cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018" : 23 Documents clear
ANALISIS KESESUAIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG/WILAYAH DI KECAMATAN PENJARINGAN KOTA ADMINISTRATIF JAKARTA UTARA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Restu Fadilla; Bambang Sudarsono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.825 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Penjaringan merupakan sebuah kecamatan di Jakarta dengan lokasi dan akses yang sangat strategis karena terletak di antara bandara dan pelabuhan. Hal tersebut yang membuat banyaknya pengembang untuk membangun perumahan baru sehingga pertumbuhan penduduk semakin meningkat, dimana pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan bertambahnya tuntutan permukiman. Akibatnya penggunaan lahan di Kecamatan Penjaringan akan mengalami perubahan penggunaan lahannya sehingga kawasan perumahan akan membuat masalah dalam penataan ruangnya, yaitu akan timbul lahan yang fungsinya tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang/Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana dengan keadaan yang ada di lapangan dengan pemetaan. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu membuat peta penggunaan lahan Kecamatan Penjaringan pada tahun 2013 dan 2017 dengan melakukan digitasi on-screen berdasarkan interpretasi citra satelit SPOT 6 yang hasilnya akan dianalisis perubahan dan kesesuaiannya dengan RTRW. Berdasarkan analisis perubahan penggunaan lahan didapatkan hasil berupa peningkatan dan penurunan luas penggunaan lahan. Luas lahan yang bertambah yaitu Kawasan Industri dan Pergudangan sebesar 18,674 ha (3,81%), Kawasan Perkantoran, Perdagangan dan Jasa sebesar 40,903 ha (9,87%) dan Kawasan Ruang Terbuka Biru sebesar 15,242 ha (6,11%), sedangkan luas lahan yang berkurang yaitu Kawasan Perumahan sebesar 14,026 ha (1,05%), Kawasan Hijau Budidaya sebesar 58,714 ha (6,35%) dan Kawasan Hijau Lindung sebesar 2,079 ha (0,97%). Sementara itu, berdasarkan analisis kesesuaian perubahan penggunaan lahan dengan RTRW didapatkan sebesar 2.848,019 (77,84%) penggunaan lahan pada tahun 2013 sesuai dengan RTRW dan sebesar 2.890,246 ha (79,00%) penggunaan lahan pada tahun 2017 sesuai dengan RTRW sehingga dalam kurun waktu 4 tahun kesesuaian perubahan penggunaan lahan Kecamatan Penjaringan mengalami peningkatan sebesar 42,227 ha (1,16%).Kata Kunci : Citra Satelit SPOT, Penggunaan Lahan, Rencana Tata Ruang/Wilayah ABSTRACT Penjaringan Sub-district is a sub-district in Jakarta with a strategic location and access as it is located between the airport and the port. That makes many developers eager to build new housing which resulted in an increasing of population growth. In addition, human population growth is directly proportional to the increasing demand of settlements. The land use of Penjaringan Sub-district will experience changes in land use. Moreover, the residential area will create problems in the spatial arrangement, which will lead to the emergence of land that is not in accordance with Spatial Planning. This study aims to see how the suitability between the plan and the implementation in site. The conducted process involved with create a map of Penjaringan Sub-district’s land use in 2013 and 2017 by doing on-screen digitization based on SPOT 6 satellite image interpretation that the results will be analyzed for changes and suitability with Spatial Planning. Based on the analysis of land use change, the result is increase and decrease of land use area. The increased land areas are Industrial and Warehousing Area of 18.674 ha (3.81%), Office, Trade and Services Area of 40.903 ha (9.87%) and Blue Open Space Area of 15.242 ha (6.11%). While decreased land areas are Housing Area of 14,026 ha (1.05%), Green Area of Cultivation of 58,714 ha (6,35%) and Protected Green Area of 2,079 ha (0,97%). Meanwhile, based on the analysis of the suitability of land use change with Spatial Planning obtained 2,848,019 (77.84%) of land use in 2013 in accordance with RTRW and 2,890,246 ha (79,00%) of land use in 2017 in accordance with Spatial Planning. So that during the period of 4 years the suitability of land use change Penjaringan Sub-district was increased by 42,227 ha (1.16%).Keywords: Spatial Planning, SPOT Image, Land-Use
HITUNGAN KECEPATAN PERGESERAN TITIK PENGAMATAN DEFORMASI DENGAN GPS MENGGUNAKAN TITIK IKAT REGIONAL DAN GLOBAL Muhammad Hudayawan Nur L; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.153 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar yakni lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik yang menjadikan Indonesia memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Dampak  dari  aktifitas seismik ketiga  lempeng  tersebut antara  lain  timbunya deformasi akibat pergerakan lempeng bumi. Akibat deformasi tersebut menyebabkan posisi bergerak secara dinamis. Pergerakan lempeng bumi yang dinamis tersebut menyebabkan fenomena deformasi.Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis perbandingan dari pengaruh deformasi menggunakan data pengamatan titik ikat regional  dari stasiun CORS BIG dan titik ikat Global menggunakan stasiun IGS. Titik pengamatan dalam penelitian ini menggunakan stasiun CSEM, CPBL, CMGL,CPKL dengan titik ikat regional menggunakan stasiun CPWD ,CTGL, CCLP, CKBM dan titik ikat global menggunakan  XMIS, BAKO, DARW, PIMO, PBRI, HYDE, COCO.Hasil dari penelitian ini, penggunaan titik ikat global menghasilkan koordinat lebih teliti jika dibandingkan dengan pengolahan dengan menggunakan titik ikat regional baik strategi II dan III. Arah pergeseran vektor dari stasiun CORS Jawa Tengah Strategi I menggunakan titik ikat Global di setiap stasiun kearah tenggara dengan resultan 25 mm sampai dengan 28 mm pertahun. Arah pergerakan vektor strategi II dan III relatif sama dengan pergerakan tiap stasiun berbeda dan dengan resultan yang relative sama, dengan resultan 1 mm sampai dengan 3 mm pertahunKata Kunci :  Deformasi, Kecepatan, Titik Ikat Global, Titik Ikat Regional  ABSTRACTIndonesia located between three large plates of the Eurasian, Indian-Australian, and Pacific plates that make Indonesia have a complex tectonic order. The impact of seismic activity of the three plates, among others, the emergence of deformation due to the movement of the earth's plate. The resulting deformation causes the position to move dynamically. The dynamic movements of the earth's plates cause the deformation phenomenon. This study aims to analyze the comparison of deformation effect using regional tie points observation data from CORS BIG station and Global tie points using IGS station. The observation station in this study used the CSEM, CPBL, CMGL, CPKL with regional tie points using CPWD, CTGL, CCLP, CKBM and global tie points using XMIS, BAKO, DARW, PIMO, PBRI, HYDE, COCO. The results of this study, the use of global tie points to produce coordinates more precise when compared with the processing by using regional tie points both II and III strategies. The direction of the vector shift from the Central Java CORS station strategy I uses the global tie points at each station towards the southeast with a resultant 25 mm to 28 mm per year. The direction of the vector movements of strategy II and III is relatively the same as the movement of each station is different and with resultant that is equal to resultant 1 mm to 3 mm per yearKeywords:  Deformation, Global Tie Point, Regional Tie Point, Velocity rate
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN KOMODITAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN DI WILAYAH KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN METODE MATCHING Qomaruddin, Qomaruddin; Sukmono, Abdi; Nugraha, Arief Laila
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.936 KB)

Abstract

ABSTRAK   Banjarnegara dilihat dari kondisi lahannya memiliki potensi komoditas perkebunan dan komoditas kehutan yang sangat variatif sehingga perlu diadakannya penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan hasil komoditas yang memiliki manfaat ekonomis yang cukup tinggi. Untuk memaksimalkan potensi pengembangan Komoditas perkebunan dan komoditas kehutanan perlu diadakan analisis kesesuaian lahan agar dalam pengambilan kebijakan bisa disesuaikan dengan potensi daerah dan bisa lebih tepat sasaran. Komoditas perkebunan yang dianalisi pada penelitian ini adalah kopi arabika, kopi robusta, teh dan tebu. Sedangkan komoditas kehutanan yang dianalisis kesesuaian lahannya pada penelitian ini adalah kayu sengon, kayu mahoni dan kayu eucalyptus. Metode kesesuaian lahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode matching atau pencocokan kriteria tananman dengan keadaan wilayah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan Kecamatan Batur, Kecamatan Pejawaran, Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Kalibening, Kecamatan Karangkobar, Kecamatan Pandanarum, Kecamatan Pangentan, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Karangkobar dan Kecamatan Banjarmangu memiliki potensi dalam pengembangan komoditas kopi arabika dengan kelas terbaik yaitu kelas S3 (sesuai marjinal) dengan luas 9.364,758 Ha atau 64,3%, kopi robusta dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 3,951 Ha atau 0,02% dan teh dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 235 Ha atau 1,6%. Komoditas tebu paling cocok ditanam di Kecamatan Bawang, Kecamatan Rakit, Kecamatan Purwonegoro dan Kecamatan Susukan dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 1.547,745 Ha atau 10,6%. Komoditas kehutanan hampir semua daerah cocok untuk tanaman eucalyptus dengan kelas terbaik yaitu S2 (sesuai) seluas 15556,19 Ha atau 27,8%, mohoni dengan kelas terbaik yaitu S1 (sangat sesuai) seluas 448,71 Ha atau 0,8% dan sengon dengan kelas terbaik yaitu S3 (sesuai marjinal) seluas 31.340,19 Ha atau 56%. Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Komoditas Kehutanan, Komoditas Perkebunan, Metode Matching. ABSTRACT                    Banjarnegara seen from the condition of the land has the potential of plantation commodities and forest commodities are very varied so that the need for further research to develop commodity products that have high economic benefits. To maximize the development potential of forest plantation commodities and commodities, it is necessary to conduct land suitability analysis so that the policy can be adjusted to the potential of the region and can be more targeted. Plantation commodities analyzed in this study were arabica coffee, robusta coffee, tea and sugar cane. While the forestry commodities analyzed for land suitability in this study are sengon wood, mahogany wood and eucalyptus wood. The land suitability method used in this research is using matching method or matching of tananman criteria with the condition of research area. The results of this study show that Batur District, Pejawaran Subdistrict, Wanayasa Subdistrict, Kalibening District, Karangkobar Subdistrict, Pandanarum Subdistrict, Pangentan Sub-District, Punggelan Sub-District, Karangkobar Sub-District and Banjarmangu Sub District have potential in developing arabica coffee commodity with best grade of S3 (marginal) with an area of 9,364.758 Ha or 64.3%, robusta coffee with the best grade S1 (very suitable) of 3.951 Ha or 0.02% and tea with the best S1 (very suitable) class of 235 Ha or 1.6%. The most suitable sugarcane commodity is grown in Bawang District, Rakit District, Purwonegoro and Susukan Subdistricts with the best S1 (very suitable) class of 1,547,745 Ha or 10.6%. Forestry commodities of almost all areas suitable for eucalyptus plants with the best grade of S2 (appropriate) of 15556.19 Ha or 27.8%, mohoni with the best class of S1 (very appropriate) area of 448.71 Ha or 0.8% and sengon with the best grade of S3 (marginal fit) of 31,340.19 Ha or 56%. Keywords: Land Suitability, Forestry Commodity, Plantation Commodity, Matching Method.
ANALISIS MULTI TEMPORAL SEBARAN FLOODING SIGNAL MENGGUNAKAN METODE PPPM(PHENOLOGY AND PIXEL BASED PADDY RICE MAPPING) TERKAIT IDENTIFIKASI LAHAN SAWAH TERKENA BANJIR(Studi Kasus: Kabupaten Kendal Tahun 2016) Muhammad Nur Khafidlin; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.289 KB)

Abstract

ABSTRAK Negara Indonesia terletak di daerah beriklim tropis yang sangat sensitif terhadap anomali iklim El-Nino Southern Oscillation (ENSO) salah satunya La Nina.Pada pertengahan Juni 2016, Kendal terjadi banjir akibat La Nina dengan dampak hingga merendam lahan sawah yang menyebabkan padi menjadi puso. Curah hujan tinggi menyebabkan debit sungai naik hingga berimbas terhadap luapan Kali Blorong.Data Landsat dengan DOY 104 sampai 232 digunakan untuk pengolahan algoritma PPPM (Phenology and Pixel Based Paddy Rice Mapping)yang menghasilkan data Flooding Signal secara multitemporal dan data tutupan lahan dengan klasifikasi terbimbing. Data TRMM dengan DOY 161 sampai 176 dan DOY 214 sampai 221 digunakan untuk perhitungan curah hujan. Rerata nilai curah hujan daerah aliran sungai dan debit sungai digunakan untuk analisis statistik uji korelasi.Pengkajian lahan sawah puso akibat banjir dilakukan dengan penggabungan data Flooding Signal, penurunan EVI padi puso dengan nilai <0,074 dan Masking lahan sawah.Pengolahan algoritma PPPM menghasilkan pola Flooding Signal yang memuncak pada bulan Juni 2016.Hal ini dikarenakan adanya fase penanaman padi dan banjir.Pemetaan lahan puso menggunakan data Flooding Signal menghasilkan data luasan padi puso akibat banjir seluas 270,540 hektar, selisih 105,460 hektar dari data Dispertan Kendal.Pada penelitian ini didapatkan tingkat keakuratan algoritma PPPM dalam memetakan lahan sawah puso akibat banjir sebesar 79,167%. Keterkaitan faktor curah hujan terhadap banjir dinyatakan dengan nilai korelasi debit sungai dan curah hujan pada lima jaring sungai dengan nilai 0,775 pada Kali Kuto, 0,689 pada Kali Damar, 0,754 pada Kali Blukar, 0,639 pada Kali Bodri dan 0,654 pada Kali Blorong. Pada penelitian ini, pengolahan klasifikasi terbimbing menunjukkan tidak adanya pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap banjir.Hasil pengolahan data menunjukkan algoritma PPPM sangat akurat memetakan banjir.Curah hujan juga memiliki pengaruh yang sangat tinggi terhadap banjir.Sehingga penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi pengkajian banjir lahan sawah berbasis data penginderaan jauh.Kata kunci: Algoritma PPPM, Banjir, Curah Hujan, Flooding Signal, Padi Puso ABSTRACT Indonesia is a country located in tropical climate that are very sensitive to the existence of climates anomalies El-Nino Southern Oscillation (ENSO) one of them is La Nina. In mid-June 2016, Kendal occured floods caused by La Nina with the impact till soak the rice fields that cause the rice to be puso. High rainfall causes the river flow to rise up so it impacts on overflow of Kali Blorong.Landsat data with DOY 104 to 232 is used for processing of PPPM algorithms (Phenology and Pixel Based Paddy Rice Mapping) that produce multi-temporal Flooding Signal data and land cover data with supervised classification. TRMM data with DOY 161 to 176 and DOY 214 to 221 are used for rainfall estimation. The value of average rainfall watershed and river flow is used for statistical analysis of correlation test. Study of puso rice fields caused by flooding is done by combining Flooding Signal data, derivation of EVI’s puso rice fields with value<0,074 and paddy rice field masking. The processsing of PPPM algorithm produceFlooding Signal pattern which culminated in June 2016. This is due to the phases of rice cultivation and flooding. Puso rice field mapping with Flooding Signal data produce 270,540 hectares of puso rice field caused by floods, less than 105,460 hectares of Kendal Dispertan data. In this research are earned the accuracy level of PPPM algorithm in the mapping the puso rice field caused by flood at 79,167%.The dependability of rainfall on flood is expressed by the correlation value of river flow and upstream rainfall in five river networks with value of 0,775 in Kali Kuto, 0,689 in Kali Damar, 0,754 in Kali Blukar, 0,639 in Kali Bodri and 0,654 in Kali Blorong. In this research the result of supervised classification shows the absence of land cover change effect to flood.The result of data processing shows the PPPM algorithm is highly accurate in the flood mapping. Rainfall also has a very high impact on floods. So this research is expected to be used as reference in study of flood rice field based on remote sensing data.Keyword: Floods, Flooding Signal, PPPM Algorithm, Puso Rice, Rainfall
ANALISIS PENGARUH FENOMENA INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) TERHADAP CURAH HUJAN DI PULAU JAWA NOFIANA DIAN RAHAYU; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.126 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Secara umum, musim hujan di Indonesia terjadi pada bulan Maret sampai Oktober dan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai September. Meskipun musim terjadi secara periodik tetapi musim dapat bergeser. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran musim di wilayah Indonesia adalah fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Metode pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan bahasa pemograman untuk mengolah data suhu permukaan laut Reynolds dan data curah hujan TRMM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola spasial dan hubungan antara suhu permukaan laut serta curah hujan saat terjadi fenomena IOD di Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh fenomena IOD terhadap intensitas curah hujan dan suhu permukaan laut terjadi secara bersamaan pada bulan Juli sampai bulan November. Saat IOD positif nilai suhu permukaan laut 23,949 0C - 29,179 0C sedangkan intensitas curah hujan 0,250 mm/hari - 14,308 mm/hari. Saat IOD negatif nilai suhu permukaan laut 26,425 0C - 30,036 0C sedangkan intensitas curah hujan 0,586 mm/hari -14,982 mm/hari. Korelasi curah hujan dan suhu permukaan laut  menunjukkan korelasi searah yang sangat kuat. Hasil penelitian menunjukkan jika penurunan suhu permukaan laut saat IOD positif akan berpengaruh terhadap penurunan intensitas curah hujan dan peningkatan suhu permukaan laut saat IOD negatif berpengaruh terhadap peningkatan intensitas curah hujan.Kata Kunci: Curah hujan, IOD, Suhu Permukaan Laut  ABSTRACTIndonesia is a tropical country which has two seasons, wet season and dry season. In general, wet season occurs in October to March and dry season occurs in April until september. Although the season occurs periodically but sometimes the seasons are shifting. One of the factors that caused the change of season is the Indian Ocean Dipole (IOD) phenomenon. Method of processing data in this research used programming language to processed sea surface temperature from Reynolds SST data and rainfall from TRMM data.The aim of this research is to determine the spatial pattern and relationship between sea surface temperature and rainfall during the IOD phenomenon in java island. The IOD phenomenon affects the rainfall intensity and sea surface temperature simultaneously in July to November. In positive IOD, sea surface temperature is 23.949 0C – 29.179 0C while rainfall intensity is 0.250 mm/day – 14.308 mm/day. In negative IOD, sea surface temperature is 26.425 0C – 30.036 0C while rainfall intensity is 0.586 mm/day -14.982 mm/day. The correlation of rainfall and SPL shows a high correlation. The results of this research show that decrease of sea surface temperature when IOD positive influence the decrease of rainfall intensity and increase of sea surface temperatire when IOD negatively influences the increase of rainfall intensity. Keywords: Rainfall, IOD, Sea Surface Temperature
ANALISIS KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DENGAN METODE NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX DAN SOIL ADJUSTED VEGETATION INDEX MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SENTINEL-2A (Studi Kasus : Kabupaten Demak) Sulaiman Hakim Sinaga; Andri Suprayogi; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.311 KB)

Abstract

ABSTRAKRuang terbuka hijau merupakan area memanjang/jalur dan/atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Peraturan menteri pekerjaan umum tahun 2008 menyatakan bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama ruang terbuka hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan. Kawasan perkotaan seharusnya memiliki minimal 30% ruang terbuka hiijau dari luas keseluruhan Kota tersebut. Yakni 30% tersebut meliputi 20% untuk ruang terbuka hijau publik dan 10% ruang terbuka hijau privat. Berdasarkan hasil analisis luasan ruang terbuka hijau yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan oksigen di Kabupaten Demak, hasilnya luasan ruang terbuka hijau yang ada saat ini masih memenuhi yaitu sebesar 61.800 Ha dan luasan ruang terbuka hijau yang dibutuhkan adalah sebesar 31.593,3Ha. kebutuhan oksigen berdasarkan jumlah hewan setiap harinya 1.188.896 (kg/hari), kebutuhan oksigen masyarakat Demak pada tahun 2017 adalah 985.468,896(kg/hari), sedangkan untuk kebutuhan ruang oksigen kendaraan bermotor setiap harinya 1.024.457,3 (kg/hari). Bisa diperhatikan bahwa kebutuhan oksigen paling banyak setiap harinya adalah kebutuhan oksigen pada golongan hewan ternak. Jika dilihat dari hasil luasan ruang terbuka hijau yang diperoleh, metode SAVI memperoleh luasan RTH sebesar 40.907 Ha, sedangkan metode NDVI memperoleh luasan RTH 61800. Selisih hasil kedua metode tersebut bisa digolongkan sangat jauh yakni 20.893 Ha. Jika dilihat dari hasil Matriks konfusinya metode NDVI merupakan metode yang lebih baik dalam penentuan luasan ruang terbuka hijau dengan nilai overall acuracy 87,2951 % sedangkan metode SAVI memiliki nilai overall acuracy 84,0164 %. Hasil ini menunjukkan bahwa metode NDVI lah yang terbaik dalam penentuan luasan ruang terbuka hijau dengan menggunakan metode indeks kehijauan. Kata Kunci : Citra Sentinel-2A, NDVI, Permen PU, Ruang Terbuka Hijau, SAVI  ABSTRACTGreen open space is an elongated / lane and / or clumped area with more open use, where plants grow, both naturally grown and intentionally planted. Minister of public works Regulation in 2008 states that the quantity and quality of open space public, especially green open space (RTH) is currently experiencing a very significant decrease and resulted in decreased urban environmental quality. Urban areas should have at least 30% green open space from the total area of the City. That is 30% of covers 20% for public green open spaces and 10% for private green open space. Based on the result of the green open space analysis  about oxygen demand are needed in Demak Regency, the result of analysis is gained that the availabel of green open space still coul fulfill the required green open space with area 61.800 and the required arei is 31.593 Ha. oxygen demand based on the number of animals per day is 1.188.896 (kg / day), Demak community oxygen demand in 2017 is 985.468,896 (kg / day), while for the daily needs of motor oxygen space is 1.024.457,3 (kg / day). It should be noted that the dayli oxygen demand that mostly neede is in the need for oxygen in the livestock class. When viewed from the results of green open space obtained, SAVI method obtain 40.907 Ha of RTH area, while the NDVI method to obtain 61.800 Ha of RTH area. Difference in the results of both methods can be classified very far ie 20.893 Ha. When viewed from the results of the Configuration Matrix NDVI method is a better in determining the extent of green open space with the value of overall acuracy 87,2951% while SAVI method has an overall value of acuracy 84,0164%. In this research these result indicates that the NDVI method is the best in determining the extent of green open space by using the greenish index method.Keywords : Sentinel-2A Image, NDVI, Permen Pu, Green Open Space, SAVI
APLIKASI PGROUTING UNTUK PENENTUAN RUTE ALTERNATIF MENUJU WISATA BATIK DI KOTA PEKALONGAN BERBASIS WEBGIS Ridwan Aminullah; Andri Suprayogi; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.324 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Pekalongan dikenal sebagai kota Batik karena kekayaan dan berbagai macam corak batik yang variatif di kota ini. Hal tersebut didukung dengan adanya berbagai tempat yang menarik untuk dikunjungi seperti Museum Batik, Kampung Batik Pesindon, Kampung Batik Kauman dan Batik Setono. Pariwisata batik tersebut dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung apabila didukung dengan adanya sistem informasi berbasis spasial web, salah satunya adalah penggunaan plugin aplikasi PgRouting. PgRouting merupakan pengembangan basis data geospasial dari aplikasi PostgreSQL/PostGIS untuk menyediakan atau menambahkan fungsi rute (perhitungan jarak terpendek dari data multilinestring dengan memperhitungkan nilai bobot) berdasarkan bahasa prosedural PostgreSQL/PostGIS. Fungsi routing pada penelitian ini menggunakan algoritma Dijkstra yaitu metode pencarian rute terdekat yang sangat berguna dalam menentukan rute alternatif yang dalam fungsinya memperhitungkan titik-titik kemacetan, jalur searah, dan waktu tempuh yang dapat dilalui oleh pengguna dengan menggunakan kendaraan bersatuan mobil penumpang dalam melakukan perjalanan menuju wisata batik di kota Pekalongan. Hasil dalam penelitian ini adalah WebGIS dengan fitur pgRouting wisata Batik di kota Pekalongan yang memuat informasi tentang sejarah, wisata batik, serta halaman WebGIS yang dilengkapi dengan fitur aplikasi pgRouting. Hasil validasi rute di lapangan pada penelitian ini diambil dari lima contoh rute menggunakan aplikasi Geo Tracking dengan sampling acak yang menghasilkan total selisih rata-rata jarak 50 meter yang dipengaruhi oleh faktor pembulatan (round) jarak dan algoritma pencarian noda terdekat source dan target, serta memiliki selisih waktu 32 detik yang dipengaruhi oleh faktor pembulatan (round) waktu dan kondisi kepadatan jalan yang bersifat dinamis di lapangan, serta untuk hasil kuisioner kelayakan sistem aplikasi dengan metode likert didapatkan tingkat efisiensi sebesar 77,7 % dan tingkat efektifitas sebesar 74,5 %. Hasil persentase tersebut membuktikan bahwa responden sudah merasa puas dengan hasil sistem aplikasi webgis pada penelitian ini.Kata kunci : Dijkstra, pgRouting, WebGIS,  Wisata Batik  ABSTRACT         Pekalongan City is known as the city of Batik because of the wealth and variety of batik pattern that varied in this city. It is supported by various interesting places to visit such as Batik Museum, Batik Pesindon Village, Batik Kauman Village and Setono Batik. Tourism batik can attract tourists to visit if the goverment supported by a web-based spatial information system, such as for this research using PgRouting application plugin. PgRouting is the development of geospatial databases of PostgreSQL / PostGIS applications to provide or add route functions (the shortest path calculation of multilinestring data by calculating weight values) based on PostgreSQL / PostGIS procedural languages. Routing function in this research using Dijkstra algorithm that is method of searching the nearest route which is very useful in determining alternative route which in its function calculating traffic density value, direct path, and travel time which passable by user with vehicle car unit in traveling to batik tourism in Pekalongan city. The result of this research is WebGIS with PGRouting Batik tourism feature in Pekalongan city that contains information about history, Batik tourism, and WebGIS web page which is equipped with pgRouting application feature. The result of the route validation in this study was taken from five examples of routes using Geo Tracking application with random sampling which resulted in a total difference distance is 50 meter which affected by rounding factor distance and nearest node source and target algorithm, the time difference is 32 seconds affected by time rounding factor and dynamic road density conditions in the field, and for the results of questionnaire application system with Likert method obtained the result an efficiency level of 77.7% and the level of effectiveness is 74.5%, from the results of these percentages prove that the respondents were satisfied with the results of webgis applications system in this study.Key Words : Dijkstra, pgRouting, WebGIS, Batik Tourism
ANALISIS SEBARAN VEGETASI DENGAN CITRA SATELIT SENTINEL MENGGUNAKAN METODE NDVI DAN SEGMENTASI Siska Wahyu Andini; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.503 KB)

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit adalah 30% persen dari luas wilayah kota. Ruang Terbuka Hijau atau dapat disebut dengan vegetasi dapat mempengaruhi udara di sekitar secara langsung maupun tidak langsung. Vegetasi memiliki beberapa manfaat untuk lingkungan seperti : mereduksi polutan dan memproduksi oksigen, memperbaiki kualitas iklim lokal dan sebagai pengontrol radiasi sinar matahari. Kehadiran vegetasi pada suatu wilayah akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain.Saat ini teknologi pengindraan jauh sudah semakin canggih, sehingga dapat mendeteksi sebaran vegetasi pada suatu wilayah, pola sebaran vegetasi, kerapatan vegetasi serta luas vegetasi. Teknik NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) merupakan sebuah transformasi citra penajaman spektral untuk menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan vegetasi. Selain teknik NDVI, ada sebuah metode yaitu segmentasi yang dapat digunakan untuk mendeteksi kerapatan suatu wilayah dengan cara membedakan bentuk, warna, tekstur dan batasan area.Dari hasil algoritma segmentasi didapatkan nilai optimal untuk citra Sentinel-2A sebesar 150 untuk parameter skala, 0,3 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter compactness. Hasil uji akurasi dengan menggunakan validasi lapangan dari segmentasi menghasilkan nilai akurasi keseluruhan sebesar 46,7% sedangkan untuk NDVI nilai akurasi keseluruhannya adalah 88,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola sebaran vegetasi pada Kabupaten Demak dengan NDVI dan Segmentasi hampir sama yaitu merata ke seluruh wilayah dengan luasan yang berbeda-beda tiap wilayahnya. Kerapatan vegetasinya juga bervariasi, hasil kerapatan dengan dua metode memiliki sedikit perbedaan. Perbedaan yang signifikan terjadi apabila dalam satu wilayah hanya terdapat sedikit tumbuhan, karena perhitungan menggunakan uji densitas sangat memperhatikan jumlah tumbuhan dalam satu wilayah tersebut. Sedangkan apabila menggunakan kamera yang kemudian dilanjutkan dengan band threshold tidak memperhatikan jumlah tumbuhan melainkan besarnya kanopi.Kata Kunci : NDVI, Segmentasi, Vegetasi.  ABSTRACTBased on Law Number 26 Year 2007 on Spatial Planning, the proportion of Green Open Spaces in the city area is at least 30% percent of the total city area. Open Space Green or can be called vegetation can affect the air around directly or indirectly. Vegetation has several environmental benefits such as: reducing pollutants and producing oxygen, improving local climate quality and as a controller of solar radiation. The presence of vegetation in a region will have a positive impact on the balance of ecosystems on a wider scale. In general, the role of vegetation in an ecosystem is related to the regulation of the balance of carbon dioxide and oxygen in the air, the improvement of the physical, chemical and biological properties of the soil, soil water regulation and others. Currently remote sensing technology is increasingly sophisticated, so it can detect the spread of vegetation in a region, the pattern of vegetation distribution, vegetation density and vegetation area. The NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) technique is a transformation of spectral sharpening images to analyze vegetation-related matters. In addition to NDVI techniques, there is a method of segmentation that can be used to detect the density of a region by distinguishing the shape, color, texture and area boundaries. From segmentation algorithm result got optimal value for Sentinel-2A image 150 for scale parameter, 0,3 for form parameter and 0,5 for parameter compactness. The result of accuracy test by using validation from segmentation yields the overall accuracy value of 46,7% while for NDVI the overall accuracy value is 88,9%. The results of this study indicate that the pattern of vegetation distribution in Demak District with NDVI and Segmentation almost the same, is evenly distributed to all regions with different areas of each region. The vegetation density varies, the result of density by the two methods has little difference. Significant differences occur when in one region there are few plants, because the calculation using the density test is very concerned the number of plants in one region. Meanwhile, when using a camera which is then continued with the threshold band does not pay attention to the number of plants but the size of the canopy.Keywords: NDVI, Segmentation, Vegetation.
PENENTUAN LOKASI POTENSIAL PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SUKOHARJO Albertus Indra Bagus Cahyadi; Andri Suprayogi; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.659 KB)

Abstract

ABSTRAK           Kabupaten Sukoharjo memiliki kelebihan untuk dapat dijadikan model pembangunan kawasan industri. Hal ini, dikarenakan letak wilayahnya yang berada dekat dengan Kota Solo dan termasuk wilayah yang strategis dan fungsional untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar menjadi lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal, maka dibutuhkan pengembangan kawasan industri. Pengembangan kawasan industri merupakan kategori aspek spasial yang mana diperlukan sebuah metode untuk menyajikannya. Salah satu metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sukoharjo. Kawasan industri yang diteliti merupakan semua jenis industri dengan luas minimal 20 ha dan masuk kedalam industri besar. Penelitian ini mempertimbangkan tujuh parameter untuk menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak lahan terhadap jalan utama, jarak lahan terhadap sungai, jarak lahan terhadap fasilitas umum serta aksesbilitas jalan terhadap lahan. Data tersebut kemudian diidentifikasi dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta potensi lahan untuk kawasan indusrtri. Tingkat potensi lahpan untuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sukoharjo dibagi menjadi lima kelas, yaitu sangat sesuai (S1) sebesar 2,176 %, cukup sesuai (S2) sebesar 18,382  %, sesuai marginal sebesar (S3) 48,715 %, tidak sesuai pada saat ini (N1) sebesar 29,343 % dan 1,384 % untuk tidak sesuai permanen (N2). Dari hasil analisis, diperoleh peta potensi lahan baru untuk dikembangkan sebagai kawasan industri selain kawasan RTRW di Kabupaten Sukoharjo seluas 450,887 ha. Kata Kunci: AHP, Kabupaten Sukoharjo, Potensi Lahan Industri, SIG                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 ABSTRACT           Sukoharjo District has advantages to be used as a model of industrial estate development. This is due to the location of its territory which is close to Solo City and includes a strategic and functional area to establish an industrial estate. To encourage the growth of industrial sector to become more focused, integrated and provide more optimal results, it is necessary to develop industrial estate. Industrial estate development is a spatial aspect category which requires a method to present it. One of the methods used is Geographic Information System (GIS). GIS is an appropriate step in presenting the spatial aspect. In this case GIS has benefits that can be used to determine the level of potential land for industrial development in Sukoharjo District. The industrial areas studied are all types of industries with a minimum area of 20 ha and entered into large industries. This study considers seven parameters to support in the development of industrial estate, ie slope, land use, soil type, land distance to main road, distance of land to river, distance of land to public facilities and road accessibility to land. The data is then identified using the AHP (Analytical Hierarchy Process) method to show the magnitude of the weights that affect for each parameter. The results obtained from this research are land potential map for industrial area. The level of land potential for industrial estate development in Sukoharjo Regency is divided into five classes, which is very suitable (S1) of 2,176 %, quite appropriate (S2) of 18,382 %, marginally equal (S3) 48,715 %, not appropriate at this time (N1) of 29,343 % and 1,384 % for permanent non-conformity (N2). From the analysis result, obtained a map of potential new land to be developed as an industrial area other than RTRW area in Sukoharjo Regency is 450,887 hectar. Keywords : AHP, Sukoharjo District, Industrial Land Potential, SIG
ANALISIS POLA ARUS GEOSTROPIK PERAIRAN SAMUDERA HINDIA UNTUK IDENTIFIKASI UPWELLING MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI Esa Agustin Alawiyah; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.956 KB)

Abstract

ABSTRAKArus geostropik merupakan salah satu fenomena fisik kelautan yang mencakup area yang relatif luas. Arus geostropik dipengaruhi oleh gradien tekanan horizontal serta gaya coriolis. Akuisisi data untuk analisis arus geostropik dapat menggunakan teknologi satelit altimetri. Penelitian ini menggunakan data satelit altimetri berupa anomali tinggi muka laut   (Sea Level Anomaly) yang telah diolah dari beberapa misi satelit altimetri. Jangka waktu penelitian  arus geostropik ini mencakup tahun 1993-2015, untuk menganalisa pola stabil musiman arus geostropik yang terjadi. Studi kasus diambil di wilayah Samudera Hindia, melingkupi perairan Selatan Jawa hingga Sumatera. Metode pengolahan data yang digunakan yakni bahasa pemrograman untuk mengolah data SLA dan perhitungan manual untuk mengolah data arus AVISO. Hasil dari pengolahan data berupa pola arus geostropik berdasarkan hitungan SLA dan pola arus geostropik dari AVISO. Pola arus ini kemudian dibandingkan secara visual serta dilakukan uji statistik untuk mengetahui tingkat signifikansi kedua data. Pola arus geostropik hasil hitungan SLA digunakan untuk identifikasi upwelling dan dianalisis menurut musim timur dan musim barat. Pola arus pada musim timur dominan bergerak dari Benua Australia menuju Benua Asia, sedangkan pada musim barat arus bergerak dari Benua Asia menuju Benua Australia. Fenomena upwelling pada musim timur terjadi sebanyak 231 dengan intensitas 3-5 fenomena setiap bulan. Lokasi  upwelling yang pertama di perairan selatan Jawa Timur, dengan 11 fenomena berada di bujur 112o-114o  BT lintang 8,5o- 9,5o LS,  kemudian perairan selatan Jawa Barat dengan 11 fenomena berada pada koordinat 105o -106 o BT dan lintang 6o-8o LS. Musim barat terjadi sebanyak 97 total kejadian  dengan intensitas 0-3 fenomena setiap bulan. Analisis wilayah terjadinya upwelling di musim barat terlihat tidak membentuk pola, upwelling terletak menyebar di seluruh wilayah, namun posisi upwelling lebih dominan berada di perairan barat Sumatera dengan rentang koordinat 95,5o-106o BT dan 4o-10o LS.Kata kunci: Arus Geostropik, AVISO, SLA, Samudera Hindia, Upwelling  ABSTRACTGeostrophic current is one of the marine physical phenomenon that covers relatives wide area. The geostrophic current is affected by horizontal pressure gradient and coriolis force. Data acquisition for analyzing geostrophic current pattern can used altimetry satellite technology.This research using satellite data altimetri form  sea level anomalies data that had been processed from several satellite altimetri missions. Range of this research covers the years 1993-2015, the length of time is to analyze the stable seasonal pattern. Case studies were taken in the Indian Ocean region, specifically in south of Java sea until Sumatra. Method of processing data in this research used  programming languages to  processed SLA data and manual calculation to processed AVISO current data . The result of the processing of data in the form of geostrophic current patterns based on SLA calculation, geostropik current patterns based on AVISO. The currents pattern  result from SLA and AVISO then compared with visually method with a AVISO data considered true and do statistical tests to find out the significance between two kind of data. Geostrophic current patterns results from SLA calculation is used for the identification of the upwelling based on eddy current formed in several area. Pattern on the East season's dominant  is moving from the continent of Australia towards the continent of Asia, while the West season’s flow moves from the Asian continent towards the continent of Australia. The upwelling phenomenon in the East season occurs as many as 231 total events with the intensity 3-5 phenomenon in every month. The location of the first appearance of upwelling in the southern waters of East Java, with 11 phenomenon was at coordinates longitude 112o-114o  ,latitude 8,5o- 9,5o, then South West Java sea approaching the Sunda Strait with 11 phenomenon is at coordinates 105o -106 o and latitude 6o-8o. Analysis of the area of upwelling in the West do not form visible patterns, upwelling is set to spread across the region, but the position of upwelling are more dominant in the  west sea of Sumatra with range coordinate longitude 95,5o-106o and latitude 4o-10o .Keywords: Geostrophic current, AVISO, SLA, Indian Ocean, Upwelling

Page 2 of 3 | Total Record : 23


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue