cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014" : 25 Documents clear
PENGGUNAAN METODE PERANGKAP AGAR-AGAR DENGAN PENAMBAHAN PAKAN IKAN UNTUK PENELITIAN JUVENIL UDANG DI PERAIRAN MOROSARI, DEMAK Fama, Achmad; Nitisupadjo, Mustofa; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.058 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis juvenil udang di perairan Morosari; mengetahui kelimpahan juvenil udang, mengetahui keterkaitan antara kelimpahan dengan lokasi, perlakuan pakan atau tanpa pakan, dan waktu dan mengetahui hubungan panjang dan berat juvenil udang di perairan Morosari, Demak. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil udang yang tertangkap dengan metode perangkap agar- agar di perairan Morosari, Demak. Metode perangkap agar-agar sebagai materi utama dengan perlakuan pemberian tambahan pakan yang kemudian akan diletakkan dua lokasi pada perairan sungai dan muara Morosari, Demak. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode studi kasus untuk mengamati juvenil udang yang tertangkap dengan metode perangkap agar- agar dan berada di lokasi pengamatan selama bulan November sampai bulan Desember 2013 . Pengamatan juvenil udang yang dilakukan berlokasi di perairan muara dan sungai dengan tiga titik tiap perairan dengan perendaman alat perangkap selama 24 jam dan interval satu minggu sekali selama 4 minggu. Selanjutnya melakukan identifikasi jenis juvenil udang serta melakukan perhitungan analisis data dan konversi hasil dari satuan ekor menjadi individu / m2. Hasil pengamatan juvenil udang di lokasi penelitian yang didapatkan dengan metode perangkap agar-agar pada ekosistem sungai dan muara terdiri dari genus Macrobrachium dan genus Penaeus. Jumlah individu  juvenil udang yang tertangkap berjumlah seluruhnya 64 individu atau dikonversi menjadi 426 individu/m2. Genus Macrobrachium sebanyak 62 individu atau dikonversi menjadi 413 individu/m2 dan genus Penaeus sebanyak 2 ekor atau dikonversi menjadi 13 individu/m2. Dengan menggunakan taraf kepercayaan 60% terlihat adanya keterkaitan antara kelimpahan dengan faktor pakan/ tanpa pakan dengan nilai P sebesar 0,44 dan tidak adanya keterkaitan antara kelimpahan dengan faktor lokasi dan waktu dengan nilai P sebesar 0,6341 dan 0,5269. Sifat pertumbuhan dari udang Macrobrachium dengan kisaran ukuran 5-20 mm adalah allometrik negatif yaitu pertambahan panjang udang Macrobrachium lebih cepat daripada pertambahan beratnya. The purpose of this study was to knowing the type of juvenile shrimp in the waters of Morosari, Demak, determine the potential distribution of juvenile shrimp; Knowing the relationship between abundance and the location, treated feed or without food, and time; and to study the relation between the length and weight of juvenile shrimp. The material used in this study were juvenile shrimp which caught with agar trap methods in the waters Morosari, Demak. Agar trap method  as the main material with the additional of fish feed which will then be put on the river and estuary of Morosari, Demak. The research method was the case study method to observe juvenile shrimp were caught with methods that trap and observations at the scene during the months of November until December 2013. Observations of juvenile shrimp was done at river and estuary waters in three locations with interval of 24 hours. Furthermore, it was identifying the species of juvenile shrimp and the data analysis. Observations of juvenile shrimp in the study site were obtained with the agar trap method in the river and estuary ecosystems consisting the genus of Macrobrachium and Penaeus. The number of individual juvenile shrimp were caught completely totaled 64 individual or 426 individual/m2. The genus Macrobrachium 62 individual or 413 individual/m2 and Penaeus 2 individual or 13.33 individual/m2. By using a 60 % confidence level shown there is a correlation between the abundance by a factor of feed / no feed with a P value of 0.44 and no correlation between abundance by a factor of location and time with a P value of 0.6341 and 0.5269.The nature of the growth of the shrimp Macrobrachium was negative allometric mean the length of the shrimp Macrobrachium was faster than the increase of weight.
ANALISIS UKURAN DIMENSI PARUH Photololigo duvaucelli d’Orbigny 1835 DAN Photololigo chinensis Gray 1849 TERHADAP PANJANG MANTEL DAN BOBOT TUBUH (CEPHALOPODA: LOLIGINIDAE) Dewi, Ria Purnama; Afiati, Norma; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.256 KB)

Abstract

Paruh Cephalopoda terus tumbuh sepanjang hidupnya. Paruh ini terbuat dari kitin dan terletak didalam buccal mas. Paruh Cephalopoda yang berbentuk seperti paruh burung Beo ini tumbuh secara horizontal, vertikal dan diagonal. Oleh karena itu, pertumbuhan salah satu dimensi akan mempengaruhi ukuran dan bentuk dimensi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik deskriptif dan karakteristik pertumbuhan paruh P. duvaucelli dan P. chinensis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012 hingga Februari 2013 di TPI sekitar Semarang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan mengekstrak paruh dari dalam mulut Cephalopoda kemudian 7 variabel dari kedua spesies diukur yaitu hood length, rostral length, crest length, wing length, jaw angle distance, baseline lateral dan wall amplitude. Data pengukuran morfometri kemudian diolah menggunakan analisis regresi untuk mengetahui tipe pertumbuhan. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa paruh atas dan paruh bawah P. duvaucelli memiliki tipe pertumbuhan alometrik negatif terhadap panjang mantel dan bobot tubuh. Paruh bawah P. chinensis menunjukkan tipe pertumbuhan isometrik pada tudung paruh bawah, sayap paruh bawah dan diagonal paruh bawah terhadap panjang mantel. Selain itu, perbandingan antar variabel yang sama pada paruh bawah dan paruh atas memperlihatkan bahwa tudung paruh bawah sangat berperan penting bagi P. duvaucelli untuk bekerja lebih dominan dalam merobek jaringan, karena tumbuh isometrik terhadap rostrum paruh bawah dan sayap paruh bawah. Semakin panjang tudung, bentuknya akan semakin melengkung seperti kurvatur dan tajam. Pada P. chinensis, terlihat pertumbuhan yang isometrik antara rostrum paruh bawah, sayap paruh bawah serta diagonal paruh bawah. Fakta ini mengindikasikan bahwa P. chinensis membutuhkan kecepatan pertumbuhan yang sama pada diagonal paruh untuk tumbuh secara horizontal dan sayap paruh bawah untuk tumbuh secara vertikal di dalam buccal mass untuk mencegahnya mudah terlepas ketika menggigit/mengoyak. Kedua spesies menunjukkan bahwa semua variabel yang diukur pada paruh bekerja secara koordinatif untuk memotong dan mengoyak daging mangsa menjadi bagian yang lebih kecil sebelum ditelan. The beak of Cephalopod grows continously throughout its life. Beaks are made of chitin and situated in muscular tissue called buccal mass. Parrot-shaped beaks grow horizontally, vertically and diagonally. Therefore, growth from one dimension will affect the others in shape and size. This study aimed at describing growth characteristics of the beaks of P. duvaucelli and P. chinensis. This study was conducted from November 2012 to February 2013 on specimens collected from local fishing ports around Semarang, by extracting beaks from the buccal mass and 7 variables from both species were measured i.e,  hood length, rostral length, wing length, crest length, jaw angle distance, baseline length and lateral wall amplitude. Measured data was further processed using regression analysis to determine the type of allometric growth. Regression results showed that lower and upper beaks of both P. duvaucelli and P. chinensis were of negative allometry to its mantle length and body weight. Lower beaks of P. chinensis showed isometric growth of lower hoods, lower wings and lower crest, as well as towards mantle length. In addition, comparison between the same variables on lower and upper beaks showed that lower hoods play an important role for P. duvaucelli to be a dominated organ for tearing tissue, because it grows isometrically to lower wings and lower crests length. The longer the beak hood, the more curved and sharper it is. P. chinensis showed isometric growth in the lower rostrum, lower wings and lower crests towards mantle length. These facts may indicate that P. chinensis needs the same growth speed between crest length to grow horizontally and lower wings length to grow vertically in the buccal mass to avoid being removed whilst biting/tearing. Both species show that all measured variables of the beak work coordinatively to cut and tear prey tissue into small pieces before being swallowed. 
ANALISIS HUBUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN TOTAL BAKTERI PADA TAMBAK UDANG INTENSIF SISTEM SEMIBIOFLOK DI BBPBAP JEPARA Putra, Stephanus Jeanua Widyalistyo; Nitisupardjo, Mustofa; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.906 KB)

Abstract

   Bioflok merupakan salah satu teknologi yang mampu mengatasi permasalahan limbah akuakultur, sebab dengan penambahan materi heterotrof mampu mengubah nitrogen anorganik yang berasal dari feses maupun sisa pakan menjadi protein sel tunggal yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ikan atau udang. Penguraian bahan organik oleh bakteri menjadi sangat komplek di perairan, mengingat banyak faktor lingkungan yang berperan. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini akan dilakukan penelitian tentang analisis pengaruh bahan organik terhadap total bakteri di tambak dengan melihat hubungan dan pengaruh dari faktor lingkungan terhadap total bakteri. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui hubungan bahan organik dengan total bakteri pada tambak udang intensif sistem semibioflok. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga April 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air yang berasal dari tambak intensif di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif adalah metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deksripsi tentang suatu keadaan. Metode pengambilan sampel yaitu metode purposive sampling dimana teknik pengambilan sampel mempunyai pertimbangan tertentu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, kandungan bahan organik pada tambak udang intensif sistem semibioflok yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar antara 41,14 – 162,45 mg/l. Jumlah total bakteri pada tambak udang intensif sistem semibioflok yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar antara 2,0 x103 _ 2,4 x105 (CFU/ml). Berdasarkan hasil Uji Pearson correlation bahwa hubungan bahan organik dengan total bakteri pada tambak udang intensif sistem semibioflok menunjukkan arah korelasi yang linier positif yaitu semakin besar nilai bahan organik semakin besar juga nilai total bakterinya.    Biofloc is one technology that can overcome the aquatics waste, for with the addition of heterotrophic material are capable of changing inorganic nitrogen derived from feces and the remaining feed into a protein single cell be used as a source of feed for fishes or shrimps. Decomposition of organic matter by bacteria become very complex, in the waters bearing numerous environmental factors play. With respect to the matters in this study will be carried out research on the analysis of the influence of organic material to the total bacteria in pond by viewing the relationships and the influence of environmental factors to the total bacteria. The purpose of this research, to know relations organic matter with total bacteria on intensive shrimps with semibiofloc system. This research conducted in february until april 2014. Material that was used in this research is a sample of water originating from intensive aquculture in Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. The methods used in this research was descriptive method which was done with the main objective to create an overview or description of a situation. Method of sample collection was purposive sampling techniques where the sample have certain consideration. The result of this research shows that, any organic matter at intensive shrimps with semibiofloc system obtained in this research are generally between 41,14 – 162,45 mg/l. Total bacteria at intensive shrimps with semibiofloc system obtained in this research are generally between 2,0 x103 _ 2,4 x105 (CFU/ml). Based on the results of the test pearson correlation that relationship organic matter with a total bacteria at intensive shrimp with semibioflok system indicates the direction that was linear positive correlation was increasingly large values of organic matter the more the total value of the bacteria. 
JENIS DAN KELIMPAHAN IKAN PADA KARANG BRANCHING DI PERAIRAN PULAU LENGKUAS KABUPATEN BELITUNG Yuspriadipura, Aga; Suprapto, Djoko; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.769 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan ikan yang terdapat di Karang Branching, Pulau Lengkuas Kabupaten Belitung. serta mengetahui Indeks Keanekaragaman dan Keseragaman ikan yang terdapat di Karang Branching, Pulau Lengkuas Kabupaten Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 di Pulau Lengkuas Kabupaten Belitung. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 17 jenis ikan karang yaitu Siganus gulatus (baronang), Epibulus msidlator (tikus-tikus), Scarus rivulatus (kakak tua), Hemigymnus melapterus (nori merah), Halichoeres hortulanus (piso-piso), Caesio cuning (platak), Cheilimus fasciatus (betok biru), Pomacentrus coelestis (ekor kuning), Heniochus varuis (kepe-kepe monyong), Scarus iwulatus (keling tanduk), Celiscus strigatus (betok sri gunting), Scolopsis margarefiter (kepe-kepe susu), Chelmon rostrastus (keling perak), Hovaculichthys taeniorys (tanda-tanda), Lutjanus fulvilamma (nori monyong), Chaetodon kleini (kakak tua merah), Paraglyphidodon nogoris (kepe-kepe tanduk). Nilai indeks keanekaragaman (H’) Ikan Karang di lokasi sebesar 2,553, dan nilai indeks keseragaman (e) 0,901, hal tersebut menunjukkan bahwa di perairan tersebut ada dominasi salah satu spesies yaitu Pomacentrus coelestis. This research aims to find out the type and abundance of fish in Branching Coral, Lengkuas Island in Belitung Regency. The method that was used in this research was a survey method. Was carried out in June until August 2013 at the Lengkuas Island of Belitung Regency. Based on the research results there were 17 types of coral fish namely Siganus gulatus (Rabbitfish), Epibulus msidlator (rats), Scarus rivulatus (parrot), Hemigymnus melapterus (red nori), Halichoeres hortulanus (piso-piso), Caesio cuning (platak), Cheilimus fasciatus (blue anabas), Pomacentrus coelestis (yellow tail), Heniochus varuis (monyong butterflyfish), Scarusi wulatus (rivet horns), Celiscus strigatus (sri gunting anabas), Scolopsis margarefiter (butterfly milk) Chelmon rostrastus (Silver-rivet), Hovaculichthys taeniorys (signs), Lutjanus fulvilamma (nori monyong), Chaetodon kleini (red parrot), Paraglyphidodon nogoris (Horn butterflyfish). Value of diversity index (H’) coral fish in the research location of 2,553, and uniformity index value (e) 0,901, it showed that in the water, there was a one predominance species of Pomacentrus coelestis.
ASPEK BIOLOGI IKAN LAYUR (Trichiurus lepturus) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN DI PPP MORODEMAK Vianita, Ririn; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.706 KB)

Abstract

Ikan Layur (Trichiurus lepturus) merupakan ikan demersal dan salah satu komoditas ekspor yang banyak ditemukan di pantai-pantai Jawa dan muara-muara sungai di Sumatera. Produksi perikanan saat ini masih didominasi oleh hasil penangkapan dari laut. Dengan adanya penangkapan yang tidak akan pernah berhenti, maka perlu adanya suatu pengelolaan terhadap sumberdaya tersebut. Aspek biologi merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan Layur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologis ikan Layur yang mencakup hubungan panjang-berat, faktor kondisi, tingkat kematangan gonad, fekunditas, ukuran pertama kali tertangkap, serta ukuran pertama kali matang gonad berdasarkan hasil tangkapan di PPP Morodemak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan teknik pengambilan sampel secara sistematik random sampling. Jenis data yang digunakan yaitu data primer yang didapatkan dari hasil tangkapan dengan cara mengambil 10% dari total hasil tangkapan ikan yang didaratkan. Pengambilan sampel dilakukan  sebanyak 4 kali pada bulan Maret – April 2014. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pertumbuhan ikan Layur bersifat alometrik negatif, dengan nilai b yaitu sebesar 2,68. Nilai faktor kondisi ikan Layur adalah 1,106 yang berarti ikan Layur memiliki tubuh kurang pipih. Nilai fekunditas terbesar yang diperoleh yaitu 230.692 butir dan fekunditas terkecil sebanyak 147.844 butir. Tingkat kematangan gonad didominasi TKG I, karena ikan Layur belum memasuki musim pemijahan, dan nilai indeks kematangan gonad bervariasi yaitu antara 0,021% - 5,015%. Ukuran pertama kali matang gonad (L50%) ikan Layur adalah 743 mm. Ukuran pertama kali tertangkapnya ikan Layur adalah 563 mm, hal ini menunjukan bahwa ikan sudah layak tangkap berdasarkan nilai L50% > ½ L∞. Ribbon Fish (Trichiurus lepturus) is one of the demersal are found on the coasts of Java and estuaries in Sumatra. Fishery production is still dominated by fishing from the sea. By fishing that will never stop, therefore it needs a good management of these resources. Aspects of biologyis one of the information that can be used as a basis in the management and utilization resources of Ribbon Fish. The purpose of this research was to determine the biological aspects of Ribbon Fish which includes length-weight relationship, condition factor, Gonad Maturity Level, fecundity, size of the first captured fish, as well as the size of the first ripe gonads based on catching in PPP Morodemak. The method that used was a survey method, the technique of sampling was systematic random sampling. The type of data used was primary data obtained from the catching by taking10% of the total catching fish landed. Sampling was carried out 4 times in March-April 2014. The results show that Ribbon fish growth was allometric negative, the value of b was 2.68. Ribbon fish condition factor value was 1.106 which means less Ribbon fish had flattened bodies. The biggest fecundities value was 230.692 and the smallest grains value was 147.844. The gonads maturity level was dominated by TKG I, as yet entered Ribbon fish spawning season, and gonad maturity index which varied between 0.021% - 5.015%. The size of the first ripe gonads (L50%) was 743 mm. The first Ribbon Fish captured size was 563 mm, it indicated that the fish was worth catching based on its value L50%>½ L ∞.
ANALISIS HUBUNGAN KEBERADAAN DAN KELIMPAHAN LAMUN DENGAN KUALITAS AIR DI PULAU KARIMUNJAWA, JEPARA Minerva, Aurora; Purwanti, Frida; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.649 KB)

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah pesisir sebagai pendukung kehidupan biota di laut. Kerapatan jenis lamun dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh dari lamun tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2014  di Perairan Pulau Karimunjawa dengan tujuan untuk mengetahui jenis dan keberadaan lamun, persentase tutupan lamun, dan hubungan keberadaan dan kerapatan lamun dengan kualitas air di Pulau Karimunjawa. Metode penelitian adalah deskriptif dengan studi kasus untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena suatu objek penelitian secara detail. Pengumpulan data dilakukan dengan sampling menggunakan kuadran transek. Materi yang digunakan adalah lamun yang ditemukan di lokasi penelitian, data yang diukur meliputi parameter fisika dan kimia seperti suhu, kecepatan arus, kedalaman, substrat, salinitas, DO, pH, nitrat, fosfat, dan amoniak. Hasil penelitian didapatkan 8 jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acroides, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Halophilla minor, Halophila ovalis, dan Thalassia hemperichii. Persentase penutupan lamun di Pancoran Belakang yaitu 63,73 %, Legon Lele 31,65 %, dan Alang-alang 24,33%. Nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,755 yang menunjukkan terdapat hubungan erat antara kerapatan lamun dengan kualitas air. Seagrass ecosystem is one of the important ecosystem in coastal area that support biota life in the sea. Seagrass beds density influenced by the place where it’s grow. The research was conducted on March 2014 at Karimunjawa Island, in order to know the type of seagrass, seagrass cover percentage, and correlations of the existence and seagrass beds density with the water quality in the Karimunjawa Island. Research method is  descriptive with case study to describe condition or status of research object on the phenomenon in detail. The material used was seagrass beds that found there and environment parameters include physical and chemical parameters such as temperature, current, depth, substrate, salinity, DO, pH, nitrate, phosphate, and ammoniac. The results obtained 8 seagrass species that are Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia Halodule uninervis, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii. The seagrass cover percentage at Pancoran Belakang is 63,73 %, Legon Lele 31,65%, and Alang-alang 24,33%. The value of correlation coefficient (r) is 0,755 that show a close relation between seagrass density with water qualities.
Hubungan Kelimpahan Fitoperifiton dengan Konsentrasi Nitrat dan Ortofosfat pada Daun Enhalus acoroides di Perairan Pantai Jepara Apriliana, Ade; Soedarsono, Prijadi; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.696 KB)

Abstract

Padang lamun merupakan tempat naungan, mencari makan dan berkembangbiak berbagai biota air termasuk fitoperifiton. Fitoperifiton mempunyai peranan penting sebagai salah satu penentu produktivitas primer di lingkungan lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan fitoperifiton, residu nitrat dan ortofosfat pada daun Enhalus acoroides serta mengetahui pengaruh konsentrasi nitrat dan ortofosfat terhadap kelimpahan fitoperifiton yang terdapat pada daun Enhalus acoroides. Penelitian berlangsung pada bulan November-Desember 2013 di perairan pantai Jepara (Teluk Awur dan Pulau Panjang). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Sampling biota, residu nitrat dan ortofosfat menggunakan metode Saito dan Adobe. Sampel diambil pada lokasi yang berbeda, Teluk Awur dan Pulau Panjang. Masing-masing lokasi ditentukan 2 titik dan di setiap titik dilakukan 3 kali pengulangan. Sampel lamun diambil dengan menggunakan frame kuadran transek berukuran 1 x 1 meter yang didalamnya dibagi kembali menjadi 25 x 50 cm sub kuadran dan setiap pengambilan sampel berjarak 1 meter. Hasil penelitian pada kedua lokasi didapatkan 4 spesies lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis. Jenis fitoperifiton yang paling banyak ditemukan di kedua lokasi berasal dari kelas Bacillariophyceae. Rata-rata kelimpahan fitoperifiton di Pulau panjang sebesar 49388.82 indvidu/ cm2 sedangkan di Teluk Awur sebesar 32684.56 individu/cm2. Berdasarkan hasil analisis uji regresi dinyatakan bahwa konsentrasi nitrat dan ortofosfat di Teluk Awur tidak berpengaruh nyata terhadap kelimpahan fitoperifiton sedangkan di Pulau Panjang nitrat berpengaruh terhadap kelimpahan fitoperifiton tetapi tidak pada ortofosfat. Seagrass bed is a shelter, feeding and spawning grounds to various biota such as phytoperiphyton. Phytoperiphyton take an important role on the primary production in the water. This study aimed to determine differences between phytoperiphyton abundance, nitrate and orthophosphate residues in the leaves of Enhalus acoroides and also to know the influence of nitrate and orthophosphate concentrations on abundance of phytoperiphyton found in the leaves of Enhalus acoroides. This research was carried out in November-December 2013 at Jepara coastal waters (Teluk Awur and Pulau Panjang). Method used in this research was descriptive. Sampling of biota, nitrate and orthophosphate residues used of Saito and Adobe methods. Samples were taken from two different locations, Teluk Awur and Pulau Panjang. every single station divided into 2 sub stations and there were 3 repetitions on each sub station. Seagrass sample taken using 1 x 1 meter quadrant transect in which divided into 25 x 50 cm sub quadrant sampling within 1 meter. The results at two locations showed 4 seagrass species among others Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Syringodium and Halodule isoetifolium uninervis. The most phytoperiphyton commonly found in both locations is from the class of Bacillariophyceae. Mean abundance of phytoperiphyton in Pulau Panjang 49388.82 indvidu/ cm2 while in Teluk Awur 32684.56 individu/cm2. Based on the results of regression analysis revealed that nitrate and orthophosphate concentration in Teluk Awur has no significant affect to phytoperiphyton abundance while in Pulau Panjang nitrates affected the abundance of phytoperiphyton but not for orthophosphate.
KARAKTERISTIK UKURAN TINGGI DAN DIAMETER BATANG SEEDLING Rhizophora mucronata PADA SUBSTRAT DENGAN KANDUNGAN LUMPUR YANG BERBEDA DI PULAU PAHAWANG KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG Maulana, Fandi; Hendrarto, Boedi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.676 KB)

Abstract

Banyaknya aktifitas penanaman mangrove oleh masyarakat di Pulau Pahawang memberikan gambaran pentingnya ekosistem mangrove. Penanaman tersebut tidak mengkaji faktor pendukung khususnya kandungan lumpur yang terdapat pada substrat di lokasi penanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ukuran tinggi dan diameter seedling Rhizophora mucronata pada kandungan lumpur yang berbeda di kawasan rehabilitasi mangrove di Pulau Pahawang, Lampung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel (Sample Survey Method). Variabel data utama yang dibutuhkan yaitu: data tinggi dan diameter seedling selama 6 minggu untuk dianalisis dengan lokasi yang memiliki kandungan lumpur yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan pola tinggi dan diameter di lokasi yang memiliki kandungan lumpur rendah memiliki pertambahan ukuran lebar diameter yang lebih baik hal ini disebabkan karena daerah yang memiliki kandungan lumpur yang tinggi menyebabkan kurangnya oksigen bagi perakaran seedling yang baru ditanam. Plantation activities by stakeholders in Pahawang Island showed to us the importance of ecosytem mangrove in costal. The study of a main factors for successful mangrove rehabilitation is never introduce to those activity, especially for silt contents in the research locations. The purpose of this research  was determined  height and diameter characteristic of Seedling Rhizophora mucronata on differences silt contents in Pahawang Island, Lampung Province. The method of the research was sample survey method, The main variabele was needed: height and diameter data of seedling for 6 weeks to be analyzed with the silt contents in differents locations. The result of this research was changing height and diameter pattern in low silt contents had more wide of diameter, due to content of high silt caused low oxygent for roots of new seedling. 
TOTAL BAKTERI DAN C/N RATIO DALAM SEDIMEN SUNGAI SEKEMBU JEPARA DALAM KAITANNYA DENGAN PENCEMARAN Oktaviana, Tri Kusuma; Hendrarto, Boedi; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.77 KB)

Abstract

Sungai mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan peradaban manusia. Kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain berdampak negatif terhadap sumber daya air sungai, termasuk penurunan kualitas air dan terjadinya pencemaran yang terjadi pada sedimen perairan. Pencemaran limbah dalam suatu perairan mempunyai hubungan dengan jenis dan jumlah mikroorganisme dalam perairan tersebut. Perbandingan C/N berguna sebagai penanda kemudahan perombakan bahan organik dan kegiatan jasad renik tanah. Penggunaan sedimen sebagai acuan dianggap lebih tepat, oleh karena sedimen relatif diam tidak bergerak seperti air sungai, sehingga lebih refresentatif dan mewakili keadaan lokasi dimana sedimen tersebut diperoleh.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan total bakteri, keadaan C/N ratio dalam sedimen dan hubungan antara keduanya terhadap pencemaran sungai Sekembu Jepara.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, untuk pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dan pengukuran parameter kualitas sedimen dilakukan di 2 stasiun yaitu pada bagian hulu sungai dan hilir sungai dimana setiap stasiun ditentukan 3 titik sampling. Sedimen dikoleksi dengan sediment sampler berdiameter 6 cm. Total bakteri dihitung dengan metode TPC menggunakan media Nutrient Agar.Jumlah total bakteri sedimen per 1 gram pada sungai Sekembu Jepara berkisar antara 1,6x105 – 2,3x105 (cfu/g). Nilai C/N ratio pada sedimen di sungai Sekembu Jepara berkisar antara 3,98 – 36,45. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan nyata jumlah bakteri antara tepian kiri (selatan) dan tepian kanan (utara) sungai Sekembu Jepara dengan nilai p =0,035. Terdapat perbedaan nyata C/N ratio pada sedimen di daerah terkena limbah langsung dan muara sungai Sekembu Jepara dengan nilai p = 0,0303. Tidak ada korelasi yang kuat antara total bakteri dengan C/N ratio pada sedimen di sungai Sekembu Jepara dengan nilai r 0,192. Sungai Sekembu Jepara diduga sudah tercemar oleh berbagai penumpukan limbah domestik maupun limbah industri. River has a potential role for human. Industrial activities, domestic, and other activities negative impact on the river resources, including loss of water quality and contamination that occured on sediments. Waste pollution in an aquatic have relationship with the type and number of microorganisms in it. C/N ratio is useful determinant overhaul of organic matter and activities of soil organism. The use of sediment as a referance more presicely, because sediment relatively still and not moving like a river water, so it is more representative and representing the state of location where the sediment obatined.The purpose of this research was to find out the total bacteria, C/N ratio and the relationship between the two againts pollution of Sekembu Jepara river.The method used in this research was descriptive method, using purposive a sampling technique. Sampling and measurement of soil and water quality parameters were done at two stations, at upstream and downstream, each station consisted of three sampling points. Sediment were collected using a sediment sampler diameter 6 cm. The total bacteria was determinated by TPC method using Nutrient Agar.Total bacteria in 1 gr sediment was between 1,6x105 – 2,3x105 (cfu/g). C/N ratio in the sediment ranged beetwen 3,98 – 36,45. There was a significant difference of total bacteria in the sediment between the left side (south) and right side (north) of the river with value of p =0,035. There was a significant difference of C/N ratio in the sediment on upstream and downstream of the river with value of p = 0,0303. There is no high correlation between total bacteria with C/N ratio in the sediment with value of r = 0,192. Sekembu Jepara river was suspected to have been contaminated by both various domestic waste and industrial waste.
STUDI HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SEDIMEN DENGAN KELIMPAHAN MAKROZOOBENTHOS DI MUARA SUNGAI WEDUNG KABUPATEN DEMAK Choirudin, Ittok Rochmad; Supardjo, Mustofa Niti; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.649 KB)

Abstract

Muara sungai Wedung digunakan oleh warga untuk keperluan rumah tangga, kegiatan pertambakan, dan keluar masuknya kapal ke TPI Wedung. Muncul dugaan telah terjadi penurunan kualitas air di muara sungai Wedung. Salah satu penyebabnya ialah pencemaran alami seperti adanya bahan – bahan organik sehingga akan berdampak pada kehidupan makrozoobenthos. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan makrozoobenthos serta untuk mengetahui hubungan antara kandungan bahan organik sedimen dengan kelimpahan  makrozoobenthos pada perairan muara sungai Wedung. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April sampai Juni 2013. Penelitian ini dilakukan pada 3 stasiun. Materi penelitian adalah makrozoobenthos dan substrat dasar perairan muara sungai Wedung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Makrozoobenthos yang diperoleh selama penelitian di muara sungai Wedung Kabupaten Demak terdiri dari 3 kelas yaitu Polychaeta, Gastropoda, dan Bivalvia. Kelimpahan makrozoobenthos terbesar terdapat pada stasiun II sebesar 4889 ind/m3, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun III sebesar 341 ind/m3. Kandungan bahan organik stasiun I berkisar antara 11,81 – 15,45% (sedang), stasiun II berkisar antara 12,72 – 17,57% (tinggi), dan stasiun III berkisar antara 9,5 – 16,44% (sedang). Hasil uji regresi antara kelimpahan makrozoobenthos dengan kandungan bahan organik diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,46. Koefisien korelasi (r) sebesar 0,678 yang menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variable tersebut cukup. Wedung estuaries used by residents for domestic purposes, aquaculture activities, and entry and exit of ships to TPI Wedung. Alleged there has been a decline in water quality in Wedung estuaries. One of the caused was that natural pollution such as the organic matter that will have an impact on the lives of macrozoobenthos. The purpose of this study was to determine the composition and abundance of macrozoobenthos and to know the relationship between organic matter content of sediment with macrozoobenthos abundance in estuarine Wedung. The research was conducted in April to June 2013. This study was conducted at 3 stations. The research material was macrozoobenthos and Wedung estuarine substrate. The method used in this study was case study methods. Macrozoobenthos obtained during research in Wedung estuaries, Demak consists of three classes which were Polychaeta, Gastropoda, and Bivalve. The greatest abundance found at station II was 4889 ind/m3, while the lowest abundance at station III was 341 ind/m3. The content of organic matter in station I ranges from 11,81 to 15,45% (moderate), station II ranges from 12,72 to 17,57% (high), and station III ranges from 9,5 to 16,44% (moderate ). Results of regression between macrozoobenthos abundance with organic content obtained coefficient of determination (R2) of 0,46. The correlation coefficient (r) of 0,678 which shows that the relationship between the two variables is adequate. 

Page 1 of 3 | Total Record : 25