cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PENGARUH PEMBERIAN ANALGESIK KOMBINASI PARASETAMOL DAN MORFIN TERHADAP KREATININ SERUM PADA TIKUS WISTAR JANTAN Albertus Johan Edy; Taufiq Eko Nugroho
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.307 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23292

Abstract

Latar Belakang: Penanganan nyeri derajat sedang sampai berat dapat menggunakan kombinasi obat analgesik Parasetamol dan Morfin. Keduanya tergabung dalam dua kelompok golongan analgesik yang berbeda, sehingga mekanisme kerjanya pun berbeda. Kombinasi Parasetamol dan Morfin dapat bekerja secara sinergis dan memberikan potensi yang lebih baik dalam penanganan nyeri. Dibalik keunggulan tersebut, kombinasi obat analgesik ini juga memiliki potensi efek samping terhadap ginjal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group Design. Sampel adalah 24 ekor tikus wistar dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok pemberian parasetamol 9 mg, kelompok pemberian morfin 0,18 mg, dan kelompok pemberian kombinasi parasetamol 9 mg dan morfin 0,18 mg. Pemberian dilakukan secara oral dengan sonde lambung sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke-15, dilakukan pengambilan darah melalui pembuluh darah retroorbita untuk diukur kadar kreatinin serum. Uji statistik menggunakan uji ANOVA dan Post – Hoc. Hasil: Hasil penelitian diperoleh dari uji statistic dimana terdapat peningkatan kadar kreatinin serum yang bermakna pada tikus wistar yang mendapat pemberian kombinasi parasetamol dan morfin terhadap kelompok kontrol (p = 0,005). Sementara pada kelompok lain tidak terdapat perbedaan kadar kreatinin yang signifikan. Simpulan: Terdapat perbedaan kenaikan kadar kreatinin yang signifikan antara pemberian kombinasi parasetamol dan morfin dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kata Kunci : Parasetamol, Morfin, Kreatinin serum, Nyeri
PENGARUH PEMBERIAN RANITIDINE TERHADAP SPERMATOGENESIS TIKUS Wistar DENGAN INTOKSIKASI METANOL AKUT DILIHAT SECARA HISTOPATOLOGIS James Otniel; Muhammad Thohar Arifin; Ika Pawitra Miranti
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.796 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18584

Abstract

Latar belakang: Metanol memiliki efek toksik melalui metabolitnya yaitu asam format yang mengakibatkan gangguan spermatogenesis. Ranitidine mempunyai enzim yang dapat menghambat terbentuknya metabolit asam format sehingga diharapkan akan mengurangi efek toksisitas dari metanol terhadap fungsi spermatogenesis.Tujuan: Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian ranitidine pada tikus Wistar jantan yang terintoksikasi metanol akut terhadap gambaran histopatologi spermatogenesis.Metode: Penelitian ini memakai desain true experimental post test only control group. Tikus Wistar jantan usia 2-3 bulan (n=15) secara random dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (n=5), kelompok kontrol positif (n=5), dan kelompok perlakuan (n=5). Selama 14 hari, dilakukan pemberian metanol per oral untuk kelompok kontrol positif dan perlakuan, diikuti injeksi ranitidine per intraperitoneal 1 jam setelah pemberian metanol untuk kelompok perlakuan. Kemudian dilakukan terminasi tikus dan testisnya diambil untuk dibuat preparat dengan pengecatan HE. Selanjutnya, pemeriksaan spermatogenesis dilakukan dengan menggunakan skor Johnsen.Hasil: Kelompok kontrol positif secara signifikan (p<0.05) menunjukkan spermatogenesis yang lebih buruk dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif.  Pemberian ranitidine pada tikus yang terintoksikasi metanol akut secara signifikan (p<0.05) menunjukkan spermatogenesis yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Tidak terdapat perbedaan spermatogenesis antara kelompok yang diberikan ranitidine dengan kelompok kontrol negatif.Kesimpulan: pemberian ranitidine pada tikus yang terintoksikasi metanol akut dapat mengurangi gangguan spermatogenesis secara histopatologis
THE EFFECT OF PLYOMETRICS TRAINING ON LEG MUSCLE STRENGTH OF MEDICAL STUDENTS IN DIPONEGORO UNIVERSITY Nur Azzahra Permata Putri Ismail; Edwin Basyar; Darmawati Ayu Indraswari; Marijo Marijo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.913 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25864

Abstract

Introduction : Strength is the ability to excert force, which can resist external resistance and its purpose as a basis for human movements. Strength also can be a standard for measuring someone’s performance. Plyometrics training known as an exercise that can increased muscle strength. Great muscle strength can lead to great muscle endurance so that the person will become healthier and will not get tired easily. However, there’s still no further study that measured leg muscle strenght on medical students after given plyometrics training treatment. Methods : Intervention of the study was plyometrics training for 6 weeks. This study was a quasi-experimental with pre-test (before training), middle-test (after four weeks training), and post-test (after six weeks training). The subjects were 28 (15 to 25-year old) male medical students of Diponegoro University divided into 2 groups with 14 samples for each group: control group and treatment group. Muscle strength were measured by leg dynamometer. The results were analyzed using SPSS. Results : The muscle strength which measured by leg dynamometer improved among subjects who did plyometrics training. The significant results (P = <0,05) found on middle-test and post-test proved that plyometrics training affects the enhancement of leg muscle strength. Conclusions : Plyometrics training for 6 weeks proved to increase leg muscle strength of medical students in Diponegoro University.Keywords: Plyometrics Training, Strength, Leg Dynamometer
PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA Bellakusuma Nurdianningrum; Yosef Purwoko
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.243 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14255

Abstract

Latar belakang : Semakin tinggi usia harapan hidup suatu negara menyebabkan semakin banyak pula jumlah lansia yang ada di negara tersebut. Hal tersebut diikuti dengan tingginya masalah kesehatan yang ada pada lansia, salah satunya adalah gangguan tidur. Lebih dari setengah populasi lansia sering mengeluhkan adanya gangguan tidur di malam hari. Senam lansia merupakan salah satu contoh aktivitas fisik yang direkomendasikan oleh WHO agar dapat dilakukan oleh lansia untuk memperbaiki kualitas tidurnya. Jenis senam lansia yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah Senam Lansia Menpora, Senam SKJ Lansia, Senam Lansia Tera, dan Senam Osteoporosis.Tujuan : Membandingkan kualitas tidur lansiayang rutin melakukan latihan senam lansia dan yang tidak rutin mengikuti latihan senam lansiaMetode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross-sectional). Sampel penelitian adalah 36 anggota kelompok Warga Lanjut Usia Nangka (WULANA) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara purposive sampling. Pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Distribusi data diuji normalitasnya dengan uji Saphiro-Wilk. Uji hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kualitas tidur kelompok yang rutin dan tidak rutin melakukan senam lansia. Perbedaan dinyatakan bermakna jika p<0,05Hasil : Rerata nilai kualitas tidur pada kelompok lansia yang rutin mengikuti senam lansia adalah 2,78 ± 0,88, sedangkan rerata nilai kualitas tidur pada kelompok lansia yang tidak rutin mengikuti senam lansia adalah 6,00 ± 2,70. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan tersebut bermakna (p=0,000)Kesimpulan : Rerata nilai kualitas tidur pada kelompok yang rutin melakukan senam lansia lebih baik dibandingkan dengan kelompok yang tidak rutin melakukan senam lansia.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK RIMPANG RUMPUT TEKI (CYPERUS ROTUNDUS L.) TERHADAP KUANTITAS ASI TIKUS WISTAR (RATTUS NORVEGICUS) BETINA Jeremi Ferdian; Noor Wijayahadi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.86 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20708

Abstract

Latar Belakang: Ekstrak rimpang rumput teki memiliki aktivitas estrogenik dan memiliki khasiat sebagai peningkat kadar ASI. Hal ini dikarenakan di dalamnya terkandung senyawa seskuiterpen yang bersifat estrogenik. Senyawa tersebut dapat meningkatkan kuantitas ASI melalui kerjanya di saluran ASI dan meningkatkan reseptor prolaktin di sel-sel epitel kelenjar payudara.Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian ekstrak rimpang rumput teki terhadap kuantitas ASI tikus Wistar betina.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian parallel group post test only design. Sampel adalah 18 ekor tikus Wistar betina dimana masing-masing ekor dipasangkan dengan 4-5 anakan yang dibagi menjadi menjadi kelompok kontrol (K) diberi pakan standar, kelompok P1 diberi ekstrak rimpang rumput teki 300 mg/kgBB dan kelompok P2 diberi ekstrak rimpang rumput teki 600 mg/kgBB. Perlakuan dilakukan selama 13 hari dimana setiap hari dilakukan penimbangan berat badan anakan rutin sebelum dan sesudah anakan menyusu: penimbangan awal pada pukul 08.30 (W1), setelah dipisahkan dari induk selama 4 jam pada pukul 12.30 (W2), dan setelah digabungkan lagi bersama induknya pada pukul 13.30 (W3) yang mana selanjutnya dilakukan perhitungan rata-rata kenaikan berat badan anakan harian dengan rumus [(W3-W2) + (W2-W1)/4]. Kenaikan berat badan anakan tikus per hari digunakan untuk mengatahui kuantitas ASI pada tikus betina indukan yang diberi ekstrak rimpang rumput teki. Uji statistik menggunakan uji one way ANOVA dengan post hoc Bonferroni.Hasil: Dengan menggunakan one way ANOVA didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok K dan P2. Sedangkan antara kelompok K dan P1, dan P1 dan P2 tidak didapatkan perbedaan yang signifikan.Kesimpulan: Ekstrak rimpang rumput teki dengan dosis 600 mg/kgBB menyebabkan peningkatan kuantitas ASI tikus Wistar betina
PERBANDINGAN PENGARUH LARI RUTIN DENGAN LARI RUTIN DITAMBAH LATIHAN OTOT INTI TERHADAP PERSENTASE LEMAK DAN MASSA TULANG PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNDIP Widoasti Putri Utami; Darmawati Ayu Indraswari
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.857 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15986

Abstract

Latar belakang: Obesitas telah menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia, baik di kalangan anak, remaja, maupun dewasa yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu olahraga yang dianjurkan untuk mencegah obesitas adalah aktivitas aerobik yaitu lari. Selain lari, terdapat olahraga lain yang dapat dilakukan yaitu latihan otot inti. Tujuan: Membandingkan pengaruh lari rutin dengan lari rutin ditambah latihan otot inti terhadap persentase lemak dan massa tulang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan two group pre and post test design. Sampel yang terdiri dari 26 orang dibagi menjadi 2 kelompok: lari 30 menit dan lari 30 menit ditambah latihan otot inti yang dilakukan selama 8 minggu. Persentase lemak dan massa tulang akan dikukur menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA). Persentase lemak dan massa tulang sebelum dan sesudah intervensi dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, sedangkan selisih kedua intervensi dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil bermakna jika p < 0,05. Hasil: Persentase lemak pada kelompok latihan kombinasi menunjukkan hasil yang signifikan dengan p= 0,013. Pada kelompok latihan lari tidak didapatkan hasil yang signifikan dengan p= 0,649. Selisih antara kedua kelompok didapatkan hasil signifikan dengan p= 0,07. Pada massa tulang didapatkan hasil yang tidak signifikan dikedua kelompok dengan p= 0,102. Kesimpulan: Latihan kombinasi aerobik ditambah latihan otot inti efektif menurunkan persentase lemak tetapi tidak meningkatkan massa tulang.
HUBUNGAN KADAR VITAMIN D DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA Nihayatul Istianah; Dwi Ngestiningsih; Innawati Jusup
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.297 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23350

Abstract

Latar Belakang: Jumlah penduduk lanjut usia semakin meningkat dari tahun ke tahun . Pada orang lanjut usia cenderung terjadi penurunan dari fungsi kogntif dan rendahnya kadar vitamin D dalam tubuh akibat rendahnya sintesis vitamin D di kulit dan juga rendahnya vitamin D dari asupan makanan. Reseptor vitamin D tersebar luas di jaringan otak dan bentuk aktif vitamin D [1,25(OH)2D3] menunjukkan efek neuroprotektif bagi otak yang berpotensi penting untuk pencegahan penurunan fungsi kognitif. Studi terbaru dari negara-negara Barat menunjukkan adanya hubungan antara tingkat vitamin D yang lebih rendah dengan penurunan fungsi kognitif pada lansia . Tujuan: Mengetahui hubungan kadar vitamin D dengan fungsi kognitif pada lansia. Metode: Penelitian yang dilakukan adalah observasional belah lintang dengan subjek lansia berusia diatas 60 tahun di beberapa posyandu lansia di Kota Semarang pada bulan Mei - Oktober 2018. Subjek penelitian sebanyak 38 sampel dengan teknik randomization sampling. Data yang digunakan adalah data primer dimana fungsi kognitif diperiksa menggunakan kuesioner MMSE (Mini Mental State Examintaion), dan kadar vitamin D diukur dengan menggunakan ELISA (Enzyme linked immunosorbent assay).Uji hipotesis menggunakan uji Somer’s D Hasil: Tidak didapatkan hubungan antara kadar vitamin D dengan fungsi kognitif pada lansia ( p=0,418 , r = 0,109) maupun dengan domain orientasi, registrasi, atensi, memori,bahasa dan visuospasial. Didapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dan fungsi kognitif pada lansia (p= 0,009). Tidak didapatkan hubungan bermakna antara usia dan pekerja dengan fungsi kogntiif pada lansia Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara kadar vitamin D dengan fungsi kognitif pada lansiaKata Kunci: Vitamin D, fungsi kognitif, lansia
PENGARUH LARI SEBAGAI OLAHRAGA AEROBIK INTENSITAS SEDANG TERHADAP ATENSI MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS DIPONEGORO Pho Denita Meiliani; Darmawati Ayu Indraswari; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.867 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18616

Abstract

Latar Belakang: Olahraga sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa olahraga juga dapat meningkatkan fungsi kognitif, salah satunya adalah atensi. Atensi memiliki peran yang penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam proses belajar seseorang.Tujuan: Membuktikan pengaruh lari sebagai olahraga aerobik intensitas sedang terhadap atensi.Metode: Penelitian ini bersifat kuasi eksperimental dengan menggunakan rancangan pre- dan post-test pada tiga kelompok yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. Sampel penelitian adalah mahasiswa FK Undip (n=45) yang terbagi atas kelompok kontrol, perlakuan lari 30 menit, dan 60 menit, lalu diberikan pretest, kemudian diberi perlakuan, setelah itu diberikan posttest. Atensi subjek sebelum dan sesudah perlakuan dianalisis menggunakan uji t berpasangan.Hasil: Dari 45 subjek penelitian, rerata hasil tes atensi setelah perlakuan lari 30 menit dan 60 menit menunjukkan adanya peningkatan pada semua jaringan atensi yaitu alerting, orienting, dan executive. Uji t berpasangan diperoleh hasil bermakna untuk kelompok perlakuan lari 30 menit yaitu alerting p=0,043, orienting p=0,049, dan executive p=0,027 dan tidak bermakna untuk kelompok perlakuan lari 60 menit yaitu alerting p=0,609, orienting p=0,364, dan executive p=0,157. Kesimpulan: Lari 30 menit sebagai olahraga aerobik intensitas sedang meningkatkan atensi mahasiswa. Hal ini kemungkinan karena adanya peningkatan aliran darah otak, stimulasi neurotropik otak, dan katekolamin plasma.
PENGARUH PEMBERIAN ANALGESIK KOMBINASI PARASETAMOL DAN TRAMADOL TERHADAP KADAR KREATININ SERUM TIKUS WISTAR Gianita Puspita Dewi; Taufik Eko Nugroho
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.904 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14453

Abstract

Latar Belakang : Kombinasi parasetamol dan tramadol merupakan analgesik kombinasi yang ideal dan efektif dalam menangani nyeri derajat sedang sampai berat. Keduanya bekerja pada mekanisme berbeda yang secara sinergis memberikan potensi yang lebih baik dalam penanganan nyeri. Dibalik keunggulan tersebut, obat ini juga memiliki potensi efek samping, salah satunya terhadap ginjal.Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian analgesik kombinasi parasetamol dan tramadol terhadap kadar kreatinin serum tikus wistar.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group Design. Sampel adalah 28 ekor tikus wistar dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok pemberian parasetamol 9 mg, kelompok pemberian tramadol 0,9 mg, dan kelompok pemberian kombinasi parasetamol 9 mg dan tramadol 0,9 mg. Pemberian dilakukan secara oral dengan sonde lambung sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke-15, dilakukan pengambilan darah melalui pembuluh darah retroorbita untuk diukur kadar kreatinin serum. Uji statistik menggunakan uji ANOVA dan Post-Hoc.Hasil : Hasil penelitian diperoleh dari uji statistik dimana tidak terdapat peningkatan kadar kreatinin serum yang bermakna pada tikus wistar yang mendapat pemberian parasetamol dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,117), kelompok pemberian tramadol dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,076), kelompok pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol dibandingkan kelompok kontrol (p = 0,143), kelompok pemberian parasetamol dibandingkan kelompok pemberian tramadol (p = 0,816), kelompok pemberian parasetamol dibandingkan kelompok pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol (p = 0,907), dan kelompok pemberian tramadol dibandingkan kelompok pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol (p = 0,727).Simpulan : Tidak terdapat perbedaan kenaikan kadar kreatinin serum yang bermakna antara pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol dibandingkan dengan kelompok kontrol.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PEMAKAIAN KACAMATA PADA ANAK SEKOLAH Hasan Murdiman; Arif Wildan; Maharani Maharani
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.444 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20853

Abstract

Latar Belakang: Menurut data WHO tahun 2010 didapatkan prevalensi miopia di dunia sebesar 27% dan 2,8% untuk miopia tinggi. Miopia aksial, dimana panjang bola mata menjadi lebih panjang dari normal merupakan jenis yang sering terjadi, biasanya disertai dengan tipisnya central corneal thickness (CCT). Pengukuran tekanan intraokular (TIO) menggunakan tonometer applanasi maupun indentasi pada miopia ini seharusnya akan memberikan hasil yang lebih rendah dari TIO sebenarnya. Penelitian pada anak mengenai TIO pada miopia jarang dilakukan, padahal tekanan intraokular abnormal pada anak, juga dapat menimbulkan kerusakan saraf mata.Tujuan: Mengetahui perbedaan TIO anak miopia dan emetropia.Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel sebanyak 42 subjek terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu 21 miopia dan 21 emetropia. Penelitian dilakukan di SD Negeri Meteseh Semarang, dengan subjek berasal dari kelas 4 hingga 6. Pemeriksaan tekanan intraokular menggunakan TonoPen XL. Uji statistik menggunakan uji t-tes tidak berpasangan untuk varian berbeda dan uji Spearman.Hasil: Tekanan intraokular rerata pada miopia sebesar 19,52 ± 0,71 mmHg, dan pada emetropia sebesar 21,23 ± 0,33 mmHg. Perbedaan TIO antara mata miopia dan emetropia adalah signifikan dengan nilai p=0,039 (p<0,05) berdasarkan uji t tes tidak berpasangan untuk varian berbeda. Uji Spearman menunjukkan tidak ada hubungan antara besar miopia dengan besar tekanan intraokular dengan nilai p=0,056 (p>0,05).Simpulan: Terdapat perbedaan TIO antara anak miopia dan anak emetropia. Tidak terdapat hubungan antara besar miopia dengan tekanan intraokular.

Page 43 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue