cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "vol. 12 no. 2 (2025): october 2025" : 15 Documents clear
Need Analysis for Developing a Semiotic-Based Augmented Reality Media to Enhance Numeracy Literacy Among Deaf Children Christine Wulandari Suryaningrum; Nafiah Nafiah; Asti Bhawika Adwitiya; Syahrul Mubaroq
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.14943

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the needs for developing a semiotic-based Augmented Reality (AR) learning medium to enhance numeracy literacy among deaf students. A qualitative descriptive method was employed through open-ended questionnaires and interviews involving teachers at Sekolah Luar Biasa Negeri Branjangan, Jember Regency, Indonesia. The findings indicate that although 50% of teachers are familiar with AR technology, all participants expressed a strong need and enthusiasm for its implementation in numeracy instruction. Teachers perceived that the visual, interactive, and semiotic features of AR can transform abstract mathematical concepts into concrete and meaningful learning experiences that align with the visual learning strengths of deaf students. The study also revealed that color, animation, and three-dimensional visualization significantly enhance students’ attention and conceptual understanding. The integration of semiotic principles—icons, indices, and symbols—into AR design enables the representation of mathematical meaning through visual signs that are easily accessible and interpretable. This approach bridges the gap between symbolic understanding and experiential learning in mathematics. The findings highlight the significant potential of AR not only as a technological innovation but also as a semiotic learning environment that supports inclusive education for students with hearing impairments. Moreover, these results provide a theoretical and practical foundation for teacher training programs on the use of AR-based technology in special education contexts.Keywords: augmented reality, deaf learners, inclusive education, numeracy literacy semiotics.AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan media pembelajaran Augmented Reality (AR) berbasis semiotik untuk meningkatkan literasi numerasi di kalangan siswa tuna rungu. Metode deskriptif kualitatif digunakan melalui kuesioner terbuka dan wawancara yang melibatkan guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Branjangan, Kabupaten Jember, Indonesia. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun 50% guru familiar dengan teknologi AR, semua peserta menyatakan kebutuhan dan antusiasme yang kuat untuk menggunakan AR dalam pembelajaran numerasi. Guru merasa bahwa fitur visual, interaktif, dan semiotik AR dapat mengubah konsep matematika abstrak menjadi pengalaman konkret dan bermakna yang selaras dengan kekuatan pembelajaran visual siswa tuna rungu. Penelitian ini juga menemukan bahwa warna, animasi, dan visualisasi tiga dimensi secara signifikan meningkatkan perhatian dan pemahaman konseptual. Mengintegrasikan prinsip-prinsip semiotik ikon, indeks, dan simbol ke dalam desain AR memungkinkan representasi makna matematika melalui tanda-tanda visual yang mudah diakses dan diinterpretasikan. Pendekatan ini menjembatani kesenjangan antara pemahaman simbolik dan pengalaman dalam matematika. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi besar untuk mengembangkan dan mengimplementasikan media AR sebagai inovasi teknologi tetapi sebagai lingkungan belajar semiotik yang mendukung pendidikan inklusif bagi siswa dengan gangguan pendengaran sekaligus menjadi dasar bagi pelatihan guru dalam pemanfaatan teknologi berbasis AR di sekolah luar biasa. Kata kunci: augmented reality, siswa tuna rungu, pendidikan inklusif, literasi numerasi, semiotik.
Developing Self-Assessment with Mobile Learning-Based to Improve Learning Achievement of Indonesian Madrasah Competency Assessment at Madrasah Ibtidaiyah Dian Eka Aprilia Fitria Ningrum; Nur Hidayah Hanifah; Like Raskova Octaberlina; Silvia Ellyana
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.18860

Abstract

AbstractThe Minimum Competition Assessment (AKM) is a replacement for the existence of the National Examination. AKM is designed to achieve student learning outcomes through cognition, especially related to literacy and numeracy. However, there is still a problem that students experience difficulties in doing AKM or AKMI (Indonesian Madrasah Competency Assessment) questions at school. Therefore, this research provides a solution by developing learning media in the form of a mobile learning-based application using the ADDIE method. The subjects in this study are grade IV students of Madrasah Ibtidaiyah Nurul Jadid Blitar, East java, Indonesia. According to the study's findings, learning experts' validation results are 93%, media experts' validation results are 96%, and material experts' validation results are 98%. According to student learning outcomes, the SIASAT application can improve student learning outcomes; the average pretest score in the control class is 56, and the posttest average score is 79.2. Meanwhile, in the experimental class, the average pretest score was 56, and the posttest average score was 87.8. Meanwhile, based on the calculation of the T-test, a significant value of 0.042 > 0.05 was obtained. This indicates that students can enhance their learning outcomes by using mobile learning-based self-assessment media to deal with AKMI.Keywords: AKMI, madrasah ibtidaiyah students, mobile learning, self-assessment. AbstrakAsesmen Kompetensi Minimal (AKM) merupakan pengganti keberadaan Ujian Nasional. AKM dirancang untuk mencapai capaian pembelajaran siswa melalui kognisi, terutama terkait literasi dan numerasi. Namun, masih terdapat permasalahan yaitu siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal AKM atau AKMI (Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia) di sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan solusi dengan mengembangkan media pembelajaran berupa aplikasi berbasis mobile learning dengan metode ADDIE. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Nurul Jadid Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, hasil validasi ahli pembelajaran sebesar 93%, hasil validasi ahli media sebesar 96%, dan hasil validasi ahli materi sebesar 98%. Berdasarkan capaian pembelajaran siswa, aplikasi SIASAT dapat meningkatkan capaian pembelajaran siswa; rata-rata skor pretes pada kelas kontrol sebesar 56, dan rata-rata skor postes sebesar 79,2. Sementara itu, pada kelas eksperimen, rata-rata skor pretes adalah 56, dan rata-rata skor postes adalah 87,8. Berdasarkan perhitungan uji-T, diperoleh nilai signifikansi 0,042 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan menggunakan media asesmen mandiri berbasis pembelajaran seluler untuk menghadapi AKMI.Kata kunci: AKMI, siswa madrasah ibtidaiyah, pembelajaran mobile, penilaian mandiri.
Social Adjustment among in-School Adolescents with Learning Disabilities: Do Parental Socioeconomic Status and Peer Influence Play Any Role? Temilade Silifatu Ayo; Kelechi Uchemadu Lazarus
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.19408

Abstract

AbstractSocial adjustment, a crucial aspect of everyone’s life, is needed to cope with one’s engagement with others in society and overall social life.  However, reports have shown that many in-school adolescents, particularly in Oyo State secondary schools, exhibit poor social adjustment. Therefore, this study investigated the predictive influence of parental socioeconomic status and peer influence on the social adjustment of in-school adolescents with learning disabilities. The study adopted the descriptive survey research design of the correlational type. The multistage sampling procedure was used. The three Senatorial Districts in Oyo State were enumerated. Twenty-seven public senior secondary schools (three from each local government area) were randomly selected. The Screening Inventory for Learning Disabilities was adopted to identify 452 in-school adolescents with learning disabilities. The instruments used were Peer Influence (r=0.76), Parental Socioeconomic Status (r=0.73), and Social Adjustment (r=0.92) scales. Data were analyzed using descriptive statistics and Pearson product moment correlation at the 0.05 level of significance. The findings showed that there was a significant relationship between peer influence and social adjustment (r=0.46) as well as between parental socioeconomic status and social adjustment (r=0.27) of in-school adolescents with learning disabilities. Based on the findings, the researchers made some recommendations for relevant stakeholders. However, the study calls for special educators and stakeholders to identify and support students with learning disabilities early, in order to enhance their social skills and long-term well-being.Keywords: adolescents’ social engagements, learning disabilities, peer influence, socio-economic status of parents.  AbstrakPenyesuaian sosial, aspek penting dari kehidupan setiap orang, diperlukan untuk mengatasi keterlibatan seseorang dengan orang lain dalam masyarakat dan kehidupan sosial secara keseluruhan. Namun, laporan telah menunjukkan bahwa banyak remaja di sekolah, khususnya di sekolah menengah Oyo State, menunjukkan penyesuaian sosial yang buruk. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki pengaruh prediktif status sosial ekonomi orang tua dan pengaruh teman sebaya pada penyesuaian sosial remaja di sekolah dengan disabilitas belajar. Penelitian ini mengadopsi desain penelitian survei deskriptif dari jenis korelasional. Prosedur pengambilan sampel multitahap digunakan. Tiga Distrik Senatorial di Negara Bagian Oyo dihitung. Dua puluh tujuh sekolah menengah atas negeri (tiga dari setiap wilayah pemerintah daerah) dipilih secara acak. Inventaris Skrining untuk Disabilitas Belajar diadopsi untuk mengidentifikasi 452 remaja di sekolah dengan disabilitas belajar. Instrumen yang digunakan adalah skala Pengaruh Teman Sebaya (r=0,76), Status Sosial Ekonomi Orang Tua (r=0,73), dan Penyesuaian Sosial (r=0,92). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan korelasi momen produk Pearson pada tingkat signifikansi 0,05. Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dan penyesuaian sosial (r=0,46) serta antara status sosial ekonomi orang tua dan penyesuaian sosial (r=0,27) pada remaja di sekolah dengan disabilitas belajar. Berdasarkan temuan ini, para peneliti memberikan beberapa rekomendasi bagi para pemangku kepentingan terkait. Namun, studi ini menghimbau para pendidik khusus dan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi dan mendukung siswa dengan disabilitas belajar sejak dini guna meningkatkan keterampilan sosial dan kesejahteraan jangka panjang mereka.Kata kunci: keterlibatan sosial remaja, kesulitan belajar, pengaruh teman sebaya, status sosial ekonomi orang tua.
Development of AR-based Diorama to Improve Critical Reasoning Dimension and Learning Outcomes of Fourth-Grade Elementary School Students Emiliana Catherine Corneliesta; Kurotul Aeni; Yusuff Bolaji Yusuff
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.19846

Abstract

AbstractThis research is motivated by teachers who have not used digital learning media, resulting in low critical reasoning and learning outcomes. The purpose of the research is to develop a design and test the feasibility and effectiveness of augmented reality-based diorama media to improve critical reasoning dimensions and learning outcomes of Pancasila education. This study uses the research and development method, specifically the ADDIE model, to create augmented reality-based diorama media for Pancasila education aimed at fourth-grade students at Public Elementary School (SDN) Kalibanteng Kidul 01 in Semarang City, Central Java. The study found that the media is highly suitable for education, with validation scores of 93.33% from media experts and 98.21% from material experts. The assessment of critical reasoning scored 95.24%. The t-test results supported the hypothesis, showing significant effectiveness with an N-gain score of 0.7901, classifying it as high. Overall, the study concludes that the augmented reality-based diorama media are effective in improving critical reasoning and learning outcomes related to Pancasila principles for these students in class IV, SDN Kalibanteng Kidul 01, Semarang City, Central Java.Keywords: augmented reality, critical reasoning dimension, diorama, learning           outcomes. AbstrakPenelitian ini dimotivasi oleh guru yang belum menggunakan media pembelajaran digital, sehingga mengakibatkan rendahnya penalaran kritis dan hasil belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan desain dan menguji kelayakan serta efektivitas media diorama berbasis augmented reality untuk meningkatkan dimensi penalaran kritis dan hasil belajar pendidikan Pancasila. Studi ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan, khususnya model ADDIE, untuk menciptakan media diorama berbasis augmented reality untuk pendidikan Pancasila yang ditujukan untuk siswa kelas empat di SDN Kalibanteng Kidul 01 di Kota Semarang, Jawa Tengah. Studi ini menemukan bahwa media tersebut sangat cocok untuk pendidikan, dengan skor validasi 93,33% dari pakar media dan 98,21% dari pakar materi. Penilaian penalaran kritis mendapat skor 95,24%. Hasil uji-t mendukung hipotesis, menunjukkan efektivitas yang signifikan dengan skor N-gain 0,7901, yang mengklasifikasikannya sebagai tinggi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa media diorama berbasis augmented reality efektif dalam meningkatkan penalaran kritis dan hasil belajar terkait prinsip-prinsip Pancasila bagi siswa kelas IV SDN Kalibanteng Kidul 01, Kota Semarang, Jawa Tengah.Kata kunci: augmented reality, dimensi bernalar kritis, diorama, hasil belajar.
The Impact of Self-Regulated Learning on the Effectiveness of Digital Learning: A Study on Madrasah Ibtidaiyah Students Vivin Ardiyanti; Fauzan Fauzan; Futry Ayu Lestari
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.19880

Abstract

AbstractThis study aims to examine the effect of self-regulated learning on the effectiveness of digital learning in fifth-grade students of Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan Jakarta, Indonesia. This study employs a quantitative approach using a survey design and a total sampling technique, which involves 67 fifth-grade students as respondents. Data were collected through a validated Likert scale questionnaire designed to measure self-learning variables and the use of digital learning. Simple linear regression testing was implemented to verify the research hypothesis and identify interconnections among variables. Study findings indicate the presence of a meaningful positive impact between self-directed learning and the effectiveness of digital learning, with a coefficient of determination (R²) of 0.366, indicating that 36.6% of the variance in the use of digital learning can be explained by self-regulated learning abilities, while the remaining 63.4% is influenced by other factors not examined in this study. This study concludes that self-regulated learning is an important factor in increasing the effectiveness of digital learning implementation in elementary madrasah students. These findings indicate the importance of developing pedagogical strategies that foster students' self-regulation skills to optimize the integration of digital technology in education environments, especially in madrasah ibtidaiyah.Keywords: digital learning, effectiveness, self regulated learning.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pembelajaran mandiri terhadap efektivitas pembelajaran digital pada siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan Jakarta, Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei dan teknik total sampling yang melibatkan 67 siswa kelas V (lima) sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang telah divalidasi dan dirancang untuk mengukur pembelajaran mandiri dan penggunaan pembelajaran digital. Pengujian regresi linear sederhana diimplementasikan untuk memverifikasi hipotesis riset dan mengidentifikasi keterkaitan antar variabel. Temuan studi mengindikasikan terdapatnya dampak positif yang bermakna antara pembelajaran mandiri dengan efektivitas pembelajaran digital, dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,366, yang menunjukkan bahwa 36,6% varians penggunaan pembelajaran digital dapat dijelaskan oleh kemampuan pembelajaran mandiri, sedangkan sisanya sebesar 63,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran mandiri merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran digital pada siswa madrasah ibtidaiyah. Temuan ini menunjukkan pentingnya mengembangkan strategi pedagogis yang menumbuhkan keterampilan pengaturan diri siswa untuk mengoptimalkan integrasi teknologi digital dalam lingkungan pendidikan, khsususnya di Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: pembelajaran digital, efektivitas, self regulated learning.
Digital Competence and Teacher Preparedness for Educational Transformation in the Merdeka Curriculum Framework Moh Masnun; Patimah Patimah; Aceng Jaelani; Dia Penata Candawati
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.19917

Abstract

AbstractThis research aims to analyze the digital competency level of teachers at Madrasah Ibtidaiyah (MI) in Cirebon Regency, West Java, Indonesia. The research methodology employs a mixed-method approach, combining quantitative and qualitative methods. 49 MI teachers were selected as respondents through random sampling techniques. Data collection was conducted through questionnaires and in-depth interviews. Descriptive statistics were used to look at quantitative data, and data reduction, data presentation, and conclusion drawing were used to look at qualitative data. Findings show a generally low level of digital competence, with a mean score of 2.28 (SD = 0.86) on a 5-point scale. Most teachers (40.8%) fell into the “Low” category, 30.6% were “Moderate,” and only 4.1% achieved “Very High.” Digital communication had the highest score (M = 2.52), followed by technology use (M = 2.42), digital ethics (M = 2.11), and content creation (M = 2.08). Teachers struggled most with creating digital materials, using online platforms, and understanding digital ethics. Teaching experience (F = 2.49, p = 0.045) and school location (F = 3.26, p = 0.047) showed significant differences, with urban and less-experienced teachers performing better. The regression analysis revealed age, teaching experience, rural location, and prior training as significant predictors, accounting for 43.5% of the variance. There were no differences between the sexes. The implications of this research point to the urgency of implementing programs to enhance teachers' digital competency. More broadly, this research impacts educational policy formulation, curriculum development, and the transformation of Islamic education in facing the digital era.Keywords: digital competency, islamic education, teacher development. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kompetensi digital guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. 49 guru MI dipilih sebagai responden melalui teknik pengambilan sampel acak. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Statistik deskriptif digunakan untuk melihat data kuantitatif, dan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan digunakan untuk melihat data kualitatif. Temuan menunjukkan tingkat kompetensi digital yang umumnya rendah, dengan skor rata-rata 2,28 (SD = 0,86) pada skala 5 poin. Sebagian besar guru (40,8%) termasuk dalam kategori "Rendah", 30,6% "Sedang," dan hanya 4,1% yang mencapai "Sangat Tinggi." Komunikasi digital memiliki skor tertinggi (M = 2,52), diikuti oleh penggunaan teknologi (M = 2,42), etika digital (M = 2,11), dan pembuatan konten (M = 2,08). Guru paling kesulitan dalam membuat materi digital, menggunakan platform daring, dan memahami etika digital. Pengalaman mengajar (F = 2,49, p = 0,045) dan lokasi sekolah (F = 3,26, p = 0,047) menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan guru perkotaan dan guru yang kurang berpengalaman menunjukkan kinerja yang lebih baik. Analisis regresi menunjukkan usia, pengalaman mengajar, lokasi pedesaan, dan pelatihan sebelumnya sebagai prediktor signifikan, yang mencakup 43,5% varians. Tidak ada perbedaan antara kedua jenis kelamin. Implikasi penelitian ini menunjukkan urgensi pelaksanaan program untuk meningkatkan kompetensi digital guru. Secara lebih luas, penelitian ini berdampak pada perumusan kebijakan pendidikan, pengembangan kurikulum, dan transformasi pendidikan Islam dalam menghadapi era digital.Kata kunci: kompetensi digital, pendidikan islam, pengembangan guru.
Integrating Palolai Local Wisdom Through Culturally Responsive Teaching in Baubau Elementary Schools Minsih Minsih; Ratnasari Diah Utami; Maryam Nurlaila; Uslan Uslan; Siti Marpuah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.19950

Abstract

AbstractThis study examines the integration of Palolai local wisdom through the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach at elementary schools in Baubau City, Southeast Sulawesi. Using a qualitative ethnographic design, data were collected through observation, interviews, documentation studies, and focus group discussions. Triangulation of sources and methods guaranteed data validity, while data analysis utilized reduction, display, and conclusion techniques. The findings reveal three key outcomes: (1) teachers effectively developed strategies to integrate Palolai wisdom into the independent curriculum via CRT; (2) CRT implementation significantly enhanced student participation in IPAS subjects; and (3) the approach successfully strengthened students' cultural identity within the Baubau community. In conclusion, the CRT approach serves as an effective pedagogical bridge, connecting formal education with local cultural values. The integration of Palolai wisdom not only enriches the curriculum but also fosters both active student engagement and robust cultural identity preservation. This study emphasizes the need to use culturally grounded approaches in education to maintain local heritage while achieving contemporary learning objectives.Keywords: culturally responsive teaching, palolai local wisdom, teacher's role.  AbstrakStudi ini mengkaji integrasi kearifan lokal Palolai melalui pendekatan Pengajaran Responsif Budaya (PKB) di sekolah dasar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Dengan menggunakan desain etnografi kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan diskusi kelompok terfokus. Triangulasi sumber dan metode menjamin validitas data, sementara analisis data menggunakan teknik reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Temuan ini mengungkapkan tiga hasil utama: (1) Guru secara efektif mengembangkan strategi untuk mengintegrasikan kearifan Palolai ke dalam kurikulum independen melalui PKB; (2) Implementasi PKB secara signifikan meningkatkan partisipasi siswa dalam mata pelajaran IPAS; dan (3) pendekatan ini berhasil memperkuat identitas budaya siswa dalam komunitas Baubau. Kesimpulannya, pendekatan PKB berfungsi sebagai jembatan pedagogis yang efektif, menghubungkan pendidikan formal dengan nilai-nilai budaya lokal. Integrasi kearifan Palolai tidak hanya memperkaya kurikulum tetapi juga mendorong keterlibatan aktif siswa dan pelestarian identitas budaya yang kuat. Studi ini menekankan perlunya menggunakan pendekatan yang berlandaskan budaya dalam pendidikan untuk melestarikan warisan lokal sekaligus mencapai tujuan pembelajaran kontemporer.Kata kunci: pengajaran responsif budaya, kearifan lokal palolai, peran guru.
Strengthening Cultural Literacy Through Cirebon Folk Tales Incorporating Religious Moderation Values Nurhannah Widianti; Agus Nuryatin; Teguh Supriyanto; Rahayu Pristiwati
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.20349

Abstract

AbstractThe limited integration of local cultural values and religious moderation in elementary education has hindered the development of students’ character and their understanding of diversity. Although Indonesia possesses rich cultural heritage embedded in regional folklore, these stories are often underutilized as pedagogical resources for fostering tolerance, mutual respect, and harmonious interfaith relations. This study aims to describe the condition of cultural literacy in elementary schools, identify Cirebon folk tales that contain religious moderation values, and examine the implementation of cultural literacy strengthening. Using a qualitative descriptive design, data were collected through interviews, observations, and documentation, then analyzed through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings show that cultural literacy is inconsistently introduced in schools, that Cirebon folk tales such as Azan Pitu, Klenteng Jamblang, Babad Cirebon, and Nadran contain strong moderation values, and that the strengthening of cultural literacy is implemented through the P3 framework, the School Literacy Movement, and Pancasila Student Profile activities. These results highlight the importance of utilizing local folklore as a culturally grounded medium for cultivating national commitment, tolerance, non-violence, and cultural accommodation among young learners.Keywords: folklore, cultural literacy, religious moderation. AbstrakIntegrasi nilai-nilai budaya lokal dan moderasi agama yang terbatas dalam pendidikan dasar telah menghambat perkembangan karakter siswa dan pemahaman mereka terhadap keragaman. Meskipun Indonesia memiliki warisan budaya yang kaya yang tertanam dalam folklore regional, cerita-cerita ini seringkali kurang dimanfaatkan sebagai sumber daya pedagogis untuk menumbuhkan toleransi, saling menghormati, dan hubungan antaragama yang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi literasi budaya di sekolah dasar, mengidentifikasi dongeng-dongeng Cirebon yang mengandung nilai-nilai moderasi agama, dan mengkaji implementasi penguatan literasi budaya. Dengan desain deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi budaya diperkenalkan secara tidak konsisten di sekolah, bahwa dongeng-dongeng Cirebon seperti Azan Pitu, Klenteng Jamblang, Babad Cirebon, dan Nadran mengandung nilai-nilai moderasi yang kuat, serta bahwa penguatan literasi budaya dilaksanakan melalui kerangka kerja P3, Gerakan Literasi Sekolah, dan kegiatan Profil Siswa Pancasila. Hasil ini menyoroti pentingnya memanfaatkan folklore lokal sebagai media yang berakar pada budaya untuk menumbuhkan komitmen nasional, toleransi, non-kekerasan, dan akomodasi budaya di kalangan pelajar muda.Kata kunci: cerita rakyat, literasi budaya, moderasi agama.
Development of Math Fun: An Android-Based learning Media Assisted by iSpring for Elementary Mathematics Rodiah Faturohmah; Inne Marthyane Pratiwi; Yayan Carlian; Dadan F. Ramdhan; Hilman Mangkuwibawa
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.20743

Abstract

AbstractThe limited availability of mathematics learning media and the growing tendency of students to prefer smartphones over textbooks, presents challenges to the elementary learning process. Furthermore, advances in digital technology also offer opportunities to develop more engaging and interactive instructional media. Therefore, this research sought to design and evaluate a learning application, Math Fun, focused on the topic of two-dimensional (2-D) shapes for fourth-grade elementary students, as well as to assess its feasibility and user responses. The research employed a Research and Development (R&D) approach following the ADDIE instructional design model. Data were collected through observation, interviews, validation questionnaires, user response questionnaires, and a post-learning test. Validation results demonstrated a high level of feasibility, with scores of 89.58% from the material expert, 91.67% from the media expert, and 90% from the IT expert, each categorized as feasible. A limited trial involving 22 fourth-grade students from an elementary school in Garut Regency, West Java yielded a student response rate of 91.43% (excellent) and an average post-test score of 77.14, indicating that the learning objectives were successfully achieved. The findings confirm that Math Fun is a feasible and effective Android-based interactive learning medium for teaching 2-D shapes to fourth-grade elementary students.Keywords: android, mathematics learning media, math fun. AbstrakKeterbatasan ketersediaan media pembelajaran matematika dan meningkatnya kecenderungan siswa yang lebih memilih smartphone daripada buku teks, menghadirkan tantangan bagi proses pembelajaran di sekolah dasar. Di samping itu, kemajuan teknologi digital juga menawarkan peluang untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya merancang dan mengevaluasi aplikasi pembelajaran, Math Fun, yang berfokus pada topik bentuk dua dimensi (2-D) untuk siswa sekolah dasar kelas empat, serta menilai kelayakannya dan respons pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) mengikuti model desain instruksional ADDIE. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner validasi, kuesioner respons pengguna, dan tes pasca-pembelajaran. Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan yang tinggi, dengan skor 89,58% dari ahli materi, 91,67% dari ahli media, dan 90% dari ahli TI, yang masing-masing dikategorikan layak. Uji coba terbatas yang melibatkan 22 siswa kelas empat SD di Kabupaten Garut, Jawa Barat menghasilkan tingkat respons siswa sebesar 91,43% (sangat baik) dan skor rata-rata postes sebesar 77,14, yang menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran telah tercapai. Temuan ini menegaskan bahwa Math Fun merupakan media pembelajaran interaktif berbasis Android yang layak dan efektif untuk mengajarkan bangun ruang dua dimensi kepada siswa SD kelas empat.Kata kunci: android, media pembelajaran matematika, math fun. 
Exploration of Mathematical Concepts on Interpretation the Principal of Ukhuwah Islamiyah through Autoethnographic Study Amrul Huda Fathir; Neni Mariana; Naif Mastoor Alsulami
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 12 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.21149

Abstract

AbstractMathematics is a fundamental science that extends beyond the classroom and plays a crucial role in daily life, including within religious contexts, like the principle of Ukhuwah Islamiyah in Islam. Divergent perspectives often overlook this principle, which aims to unite Muslims, thereby impacting children's understanding of diversity. This study explores how mathematical concepts can be interpreted through the lens of Ukhuwah Islamiyah to reinforce both the principle and mathematical thinking. Using a qualitative method with an autoethnographic approach, the researcher (first author) reflects on personal experiences related to Qur'anic and Hadith teachings. Data were collected through narrative writing, narrative inquiry, document analysis, and expert interviews and validated using trustworthiness and authenticity criteria. The findings highlight various mathematical concepts linked to Ukhuwah Islamiyah, such as numbers and operations, geometry (lines and angles), building nets, and the alignment of lines and angles in congregational prayer. These insights provide a basis for integrating Islamic values into elementary mathematics education, fostering meaningful learning experiences. In conclusion, these mathematical elements provide valuable opportunities for classroom instruction, promoting character development, enhancing mathematical reasoning, and reinforcing the principle of Ukhuwah Islamiyah. Keywords: mathematics education, Islamic teachings, ukhuwah islamiyah.AbstrakMatematika adalah ilmu fundamental yang melampaui ruang kelas dan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konteks keagamaan, seperti prinsip Ukhuwah Islamiyah dalam Islam. Perspektif yang berbeda sering mengabaikan prinsip ini, yang bertujuan untuk menyatukan umat Muslim, sehingga memengaruhi pemahaman anak-anak tentang keragaman. Studi ini mengeksplorasi bagaimana konsep matematika dapat diinterpretasikan melalui lensa Ukhuwah Islamiyah untuk memperkuat prinsip dan pemikiran matematis. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan autoetnografi, peneliti (penulis pertama) merefleksikan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadits. Data dikumpulkan melalui penulisan naratif, penyelidikan naratif, analisis dokumen, dan wawancara ahli, serta divalidasi menggunakan kriteria kepercayaan dan keaslian. Temuan menyoroti berbagai konsep matematika yang terkait dengan Ukhuwah Islamiyah, seperti angka dan operasi, geometri (garis dan sudut), membangun jaring, dan penyelarasan garis dan sudut dalam salat berjamaah. Wawasan ini memberikan dasar untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pendidikan matematika dasar, sehingga mendorong pengalaman belajar yang bermakna. Kesimpulannya, unsur-unsur matematika ini memberikan peluang berharga untuk pengajaran di kelas, mendorong pengembangan karakter, meningkatkan penalaran matematika, dan memperkuat prinsip Ukhuwah Islamiyah.Kata kunci: pendidikan matematika, ajaran Islam, ukhuwah islamiyah.

Page 1 of 2 | Total Record : 15