cover
Contact Name
Arthur Huwae
Contact Email
arthur.huwae@uksw.edu
Phone
+6282237602090
Journal Mail Official
arthur.huwae@uksw.edu
Editorial Address
Gedung H-Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52-60 Kota Salatiga 50711 Jawa Tengah
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Wacana Psikokultural
ISSN : -     EISSN : 30316626     DOI : https://doi.org/10.24246/jwp.v3i1
Jurnal Wacana Psikokultural, merupakan jurnal ilmiah dalam bidang ilmu psikologi yang terbit dua kali dalam setahun. Jurnal Wacana Psikokultural menjadi sarana publikasi hasil kajian penelitian di bidang psikologi lintas budaya, secara khusus naskah artikel pengetahuan dan hasil penelitian dalam memepelajari individu dari beragam budaya. Namun demikian, jurnal Wacana Psikokultural juga menerima naskah di bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kognitif, Neuropsikologi, Psikometri, dan atau Psikologi Eksperimen
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2025)" : 6 Documents clear
Menyelidiki Child Abuse: Systematic Literature Review Annisa Ismail; Fathul Lubabin Nuqul2; Muallifah
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.14047

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kekerasan yang terjadi pada anak. Metode penelitian yang digunakan adalah telaah pustaka sistematis. Hasil penelitian menemukan bahwa perlindungan anak, penelantaran, dan pelecehan emosional merupakan alasan yang paling sering terjadi. Intervensi dapat efektif dalam mencegah atau mengurangi penganiayaan anak. Penganiayaan anak dikaitkan dengan penurunan risiko mengalami pelecehan emosional dalam setahun terakhir dan selama hidup. Penganiayaan anak masih menjadi masalah yang cukup besar di Belanda dengan prevalensi yang stabil selama 12 tahun terakhir dan stabilitas dalam karakteristik yang membuat keluarga rentan terhadap penganiayaan anak. Pembukaan kasus penganiayaan anak sebelum karantina secara signifikan lebih besar daripada pembukaan kasus selama karantina. Penurunan dramatis dalam pelaporan penganiayaan anak dan intervensi kesejahteraan anak bertepatan dengan kebijakan jarak sosial yang dirancang untuk mengurangi penularan COVID-19. Persentase keseluruhan responden yang melaporkan telah mengalami setidaknya satu jenis penganiayaan anak menurun selama 6 tahun, dari 35,3% pada tahun 2010 menjadi 31,0% pada tahun 2016. Penganiayaan anak berdampak seumur hidup dan memengaruhi kesehatan mental di kemudian hari.
Peran Subjective Well-Being dan Dimensi Attachment to God Terhadap Resiliensi Anggota Jemaat Dewasa Madya dan Akhir di Gereja C Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia Joyce Heryanto; Irene P. Edwina; Robert Oloan Rajagukguk
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.14771

Abstract

Penelitian bertujuan menguji apakah ada peran subjective well-being dan dimensi attachment to God, yaitu avoidance of intimacy dan anxiety about abandonment terhadap resiliensi pada anggota jemaat dewasa madya dan akhir di Gereja X Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia. Penelitian dilakukan pada 187 responden yang menjadi anggota jemaat dewasa madya dan akhir di Gereja X. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur resiliensi adalah Resilience Quotient Test, untuk Subjective well-being (SWB) digunakan Satisfaction With Life Scale (SWLS) dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE), untuk dimensi avoidance of intimacy dan dimensi anxiety about abandonment pada Attachment to God digunakan Attachment to God Inventory. Teknik uji statistik dalam penelitian ini menggunakan regresi linear berganda. Hasil uji statistik menunjukkan hasil signifikan bahwa subjective well-being dan dimensi attachment to God, yaitu avoidance of intimacy dan anxiety about abandonment secara simultan (dan parsial) berperan dan merupakan prediktor dari resiliensi anggota jemaat dewasa madya dan akhir di Gereja X, Jakarta Selatan, Indonesia. Penelitian ini dapat dikembangkan pada pemetaan aspek-aspek resiliensi yang mana yang sudah dihidupi dan aspek-aspek resiliensi yang mana yang masih perlu dikembangkan pada anggota jemaat dewasa madya dan akhir di Gereja X Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia.
Kesurupan dalam Perspektif Psikologi dan Teologi Kristen: Pendekatan Multidisipliner terhadap Pemahaman Penanganan Fenomena Kesurupan Luke Setyo Anggoro
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.15326

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of trance has become an interesting topic for research, especially from a psychological and theological perspective. This research aims to explore the experiences of individuals who have experienced possession, the role of spiritual and psychological intervention, as well as understanding Christian theology regarding this phenomenon. A qualitative approach was used with a phenomenological design, involving 10 participants selected by purposive sampling, including individuals who had experienced possession, their families, priests/clergy and psychologists. Data was collected through in-depth interviews, observations and document studies, then analyzed using thematic analysis. The research results show that trance is understood as a complex phenomenon involving spiritual, psychological and cultural aspects. Spiritual interventions such as deliverance prayers are effective in providing a sense of spiritual relief, while psychological approaches help individuals understand and manage the trance experience from a mental perspective. The Christian theological perspective emphasizes that possession can occur due to spiritual influences that require a holistic approach to recovery. The conclusion of this research is that the phenomenon of trance cannot be fully explained from one point of view alone. The combination of spiritual and psychological interventions has been proven to provide optimal results for individuals who experience them. The implications of this research show the importance of collaboration between religious leaders and mental health practitioners in handling cases of possession, as well as the need for public education to reduce the stigma of this phenomenon. Keywords: Trance, Psychology, Christian Theology
IMPLEMENTASI PROGRAM PELATIHAN HARDINESS PADA CALON KARYAWAN BARU DI RUMAH SAKIT X Anugrah Imam Sarwono Putra; Maria Prima Novita
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.15365

Abstract

Sebuah instansi tentu memiliki pekerja yang disebut sebagai karyawan. Mencari karyawan terjadi dalam proses seleksi dan rekrutmen. Namun permasalahan tentu ditemui oleh tim rekrumen, salah satunya calon karyawan yang kurang dalam ketahanan terhadap tekanan. Maka dari itu perlu diatasi dengan baik, supaya tidak memperburuk kondisi yang ada. Untuk meningkatkan kemampuan ketahanan terhadap tekanan atau hardiness diperlukan adanya program pelatihan hardiness. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan dari implementasi program pelatihan hardiness pada calon karyawan baru. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif eksperimen dengan menggunakan one group pretest-posttest design. Teknik sampling yang digunakan teknik sampling jenuh dengan partisipan sebanyak 10 calon karyawan baru rumah sakit. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program pelatihan hardiness mampu meningkatkan hardiness pada calon karyawan baru (Z = -2,153 dan sig = 0,031). Hal ini dapat menjadi bekal pada calon karyawan baru ketika bekerja sehingga calon karyawan mampu dalam menjalankan pekerjaannya.
Ketidakpercayaan Istri Terhadap Suami Akibat Berita Perselingkuhan Di Media Sosial Aziza Nanda Maulita; Nugroho Arief Setiawan; Annisa Fitriani
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.15538

Abstract

Kepercayaan dalam hubungan perkawinan merupakan faktor penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Namun, maraknya berita perselingkuhan di media sosial berpotensi mempengaruhi tingkat kepercayaan istri kepada suaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor berita perselingkuhan di media sosial terhadap kepercayaan istri kepada suami dan bagaimana istri mengatasi ketidakpercayaan tersebut. Penelitian ini fokus pada aspek keintiman, kepuasan perkawinan, dan komitmen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi dengan partisipan yang memenuhi kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan istri dipengaruhi oleh komunikasi yang pasif, overthinking, dan pekerjaan suami yang mengharuskan mereka sering berada di luar rumah.
TINGKAT CURIOSITY (KEPO) RESPON MASYARAKAT TERHADAP TREN VIRAL di MEDIA SOSIAL Khoirun Nisa; Muna Erawati
Wacana Psikokultural Vol 2 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i2.17130

Abstract

Rasa penasaran atau ‘kepo’ telah menjadi bagian dari perilaku masyarakat dalam berinteraksi di media sosial. Rasa Penasaran (Curiosity) menjadi salah satu penggerak utama uang mendorong seseorang untuk belajar dan turut memengaruhi proses keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat curiosity masyarakat Indonesia terhadap tren viral di media sosial serta dampak psikososial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis indigenous psychology, data dikumpulkan melalui angket terbuka online yang diisi oleh 185 partisipan berusia 14-40 tahun dari berbagai macam kalangan status pelajar, mahasiswa dan bekerja. Hasil menunjukkan 59,73% responden pernah merasa penasaran terhadap kehidupan orang lain di media sosial, dengan motivasi utama berupa kebutuhan informasi, penyesuaian sosial FOMO (Fear Of Missing Out), dan pembentukan identitas digital. Partisipasi dalam tren rata-rata bersifat selektif, dengan 71 responden yang menyatakan “Jarang”, secara alami memilih informasi Atau tren yang sesuai dengan minat, nilai, atau keyakinan mereka, dan menghindari yang tidak sesuai. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi digital untuk mengelola curiousity secara sehat dan adaptif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan instrumen pengukuran kepo yang relevan secara subkultural dan perlunya kajian lanjutan mengenai dampak psikologis dan sosial dari perilaku kepo di media sosial.

Page 1 of 1 | Total Record : 6