cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016" : 36 Documents clear
HASIL TANGKAPAN JUVENIL UDANG DI PERAIRAN SUNGAI DAN MUARA WULAN, DEMAK DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERANGKAP Istigfarin, Amalia Nur; Hendrarto, Boedi; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.624 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan Sungai dan Muara Wulan, Demak merupakan wilayah perairan yang memiliki keanekaragaman spesies, contohnya udang. Wilayah perairan Sungai Wulan dimanfaatkan para nelayan untuk menangkap ikan, udang, kerang dan biota lainnya. Alat perangkap digunakan untuk mengetahui kondisi populasi juvenil udang yang terdapat di dasar perairan Sungai dan Muara Wulan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis juvenil yang tertangkap, mengetahui adanya pengaruh lokasi penelitian, dan mengetahui pola pertumbuhan juvenil. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Penelitian dilakukan pada tanggal 7 Mei – 4 Juni 2016.Pengambilansampeljuveniludangdilakukanpadaduastasiun yaitusungaidanmuara yang terdiridaritigatitikdalamperiode I sampaiperiode IV. Hasil tangkapan pada perangkap di simpan dalam botol sampel dan direndam dalam formalin 5%.Hasil yang diperolehdidapatkanjenisjuveniludangdari genus MetapenaeusdanPenaeus. Jumlahseluruhjuveniludang yang didapatkan di perairansungailebihsedikitdibandingkanperairanmuara. Jumlahjuveniludang genus Metapenaeus yang terperangkappadaalatlebih banyak dari genus Penaeus. Jumlah seluruh juvenil udang yang didapatkan sebanyak 103 individu. Polapertumbuhan kedua jenisjuveniludangadalahbersifat allometriknegatif.  Kata Kunci : Juvenil Udang, Muara Sungai Wulan Demak, Pola Pertumbuhan. ABSTRACT Wulan River and Estuarine in Demak have a diversity of species, such as shrimp. Wulan river exploited by fishermen to catch fish, shrimp, shellfish and others. To find out the condition of the juvenile shrimp’s population in the Wulan river and estuary, has been studied by using a trap. The study aims to find out the type of juvenile shrimps that were trapped, the growth pattern, and the effect of the location.Juvenile shrimps sampling was performed in two stations, one on the river and one other on the estuary which consist of three points in period I until period IV. Catches resulted in the trap was stored in sample bottles and was soaked in 5% formalin. It was obtained that the juvenile shrimps type collected was from MetapenaeusdanPenaeus genus. Total numbers of juvenile shrimps obtained in the river was less than in the estuary.The numbers of Metapenaeus genus trapped was more than Penaeus genus. The overall numbers of juvenile shrimps caught was 103 juveniles. The growth pattern ofjuvenile shrimps was negatively allometric..Keywords: Shrimps juvenile, Wulan River and Estuarine Demak, Growth Pattern.
KOMPOSISI JENIS HIU DAN DISTRIBUSI TITIK PENANGKAPANNYA DI PERAIRAN PESISIR CILACAP, JAWA TENGAH Arrum, Sheila Puspa; Ghofar, Abdul; Redjeki, Sri
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.036 KB)

Abstract

ABSTRAK Ikan hiu merupakan predator tertinggi serta merupakan penjaga dan pembersih pada rantai makanan.Indonesia merupakan salah satu negara yang melakukan penangkapan hiu terbesar di dunia.Penangkapan hiu di Indonesia selama kurun waktu tahun 2000-2010 rata-rata sebesar 106.288 ton/tahun. Sebagai tindak lanjut dan menjaga keseimbangan ekosistem, maka diperlukan monitoring. Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, produksi hasil tangkapan ikan hiu, serta titik koordinat penangkapan.Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2016 di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Dari hasil penelitian terdapat 9 jenis ikan hiu yang didaratkan yaitu Tikusan (Alopias pelagicus), Paitan (Alopias superciliosus), Lanjaman (Carcharinus falciformis), Selendang (Prionace glauca), Cakilan Air (Isurus paucus), Cakilan (Isurus oxyrinchus), Buas (Galeocerdo cuvier), Pasiran (Carcharhius plumbeus), dan Caping (Sphyrna lewini). Produksi terbanyak didominasi oleh jenis Paitan dengan jumlah produksi sebesar 11.257 kg. Selendang dan Tikusan total berat mencapai 6.625 kg dan 7.055 kg sedangkan Caping memiliki total berat 392 kg. Tren produksi tangkap temporal cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2012-2015. Sebaran titik koordinat penangkapan berada pada kisaran lintang 7048’58,0” sampai 8005’42,9” dan bujur 109005’07,1” sampai 109045’03,5” untuk alat tangkap longline. Untuk alat tangkap gillnet berada pada kisaran koordinat lintang 7044’51,8” sampai 7049’09,0” dan bujur 109005’12,1” sampai 109011’20,4”. Daerah sebaran keseluruhan dari kedua jenis alat tangkap berada antara lintang 7049’27,0” sampai 8002’43,1” dan bujur 109007’06,4” sampai 109045’03,5” yang merupakan bagian dari perairan di bagian selatan Cilacap. Kata kunci: jenis hiu; distribusi titik penangkapan; perairan Cilacap. ABSTRACT Shark is the top predator that is guards and cleaners in the food chain. Indonesia is one of country that does highest shark fishing in the world. Shark fishing in Indonesia for the period 2000-2010 produced an average of 106.288 tonnes / year. As a follow up of this and maintain the balance of the ecosystem, it is necessary monitoring. The study was aimed to determine the species composition, production of shark catches, and the coordinates of the fish catching. The study was conducted in April-May 2016 at the Cilacap Oceans Fishing Port, Central Java. This research used descriptive method and sampling was done by a purposive sampling. There were 9 species of shark were landed, there are pelagic thresher (Alopias pelagicus), big-eyed thresher (Alopias superciliosus), silky shark (Carcharinus falciformis), blue shark (Prionace glauca), longfin mako (Isurus paucus), shortfin mako (Isurus oxyrinchus), tiger shark (Galeocerdo cuvier), sandbar shark (Carcharhius plumbeus), and scalloped hammerhead shark (Sphyrna lewini). The highest production was big-eyed thresher with total production of 11.257 kg. Blue shark and pelagic thresher total weight reached 6.625 kg and 7.055 kg, while the scalloped hammerhead shark has a total weight of 392 kg. Temporally capture production trends tended to increase from year 2012 to 2015. Distribution of fishing coordinate point was in the range of latitude 7048'58,0"until 8005'42,9" and the longitude 109005'07,1"until 109045'03,5" for longline fishing gear. For gillnet fishing gear was in the range of latitude 7044'51,8"until 7049'09,0" and longitude 109005'12,1"until 109011'20,4". Overall distribution of both types of fishing gear were between latitude 7049'27,0"until 8002'43,1" and longitude 109007'06,4"until 109045'03,5" which is part of the southern part of Cilacap  waters.  Keywords :Shark species; catch distribution; Cilacap waters. 
DISTRIBUSI DAN KANDUNGAN KARBON PADA LAMUN (Enhalus acoroides) DI PULAU KEMUJAN TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA BERDASARKAN CITRA SATELIT Zulfikar, Alfian; Hartoko, Agus; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.396 KB)

Abstract

ABSTRAKPadang lamun merupakan salah satu ekosistem yang sangat penting di wilayah pesisir. Salah satu fungsi dari lamun yaitu sebagai penyerap karbon. Adanya berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat di Pulau Kemujan dikhawatirkan dapat mengganggu fungsi lamun tersebut. Lamun tersebar sepanjang pantai sebelah barat Pulau Kemujan sehingga penggunaan teknologi penginderaan jauh diharapkan dapat membantu dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui  pengaruh dari kegiatan manusia terhadap fungsi lamun sebagai penyerap karbon dengan cara membangun pemodelan algoritma berdasarkan citra satelit Aster. Adapun pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Analisis kandungan karbon pada lamun menggunakan metode Walkley & Black. Hasil kandungan karbon tertinggi terdapat pada rhizome berkisar antara 12,498 – 55.967 g C/m2 sedangkan akar berkisar antara 0,475 – 27,147 g C/m2 dan daun berkisar antara 4,374 – 30,346 g C/m2. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa distribusi biomassa dan kandungan karbon lamun (Enhalus acoroides) di Pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa menyebar tidak merata, hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh dari kegiatan manusia terhadap fungsi lamun sebagai penyerap karbon. Kata kunci: Lamun, Kandungan karbon, Pulau Kemujan Taman Nasional Karimunjawa ABSTRACTSeagrass beds are one of the very important ecosystems in coastal areas. One function of seagrass is carbon sinks. Activities in Kemujan island was suspected to interfere function of seagrass. Seagrass was found along the west of Kemujan island, so that using of remote sensing technology can help in this research. The aimed of this research was to determine the influence of human activities on the functioning of seagrass as a carbon sink by building modeling algorithm based on Aster satellite. Sampling teqhnique was purposive sampling. Analysis of carbon biomass in seagrass using Walkley & Black method. The results of the highest carbon biomass was found in the rhizome ranged from 12.498 to 55,967 g C /m2 while the roots ranged from 0.475 to 27.147 g C /m2 and leaves ranged from 4.374 to 30.346 g C /m2. This research, concluded that the distribution of biomass and carbon biomass of seagrass (Enhalus acoroides) in Kemujan Island Karimunjawa National Park spread unevenly, it showed the influence of human activities on seagrass function as carbon sinks. Keywords: Seagrass, carbon biomass, Kemujan Island Karimunjawa National Park.
STUDI KESESUAIAN WISATA PANTAI NGLAMBOR SEBAGAI OBJEK REKREASI PANTAI DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Pratesthi, Pintya Dwanita Ayu; Purwanti, Frida; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.241 KB)

Abstract

ABSTRAKEkowisata adalah kegiatan wisata alam yang memanfaatkan lingkungan, memperhatikan unsur-unsur konservasi, ekonomi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat setempat. Salah satu pantai yang termasuk dalam ekowisata adalah Pantai Nglambor yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi dan perkembangan wisata Pantai Nglambor dan mengetahui nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Pantai Nglambor serta kategorinya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Juli 2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif menggunakan IKW dengan teknik purposive sampling dan metode deskriptif dengan teknik voluntary sampling untuk kuisioner 60 responden. Potensi wisata Pantai Nglambor ada pada kondisi fisik pantai yang unik dan indah, serta jenis kegiatan atau daya tarik wisatanya yaitu berenang dan snorkeling, sedangkan perkembangan wisata Pantai Nglambor dalam satu tahun sudah menjadi tujuan utama bagi pengunjung dan nilai untuk kepuasan serta keinginan untuk kembali berkunjung dari pengunjung adalah 95.1%. Nilai IKW untuk Pantai Nglambor pada semua Stasiun saat surut (sore) dan saat pasang (pagi) adalah S1 atau Sangat Sesuai (Highly Suitable) dengan kisaran nilai sebesar 84.52% hingga 90.48% kecuali pada Stasiun I saat pasang (pagi) termasuk kategori S2 atau Sesuai (Suitable) dengan nilai sebesar 78.57%. Kata kunci: Kesesuaian Wisata; Pantai Nglambor; Gunungkidul ABSTRACT Ecotourism is nature tourism activities that utilize environment, which concern on the elements of conservation, economic, education and also empowering local communities. One of the beaches that can be an ecotourism destination is Nglambor Beach located in Purwodadi village, Tepus sub-district, Gunungkidul regency. The purpose of this study are to know the potential and development of tourism in Nglambor Beach and to determine the value of Tourism Suitability Index of Nglambor Beach and it’s categories. This study was conducted in January to July, 2016. The method used in this research were quantitative method using Tourism Suitability Index with purposive sampling technique and descriptive method by distributing questionnaires using voluntary sampling technique to 60 respondents. The potential of Nglambor Beach is in the physical condition of the unique and beautiful beach, as well as the type of tourism activities or attraction i.e swimming and snorkeling, while the development of Nglambor beach whitin a year has become a main tourism destination with the value of satisfaction and the desire to re-visit is 95.1%. Value of Tourism Suitability Index of Nglambor Beach at all stations at low tide (evening) and the high tide (morning) are S1 or Highly Suitable with a value range of 84.52% to 90.48%, except at Station I at the high tide (morning) is S2 or Suitable with a value of 78.57%. Keywords: Ecotourism Suitability; Nglambor Beach; Gunungkidul
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN KELIMPAHAN MAKROZOOBENTOS DI MUARA SUNGAI SILANDAK, SEMARANG Meynita, Dewi; Muskananfola, Max Rudolf; Sedjati, Sri
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.648 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara Sungai Silandak merupakan salah satu subsistem drainase wilayah Semarang Barat yang bermuara ke teluk Semarang.Muara merupakan tempat akumulasi buangan limbah domestik dan pabrik. Dilakukannya reklamasi pantai pada bagian hilir Muara Silandak dapat menyebabkan sedimentasi yang akan mempengaruhi keberadaan makrozoobentos. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tekstur sedimen, kandungan bahan organik dan kelimpahan makrozoobentos.Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel sedimen dan sampel makrozoobentos pada setiap stasiun yang berlokasi di muara sampai pesisir Pantai Maron.Penelitian ini dilakukan dengan sampling acak atau Random Sampling dengan empat stasiun.Pada setiap stasiun terdapat tiga titik sampling, sampel sedimen dan makrozoobentos diambil pada setiap titik kemudian dikomposit perstasiun.Sampling dilakukan pada interval waktu dua minggu dengan tiga kali pengulangan.Hasil analisis tekstur sedimen pada stasiun I memiliki tekstur liat sedangkan stasiun II, III dan IV memiliki tekstur lempung liat berpasir. Hasil kandungan bahan organik pada stasiun I,II, III dan IV sebesar 19,33%, 15,20%, 13,40% dan 10,67%. Sedangkan kelimpahan makrozoobentos yang didapatkan stastiun I sebesar 652 ind/m3 , stasiun II 696 ind/m3 , stasiun III 783 ind/m3 (tertinggi) dan stasiun IV 261 ind/m3 dengan katagori indeks keanekaragaman belum tercemar dan tidak adanya jenis yang mendominasi.  Kata kunci: Tekstur Sedimen, Kandungan Bahan Organik, Kelimpahan Makrozoobentos, Muara Sungai Silandak Semarang.   ABSTRACT Silandak Estuary is one of the subsystem drainage areas in West Semarang that flow into the bay of Semarang. The estuary is a place of accumulation of domestic sewage and factories. Coastal reclamation at the downstream estuary Silandak causing sedimentation that will affect the existence of macrozoobenthos. The purpose of this research was to know the sediment texture, organic matter content and abundance of macrozoobenthos. The material used in this research is the sediment samples and samples of macrozoobenthos at any station located at the estuary to the coast of Maron. The research used random sampling with four stations. At each station there are three sampling points, samples of sediment and makrozoobentos taken at any point which then composite sample at each station. The sampling was done with time interval of two weeks with three repetitions. The results of the sediment texture at the station I has the texture of clay while the station II, III and IV have a texture of sandy clay loam. The results of the organic material content at stations I, II, III and IV is amounted 19,33%, 15,20%, 13,40% and 10,67% and while abundance of makrozoobentos at station I are 652 ind/m3, station II 696 ind/m3, station III 783 ind/m3(higher) and station IV 261 ind/m3 with a diversity index categories clean water zone and not found the dominant species. Keywords: Sediment Textures, Organic Matter Contents, Abundance of Makrozoobentos, Silandak Estuary Semarang. 
ANALISIS KEBUTUHAN OKSIGEN UNTUK DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK SEDIMEN DI KAWASAN MANGROVE DESA BEDONO DEMAK Mia Arista Sari; Pujiono Wahyu Purnomo; Haeruddin Haeruddin
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.534 KB) | DOI: 10.14710/marj.v5i4.14422

Abstract

ABSTRAK Salah satu peran penting mangrove bagi kehidupan biota akuatik adalah sebagai penyedia nutrien dari bahan organik yang dihasilkan. Proses dekomposisi bahan organik membutuhkan oksigen dan bantuan bakteri. Apabila kadar oksigen berkurang maka dapat mempengaruhi proses dekomposisi dan akhirnya dapat berpengaruh terhadap kehidupan bentos yang ada. Tujuan dari penelitian adalah  mengetahui kebutuhan oksigen yang digunakan dalam proses dekomposisi bahan organik pada kawasan mangrove. Penelitian bersifat eksperimental terhadap deposit bahan organik. Penelitian mengacu pada rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan (deposit organik mangrove padat, sedang, dan jarang) yang masing – masing diulang 3 kali. Penelitian dilakukan di kawasan mangrove desa Bedono, Demak. Peubah utama yang diukur adalah Disolved Oxygen, bahan organik sedimen secara berkala pada jam ke- 0, 12, 24, 36, 48, 60 dan 66. Peubah tambahan yang diukur adalah kelimpahan bakteri. Diukur penurunan Disolved Oxigen pada waktu tertentu. Diukur pula nilai bahan organik sedimen dan kelimpahan koloni bakteri. Hasil yang didapat yaitu nilai kebutuhan oksigen sedimen tertinggi pada stasiun 1 dengan kisaran 1,3 – 3,5. Nilai kebutuhan oksigen sedimen pada stasiun 2 berkisar antara 1,2 – 2,2 dan nilai kebutuhan oksigen sedimen pada stasiun 3 berkisar antara 0,8 - 2,7. Hasil kelimpahan koloni bakteri pada stasiun 1 berkisar antara 1 x 1011 – 1,5 x 1011Cfu/ml. Stasiun 2 berkisar antara 2 x 1011 - 22 x 1011Cfu/ml dan stasiun 3 berkisar antara 1 x 1011 - 2 x 1011Cfu/ml. Kualitas perairan seperti temperatur berikisar antara 27 - 32 ºC. Nilai salinitas beriksar antara 25 - 29‰ dan nilai pH berkisar antara 7 - 8. Kata kunci: Oksigen; Bahan Organik; Sedimen; Dekomposisi ABSTRACT One important role of mangrove for aquatic biota is a provider of nutrients from organic matter produced. The process of decomposition of organic matter need oxygen and help the bacteria. When oxygen levelsdecreases, it can affect the decomposition process and can ultimately affect the existing benthic life. The purpose of the research was to determine the need of oxygen used in the decomposition of organic matter in the mangrove areas. It is a experimental research on the deposit of organic material. The research refers to a completely randomized design with 3 treatments (dense mangrove organic deposits, medium, and rare) that eachs repeated three times. Research conducted in the mangrove areas Bedono village, Demak. The main variables measured were Disolved Oxygen, sedimentary organic matter on a regular basis on the hour 0, 12, 24, 36, 48, 60 and 66. Additional variables that measured the abundance of bacteria.MeasuredDisolvedOxigen decline at a certain time. Measured the value of sedimentary organic matter and the abundance of bacterial colonies. The result is the highest value of the oxygen requirement of sediment at station 1 is in the range of 1,3 to 3,5. The value of the oxygen requirement of sediment at station 2 ranged from 1,2 to 2,2 and the value ofsediment oxygen demand of the three stations ranged from 0,8 to 2,7. The result of the abundance of bacteria colonies from the at station 1 range from 1 x 1011 to 1,5 x 1011Cfu/ml. Station 2 ranging from 2 x 1011 -22 x 1011Cfu/ml and three stations ranged between 1 x 1011 -2 x 1011Cfu/ml. Water quality  such as temperature ranged from 27 - 32 ºC. Salinity value ranged from 25 - 29 ‰ and pH values ranged from 7-8.                                                                                                                              Keywords: Oxygen; Organic Matter; Sediment; Decompotition
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DENGAN MANGROVE DI DESA MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Aini, Hida Rizki; Suryanto, Agung; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.179 KB)

Abstract

ABSTRAK Desa Mojo merupakan salah satu wilayah Kecamatan Ulujami yang memiliki kawasan mangrove yang luas. Hutan mangrove di Desa Mojo merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dan pihak terkait. Hutan mangrove Desa Mojo mempunyai fungsi yang sangat penting bagi daerah sekitarnya. Rehabilitasi yang telah dilakukan tersebut memberikan efek terhadap ekosistem. Habitat mangrove yang ada di Desa Mojo tersebut kemungkinan memberikan karakteristik terhadap sedimen sebaliknya karakteristik sedimen merupakan faktor penting terhadap keberadaan mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – april 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik sedimen terhadap tegakan mangrove. Metode yang digunakan untuk menghitung kerapatan mangrove yaitu Point Centered Quarter Method. Karakteristik sedimen meliputi pengukuran fisika sedimen, pengukuran tekstur sedimen dengan metode Soil Jar Test (FAO), dan bahan organik sedimen diukur dengan metode LOI (Loss on Ignition). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kawasan mangrove di Desa Mojo termasuk sangat padat, karena memiliki kerapatan lebih dari 1500 pohon per hektar (KepMenLH No.201, 2004). Sedimen pada kawasan mangrove Desa Mojo memiliki karakteristik tekstur silt (lumpur). Hasil Principal Component Analysis korelasi spesies mangrove dipengaruhi langsung oleh kuantitas silt dibandingkan dengan faktor lingkungan lainnya.  Kata Kunci : Tekstur sedimen; Mangrove; Ulujami; Pemalang ABSTRACT Mojo village is one of the District of Ulujamithat has extensive mangrove areas. The mangrove forest in the village of Mojo is the result of the rehabilitation undertaken by the local community and other interested parties. It has a very important function for the surrounding area. The rehabilitation has been done to give effect to the ecosystem. Mangrove habitat in the village of Mojo and sediment characteristics of mutrual influenced.. The study was conducted in March - April 2016. The purpose of this study was to determine the correlation characteristic of sediment to mangrove stands. The method used to calculate the density of mangrove namely Point Centered Quarter Method. Sediment characteristics include physical measurements of sediment, sediment texture measurement method Jar Test Soil (FAO), and sedimentary organic matter is measured by the method of LOI (Loss on Ignition). The results showed that the condition of the mangrove area in the village of Mojo include very dense, because it has a density of more than 1500 trees per hectare (KepMenLH 201, 2004). Sediment in the mangrove areas Desa Mojo has the characteristic texture of silt. The data used by the Principal Component Analysis correlation mangrove species were influenced by the quantity of silt, while there is no direct impact on other environmental factors on the existing mangrove species. Keywords: Sediment texture,Mangrove. Ulujami, Pemalang
HASIL TANGKAPAN IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares) DI SAMUDERA HINDIA BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN BENOA, BALI Anggarini, Krisliyana Mia; Saputra, Suradi Wijaya; Ghofar, Abdul; Setyadji, Bram
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.751 KB)

Abstract

ABSTRAK Produksi ikan Madidihang yang cenderung menurun yang disebabkan oleh penangkapan yang berlebih dikhawatirkan dapat mengganggu kelestarian sumberdaya ikan Madidihang. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian tentang hasil tangkapan ikan Madidihang. Hasil yang didapatkan dari penelitian diharapkan dapat memberi gambaran tentang kondisi ikan Madidihang di Samudera Hindia. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2016 di Pelabuhan Benoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ikan madidihang melalui telaah panjang-bobot, faktor kondisi, ukuran pertama kali tertangkap, panjang asimtotik (L∞) ikan Madidihang di Samudera Hindia berdasarkan hasil tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Benoa, Bali. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan ukuran ikan Madidihang bulan April-Mei 2016 berkisar 70 – 178 dengan modus 112 cmFL. Persamaan hubungan panjang-bobot didapatkan W = 0,00002*FL2,966 dengan pola pertumbuhan isometrik. Faktor kondisi yang didapatkan antara 1,64 – 2,44, dan ukuran ikan pertama kali tertangkap 133 cmFL. Panjang asimtotik (L∞) = 190,05 cmFL. Berdasarkan ukuran ikan yang tertangkap dimana Lc > ½ L∞ dapat dinyatakan bahwa ukuran yang tertangkap telah layak tangkap. Kata Kunci : Ikan madidihang; hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, ukuran pertama kali tertangkap ABSTRACT Yellowfin tuna production tends to decrease due to excess catching that is feared could interfere with the preservation of resources yellowfin tuna. Hence, it is necessary to do this research Catch Product of Yellowfin Tuna. Results obtained from the study are expected to give an idea of yellowfin condition in the Indian Ocean. This research was conducted in April-May 2016 at the Benoa Port. The aimed of this research was to determine condition of yellowfin tuna through the study of the length-weight relationship,condition factor, length at first capture, and asymptotic length (L∞) of yellowfin tuna in the Indian Ocean based on catches landed at the port of Benoa, Bali. This research used survey method. Data processing used the software of Microsoft Excel and FISAT II. The results have shown the size of the yellowfin tuna from April-May 2016 ranging from 70 – 178 with 112 cmFL. The equation of length weights correlation was obtained W = 0.00002*FL2,966 with isometric growth pattern. The condition factor obtained was between 1.64 to 2.44, and the size of the first caught fish is 133 cmFL. Asymptotic length (L∞) = 190.05 cmFL. Based on the size of fish caught where Lc > ½ L∞ can be stated that the size of which was caught had a decent catch.  Keywords: Yellowfin Tuna; length-weight relationship; condition factor, length at first capture
IDENTIFIKASI POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA PADA KAWASAN KONSERVASI HUTAN MANGROVE DESA PASAR BANGGI KABUPATEN REMBANG Dwijayati, Aprilia Kukuh; Suprapto, Djoko; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.543 KB)

Abstract

ABSTRAK Desa Pasar Banggi memiliki potensi pariwisata hutan mangrove yang besar untuk dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi potensi, kesesuaian ekowisata dan menentukan strategi pengembangan ekowisata pada kawasan hutan mangrove Desa Pasarbanggi Kabupaten Rembang. Penelitian dilakukan pada tanggal 3-27 Juli 2016 di kawasan hutan mangrove Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksloratif, dengan menggunakan metode survei dalam bentuk data primer dan skunder. Data yang diperoleh kemudian dianalisis kesesuaian lahan dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Thread). Hasil penelitian menyatakan bahwa ketebalan hutan mangrove 100-150 ha dengan kerapatan bernilai 35-40 ind/m2. Potensi ekowisata yang terdapat pada kawasan hutan mangrove desa Pasarbanggi adanya jenis satwa dalam hal ini jenis burung yang dilindungi seperti kuntul kecil, dan kuntul kerbau.Hasil analisis kesesuaian ekowisata mangrove menunjukan pada stasiun I, II, dan III masing-masing adalah 67%, 78%, dan 70% bahwa kawasan hutan mangrove dukuh Kaliuntu termasuk dalam kategori sesuai untuk dijadikan kawasan ekowisata di Kabupaten Rembang.Menurut hasil analisis SWOT, yang menjadi prioritas utama di Desa Pasar Banggi adalah: a) Penentuan zona dalam kawasan konservasi ekosistem mangrove dan b) Peningkatan partisipasi stakeholder terhadap program konservasi ekosistem mangrove. Kata Kunci: Ekowisata; Hutan Mangrove; Pasar Banggi  ABSTRACT Pasar Banggi Village has tourism potential of mangrove forests to be developed. The purpose of this research was to identify the potential,analysis comformity of ecotourism and estabilsh the strategy of ecotourism development in the mangrove forest at Pasar Banggi area Rembang Regency. The research was conducted on July 3 - 27th 2016 in the mangrove forest  Pasar Banggi Village, Rembang Regency. The method used in this research is descriptive explorative, by using survey method in a form of primary and secondary data. The collected data was then analyzed the conformitu of the land and SWOT analysis (Strangth, Weakness, Opportunity, and Thread). The result of the research showed that the thickness of mangrove forest is 100-150 ha with the density of 35-40 ind/m2. The ecotourism potential that can be found in the mangrove forest at Pasar banggi village is the existence of protected bird such as little egrets and egrest buffalo. The result of the analysis comformity of ecotourism mangrove was shown in the station I, II, and III respectively are 67%, 78%, and 70% that the mangrove forest area of Kaliuntu Village was include in suitable catagory to be targetted as the ecotourism area in Rembang Regency. Based on the SWOT analysis, the major priority in Pasar Banggi Village are: a) Determining zone in mangrove ecosystem concervational area, and b) The increase of stakeholders participation to the mangrove ecosystem concervational program. Keywords: Ecotourism; Mangrove Forest; Pasar Banggi
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA DENGAN TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA Wulan, Sonia; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.262 KB)

Abstract

ABSTRAK Ekosistem padang lamun di Perairan Bandengan Jepara penting bagi biota akuatik khususnya epifauna. Kerapatan lamunakan mempengaruhi bahan organik yang digunakan oleh epifauna, selain itu kerapatan lamun juga dapat mengendapkan bahan organik yang akan mempengaruhi kelimpahan epifauna. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2016 di Perairan Bandengan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Perairan Bandengan Jepara serta hubungan antara kandungan bahan organik dengan tingkat kerapatan lamun di Perairan Bandengan Jepara. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan survei dengan metode sampling yaitu Purposive Random sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1 jenis lamun yang ditemukan di Pantai Bandengan  yaitu Thalassia sp. dengan kerapatan pada stasiun jarang (A) 178 ind/m2, stasiun padat (B) 368 ind/m2. Kelimpahan epifauna di kerapatan jarang dan padat di Perairan bandengan 140 ind/3m2, dan 91 ind/3m2. Rerata kandungan bahan organik sedimen pada kerapatan jarang, dan padat berturut-turut adalah 12.86% dan 76.85%.Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kelimpahan epifauna dengan tingkat kerapatan lamun menunjukkan hubungan tidak searah, setiap kenaikkan kerapatan lamun tidak diikuti oleh kenaikkan kelimpahan epifauna, serta tingkat kerapatan lamun dengan bahan organik terdapat korelasi yang kuat, semakin tinggi tingkat kerapatan lamun akan diikuti oleh bahan organik.  Kata Kunci; Perairan Bandengan; Kerapatan Lamun; Kelimpahan Epifauna; Bahan Organik.  ABSTRACT Seagrass ecosystem in Bandengan coastal Jepara is important for epifauna. Different seagrass density will affect levels of organic matter used epifauna, in addition the density of seagrass can also precipitate organic particles which affect the abundance of epifauna. This research was conducted on March 2016. The aimed of this research was to determine the relationship of epifauna’s abundance to density seagrass and the relationship of organic matter to the density of seagrass. This research used survey method and random sampling technique. Samples were taken from three different station there are (A) sparse density, and (B) dense density. Sample epifauna were taken once a week for three time. The results showed only 1 type of seagrass found in Bandengan coastal Jepara that is Thalassia sp. With density on sparse station (A) 178ind/m2, dense station 368 ind/m2. The abundance of epifauna on station sparse (A) 140 ind/3m2, dense station (B) 91 ind/3m2, The highest abundance Sconsia sp 52 ind/m2 dan 28 ind/m2 and Cerithium sp 34 ind/m2 dan 19 ind/m2Organic material content of sedimen on density was sparse and dense was 5.71%, 9.81%. Based on the result of the correlation show that between the abundance of epifauna with seagrass density level there is a relation undirectional, density of seagrass will not increase accordingly to the abundance of epifauna, as well as to the content of organic matter. There is a close correlation that higher of density of seagrass will be followed by organic matter. Key Word; Coastal of Bandengan; Seagrass Beds Density; Abundance of Epifauna; Organic matter

Page 1 of 4 | Total Record : 36