cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018" : 16 Documents clear
INFESTASI MONOGENEA PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DARI DESA GENUK, UNGARAN BARAT DAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) DARI KP. NGLARANG, GUNUNGPATI, JAWA TENGAH Laia, Nilam Permata; Desrina, - -; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.877 KB)

Abstract

Monogenea merupakan salah satu jenis parasit yang sering menginfestasi ikan dan biasanya ditemukan di organ eksternal seperti, kulit, sirip dan insang dengan menancapkan haptor. Parasit monogenea memiliki bentuk tubuh fusiform dan haptor pada bagian posteriori dengan sejumlah kait marginal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis ikan yang tampak pada ikan nila dan ikan lele sebagai ikan uji, mengetahui nilai intensitas dan prevalensi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode random sampling dan pengamatan laboratorium. Ikan yang digunakan yaitu ikan nila dan ikan lele masing-masing sebanyak 50 ekor diambil dari kolam budidaya milik warga. Ikan nila diambil dari Genuk,Ungaran Barat dengan rerata panjang 12.72±1.89 cm dan rerata berat 14.24±2.78 g, sedangkan ikan lele diambil dari Kp. Nglarang, Gunungpati dengan rerata panjang 14.67±1.70 cm dan rerata berat 17.34±3.71 g. Pengamatan monogenea dilakukan dengan pembuatan preparat ulas (smear) yang di ambil dari insang, kulit dan sirip dengan menggunakan cover glass dan diletakkan pada slide glass yang telah ditetesi akuades, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x, 100x dan 400x. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah monogenea yang ditemukan ada dua jenis yaitu Cichlidogyrus sp. pada ikan nila (O. niloticus) dan Actinocleidus sp. pada ikan lele (C. gariepinus). Gejala klinis yang tampak pada ikan nila yaitu sirip punggung dan sirip ekor geripis, operculum kemerahan, insang tampak pucat dan produksi lendir berlebih. Gejala klinis pada ikan lele yaitu pada tubuh terdapat ulcer atau luka, tubuh kemerahan, sirip geripis, sirip kemerahan dan produksi lendir berlebih. Nilai intensitas Cichlidogyrus sp. dan Actinocleidus sp. adalah sama, yaitu 2 ind/ekor, namun nilai prevnalensi keduanya berbeda, prevalensi Cichlidogyrus sp. yaitu 68% dan prevalensi Actinocleidus sp. yaitu 14%.Monogenea is a group of ectoparasites of fish and usually found on the skins, fins and gills with plugging the haptor. Monogenea parasitic had a fusiform body shape on the haptor at posterior with some marginal hooks. This research aims to determind the clinical symptoms of tilapia and catfish, and the intensity and prevalence of monogenea. The methods used in this research were random sampling and laboratory observation. The fish used were tilapia fish and catfish each of many as 50 tails taken from the ponds owned by residents. The tilapia was taken from Genuk, West Ungaran with average length of 12.72±1.89 cm and average weight is 14.24±2.78 g, while the catfish was taken from Kp. Nglarang, Gunungpati with average length 14,67±1,70 cm and average weight 17.34±3.71 g. The observation of monogenea was done started with preparation review (smear) taken from the gills, skin and fins using a cover glass and placed on a slide glass contained a drop of aquadest, the slides was observed under the microscope with maginification 10x, 100x and 400x. There were two monogenea found in this research namely Cichlidogyrus sp. in tilapia fish (O. niloticus) and Actinolcleidus sp. in catfish (C. gariepinus). Clinical symptoms found on tilapia were dorsal and tail fins were torn, reddish operculum, pale gills and excess mucus production. Clininal symptoms in the catfish were wound on body, reddish body, fins were torn and excess mucus production. The value of the intensity of Cichlidogyrus sp. and Actinocleidus sp. was same i.e. 2 ind/tail, however the value of the prevalence of both were different, the prevalence of Cichlidogyrus sp. i.e. 68% and the prevalence of Actinocleidus sp. i.e. 14%. 
PENGARUH PERIODE PEMUASAAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) Mustofa, Arifin; Hastuti, Sri; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.913 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan dan makanan yang tersedia.  Permasalahan yang sering muncul pada usaha budidaya ikan yakni adalah pemanfaatan pakan yang belum optimal.  Ikan hanya menyerap 25% pakan yang diberikan, sedangkan 75% sisanya menetap sebagai limbah didalam air.  Pemuasaan (starving) yang diikuti pemberian pakan yang cukup (satiation level) merupakan salah satu strategi pemberian pakan yang diharapkan bisa menunjang  pertumbuhan yang cepat (compensatory growth),  meningkatkan efektifitas pemanfaatan pakan dan menjaga kualitas air.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh periode pemuasaan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, dan kelulushidupan pada ikan mas (C. carpio).  Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan relatif (RGR), pertumbuhan panjang mutlak, kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juli 2017, di Balai Benih Ikan (BBI) Mijen, Semarang.  Penelitian ini menggunakan metode experimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan yang diujikan adalah pemuasaan pemberian pakan dengan perlakuan A (pemberian pakan setiap hari), B (1 hari dipusakan 1 hari diberi pakan), C (1 hari dipuasakan 2 hari diberi pakan), dan D (1 hari dipuasakan 3 hari diberi pakan).  Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan panjang rata-rata 5,13±0,06 cm dan bobot rata-rata 3,01±0,10 g.  Pemberian pakan pada pukul 08.00 dan 16.00 secara at satiation.  Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 10 ekor/wadah.  Wadah pemeliharaan  menggunakan ember bervolume 25 L, dengan lama pemeliharaan 72 hari.  Pakan yang digunakan adalah pakan komersil berupa (pellet) dengan protein 32%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemuasaan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, RGR, dan pertumbuhan panjang mutlak, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR.  Hasil perlakuan A (tanpa dipuasakan) memberikan nilai TKP tertinggi sebesar 126,30±5,25 g, nilai RGR tertinggi sebesar 3,90±0,10%/hari, dan nilai pertumbuhan panjang mutlak tertinggi sebesar 3,96±0,01 cm.  Perlakuan B (dipuasakan 1 hari diikuti pemberian pakan 1 hari) memberikan nilai EPP tertinggi sebesar 76,44±2,46%, dan nilai FCR terrendah sebesar 1,22±0,04.Common carp (Cyprinus carpio) was a type of fish which has an economic value and widely cultivated because it has high adaptability to every conditions and dietary.  The common problem to this cultivation is the feed utilization which is not effectively efficient.  Fish absorbs only about 25% of feed, while the remaining 75% settles as waste in water.  The efforts are done by doing good feeding management.  Starving followed by adequate feeding (station level) is one of the strategies in feeding which is expected to support rapid growth (compensatory growth), increasing the effectiveness of feed utilization and maintaining water quality.  The aims of this study is to examine the influence of the starving period on efficiency of feed utilization, growth, and survival in common carp (C. carpio).  Observed data include feed consumption (FC), feed utilization efficiency (EPP), feed conversion ratio (FCR), relative growth rate (RGR), absolute longevity, survival rate (SR) and water quality.  This study was conducted in April 2017 until July 2017, at Balai Benih Ikan (BBI) Mijen, Semarang.  Method that used in this study was experimental withcomplete randomized design (CRD) 4 treatment and 3 replications.  Treatment that used in this study were A (daily fed), B (1 day starved, 1 day is fed), C (1 day starved 2 day is fed), and D (1 day is starved 3 day is fed).  The fish that used were common carp (C. carpio) with an average length 5,13±0,06 cm and weight 3,01±0,10 g.  Feeding time was on 08.00 and 16.00 with at satiation method.  The fish was cultured with density 10 fish/tank.  The water tank for treatment has a volume of 25 L.  Treatment was done for 72 days.  The feed used was commercial feed with 32% protein.  The results showed that starving with different periods had significant effect (P <0.05) on FC, EPP, FCR, RGR, and absolute longevity, but no significant effect (P> 0.05) on SR.  Results of treatment A (no starving) gave the highest TKP score of 126,30±5,25 g, the highest RGR value of 3,90±0,10%/day, and the highest absolute longest growth value of 3,96±0,01 cm.  Treatment B (1 day feed followed by 1 day feeding) gave the highest EPP score of 76,44±2,46%, and the lowest FCR value was 1,22±0,04.
PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK PADA PAKAN YANG MEMANFAATKAN SUMBER PROTEIN DARI TEPUNG TELUR AYAM AFKIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN NILA (Oreochromis niloticus) Zakaria, Hapiz Maulana; Suminto, - -; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.194 KB)

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan budidaya terpenting ketiga dunia setelah karper dan salmon serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya harga pakan merupakan salah satu kendala utama dalam membudidayakan ikan nila, serta efisiensi pemanfaatan pakan masih rendah yang mengakibatkan biaya produksi tinggi, untuk pakan saja mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan probiotik pada pakan dan memanfaatkan sumber protein dari tepung telur ayam afkir. Probiotik yang digunakan adalah probiotik buatan Laboratorium Departemen Akuakultur Undip. Metode eksperimen dan rancangan acak lengkap (RAL) telah digunakan pada penelitian ini dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan berupa benih ikan nila merah (O. niloticus) (bobot rerata 2,77±0,11 g) dengan kepadatan 1 ekor/L dipelihara selama 42 hari. Perlakuan yang digunakan yaitu Perlakuan A (pakan tanpa pemberian probiotik), Perlakuan B (disemprotkan probiotik 2,5 x 107 CFU/g pakan), perlakuan C (disemprotkan probiotik 5 x 107 CFU/g pakan), perlakuan D (disemprotkan probiotik 7,5 x107 CFU/g pakan). Data yang diukur meliputi Total Konsumsi Pakan (TKP), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Rasio Konversi Pakan (FCR), Rasio Efisiensi Protein (PER), Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) dan Kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan yang diberi probiotik menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi pakan lebih baik dari pakan yang tidak diberi probiotik, secara kuantitatif perlakuan D cenderung memberikan nilai tertinggi pada EPP sebesar 84,30±12,07%, FCR sebesar 1,20±0,16, PER sebesar 2,46±0.35% dan RGR sebesar 4,34±0.70%/hari dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap TKP dan SR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus) yaitu suhu 26-310C; pH 6,7-7,3; dan DO 3,33-6,58 mg/l. Tilapia (Oreochromis niloticus) is the third most important cultured fish in the world after carp and salmon and has the high economic value. The high price of feed is one of the obstacles in tilapia fish farming development. Low feed efficiency causes high production cost, for feed only which reach about 60-70% of total production cost. This can be overcome by the use of probiotics in fishfeed and utilizes its protein content from rejected chicken eggs flour. The probiotics used are artificial probiotics made by Departemen of Aquaculture Undip Laboratory. Completely randomized experimental and design methods (RAL) were used in this study with 4 treatments and 3 replications respectively. The sample fish used was red tilapia seed (O. niloticus) (average weight 2.77±0.11 g) with initial density 1 ind/L which maintained for 42 days. The treatments were Treatment A (without probiotics), Treatment B (probiotics 2.5 x 107 CFU/g of feed), Treatment of C (probiotics 5 x 107 CFU/g of feed), and Treatment D (probiotic 7,5 x 107 CFU/g of feed). The parameters of this research were Feed Consumtion rate (TKP), Feed Utilization Efficiency (EPP), Food Convertion Rate (FCR), Protein Efficiency Ratio (PER), Relative Growth Rate (RGR) and Survival Rate (SR). The results showed that Treatment D gave the highest score on EPP of 84.30 ± 12.07%, FCR of 1.20 ± 0.16, PER of 2.46 ± 0.35% and RGR of 4.34 ± 0.70%/day and no significant effect (P> 0,05) on TKP and SR. Water quality on maintenance media is within a reasonable range for the maintenance of tilapia (O. niloticus) that were temperature 26-31oC; pH 6.7-7.3; and DO 3.33-6.58 mg/l.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus [L] skeels) TERHADAP TOTAL ERITROSIT DAN KELULUSHIDUPAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Setyani, Rina; Sarjito, - -; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.445 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan. Salah satu kendala dalam budidaya ikan mas adalah serangan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS), penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Daun ceremai dapat digunakan sebagai bahan alternatif untuk pengobatan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dan dosis terbaik ekstrak daun ceremai terhadap total eritrosit serta kelulushidupan ikan mas yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Perlakuan dalam penelitian ini berupa perendaman ekstrak daun ceremai dengan 4 dosis berbeda dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (0 ppm), perlakuan B (1000 ppm), perlakuan C (2000 ppm) dan perlakuan D (3000 ppm). Ikan mas di injeksi bakteri  A. hydrophila sebanyak 0,1 mL dengan konsentrasi 107 CFU/mL secara intramuskular. Setelah menunjukkan gejala klinis berupa warna tubuh memudar, peradangan yang kemudian menjadi luka (ulcer) di bekas suntikan dan bintik-bintik merah pada permukaan tubuh, ikan mas direndam dalam ekstrak daun ceremai selama 20 menit. Hasil pengamatan diperoleh total eritrosit hari ke-1 pasca iinfeksi mengalami penurunan disemua perlakuan setelah dilakukan perendaman pada hari ke-7 dan hari ke-13 total eritrosit mengalami kenaikan kecuali pada perlakuan A. Nilai kelulushidupan tertinggi terdapat pada perlakuan B sebesar 63,33% diikuti oleh perlakuan C sebesar 33,33%, perlakuan D sebesar 20,00% dan pada perlakuan A sebesar 0%. Penggunaan ekstrak daun ceremai terbukti berpengaruh nyata terhadap total eritrosit dan kelulushidupan (P<0,05) ikan mas yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis ekstrak duan ceremai 1000 ppm dapat menyembuhkan ikan mas yang diinfeksi bakteri A. hydrophila.Carp (Cyprinus carpio) is a type of freshwater fish consumption that is widely cultivated. One of the obstacles in the cultivation of carp is the attack of Motile Aeromonas Septicemia (MAS),  a disease caused by aeromonas hydrophila bacteria. Ceremai of leaves can be used as an alternative ingredient for treatment as antibacterial. The purpose of this study is to determine the effect of immersion and the best dose of ceremai leaf extract againts total erythrocytes and survival rate of a carp infected by A. hydrophila. The treatment in this research were soaking of ceremai leaf extract with 4 different dosage and 3 replicates is treatments were A (0 ppm),  B (1000 ppm), C (2000 ppm) and D (3000 ppm). Carp in injection  of  A.  hydrophila bacteria as much as 0,1mL  with  concentration  107CFU/mLintramuscularly. After showingthe clinicalsymptomsof  body color fades, inflammation  that  become wound  (ulcer) at the injection site  and  red spots on the surface of the body, carp is  immersion in the leaf extract of the ceremaifor 20  minutes. The observasion showed thatthe total erytrocytes  at1st  days decrease in all treatment after immersion thatthe total erytrocytes  at 7th  days and 13th days increase except in treatment A.The highestsurvival valuewas in treatment B of 63,33% followed by treatment C 33,33%, treatment D of 20,00%andat treatment A of 0%. The use of ceremai leaf extract proved significantly effect on the total erythrocyte and survival rate (P<0,05) a carp infected by A. Hydrophila. The results showed that dosage 1000 ppm ceremai leaf extract can cure carp infected by A. hydrophila.  Carp (Cyprinus carpio) is a type of freshwater fish consumption that is widely cultivated. One of the obstacles in the cultivation of carp is the attack of Motile Aeromonas Septicemia (MAS),  a disease caused by aeromonas hydrophila bacteria. Ceremai of leaves can be used as an alternative ingredient for treatment as antibacterial. The purpose of this study is to determine the effect of immersion and the best dose of ceremai leaf extract againts total erythrocytes and survival rate of a carp infected by A. hydrophila. The treatment in this research were soaking of ceremai leaf extract with 4 different dosage and 3 replicates is treatments were A (0 ppm),  B (1000 ppm), C (2000 ppm) and D (3000 ppm). Carp in injection  of  A.  hydrophila bacteria as much as 0,1mL  with  concentration  107CFU/mLintramuscularly. After showingthe clinicalsymptomsof  body color fades, inflammation  that  become wound  (ulcer) at the injection site  and  red spots on the surface of the body, carp is  immersion in the leaf extract of the ceremaifor 20  minutes. The observasion showed thatthe total erytrocytes  at1st  days decrease in all treatment after immersion thatthe total erytrocytes  at 7th  days and 13th days increase except in treatment A.The highestsurvival valuewas in treatment B of 63,33% followed by treatment C 33,33%, treatment D of 20,00%andat treatment A of 0%. The use of ceremai leaf extract proved significantly effect on the total erythrocyte and survival rate (P<0,05) a carp infected by A. Hydrophila. The results showed that dosage 1000 ppm ceremai leaf extract can cure carp infected by A. hydrophila.
KEBERHASILAN JANTANISASI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.) DENGAN STADIA YANG BERBEDA MELALUI PERENDAMAN TEPUNG TESTIS SAPI Himawan, Asrul; Hastuti, Sri; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.129 KB)

Abstract

Ikan rainbow (Melanotaenia sp.) merupakan salah satu ikan hias yang banyak dicari oleh penggemar ikan hias. Ikan rainbow jantan mempunyai kelebihan dibandingkan betinanya antara lain lebih cepat pertumbuhannya, postur tubuh lebih besar, dan warna yang lebih cerah. Sehingga ikan rainbow jantan lebih bernilai ekonomis dibandingkan yang betina. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu dengan melakukan metode pengarahan jenis kelamin. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui stadia terbaik dengan penggunaan tepung testis sapi (TTS) untuk keberhasilan jantanisasi pada ikan rainbow (Melanotaenia sp.). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari 2 faktor (dosis dan stadia) dengan 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan telur berumur 3 hari dengan kepadatan 100 butir dan larva yang baru menetas dengan kepadatan 100 ekor per wadah dengan waktu pemeliharaan 60 hari. Perlakuan tersebut adalah A1B1 (telur umur 3 hari dengan dosis 0 ppm), perlakuan A1B2 (larva baru menetas dengan dosis 0 ppm), perlakuan A2B1 (telur umur 3 hari dengan dosis 80 ppm), dan perlakuan A2B2 (larva baru menetas dengan dosis 80 ppm) dengan waktu perendaman yaitu 24 jam. Data yang diamati meliputi derajat penetasan telur, persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa derajat penetasan telur ikan rainbow adalah pada perlakuan A1B1 95,67%+0,58 dan perlakuan A2B1 95,67%+2,08. Persentase kelamin jantan dan kelamin betina tertinggi pada perlakuan A2B1 74,22%+1,85 dan perlakuan A1B1 yaitu 64,30%+1,75. Kelulushidupan (SR) ikan rainbow tertinggi adalah pada perlakuan C 98,61%+0,57. Kualitas air pada media pemeliharaan pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Rainbow (Melanotaenia sp.) yaitu suhu 26-280C; pH 7,0-8,0; dan DO 4,3-5,0 mg/l. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan tepung testis sapi dengan stadia yang berbeda pada perendaman telur maupun larva memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase jantan dan betina sedangkan pada derajat penetasan dan kelulushidupan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Perlakuan terbaik adalah perlakuan A2B1 (telur umur 3 hari) merupakan stadia terbaik menghasilkan persentase kelamin jantan sebesar 74,22%+1,85.Rainbow fish (Melanotaenia sp.) is one of the ornamental fish which has a sought by ornamental fish lover. The male rainbow fish has more interesting physical appearance than the female, for instance its rapid growth, bigger posture and brighter body color. Sex reversal is a possible way to enhance the male fish. This study aims to determine the best stadia with the use of cow testis flour (CTF) for succeeding the  masculinization on rainbow fish (Melanotaenia sp.). This research was conducted by using experimental method and factorial completely randomized design consisted of 2 factors (dosage and stage) with 3 replications. The object of this research used 3 days age of  eggs with 100 grains density and newly hatched larvae with a density of 100 individuals per container with 60 days cultivation. The treatments were A1B1 (3 days age eggs with 0 ppm CTF), treatment A1B2 (newly hatched larvae with 0 ppm CTF), A2B1 treatment (3 days age of eggs with 80 ppm CTF), and A2B2 treatment (newly hatched larvae with 80 ppm CTF) with 24 hours of submersion. The parameters of this research were hatching rate, male and female percentage (%), survival rate (SR) and water quality. The results showed that the highest hatching rate of rainbow eggs was at treatment A1B1 95.67% + 0,58 and A2B1 95,67% + 2.08. The highest percentage of male rainbow fish was at treatment A2B1 98,61% + 0,57. The quality water in cultivation media was in the proper range for rainbow fish cultivation (Melanotaenia sp.) as the  temperature 26-280C; pH 7,0-8,0; and DO 4.3-5.0 mg/l. The conclusion of this research was that different stage of rainbow fish submersion with cow testicle flour on eggs and larvae showed  signifcant effect (P <0.05) on the percentage of males and females while the hatching rate and survival rate did not showed significant effect (P>0.05). Treatment A2B1 was the best result as it produced 74,22±1,85% of male rainbow fish. 
PEMANFAATAN TEPUNG TELUR AYAM AFKIR DALAM PAKAN BUATAN YANG BERPROBIOTIK TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN, DAN KELULUSHIDUPAN IKAN BAWAL (Colossoma macropomum) Andaru, Hilda Ayu; Suminto, - -; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.682 KB)

Abstract

Ikan bawal air tawar merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi dan telah berkembang pesat di Indonesia. Tingginya harga pakan pada proses produksi dapat diatasi dengan meningkatkan efisiensi pakan pada ikan bawal. Telur ayam afkir merupakan bahan pakan alternatif sebagai sumber protein yang keberadaannya berlimpah di alam dan selama ini hanya dianggap sebagai limbah. Telur ayam afkir mengandung nutrisi yang cukup baik yaitu protein kasar sebesar 54,14%, lemak kasar sebesar 22,44%, serat kasar sebesar 5,85%, abu sebesar 10,67% serta bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 6,90%. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung telur ayam afkir pada efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, dan kelulushidupan ikan bawal (C. macropomum). Ikan uji yang digunakan adalah ikan bawal air tawar dengan bobot individu rata-rata 2,37±0,66 g/ekor. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perlakuan A dengan pakan tanpa penambahan telur ayam afkir dan perlakuan B, C dan D yang masing-masing merupakan pakan dengan tambahan tepung telur ayam afkir yang berbeda (15, 30, 45%).  Data yang diamati meliputi tingkat konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung telur ayam afkir yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, PER, dan RGR  namun tidak berpengaruh nyata (P≥0,05) terhadap SR. Perlakuan C memperoleh hasil tertinggi pada TKP sebesar 156,84 gram, EPP sebesar 60,86%, FCR 1,54; PER sebesar 1,79% dan RGR sebesar 6,48%/hari. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Red belly fish is one of the freshwater fish commodities with high economic value and has grown rapidly in Indonesia. The high price of feed on the aquaculture process can be overcome by increasing the diet utilization on redbelly fish. Rejected chicken eggs are an alternative feed ingredient as a source of protein whose existence is abundant in nature and so far only considered as waste. Rejected chicken eggs contain good nutrition of 54.14% crude protein, 22.44% crude fat, crude fiber 5.85%, ash 10.67% and nitrogen extract (BETN) of 6,90%. The objectives of this research is to determine the effect of chicken egg starch addition on the efficiency of feed utilization, growth, and survival rate of redbelly fish (C. macropomum). The experimental fish used C. macropomum with average weight of 2.37 ± 0.66 g / fish. This research was conducted by experimental method using Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. The treatment were: treatment A with feed without the addition of rejected chicken eggs and B, C and D for treatments feed with different dose of rejected chicken eggs (15, 30, 45%). The measured data included total feed consumption (TFC), feed utilization efficiency (FUE), feed convertion ratio (FCR), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), survival rate (SR), and water quality. The results showed that the addition of different doses of rejected chicken starch gave significant effect (P<0,05) on TFC, FUE, FCR, PER,and RGR but no significantly effect (P≥0,05) on SR. Treatment of the feed by added 30% had the highest values of TFC (156,84 grams), FUE (60,86%), FCR (1,54), PER (1,79%) and RGR of (6,48%/day). Water quality in cultured media is within a suitable range for the maintenance of experimental fish.
PEMANFAATAN DAUN TURI (Sesbania grandiflora) YANG DIFERMENTASI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Aryani, Ajeng; Subandiyono, - -; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.483 KB)

Abstract

Daun turi cukup potensial sebagai bahan pakan ikan alternatif sumber karbohidrat bagi ikan herbivor maupun omnivor.  Daun turi mengandung nutrisi yang cukup baik yaitu protein kasar 31,29%, lemak kasar 7,57%, serat kasar 27,88%, abu 7,34%, serta bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 28,02%.  Kandungan serat kasar yang tinggi  pada daun turi sulit dicerna oleh ikan.  Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui proses fermentasi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung daun turi yang telah difermentasi kedalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas (Cyprinus carpio).  Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (Cyprinus carpio) dengan bobot individu rata-rata 3,57±0,47 g/ekor.  Pemberian pakan pada pukul 08.00 dan 16.00 secara at satiation.  Ikan uji dipelihara selama 42 hari dengan padat tebar 1 ekor/L.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan.  Perlakuan A, B, C dan D dengan konsentrasi masing-masing 0%, 5%, 10% dan 15%.  Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio(PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi tepung daun turi memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap EPP, PER, dan RGR tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada TKP serta SR.  Perlakuan D memberikan nilai tertinggi pada EPP sebesar 57,61±3,28%, PER sebesar 1,59±0,09% dan RGR sebesar 3,21±0,17%/hari.  Parameter kualitas air selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan ikan mas (C. carpio).  Kesimpulan yang diperoleh yaitu nilai tertinggi pada perlakuan D untuk semua variabel kecuali TKP dan SR.Turi leaves (Sesbania grandiflora) was a potential feed ingredient that could be used as carbohydrate source for herbivorous and omnivorous fish.  Turi leaves contained valuable nutrients such as crude protein of 31,29%, crude lipid of 7,57%, crude fiber of 27,88%, ash of 7,34%, and nitrogen-free extract  (NFE) of 28, 02%.  Sesbania’s crude fiber was difficult to be  digested by fish.  The solution for that problem was by applying ferment proccesses. This experiment was aimed to study the influence of leave turi flour which has been fermented first before added into practical diets on the growth of carp (C. carpio) seeds.  The trail fishes used were carp (C. carpio) seeds with the average body weight of 3,57±0,47 g/fish.  Feeding frequency applied was twice a day, i.e. at 08.00 a.m and 16.00 p.m; and by appliying at satiation method.   The fishes were cultured for 42 days with the stocking density of 1 fish/l.  The experimental method used was completely randomize design (RCD) with 4 treatments and 3 replicates.  The treatment of A, B, C, and D were the trial diets with the concentration of turi leave flour of 0, 5, 10 and 15%, respectively.  The measured data included feed consumption rate (FCR), feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), survival rate (SR), and water quality parameters.  The data showed that the used of fermented turi leaves into the diets resulted on significantly effects (P<0,05) on the FE, PER, and RGR values, but not for feed consumption rate (RGR) and SR values.  Treatment D resulted on the values of FE i.e. 57.61±3.28%, PER i.e. 1.59±0.09% and RGR i.e. 3.21±0.17%/day.  The water quality parameters during this study were varied among suitable range the fish life.  It was can be concluded that treatment D resulted on the highest values for the all measured variables, except for feed consumption rate (FCR) and SR.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN EMBRIO DALAM EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinella alpina) TERHADAP PENGALIHAN KELAMIN IKAN CUPANG (Betta splendens) Lestari, Rosita; Susilowati, Titik; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.587 KB)

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) berkelamin jantan merupakan salah satu jenis ikan yang digemari oleh masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan cupang berkelamin jantan memiliki keunggulan pada bentuk dan warnanya. Upaya untuk memperoleh persentase jantan dapat dilakukan dengan cara pengalihan kelamin dengan melakukan perendaman embrio dalam ekstrak purwoceng. Ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina) merupakan tumbuhan afrodisiaka yang mengandung senyawa berkaitan dengan fitosteroid, misalnya stigmasterol yang berkhasiat meningkatkan kualitas seksual.  Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A selama 0 jam, perlakuan B selama 5 jam, perlakuan C selama 10 jam dan perlakuan D selama 15 jam dengan dosis yang sama yaitu 20 mg/liter. Data yang diamati meliputi derajat penetasan (HR), kelulushidupan (SR), persentase jantan dan betina (%), dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan esktrak purwoceng  pada embrio dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap derajat penetasan (HR), kelulushidupan (SR),  persentase jantan dan betina. Persentase kelamin jantan pada perlakuan A sebesar 42,77 %, perlakuan B sebesar 67,66 %,  perlakuan C sebesar 72,52 %, dan perlakuan D sebesar 81,14 %. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Cupang (B. splendens). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan esktrak purwoceng dalam embrio dengan lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase jantan ikan cupang (B. splendens) dan lama waktu perendaman yang terbaik adalah pada perlakuan D dengan lama waktu perendaman 15 jam yang menghasilkan persentase jantan sebanyak 81,14 %.Male Betta fish is one of popular ornamental fish and has high economic value. Male Betta fish has an aestethical feature, espicially on it’s caudal fin. The attempt to obtain the percentage of male fish can be done by sex reversing with embryos immersion in Purwoceng Extract. Purwoceng (Pimpinella alpina)  extract is an aphrodisiac plant  that contain several compounds associated with fitosteroid like stigmasterol that can improve sexual quality.  This research is conducted by applying completely randomized desing (RAL), which consists of 4 treatments and 3 replicates. The treatment is A 0 hour, B treatment for 5 hours, treatment C for 10  hours and D treatment for 15 hours with the same dose of 20 mg/liter. Measuring variables this research were hatching rate, survival rate (SR), the percentage of males and females (%), and water quality. The results showed that embryos immersion in Extract Purwoceng with different lenght of time had significant different (P < 0.01) hatching rate, survival rate (SR), in male and female fish percentage. The percentage of male fish in treatment A was 42,77%, treatment B was 67,66%, treatment C was 72,52% and  treatment D was 81,14%. Water quality in the media, there is a range of decent maintenance for Betta fish farming (B. splendens). The conclusion of this research was that submergence using Extract Purwoceng in embryos with different immersion time gives a real influence against the percentage of males and females fish betta (B. splendens) and long soaking is best at the treatment D when with the old 15 hour immersion which produced 81,14% of male fish.
EFEK PERGANTIAN AIR DENGAN PERSENTASE BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN, EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN BENIH MONOSEX IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Istiqomah, Dian Annisa; Suminto, -; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.577 KB)

Abstract

Ikan nila (O. niloticus) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang mendapat perhatian besar bagi usaha budidaya perikanan terutama dalam usaha peningkatan gizi masyarakat di Indonesia. Peningkatkan produksi ikan diantaranya melakukan manajemen pakan, padat penebaran yang optimal dan manajemen kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  jumlah pergantian air media yang terbaik dan mengetahui pengaruh pergantian air pada media sebanyak 0, 50, 100, dan 150%/hari terhadap kelulushidupan, efisiensi pemanfaatan pakan, protein efisiensi rasio dan pertumbuhan relatif  pada  ikan nila. Metode pada penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan rancangan acak lengkap 4 perlakuan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah A (0%), B (50%), C (100%), dan D (150%) per hari dengan pergantian air terus - menerus. Materi yang digunakan yaitu ikan nila yang diberikan wadah ember padat tebar 1 ekor per liter. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore, diberikan secara at satiation. Parameter data kualitas air yang diukur meliputi DO, pH, suhu dan amonia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pergantian air yang baik pada pemeliharaan benih ikan nila dicapai pada 50, 100,150% /hari dengan nilai RGR (7.68±0.72), (7.95±0.89), (7.84±0.44), PER (0.94±0.04), (0.97±0.05), (096±0.06) EPP (38.39±1.47), (39.43±2.27), (38.82±2.42) SR (66.67±7.64), (70.00±5.00), (81.67±5.77)  dan TKP (84.58±6.30), (85.57±9.04), (84.13±5.55). Kualitas air pada media pemeliharaan yang meliputi suhu, DO, pH, dan amonia berada pada kisaran yang sesuai untuk budidaya ikan nila. Tilapia fish (O. niloticus) is one of the commodities freshwater fish which gets huge attention for the fisheries business especially in the community nutrition improvement business in Indonesia. Things to consider to increase fish production are feed management,optimum stocking density and change management water quality. This research aims to know the amount of the best media water turn and knowing the effect of media water change as much as 0, 50, 100, and 150%/day over survival rate, the efficiency utilization of feed, protein efficiency ratio and relative growth in Tilapia fish. Method in this research of experimental design of randomized design complete over 4 treatments with 3 repetitions. The treatment given are  A (0%), B (50%), C (100%), and D (150%) per day water exchange. The materials used are Tilapia fish given solid bucket container with stocking density 1 ind/litre. Feeding was twice a day i.e. morning and afternoon, satiation given. Parameters of water quality data measured include DO, pH, temperature and ammonia. The exchange the best water on seed breeding of Tilapia fish achieved at 50, 100, 150%/day with the value of the RGR (7,68±0,72), (7,95±0,89), (7,84±0,44), PER (0,94±0,04), (0,97±0,05), (0,96±0,06), EPP (38,39±1,47), (39,43±2,27), (38,82±2,42)  SR (81,67±5,7), (70,00±5,00), (8,67±5,77), and TKP (84,58±6,30), (85,57±9,04), (84,13±5,55). Water quality maintenance media which include temperature, DO, pH, and ammonia are in the range that suitable for fish farming of tilapia.
PENGGUNAAN COPEPODA, Oithona sp. SEBAGAI SUBTITUSI Artemia Sp., TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) Lestari, Indah; Suminto, - -; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.839 KB)

Abstract

Penggunaan pakan alami Artemia impor dalam pembenihan udang yang meningkat membuat permintaan Artemia impor selalu tinggi. Perlu ada pengganti Artemia impor mengingat stok Artemia di alam terbatas dan untuk menekan biaya produksi yang semakin tinggi dan memanfaatkan sumberdaya pakan alami dari perairan Indonesia. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pemberian pakan berupa Oithona sp., sebagai subtitusi Artemia sp., terhadap pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan larva udang vaname (L. vannamei). Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva udang stadia M-3 dan padat tebar 50 ekor/L.. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (100% Instar I Artemia), B (50% Oithona dan 50% Instar I Artemia). Data yang diamati meliputi perkembangan larva, pertumbuhan larva, tingkat kelulushidupan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan alami 100% Instar I Artemia sp., dan menggunakan 50% Instar I Artemia sp. dan 50%   Oithona   sp. tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan panjang dan bobot, tetapi berbeda nyata(P>0,05) terhadap tingkat kelulushidupan pada larva udang vaname. Nilai tingkat kelulushidupan larva pada stadia PL-10 yang tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan A sebesar 82.6±1.67%,sedangkan untuk perlakukan B lebih rendah yaitu 77,6±1.14%. Disimpulkan bahwa pemeliharaan larva udang vaname (L. vannamei) dari stadia M-3 sampai PL-10 yang diberi pakan alami, 100% Artemia Instar I, dengan yang diberi pakan alami, 50% Artemia Instar I dan 50% Oithona sp., tidak terjadi perbedaan yang nyata pada bobot rata-rata individu larva,panjang rata-rata individu larva, dan rata-rata prosentase perkembangan stadia larva, tetapi berbeda nyata terhadap tingkat kelulushidupan larva. The use of lives food Artemia import in shrimp hatcheries makes Artemia's import demand always high. There should be Artemia substitution imported, given that Artemia supplies are limited and depress higher production costs and utilize natural food sources from Indonesian waters. The purpose of this research activity is to know the difference of feeding of Oithona sp., As substitution of Artemia sp., To growth and survival rate of shrimp larvae (L. vannamei). Shrimp samples used in this study were M-3 stage with density of 50 individuals/L. The experimental method was applied in this study with Completely Randomized Design (CRD) with 2 treatments and 5 replicates. Those treatments were:  A (100% Instar I Artemia), B (50% Oithona and 50% Instar I Artemia) The observed data included the development of larvae, growth of larvae, survival rate and water quality. The results showed that the feeding of natural 100% Instar I Artemia sp., And using 50% Instar I Artemia sp. and 50% Oithona sp. was not significantly different (P <0.05) on growth in length and weight, but was significantly different (P>0.05) from the survival rate of Whitelag shrimp larvae. The highest survival rate of larvae at PL-10 stage with treatment A was 82.6 ± 1.67%, while for treatment B lower was 77.6 ± 1.14%.  Concluded that the maintenance of whitelag shrimp larvae (L. vannamei) from M-3 to PL-10 was use 100% Artemia Instar I, with use 50% Artemia Instar I and 50% Oithona sp. did not differ significantly on the average weight of the individual larvae, the average length of the individual larvae, and the mean percentage of stadia larvae, but differed significantly on the survival rate of the larvae.

Page 1 of 2 | Total Record : 16