cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015" : 19 Documents clear
RASIO C/N TERHADAP BAHAN ORGANIK DAN TOTAL BAKTERI PADA SEDIMEN DI HABITAT RAJUNGAN (Portunus pelagicus) PANTAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK Putri, Megawati Arsita; Afiati, Norma; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.793 KB)

Abstract

Salah satu indikasi konstribusi bahan organik terhadap kesuburan perairan adalah rasio C/N. Karbon dan nitrogen adalah dua komponen pokok bahan organik. Kandungan karbon organik dalam sedimen berkaitan dengan faktor karakteristik sedimen, laju degradasi mikroba, produktivitas kolom air. Pantai Betahwalang direncanakan menjadi kawasan lindungan laut daerah untuk komoditas rajungan (Portunus pelagicus). Oleh karena itu, ingin dipelajari bagaimana kondisi/status dekomposisi di lingkungan sedimen pantai Betahwalang berdasarkan kandungan bahan organik, rasio C/N, jumlah total bakteri sedimen dan korelasi antar ketiga komponen tersebut. Untuk itu digunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel bersifat purposive random. Dalam penelitian ini digunakan data primer dan sekunder. Analisis data menggunakan chi kuadrat, regresi dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan status dekomposisi sedimen pantai Betahwalang, Kabupaten Demak berlangsung relatif sempurna ditinjau dari rasio C/N yang lebih kecil dari angka 20  yaitu berkisar antara 4,36 – 5,27 yang menunjukkan terjadinya proses mineralisasi N (nitrogen), dengan kandungan bahan organik (4 – 7%) dan total bakteri berkisar antara 7,4 x 105 – 17,25 x 105 cfu/ml. One of indication of contribution organic materials to water fertility is the C/N ratio. Carbon and nitrogen are two main component of organic material. Among others, content of organic carbon in sediment related to the sediment characteristic factors, rate of microbial degradation productivity of the water column.. Therefore, need a study to see how much the decomposition process in the Betahwalang coastal sediment based on organic materials content, C/N ratio and the total number of bacteria sediment. The purpose of this study to determine the condition of coastal sediments Betahwalang decomposition, Demak district based on organic materials, C/N ratio and total bacteria in the sediment. The method used in this study is survey which conduct towards a set of objects with the assumption that object under study has represented the area observed. Data retrieval include research data and sampling. Research data were used primary and secondary data. The method sampling used purposive random sampling. Data analysis used chi squared, regression and correlation. The results showed decomposition status sediments Betahwalang Beach, Demak is perfect decomposition views of C/N ratio content, organic matter and total bacteria. The content of organic matter is relatively low ranging between 4 – 7%. The content of the C/N ratio ranged between 4,36 – 5,27 including high level category into decomposition, because the ratio C/N is smaller than figure 20 showed occurrence process of mineralized N (nitrogen). The average concentration of bacteria ranged between 7,4 x 105 – 17,25 x 105 cfu/ml.
KELIMPAHAN PERIFITON PADA KARANG MASIF DAN BERCABANG DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA Yuniarno, Hendrawan Agung; Ruswahyuni, -; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.539 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu pulau-pulau kecil di Indonesia yang memiliki berbagai ekosistem salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Terumbu karang merupakan habitat dan tempat aktivitas berbagai organisme laut contohnya perifiton. Perifiton berperan sebagai produsen primer dalam suatu perairan untuk menghasilkan oksigen dan menjadi konsumsi bagi organisme lain (misalnya karang). Keberadaan perifiton pada substratnya tidaklah sama, perbedaan morfologi karang diduga menentukan kelimpahan perifiton pada karang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan perifiton pada karang masif dan karang bercabang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2015 di Pulau Panjang Jepara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan deskriptif analitis sebagai desain penelitiannya. Desain ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelimpahan perifiton pada jenis pertumbuhan karang yang berbeda. Analisis perbedaan kelimpahan perifiton menggunakan Uji T (Mann-Whitney). Dari  hasil penelitian didapatkan bahwa kelimpahan perifiton pada karang masif dan bercabang menunjukkan adanya perbedaan. Dimana kelimpahan perifiton pada setiap pengamatan tidak memiliki perbedaan yang signifikan baik pada karang masif dan karang bercabang. pada pengamatan pertama kelimpahan perifiton pada karang bercabang terdapat 20.970 ind/cm2, sedangkan pada karang masif terdapat 19.764 ind/cm2. Pada pengamatan kedua kelimpahan perifiton pada karang bercabang terdapat 28.427 ind/cm2, sedangkan pada karang masif terdapat 30.623 ind/cm2. Faktor yang menentukan keberadaan dan kelimpahan perifiton pada karang yang paling terlihat yaitu dikarenakan perbedaan morfologi dari karang tersebut dan perbedaan dan perubahan kecepatan arus. Panjang Island is one of the small islands in Indonesia, which has a variety of ecosystems one of which is the coral reef ecosystem. Coral reefs are the habitat and the activities of various marine organisms example periphyton. Periphyton role as primary producers in a body of water to produce oxygen and become food for other organisms (eg, corals). Periphyton existence on the substrates are not the same, the difference of coral morphology is suspected determine the abundance of perifiton on the reef. This study aims to determine differences in the abundance of periphyton on massive corals and branching. This research was conducted in March and April 2015 in Panjang Island Jepara. The method used in this research is purposive sampling with a descriptive analytical research design. This design aims to describe the abundance of periphyton on different types of coral growth. Analysis of differences in the abundance of periphyton using T test (Mann-Whitney). The results showed that the abundance of periphyton on massive and branching corals showed a difference. Where the abundance of periphyton on every observation has different amounts both on massive and branching corals. the first observations of the abundance of periphyton on branching corals there are 20.970 ind / cm2, while the massive corals there are 19.764  ind / cm2. In the second observation abundance of periphyton on branching corals there are 28.427 ind / cm2, while the massive corals there are 30.623 ind / cm2. The difference is due to differences in the morphology of the reef and the differences and changes in flow velocity.
DISTRIBUSI KELIMPAHAN MAKROZOOBENTOS DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SERTA TEKSTUR SEDIMEN PADA MUARA SUNGAI WAKAK, KABUPATEN KENDAL Mentari, Luthfieana; Ruswahyuni, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.901 KB)

Abstract

Muara sungai Wakak banyak dimanfaatkan oleh para warga untuk aktivitas budidaya seperti membangun tambak dan sumber penghasilan untuk mencari ikan, udang dan sebagainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kandungan bahan organik dan tekstur sedimen serta distribusi kelimpahan makrozoobentos pada Muara Sungai Wakak Kabupaten Kendal. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Kandungan bahan organik tertinggi pada stasiun 3 yaitu 16,2% dan terendah pada stasiun 1 yaitu 1,6%. Tekstur sedimen pada stasiun 1 prosentase  fraksi lumpur 0,9%, fraksi liat 14,07% dan fraksi  pasir 85,03%, stasiun 2 fraksi lumpur 1,13%, fraksi liat 53,16% dan fraksi pasir  45,71% dan pada stasiun 3 fraksi lumpur 1,62 %, fraksi liat 91,19% dan fraksi pasir 7,19%. Kelimpahan relatif tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 89 ind/m3, kelimpahan relatif terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 43 ind/m3. Indeks keanekaragaman tertinggi  terdapat pada stasiun 1 yaitu 2,5. indeks keanekaragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 2,0. Indeks keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 0,96 dan indeks keseragaman terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 0,91. Wakak estuaries is frequently used for aquaculture activities, such as building ponds and as sources of income catch  for fish, shrimp, etc. The research was aimed to know the organic materials content, Textures of Sediment, Distribution of Abundance Makrozoobenthos, in the Wakak estuary, Kendal. The points of sampling was determined by using Purposive Sampling Method. The highest content of organic matterial in station 3 was 16,2%, and the lowest in station 1 was 1,6%. Percentage of  texture of sediment were at station 1; silt fraction was 0.9%, clay fraction 14.07%   and sand fraction 85.03%. Percentage of  texture of sediment at station 2; silt fraction was 1,13%, clay fraction 53,16% and sand fraction 45,71%. Percentage of  texture of sediment at Station 3; silt fraction was 1,62 %, clay fraction 91,19% and sand fraction 7,19%. The highest relative abundance was 89 ind/m3  in stasiun 1 and the lowest was 43  ind/m3  in  station 2. The highest diversity index of macrozoobenthic in station 1 was 2,5  and the lowest one in station 2 was  2,0. The highest uniformity index (E) in station 1 was 0,96 and the lowest one in station 2 was 0,91.
PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE DESA KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU Purnamasari, Riana; Suprapto, Djoko; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.515 KB)

Abstract

Desa Karangsong merupakan wilayah pesisir yang mempunyai kawasan rehabilitasi mangrove yang masih terjaga. Konversi hutan mangrove menjadi lahan pertambakan telah mengakibatkan kerusakan pesisir. Ekowisata merupakan salah satu pemanfaatan hutan mangrove dari segi ekonomi untuk mencapai kesejahteraan. Selain itu, ekowisata ini secara langsung memiliki manfaat pelestarian alam dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekowisata mangrove, persepsi, partisipasi, dan aspirasi stakeholder dan untuk menyusun strategi pengembangan ekowisata. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dan dianalisa dengan SWOT. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi terhadap terhadap 50 responden terdiri dari masyarakat, wisatawan dan pengelola. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 di Desa Karangsong. Potensi kawasan ekowisata mangrove terdiri dari beberapa kelompok burung (Aves), Gastropoda, dan Crustacea serta lima jenis mangrove. Potensi fisik terdiri dari tempat persemaian benih, tempat pengamatan burung, sarana kebersihan dan tracking mangrove. Tingkat persepsi responden tentang ekowisata masih rendah. Partisipasi masyarakat belum sepenuhnya terlibat dalam kegiatan pengembangan ekowisata. Aspirasi responden terbagi dalam tiga kriteria yaitu aspirasi untuk pengembangan objek daya tarik wisata, perbaikan sarana prasarana, dan pembenahan pengelolaan. Strategi pengembangan ekowisata desa Karangsong adalah strategi Stregth-Opportunities (SO) yaitu melibatkan masyarakat desa lokal untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan ekowisata mangrove. Karangsong village is a coastal region that be keep as a mangrove rehabilitation area. Conversion of mangrove forests into fish pond land has resulted in damage to the coast. Ecotourism is one of the mangrove forest utilization in terms of economy for prosperity. Beside that ecotourism has directly benefit for natural and environmental preservation. This study aims to determine potential of mangrove ecotourism, perception, participation and aspiration stakeholders and to be set development strategy of mangrove ecotorism. The method used is descriptive case studies and be analyzed by SWOT. Data collected by observing the field study and interviewing to 50 respondents  consist of local communities, tourists, and  management staffs. This study was conducted in May 2015 in the village of Karangsong. Mangrove ecotourism potential at the Karangsong village consists of are birds (Aves), Gastropods, and Crustacean and five species of mangrove. Physical potency consists of a seed nursery, bird watching site, sanitary facilities and tracking mangrove. Perceptions of respondents about ecotourism is still low . Participation public has not engaged  involved in the development of ecotourism activities. Aspiration of  respondents divided into three criterias: the aspiration for development tourist attraction objects, infrastructure development, and improvement management. Tourism development strategy of the village Karangsong is strength-Opportunities (SO) that involve local communities to participate in the development of mangrove ecotourism.
DISTRIBUSI DAN KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTOS PADA LAHAN PENGEMBANGAN KONSERVASI MANGROVE DI DESA TIMBUL SLOKO KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Purba, Hotri Enty; Djuwito, -; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.927 KB)

Abstract

Sayung adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Demak yang terletak di daerah pesisir utara pulau Jawa. Makrozoobentos merupakan salah satu biota dalam ekosistem perairan sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan. Makrozoobentos dapat ditemukan pada berbagai substrat sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan keanekaragaman makrozoobentos dan mengidentifikasi kondisi makrozoobentos pada lahan konservasi mangrove. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2015. Sampling dilakukan dengan menarik line sepanjang 30 m tegak lurus garis pantai dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan data dari 3 stasiun dengan jarak 10 m antar stasiun, dilakukan pengamatan makrozoobentos dengan menggunakan kuadran transek 1 x 1 m, dan pengukuran kualitas air di 3 stasiun sampling. Jenis makrozoobentos yang ditemukan di lokasi penelitian adalah Cerithidea cingulata, Terebralia semistriata, T. sulcata, Telescopium telescopium, T. palustris, Natica gualteriana, Nereis sp, Capitella sp, Polynoe sp. Nilai presentase kelimpahan relatif yaitu stasiun 1 99,6%, stasiun 2 99,4% dan stasiun 3 99,9%. Nilai indeks keanekaragam yang diperoleh yaitu stasiun 1 sebesar 1,415 dengan stasiun 2 sebesar 1,703 dan stasiun 3 sebesar 2,097. Nilai indeks keseragaman yang didapatkan adalah pada stasiun 1 sebesar 0,727, stasiun 2 sebesar 0,775 dan pada stasiun 3 sebesar 0,954. Sedangkan nilai indeks dominasi yang diperoleh adalah stasiun 1 sebesar 0,289, pada stasiun 2 sebesar 0,232 dan stasiun 3 sebesar 0,13. Tingkat keanekaragaman makrozoobentos yang ditemukan cukup beragam. Kondisi makrozoobentos kemungkinan cukup baik, mendapat kategori sedang dengan kondisi tekanan ekologis penunjang cukup seimbang. Sayung is one of Subdistrict in the Demak Regency that located at the north coast regions of Java. Macrozoobentos is one of the most important group in an ecosystem waters related to their role as key, in a food chain. Macrozoobentos can live and found in various types of substrate, sediment. This research aims to know the distribution and diversity macrozoobentos on mangrove and to identify  condition of macrozoobentos on mangrove. The research was conducted in March 2015. Sampling was done by drawing a line of 30 m long across perpendicular to the shoreline using Purposive Random Sampling. Data collected from 3 station in distance 10 m lines to the observation macrozoobentos using 1 x 1 m quadran transect and measuring the water quality in the 3 sampel points. Type of macrozoobentos that found in locations Cerithidea cingulata, Terebralia semistriata, T. sulcata, Telescopium telescopium, T. palustris, Natica gualteriana, Nereis sp, capitella sp, polynoe sp. The percentage values of relative abundance is 99,6 % Station 1, Station 2 is 99.4 % and Station 3 is 99.9 %. Index Diversity and obtained at the station 1 is 1,415 and a station 2 is 1,703 for  stations 3 amounting to 2,097. Equitability index obtained at Station 1 ia 0727, Station 2 ia 0775 and on Station 3 is 0954. While the value of domination index is stations 1 0,289, on station 2 is 0,232 and stations 3 is 0.13. Macrozoobentos diversity levels found  are quite diverse. Macrozoobenthos state good possibility for life macrozoobentos, got the medium category with supporting ecological pressure conditions fairly balanced.
KESESUAIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG UNTUK KEGIATAN WISATA BAHARI KATEGORI SELAM DI PULAU KAYU ANGIN GENTENG, KEPULAUAN SERIBU Wijaya, Daniel Nugroho; Suryanti, -; Supriharyono, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.147 KB)

Abstract

Ekosistem terumbu karang memiliki hubungan sangat erat dengan kegiatan wisata bahari. Pulau Kayu Angin Genteng merupakan salah satu dari gugusan pulau-pulau kecil di kepulauan seribu, berada di wilayah zona inti kepulauan Seribu  dengan kondisi ekosistem terumbu karang yang sangat baik. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni – November 2014 ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekosistem terumbu karang serta kesesuaiannya terhadap kegiatan wisata bahari di perairan pulau Kayu Angin Genteng. Pengamatan penutupan terumbu karang dan habitat dasar menggunakan metode visual transek kuadrat, jenis dan kelimpahan ikan karang menggunakan metode sensus visual dengan menggunakan peralatan selam SCUBA. Data hasil pengamatan di lapangan dianalisis dengan matriks kesesuaian wisata bahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tutupan karang hidup yang terdapat di perairan pulau Kayu angin Genteng berada di kisaran 87,11% - 91,99% dengan kategori sangat baik, yang terdiri atas 10 marga (Genus) karang yakni Acropora, Montipora, Anacropora, Coeloseris, Heliopora, Herpolitha Astreopora, Oxypora, Porites, dan Pachiseris. Hasil pengamatan kelimpahan ikan karang secara menyeluruh diperoleh 22 jenis spesies ikan karang dengan spesies yang paling dominan ditemukan adalah Acanthurus-triostegus. Indeks Kesesuaian Wisata Bahari di Pulau Kayu Angin Genteng  diperoleh bahwa zona barat merupakan wilayah yang paling sesuai dengan nilai indeks kesesuaian 88,89 % dengan kategori sangat sesuai, sementara zona yang memiliki indeks kesesuaian terendah dengan 75,92% adalah zona utara dengan kategori sesuai untuk wisata kategori selam. Coral reef ecosystem has a very close relationship with the marine tourism activities. Kayu Angin Genteng island is one of a cluster of small islands in Seribu islands, located in the core zone of the Seribu Islands region with the condition  for coral reef ecosystems are very good. The Research was conducted in June - November 2014 aims to determine the potential of coral reef ecosystems as well as the suitability of the marine tourism activities in the waters of the Kayu Angin Genteng island. Observations closure coral reefs and habitats basis using quadratic visual transect, the type and abundance of reef fish using visual census using SCUBA diving equipment. Data from field observations were analyzed by matrix suitability marine tourism. The results showed that there is a live coral cover in the waters of the Kayu Angin Genteng island is in the range of 87.11% - 91.99% with a very well category, which consists of 10 genera (Genus) the coral Acropora, Montipora, Anacropora, Coeloseris, Heliopora, Herpolitha Astreopora, Oxypora, Porites, and Pachiseris. The observation of the overall abundance of reef fish obtained 22 species of reef fish with the most dominant species found are Acanthurus-triostegus. Suitability Index Marine Tourism of Kayu Angin Genteng island obtained that western zone is an area that best suits the suitability index value 88.89% with a very appropriate category, while the zones which have the lowest suitability index with 75.92% is the northern zone which still has a category corresponding for diving activity.
ASPEK BIOLOGI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SELAR KUNING (Selaroides leptolepis) YANG TERTANGKAP JARING CANTRANG DI PERAIRAN KABUPATEN PEMALANG Andriani, Novi; Saputra, Suradi Wijaya; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.832 KB)

Abstract

Ikan selar kuning merupakan salah satu ikan pelagis yang termasuk dari famili Carangidae yang sering tertangkap jaring cantrang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi ikan Selar kuning; tingkat pemanfaatan dan rencana pengelolaan ikan melalui produksi per satuan upaya penangkapan (CPUE), potensi maksimum lestari (MSY) serta upaya penangkapan optimum (f.opt). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2015 di TPI Asemdoyong. Penelitian menggunakan data primer dan data sekunder, sedangkan sampel ikan didapatkan dengan metode penarikan contoh acak sederhana. Data sekunder meliputi data produksi ikan Selar kuning selama 5 tahun terakhir mulai tahun (2010–2014). Hasil penelitian menunjukan struktur ukuran tangkapan berada pada 123-130 mm, pertumbuhan ikan Selar kuning bersifat allometrik positif dengan nilai b sebesar 3,067. Faktor kondisi (Kn) yang diperoleh adalah 1,041. Ukuran ikan pertama kali tertangkap (L50%) adalah 126 mm. TKG yang diperoleh mayoritas berada pada TKG II, III, dan IV dengan nilai IKG jantan berkisar antara 0,06-0,97 % dan betina berkisar antara 0,06-3,54 %. Ikan Selar kuning pertama kali matang gonad (Lm50%) pada jantan adalah 133,8 mm dan betina adalah 133,6 mm. Nilai fekunditas berkisar antara 11.220-33.880 butir. Perkembangan CPUE selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami kenaikan. Nilai MSY dan F.optimum sebesar 1.078.927 Kg dan 11.269,98 trip; dengan pemanfaatan ikan Selar kuning dalam kondisi over fishing. Rencana upaya pengelolaan ikan selar kuning di Perairan Kabupaten Pemalang dilakukan dengan cara memperbesar mesh size, mengatur daerah penangkapan dan musim penangkapan. Yellow striped trevally is one of pelagic fish of the family carangidae and that is often caught using danish seine. The research was intended to recognize the biological aspects of Yellow striped trevally; the exploitation level and management plan by way ofthe catch per unit effort (CPUE), maximum potential sustainable (MSY) and effort rate optimum (f.opt). This study was carried out at TPI Asemdoyong during February-March 2015. The study of data used were primary data and secondary data while fish sample obtained by a simple random sampling method. The secondary data was the production data of Yellow striped trevally in recent 5 years (2010-2014). The result showed size ranges from 123-130 mm. Growthof  Yellow striped trevally was positive allometric b value of 3,067. The condition factor (Kn) that found 1,041. First caught fish size was (L50%) of 126 mm. TKG acquired majority were at TKG II, III, and IV with IKG values ranged from 0.06 to 0.97% males and females ranged from 0.06 to 3.54%. The first of Yellow striped trevally mature gonads (Lm50%) in males and females was 133.8 mm and 133.6 mm. Fecundity values obtained ranged between 11220-33880 item. CPUE developments over the last 5 years was fluctuated and tends to increase. MSY and F.optimum amounted to 1,078,927 kg and 11269.98 trip; with exploitation level of Yellow striped trevally (Selaroides leptolepis) still considered as over fishing. The management plan of Yellow striped trevally in Pemalang waters has been done by increasing the mesh size, arragement of fishing ground and management of fishing season.
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DENGAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Prasetya, Derry Kurnia; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.903 KB)

Abstract

Perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi hewan makrobenthos yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan hewan makrobenthos serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan hewan makrobenthos yang ada di perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp dan terdapat 4 jenis lamun yang ditemukan di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. Kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Pulau Panjang adalah 68 ind/m3, 77 ind/m3 dan 103 ind/m3, sedangkan kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Teluk Awur adalah 43 ind/m3, 62 ind/m3 dan 84 ind/m3. Berdasarkan hasil regresi menunjukkan antara kelimpahan hewan makrobenthos dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan hewan makrobenthos. Awur Bay and Panjang Island which are located in Jepara, have a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both location will affect the level of density macrobenthic animal who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass and abundance of macrobenthic animal both in Panjang Island and Awur Bay, Jepara. The research has been done in April 2015. The method used was case study and analyzed descriptive. Research carried out measures that take sample, identification, data analysis and data evaluation. The result showed that there were 5 type of seagrass found in Panjang Island Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp and there were 4 type of seagrass found in Awur Bay Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. The abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Panjang Island was 68 ind/m3, 77 ind/m3 and 103 ind/m3. While the abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Awur Bay was 43 ind/m3, 62 ind/m3 and 84 ind/m3. Based on regression result showed that between abundance of macrobenthic animal with seagrass density there were a close correlation so that the higher seagrass density will be followed by higher abundance of macrobenthic animal.
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE WONOREJO, KECAMATAN RUNGKUT SURABAYA Wahyuni, Sri; Sulardiono, Bambang; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.082 KB)

Abstract

Ekowisata di hutan mangrove di wilayah Surabaya mulai berkembang. Agar perkembangan ini tidak merusak lingkungan dan sumberdaya di hutan mangrove diperlukan strategi pengembangan yang tepat. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui potensi wisata yang ada dan merumuskan strategi untuk pengembangan ekowisata mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. Untuk itu dilakukan pengumpulan informasi terhadap ide, kepercayaan dan persepsi masyarakat. Data dikumpulkan dengan kuisioner yang ditujukan kepada pengunjung, masyarakat lokal dan pengelola ekowisata. Pertanyaan yang diberikan adalah tentang persepsi, partisipasi, daya tarik wisata dan pengembangan wisata. Data selanjutnya dianalisis dengan SWOT. Potensi wisata yang ada pada ekowisata mangrove Wonorejo adalah keanekaragaman mangrove dan burung yang berasosiasi di dalamnya serta keindahan alam di kawasan ekowisata mangrove Wonorejo. Konsep strategi pengembangan ekowisata mangrove adalah mengembangkan konservasi dan rehabilitasi mangrove sebagai salah satu program wisata, meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat wisata, mempertegas penegakan hukum dan aturan untuk menjaga fungsi ekosistem mangrove dan penguatan konsep ecotourism di kawsan ekowisata mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. Ecotourism in mangrove forests in the Surabaya began to grow. So this development does not damage the environment and resources in the mangrove forest needed the right development strategy. Based on this, The aims of this research were to knew the existing tourism potential and found the right strategy for the development of mangroves ecotourism Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. So collecting information on the ideas, beliefs and perceptions. Data were collected by questionnaire addressed to visitors, local communities and organizer of mangroves ecotourism Wonorejo. The questions are about perception, participation, tourist attraction and tourism development. Then data were analyzed by SWOT. Tourism potentials in mangrove ecotourism Wonorejo were the diversity of mangrove and bird and the natural beauty of the mangrove ecotourism. The concept of eco-tourism development strategy are develop conservation and rehabilitation of mangroves as one of the tourism programes, increase the participation and empowerment tourism communities, reinforce the rule of law and the rules to keep the preservation of mangrove ecosystem and building of ecotourism perseptions.
KAJIAN KESUBURAN PERAIRAN BERDASARKAN UNSUR HARA (N,P) DAN FITOPLANKTON DI SUNGAI TULUNG DEMAK Sihombing, Ika Novalia; Hutabarat, Sahala; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.232 KB)

Abstract

Perairan Sungai Tulung merupakan sungai yang terletak di desa Tambakbulusan, Demak Jawa Tengah. Sungai Tulung berperan penting dalam sumberdaya air bagi masyarakat Desa Tulung. Aliran Sungai Tulung mengangkut dan membawa berbagai bahan organik dan anorganik hasil limbah domestik dan aktivitas manusia yang dapat mencemari sungai. Sungai yang tercemar dapat menimbulkan gangguan akibat perubahan interaksi antara komponen biotik dan abiotik di dalam ekosistem perairan sungai. Salah satu komponen biotik yang berperan penting dalam ekosistem air adalah fitoplankton yang dapat dijadikan indikator biologi menentukan kesuburan perairan (fase trofik) dan pencemaran di dalam perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton; kesuburan perairan dan perhitungan nilai Saprobitas Perairan; dan keterkaitan unsur hara (N, P) dan klorofil dengan kelimpahan fitoplankton. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air Sungai Tulung Demak dengan pengukuran parameter fisika, kimia dan biologi. Kelimpahan rata-rata fitoplankton pada pagi dan siang hari berkisar antara 6.161 - 15.289 dan 4.367 - 9.955 ind/L dengan 43 genera. Kandungan hara pada nitrat berkisar 0,41 - 1,02 mg/L dan fosfat sebesar 0,05 - 0,19 mg/L. Nilai ini cukup optimum bagi kehidupan fitoplankton Nilai saprobik indeks (SI) berkisar antara 0,3 - 1  dan tropik saprobik indeks (TSI) berkisar antara -1,9 - 0,5. Kualitas perairan sungai Tulung termasuk dalam tingkat β - Mesosaprobik/ pencemaran ringan.Tulung River Demak located in the village of Tambakbulusan, Demak, Central Java that important for water resources to Tulung villagers. The flow water caries a variety of organic and inorganic materials and domestic waste products of human activity that could contaminate the river. River pollution can inflict disorder due to changes in the interaction between components abiotic and biotic in the river ecosystem.One of the biotic components that are important in aquatic ecosystem is phytoplankton that can be used as biological indicators to determine productivity and pollution in the waters. The purpose of the research were to determine the structure of the phytoplankton community; Saprobic value waters and linkage of nutrients ( N and P ). The method has been used in this research was descriptive and sample collection conducted twice on three stations which consists of three points and two times with a span of one week. Based on the average value of phytoplankton in the morning and during the day ranged from 6.161-15.289 and 4.367-9.955 ind / L with 43 genera. Nutrient content in nitrate ranged from 0,41 to 1,02 mg / L and phosphate of 0,05 to 0,19 mg / L . This value is quite optimum for the life of phytoplankton. The value saprobic index ( SI ) ranging from 0,3 to 1 and tropic saprobic index ( TSI ) ranged from -1,9 – 0,5. The quality of the Tulung River waters during the research was categorized in lightly polluted conditions.

Page 1 of 2 | Total Record : 19