lingkungan sekolah seperti toilet, halaman, dan ruang kelas. Kekurangan dalam kegiatan ini iala saat puncak acara berupa lomba cerdas cermat dan kreasi tari hanya dapat diikuti oleh 10 sekolah. Harapannya, kegiatan ini terus dipromosikan sehingga terbentuk kebiasaan baik yang dapat mencegah masalah gizi dikemudian hari.Kata kunci: pengetahuan gizi, sarapan, cuci tangan, sanitasi, anak sekolah
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TENTANG SOSIALISASI MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) PADA IBU BALITA DI WILAYAH KEDAUNG BARAT Mulyani, Erry Yudhya; Jus’at, Idrus; Angkasa, Dudung
Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Pengabdian Masyarakat ABDIMAS
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractFirst two years of life is a critical periode for infant’s growth, development and health. Adequate nutrient intake during this periode is of particular importance for infant’s optimal growth and future health. For healthy mothers giving only breast milk for the first six months of life is recommended since breast-milk can infant’s nutritional requirements. Whereas above six months the breast-milk alone is not adequate especially for fulfilling energy and micronutrients needs thus complementary food should be introduced. Mother’s with good knowlegdes on appropriate feeding practice especially for complementary food is proven to improve young children’s health and nutritional status. This cross-sectional study involving 90 mothers together with their’s under-five year-olds children. Respondent characteristic was assessed by structured questionnaire. Mother’s knowledge on appropriate complementary food feeding practices was assessed with focus group discussion (FGD). Child’s weight, length and mid-upper arm circumference (MUAC) were measured by digital weighing scale, mictoise and MUAC tape, respectively. Digital camera was used to describe the area of study. Results showed the mean±standard deviation of mother knowledge’s scores were 7.9±4.3. More than half of mothers (58.9%) had good knowlegde on  appropriate complementary food feeding practices while about a third of them still in poor knowledges. Intensive appropriate feeding practices’s education should be performed to improve and facilitate good practices among mothers in Kedaung Barat area. Keywords: breastfeeding food, toddler, mothers knowledge AbstrakPeriode setelah lahir sampai usia dua tahun merupakan periode kritis pada untuk pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan bayi. Periode ini disebut sebagai periode emas (golden period) karena keadaan gizi pada periode ini akan berdampak pada kesehatan di masa depan. Ibu yang sehat sangat dianjurkan hanya memberikan ASI saja bagi bayi sampai usia 6 bulan, namun pada bayi &gt;6 bulan ASI saja tidak cukup terutama untuk pemenuhan energi dan zat gizi mikro sehingga dapat dikenalkan pada makanan lain yang dikenal sebagai MP-ASI (Makanan Pendamping-Air Susu Ibu). Pengetahuan ibu yang baik mengenai pemberian MP-ASI yang tepat terbukti meningkatkan status gizi dan kesehatan anak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui sosialisasi MP-ASI pada ibu balita. Metode yang digunakan adalah cross-sectional design dengan melibatkan ibu balita yang memeriksakan anaknya ke posyandu di wilayah Kedaung Barat yang berjumlah 90 orang. Data mengenai sosial ekonomi dinilai dengan kuesioner terstruktur. Data pengetahuan tentang MP-ASI selain dengan kuesioner terstruktur juga dinilai dengan FGD (Focus Group Discussion). Dikumpulkan pula data antropometri bayi yang meliputi berat dan tinggi badan serta lingkar lengan atas (LiLA) secara berturut diukur dengan timbangan digital, microtoise dan pita LiLA. Selain itu, gambaran kondisi wilayah dikumpulkan dengan kamera digital. Hasil sosialisasi awal menunjukkan rata-rata skor pengetahuan ibu ialah 7.9±4.3. Apabila dikelompokkan maka sebagian besar pengetahuan ibu lebih dari rata-rata kelompok (58.9%). Masih terdapat lebih dari 30% ibu dengan pengetahuan yang kurang tentang MP-ASI. Oleh karenanya, perlu dilakukan kegiatan sosialisasi yang intensif tentang pemberian MP-ASI sehat pada ibu balita untuk meningkatkan perilaku tentang pemberian makanan pendamping balita yang baik di wilayah Kedaung Barat. Kata kunci: makanan pendamping ASI, balita, pengetahuan ibu
Hubungan Peran Keluarga dan Pengetahuan Ibu Terhadap Pemberian ASI di Desa Tanah Merah Kabupaten Tangerang Destyana, Riche Mia; Angkasa, Dudung; Nuzrina, Rachmanida
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.372 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2018.005.01.5

Abstract

ASI merupakan satu-satunya makanan terbaik yang ideal dan paling sempurna untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi selama proses tumbuh kembang pada 6 bulan pertama kehidupannya. Namun cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih rendah, hal ini disebabkan oleh faktor internal (usia, pengetahuan, pendidikan, sikap atau perilaku, dan kondisi kesehatan ibu) dan faktor eksternal (peran keluarga). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran keluarga dan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif terhadap pemberian ASI eksklusif di Desa Tanah Merah, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang tahun 2017. Penelitian cross-sectional ini melibatkan 93 responden yang diambil secara total sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pemberian ASI eksklusif masih rendah (29%), sebagian besar responden memiliki peran keluarga yang “kurang baik” (45,57%) tetapi berpengetahuan “baik” (62,31%). Penelitian menemukan hubungan bermakna antara peran keluarga dengan pamberian ASI eksklusif tetapi skor pengetahuan ibu tidak berhubungan secara signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Peran keluarga perlu ditingkatkan lagi agar ibu dapat memberikan ASI secara eksklusif sehingga bayi mendapat asupan gizi yang adekuat terutama bayi yang tinggal di pedesaan.Kata kunci: peran keluarga; pengetahuan ibu; pemberian ASI eksklusifAbstractBreast milk is the only ideal and the most perfect food to meet the nutritional needs of infants during the growth process in the first 6 months of life. However, the coverage of exclusive breastfeeding in Indonesia is still low due to internal factors (age, knowledge, education, attitude/behavior, and maternal health condition) and external factors (family roles). This research aimed to know the relation of family role and mother knowledge on exclusive breastfeeding (EB) to EB practices in Tanah Merah Village, East Sepatan Sub-district, Tangerang Regency in 2017. This cross-sectional study involved 93 respondents taken by total sampling. The statistical test used was chi-square test. The results showed that the percentage of EB in Tanah Merah Village is still low (29%), most of the respondents have unfavorable family role (45.57%), but have good knowledge on EB (62.31%). This study found a significant association between family role and exclusive breastfeeding, but the score of mother's knowledge does not correlate significantly with exclusive breastfeeding. Family role in encouraging the mother to breastfeed exclusively should be strengthened in order to ensure adequate nutritional intake for the infants, particularly those who live in rural area.Keywords: family role; mother's knowledge; exclusive breastfeeding
LENGTH OF PATERNAL EDUCATION IS ASSOCIATED WITH HEIGHT-FOR-AGE OF SCHOOL CHILDREN IN RURAL AREA OF SEPATAN TIMUR-TANGERANG Angkasa, Dudung; Sitoayu, Laras; Jus'at, Idrus
GIZI INDONESIA Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.055 KB)

Abstract

Paternal educational status plays an important role in long-term nutritional status of children. The objective of this study was to investigate the association between paternal factors and school children nutritional status in rural setting, Indonesia. A cross-sectional study carried out in September  up to November 2015 involving 368 primary public school children in Sepatan Timur, Tangerang. Structured questionnaires were administered to parents, containing household characteristics such as length of school year, working status, number of siblings. Children weight and height were measured using a weighing scale and microtoise, respectively. Anthropometric indices, height-for-age (HAZ) and body mass index for-age (BAZ), were produced by using WHO-Antroplus. Children’s food intake and snacking habits were assessed using single 24 hours food recall and food frequency questionnaire, respectively. Others variables were physical activity and infectious disease history. Multiple regression analyses were employed to enquire research questions. Results indicated that children with father’s educational status less than 9 years had a significant 0.607 lower HAZ if compared to those educational status more or equal to 9 years after adjustment for mother’s schooling year, working status, number of household member, children’s history of diarrhea and physical activity status, sex, age and snacking frequency. Conclusion, father’s educational status was associated with height for age among school children in rural area of Sepatan Timur. ABSTRAK Pendidikan orang tua berperan penting dalam menentukan status gizi anak dalam jangka panjang. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan faktor orang tua dengan status gizi anak sekolah di wilayah pedesaan. Penelitian menggunakan desain potong lintang dilaksanakan selama September-November 2015 dengan melibatkan 368 anak sekolah dasar negeri di Sepatan Timur, Tangerang. Kuesioner terstruktur diberikan pada orang tua untuk mengetahui lama sekolah, status pekerjaan, dan jumlah anak. Berat dan tinggi badan akan diukur dengan timbangan badan dan microtoise kemudian dihitung indeks antropometri tinggi badan menurut umur (TB/U) dan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Konsumsi sampel dinilai dengan food recall 24 jam satu hari dan kuesioner frekuensi makanan. Variabel lain yang diamati ialah aktivitas fisik dan riwayat infeksi. Analisis Regresi berganda digunakan untuk menjawab tujuan. Hasil menunjukkan bahwa sampel dari ayah yang berpendidikan <9 tahun lebih rendah skor TB/U sebesar 0,607 poin dibandingkan sampel dari ayah yang berpendidikan >9 tahun setelah dikontrol lama pendidikan ibu, status pekerjaan, jumlah anak, riwayat diare, aktivitas fisik, jenis kelamin, umur dan frekuensi jajan anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan ayah yang rendah berhubungan dengan tinggi badan anak pada anak sekolah di wilayah pedesaan, Sepatan Timur. Kata kunci: pendidikan ayah, status gizi, anak sekolah, pedesaan
Ibu Berpendidikan Rendah Cenderung Memiliki Anak Lebih Kurus Dibandingkan Ibu dengan Pendidikan Tinggi Angkasa, Dudung; Nadiyah, Nadiyah
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.6

Abstract

Penguatan pendidikan merupakan salah satu upaya intervensi gizi sensitif yang dapat  mengatasi masalah gizi dan kesehatan (G&K) pada anak. Tingkat pendidikan ayah atau ibu yang lebih berperan dalam G&K anak sekolah menjadi perhatian menarik di penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk menguji hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan status gizi anak sekolah di setting pedesaan. Penelitian potong lintang dengan menggunakan sub sampel (n=212 dari total 330) Projek GISEL. Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data tingkat pendidikan orang tua, umur, jumlah anak, dan pengetahuan gizi. Timbangan digital dan microtoise secara berurutan untuk mengukur berat dan tinggi badan. Aplikasi WHO Antroplus digunakan untuk menghasilkan indeks TB/U (Tinggi Badan menurut Umur) dan IMT/U (Indeks Massa Tubuh menurut Umur). Untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mendapatkan hasil terkontrol, dilakukan uji regresi linear berganda. Hasil menunjukkan bahwa anak dari ibu berpendidikan <9 tahun cenderung secara bermakna memiliki skor IMT/U 0,800 (95% CI = -1,451; -0,149) lebih rendah dibandingkan anak dari ibu berpendidikan >9 tahun. Tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan G&K anak sekolah.Kata kunci: pendidikan, ibu, anak sekolah, status gizi, pedesaanAbstract Strengthening the educational level is one of the nutrition sensitive interventions that contribute to prevent nutrition and health (NAH) problem  among children.Whose education (between mother and father) that affect the school children NAH status is paid high attention in current study. Current study tries toexamine the association between maternal educational level and nutritional status of school children in a rural setting, Tangerang. This cross-sectional study involved a sub-sample (n =212, from a total of 330 samples) of GISEL (GIzi dan keSEhatan sekoLah) project. Structured questionnaires were used to collect parental educational level, ages, number of children and parental’s nutritional knowledge. Digital weighing scale and standard microtoies were used to measured children weight and height, respectively. WHO Antroplus apps was used to produce HAZ (Height-for-age) and BAZ (body mass index -or-age) z score index. To answer research question and produce adjusted association, multiple linear regression analyses were performed. Children with mother educational level <9 years more likely to have 0.800 (95% CI = -1.451; -0.149) lower BAZ z-score than children with mother educational level >9 years. Maternal educational level is associated with school children nutritional status. An increase in women's education levels becomes a sensitive intervention to prevent child nutrition problems in rural areas.Keywords: education, maternal, school children, nutritional status, rural setting
PENINGKATAN STATUS KESEHATAN DENGAN SENAM RHYTMIC AUDITORY STIMULATION DAN GIZI SEIMBANG LANSIA DI DESA KOHOD Maratis, Jerry; Angkasa, Dudung; Malabay, Malabay; Amir, Trisia Lusiana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol 2 No 3 (2019): IKRAITH-ABDIMAS VOL 2 NO 3 BULAN NOVEMBER 2019
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.179 KB)

Abstract

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan padalansia di Desa Kohod Tangerang. Status kesehatan dipengaruhi oleh perilaku hidup sehatdiantaranya aktivitas fisik yang teratur dan gizi seimbang. Pemberian senam RhytmicAuditory Stimulation (RAS) bertujuan meningkatkan status kesehatan dan keseimbangandinamis menggunakan isyarat auditori, sehingga mempermudah lansia dalam melakukanaktivitas fisik dan produktif. Pemberian edukasi tentang gizi seimbang lansia (GISELA)bertujuan memberikan pemahaman dan keterampilan mengenai pemberian gizi yangsesuai dengan aktivitas dan metabolisme lansia sehingga kecukupan gizi dapat terpenuhi.Lingkup pengabdian masyarakat ini dikhususkan pada Lansia di Desa Kohod. Kegiatanyang dilakukan meliputi edukasi dan praktik senam RAS dan GISELA. Metodepelaksanaan kegiatan yang dilakukan meliputi edukasi, pemberian contoh denganinstruktur, praktik dengan pendampingan senam RAS dan GISELA. Evaluasi kegiatanyang digunakan adalah aspek pengetahuan dan keterampilan. Kemampuan lansia dalammemahami dan mempraktikkan senam RAS dan pelaksanaan GISELA didapat hasil 80%para lansia dapat memahami materi yang diberikan oleh penyaji dan dapatmempraktikkannya dengan baik. Kesimpulan PKM ini adalah adanya peningkatan statuskesehatan, pengetahuan, dan keterampilan para lansia tentang senam RAS dan GISELA.
THE DIFFERENCES BETWEEN PROTEIN, SELECTED VITAMINS AND SELENIUM TO MORBIDITY IN YOUNG CHILDREN Mulyani, Erry Yudhya; Jus’at, Idrus; Angkasa, Dudung; Elvandari, Milliyantri
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.088 KB)

Abstract

Morbidity rate in children under 3 years of age is higher among rural than urban area. Adequate intake of protein and selected vitamins suppresses the immune system to function efficiently. This cross-sectional study at Tangerang district was aimed to understand the difference in protein, selected vitamins and selenium intake to morbidity episode among young children. A total of 87 children under 3 years of age was drawn randomly from 3 selected villages. All measurement was carried out by well trained professional health personnel’s. The independent t-test and Mann-Whitney were employed to analyze the data. The youngchildren aged 7-11 month (16.1%) and 12-36 month (83.9%), weight was 9.8±2.1 (kg), height was 78.5±8.1(cm), and MUAC was 13.5±6.6 (cm). The average intake of protein, Vitamin C, Vitamin E and Selenium inchildren aged 7-11 month were 12.7±11.0 (g), 42.7±108.1 (mg), 0.8±1.2 (mg), and 0.1±0.0 (mcg), respectively. Then for the children age 12-36 month were 26.6±15.5 (g), 23.0±34.6 (mg), 2.2±1.8 (mg), and 0.3±1.4(mcg), respectively. There were no differences in protein, vitamin C, vitamin E and selenium intakes between morbidity episode among children aged 12-36 month (p≥0.05). While, there was a difference in protein intake between morbidity status in younger children (p<0.05).  This study failed to find contribution of selected vitamins and selenium to morbidity status. An adequate intake of protein, selected vitamins andminerals was needed to curb the intermittent infections.Keywords: Protein, Selected Vitamins, Selenium, Morbidity, Young Children
Co-Authors Alisa, Yudiana Noor Amalia, Dea Sofa Amanda, Virgita Anastasia, Reynie Arvilla Anggiruling, Dwikani Oklita Annisa Dwi Meitha Appukuty, Mahenderan Apriningsih, Apriningsih Apriningsih Aprisa, Annisa Sekar Aristi, Dela Bestari, Dania Senja Budi Mulyana, Budi Destyana, Riche Mia Devi Angeliana Kusumaningtiar Dewanti, Lintang Purwara Dewi, Sita Pramesti Dyvia Agustina Sidup Efnita, Annike Elvandari, Milliyantri Erry Yudhya Mulyani Fauzi, Maulana Fauzi, Maulana Gifari, Nazhif Gina Lestari, Gina Harna Harna, Harna Hasan, Hosni Heryana, Ade I Gusti Agung Komang Diafari Djuni Hartawan Idrus Jus’at Indah Suci Anzarkusuma Iskari Ngadiarti Julianti, Putri Firna Jus'at, Idrus Jus'at, Idrus Jus?at, Idrus Jusat, Idrus Jus’at, Idrus Jus’at, Idrus Jus’at, Idrus Kusrianti, Eri Laras Sitoayu Lintang P. Dewanti Malabay Malabay Maratis, Jerry Mareta, Sonia Maulana, Handika Rahmat Monic, Monica Mulyadi Mulyadi Mulyadi, Mulyadi Mury Kuswari Muslimah M, Nur Nabila Permatasari Nadheem, Fathimath Ana Nadhilah Syarafina Nadiyah Nadiyah Nadiyah Nadiyah Novianti, Anugrah Noviyanti, Anugrah Noviyanti, Anugrah Palupi, Khairizka Citra Pradini, Indira Prita Dhyani Swamilaksita Putri Ronitawati Putri, Vina Rizky Putri, Vina Rizky Putri, Vina Rizky Rachmanida Nuzrina Rahim, Elika Maret Rahmayati, Nadiya Putri Ratri Ciptaningtyas Ratri Oktaria Jasmine Reza Fadhilla Rinanda Almira Rinova, Rinova Aprillia Utari Rita Ismail Rosliana Hardiyanti Sa'pang, Mertien Salleh, Razali Mohamed Salsabila, Unik Hanifah Sari, Eva Siallagan, Damayanti Sita Pramesti Dewi Stanin, Enrico Sugiyatmi, Tri Astuti Trisia Lusiana Amir Tyas Putri Utami Vionalita, Gisely Vitria Melani Vitria Melani, Vitria Wahyu Pratama Wahyuni, Yulia Widyawati, Risti Shalsa Yuli Azmi Rozali Yustrina, Artha Zaizafia, Athaya