cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 51 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2019)" : 51 Documents clear
KAJIAN PEMETAAN KERENTANAN BANJIR ROB DI KABUPATEN PEKALONGAN Rida Hilyati Sauda; Arief Laila Nugraha; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.406 KB)

Abstract

Kabupaten Pekalongan sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang berada di wilayah pesisir dengan topografi yang landai merupakan kawasan yang sangat rawan terhadap kenaikan air laut. Kondisi ini tentu saja berbeda jika dibandingkan dengan topografi di pantai selatan Jawa yang relatif lebih curam. Beberapa ahli mengatakan bahwa kondisi geografis Kabupaten Pekalongan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap pemanasan global. Tingginya nilai kerentanan itu tidak terlepas dari kondisi geomorfologi Pekalongan yang berupa pantai berpasir dan erosi pantai. Karena kondisi tersebut menyebabkan Kabupaten Pekalongan menjadi salah satu wilayah yang terkena bencana banjir rob. Pada bulan Mei 2018, Kabupaten Pekalongan mengalami banjir rob yang tingginya mencapai 100 cm, sedangkan di jalan-jalan desa terendam banjir rob dengan ketinggian 40 cm. Kerentanan adalah suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana. Acuan yang digunakan dalam penilaian dan pembobotannya adalah Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum pengkajian Risiko. Dalam melakukan analisis kerentanan suatu wilayah, komponen kerentanan dibagi menjadi 4 aspek yaitu kerentanan sosial, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik dan kerentanan lingkungan. Wilayah yang terancam bencana banjir rob didapatkan dari pemodelan genangan banjir rob dengan membandingkan nilai HHWL yang dihasilkan dari perhitungan data pasang surut air laut perairan Tegal pada tahun 2016 selama 1 tahun yaitu sebesar 1,015 meter dengan data ketinggian pesisir Kabupaten Pekalongan yang didapatkan dari data DEM TerraSAR. Hasil dari penelitian ini diperoleh Peta Ancaman Banjir Rob dan Peta Kerentanan Banjir Rob. Pada peta ancaman menunjukkan banyaknya desa di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2018 yang terkena dampak banjir rob ada 10 desa yang berada di 3 kecamatan. Berdasarkan hasil dan analisis kerentanan banjir rob terdapat 3 desa berada di tingkat kerentanan rendah yaitu Desa Depok, Desa Blancanan, dan Desa Semut; dan 7 desa berada di tingkat kerentanan tinggi yaitu Desa Jeruksari, Desa Mulyorejo, Desa Tratebang, Desa Wonokerto Kulon, Desa Api-api, Desa Pecakaran, dan Desa Tegaldowo.
SURVEI DEFORMASI DAERAH JEMBATAN PENGGARON DENGAN METODE GPS TAHUN 2018 Siti Fathimah; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.912 KB)

Abstract

Jembatan Penggaron merupakan salah satu jembatan terpanjang di ruas Jalan Tol Semarang-Solo Seksi I Km.20. Jembatan ini berada pada daerah dengan kondisi tanah yang kurang stabil. Berkaitan dengan kondisi geologi daerah ini maka daerah di sekitar jembatan rawan adanya deformasi. Pengamatan deformasi daerah Jembatan Penggaron perlu dilakukan sebagai bentuk peringatan dini bagi pengelola jembatan. Hasil pengamatan dapat dijadikan bahan evaluasi dalam pemeliharaan dan perawatan jembatan sehingga potensi kerusakan jembatan dapat dikurangi. Pengamatan deformasi pada penelitian tugas akhir ini menggunakan metode pengamatan GPS statik selama tiga periode pengukuran yaitu Maret, Mei dan Juni 2018. Penelitian ini juga menggunakan data hasil pengamatan pada tahun 2015 dan 2016. Semua data kemudian diolah dengan menggunakan software scientific GAMIT 10.7 dengan menggunakan titik ikat global (IGS). Hasil pengolahan data ini akan diketahui besarnya nilai pergerakan titik-titik pengamatan yang berada di sekitar Jembatan Penggaron. Nilai perubahan koordinat kartesian tiga dimensi terbesar pada bulan Juli 2015 sampai dengan Juni 2018 adalah sebagai berikut n: -0,02471 m, e: 0,10821 m dan u: 0,05623 m. Nilai perubahan koordinat terkecil pada bulan Juli 2015 sampai dengan Juni 2018 adalah sebagai berikut n: 0,00123 m, e: -0,00119 m dan u: -0,00088 m. Hasil uji statistik yang dilakukan setelah menghilangkan pengaruh Blok Sunda menyatakan bahwa titik-titik pengamatan di sekitar Jembatan Penggaron tidak mengalami deformasi.
ANALISIS TINGGI TANAMAN PADI MENGGUNAKAN MODEL 3D HASIL PEMOTRETAN UAV DENGAN PENGUKURAN LAPANGAN Kurniawan Putra Widya Wardana; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.635 KB)

Abstract

Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan. Khususnya di Indonesia beras merupakan salah satu makanan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Akan tetapi produksi beras di Indonesia sendiri masih belum bisa mencukupi kebutuhan akan warga negara. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi beras di Indonesia salah satunya adalah peralihan lahan sawah menjadi sektor industri dan perumahan. Khususnya di semarang peralihan lahan sawah terjadi begitu cepat karena meningkatnya kebutuhan lahan untuk hidup dan industri. Monitoring dan pengkajian akan lahan sawah perlu dilakukan agar mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk meningkatkan produksi beras. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan kombinasi pengamatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Global Positioning System (GPS) dan data ketinggian padi di lapangan menggunakan meteran. Hal ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan atau selisih tinggi tanaman padi dengan menggunakan Digital Elevation Model (DEM) yang memiliki tinggi reduksi dari ketinggian geodetik ke tinggi orthometrik. Pembentukan data DEM tersebut didapat dari data foto udara yang diolah menggunakan prinsip fotogrametri, yang kemudian dikonversi kedalam bentuk pointclouds dan kemudian menjadi data DEM yang memiliki tinggi berdasarkan EGM 2008. Hasil dari pengolahan data dilakukan validasi menggunakan metode meteran untuk mengetahui selisih tinggi tanaman yang sebenarnya.. Hasil dari penelitian ini menunjukan perbedaan tinggi rata-rata tanaman padi sebesar 0.099 m dengan tinggi kenyataan. Hasil DEM tersebut dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 3. Namun untuk visualisasi dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 2, karena bentuk 3D bangunan besar dan kecil sudah dapat dibedakan, serta vegetasi sudah padat dipetakan.
ANALISIS DAERAH RAWAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN MAGELANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DENGAN METODE STANDAR NASIONAL INDONESIA DAN ANALYTHICAL HIERARCHY PROCESS Jauhari Pangaribuan; L M Sabri; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1027.588 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara rawan terhadap bencana alam, salah satu daerah yang mengalami kejadian bencana tersebut yaitu wilayah Kabupaten Magelang. Pada penelitian analisis daerah rawan bencana tanah logsor menggunakan empat parameter yaitu parameter kelerengan, parameter curah hujan, parameter penggunaan lahan dan struktur geologi dengan menggunakan software arcGIS. Hasil dari tiap parameter kemudian diberikan skor dan bobot dengan dua metode yaitu Standar Nasional Indonesia dan Analythical Hierarchy Process kemudian dilakukan proses overlay dari tiap pembobotan parameter untuk mendapatkan peta daerah rawan bencana tanah longsor. Nilai klasifikasi daerah rawan longsor dibagi dengan equal interval kedalam empat kelas yang didapatkan diantaranya metode SNI klasifikasi ancaman bencana tanah longsor sangat rendah dengan rentang (10-15) dengan luas 20240,32 Ha (18,05%), klasifikasi ancaman bencana tanah longsor rendah (16-21) dengan luas 51504,04 Ha (45,94%), klasifikasi ancaman bencana tanah longsor sedang (22-27) dengan luas 34488,68 Ha (30,76%) dan klasifikasi ancaman bencana tanah longsor tinggi (28-33) dengan luas 5892,408 Ha (5,25%). Sedangkan metode AHP dengan klasifikasi ancaman bencana tanah longsor sangat rendah (7,80-18,26) dengan luas 40302,72 Ha (35,95%), klasifikasi dengan ancaman bencana tanah longsor rendah (18,26-28,71) dengan luas 44448,2 Ha (39,65%), klasifikasi dengan ancaman bencana tanah longsor sedang (28,71-39,17) dengan luas 19729,06 Ha (17,59%) dan untuk kelas ancaman bencana tanah longsor tinggi (39,17-49,63) dengan luas 7645,47 Ha (6,81%). Dengan tingkat akurasi dari validasi parameter menggunakan data curah hujan metode thiessen polygon dengan parameter kelerengan menggunakan DEM TerraSAR-X dengan pembobotan AHP dengan akurasi 81,81%  sedangkan validasi peta dari parameter menggunakan data curah hujan metode thiessen polygon dengan parameter kelerengan menggunakan DEM TerraSAR-X dengan pembobotan Standar Nasional Indonesia dengan tingkat akurasi 83,64%. Oleh karena itu penggunaan sistem informasi geografis dapat digunakan lebih efisien untuk menentukan daerah rawan bencana longsor dengan cepat dan tepat.
ANALISIS DESAIN JARING GNSS BERDASARKAN FUNGSI KEHANDALAN INTERNAL DAN KEHANDALAN EKSTERNAL (STUDI KASUS : TITIK GEOID GEOMETRI KOTA SEMARANG) Kurniawan Adi Widiyanto; L M Sabri; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.518 KB)

Abstract

Pekerjaan pengukuran tidak lepas dari tahap pembuatan desain jaring pemetaan. Desain jaring dirancang sedemikian rupa agar dapat mencakup semua wilayah pengamatan dengan pemilihan penempatan titik yang dipertimbangkan dengan baik. Oleh karena itu, optimalisasi jaring kontrol pemetaan perlu dilakukan pada tahap perancangan jaring kontrol. Optimalisasi jaring perlu memperhatikan tiga aspek, yaitu biaya, kehandalan dan keakurasian. Dalam penelitian ini metodologi yang digunakan adalah pengukuran GNSS metode rapid static. Pengukuran menggunakan base station titik GRAV11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Titik penelitian yang digunakan yaitu 20 titik geoid geometri di Kota Semarang.. Penelitian ini dilakukan dengan membuat 5 desain jaring GNSS yang optimum ditinjau dari geometri jaring berdasarkan kriteria kehandalan (redudansi individu, kehandalan luar, dan kehandalan dalam). Desain jaring yang paling optimal berdasarkan analisis fungsi kehandalan dan standar deviasi adalah desain jaring nomor 1 dengan jumlah baseline 51. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi kehandalan dengan nilai kehandalan luar paling kecil yaitu sebanyak 4,1099, nilai kehandalan dalam paling kecil yaitu sebanyak 0,1209 dan nilai redudansi individu paling maksimal yaitu 0,7777. Ini menunjukkan bahwa desain jaring nomor 1 memiliki sensitivitas tinggi terhadap kesalahan acak dan kesalahan kasar. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai standar deviasi paling kecil sebesar 0,0163 dibanding dengan desain lainnya, hal ini menunjukan desain jaring 1 merupakan desain jaring paling presisi.
VISUALISASI PETA WISATA DAN FASILITAS PENUNJANG DI KABUPATEN TEMANGGUNG MENGGUNAKAN APLIKASI CARRYMAP DAN ARCGIS ONLINE (STUDI KASUS : POSONG, PIKATAN WATER PARK, TAMAN KARTINI KOWANGAN) Nurrahmawati Nurrahmawati; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.409 KB)

Abstract

Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensi dan prioritas pengembangan bagi sejumlah negara. Terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya tarik wisata yang cukup besar. Bagi wisatawan yang akan berkunjung ke tempat wisata tersebut sangat membutuhkan informasi tempat wisata beserta sarana penunjangnya. Informasi yang kredibel mengenai gambaran lokasi wisata sangat dibutuhkan oleh wisatawan untuk merencanakan perjalanan dari tempat tinggal ke tempat tujuan, selama berada di lokasi wisata hingga pulang kembali ke tempat tinggal. Kabupaten Temanggung merupakan salah satu kabupaten di Jawa tengah yang terkenal akan keindahan alamnya, banyak tempat wisata bernuansa alam di sana. Salah satu tempat wisata bernuansa alam yang terkenal yaitu Posong, selain itu ada juga kolam renang yang memiliki sumber air dari gunung yaitu Pikatan Water Park dan Taman Kartini Kowangan. Hingga saat ini pelayanan informasi yang berkaitan dengan pariwisata di Kabupaten Temanggung masih bersifat konvensional. Berkenaan dengan hal itu dibuatlah penelitian tugas akhir ini yang bertujuan untuk membuat aplikasi peta wisata dan persebaran fasilitas penunjang menggunakan aplikasi CarryMap dan ArcGIS Online sedangkan untuk penyebarluasan aplikasi ini dibuat sebuah website dengan alamat website www.wisatakabtemanggung.wixsite.com/basemap-carrymap. Hasil aplikasi yang dibuat menggunakan aplikasi CarryMap maupun ArcGIS Online dapat dijalankan pada platform desktop pc dan smartphone. Ketelitian posisi dari aplikasi adalah 7,230 meter. Uji usability didasarkan dari hasil penyebaran kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Hasil uji usability tersebut antara lain komponen efektifitas dengan prosentase 84,67%, komponen efisiensi dengan prosentase 83,33%, dan komponen kepuasan dengan prosentase 78,33%. Peta pelayanan informasi wisata yang dapat diakses dengan smartphone diharapkan dapat mempermudah wisatawan dalam memperoleh berbagai informasi pariwisata serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar objek wisata.
KAJIAN PENGARUH PENAJAMAN CITRA UNTUK PENGHITUNGAN JUMLAH POHON KELAPA SAWIT SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN FOTO UDARA (Studi Kasus : KHG Bentayan Sumatra Selatan) Devi Irsanti; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.322 KB)

Abstract

      Teknologi foto udara dapat digunakan pada proses pemetaan dalam bidang perkebunan dan pertanian termasuk komoditas kelapa sawit. Komoditas kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa nonmigas terbesar bagi negara. Kelapa sawit mengalami perkembangan yang cukup pesat hampir setiap tahunnya sehingga  diperlukan strategi monitoring lahan yang efektif dan efisien. Salah satu data yang dapat digunakan untuk monitoring adalah foto udara. Monitoring kelapa sawit dapat dilakukan dengan menerapkan metode template matching dalam proses penghitungan pohon kelapa sawit secara otomatis. Metode ini dapat menghasilkan output berupa jumlah pohon kelapa sawit yang akurat dengan waktu yang cepat. Penelitian ini digunakan data foto udara yang memiliki kualitas spasial tinggi serta dilakukan teknik penajaman citra untuk memperbaiki visual dari data orthophoto sehingga deteksi objek dapat lebih mudah dilakukan. Penelitian ini menerapkan algoritma template matching pada luasan area 100m x 100m, 200m x 200m, dan 250m x 250m sebagai proses pengujian awal, kemudian luasan 1 blok kebun kelapa sawit untuk penelitian keseluruhan. Hasil penghitungan otomatis jumlah pohon kelapa sawit pada data foto dengan teknik HSV diperoleh presentase sebesar 82,4% untuk luasan 1 blok, 88% untuk luasan 250m x 250m, 91,4% untuk luasan 200m x 200m dan 89,8% untuk luasan 100m x 100m. Hasil penghitungan otomatis jumlah pohon kelapa sawit pada data foto original diperoleh presentase sebesar 79,1% untuk luasan 1 blok, 83,2% untuk luasan 250m x 250m, 94,2% untuk luasan 200m x 200m dan 84,4% untuk luasan 100m x 100m.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN DAN KOTA PEKALONGAN Oki Samuel Damanik; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.988 KB)

Abstract

Memasuki era otonomi daerah pasal 18 Undang-Undang No.32 tahun 2004 yang diperbarui dengan Undang-Undang No.23 Tahun 2014 pasal 27, menyatakan bahwa daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya alam pada sekitar wilayah lautnya. Penentuan dan penegasan wilayah laut diatur berdasarkan dengan Permendagri No.76 Tahun 2012. Garis pantai menjadi faktor utama dalam penarikan batas pengelolaan. Tetapi keadaan garis pantai yang fluktuasi dapat berubah-ubah mengikuti kondisi alam seperti dinamika pasangsurut, abrasi dan akresi. Oleh sebab itu, diperlukan adanya penelitian mengenai pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan batas pengelolaan wilayah laut Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan dengan menggunakan metode kartometrik di atas peta LPI dan citra Landsat yang diamati secara time series. Citra yang digunakan menerapkan rumus BILKO dan AGSO dalam mempermudah interpretasi garis pantai. Penarikan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan dengan prinsip equidistance ( sama jarak) untuk daerah berdampingan. Dari hasil pengamatan citra Landsat tahun 2008 sampai 2018, terjadi perubahan garis pantai di wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan dikarenakan adanya abrasi dan akresi. Perubahan garis pantai mempengaruh pada garis batas pengelolaan wilayah laut dan luas pengelolaan wilayah laut. Hal ini diperkuat dengan sampel luasan pada penerepan rumus AGSO kurun waktu tahun 2008 dan 2018  di Kabupaten Pekalongan bertambah 1.714,581 Ha, sedangkan untuk Kota Pekalongan berkurang 272,033 Ha.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN KERAPATAN HUTAN DENGAN METODE FOREST CANOPY DENSITY MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2013, 2015 DAN 2018 (STUDI KASUS : TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU, JAWA TENGAH) Welman Manuel Sitorus; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.539 KB)

Abstract

Hutan adalah suatu tempat yang mempunyai berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan yang lebat diantaranya adalah pohon, rumput, semak, jamur, paku-pakuan dan sebagainya yang menempati daerah sangat luas. Hutan memiliki fungsi sebagai paru-paru dunia dan sistem penyangga kehidupan sehingga kelestariannya harus dijaga dan dipertahankan dengan pembangunan hutan yang tepat. Kawasan hutan yang terdapat pada Taman Nasional Gunung Merbabu memiliki luas 5.820,49 Ha sehingga perlunya pemantauan terhadap kondisi hutan. Pemantauan kondisi hutan dapat menggunakan pengindraan jauh. Penelitian ini menggunakan teknologi pengindraan jauh dikarenakan memberikan solusi untuk pemantauan hutan dalam skala luas. Metode yang digunakan adalah metode Forest Canopy Density (FCD). Metode FCD merupakan metode yang cukup baik untuk memantau perubahan kerapatan hutan dikarenakan menggunakan 4 indeks yang berkaitan dengan indeks tutupan vegetasi hutan yaitu Advanced Vegetation Index (AVI), Bare Soil Index (BI), Shadow Index (SI) dan Thermal Index (TI). Metode FCD memberikan hasil akurasi yang baik dalam pemantauan kerapatan hutan sehingga dapat dimanfaatkan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan data citra satelit Landsat 8 dengan daerah Taman Nasional Gunung Merbabu sebagai studi kasusnya. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan kerapatan hutan pada tahun 2013, 2015 dan 2018. Pada tahun 2013 hingga  tahun 2015 kerapatan rendah mengalami penurunan sebesar 251,09 Ha, kerapatan sedang mengalami penurunan sebesar 801,5 Ha dan kerapatan tinggi mengalami peningkatan sebesar 1.089,72 Ha. Pada tahun 2015 hingga tahun 2018 kerapatan rendah mengalami penurunan sebesar 43,2 Ha, kerapatan sedang mengalami penurunan sebesar 237,51 Ha dan kerapatan tinggi mengalami peningkatan sebesar 280,71 Ha.
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KABUPATEN CIANJUR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Adri Panjaitan; Bambang Sudarsono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.915 KB)

Abstract

Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana, sehingga membuat terjadinya perubahan penggunahan lahan dan akan berpengaruh pada pola ruang. Perubahan penggunaan lahan menyebabkan terjadinya masalah dalam penataan ruangnya, dimana perubahan yang ada belum sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah ditetapkan. Akibat adanya perubahan lahan ini perlu dilakukan pemetaan, dimana proses yang dilakukan yaitu membuat peta penggunaan lahan pada wilayah penelitian  tahun 2011 dan 2017 dengan melakukan digitasi on-screen berdasarkan  interpretasi citra satelit IKONOS dan SPOT 7 yang hasilnya akan dianalisis perubahan dan kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana dengan keadaan yang ada di lapangan sehingga mempermudah dalam melakukan pengawasan dan membuat kebijakan terkait penataan ruang. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan lahan tahun 2011 dan 2017 didapatkan hasil berupa peningkatan dan penurunan luas penggunaan lahan. Luas lahan yang bertambah yaitu hutan konservasi sebesar 14,332 ha (0,04%), hutan produksi sebesar 840,813 ha (2,1%), permukiman pedesaan sebesar 605,858 ha (1,51%), permukiman perkotaan sebesar 172,969 ha  (0,43%) dan  industri sebesar 7,592 ha (0,02%), sedangkan luas lahan yang berkurang yaitu perairan sebesar 4,376 ha (0,01%), perkebunan/tanaman tahunan sebesar 14,582 ha (0,04%), pertanian lahan kering sebesar 1.394,808 ha (3,38%), pertanian lahan basah sebesar 200,4 ha (0,50%) dan sempadan sungai dan danau sebesar 27,399 ha (0,07%). Kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Cianjur Tahun 2011-2031 pada tahun 2011 sebesar 18.886,975 ha atau 47,072 % sedangkan pada tahun 2017 sebesar 19.183,538 ha atau 47,81 % dari total luas wilayah penelitian, sehingga kesesuaian Penggunaan lahan wilayah penelitian mengalami peningkatan dalam rentang waktu 6 tahun sebesar 296,563 ha atau 0,739 %.

Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue