cover
Contact Name
Jurnal Dialect
Contact Email
uptbahasa@dharmawangsa.ac.id
Phone
+6281376767017
Journal Mail Official
uptbahasa@dharmawangsa.ac.id
Editorial Address
Jl. K. L. Yos Sudarso No. 224 Medan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Dialect
ISSN : 30469392     EISSN : 30465613     DOI : https://doi.org/10.46576/dl.v1i1
Core Subject :
Jurnal Dialect merupakan jurnal yang dikelola oleh pusat bahasa Universitas Dharmawnagsa Medan. Jurnal ini membahas ilmu dibidang bahasa dan budaya, sebagai wadah untuk menuangkan hasil penelitian baik secara konseptual maupun teknis yang berkaitan dengan ilmu bahasa dan budaya. Jurnal Dialect terbit sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Fokus dan Ruang Lingkup: Kebahasaan; keilmuan bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, antropolinguistik, linguistik forensik, ekolinguistik, biolinguistik, psikolinguistik); keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis); Kesusasteraan (teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranasi, sosiologi sastra); Budaya (deskripsi budaya, perbandingan budaya) Pendidikan Bahasa, pembelajaran dan media pembelajaran bahasa, sastra, dan budaya.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
DINAMIKA BAHASA MEDIA CETAK DARI MASA KOLONIAL HINGGA ERA DIGITAL STUDI KASUS: KOLEKSI MUSEUM PERS SUMUT Raden Bimo Bagaskoro; Nabila Airil Shafira; Dwi Shafira Pramuditha; Nasyira Tu Zahro; Ramadhandi Haikal Purnama
Jurnal Dialect Volume 3 No. 1 Januari - Juni 2026
Publisher : UNIVERSITAS DHARMAWANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/dl.v3i1.9091

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika bahasa media cetak Sumatra Utara dari masa kolonial hingga era digital melalui studi kasus koleksi Museum Pers Sumut. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis konten diakronik, sampel dokumen (n=200 edisi koran/majalah) dipilih dari empat periode: kolonial (1880-1942), pasca kemerdekaan (1945-1998), Reformasi (1998-2010), dan digital (2010-2025). Fokus utama pada ragam bahasa, diksi, eufemisme, dan gaya retorika sebagai cerminan faktor sosiolinguistik seperti politik, teknologi, dan budaya lokal. Hasil menunjukkan evolusi signifikan: masa kolonial didominasi Melayu pasar dengan diksi Belanda influenced dan eufemisme sensor (misalnya, "pemerintahan" untuk kolonialisme); era Orde Baru menonjolkan bahasa Indonesia baku ideologis ("pembangunan"); sementara era digital menampilkan hibridisasi dengan slang Medan, kode-mixing Inggris-Indonesia, dan elemen visual digital. Faktor pendorong meliputi sensor politik, kemajuan cetak, dan media sosial. Penelitian ini berkontribusi pada sociolinguistics regional dan mata kuliah Bahasa Indonesia dengan rekomendasi modul pembelajaran berbasis arsip, seperti analisis variasi bahasa historis untuk pengembangan keterampilan siswa. Implikasi praktis mencakup pelestarian museum sebagai sumber pedagogi dan adaptasi bahasa media di era hibrida.
BAHASA DAN IDENTITAS: STUDI KASUS TEMPAT BERSEJARAH MENARA AIR HINDIA BELANDA PULO BRAYAN Fariz Ramadhan; Nomi Wardani Br Sitepu; Rachel Amanditha
Jurnal Dialect Volume 3 No. 1 Januari - Juni 2026
Publisher : UNIVERSITAS DHARMAWANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/dl.v3i1.9092

Abstract

Menara Air Hindia Belanda di Pulo Brayan merupakan peninggalan kolonial yang kaya akan artefak linguistik, mulai dari prasasti Belanda-Melayu hingga narasi lisan masyarakat lokal. Situs ini mencerminkan pergeseran identitas Sumatra Utara yang multietnis, di mana bahasa berfungsi sebagai alat resistensi, adaptasi, dan rekonstruksi pascakolonial. Kajian sociolinguistik diperlukan untuk memahami bagaimana ragam bahasa (dari diksi formal kolonial ke hibridisasi dialek Medan modern) membentuk memori kolektif. Pendekatan kualitatif dengan analisis konten terhadap dokumen arsip, plakat situs, dan wawancara 30 informan warga Pulo Brayan. Data dikategorikan diakronik: era kolonial (1900-1942), pasca-kemerdekaan (1945-1998), dan era digital. Teknik triangulasi melibatkan observasi lapangan dan analisis semiotik untuk mengungkap pola eufemisme, kode-switching, dan variasi bahasa lokal (Batak-Melayu). Penelitian ini berkontribusi pada mata kuliah Bahasa Indonesia dengan rekomendasi bahan ajar berbasis situs bersejarah untuk mengajarkan sociolinguistics dan pelestarian ragam bahasa. Secara praktis, disarankan plakat bilingual serta program edukasi virtual untuk wisata budaya. Studi ini memperkaya diskursus identitas nasional melalui lensa bahasa dinamis.
STRATEGI GURU DALAM MENGINTEGRASIKAN LITERASI DIGITAL PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI GENERASI Z Suhariyanti Suhariyanti; Buyung Solihin Hasugian
Jurnal Dialect Volume 3 No. 1 Januari - Juni 2026
Publisher : UNIVERSITAS DHARMAWANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/dl.v3i1.9093

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik yang termasuk dalam Generasi Z tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi, internet, dan media sosial. Kondisi ini menuntut guru untuk mampu menyesuaikan strategi pembelajaran agar lebih relevan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik masa kini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan literasi digital ke dalam proses pembelajaran. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan mengakses, memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam mengintegrasikan literasi digital pada pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Generasi Z, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menganalisis kontribusi literasi digital terhadap proses dan hasil pembelajaran.Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui berbagai strategi, antara lain pemanfaatan sumber belajar digital, penggunaan video pembelajaran, pembelajaran berbasis proyek digital, pemanfaatan platform pembelajaran daring, serta kegiatan yang mendorong peserta didik untuk melakukan analisis dan evaluasi terhadap informasi yang diperoleh dari media digital. Strategi tersebut tidak hanya meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, tetapi juga membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan komunikasi, kreativitas, serta keterampilan dalam mengelola informasi secara efektif. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberhasilan integrasi literasi digital didukung oleh ketersediaan fasilitas teknologi, akses internet, dukungan sekolah, kompetensi digital guru, serta tingginya minat peserta didik terhadap penggunaan teknologi. Namun demikian, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kesenjangan kemampuan digital antar peserta didik, keterbatasan akses internet pada sebagian siswa, kecenderungan penggunaan teknologi untuk aktivitas non-pembelajaran, serta kebutuhan peningkatan kompetensi digital guru secara berkelanjutan. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa integrasi literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan strategi yang relevan dan efektif untuk menjawab kebutuhan belajar Generasi Z di era digital. Literasi digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi abad ke-21 yang meliputi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi. Penelitian ini menghasilkan sebuah model integrasi literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang terdiri atas tahapan akses informasi digital, seleksi dan verifikasi informasi, analisis informasi, produksi karya digital, serta refleksi dan evaluasi. Model tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dan lembaga pendidikan dalam mengembangkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.
STUDI ETNOPEDAGOGI TENTANG PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA MASYARAKAT BATAK DI MEDAN DENAI BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL Sarah Nasution
Jurnal Dialect Volume 2 No. 2 Juli - Desember 2025
Publisher : UNIVERSITAS DHARMAWANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/dl.v2i2.9088

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) has significantly transformed educational practices, including the way students engage in academic writing. AI-assisted tools such as ChatGPT, Grammarly, QuillBot, Gemini, and other AI-powered applications are increasingly being used by students to support various stages of the writing process. These technologies provide assistance in generating ideas, correcting grammar, improving vocabulary, organizing content, and revising written texts. As digital technologies become more integrated into students’ daily lives, understanding how learners experience the use of AI-assisted tools in academic writing has become an important area of educational research. Therefore, this study aims to explore the experiences of SMA Dharmawangsa students in using AI-assisted tools for academic writing, identify the perceived benefits and challenges, and examine students’ perspectives on the role of AI in supporting their writing development.This study employed a qualitative approach using a phenomenological research design. The participants were students of SMA Dharmawangsa who had experience using AI-assisted tools in completing academic writing tasks. Participants were selected through purposive sampling based on specific criteria relevant to the research objectives. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which involved data reduction, data display, and conclusion drawing. To ensure the trustworthiness of the findings, triangulation, member checking, and peer debriefing were applied.The findings revealed that students generally had positive experiences using AI-assisted tools in academic writing. Students perceived AI technologies as useful learning resources that helped them generate ideas, improve grammar and vocabulary, organize essays, and revise their writing more effectively. The use of AI-assisted tools also increased students’ confidence and supported independent learning by providing immediate feedback during the writing process. Furthermore, students reported that AI technologies helped them complete writing tasks more efficiently and reduced difficulties commonly encountered in academic writing. However, several challenges were identified, including the tendency to rely excessively on AI-generated content, concerns regarding the accuracy of information provided by AI systems, and uncertainty about the ethical boundaries of AI use in academic work. Despite these challenges, most participants recognized the importance of using AI responsibly and maintaining originality in their writing.The study concludes that AI-assisted tools have significant potential to support students’ academic writing development when used appropriately. AI technologies can enhance writing quality, foster learner autonomy, and increase engagement in writing activities. Nevertheless, effective use of AI requires students to critically evaluate AI-generated suggestions and maintain academic integrity. The study proposes the concept of Responsible AI-Assisted Academic Writing, which emphasizes the role of AI as a learning companion rather than a replacement for students’ critical thinking and writing abilities. The findings contribute to the growing body of research on artificial intelligence in education and provide practical insights for teachers, schools, and policymakers in promoting ethical and effective AI integration in academic writing instruction.
STUDI ETNOPEDAGOGI TENTANG PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA MASYARAKAT BATAK DI MEDAN DENAI BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL Asrindah Nst; Buyung Solihin Hasugian
Jurnal Dialect Volume 3 No. 1 Januari - Juni 2026
Publisher : UNIVERSITAS DHARMAWANGSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/dl.v3i1.9094

Abstract

Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan identitas budaya anak. Pada masyarakat Batak di Sumatera Utara, pendidikan anak tidak hanya berfungsi sebagai proses pengasuhan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, perkembangan teknologi, modernisasi, dan perubahan pola kehidupan keluarga telah menghadirkan berbagai tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal sebagai dasar pendidikan anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pendidikan anak dalam keluarga masyarakat Batak, mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang diajarkan kepada anak, serta menganalisis proses internalisasi nilai-nilai tersebut dalam pembentukan karakter anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dalam perspektif etnopedagogi. Informan penelitian terdiri atas orang tua, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan anak-anak dalam keluarga Batak yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan anak dalam keluarga masyarakat Batak dilaksanakan melalui keteladanan, nasihat, pembiasaan, penggunaan bahasa daerah, serta keterlibatan anak dalam kegiatan adat dan kehidupan sosial masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi dasar pendidikan anak meliputi Dalihan Na Tolu, hamoraon, hagabeon, hasangapon, dan marsiadapari. Nilai-nilai tersebut diinternalisasikan melalui interaksi sehari-hari dalam keluarga dan berkontribusi dalam membentuk karakter anak, seperti sikap hormat, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, solidaritas sosial, dan integritas. Penelitian ini juga menemukan bahwa keluarga berperan sebagai agen utama pewarisan budaya yang menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya Batak di tengah arus modernisasi. Temuan penelitian menghasilkan model etnopedagogi keluarga Batak berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan keteladanan, pembiasaan, komunikasi keluarga, keterlibatan dalam adat, dan sistem kekerabatan dalam proses pendidikan anak.

Page 3 of 3 | Total Record : 25