cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 1,062 Documents
Hubungan Mean Arterial Pressure (MAP) Dengan Kejadian Preeklamsia Di Rumah Sakit Umum H. Abdul Aziz Marabahan Fathul Jannah; Mahfuzhah Deswita Puteri; Evy Noorhasanah; Windarti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1384

Abstract

Salah satu penyebab utama kematian ibu adalah preeklamsia, yaitu gangguan hipertensi yang timbul pasca usia gestasi memasuki 20 minggu. Sebuah skrining yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya preeklamisia adalah mean arterial pressure (MAP). Di Indonesia, angka kematian ibu (AKI) masih tinggi, dengan eklampsia sebagai salah satu penyebab langsung sebesar 23%. Di sisi lain, hipertensi dalam kehamilan adalah penyebab utama kematian ibu sebesar 31,37% di Provinsi Kalimantan Selatan. Di RSU H. Abdul Aziz Marabahan, tercatat 23 kasus preeklamsia dari 506 ibu hamil pada tahun 2025, namun pemanfaatan skrining MAP sebagai deteksi dini belum diketahui hubungannya dengan kejadian preeklamsia di rumah sakit tersebut. Penelitian ini didesain untuk menganalisis hubungan antara MAP dengan kejadian preeklamsia pada rentang usia gestasi 20 hingga 40 minggu di RSU H. Abdul Aziz Marabahan. Metodologi observasional analitik berdesain potong lintang (cross sectional) dioperasionalkan dalam studi ini. Populasi berjumlah 506 subjek, proses seleksi sampel melalui mekanisme purposive sampling berbasis kalkulasi formula Slovin didapatkan 224 subjek terpilih. Data sekunder menjadi tumpuan instrumen riset, meliputi spektrum variabel: usia maternal, paritas, usia gestasi, tekanan darah, nilai kalkulasi MAP, serta status diagnosis preeklamsia. Uji hipotesis menggunakan analisis Chi-Square pada batas signifikansi p<0,05. Temuan studi mengindikasikan bahwa sebagian besar ibu hamil, yakni 142 orang (63,4%) terkategori MAP positif, sementara preeklamsia tercatat pada 32 subjek (14,3%). Secara spesifik, seluruh kejadian preeklamsia (32 kasus; 22,5%) adalah ibu hamil dalam kelompok MAP positif. Sebaliknya, pada kelompok dengan MAP negatif, tidak teridentifikasi satu pun kasus preeklamsia (0%). Hasil pengujian statistik Chi-Square mengonfirmasi hubungan signifikan antara MAP dan kemunculan preeklamsia (p<0,001). Berdasarkan temuan ini, disarankan optimalisasi pemeriksaan MAP dalam setiap kunjungan antenatal care untuk memperkuat deteksi dini risiko kejadian preeklamsia.
Penerapan Discharge Planning pada Anak dengan Luka Bakar Derajat II: Studi Kasus Kharissa Permata Junita; Windy Rakhmawati; Sri Hendrawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1391

Abstract

Luka bakar pada anak berisiko menimbulkan komplikasi seperti infeksi, gangguan keseimbangan cairan, serta keterlambatan proses penyembuhan luka. Anak dengan luka bakar memerlukan perawatan berkelanjutan setelah pulang dari rumah sakit sehingga discharge planning menjadi bagian penting dalam menjaga kontinuitas perawatan dan mencegah komplikasi pasca perawatan di rumah. Namun, kesiapan keluarga sebagai caregiver dalam melakukan perawatan luka, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan mencegah infeksi di rumah masih sering menjadi kendala. Karya ilmiah ini bertujuan mengetahui penerapan discharge planning pada anak dengan luka bakar derajat II. Studi kasus dilakukan pada An. H usia 1 tahun 4 bulan dengan diagnosis luka bakar derajat II seluas ±30% Total Body Surface Area (TBSA) di RS Sumedang pada tanggal 09–12 September 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Intervensi discharge planning difokuskan pada edukasi keluarga terkait perawatan luka, pemenuhan nutrisi, serta pencegahan infeksi dengan menggunakan media leaflet serta demonstrasi perawatan luka dan penggantian balutan sebagai pendukung edukasi. Hasil yang dievaluasi meliputi pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan perawatan anak di rumah. Evaluasi dilakukan berdasarkan kemampuan keluarga untuk menjelaskan kembali materi yang telah diberikan serta mempraktikkan secara langsung penggantian balutan. Hasil penerapan discharge planning menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan perawatan luka bakar di rumah. Keluarga mampu menjelaskan kembali cara penggantian balutan, penggunaan salep antibiotik, kebutuhan nutrisi tinggi protein, serta tanda dan pencegahan infeksi pada luka bakar. Selain itu, keluarga mampu mempraktikkan penggantian balutan dengan benar dan memahami tindakan yang harus dilakukan apabila muncul tanda infeksi pada anak. Discharge planning yang dilakukan secara terstruktur dan bertahap serta melibatkan keluarga secara aktif dapat meningkatkan kesiapan keluarga sebagai caregiver dalam melanjutkan perawatan anak di rumah. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran perawat dalam melaksanakan discharge planning sejak awal masa perawatan untuk mendukung kontinuitas perawatan dan mencegah komplikasi.