cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
ANALISA KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENERAPAN INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUACULTURE (IMTA) MELALUI PENDEKATAN SIG DI PESISIR KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH Devinda Arsandi; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Aryati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.45 KB)

Abstract

Lahan masyarakat Brebes tergerus oleh arus laut yang terus masuk ke daratan sehingga mengurangi luasan daratan dan menenggelamkan wilayah pertambakan warga. Tambak warga menjadi salah satu mata pencaharian warga yang berada pada wilayah pesisir Kabupaten Brebes terkhusus di Desa Kaliwlingi. Wilayah tambak yang sudah terkena abrasi air laut, tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan budidaya.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luasan perairan Kabupaten Brebes yang dapat digunakan kegiatan budidaya berbasis IMTA, serta langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesesuaian lahan guna penerapan kegiatan budidaya berbasis IMTA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang didukung oleh data – data kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pengambilan data pada lokasi penelitian seperti parameter fisika, biologi dan kimia perairan diperoleh dengan sampling di lapangan yang kemudian diolah pada citra satelit sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik dengan bantuan software ArcGis 10.3 dan Microsoft Excell. Peta dasar tematik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk penentuan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut, ikan bandeng serta kerang hijau. Hasil penelitian menunjukkan hanya terdapat area seluas seluas 24,5 ha yang dapat dilakukan budidaya berbasis IMTA terdapat pada titik sampling VI dan untuk 1.332,5 ha tergolong sesuai bersyarat. Wilayah yang tergolong dalam kategori sesuai bersyarat dapat ditingkatkan kelas kesesuaiannya dengan dilakukannya pemberian pakan buatan pada budidaya bandeng untuk meningkatan unsur hara tanah, pada budidaya rumput laut dapat menggunakan metode budidaya long line , sedangkan pada budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan penempatan bambu sebagai media penempelan yang ditancapkan pada saluran inlet tambak. The land of Brebes is eroded by ocean currents that continue to enter the mainland, reducing the land area and drowning the people's aquaculture area. Pond area that has been exposed to sea water abrasion, can no longer be utilized by the community for cultivation activities.  The growth of seaweed, mussels and milkfish depend on the environmental conditions. These seaweed, mussels and milkfish live properly when they get its own criteria on a good environmental conditions.  The purpose of this research were to analize the Brebes coastal area that can be used for IMTA and give some reasonable advice for the area that can’t be used for IMTA.This research was descriptive research that provided with some quantitative data.  The method used in this research is a case study with data collection at the research sites such as the parameters of physics, biology and chemistry obtained by sampling water in the field and then processed with satellite images to produce a basic model of thematic maps using ArcGis 10.3 and Microsoft Excell.  The thematic maps can be used to determine the appropriate location for the cultivation of seaweed, mussels and milkfish . The results showed that research locations covering 1,357 ha, there is only an area of 24.5 ha to do cultivation based on IMTA that located at  6°47'56.16" S ; 109° 2'7.44"  E and the rest 1.332,5 ha classified in appropriate conditional  .   The area that classified in appropriate conditional can be improved by giving artificial feed for the milkfish which is can improving nutrient on the water ; for the seaweed cultivation can be improved by change the cultivation method into long line method ; whereas the cultivation of mussels can be improved by placing bamboo as a media attachment that is placed to the water entrance (inlet) of the ponds
Pengaruh Pemberian Pakan Alami Berbeda (Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis) Terhadap Pertumbuhan Biomass Mutlak dan Kandungan Nutrisi Artemia sp. Lokal Widiastuti, Ratna; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.82 KB)

Abstract

Artemia merupakan salah satu pakan alami bagi larva udang. Dewasa ini, masih banyak petani yang menggunakan Artemia sp. import, padahal Artemia sp. lokal memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi. Pemberian pakan merupakan salah satu cara meningkatan produksi kista Artemia sp. lokal agar diperoleh pertumbuhan yang normal dan menghasilkan kista yang baik serta daya tetas yang tinggi juga kandungan nutrisi yang tinggi pula. Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh Artemia sp. lokal dalam memenuhi kandungan nutrisi dan pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan Artemia sp. lokal dengan pemberian pakan alami yang berbeda, mengetahui kandungan nutrisi Artemia sp. lokal dengan pemberian pakan alami yang berbeda dan mengetahui pakan terbaik untuk Artemia sp. lokal dengan pemberian pakan alami yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan, ketiga perlakuan yaitu perlakuan A (pemberian pakan dengan Chaetoceros gracilis), perlakuan B (pemberian pakan dengan Skeletonema costatum) dan perlakuan C (pemberian pakan dengan Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis). Data yang dikumpulkan adalah data dosis pemberian pakan, pertumbuhan biomass mutlak, kandungan nutrisi dan kualitas air. Analisa statistik yang dilakukan adalah analisa ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perlakuan yang memberikan pengaruh  yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Payau dan Laut atau Satuan Kerja Perbenihan Ikan Air Payau Sluke, Rembang, Jawa Tengah pada bulan Januari-Februari 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap proses pertumbuhan biomass mutlak dan kandungan nutrisi. Perlakuan terbaik adalah perlakuan C dengan pertumbuhan biomass mutlak (3,40±0,656 gram) dan kandungan protein 66,45%. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk kehidupan dan pertumbuhan Artemia sp. lokal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan kombinasi Skeletonema costatum dan Chaetoceros gracilis cocok untuk pertumbuhan dan peningkatan kandungan nutrisi Artemia sp. lokal.
OPTIMALISASI PENAMBAHAN TEPUNG RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum sp.) YANG BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN JUVENIL UDANG WINDU (Penaeus monodon) Widyantoko, Widodo; Pinandoyo, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.317 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang perkembangan budidaya udang windu. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dapat mendukung pertumbuhan optimum udang. Rumput Laut coklat (Sargassum sp.) memiliki peran sebagai imunostimulan yang terbukti berpengaruh terhadap respon non spesifik pada sistem imun beberapa jenis ikan dan udang, sehingga membantu melancarkan daya cerna pakan yang dikonsumsi oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung rumput laut coklat (Sargassum sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan juvenil udang windu (Penaeus monodon). Variabel yang dikaji meliputi nilai tingkat konsumsi pakan (TKP), laju pertumbuhan relatif (RGR), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Protein Efisiensi Rasio (PER), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (tepung  rumput laut coklat dosis 0%), B (tepung rumput laut coklat dosis 1%), dan C (tepung rumput laut coklat dosis 2%), D (tepung rumput laut coklat dosis 3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tepung rumput laut memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap RGR, EPP, dan PER namun tidak berpengaruh nyata  (P>0,05) terhadap SR. Persentase dosis optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan udang windu yaitu 2,48% pada pakan buatan mampu menghasilkan 4,05% untuk RGR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya udang windu. Feed is one of the factors that can support the development of tiger shrimp culture. Food that is in accordance with the level of nutritional needs to support optimum growth of shrimp. Brown Seaweed (Sargassum sp.) Has a proven role as an immunostimulatory effect on non-specific response of the immune system of some species of fish and shrimp, so that helped launch the digestibility of feed consumed by the body. This study aimed to examine the effect of adding flour brown seaweed (Sargassum sp.) In diets on the growth and survival of juvenile tiger shrimp (Penaeus monodon). Variables examined include the value of the  feed consumption rate (TKP), relative growth rate (RGR), Feed Utilization Efficiency (EPP), Protein Efficiency Ratio (PER), and survival rate (SR). This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications ie treatment A (brown seaweed powder dose 0%), B (brown seaweed powder dose of 1%), and C (brown seaweed powder dose of 2%) , D (brown seaweed powder dose of 3%). The results showed that the addition of flour seaweed treatment effect (P <0.05) on RGR, EPP, and PER but not significant (P> 0.05) to SR. Optimal percentage dose that 2.48% on the artificial diet capable of producing 4.05%  for RGR. Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for tiger shrimp.
GAMBARAN PROFIL DARAH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIBERI PAKAN DENGAN KOMBINASI PAKAN BUATAN DAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) Purwanti, Serly Cahyani; Suminto, -; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.172 KB)

Abstract

Pengembangan budidaya ikan lele dumbo sering terkendala karena mahalnya harga pakan dan terjadinya infeksi penyakit. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memberikan kombinasi pakan buatan dan cacing tanah untuk menghasilkan pertumbuhan lebih baik dan dapat meningkatkan imunitas ikan lele dumbo (C. gariepinus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil darah lele dumbo yang diberi pakan dengan kombinasi pakan buatan dan cacing tanah (Lumbricus rubellus). Metode eksperimen dikembangkan dalam penelitiaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan itu adalah pemberian pakan dengan 100% pakan buatan (A), 75% pakan buatan dan 25% cacing  tanah (B), 50% pakan buatan dan 50% cacing tanah (C), 25% pakan buatan dan 75% cacing tanah (D), dan 100% cacing tanah (E). Pengukuran darah seperti eritrosit, leukosit dan hemoglobin menggunakan alat hematologi analizer dan glukosa darah dengan alat spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele dumbo yang diberi pakan buatan dan cacing tanah dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap jumlah eritrosit tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsentrasi hemoglobin, leukosit dan glukosa darah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ikan lele dumbo yang diberi pakan buatan dan cacing tanah (L. rubellus) dengan persentase yang berbeda mengalami jumlah eritrosit 1,22–2,52x 106 sel/mm3, leukosit 102,2-135,1x 103 sel/mm3, hemoglobin 8,2-10,5 g/dl dan glukosa darah 73,3-107,1 mg/L masih kisaran yang normal. African catfish aquaculture development is often hampered by the high cost of feed and desease infection. One of the problem solving is giving a combination of artificial and earthworms for the best growth and increasing imunity of the African catfish culture. The objective of research was  to determine the effect of a combination of artificial feed and of earthworms (L. rubelus) in the description of  erythrocytes , leukocytes , hemoglobin, and blood glucose of African catfish (C. gariepinus). The experimental method was employed in this research with used completely randomized design (CRD) 5 treatments and 3 replications, respectively.  Those treatments were feeding with 100% of artificial feed (A),75%  of artificial feed and 25% of earthworm (B), 50% of artificial feed and 50% of earthworm (C), 25% of artificial feed and 75% of earthworm (D), and 100% of earthworm (E). Blood requreiment of erythrocytes, leukocytes and hemoglobin where hused by hematology analyzer and blood glucose by a spectrophotometer.  The results showed that the African catfish feed combination of artificial feed and earthworms have given significant effect(P<0.05) in the erythrocytes number but not significant effect (P>0.05) on the concentration of hemoglobin , leukocytes and blood glucose. Based on the results of this study it can be concluded that African catfish feed with artificial feed and earthworms (L. rubellus) with different percentage will have the amount of erythrocytes 1,22–2,52x 106 sel/mm3, leukocytes 102,2-135,1x 103 sel/mm3, hemoglobin 8,2-10,5 g/dl, and blood glucose 73,3-107,1 mg/L  still in the normal range.
PATOGENISITAS DAN SENSITIVITAS AGENSIA PENYEBAB PENYAKIT BAKTERIAL PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT BEREDAR Yanti, Nuri Nia; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.958 KB)

Abstract

Kebutuhan pangan nasional mengharapkan ketersediaan ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada tahun 2015 sebanyak 26,005 ton. Hal ini mendorong para pembudidaya untuk mengoptimalkan hasil produksi ikan gurami. Namun seiring dengan berjalannya kegiatan budidaya, muncul banyak kendala yang dapat menurunkan hasil produksi, salah satunya ialah serangan penyakit bakteri. Untuk menanggulangi penyakit bakteri tersebut dilakukan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan beredar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui agensia penyebab penyakit bakteri yang menginfeksi ikan  gurami, mengetahui sensitivitasnya terhadap tiga macam obat beredar dan gejala klinis ikan gurami pasca penyuntikan bakteri melalui uji patogenisitas. Isolasi dilakukan pada 10 ekor ikan sampel yang berasal dari Banjarnegara pada hati, ginjal, mata dan luka pada media TSA (Tryptone Soy Agar). Dosis obat yang digunakan pada uji sensitivitas sesuai dengan anjuran dalam kemasan, sedangkan kepadatan bakteri yang digunakan pada uji patogenisitas yaitu 108 CFU/ml sebanyak 0,1 ml. Hasil isolasi diperoleh 21 isolat (NF 1, NF 2, NF 3, NF 4, NF 5, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, NF 13, NF 14, NF 15, NF 16, NF 17, NF 18, NF 20, NF  21, BSJ 6, BSJ 14), kemudian berdasarkan karakter morfologi dilakukan uji sensitivitas 11 isolat terhadap obat uji. Hasil uji sensitivitas isolat NF 1, NF 2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, BSJ 6 dan BSJ 14 sensitive terhadap obat C, kecuali NF 16 bersifat resistence. Sedangkan terhadap obat A dan B isolat NF1, NF2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 12, NF 16 dan BSJ 6 bersifat resistence, kecuali NF 11 bersifat intermediate. Uji biokimia 6 isolat didapatkan bakteri Aeromonas hydrophilla (NF 6 dan NF 8), Enterobacter agglomerans (NF 11 dan BSJ 6), Staphylococcus aureus (NF 16) dan Aeromonas jandaei (BSJ 14), yang kemudian dilakukan uji patogenisitas. Hasil uji patogenisitas ditunjukkan dengan kemunculan gejala klinis berupa borok pada tubuh (A. hydrophilla), tubuh menghitam/gelap (E. agglomerans), exopthalmia/mata menonjol (S. aureus), sedangkan A.jandei tidak ditemukan gejala klinis spesifik. National food’s requirement expect, the availability of gouramy (Osphronemus gouramy), were increased 26.005 ton in 2015. Those requirement encourage fish farmer to optimize gouramy production. In the same time there are many problems that can decrease gouramy production, one of them is a diseases caused by pathogenic bacteria. Treatment, for that usually use artificial medicine that sold in the market. The purpose of this research was to know the causative agents of bacterial disease that infected gouramy and to know bacterial sensitivity to three commercial medicines and to know clinical sign of gouramy that bacteria injection by patogenisity. There were ten moribund fish’s taken from Banjarnegara with target organ were liver, kidney, eye and wound. Bacteria from those organs were isolated on TSA (Tryptone Soy Agar) Media. Medicine dosage for sensitivity as recommended in the package, and bacterial’s density for patogenisity was 108 CFU/mL : 0,1 mL. Isolation of 4 organs revealed. Eleven isolate were selected for sensitivity test out of using twenty one isolates, (NF 1, NF 2, NF 3, NF 4, NF 5, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, NF 13, NF 14, NF 15, NF 16, NF 17, NF 18, NF 20, NF 21, BSJ 6 dan BSJ 14).  Three commercial medicine A, B, and C, were exposed to those eleven isolates. Sensitivity test revealed that all 11 isolates (NF 1, NF 2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, BSJ and BSJ 14) sensitive to medicine C. Only isolate NF 16 was resistence. To medicine A and B, while others resistence. moreover isolates NF 11 was intermediate. Marphology and biochemical test of 6 isolates revealed that there were : Aeromonas hydrophilla (NF 6 and NF 8), Enterobacter agglomerans (NF 11 dan BSJ 6), Staphylococcus aureus (NF 16) and Aeromonas jandaei (BSJ 14). Patogenisity test confirmed 6 bacteria were pathogenisc with clinical signs as follows : ulcer on body (A. hydrophylla), exopthalmia (S. aureus), blackenedat on body (E. agglomerans) and no specific clinical sign (A. jandaei).
KAJIAN KESESUAIAN LAHAN TAMBAK UDANG VANAME (litopenaeus vannamei) DI KECAMATAN CIJULANG DAN PARIGI, PANGANDARAN, JAWA BARAT DENGAN PENERAPAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Kusuma, Winanda Adi; Prayitno, Slamet Budi; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.64 KB)

Abstract

Udang vaname merupakan salah satu produk perikan terbesar yang menjadi komoditas ekspor. Produksi udang vaname pada tahun 2010-2014 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 20,49 %. Daerah sekitar muara sungai Kecamatan Cijulang dan Parigi adalah salah satu daerah yang banyak mengembangkan budidaya tambak udang vaname. Namun dalam pengembangannya sering mengalami kegagalan panen. Dengan demikian perlu dilakukan uji untuk mengevaluasi dan menganalisis kesesuaian lahan tambak. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian lahan tambak di Kecamatan Cijulang (Desa Kondangjajar, Desa Sanghyang Kalang, Desa Margacinta) dan Kecamatan Parigi (Desa Karangjaladri), Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dan mengetahui pemenuhan kebutuhan air selama masa produksi udang vaname. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Metode survei ini dilakukan untuk mendapatkan data primer yang berupa data kualitas perairan, baik parameter fisik maupun kimia. Selain itu, dilakukan kegiatan untuk mengumpulkan data-data sekunder. Data yang diperoleh tersebut kemudian diolah pada citra satelit sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik, peta dasar tematik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mengevaluasi kelayakan tambak serta mengetahui perubahan yang terjadi, sehingga dapat menduga nilai potensi produksi tambak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi perairan tambak udang di Kecamatan Cijulang dan Parigi Secara keseluruhan dapat mendukung usaha budidaya udang vaname. Dari tujuh titik yang diamati tergolong kedalam kategori sesuai (S2) dan kategori sangat sesuai (S3). Ketersediaan pompa untuk pemenuhan kebutuhan air selama produksi di setiap titik penelitian telah terpenuhi ≥ 100%. Vannamei shrimp is one of the biggest fishery export commodity. Its production in 2010-2014 increased around 20,49 %. The area around Cijulang and Parigi subdistrict estuary is one of the area which are developing vannamei aquaculture. However, on its development, harvest failure frequently happened. Therefore, some test should be conducted to evaluate and analyze the pond suitability. One of the alternatives which can be used is Geographical Information System (GIS). The aim of this study was to analyze the pond suitatibility in Cijulang Subdistrict (Kondangjajar, Sanghyang Kalang, Margacinta Village) and Parigi Subdistrict (Karangjaladri Village), Pangandaran District, West Java Province and determine the fulfillment of water needs during vannamei production. The research used survey method. The survey was conducted to obtain primary data in the form of water quality data, both physical and chemistry parameter. Secondary data was also obtained to support the findings. The data obtained then processed on satellite imagery, so the basic model of the thematic map was produced. The result of the basic thematic map then used to evaluate the pond suitatibility as well as determine the changes that occur, also able to analyse the pond’s production potential value. This study was conducted on March-April 2017. This result showed that in general, the pond condition in Cijulang and Parigi subdistrict relatively able to support the vannamei production. From the seven spots observed was classified into suitable category (S2) and very suitable category (S3). The pump availability for the fulfillment of water needs during production on each research spots has been fulfilled.
PENGARUH BAHAN ORGANIK KOTORAN AYAM, BEKATUL, DAN BUNGKIL KELAPA MELALUI PROSES FERMENTASI BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP POLA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIOMASSA Daphnia sp. Izzah, Nailul; Suminto, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.478 KB)

Abstract

Daphnia sp. merupakan salah satu pakan alami yang potensial untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan larva ikan pada pembenihan ikan air tawar. Bahanorganikkotoranayam, bekatul, danbungkilkelapa yangdifermentasi dengan bakteriprobiotik diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan  pakan dan pertumbuhan Daphnia sp di dalam kultur.Tujuanpenelitian ini adalah mengetahui pengaruh bahan organik kotoran ayam, bekatul, dan bungkil kelapa yang difermentasi terhadap pola pertumbuhandan produksi biomasa Daphnia sp.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni-Desember 2013 bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.Metode penelitian ini menggunakan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)yang terdiri dari 5 perlakuan yang masing-masing 3 (tiga) kali ulangan. Media kultur yang digunakan adalah air dengan pemupukan kotoran ayam sebanyak 1,2 g/L. Perlakuan tersebut adalahpemberian pakan hasil fermentasi dari 1,2 g/L bekatul dan 0 g/L bungkil kelapa (A),  0,9 g/L bekatul dan 0,3 g/L bungkil kelapa (B), 0,6 g/L bekatul dan 0,6 g/L bungkil kelapa (C), 0,3 g/L bekatul dan 0,9 g/L bungkil kelapa (D), dan 0 g/L bekatul dan 1,2 g/L bungkil kelapa sebagai perlakuan E. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik, kotoran ayam, bekatul, dan bungkil kelapa melalui proses fermentasi probiotik berpengaruh terhadap pola pertumbuhan dan produksi biomassa Daphnia sp. Perlakuan E memberikan nilai terbaik dengan nilai (k)(0,26±0,01), puncak populasi (1888,89±70,71), fase kematian(1518,52±11,66), dan hasil produksi biomassa sebesar 158,50 mg/L. Namun, pada variabel lag phase menunjukan hasil terbaik pada perlakuan B sebanyak 1,35 hari.Daphnia sp .is one of live food organisms that potential to be developed on the availability of live food organisms for suitable fish larvae in the hatchery.The organics of chicken manure, rice bran and coconut cake that has been fermented using probiotic bacteria are expected to increase the feed utilization effeciency and the Daphnia sp. growth in the culture.The purpose of this study was to know the effect of organic matters of chickenmanure, rice bran and coconut cake fermented on the the growth pattern and biomass production of Daphnia sp.The experiment was started from June to Desember 2013 Aquaculture Laboratory in the Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University. The experimental method was employed in this research with completely randomized design (CRD) consisting of five treatments and three replicates, respectively. The cultrure media used was tap water with fertilyzed by chicken manure of 1.2 g/L. Those treatments were fermented feed inoculaion of 1.2 g/L rice bran and 0 g/L coconut cake (A), 0.9 g/L rice bran and 0.3 g/L coconut cake (B), 0.6 g/L rice bran and 0.6 g /L coconut cake (C), 0.3 g/L rice bran and 0.9 g/L coconut cake (D), and 0 g/L rice bran and 1.2 g/L coconut cake (E). This research results showed that the addition of organic manures, rice bran, and coconut cake through fermentation probiotics significantly different on the pattern of growth and biomass production of Daphnia sp. E treatment was given the best result with value (k)(0.26±0.01), the highest population (1888.89±70.71), death phase(1518.52±11.66), and the result of biomass production(158.5 mg/L). But in the variable of phase lag, B treatment showed the best result it was 1.35 days.
PENGARUH SALINITAS TERHADAP INFEKSI Infectious myonecrosis virus (IMNV) PADA UDANG VANAME Litopenaeus vannamei (Boone,1931) Umiliana, Mita; Sarjito, -; Desrina, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.567 KB)

Abstract

Udang vaname L. vannamei (Boone, 1931) merupakan salah satu produk perikanan yang diharapkan mampu menghasilkan devisa bagi negara. Produksi komoditas udang pada tahun 2014 mencapai 699.000 ton dan akan ditingkatkan menjadi 755.000 ton pada tahun 2015, dimana sekitar 70% dari target produksi tersebut adalah udang vaname. Akan tetapi, budidaya udang vanname secara intensif menimbulkan resiko terjangkit penyakit yang lebih tinggi. Sekitar 40% dari produksi udang hilang akibat infeksi penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh serangan virus. Salah satu virus yang mengancam budidaya udang di dunia termasuk di Indonesia adalah Infectious myonecrosis virus (IMNV). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh salinitas terhadap infeksi IMNV pada udang vaname serta mengkaji salinitas terbaik untuk pemeliharaan udang vaname yang diinfeksi IMNV. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Udang uji yang digunakan berukuran berat ±2 g. Udang dipelihara dalam media bervolume 30 L pada akuarium yang berukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm dengan salinitas media A 15 ppt, B 20 ppt, C 25 ppt, D 30 ppt dan tanpa infeksi 30 ppt. Udang uji dipelihara selama 24 hari, yaitu 7 hari aklimatisasi, 3 hari proses infeksi dan 14 hari pascainfeksi. Proses infeksi IMNV pada udang uji dilakukan melalui karkas. Setiap perlakuan diberi pakan 10% dari total biomassa. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan salinitas memberikan pengaruh terhadap perkembangan infeksi IMNV pada udang vaname. Salinitas memperlambat kemunculan gejala klinis. Mortalitas tertinggi pada perlakuan A (46,67%), kemudian perlakuan B (40,00%), perlakuan C (33,33%) dan terendah perlakuan D (23,33%), sedangkan perlakuan tanpa infeksi tidak mengalami kematian. Salinitas optimum untuk pemeliharaan udang vaname adalah 30 ppt.White shrimp L. vannamei (Boone,1931) is the one of fishery products are expected to generate income for the country. Shrimp commodity production in 2014 reached 699,000 tons and will be increased to 755,000 tons in 2015, of which approximately 70% of the production target is white shrimp. However, intensive cultivation of vannamei shrimp pose a risk of disease is higher. Approximately 40% of the shrimp production is lost due to infectious diseases, especially diseases caused by virus attacks. One virus that threatens shrimp farming in the world, including in Indonesia is Infectious myonecrosis virus (IMNV). This research was aimed to know the effect of salinity on the clinical symptoms and mortality of white shrimp infected by Infectious  myonecrosis  virus  (IMNV).  The  research  was conducted with experimental method by using the completely randomized design with 5 treatments and 3 replications. Shrimp test used heavy sized ±2 g. Shrimp maintained in media volume 30 L at the aquarium measuring 60 cm x 30 cm x 30 cm with a medium salinity of 15 ppt, B 20 ppt, C 25 ppt, D 30 ppt and without infection 30 ppt. Test shrimp reared for 24 days, it was 7 days of acclimatization, 3 day process of infection and 14 days after infection. IMNV infection process on shrimp test performed carcass. Each treatment was fed 10% of the total biomass. The results showed that the difference in salinity influence on the development of infection IMNV in shrimp. Salinity slow the appearance of clinical symptoms. The highest mortality in treatment A (46.67%), then treatment B (40.00%), treatment C (33.33%) and the lowest was treatment D (23.33%), whereas no infection treatment did not experience death. The optimum salinity for shrimp vaname maintenance is 30 ppt.
PENGARUH DOSIS PEMBERIAN PAKAN BUATAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN JUVENIL KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Haryanto, Prasdicko; Pinandoyo, -; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.766 KB)

Abstract

Manajemen pemberian pakan adalah suatu usaha untuk memaksimalkan pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan. Pakan merupakan salah satu komponen dalam budidaya ikan yang sangat besar peranannya, baik itu berfungsi sebagai penentu pertumbuhan ikan dan juga sebagian besar biaya produksi pada ikan adalah biaya pakan. Pemberian pakan yang diberikan dalam Dosis yang optimum akan diperoleh efisiensi pakan yang optimal dan menekan penurunan kualitas lingkungan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis pemberian pakan buatan terhadap pertumbuhan juvenil kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Metode penelitian ini adalah metode eksprimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 pengulangan per perlakuan. Perlakuan yang diujikan adalah dosis pemberian pakan 3%(A), 5%(B), 7%(C) dan 9%(D) dari biomassa ikan dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (08.00, 12.00 dan 16.00). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil kerapu macan yang berukuran 4-5cm.  Benih tersebut dipelihara dalam wadah pemeliharaan berukuran 20 liter dengan kepadatan 10 ekor/wadah. Masa pemeliharaan juvenil kerapu macan adalah 28 hari. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa dosis pemberian pakan berpengaruh nyata terhadap efisiensi pemberian pakan, laju pertumbuhan spesifik dan rasio efisiensi protein, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis pemberian pakan 7% dari bobot biomassa ikan memberikan nilai terbaik pada efisiensi pemberian pakan sebesar (64,51%) dan laju pertumbuhan spesifik (1,30% berat tubuh per hari). Nilai rasio efisiensi protein berkisar 1,05-1,43% dan nilai kelulushidupan 100% pada semua perlakuan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian pakan dengan dosis 7% dari bobot biomassa perhari dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi dalam penggunaan pakan bagi juvenil kerapu macan. Feeding management was an effort to optimize the utilization of feed given for growth. The feeding given like a optimum dose will be obtained geting optimal feed efficiency and suppress the cultivation of environmental degradation. This method could be applied by managing feeding frequencies  The purpose of this study was to find the effects of feeding dose on the growth of juveniles tiger grouper. This study was an experimental method.  The design of the experiment was a completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates. The treatments were feeding dose 3%(A), 5%(B), 7%(C) and 9%(D) of the weight of biomass, frequency of feeding the times a day (08:00, 12:00 and 16:00). The samples of fish used were juvenile tiger grouper measuring 4-5 cm. The fish were treated in containe-sized 20 liters with a density of 10 fish/containe. The observation was done for 28 days. This study showed that various feeding dose significantly affected on the feed utility efficiency, spesific growth rate and protein efficiency ratio  but not significantly affected on the survival rate. Feeding dose 7%  of the weight of biomass resulted on the best value of feed utility efficiency (64,51%) and spesific growth rate ((1,30% per day) of the fish. The values of protein efficiency ratio 1,05-1,43% and survival rate 100% of the fish. It was concluded that feeding dose 7% of the weight of biomass a day could increase the growth of the tiger grouper juveniles.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN EMBRIO DALAM EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinella alpina) TERHADAP PENGALIHAN KELAMIN IKAN CUPANG (Betta splendens) Lestari, Rosita; Susilowati, Titik; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.587 KB)

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) berkelamin jantan merupakan salah satu jenis ikan yang digemari oleh masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan cupang berkelamin jantan memiliki keunggulan pada bentuk dan warnanya. Upaya untuk memperoleh persentase jantan dapat dilakukan dengan cara pengalihan kelamin dengan melakukan perendaman embrio dalam ekstrak purwoceng. Ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina) merupakan tumbuhan afrodisiaka yang mengandung senyawa berkaitan dengan fitosteroid, misalnya stigmasterol yang berkhasiat meningkatkan kualitas seksual.  Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A selama 0 jam, perlakuan B selama 5 jam, perlakuan C selama 10 jam dan perlakuan D selama 15 jam dengan dosis yang sama yaitu 20 mg/liter. Data yang diamati meliputi derajat penetasan (HR), kelulushidupan (SR), persentase jantan dan betina (%), dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan esktrak purwoceng  pada embrio dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap derajat penetasan (HR), kelulushidupan (SR),  persentase jantan dan betina. Persentase kelamin jantan pada perlakuan A sebesar 42,77 %, perlakuan B sebesar 67,66 %,  perlakuan C sebesar 72,52 %, dan perlakuan D sebesar 81,14 %. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Cupang (B. splendens). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan esktrak purwoceng dalam embrio dengan lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase jantan ikan cupang (B. splendens) dan lama waktu perendaman yang terbaik adalah pada perlakuan D dengan lama waktu perendaman 15 jam yang menghasilkan persentase jantan sebanyak 81,14 %.Male Betta fish is one of popular ornamental fish and has high economic value. Male Betta fish has an aestethical feature, espicially on it’s caudal fin. The attempt to obtain the percentage of male fish can be done by sex reversing with embryos immersion in Purwoceng Extract. Purwoceng (Pimpinella alpina)  extract is an aphrodisiac plant  that contain several compounds associated with fitosteroid like stigmasterol that can improve sexual quality.  This research is conducted by applying completely randomized desing (RAL), which consists of 4 treatments and 3 replicates. The treatment is A 0 hour, B treatment for 5 hours, treatment C for 10  hours and D treatment for 15 hours with the same dose of 20 mg/liter. Measuring variables this research were hatching rate, survival rate (SR), the percentage of males and females (%), and water quality. The results showed that embryos immersion in Extract Purwoceng with different lenght of time had significant different (P < 0.01) hatching rate, survival rate (SR), in male and female fish percentage. The percentage of male fish in treatment A was 42,77%, treatment B was 67,66%, treatment C was 72,52% and  treatment D was 81,14%. Water quality in the media, there is a range of decent maintenance for Betta fish farming (B. splendens). The conclusion of this research was that submergence using Extract Purwoceng in embryos with different immersion time gives a real influence against the percentage of males and females fish betta (B. splendens) and long soaking is best at the treatment D when with the old 15 hour immersion which produced 81,14% of male fish.