cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PENGARUH FORTIFIKAN Fe TERHADAP KADAR Fe, KETENGIKAN DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SINBIOTIK JELLY DRINK YANG DIFORTIFIKASI ZINC Yustitie, Normasari; Rustanti, Ninik
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.232 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16425

Abstract

Latar Belakang : Yogurt sinbiotik menjadi media fortifikasi besi yang tepat karena memiliki efek protektif dari bakteri patogen di usus. Penambahan zinc pada yogurt bermanfaat melindungi oksidasi lemak oleh besi yang dapat menimbulkan ketengikan produk.Tujuan : Menganalisis pengaruh fortifikasi besiterhadap kandungan besi, ketengikan pada hari ke-0 dan ke-7 penyimpanan serta organoleptik pada yogurt sinbiotik jelly drink difortifikasi zinc.Metode : Penelitian RAL satu faktor yaitu yogurt sinbiotik jelly drink yang difortifikasi FeSO4, NaFeEDTA dan ferrous bisglycinate sebanyak masing-masing 30 ppm. Setiap kelompok perlakuan difortifikasi 15 ppm zinc acetate. Pengukuran kandungan besi dengan atomic absorption spectrophotometry (AAS), ketengikan pada hari ke-0 dan ke-7 dengan nilai thiobarbituric acid (TBA) dan uji organoleptik dengan skala hedonik.Hasil : Fortifikasi besi dapat meningkatkan kadar Fe dan TBA hari ke-0 dan ke-7 (p=0.000). Kadar Fe tertinggi pada fortifikasi FeSO4 (1.63 mg/100ml). TBA pada hari ke-0 tertinggi yaitu fortifikasi FeSO4 (0.676) dan pada hari ke-7 tertinggi yaitu fortifikasi FeSO4 (0.597). Fortifikasi besi tidak berpengaruh terhadap perubahan TBA pada hari ke-0 ke hari ke-7 (p>0.05). Berbagai jenis fortifikan Fe tidak berpengaruh terhadap nilai aroma, tekstur, warna dan rasa yogurt sinbiotik jelly drink yang difortifikasi besi.Simpulan : Jenis fortifikasi besi yang direkomendasikan untuk yogurt sinbiotik jelly drink adalah ferrous bisglycinate karena mempunyai kandungan besi yang lebih tinggi dan tidak mempengaruhi karakteristik organoleptik
PENGARUH PEMBERIAN KACANG TANAH KUKUS (ARACHIS HYPOGEAE) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH POSTPRANDIAL PADA PEREMPUAN OVERWEIGHT DAN OBESITAS Desiana Putri, Tri Hanni; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.632 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4600

Abstract

Latar Belakang : Overweight dan obesitas beresiko tinggi terkena diabetes melitus tipe 2 yang berawal dari terjadinya resistensi insulin. Kacang tanah merupakan salah satu pangan rendah indeks glikemik, tinggi MUFA (Mono Unsaturated Fatty Acid), serta tinggi magnesium. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian kacang tanah kukus terhadap kadar glukosa darah postprandial pada perempuan overweight dan obesitas. Metode : Jenis penelitian adalah true experiment dengan pre test-post test design. Subjek penelitian adalah mahasiswi Ilmu Gizi UNDIP Semarang yang diambil secara purposive sampling sebanyak 28 orang dan dibagi menjadi 2 kelompok secara simple randomization. Kelompok perlakuan diberi kacang tanah kukus 28  gram selama 14 hari, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan kacang tanah kukus. Pengukuran kadar postprandial dilakukan sebelum dan setelah intervensi dengan metode spektrofotometri. Asupan makan subjek diperoleh dengan metode food recall 5x24 jam selama intervensi. Analisis statistik menggunakan Independent sample t-test, Mann-Whitney test, dan Paired t-test. Hasil : Kelompok perlakuan mengalami penurunan kadar glukosa darah postprandial yang bermakna (p=0.02) sebesar 18,92±13,73 mg/dl sedangkan kelompok kontrol mengalami penurunan sebesar 19,50±9,43 mg/dl. Secara statistik, tidak terdapat perbedaan perubahan kadar glukosa darah postprandial antara kelompok perlakuan dan kontrol yang bermakna (p>0.005).Simpulan : Terdapat penurunan kadar glukosa darah postprandial yang bermakna setelah pemberian 28 gram kacang tanah kukus selama 14 hari.
KELARUTAN VITAMIN D3 (Cholecalciferol) DALAM SISTEM KEFIR SUSU KAMBING Abyyudha, Dany; Widyastuti, Nurmasari; Anjani, Gemala
Journal of Nutrition College Vol 8, No 3 (2019): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.356 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i3.25803

Abstract

Latar Belakang : Kefir susu kambing merupakan produk fermentasi yang mengandung banyak bakteri probiotik. Vitamin D3 merupakan fortifikan terbaik dan biasa digunakan pada produk olahan susu,. Info kelarutan diperlukan untuk mengetahui kadar vitamin D3 dari vitamin D3 enkapsulasi dan kefir susu kambing terfortifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui optimasi kelarutan vitamin D3 di dalam susu kambing dan kefir susu kambing.Metode : Penelitian ini termasuk dalam bidang food production dengan metode Quasi Eksperimental Research (Eksperimental Semu) dengan rancangan acak lengkap. Penelitian ini menggunakan fortifikasi vitamin D3 dengan penambahan fortifikan pada jam ke-0 dengan menggunakan metode pelarutan dengan air dan methanol.Hasil : Optimasi kelarutan vitamin D3 terbaca sebesar 600 IU dengan menggunakan metode pelarutan dengan air.Kesimpulan : Fortifikasi vitamin D3 pada sistem susu kambing menghasilkan nilai yang lebih signifikan kefir susu kambing tanpa fortifikasi. Metode pelarutan dengan air menghasilakan vitamin D3 lebih baik daripada metode pelarutan dengan methanol dilihat dari nilai optimasi vitamin D3 terbaca lebih tinggi.
KANDUNGAN GIZI, KESUKAAN, DAN WARNA BISKUIT SUBTITUSI TEPUNG PISANG DAN KECAMBAH KEDELAI Pratama, Septian Hari; Ayustaningwarno, Fitriyono
Journal of Nutrition College Vol 4, No 3 (2015): Juli 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.227 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i3.10090

Abstract

Latar Belakang: Terdapat perubahan permasalahan gizi anak usia sekolah dari gizi kurang menjadi gizi lebih yang terkait tingginya konsumsi jajanan di sekolah (2007-2013). Jajanan  umunya tinggi kalori (lemak dan karbohidrat) namun kurang kandungan protein. Anak usia sekolah membutuhkan makanan jajanan untuk membantu mencukupi kebutuhan gizi seimbang agar dapat menunjang aktivitas dan prestasi belajar. Kecambah kedelai kaya kandungan protein dan pisang susu memiliki rasa enak dan aroma harum sehingga dapat disukai anak sekolah. Tujuan: Menganalisis kandungan zat gizi, kesukaan, dan warna biskuit subtitusi tepung komposit kecambah kedelai dan pisang susu.Metode : Penelitian dengan rancangan acak lengkap 1 faktor yaitu lima variasi dengan presentase subtitusi (terigu dan komposit) masing-masing B0 (100%, 0%), B1 (75%, 25%), B2 (50%, 50%), B3 (25%, 75%), dan B4 (0%, 100%). Analisis zat gizi dengan metode Proksimat. Analisis warna menggunakan alat Chromameter. Uji tingkat kesukaan meliputi parameter warna, aroma, tekstur, dan rasa.Hasil: Satu takaran saji 50g biskuit B0, B1, B2, B3, B4 secara berurutan mengandung 224,87; 225,78; 223,40; 220,66; 224,40 kkal energi, 5,15; 7,82; 8,54; 9,51; 11,18g protein, 6,19; 6,46; 6,13; 5,71; 6,15g lemak, 37,14; 34,09; 33,53; 32,82; 31,10g karbohidrat. Hasil uji tingkat kesukaan, B0 disukai pada parameter  warna, aroma, rasa kecuali tekstur, sedangkan B1, B2, B3, B4 tidak disukai pada semua parameter. Hasil uji warna menunjukkan penurunan tingkat kecerahan dari B0 hingga B4 yaitu 73,34; 64,69; 60,00; 56,71; 53,36.Kesimpulan: Semakin tinggi subtitusi tepung komposit pada pembuatan biskuit maka semakin tinggi kadar protein yang terkandung, namun tidak pada variabel kalori, lemak, dan karbohidrat. Biskuit B0 disukai oleh panelis pada parameter warna, aroma, dan rasa, kecuali tekstur, sedangkan biskuit B1, B2, B3, B4 tidak disukai panelis di semua parameter. Semakin tinggi subtitusi tepung komposit maka semakin rendah tingkat kecerahan warna biskuit.
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG Mariza, Yuni Yanti; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.825 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2108

Abstract

Latar Belakang: Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak perlu menjadi perhatian publik. Obesitas pada anak-anak dan remaja dapat berlangsung hingga dewasa dan dapat menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit degeneratif. Meninggalkan sarapan dan mengkonsumsi makanan jajanan tinggi kalori dapat menyebabkan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan dengan status gizi dan besar risiko terhadap kejadian obesitas dan kegemukan pada anak sekolah dasar. Metode : Penelitian dilakukan di 2 SD di kecamatan Pedurungan kota Semarang. Desain penelitian kasus kontrol dengan jumlah subyek sebesar 64 yang terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Pemilihan sampel penelitian menggunakan simple random sampling pada anak kelas 3 sampai dengan kelas 6. Data kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan diperoleh dari wawancara secara langsung menggunakan metode Food Recall selama seminggu. Hasil : Prevalensi overweight dan obesitas sebesar 11,7% dan 8%. Pada penelitian ini ditemukan 13 subjek (40,62%) pada kelompok kasus dan 15 subjek (46,87%) pada kelompok kontrol yang tidak biasa sarapan dan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470). Hasil penelitian juga menunjukkan 29 subjek (90,65%)  kelompok kasus dan 17 subjek (53,15%) kelompok kontrol biasa jajan dan terdapat hubungan antara kebiasaan jajan terhadap kejadian obesitas dan kegemukan (p=0.001; OR= 7.012; CI=2.153-33.788). Terdapat 28 subjek (43,76%) yang tidak biasa sarapan tetapi biasa jajan, dan tidak terdapat subjek yang tidak biasa sarapan tetapi tidak biasa jajan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan sarapan dengan kebiasaan jajan (p=0,000; OR=1.500; CI=0.361-0.693) Simpulan : Kebiasaan sarapan berhubungan dengan kebiasaan jajan. Tidak biasa sarapan dapat meningkatkan risiko biasa jajan sebesar 1,5 kali. Kebiasaan jajan berhubungan dengan status gizi. Biasa jajan meningkatkan risiko terjadinya status gizi lebih sebesar 7 kali.
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI MINYAK RAMI DENGAN MINYAK WIJEN TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Andini, Arie Nisfu; Ardiaria, Martha
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.454 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16472

Abstract

Latar  Belakang : Dislipidemia adalah keadaan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan kenaikan kolesterol total, trigliserida dan penurunan HDL. Konsumsi minyak yang mengandung omega 3, omega 6 dan antioksidan dapat mempengaruhi kadar trigliserida. Minyak rami dan minyak wijen kaya akan PUFA dan antioksidan. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian kombinasi minyak rami dengan minyak wijen terhadap kadar  trigliserida serum pada tikus dislipidemia.Metode: Penelitian true experimental dengan pre and post test randomized control group designSampel  terdiri  dari  24  ekor tikus Sprague dawley dislipidemia yang dibagi dalam 4 kelompok secara acak.  Semua kelompok diberikan pakan tinggi kolesterol untuk menginduksi dislipidemia. Kelompok perlakuan diberikan kombinasi minyak rami dengan minyak wijen dengan dosis 1 ml, 2 ml dan 3 ml per 200 gbb tikus.  Analisis kadar trigliserida serum menggunakan metode Colorimetric Enzymatic test ”GPO”.  Data dianalisis menggunakan uji  paired t-test  dan uji ANOVA  dilanjutkan dengan post hoc.Hasil : Terdapat perbedaan  bermakna pada semua delta kadar trigliserida sebelum dan setelah intervensi. Rerata kadar trigliserida sebelum intervensi pada kelompok K P1, P2, dan P3 adalah 131,88±4,65; 133,82±3,01; 137,53±1,66 dan 135,53±2,94. Rerata kadar trigliserida setelah intervensi pada kelompok K P1, P2 dan P3 (p<0,05) adalah 132,85±4,93; 125,90±2,98; 112,83±3,06 dan 98,20± 1,34.Simpulan: Pemberian kombinasi minyak rami dengan minyak wijen dengan  dosis sebesar 1ml, 2ml dan 3 ml secara bermakna menurunkan kadar trigliserida pada tikus dislipidemia  dengan penurunan paling besar pada dosis 3 ml/200 gBB.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN NABATI DENGAN KADAR ASAM URAT DI PUSKESMAS BANJARNEGARA, KABUPATEN BANJARNEGARA Sari, Devy Sukma; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.796 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10119

Abstract

Latar Belakang : Gout merupakan gangguan metabolik yang disebabkan karena peningkatan kadar asam urat. Kadar asam urat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor asupan. Asupan protein sering dihubungkan dengan kadar asam urat karena adanya kandungan purin. Tetapi, hubungan tersebut menjadi berbeda ketika dipisahkan antara protein hewani dan protein nabati. Metode : Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan case-control. Jumlah subyek penelitian adalah 46 orang dengan kadar asam urat tinggi dan kadar asam urat normal. Masing-masing kelompok terdiri dari 23 orang subyek. Asupan protein nabati dihitung menggunakan wawancara Food Frequency Quetionare(FFQ) Semi Kuantitatif. Kadar asam urat dianalisis dengan metode kolorimetri. Uji statistik menggunakan uji hubungan pearson product moment dan rank spearman.Uji multivariat menggunakan uji regresi linier ganda. Hasil : Rata-rata  asupan protein nabati kelompok kasus adalah 46,6±17,98 SD, sedangkan untuk kelompok kontrol adalah 41,9±12,21 SD. Hasil uji hubungan menunjukkan tidak ada hubungan antara asupan protein nabati (p>0,05) dengan kadar asam urat. Kesimpulan : Asupan protein nabati tidak berhubungan dengan kadar asam urat di Puskesmas Banjarnegara
KADAR PROTEIN, SERAT, TRIPTOFAN DAN MUTU ORGANOLEPTIK KUDAPAN EKSTRUSI JAGUNG DENGAN SUBSTITUSI KEDELAI Rudini, Bakhtiar; Ayustaningwarno, Fitriyono
Journal of Nutrition College Vol 2, No 3 (2013): Juli 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.482 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i3.3439

Abstract

Latar Belakang : Konsumsi kudapan mengalami peningkatan, pilihan kudapan yang tersedia biasanya bersifat rendah dalam mutu gizinya seperti mengandung lemak, gula dan natrium yang berlebihan. Kudapan ekstrusi jagung dengan substitusi kedelai mempunyai potensi besar untuk dikembangkan karena selain kandungan protein kedelai yang cukup tinggi, asam amino pada jagung dan kedelai juga saling melengkapi.Tujuan : Menganalisis kadar protein, serat, triptofan dan mutu organoleptik kudapan ekstrusi jagung dengan substitusi kedelai. Metode : Merupakan penelitian eksperimental rancangan acak lengkap dengan subjek penelitian kudapan ekstrusi jagung dengan empat perlakuan substitusi kedelai (0, 25, 50, dan 75%), jagung yang digunakan merupakan varietas Pioneer II dan kedelai yang digunakan adalah varietas Lokon. Analisis yang dilakukan adalah analisis kadar protein, serat, triptofan dan uji organoleptik. Uji statistik dari kadar protein menggunakan uji One Way ANOVA dan kadar serat menggunakan uji Kruskall-wallis, sedangkan mutu organoleptik menggunakan uji Friedman.Hasil : Kadar protein tertinggi terdapat pada kudapan dengan substitusi kedelai 75% (28,014 ± 1,304 g/100g), kadar protein terendah terdapat pada kudapan tanpa substitusi (7,508 ± 0,296 g/100g). Kadar serat tertinggi terdapat pada kudapan dengan substitusi kedelai 75% (16,53 ± 1,389 g/100g), kadar serat terendah terdapat pada kudapan tanpa substitusi (7,28 ± 1,815 g/100g). Kadar triptofan tertinggi terdapat pada kudapan dengan substitusi 75% (156,8 mg/100g) dan terendah pada kudapan tanpa substitusi (99,6 mg/100g). Mutu organoleptik tertinggi terdapat pada kudapan tanpa substitusi, sedangkan mutu organoleptik terendah terdapat pada kudapan dengan substitusi 75%. Terdapat perbedaan yang bermakna pada pengukuran kadar protein dan kadar serat di seluruh tingkatan subtitusi, kadar protein dan serat meningkat pada kudapan dengan substitusi kedelai. Mutu organoleptik semakin menurun dengan adanya substitusi kedelai, uji lanjut menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kudapan tanpa subtitusi dengan kudapan subtitusi meliputi aroma, rasa dan tekstur, sedangkan perbedaan warna bermakna pada seluruh tingkatan subtitusi.Simpulan : Substitusi kedelai terhadap kudapan ekstrusi jagung dapat meningkatkan kadar protein, serat dan triptofan, hasil penilaian mutu organoleptik menunjukkan bahwa kudapan tanpa substitusi kedelai paling disukai dibanding dengan kudapan dengan substitusi, kudapan dengan substitusi kedelai kurang dapat diterima oleh panelis.
hubungan asupan omega-3 dan omega-6 dengan kadar trigliserida pada remaja usia 15-18 tahun Nisa, Fitria Zahrotun; Probosari, Enny; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 2 (2017): April
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.167 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i2.16909

Abstract

Latar Belakang : Omega-3 dan Omega-6 pada keadaan seimbang dapat bekerjasama dalam meningkatkan kesehatan. Namun, pola konsumsi yang berubah menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan proporsi asupan Omega-3 dan Omega-6 yang akan mengindikasi terjadinya suatu gangguan metabolisme terkait kadar trigliserida. Remaja memiliki perilaku makan kurang baik dan mengarah pada ketidakseimbangan Omega-3 dan Omega-6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan Omega-3 dan Omega-6 dengan kadar trigliserida pada remaja usia 15-18 tahun.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan crossectional. Pemilihan subjek menggunakan purposive sampling yang melibatkan 49 remaja yan. Data asupan diperoleh menggunakan Food Recall 24 Jam. Sedangkan, kadar trigliserida diuji dengan metode GPO-PAP (Kalorimetrik Enzimatik).Hasil : Rerata kadar trigliserida sebesar 138.9±21.8 mg/dL dengan rerata omega-3 dan omega-6 sebesar 3.65±1.85g dan 29.3±14 g. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara omega-3 dan omega-6 dengan kadar trigliserida (ρ =0.766) (ρ = 0.752).  Namun, asupan lemak menunjukkan adanya hubungan dengan kadar trigliserida (ρ =0.030).Simpulan : Tidak terdapat hubungan asupan omega-3 dan omega-6 dengan kadar trigliserida remaja. Namun, terdapat hubungan asupan lemak dengan kadar trigliserida
PERBEDAAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN HDL SEBELUM DAN SETELAH PEMBERIAN SARI BENGKUANG (Pachyrrhizus erosus) PADA WANITA Rahman, Maulida Khurriya; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.176 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6854

Abstract

Latar Belakang : Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Peningkatan kadar kolesterol LDL dan penurunan kadar kolesterol HDL mempunyai implikasi terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penanggulangan agar tidak terjadi dislipidemia.Meningkatkan konsumsi sayuran dan buah yang segar dapat membantu menurunkan kolesterol karena di dalamnya mengandung serat terutama serat larut air yang dapat memberikan efek hipokolesterolemik. Buah bengkuang adalah salah satu bahan makanan yang bersifat hipokolesterolemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar kolesterol LDL dan HDL sebelum dan setelah pemberian sari bengkuang (Pachyrrhizus erosus) pada wanita.Metode : Jenis penelitian adalah true experiment dengan rancangan control group pre test – post test. Subjek adalah 28 wanita berusia 40-50 tahun dengan kadar kolesterol LDL antara 100-159mg/dl, dan kadar kolesterol HDL <60mg/dl. Subjek dibagi menjadi dua kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 14 orang. Pemberian intervensi dilakukan selama 21 hari dengan kelompok perlakuan diberikan sari bengkuang yang didapat dari 320gr buah bengkuang dan kelompok kontrol diberikanair sirup rendah kalori. Kadar kolesterol LDL dan HDL dianalisis dengan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode perhitungan dan phosphotungstic precipitation, darah diambil setelah subyek berpuasa selama 10 jam. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji dependent t-test,independent t-test, Wilcoxon, dan Mann Whitney.Hasil : Rerata kadar kolesterol LDL sebelum intervensi pada kelompok perlakuan sebesar 134,07±15,95mg/dl dan mengalami penurunan menjadi 121,24±19,58mg/dl. Terdapat perbedaan yang bermakna kadar kolesterol LDLpada kelompok perlakuan (p=0,012).Rerata kadar kolesterol HDL sebelum intervensi pada kelompok perlakuan sebesar 43,71±8,83mg/dl dan mengalami penurunan menjadi 38±9,23mg/dl. Terdapat perbedaan yang bermakna kadar kolesterol HDL pada kelompok perlakuan (p=0,000).Terdapat perbedaan bermakna kadar kolesterol LDLantara kelompok kontrol dan perlakuan setelah intervensi (p=0,006). Tidak ada perbedaan bermakna kadar kolesterol HDLantara kelompok kontrol dan perlakuan setelah intervensi (p=0,99).Simpulan : Terdapat perbedaan bermakna kadar kolesterol LDLdan HDL sebelum dan setelah pemberian sari bengkuang pada kelompok perlakuan.Terdapat perbedaan bermakna kadar kolesterol LDL antara kelompok kontrol dan perlakuan. Tidak ada perbedaan kadar kolesterol HDL antara kelompok kontrol dan perlakuan.