cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 51 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2019)" : 51 Documents clear
ANALISIS DESAIN JARING GNSS BERDASARKAN FUNGSI PRESISI (STUDI KASUS : TITIK GEOID GEOMETRI KOTA SEMARANG) Reza Nur Hidayat; L M Sabri; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.682 KB)

Abstract

Salah satu tahapan untuk mendapatkan jaring GNSS yang optimal adalah melakukan desain jaring.  Terdapat empat tahapan dalam desain jaring GNSS yaitu Zero Order Design, First Order Design, Second Order Design, dan Third Order Design.  First Order Design merupakan desain jaring untuk mendapatkan bentuk geometri jaring GPS yang optimal. Pada First Order Design terdapat 2 kriteria untuk menentukan tingkat optimal jaring yaitu presisi dan kehandalan, penelitian ini berfokus pada analisis desain jaring dari fungsi presisi. Penelitian ini menggunakan pengukuran GNSS metode rapid static yang dilakukan pada 20 titik geoid dan geometri di Kota Semarang. Titik control yang digunakan dalam pengukuran ini adalah titik GRAV 11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Penelitian ini dilakukan dengan mendesain lima buah jaring pengukuran GNSS untuk kemudian dihitung tingkat presisi jaring dari nilai simpangan baku dan fungsi presisinya. Desain jaring yang optimum dari segi presisi dilihat dari nilai kriteria yang dimiliki dimana jaring dikatakan lebih optimum dari segi presisi jika nilai simpangan baku dan fungsi presisinya semakin kecil. Desain jaring yang paling presisi berdasarkan analisis fungsi presisi dan standar deviasi adalah desain jaring nomor 1 dengan jumlah baseline 60. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi tujuan akurasi A-optimality paling kecil 17,6095 yang menggunakan baseline paling banyak dan desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi tujuan akurasi E-optimality 4,6567, ini menunjukkan bahwa desain jaring nomor 1 memiliki jaring yang paling isotropik. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai standar deviasi paling kecil sebesar 0,03845m dibanding dengan desain lainnya, hal ini menunjukan desain jaring 1 merupakan desain jaring paling presisi.
STUDI PERBANDINGAN METODE ARVI, EVI 2 DAN NDVI UNTUK PENENTUAN KERAPATAN TAJUK DALAM IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN BOYOLALI (Studi Kasus: Kecamatan Ampel, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Selo dan Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali) Alfi Dian Ranu Wijaya; Hani’ah Hani’ah; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.67 KB)

Abstract

Pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya dan peruntukan penggunaan lahan menjadikan lahan yang ada menjadi lahan kritis. Beberapa lahan kritis di Kabupaten Boyolali terletak di kawasan lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang wilayahnya cukup luas dan memiliki topografi yang beragam. Lahan kritis ditentukan dengan Peraturan Direktur Jendral Bina Pengelolaan Daerah Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor : P.4/V-SET/2013 tentang petunjuk teknis penyusunan data spasial lahan kritis. Pada peraturan tersebut terdapat 5 parameter yang menjadi acuan dalam penentuan lahan kritis dan penutupan lahan menjadi indikator terpenting dalam penentuan lahan kritis. Pemetaan penutupan lahan dapat menggunakan metode ARVI, EVI 2 dan NDVI. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan indeks vegetasi terbaik antara metode ARVI, EVI 2 dan NDVI. Indeks vegetasi terbaik diperoleh dari perbandingan hasil pengolahan citra Sentinel-2A dengan hasil validasi lapangan menggunakan 72 titik yang tersebar diseluruh wilayah penelitian. Indeks vegetasi terbaik digunakan lebih lanjut dalam penentuan lahan kritis dengan metode scoring dan pembobotan sesuai dengan Peraturan Direktur Jendral Bina Pengelolaan Daerah Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor : P.4/V-SET/2013. ARVI hanya menyajikan 4 kelas kerapatan tajuk yaitu tanpa kelas sangat rapat dengan didominasi kelas kerapatan buruk (77,27%). NDVI didominasi kelas kerapatan sangat rapat (59,92%). EVI 2 didominasi kelas kerapatan sedang (48,37%). NDVI menjadi metode terbaik dengan tingkat kesesuaian mencapai 59,92%, diikuti oleh EVI 2 sebesar 27,77% dan ARVI 13,8%. Hasil lahan kritis per fungsi kawasan didapatkan hasil bahwa kawasan hutan lindung didominasi oleh kelas potensial kritis dengan luas total 2447,19 ha. Lahan kritis di kawaasan budidaya pertanian didominasi kelas agak kritis dengan 9.367,80 ha. Lahan kritis di kawasan lindung diluar kawasan hutan didominasi kelas agak kritis dengan luas 13,9 ha.
ANALISIS KONFIGURASI OPTIMUM KERANGKA GCP UNTUK SURVEI PEMETAAN LUASAN BESAR MENGGUNAKAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) Fajriah Lita Pamungkasari; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.83 KB)

Abstract

Teknik fotogrametri yang sedang berkembang sekarang ini menjadikan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sebagai salah satu platform yang semakin populer untuk pekerjaan pemetaan karena kelebihannya dalam kemampuan akuisisi foto udara dengan resolusi spasial yang tinggi. Penggunaan Ground Control Point (GCP) tidak lepas dari pekerjaan fotogrametri agar produk foto udara memiliki akurasi tingkat survei. Untuk itu spesifikasi yang jelas mengenai konfigurasi GCP masih perlu diteliti untuk mendapatkan solusi yang efisien untuk meminimalisir waktu, biaya dan tenaga yang digunakan. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan GCP yang optimal untuk survei pemetaan luasan besar. Digunakan 4 set data survei udara luasan besar dengan bentuk area meluas dan memanjang hasil akuisisi dari UAV. Ortorektifikasi foto udara dilakukan dengan konfigurasi GCP berdasarkan variasi jarak dan geometri jaringan. Pengolahan dilakukan hingga didapatkan nilai ketelitian dari laporan proses rektifikasi. Selanjutnya, ketelitian planimetrik dideskripsikan dalam akurasi relatif dan absolut. Analisis hasil variasi jarak dan geometri jaringan dilakukan dengan akurasi relatif sedangkan akurasi absolut digunakan untuk analisis skala untuk mengetahui konfigurasi yang optimal. Hasil dari uji akurasi berdasarkan 11 variasi jarak antar GCP menunjukkan bahwa semakin jauh interval GCP menghasilkan ketelitian yang semakin buruk, dengan perbedaan nilai ketelitian yang tidak signifikan dari jarak 0,86 km sampai 2,84 km, hingga terjadi peningkatan signifikan pada model dengan jarak 3,52 km sampai 7,69 km. Sedangkan, hasil dari uji akurasi berdasarkan geometri jaringan menghasilkan ketelitian yang beragam pada 27 model untuk masing-masing jenis geometri. Pembandingan dilakukan antar model dengan geometri yang berbeda maupun antar geometri yang sama serta pada geometri dengan dan tanpa titik pusat. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penggunaan konfigurasi GCP yang optimal untuk pekerjaan pemetaan luasan besar menggunakan UAV.
OPTIMALISASI PEMBUATAN PETA KONTUR SKALA BESAR MENGGUNAKAN KOMBINASI DATA PENGUKURAN TERESTRIS DAN FOTO UDARA FORMAT KECIL Iqbal Yukha Nur Afani; Bambang Darmo Yuwono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.525 KB)

Abstract

Peta topografi menampilkan gambaran permukaan bumi yang dapat diidentifikasi, berupa obyek alami maupun buatan. Peta topografi menyajikan obyek-obyek dipermukaan bumi dengan ketinggian yang dihitung dari permukaan air laut dan digambarkan dalam bentuk garis-garis kontur, dengan setiap satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Pembentukan garis kontur menggunakan data dari pemetaan terestris memiliki akurasi yang tinggi tetapi pengukuran terestris memiliki beberapa kelemahan diantaranya membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang besar karena semakin luas area yang dipetakan semakin banyak pula titik yang harus diukur. Apabila titik yang diambil tidak terlalu rapat dan peta yang ingin dihasilkan merupakan peta skala besar, maka akan sangat memungkinkan terdapat kesalahan interpolasi pada pembuatan garis kontur. Salah satu solusi untuk memperoleh data ketinggian adalah dengan menggunakan data foto udara yang dihasilkan dari pemetaan menggunakan Unmanned Aeral Vehicle (UAV). Data foto udara akan menghasilkan data Digital Surface Model (DSM) yang kemudian dilakukan filterisasi untuk membentuk Digital Terrain Model (DTM). Data DTM tersebut digunakan untuk mengekstrak spotheight untuk mengoptimalisasi kerapatan titik ukur yang kurang. Penelitian tugas akhir ini memanfaatkan data pemotretan UAV yang telah dilakukan di wilayah pertambangan kapur yang berlokasi di Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur dan pemetaan dengan menggunakan Total Station serta pengukuran GPS terhadap titik – titik kontrol tanah dan titik Benchmark yang kemudian diikatkan dengan titik CORS milik BIG supaya menghasilkan ketelitian titik kontrol yang lebih tinggi.  Peningkatan ketelitian peta topografi ditandai dengan menurunnya nilai root mean square error (RMSE). Terjadi penurunan nilai RMSE pada ketiga kelas yang diuji, yaitu kelas ground, kelas vegetasi dan kelas area tambang. Penurunan nilai RMSE pada kelas ground  sebesar 0,405 meter, pada kelas vegetasi sebesar 0,809 meter dan pada kelas area tambang sebesar 1,704 meter.
ANALISIS KERAWANAN BANJIR PADA KAWASAN TERBANGUN BERDASARKAN KLASIFIKASI INDEKS EBBI (ENHANCED BUILT-UP AND BARENESS INDEX) MENGGUNAKAN SIG (Studi Kasus di Kabupaten Demak) David Beta Putra; Andri Suprayogi; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.11 KB)

Abstract

Kabupaten Demak merupakan salah satu daerah yang sering mengalami banjir. Hal ini terjadi karena topografi Demak yang lebih rendah dari daerah di sekitarnya sehingga sering mendapatkan banjir kiriman akibat luapan sungai ataupun karena intensitas hujan yang tinggi. Data BPBD Kabupaten Demak tahun 2017-2018 mencatat terdapat 30 kejadian banjir terjadi di wilayah Demak dalam waktu 1,5 tahun. Salah satu dampak kerugian dari banjir tersebut adalah kawasan terbangun yang dapat terendam banjir sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui luasan kawasan terbangun yang rawan banjir. Metode yang digunakan yaitu metode EBBI dan SIG. Metode Enhanced Built-Up and Bareness Index (EBBI) digunakan untuk mendapatkan hasil kawasan terbangun sedangkan metode SIG digunakan untuk mendapatkan hasil kerawanan banjir. Adapun parameter penentuan kerawanan banjir terdiri dari enam parameter yaitu kelerengan, jenis tanah, curah hujan, tata guna lahan, kerapatan sungai, dan jarak dari sungai. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta kawasan terbangun rawan banjir di Kabupaten Demak. Tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Demak dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kerawanan banjir rendah sebesar 5,10%, kerawanan banjir sedang sebesar 32,37%, dan kerawanan banjir tinggi sebesar 62,64%. Adapun jumlah luasan kawasan terbangun yang masuk kedalam kelas kerawanan rendah sebesar 628,113 ha, masuk kedalam kelas kerawann sedang sebesar 5.108,351 ha dan masuk kedalam kelas kerawanan tinggi sebesar 9.158,762 ha. Validasi dilakukan dengan cara melihat kesesuaian pengolahan kerawanan banjir dengan data banjir BPBD serta dengan validasi lapangan. Kesesuaian pengolahan kerawanan banjir dengan data banjir BPBD sebesar 71,42%. Adapun kesesuaian hasil validasi kawasan terbangun dengan hasil pengolahan sebesar 85,71% sedangkan kesesuaian hasil validasi kawasan terbangun rawan banjir dengan hasil pengolahan sebesar 72,86%.
ANALISIS REKOMENDASI DAERAH PLTP (PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI) MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Risa Bruri Utami; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.7 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak potensi panas bumi yang nantinya dapat digunakan dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik. Keluarnya manifestasi panas bumi menjadi salah satu indikator adanya potensi panas bumi. Langkah awal sebagai kegiatan ekplorasi potensi panas bumi yaitu dengan melakukan kajian karakteristik daerah potensi panas bumi. Pada penelitian ini, identifikasi daerah potensi panas bumi dilakukan dengan menggunakan penginderaan jauh dan memanfaatkan data citra landsat 8. Citra landsat 8 dapat digunakan untuk mengetahui nilai kerapatan vegetasi, suhu permukaan, dan delineasi kelurusan. Penentuan area potensial panas bumi dalam penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis dengan melakukan pembobotan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP). Parameter yang digunakan berupa hasil Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Land Surface Temperature (LST), dan delineasi kelurusan sedangkan penentuan lokasi PLTP menggunakan analisis intersect dan skala yang digunakan yaitu skala 1:100.000.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan area potensi panas bumi menggunakan metode AHP menghasilkan luasan untuk area tidak berpotensi sebesar 3.761,299 Ha, area kurang berpotensi sebesar 4.608,671 Ha dan area sangat berpotensi sebesar 2.427,309 Ha, sedangkan uji signifikansi yang diperoleh dari metode ini yaitu sebesar 0,925. Hasil rekomendasi lokasi pembangunan PLTP pada kawasan Dieng yaitu sebanyak 9 lokasi dengan luasan maksimal sebesar 16,27795 Ha pada zona 3 dan luasan paling kecil sebesar 0,732819 Ha pada zona 1. Berdasarkan penelitian ini, zona yang paling direkomendasikan yaitu zona 3 karena pada zona tersebut terdapat 4 sumber mata air panas yang mempunyai potensi panas bumi yang besar yaitu wilayah manifestasi Kawah Sileri, Pagerkandang, Sipandu dan Siglagah.
ANALISIS PENGARUH MULTIPATH DARI TOPOGRAFI TERHADAP PRESISI PENGUKURAN GNSS DENGAN METODE STATIK Indira Nori Kurniawan; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.515 KB)

Abstract

Topografi dengan kondisi curam pasti memiliki tebing di sekitar daerah tersebut. Faktor topografi yang memiliki karakter daerah bertebing memungkinkan akan muncul adanya gangguan multipath yang akan mempengaruhi kualitas dan ketelitian data hasil pengukuran topografi menggunakan GNSS. Pengukuran GNSS pada sekitar daerah bertebing rentan dengan adanya efek multipath yang ada dalam data hasil pengukuran. Multipath sendiri merupakan fenomena dimana sinyal dari satelit tiba di antena GNSS melalui dua atau lebih lintasan yang berbeda, tentunya faktor ini akan mengurangi keakuratan dari hasil pengukuran. Teknologi receiver GNSS milik Topcon memiliki pengaturan alat anti multipath dan mengasumsikan dapat mengurangi efek multipath yang ada. Penelitian ini melakukan analisis pengaruh multipath dari topografi terhadap presisi pengukuran GNSS sesi 1 menggunakan pengaturan alat menyalakan anti multipath serta pengukuran GNSS sesi 2 mematikan anti multipath metode statik dengan base station CORS UDIP. Tingkat presisi posisi horizontal (X,Y) dari pengukuran topografi dengan survei GNSS metode statik pada daerah sekitarnya bertebing yang diikatkan pada stasiun CORS UDIP pada titik observasi dan titik simulasi pengukuran sesi 1 dan pengukuran sesi 2 dengan pengamatan 1 jam. Presisi horizontal pada pengukuran sesi 1 pengamatan 1 jam diperoleh nilai rata-rata 0,00146 m sedangkan presisi horizontal pada pengukuran sesi 2 pengamatan 1 jam diperoleh nilai rata-rata 0,00172 m. Presisi horizontal pada pengukuran sesi 1 pengamatan 1 jam titik simulasi diperoleh nilai rata-rata 0,00357 m sedangkan presisi horizontal pada pengukuran sesi 2 pengamatan 1 jam titik simulasi diperoleh nilai rata-rata 0,00444 m. Data diatas dilakukan pengujian statistik data dengan uji Fisher untuk mengetahui tingkat presisi diantara pengukuran sesi 1 dan sesi 2,  karena uji Fisher diterima maka dapat disimpulkan tidak dapat perbedaan presisi horizontal yang signifikan antara pengukuran sesi 1 dan pengukuran sesi 2 baik titik observasi ataupun titik simulasi.
ANALISIS PERBANDINGAN METODE NORMALIZED DIFFERENCE DROUGHT INDEX (NDDI) DAN THERMAL VEGETATION INDEX (TVX) DALAM MENENTUKAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) Veri Pramesto; Abdi Sukmono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.841 KB)

Abstract

Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Pada bulan Agustus 2018, di Kabupaten Kendal telah terjadi kekeringan yang menyebabkan lahan pertanian di Kabupaten Kendal terancam gagal panen dan mengakibatkan kerugian materi bagi kalangan petani. Ancaman kekeringan akibat pengaruh iklim memang tidak dapat dihindari, tetapi hal tersebut dapat diminimalkan dampaknya jika pola kekeringan di suatu daerah dapat diketahui. Adapun cara yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan aplikasi penginderaan jauh yaitu melalui pengolahan dan analisis menggunakan algoritma Normalized Difference Drought Index (NDDI) dan Thermal Vegetation Index (TVX) dari citra Landsat 8 tahun 2018. Berdasarkan hasil pengolahan metode NDDI, kekeringan lahan sawah di Kabupaten Kendal pada bulan Agustus tahun 2018 terparah terjadi di Kecamatan Kaliwungu Selatan. Luas kekeringan lahan sawah kelas ringan terparah terjadi di Kecamatan Kaliwungu Selatan 2158,098 ha, kekeringan kelas sedang di Kecamatan Kaliwungu Selatan 573,692 ha, kekeringan kelas berat di Kecamatan Singorojo 465,187 ha dan kekeringan kelas sangat berat di Kecamatan Singorojo sebesar 13,745 ha. Dan berdasarkan hasil pengolahan metode TVX, kekeringan lahan sawah yang terjadi di Kabupaten Kendal pada 25 Agustus tahun 2018 terparah terjadi di Kecamatan Patean. Luas kekeringan lahan sawah kelas ringan terparah terjadi di Kecamatan Kaliwungu Selatan 1202,26 ha, kekeringan kelas sedang di Kecamatan Kaliwungu Selatan 498,92 ha, kekeringan kelas berat di Kecamatan Gemuh 322,42 ha dan kekeringan kelas sangat berat di Kecamatan Patean sebesar 988,60 ha. Berdasarkan hasil verifikasi diperoleh tingkat akurasi metode NDDI sebesar 37,14% dan TVX sebesar 71,43%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode TVX lebih akurat daripada NDDI dalam mengidentifikasi kekeringan lahan sawah di Kabupaten Kendal tahun 2018.
PEMBUATAN APLIKASI PETA RUTE BUS RAPID TRANSIT (BRT) KOTA SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS MENGGUNAKAN SMARTPHONE ANDROID Wildan Ryan Irfana; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.15 KB)

Abstract

Kota-kota besar di Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan kendaraan pribadi yang sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan padatnya arus lalu lintas di dalam kota maupun di luar kota. Pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan yang merupakan dinas terkait dalam bidang transportasi berupaya untuk mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas dengan memberikan fasilitas umum berupa Bus Trans, dengan harapan masyarakat dapat mengurangi penggunaan dari kendaraan pribadi dan beralih kepada kendaraan umum ini. Penelitian ini dilakukan untuk membuat sebuah aplikasi Peta Rute BRT Trans Semarang yang berbasis smartphone android yang dibangun menggunakan software Android Studio yang terintegrasi dengan Google Maps untuk memudahkan dalam penyajian petanya. Basis data yang digunakan pada penelitian ini dibuat menggunakan MySQL PhpMyAdmin pada localhost yang dapat diakses menggunakan software XAMPP, kemudian basis data tersebut dapat disimpan pada hosting/server online. Fungsi yang dimanfaatkan pada aplikasi ini adalah fungsi Location Based Service sehingga pengguna dapat mengetahui shelter terdekat dari lokasi pengguna. Hasil dari penelitian ini berupa aplikasi Peta Rute BRT Trans Semarang yang dapat digunakan pada smartphone android. Aplikasi ini berisi informasi mengenai lokasi shelter dan rute yang dilalui oleh BRT Trans Semarang. Fitur atau menu yang ada pada aplikasi ini dapat memberikan petunjuk dimana lokasi shelter terdekat dan rute yang harus dilalui ketika ingin menuju shelter tujuan tertentu. Aplikasi ini telah dilakukan pengujian kepada pengguna jasa BRT Trans Semarang dan mendapatkan beberapa penilaian, diantaranya penilaian tingkat efektivitas didapatkan nilai rata-rata sebesar 4,458, tingkat kemudahan penggunaan aplikasi diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,611, serta pada tingkat kepuasan pengguna diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,583, dengan nilai maksimal adalah 5. Berdasarkan penilaian tersebut, aplikasi Peta Rute BRT Trans Semarang dapat berjalan dengan baik dan cukup efektif untuk digunakan dalam mencari informasi mengenai jalur BRT Trans Semarang.
ANALISIS KOMPARASI MODEL 3 DIMENSI FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT TERHADAP CETAKAN 3 DIMENSI DENGAN ALAT CETAK RAISE3D N2 PLUS Billy Silaen; Yudo Prasetyo; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.525 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi model 3 dimensi berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini, salah satunya adalah 3D Printing. Salah satu manfaat dari 3D printing adalah replikasi yang berguna untuk menduplikasi suatu objek. Pengolahan 3D printing memerlukan model 3D digital untuk di cetak menjadi replika objek tersebut, sehingga dibutuhkan suatu metode pembuatan model 3D digital yang baik yang siap cetak menjadi replika. Pada penelitian ini, menggunakan kamera non metrik seperti kamera DSLR untuk mengambil foto objek. Hasil foto dilakukan pengolahan dengan metode fotogrametri rentang dekat menggunakan software open source VisualSfM dalam pembuatan point cloud. Pembuatan model 3D siap cetak diolah dengan Meshlab dalam dan menggunakan Raise3D N2 Plus untuk mesin cetak 3D-nya. Hasil akhir penelitian menunjukkan perbandingan objek penelitian, model digital dan model cetak.  Kesesuaian bentuk antara objek, model digital dan cetak memperlihatkan hasil yang baik secara detil seperti lipatan lemak pada objek, namun pada model digital masih ada bagian kasar yang juga tercetak pada model cetak. Detil kecil pada lipatan diatas mata pada model cetak tidak terlihat. Kesesuaian warna model digital cukup baik dengan beberapa warna pada daerah kasar kurang sesuai serta warna model cetak hanya bisa satu warna. Akurasi jarak objek, model digital serta model cetak berada dalam satuan milimeter dimana jarak objek dengan model digital rata-rata 3,524 mm; objek dengan model cetak rata-rata 4,167mm; dan model digital dengan model cetak rata rata 3,226 mm.

Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue