cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia
ISSN : 02161699     EISSN : 25812300     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1: April 2015" : 10 Documents clear
KETERAMPILAN GURU DALAM MEMBUKA Dan MENUTUP PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI SMAN SE-KOTA PONTIANAK Eka Supriatna , Muhammad Arif Wahyupurnomo
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.338 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8173

Abstract

AbstractThe problem of this research was there were some students who were less active, spirited, and serious in thelearning process. In regards to the problem, the teacher’s factor brought a big influence toward students’ activenessand behaviour. The method of this research was descriptive study with the survey design and the sample was 17teachers. Based on the research findings about the teacher skill in opening and closing the subject, it is found thatthe teachers of physical education subject who teach in Pontianak were classified into two categories: very good76.5% and good 23.5%. The total grouping score of the entire physical education teachers is 533 which is classifiedinto very good category. Based on the result, it can be conlcuded that the teachers have applied the skill in openingand closing the lesson well.Key words: the skill in opening and closing, teacher and physical educationAbstrakPermasalahan dalam penelitian ini adalah terdapat sebagian siswa yang kurang aktif, kurang semangat dan kurangserius dalam mengikuti proses pembelajaran. Terkait hal tersebut, faktor guru sangat berpengaruh terhadap perilakudan keaktifan siswa. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tingkat keterampilan pendidik dalam membukadan menutup pelajaran. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan bentuk penelitian ini merupakanpenelitian survei. Sampel yang digunakan berjumlah 17 guru. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakanmengenai keterampilan membuka dan menutup pelajaran, guru pendidikan jasmani SMAN yang mengajar di kotaPontianak tergolong pada dua klasifikasi yaitu baik sekali sebesar 76.5% dan baik sebesar 23.5%. Sedangkanjumlah pengelompokan skor keseluruhan dari semua guru pendidikan jasmani adalah 533 yang termasuk dalamklasifikasi sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa guru sudah menerapkan keterampilan membuka dan menutuppelajaran dengan baik.Kata kunci: keterampilan terbuka dan tertutup, guru dan pendidikan jasmani
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATI F TIPE TEAM GAME TOURNAMENT UNTUK MENINGKAT KAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH BOLA VOLI II PADA MAHASISWA SEMESTER GANJIL PRODI PENJASKES FKIP UNIB Dian Pujianto, Bayu Insanistyo dan Syafrial
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.995 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8168

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe team gametournament dalam perkuliahan Bola Voli II untuk meningkatkan pemahaman permainan Bola Voli. Jenis penelitianyang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan subyek penelitian mahasiswa semester penjaskes IIIyang mengikuti perkuliahan Bola Voli II dan dosen pengampu mata kuliah Bola Voli II. Hasil dari penelitian ini padapra siklus diperoleh data mahasiswa yang memperoleh nilai 70 ke atas ada 15,9%. Pada akhir siklus 1 ada 29,5%.Dan pada akhir siklus 2 telah tercapai 100% mahasiswa telah memperoleh nilai 70 atau nilai B. Sehingga dapatdisimpulkan bahwa model pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament dapat meningkatakan pemahamanmahasiswa pada materi Bola Voli II.Kata Kunci: Permainan, Pembelajaran, dan Kooperatif
PERAN GURU PENDIDIKAN JASMANI DALAM SISTEM PEMBANGUNAN DAN PEMBINAN OLAHRAGA DI INDONESIA Komarudin Komarudin
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.97 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8169

Abstract

AbstractSport is a culture and universal language for mankind. Sport could support the mental and character development.Through sport, a small state could become a great one. The application of the motto “promote the society to do sportand promote the sport to the society” is far from expectations. The deterioration of Indonesia’s sport performanceis worrying that is caused by the development and the coaching system which did not run well. These phenomenabecome a collective thinking for Indonesia’s sport man, including physical education teacher. Physical educationteacher has a big responsibility to take an active role in the development and coaching system in Indonesia, especiallyin the stage of sport promotion through physical education in the school and community.Key words: Physical Education Teacher, Sport Development and Building SystemAbstrakOlahraga merupakan sebuah budaya sekaligus bahasa universal bagi umat manusia. Olahraga pun dapat turutmenunjang pembangunan mental dan karakter bangsa, melalui olahraga, banyak negara kecil menjadi besar.Penerapan motto mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga sampai saat ini terasa semakinjauh dari harapan. Keterpurukan prestasi olahraga Indonesia juga semakin lama semakin menghawatirkan.Halini salah satunya disebabkan karena sistem pembangunan dan pembinaan olahraga di Indonesia belum berjalandengan baik.Fenomena-fenomena tersebut menjadi pemikiran bersama insan olahraga yang ada di Indonesia, takterkecuali guru pendidikan jasmani.Guru pendidikan jasmani memiliki tanggungjawab besar untuk dapat berperanaktif dalam sistem pembangunan dan pembinaan olahraga di Indonesia, khususnya dalam tahap pemassalan danpembibitan olahraga lewat pendidikan jasmani di sekolah dan masyarakat.Kata Kunci : Guru Pendidikan Jasmani, SistemPembangunan dan Pembinaan Olahraga
sports culture one student one sport policy in malaysia Saryono, Gunathevan Elumalai dan
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.446 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8164

Abstract

Sport and fitness is becoming more and more important in the lives of every human on the earth. Sports should beintegral in a person’s life. This is due to the benefits derived in terms of health and to increase their mastery of natureand the environment (WHO 2010). Sport involves basic human skills which are developed and exercised for theirown sake, in parallel with several advantages and benefits. Centers for Disease Control and Prevention, (2010),emphasised the risk of insufficient sport and physical activities in adolescents which lead to negative effect on healthand fitness. Malaysia has a long history in sports, unfortunately in recent years; the glory dwindled due to the society’schanging lifestyle. This phenomenon has prompted the government to form a new policy promoting the school PhysicalEducation and sporting activities. Malaysian Education Ministry has launched “One Student One Sport” policy on9th of June 2011, which focused on producing and developing a well balanced student in terms of physical, emotion,spiritual and intellect. The policy is in line with the National Sports Policy to cultivate sports in the community, and wasstarted in schools through two strategies, that is “Sports For All and Sports For Excellence.” One of the aims includenurturing human capital through wholesome participation amongst students in sports throughout the year, cultivatinga sporting culture so that they become a member of the society with an active, balanced and healthy lifestyle, forminggood values and self-discipline and creating a track record towards sporting excellence. The purpose of the policy isto move towards a balanced development of body and mind of our young ones. At the same time, it hopes to instillhealth and vitality into the sports culture in schools. But, the success of “one student, one sport” policy depends onthree factors. First, the Education Ministry must try to meet the needs of sports facilities and equipments. The secondfactor is that the number of sports periods must be increased. Third, the Physical Education curriculum design alsorequires some changes in order to attract the interest of students and make it as a culture in their life.Key Word: one sport, one student, policyAbstrakOlahraga dan kesehatan kini menjadi hal yang semakin penting dalam hidup setiap manusia di dunia. Olahragaseharusnya bersifat integral bagi kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan manfaat yang akan diperoleh untukkebugaran tubuh dan keterampilan memahami alam dan lingkungan (WHO 2010). Olahraga meliputi kemampuandasar manusia, yaitu berkembang dan bergerak untuk kepentingan manusia itu sendiri. Kegiatan ini bersifat paraleldengan berbagai keuntungan dan manfaat yang didapat. Centers for Disease Control and Prevention, (2010),menekankan pada resiko aktivitas fisik dan olahraga, yang tidak cukup bagi orang dewasa, yang mampu mengarahkepada efek negatif bagi kesehatan. Malaysia memiliki sejarah yang panjang dalam dunia olahraga. Namun sayangnyabeberapa tahun belakangan, kejayaan dunia olahraga tergeser dengan gaya hidup masyarakat yang berubah. Hal inimendorong pemerintah untuk membentuk kebijakan baru yang bertujuan mengenalkan mata pelajaran PendidikanJasmani dan olahraga ke berbagai sekolah.Kementerian Pendidikan Malaysia telah mengeluarkan kebijakan “OneStudent One Sport” atau “Satu Siswa Satu Olahraga” pada 9 Juni 2011. Fokus kebijakan ini yaitu menghasilkan danmengembangkan kemampuan siswa untuk memiliki keseimbangan tubuh yang baik dan kecerdasan jasmani, emosi,spiritual, dan intelektual. Kebijakan ini sesuai dengan misi Kebijakan Olahraga Nasional untuk memperkuat olahraga diberbagai komunitas. Misi ini dimulai dari sekolah melalui dua strategi, yaitu “Sport for All and Sport for Excellence“ atau“Olahraga untuk Semua dan Olahraga untuk Keunggulan.” Adapun tujuannya antara lain untuk membina siswa melaluipartisipasi yang menyeluruh, memperkuat budaya olahraga sehingga mereka mampu menjadi anggota masyarakatyang aktif, menyeimbangkan gaya hidup sehat, membentuk disiplin diri dan nilai-nilai terpuji, serta menghasilkan rekam jejak yang unggul dalam bidang olahraga.Tujuan kebijakan “One Student One Sport” adalah untuk membentuk jiwadan raga yang seimbang dalam diri generasi muda. Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu melestarikan budayaolahraga di sekolah untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, keberhasilan kebijakan ini membutuhkan tiga faktorpendukung. Pertama, Kementerian Pendidikan harus berusaha memenuhi kebutuhan akan peralatan dan fasilitasolahraga. Kedua, jam olahraga harus ditingkatkan. Ketiga, rancangan kurikulum Pendidikan Jasmani perlu dimodifikasiagar mampu menarik minat para siswa dan menjadikan olahraga sebagai budaya hidup mereka.Kata Kunci: satu olahraga, satu siswa, kebijakan
EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI PONDOK PESANTREN MU’ALIMIN MUHAMADIYA H DAERAH ISTIMEWA YOGYA KARTA Lalu Armin Suhaidin
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.047 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8170

Abstract

AbstractThis research purposed to evaluated the program of physical education learning that was viewed from the componentswere (1) context (2) input (3) process and (4) the school output. The context component were consists of programand purpose. The input component were consists of syllabus, lesson material, media or tool of learning, teacher,student, infrastructure and the condition of learning environment. The component of process were consists of thereadiness of physical education learning, implementation and evaluation. Whereas, the product component was theachievement or student’s value on the physical education learning in pondok pesantren Mu’alimin MuhammadiyahYogyakarta. This research was study of evaluation by using qualitative analysis and quantitative descriptive waspurposed to evaluate the physical education program. The population of study was all students of junior high school(VII and VIII class) and senior high school (X and XI class) of pondok pesantren Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakartawhich amount 832 students. The sample of research were taken as much as 276 students, consists of 149 studentsof junior high school and 127 students of senior high school. The data of research was gathered through interview,observation, documentation and questioner, the result of this research founded that the management of physicaleducation learning program, if reviewed from the input form of the availability of the lesson material media, learningmedia, teacher, infrastructure and the condition of environment, if was viewed from the process in good category. Withthe average score was 2.60 (1-4 scale) according to student and 3.05 according to teacher was in good category. Ifwas seen from the achievement product or student’s value proved that the physical education was in good category.Key Word: evaluation, context, input, process, product, learning, physical education.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pembelajaran pendidikan jasmani yang ditinjau dari komponenkomponenberikut: (1) konteks, (2) input, (3) proses, dan (4) output sekolah. Komponen konteks terdiri atas programdan tujuan. Komponen iput terdiri atas silabus, materi pelajaran, media atau alat pembelajaran, guru, mahasiswa,infrastruktur dan kondisi lingkungan belajar. Komponen proses terdiri atas kesiapan belajar pendidikan jasmani,pelaksanaan dan evaluasi. Sedangkan, komponen produk adalah prestasi atau nilai siswa pada pembelajaranpendidikan jasmani di Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitianevaluasi dengan menggunakan analisis data kualitatif dan deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengevaluasiprogram pendidikan jasmani. Populasi penelitian adalah seluruh siswa sekolah SMP (kelas VII dan VIII) dan SMA(kelas X dan XI) dari Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah yang berjumlah 832 siswa. Sampel penelitiandiambil sebanyak 276 siswa, terdiri atas 149 siswa dari SMP dan 127 siswa SMA. Data penelitian dikumpulkanmelalui wawancara, observasi, dokumentasi dan kuesioner, hasil penelitian ini ditemukan bahwa pengelolaan programpembelajaran pendidikan jasmani, jika ditinjau dari input ketersediaan media bahan pelajaran, media pembelajaran,guru, infrastruktur dan kondisi lingkungan, jika dilihat dari proses dikategorikan dalam kategori baik. Dengan skorrata-rata 2.60 (1-4 skala) menurut siswa dan 3.05 menurut guru masuk dalam kategori baik. Jika dilihat dari produkprestasi atau nilai siswa terbukti bahwa pendidikan jasmani masuk dalam kategori baik.Kata kunci: evaluasi, konteks, input, proses, produk, pembelajaran, pendidikan jasmani.
MEMAKNAI PELATI HAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU (EKSPLORASI KOSEPTUAL TENTAN G PENGEMBANGAN PROFESI YAN G BERKELANJUTAN ) Caly Setiawan
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.104 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8165

Abstract

AbstractThe purpose of this article was to explore the notion of continuing professional development (CDP) and its potentialapplication in Indonesian physical education. The article begins with the Indonesian professional development (PD)contexts, critiques on traditional PD, and the rationales to understand the concept of PD. It then explores the concept ofPD including situated learning/community of practice as its theoretical underpinning, and impacts on student learning.Furthermore, the article discusses the characterisctis of PD programs deemed to be effective. The characteristicsinclude structural features (e.g., types of activities, duration, collective participation), core features (e.g., focusingon the content, promoting active learning, implementing lesson plan), and coherence with other learning activities.Examples of effective PD in physical education were also presented. These examples are from some studies on earlycareer professional learning (Attard Armour, 2006), collaborative learning (Keay, 2006), and curriculum development(Parker et al., 2010).Kata kunci: Pembelajaran guru, pengembangan profesi berkelanjutan, pelatihan guruAbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi gagasan pengembangan profesi yang berkelanjutan dan potensi aplikasinyadalam pendidikan jasmani di Indonesia. Artikel ini dimulai dengan pengembangan profesi dalam konteks di Indonesia,kritik pada pengembangan profesi tradisional, dan alasan-alasan untuk memahami konsep pengembangan profesi.Selanjutnya, mengeksplorasi konsep pengembangan profesi termasuk yang terkandung dalam pembelajaran/komunitas dari praktek sebagai fondasi teoritis, dan dampak pada pembelajaran siswa. Selanjutnya, artikel membahaskarakteristik program pengembangan profesi yang dianggap efektif. Karakteristik termasuk fitur struktural (misalnya,jenis kegiatan, durasi, partisipasi kolektif), fitur inti (misalnya, fokus pada konten, mempromosikan pembelajaranaktif, melaksanakan rencana pelajaran), dan koherensi dengan kegiatan belajar lainnya. Contoh pengembanganprofesi efektif dalam pendidikan jasmani juga disajikan. Contoh-contoh ini berasal dari beberapa studi di awal karirprofesional belajar (Attard Armour, 2006), pembelajaran kolaboratif (Keay, 2006),dan pengembangan kurikulum(Parker et al., 2010).Kata kunci: Pembelajaran guru, pengembangan profesi berkelanjutan, pelatihan guru
IDENTIFIKASI KESALAHAN DALAM MELAKUKAN LOMPAT TINGGI GAYA GULING PERUT SISWA KELAS V sdn iii PENGASIH WATES KULONPROGO Sriawan Sriawan
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.923 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8171

Abstract

AbstractThe research was started from a survey that students experienced struggles in participating the learning that wasalso a desire to find out the obstacle factors in the high jump material. The purpose of this study was to determinethe error and difficulty factors experienced by students in participating the high jump straddle style of high jumplearning. This study used survey method with observation sheets and questionnaires. The subjects were fifth gradesstudents of State Elementary School in Pengasih, Wates, Kulon Progo. The data analysis employed quantitativedescriptive analysis. The results showed that the percentage of data classification of straddle high jump as follows;the most error factor was when floating, the second error factor was landing, the third error factor was pushing, andthe fourth error factor was the beginning.Keywords: error, straddle high jumpAbstrakPenelitian dimulai dari suatu survei bahwa siswa mengalami hambatan dalam mengikuti pembelajaran juga suatukeinginan untuk mengetahui faktor penghambat itu dalam materi lompat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui faktor-faktor kesalahan dan kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mengikuti pelajaran lompat tinggiguling perut. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan lembar pengamatan dan angket. Subyek penelitianadalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri III Pengasih Wates Kulon Progo, analisis data menggunakan analisisdeskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi data persentase pelaksanaan lompat tinggiguling perut sebagai berikut; faktor paling banyak kesalahan adalah saat melayang, tingkat kesalahan kedua adalahmendarat, tingkat kesalahan ketiga adalah tolakan, dan tingkat kesalahan keempat adalah awalan.Kata kunci: kesalahan, lompat tinggi guling perut
PENGEMBANGAN BUKU SAKU PENGENALAN PERTOLON GAN DAN PERAWATAN CEDERA OLAHRAGA UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ranintya Meikahani dan Erwin Setyo Kriswanto
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1318.097 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8166

Abstract

AbstrakSecara umum cedera bisa terjadi kapan saja dan sulit untuk dihindari. Pengetahuan mengenai pertolongan danperawatan cedera olahraga sangat penting untuk siswa ataupun guru dalam pembelajaran Penjasorkes atau dalamaktivitas fisik sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu produk sumber belajar buku saku dalammemperkenalkan pertolongan dan perawatan cedera olahraga untuk siswa SMP.Jenis penelitian ini adalah penelitiandan pengembangan (Research and Development), yang menggunakan prosedur penelitian dari Sugiyono yangdimodifikasi. Peneliti menggunakan 8 dari 10 langkah Sugiyono, yaitu identifikasi potensi dan masalah, pengumpulanbahan, desain produk, pembuatan produk, validasi oleh ahli materi dan ahli media, revisi produk, produk akhir, sertauji coba terbatas. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C SMP N 4 Depok Yogyakarta. Analisis datadengan pendekatan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif persentase.Hasil penelitian dan pengembangan bukusaku dengan pokok bahasan materi (luka terbuka dan luka tertutup) ini dikategorikan layak dengan tingkat kelayakansebesar 83% dan dari segi kelayakan media sebesar 80%. Berdasarkan uji coba kelompok kecil, kelayakan daribuku saku meliputi segi materi sebesar 76%, segi keterbacaan bahasa sebesar 75%, segi penyajian buku sebesar63%, serta segi tampilan buku sebesar 70%. Sedangkan berdasarkan uji coba kelompok besar, kelayakan dari bukusaku meliputi: Segi materi sebesar 87%, segi keterbacaan bahasa sebesar 90%, segi penyajian buku sebesar 90%,serta segi tampilan buku sebesar 91%. Secara keseluruhan buku saku ini telah dinyatakan layak digunakan dalampengenalan pertolongan dan perawatan cedera olahraga untuk siswa SMP setelah melalui dua tahap uji coba.Kata kunci: Pengembangan, Buku Saku, Pertolongan dan Perawatan Cedera Olahraga
ANALISIS KEBUTUHAN MATA KULIAH FUTSAL DALAM JURUSAN SOSIOKINETIKA PROGRAM STUDI PENJASKESREK FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Andri Irawan
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.137 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8172

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the needs of Futsal Course in Sociokinetics Department of Physical Education, Health,and Recreation Study Program Jakarta State University The method in this research was descriptive survey methodusing questionnaire. The research was conducted in 2010, the samples were 30 physical education teachers fromJakarta Province. Based on the results of the study, there are 29 teachers (96.67%) have taught futsal at school, while1 teacher (3.33%) has not taught futsal. According to respondents, futsal can be taught to the students in school,the 30 respondents of physical education teachers as many as 16 people (53.33%) strongly agree and 14 (46.67%)agree. Learning of futsal at school is much easier because students will like it, from 30 respondents of physicaleducation teachers sampled in this study, there are 15 teachers (50%) strongly agree and 15 teachers (50%) agree.As the teacher, it is very easy to learn and understand futsal than football, there are 16 teachers (53.33%) agree, 7teachers (23.33%) disagree, 5 teachers (16.67%) strongly agree and 2 (6.67%) strongly disagree. Learning futsalis very appropriate to be taught when seen from the Physical Education curriculum in use today, according to therespondents, therer are 18 teachers (60%) agree, 8 teachers (26.67%) strongly agree, 2 teachers (6.67%) disagreedand 2 teachers (6.67%) strongly disagree. The facilities and supporting facilities for futsal learning in school areeasier to fulfill, in accordance with the opinion of the respondents, 15 teachers (50%) agree, 11 teachers (36.67%)strongly agree and 4 teachers (13.33%) agree. The futsal game can support the development of motor, affective,and cognitive skillsof the learners, 17 teachers (56.67%) of respondent agree, 11 teachers (36.67%) strongly agreeand 2 teachers (6.67%) disagree. Futsal game can support the development of emotional and social abilities of thestudents, 20 teachers (66.67%) agree, 8 teachers (26.67%) strongly agree and only 2 teachers (6.67%) stronglydisagree. Based on these data, we can conclude that futsal course is required by physical education teachers.Keywords: needs, courses, futsal, Physical Education, Health, and Recreation (Penjaskesrek)AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisa kebutuhan mata kuliah futsal dalam Jurusan Sosiokinetika Program StudiPenjaskesrek Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptifdengan cara survai menggunakan angket. Penelitian ini dilaksanakan pada 2010, Sampel dalam penelitian gurupendidikan jasmani yang berjumlah 30 orang yang berasal dari Propinsi DKI Jakarta. Berdasar hasil penelitian,sebanyak 29 orang (96,67%) sudah mengajarkan futsal di sekolahnya sedangkan 1 orang (3,33%) belum mengajarkanfutsal. Menurut responden futsal dapat diajarkan kepada anak didik di sekolah tempat mengajar, dari 30 orangresponden guru pendidikan jasmani sebanyak 16 orang (53,33%) menyatakan sangat setuju dan 14 orang (46,67%)menyatakan setuju. Pembelajaran futsal di sekolah lebih mudah dilakukan karena anak didik pasti sangat menyukainya,dari 30 orang responden guru pendidikan jasmani yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 15 orang (50%)menyatakan sangat setuju dan 15 orang (50%) menyatakan setuju. Sebagai pengajar sangat mudah untuk mempelajaridan memahami futsal dibandingkan sepakbola, sebanyak 16 orang (53,33%) menyatakan setuju, 7 orang (23,33%)menyatakan tidak setuju, 5 orang (16,67%) menyatakan sangat setuju dan 2 orang (6,67%) menyatakan sangattidak setuju. Pembelajaran futsal sangat sesuai untuk diajarkan jika dilihat dari kurikulum Pendidikan Jasmani yangdigunakan saat ini, menurut responden sebanyak 18 orang (60%) menyatakan setuju, 8 orang (26,67%) menyatakansangat setuju, 2 orang (6,67%) menyatakan tidak setuju dan 2 orang (6,67%) menyatakan sangat tidak setuju. Fasilitasdan sarana pendukung untuk pembelajaran futsal di sekolah lebih mudah untuk diadakan, menurut pendapat para responden sebanyak 15 orang (50%) menyatakan setuju, 11 orang (36,67%) menyatakan sangat setuju dan 4 orang(13,33%) menyatakan tidak setuju. Permainan futsal dapat menunjang pengembangan kemampuan motorik, afektifdan kognitif anak didik, sebanyak 17 orang (56,67%) responden menyatakan setuju, 11 orang (36,67%) menyatakansangat setuju dan 2 orang (6,67%) menyatakan tidak setuju. Permainan futsal dapat menunjang pengembangankemampuan emosional dan sosial anak didik, sebanyak 20 orang (66,67%) menyatakan setuju, 8 orang (26,67%)menyatakan sangat setuju dan hanya 2 orang (6,67%) menyatakan sangat tidak setuju.Berdasarkan data tersebutdapat disimpulkan bahwa mata kuliah futsal dibutuhkan para guru pendidikan jasmani.Kata kunci : kebutuhan , mata kuliah, futsal, penjaskesrek
PERSEPSI GURU PENDIDIKAN JASMANI SEKOLAH DASAR TERHADAP PENDEKATAN TEMATI K INTEGRATI F PADA KURIKULUM 2013 Subagyo, Amat Komari dan Aris Fajar Pambudi
Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia Vol 11, No 1: April 2015
Publisher : Departement of Sports Education, Faculty of Sport Sciences Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.947 KB) | DOI: 10.21831/jpji.v11i1.8167

Abstract

AbstractThis research was motivated by the understanding that has not been the same for thematic integrative approachto the curriculum 2013. This research aimed to determine how the perception of physical education teachers forelementary school of thematic integrative approach to curriculum 2013. This research design was a descriptive study.The method used in this study was by survey method. The population in this researchwas all physical educationsteacher for elementary school in Yogyakarta Special Region. The samples in this study were 46 teachers. The samplingtechnique used was purposive sampling. The data collection technique was with questionnaire. The data analysistechnique was with descriptive percentage. The result results showed that the perception of physical educationteachers for elementary school of thematic integrative approach to curriculum 2013 in sequence as follows: verygood perception was at 4.4%, good perception was 23.9%, medium perception was at 32.5%, the less perceptionwas 19.6%, and not good perception was 19.6%.Keywords: Perception, Physical Education Teachers for Elementary School, Integrative Thematic ApproachAbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pemahaman yang belum sama terhadap pendekatan tematik integratif padakurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Persepsi Guru Pendidikan Jasmani SekolahDasar terhadap Pendekatan Tematik Integratif pada Kurikulum 2013. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif.Metode yang digunakan adalah metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh Guru Pendidikan Jasmani SekolahDasar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Besar sampel yang digunakan adalah 46 guru. Teknik pengambilan sampelmenggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan angket. Teknik analisis data dengan statistikdeskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Persepsi Guru Pendidikan Jasmani Sekolah Dasarterhadap Pendekatan Tematik Integratif pada Kurikulum 2013 secara berurutan sebagai berikut: persepsi sangatbaik sebesar 4.4%, persepsi baik sebesar 23.9%, persepsi cukup sebesar 32.5%, persepsi kurang baik sebesar19.6%, dan persepsi tidak baik sebesar 19.6%.Kata kunci: Persepsi, Guru Penjas Sekolah Dasar, Pendekatan Tematik Integratif

Page 1 of 1 | Total Record : 10