cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 417 Documents
The Roles of Ideological State Apparatus in Maintaining Hegemony in Charles Dicken’s Hard Times Prasetya, Farid Adi
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.293 KB)

Abstract

One of literary works, a novel, may be reflects social phenomenon. The correlation between literary works and social phenomenon includes an analysis towards a novel entitled Hard Times by Charles Dickens, which covers a social phenomenon. The overall image of Hard Times is a society of industrial city namely Coketown, which has unequal economic condition. Through characters that appear in the novel, it can be analyzed, Hard Times reflects social clashes that are triggered by economic condition and social class differentiation. Through Marxism point of view, the characters of Hard Times reflects a society which is distinguished vertically into bourgeoisie and proletariat, according to their roles within the economic activity in Coketown. This vertical distinction leads an inclination of bourgeoisie to maintain their domination within the society. This novel highlights that bourgeoisie then looks the role of Ideological State Apparatus, which is very effective to control Coketown society. The bourgeoisie then take opportunity from that condition to maintain their domination. As the result, this novel indicates that proletariat's struggles to get a better economic condition will always be pushed and restricted by the bourgeoisie, which successfully make an approach to the ISA such as religion, school, or media. Keyword: society, bourgeoisie, proletariat, hegemony, Ideoogical State Apparatus, Repressive State Apparatus.
THE DIFFERENCES OF TEMPERAMENT BETWEEN BATMAN AND IRONMAN IN BATMAN BEGINS AND IRONMAN MOVIE Edmirendy, Danang
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 3, Number 4, Tahun 2014
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.063 KB)

Abstract

Dalam makalah ini, penulis menganalisis perbedaan-perbedaan antara dua pahlawan super yang terkenal; Batman dan Ironman. Penulis memilih film Batman Begins dan film Ironman sebagai obyek dari penelitian karena di kedua film tersebut menceritakan tentang bagaimana kedua pahlawan super itu yang awalnya hanya manusia biasa namun bisa menjadi pahlawan super mengandalkan kepintaran dan kekayaan mereka untuk menciptakan peralatan canggih. Fokus dari thesis skripsi ini adalah perbedaan kepribadian yang dimiliki Batman dan Ironman; meskipun mereka sangat mirip dalam banyak hal. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mencari perbedaan-perbedaan kepribadian yang dimiliki oleh Batman dan Ironman dan kemudian menggolongkannya. Penelitian kepustakaan digunakan dalam pembuatan thesis ini. Penulis menggunakan teori 4 (empat) kepribadian oleh Florence Littauer untuk mengkaji data-data yang didapatkan penulis. Penulis membatasi pembahasan masalah hanya pada membandingkan dan mengklasifikasikan kepribadian antara Batman dan Ironman dalam film Batman Begins dan Ironman. Hasil dari analisis berdasarkan teori 4 (empat) kepribadian yang dikemukakan oleh Florence Littauer adalah bahwa Batman memiliki kepribadian melankolis berdasarkan sifat analitis, berhati-hati, pintar, tidak suka dipuji, disiplin, serius, pendiam, penyendiri, memiliki empati yang besar terhadap kesengsaraan manusia, dan terkadang menjauh dari pergaulan sosial, perfeksionis, dan keren. Sebaliknya, kepribadian Ironman banyak yang bertolak belakang dari Batman, kepribadian Ironman adalah Sanguin; terkenal, gemar berbicara, tapi tidak suka mendengarkan, antusias, ekspresif, bahagia, kekanak-kanakan, penasaran, arogan, humoris, tidak disiplin, mudah bergaul, kreatif dan inovatif, berpikiran sederhana, optimis, suka dipuji, suka menjadi pusat perhatian, spontan, dan emosional.
HIERARCHY OF NEEDS IN DAN GILROY’S NIGHTCRAWLER Kusuma, Ricky Nugraha
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 5, Number 3, Tahun 2016
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.39 KB)

Abstract

Nightcrawleris a crime-thriller movie directed by Dan Gilroy. The movie is about an ambitious videographer who sells violent footage of accidents and brutal crimes to the local news TV. The focus of this study is to analyze the motivation of Louis Bloom, the main character in the movie, using Abraham Maslow’s theory of needs. This theory is illustrated in a shape of five layered pyramid which represents every need that must be fulfilled by human. Those needs are physiological needs, safety needs, love or belongingness needs, esteem needs, and self-actualization needs. The result of the discussion shows the five phases of theory of needs reflected in Lou’s life. 
Information Technology of Flash Learning English Naval Pradiba, Setyo Harry
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.125 KB)

Abstract

Pembelajaran untuk anak- anak sekarang ini sudah semakin maju. Namun di sekolah dasar masih menggunakan cara pembelajaran yang konvensional. Agaknya untuk saat seperti ini, cara itu dianggap kurang memadai. Karena kemampuan anak hanya terbatasi dengan cara pembelajaran yang konvensional tersebut. Padahal media informatika seperti internet bisa dapat lebih membantu untuk mengembangkan pola pikir dan kreativitas anak dalam mempelajari sesuatu. Internet mungkin lebih banyak sisi negatifnya daripada positifnya, itu juga tergantung dari pengguna internet tersebut. Padahal dalam internet banyak sekali informasi yang dapat kita terima apabila kita menggunakan internet dengan bijak. Untuk pembelajaran, khusunya bahasa inggris, internet menjadi salah satu alternatif yang bisa mengembangkan potensi anak- anak. Peran orang tua disini juga penting, karena selain membimbing, orang tua juga mengarahkan anak- anak untuk menggunakan media internet tersebut dengan bijak.
Book Review of The Murder of Roger Ackroyd Prihatiningsih, Reni
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.479 KB)

Abstract

Prose, poetry and drama are categories of literary works. Those categories consist of two genres, fiction and nonfiction. Novel is one of the fiction categories of literary works. Novel has more attractive than other literary works because it tells the story about human life that may happen in the reality. That reason makes the readers easy to understand the story in a novel.
IT LEARNING THE USE ANIMATION FOR LEARNING CONTENT WORDS (NOUN, VERB, ADJECTIVE, AND ADVERB) Kusniawati, Deni
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.38 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi mempunyai dampak positif terhadap perkembangan sebuah pengajaran. Pengajaran menggunakan media adalah sarana untuk menyampaikan informasi atau pesan dari sebuah pengajaran. Dengan menggunakan sebuah media dalam proses belajar mengajar diharapkan dapat  membantu pengajar dalam menyampaikan sebuah materi yang lebih efektif dan efisien. Banyaknya hambatan yang dialami seorang murid dalam proses pengajaran seperti susahnya mereka menangkap apa yang disampakan pengajar, kurangnya konsentrasi pada waktu proses pengajaran, proses pengejaran yang monoton membuat murid cenderung bosan mengikuti pengajaran, dan susahnya murid dalam mengingat kosakata baru dari bahasa kedua yang mereka pelajari. Masalah seperti ini, diperlukan sebuah media pengajaran yang menarik minat siswa dalam belajar. Animasi adalah penggabungan unsur media lain seperti audio, teks, video, image, grafik, dan sound yang menjadi satu kesatuan dalam penyajian, sehingga mengamodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Media ini sangant memiliki banyak manfaat diantaranya adalah mempermudah siswa menerima materi dan mendorong keinginan murid untuk mengetahui lebih lanjut informasi yang sedang mereka pelajari.   Kata Kunci: IT, Media Animasi.
A CULTURE REPRESENTED BY THE WORDS “WHITE AND WHITENING” ON HAND AND BODY LOTION PRODUCT’S LABEL Suntiarko, Cindy Clarissa
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 5, Number 4, Tahun 2016
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.709 KB)

Abstract

This research is about the words ‘white’ and ‘whitening’ that are found on the label of hand & body lotion product which represent a cultural product based on the study of Linguistic Anthropology. This research is purposely conducted as the writer notices that hand and body lotion product contains linguistic data manifesting Indonesian culture, particularly women. The purpose of the study is to reveal the culture of Indonesian women that is set by the hand and body lotion products’ producers by using the words ‘white’ and ‘whitening’ in the labels of hand and body lotion products. The writer used Open-ended Questionnaire from Creswell (2010:26) to collect the respondents’ answers. To collect the words ‘white’ and ‘whitening’, the writer used Note-Taking Technique from Creswell (2010:272) and Non-Participatory Observation Method from Liu and Maitlis (2010). To analyze the data, the writer used Theory of Culture as a System of Mediation by Duranti (1997:40-41). The writer found that the words ‘white’ and ‘whitening’ refer to a certain concept of what Indonesian women expect to be. The writer concludes that it is a condition that one characteristic of beauty shaped by the Indonesian women is having white or bright complexion.
The Interpersonal Meaning of the Speech Produced by Minister for Foreign Affairs of Indonesia Sari, Ika Purnama
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 3, Number 3, Tahun 2014
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.103 KB)

Abstract

Bahasa adalah sebuah alat bagi manusia untuk berkomunikasi satu sama lain. Bahasa baik dalam bentuk lisan ataupun tulisan dipergunakan untuk berbagai kepentingan. Bahkan dalam konteks yang lebih tinggi, bahasa dipergunakan untuk menyampaikan sikap suatu bangsa, menentukan peran dalam masyarakat, dan mencerna sikap dari pembicara terhadap hal yang dibicarakannya. Makna antar individu merupakan bagian dari kajian fungsi tata bahasa  yang mencakup hal-hal tersebut. Penelitian menggunakan teori yang dicetuskan oleh beberapa tokoh linguistik yang berfokus pada kajian makna antar individu. Obyek penelitian ini relatif berbeda dari penelitian yang sebelumnya mengenai mood system pada karya sastra baik pada novel maupun dialog film karena penelitian ini menggunakan pidato sebagai objeknya. Penelitian ini selain mengkaji mood system juga mencari kecenderungan peran sosial dan sikap dalam pidato Menteri Luar Negeri Republik Indonesia di Forum Konsultasi Persatuan Bangsa-Bangsa yang membahas program pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Implicature of the Guests’ Answers to Respond the Host’s Threatening Questions in the TV Program Mata Najwa: Rapor Wakil Rakyat Elvasanti, Grenanda
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.749 KB)

Abstract

Dalam menjawab pertanyaan yang mengancam muka, bintang tamu dalam sebuah acara seringkali menyampaikan maksud mereka secara tidak langsung melalui tuturannya untuk tujuan tertentu. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menganalisa bagaimana para bintang tamu menyampaikan maksud mereka secara tidak langsung. Penulis menganggap bahwa acara televisi Mata Najwa memiliki karakteristik yang telah disebutkan, sehingga acara tersebut dijadikan data penelitian. Penulis berfokus pada tuturan bintang tamu dalam menjawab pertanyaan dari tuan rumah, dan alasan para penutur menggunakan tuturan implisit. Penulis menggunakan teori implicature dan cooperative principle dalam menganalisa permasalahan tersebut. Penulis membatasi ruang lingkup analisa pada data tuturan bintang tamu yang mengandung implikatur pada saat diberi pertanyaan yang mengancam muka mereka, oleh tuan rumah. Data tersebut diambil dari acara TV Mata Najwa Edisi Rapor Wakil Rakyat. Penulis menggunakan metode Simak Bebas Libat Cakap dari Sudaryanto. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode padan dan metode agih. Hasil analisis menunjukkan bahwa tuturan implisit yang digunakan oleh bintang tamu di Mata Najwa saat menjawab pertanyaan yang mengancam muka mereka, dari tuan rumah bermakna penolakan dan ketakutan. Tujuan penggunaan implikatur tersebut adalah untuk menjaga dan melindungi muka mereka.
LARRY CROWNE’S OPTIMISM IN ACHIEVING HIGHER EDUCATION FOR A BETTER LIFE ON LARRY CROWNE’S FILM SCRIPT NUR A’ISYAH, AZIZAH PUSPAKURNIA
LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature) Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : LANTERN (Journal on English Language, Culture and Literature)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.481 KB)

Abstract

Optimisme merupakan kecerdasan emosional untuk mencapai keberhasilan. Dalam mencapai kehidupan yang lebih baik diperlukan optimism dari dalam diri manusia itu sendiri. Hal tersebut dapat ditemukan dalam skrip film Larry Crowne. Peneliti merasa tertarik dalam meneliti lebih dalam mengetahui bagaimana sikap optimisme yang dimiliki oleh tokoh utama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil yang baik, penulis menggunakan dua metode penelitian yaitu metode penelitian dengan studi pustaka serta metode pendekatan psikologi umum dan eksponensial. Dalam skrip film tersebut digambarkan secara jelas bagaimana tokoh utama membangun sikap optimis serta semangat yang luar biasa untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Tokoh utama berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan lagi sambil melanjutkan kuliahnya. Dengan semangatnya yang luar biasa, ia berhasil mendapatkan pekerjaan dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan sangat baik. Dengan demikian, ia dapat menyelesaikan segala masalah-masalah yang dihadapinya. Kata Kunci : Larry Crowne- Optimisme – Semangat- Mencapai keberhasilan