cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENGGUNAAN EKSTRAK AKAR TUBA (Derris elliptica) DENGAN DOSIS YANG BERBEDA UNTUK PEMBIUSAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM PENGANGKUTAN SISTEM TERTUTUP Prasetyo, Muhammad Deny Haris; Desrina, - -; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.833 KB)

Abstract

Pengangkutan benih ikan jarak jauh membutuhkan bahan anastesi yang bertujuan menurunkan metabolisme ikan. Salah satu sumber anastesi yang potensial secara alami terdapat di Indonesia adalah akar tuba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak akar tuba dengan dosis berbeda terhadap kelulushidupan benih ikan nila pada pengangkutan sistem tertutup, mengetahui dosis pemberian ekstrak akar tuba terbaik dan mengetahui pengaruh pemberian anastesi ekstrak akar tuba terhadap profil darah yang terdiri dari leukosit, eritrosit, hemoglobin, hematokrit. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah benih ikan nila ukuran 6-8 cm, ekstrak akar tuba, sterofoam kotak, kantong plastik, mobil pengangkutan, pipet tetes, spuit suntik, dan antikoagulan (EDTA). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan, 3 ulangan dan waktu pengangkutan selama 10 jam. Dosis ekstrak akar tuba yang digunakan adalah perlakuan A: 0 ml/L, B: 0,3 ml/L, C: 0,4 ml/L, D: 0,5 ml/L dengan kepadatan benih ikan 30 ekor/L air. Hasil yang diperoleh menujukkan kelulushidupan benih pasca pengangkutan tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan menggunakan dosis 0,3 ml/L yaitu sebesar 70±0,03% dan kelulushidupan terendah terdapat pada perlakuan D dengan dosis 0,5 ml/L yaitu 28±0,01%. Hasil analisa profil darah menunjukkan jumlah leukosit berada pada kisaran normal dan untuk eritrosit, hematokrit, hemoglobin berada dibawah kisaran normal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dosis terbaik untuk penggunaan ekstrak akar tuba adalah 0,3 ml/L,  kelulushidupan tertinggi diperoleh sebanyak 70±0,03%. Profil darah leukosit berada pada kisaran normal dan eritrosit, hematokrit, hemoglobin berada dibawah kisaran normal. Pemberian ekstrak akar tuba potensial untuk digunakan sebagai bahan anastesi dalam pengangkutan benih nila sistem tertutup. The transportation of fish seed is done by farmers for long distance. In nature there are still many natural resources that can be used to be anastesi, including tuba roots. Anesthesia is required to make the fish faint during transportation. The material used in this study is 6-8 cm tilapia seeds, tuba root extract, box sterofoam, plastic bag, transport car, drip blade, injection syringe, EDTA bottle. The method used is experimental method. The experimental design used was Completely Randomized Design with 4 treatments, 3 replications, with time 10 hours of transport. The dosage of tuba root extract used was A: 0 ml/L, B: 0.3 ml/L, C: 0.4 ml/ L, D: 0.5 ml / L with 150 fish / fish density. The result obtained is the best life using dose 0,3 ml /L that is 70 ± 0,03 and lowest life with dose 0,5 ml/L that is 28 ± 0,01. As for the leukocyte blood profile in the normal range and for erythrocytes, hematocrit, hemoglobin is abnormal range. The result of the research, it can be concluded that the best dosage for tuba root extract is 0.3 ml/L, the best survival rate is 70±0,03%, leukocyte are in the normal range and erythrocytes, hematocrit, hemoglobin is below the normal. Giving of potential tuba root extract for use as an anesthetic in the transportation of nile tilapia seeds in closed systems.
PENGARUH PENGGUNAAN PAPAIN TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN PROTEIN PAKAN DAN PERTUMBUHAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Amalia, Rosa; -, Subandiyono; Arini, Endang
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 1 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.576 KB)

Abstract

ABSTRAK Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dan memiliki nilai kecernaan yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan optimum dari ikan.  Papain merupakan enzim protease dari getah papaya yang mampu meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein oleh ikan atas pakan yang dikonsumsi, sehingga meningkatkan pemanfaatan pakan oleh tubuh.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh papain dalam pakan buatan terhadap tingkat pemanfaatan protein pakan dan pertumbuhan lele dumbo (Clarias gariepinus).  Variabel yang dikaji meliputi nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (papain dosis 0%), B (papain dosis 0,75%), C (papain dosis 1,5%), dan D (papain dosis 2,25%).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D memberikan nilai EPP dan PER tertinggi (P<0,05), yaitu masing-masing sebesar 62,83±3,48 dan 1,97±0,11%.  Nilai RGR pada perlakuan D, B, dan C adalah sama (P>0,05), namun lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan A.  Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa papain dalam pakan mampu meningkatkan nilai EPP, PER, dan RGR pada benih lele dumbo (C. gariepinus).ABSTRACT The fish feed that matched with nutritional requirement and has high value of digestion values will be able to promote optimum growth of fish.  Papain is protease enzim from papaya sap.  It is able to increase the digestion rate and protein absorption of the feed consumed, so it increase the feed utility by the fish. The purpose of the research was to observe the effects of dietary papain on dietary protein utility rate and growth of the African catfish (C. gariepinus).  The variables measured were feeding efficiency (FE) value, protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival rate (SR).  This research use completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, i.e. treatment A (0% papain), B (0.75% papain), C (1.5% papain), and D (2.25% papain). Data showed that the treatment D resulted on the highest values on FE and PER (P<0.05), that were 62.83±3.48 and 1.97±0.11%.  The value of RGR in treatments D, B, and C were similar (P>0.05), but was higher than treatment A.  It was suggested that the used of papain in practical diet was able to increase the FE, PER, and RGR values for the African catfish fingerlings (C. gariepinus).
ANALISA POTENSI PRODUKSI TAMBAK IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KECAMATAN WEDUNG DENGAN PENERAPAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH Widiana, Giacinta Risti; Prayitno, Slamet Budi; Widowati, Lestari Lakhsmi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.111 KB)

Abstract

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu ikan air payau yang banyak diminati di Indonesia untuk dikembangkan. Ikan bandeng di Kecamatan Wedung banyak dibudidayakan dalam tambak dengan sistem ekstensif, yaitu sistem budidaya tanpa pemberian pakan tambahan sehingga seluruh hidupnya bergantung pada ketersediaan pakan alami berupa klekap pada tambak tersebut. Kurangnya informasi mengenai karakteristik perairan dan ketersediaan klekap di sekitar lahan budidaya tambak bandeng di Kecamatan Wedung menyebabkan pemanfaatan lahan yang tidak optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kesesuaian lahan budidaya tambak bandeng serta menganalisa potensi produksi tambak bandeng di Kecamatan Wedung berdasarkan ketersediaan klekap sebagai sumber pakan alami ikan bandeng. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yang meliputi 2 tahapan, yaitu pengumpulan data dan analisa data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung ke lapangan sebanyak 7 titik penelitian dan wawancara terhadap petani tambak. Data yang telah didapat kemudian diolah dengan menggunakan ArcGis 10.0. Pengohanan data dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pembuatan peta dasar, pembuatan peta kontur sebaran spasial dari setiap parameter, overlay, layout dan scoring. Data yang dihasilkan berupa model spasial. Analisa kesesuaian perairan dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan penghitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap daerah yang berpotensi untuk budidaya bandeng. Selanjutnya dilakukan analisa potensi produksi berdasarkan ketersediaan klekap. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah luasan tambak Kecamatan Wedung sebesar ± 1.663 ha termasuk dalam kategori cukup sesuai (S2) dan tambak dengan luas ± 1.911 ha masuk dalam kategori sesuai bersyarat (S3). Dilihat dari faktor ketersediaan klekap pada titik I memiliki potensi bandeng 663 kg, titik IV sebanyak 990 kg dan titik VII sebanyak 955 kg. Pertambakan di kecamatan Wedung memiliki potensi untuk dikembangkan karena memiliki total ketersediaan klekap sebesar 120% dari total kebutuhan bandeng.    Milkfish(Chanos chanos) is the one of fishes of brackish water much demanded in Indonesia to be developed. Milkfish in Wedung subdistrict lot of cultivated in ponds with extensively scale, is the system cultivication without additional feed so the entire life  relied on the availability natural feed of klekap on that ponds. Lacking of information regarding the characteristic of the water and availability of klekap around the ponds of milkfish in Wedung subdistrict as led to the utilization of locations became unoptimum. The study was aimed to analysis the suitability of cultivating lands ponds of milkfish and analysis of milkfish ponds potention production in Wedung subdistrict based on availability of klekap as natural feed. The method used is data collection by survey in the field and then analyzed. The data had been collected was done by direct measurement in the field and interviews with fish farmers. The data have been obtained were processed by using ArcGIS 10.0. The steps started with  with base map creation stages, Making contour map of the spatial distribution of each parameter, Overlay, Layout and Scoring which earned spatial model. The analysis was made by making the waters suitability matrix, then weighting and calculating the score based on the degree of each parameter influenced towards the potential areas for cultivation of milkfish. Further analysis based on availability klekap production potential. The results obtained fromt his study is about ± 1.663 ha ponds area in Wedung subdistrict belong to S2 category and ponds with an area ± 1.911 ha belongs to S3 category. Seen from the availability of klekap in station 1 has potential production of bandeng about 663 kg, station IV about 990 kg and station VII about 955 kg. Ponds area in Wedung subdistrict hasthe potential to be developed having total klekap availability about 120% of totalneeds ofmilkfish.
Hibridisasi Ikan Nila Pandu dan Kunti Generasi f5 Terhadap Efek Heterosis Ikan Nila Larasati (Oreochromis niloticus) Generasi F5 Pada Umur 5 bulan Arief Budianto; Fajar Basuki; Sri Rejeki
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.072 KB)

Abstract

This research aimed to compare the heterosis effect of Larasati Tilapia from F5 generation the growth variable weight, length, thickness, survival rate and food convertion ratio, for ♂ Larasati F5, ♂ Pandu F5, ♂ Kunti F5; and ♀ Larasati F5, ♀ Pandu F5, ♀ Kunti F5 at the age of 5 month. This research was conducted in Freshwater Hatchery and Aquaculture Unit Janti, Klaten. Larasati Tilapia F5 generation, Pandu Tilapia F5 generation, and Kunti Tilapia F5 generation at the age of 4 months. This research were used 3 treatments and 3 replications for each sex. The treatment used was Larasati Tilapia F5, Pandu Tilapia F5, and Kunti Tilapia F5 generation. The result show that growth of Tilapia Larasati F5 generation was better than the parent generation Tilapia Pandu F5 generations and Tilapia Kunti F5 generations. Heterosis value of Larasati Tilapia F5 generation at the age of 5 months were, weight of (♂) 31.45% and (♀) 26.94% . Length of (♂) 22.90% and (♀) 19.96%. Thick of (♂) 22.84% and (♀) 19.88%. Survival rate of (♂) 1.33% and (♀) 1.48%. Food convertion ratio of (♂) -0.76% and (♀) -0.68%.
PENGARUH PEMBERIAN OMEGA-3 DAN KLOROFIL DALAM PAKAN TERHADAP FEKUNDITAS DAN DERAJAT PENETASAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Noviantoro, Adi; Sudaryono, Agung; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.065 KB)

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kualitas benih ikan nila yaitu dengan meningkatkan kualitas nutrisi pakan induk. Unsur nutrien yang harus ada dalam pakan induk ikan antara lain asam lemak esensial dan vitamin E yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi benih yang berkualitas. Penelitian ini menambahkan suplemen pakan yaitu omega-3 dan klorofil dengan menambahkannya pada pakan induk ikan nila. Kombinasi bahan tersebut diharapkan meningkatkan fekunditas dan derajat penetasan ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian omega-3 dan klorofil ke dalam pakan induk terhadap fekunditas dan derajat penetasan ikan nila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan. Perlakuan uji adalah A (tanpa kombinasi omega-3 dan klorofil ke dalam pakan), B (Kombinasi 2,5 mL omega-3 dan 2,5 mL klorofil/kg pakan), C (kombinasi 1,7 mL omega-3 dan 3,3 mL klorofil/kg pakan) dan D (kombinasi 3,3 mL omega-3 dan 1,7 mL klorofil/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian omega-3 dan klorofil tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap fekunditas dan derajat penetasan. Nilai fekunditas  pada perlakuan A, B, C, dan D masing-masing adalah 4878; 5168; 6248; dan 6910 butir/kg. Nilai derajat penetasan pada perlakuan A, B, C, dan D masing-masing adalah 81,38; 81,59; 82,18; dan 86,39%. Berdasarkan hasil penelitian pemberian omega-3 dan klorofil dalam pakan belum dapat meningkatkan nilai fekunditas dan derajat penetasan benih ikan nila. One of the efforts to improve and optimize the larvae quality of tilapia was by increasing the feed nutrition quality for the broodstock. The nutrients such as vitamin E and essential fatty acids are required to increase the quality of fish reproduction. The research was designed to add omega-3 and chlorophyll as feed suplements in diets for tilapia broodstock. This combination was expected to improve fecundity and hatching rate tilapia larvae. The research was aimed to know influence of omega-3 and chlorophyll addition in diets on fecundity and hatching rate of tilapia larvae. A completely randomized design was applied to the research with 4 treatments  and 3 replicates. Those treatment were A (without combination of omega-3 and chlorophyll), B (combination of 2.5 mL omega-3 and 2.5 mL chlorophill/kg feed diets), C (combination of 1.7 mL omega-3 and 3.3 mL chlorophill/kg feed diets) and D (combination of 3.3 mL omega-3 and 1.7 mL chlorophyll/kg feed diets). The result revealed that addition of omega-3 and chlorophyll did not affect significantly (P>0,05) on the fecundity and hatching rate. The fecundity values of the treatments A, B, C, and D were 4878; 5168; 6248; and 6910 grain/kg. The hatching rate values of the treatments A, B, C, and D were 81.38; 81.59; 82.18; dan 86.39%. it was concluded that  addition  of omega-3 and chlorophyll in diets could increase fecundity and hatching rate of tilapia larvae.
IDENTIFIKASI EKTOPARASIT PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) YANG DIBUDIDAYAKAN DI TAMBAK PESISIR PEMALANG Setiyaningsih, Lilik; Sarjito, -; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.53 KB)

Abstract

Infeksi ektoparasit mempunyai dampak yang sangat merugikan bagi para pembudidaya kepiting bakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis kepiting bakau yang terinfeksi ektoparasit, mengetahui jenis ektoparasit yang menyerang kepiting bakau, mengetahui tingkat intensitas, prevalensi dan dominasi ektoparasit serta mengetahui insidensi ektoparasit yang menyerang budidaya kepiting bakau. Metode pada penelitian ini adalah metode eksploratif dan metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan yaitu 60 ekor kepiting bakau terinfeksi ektoparasit yang berasal dari Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Pemalang. Pengamatan ektoparasit dilakukan dengan metode smear pada organ target (Karapaks, kaki renang, kaki jalan, capit dan insang) untuk selanjutnya diamati dibawah mikroskop. Ektoparasit yang ditemukan kemudian diidentifikasi berdasarkan buku Kabata (1985), Grabda (1981) dan Moller dan Anders (1986). Hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh sampel kepiting bakau 100% terinfeksi ektoparasit dengan klasifikasi 47 sampel terinfeksi Ichthyobodo sp., 25 sampel terinfeksi Epistylis sp., 40 sampel terinfeksi Octolasmis sp., 2 sampel terinfeksi Carchesium sp., 6 sampel terinfeksi Vorticella sp. dan Poecilasmatidae, 1 sampel terinfeksi copepodit dan Lepeophtheirus sp. Kepiting bakau yang terinfeksi ektoparasit memiliki gejala klinis menempelnya organisme lain yang menyerupai kecambah (Octolasmis sp.) pada karapaks, munculnya bercak putih, insang rusak dan berwarna pucat. Ektoparasit yang menginfeksi kepiting bakau di daerah pesisir Pemalang terdiri dari 4 jenis ektoparasit golongan Protozoa yaitu Ichthyobodo sp., Epistylis sp., Carchesium sp. dan Vorticella sp., sedangkan 4 jenis lainnya (Poecilasmatidae, Octolasmis sp., Copepodit dan Lepeophtheirus sp.) termasuk dalam golongan Crustacea. Nilai intensitas (535), prevalensi (78,3%) dan dominasi (66,9%) tertinggi dimiliki oleh Ichthyobodo sp. Sedangkan nilai intensitas (3), prevalensi (1,6%) dan dominasi (0,01%) terendah dimiliki oleh Lepeophtheirus sp. The infectious of ectoparasites has a harmful impact to mud crabs. This study aimed to determine the clinical signs of mud crabs infected by ectoparasites, to know ectoparasites that infected mud crabs and determine the intensity, prevalence and dominasi of ectoparasites that attack mud crabs. This research used exploratory method and a purposife random sampling method. This research used 60 of S. serrata that cultured at coastal of Pemalang. Samples of mud crabs have clinical signs of ectoparasites diseases and came from Ulujami, Pemalang. Ectoparasites were observed by smear method and it observed by a microscope. Then ectoparasites were identificated by Kabata (1985), Grabda (1981) and Moller and Anders (1986). The results showed that all of samples have 100% infected  by ectoparasites with classification 47 samples infected by Ichthyobodo sp., 25 samples infected by Epistylis sp., 40 samples infected by Octolasmis sp., 2 samples infected by Carchesium sp., 6 samples infected by Vorticella sp. and Poecilasmatidae, 1 samples infected by copepodit dan Lepeophtheirus sp. Mud crabs whose infected by ectoparasites have clinical signs such as damage to the gills and attachment of other organisms (Octolasmis sp.). Ectoparasites were attack mud crabs (S. serrata) at coastal of Pemalang are group of Protozoa (Ichthyobodo sp., Epistylis sp., Carchesium sp. and Vorticella sp.) and Curstacean (Poecilasmatidae, Octolasmis sp., Copepodit and Lepeophtheirus sp.) The greatest intensity (535), prevalence (78,3% ) and dominasi (66,9% ) is Ichthyobodo sp. and the smallest intensity (3),  prevalence (1,6%,) dan dominasi (0,01%) is Lepeophtheirus sp.
PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN BAKAU (Rhizopora apiculata) UNTUK PENGOBATAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) YANG DIINFEKSI BAKTERI Vibrio harveyi TERHADAP KELULUSHIDUPAN Susanti, -; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.829 KB)

Abstract

Penyakit bakterial yang sering menyerang kepiting bakau adalah vibriosis. Vibriosis merupakan jenis penyakit penyebab kematian masal pada kepiting. Penyakit bakterial ini menyerang di semua stadia kepiting, baik juvenile hingga kepiting dewasa.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan ekstrak kasar daun bakau R. apiculata untuk menghambat pertumbuhan V. harveyi secara in vitro dan mengetahui dosis terbaik dari ekstrak daun bakau (R. apiculata) untuk pengobatan kepiting bakau (S. serrata) yang diinfeksi V. harveyi melalui metode perendaman.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, menggunakan 48 ekor kepiting bakau dengan berat rata-rata 60.75±5.17 gram, kemudian di infeksi menggunakan bakteri V. harveyi sebanyak 0,1 ml dengan kepadatan 106 CFU/ml, pada pangkal kaki renang. Setelah timbul gejala klinis, dilakukan perendaman menggunakan ekstrak daun bakau (R. apiculata) selama 1 hari (long bath) dengan konsentarasi 0 ppm, 20.000 ppm, 40.000 ppm dan 60.000 ppm. Hasil penelitian diperoleh bahwa perendaman dengan ekstrak daun bakau (R. apiculata), berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau (S. serrata). Masing-masing nilai kelulushidupan pada perlakuan A, B, C, dan D adalah 58.33%, 91.67%, 83.33% dan 100%. kelulushidupan tertinggi didapatkan pada perlakuan D yaitu 100%, namun konsentrasi terbaik untuk pengobatan kepiting bakau yang terinfeksi V. harveyi adalah perlakuan B dengan dosis 20.000. The bacterial desease that often strikes mud crabs is vibriosis. Vibriosis caused mass mortality of crabs. This bacteriall infected crab in all stages, started from juvenile until adult stages. The purpose of this research was to study the ability of mangrove leaves extracts (R. apiculata) to inhibit the growth  of V. harveyi in vitro and to find the best dosage to treat mud crabs (S. serata) injected by V. harveyi with dipping method. 48 mud crabs with the average weight of 60.75±5.17 gram were used in this research. The experimental crabs were infected by bacterium (V. harveyi) 0,1 ml at density 106 CFU/ml at the base of swimming leg. After showed clinical symptoms, crabs were inmmersed in mangrove leaves extract (R. apiculata) for one day (long bath) at concentration of 0 ppm, 20.000 ppm, 40.000 ppm and 60.000 ppm respectively. The result showed that dipping of mangrove leaves extracts (R. apiculata) significantly affected the survival rate of  mud crab (S. serata). Survival rate of treatment A, B, C and D were 58,33%, 91,67%, 83,33% and 100% respectively. The highest survival rate was performed  by treatment D that was 100%, however the best concentration for the treatment of mud crabs which infected by V. harveyi was treatment B with dose of 20.000 ppm.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava. L) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI HATI IKAN PATIN (Pangasius hypophtalamus) YANG DIINFEKSI BAKTERI Edwardsiella tarda Endah Setyowati; Slamet Budi Prayitno; - Sarjito
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.797 KB)

Abstract

Budidaya ikan patin (P. hypophtalamus) terus berkembang seiring adanya nilai ekonomis yang semakin baik. Budidaya Intensifikasi dapat mengakibatkan timbulnya penyakit seperti bakteri E. tarda. Infeksi bakteri tersebut dapat mengakibatkan kegagalan budidaya dan kerugian ekonomi. Penggunaan antibiotik terbukti meningkatkan resisten dan membahayakan kesehatan manusia, sehingga menggunakan bahan alami yaitu ekstrak daun jambu biji (P. guajava. L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas ekstak daun jambu biji sebagai antibakteri terhadap bakteri E. tarda, mengetahui pengaruh perendaman dan dosis terbaik ekstrak daun jambu biji terhadap kelulushidupan dan histologi ikan patin yang terinfeksi bakteri E. tarda. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi daun jambu biji adalah etanol 96%. Ikan patin yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran 7-9 cm dan disuntik bakteri E. tarda dengan kepadatan 107 CFU/ ml secara intramuscular. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (0 ppm), B (500 ppm), C (700 ppm) dan D (900 ppm). Perendaman ekstrak daun jambu biji dilakukan pada hari ke 2 pasca infeksi. Ekstrak daun jambu biji memiliki kemampuan sebagai antibakteri pada konsentrasi 500-1100 ppm. Hasil prosentase kelulushidupan ikan patin diantaranya adalah 10% (perlakuan A), 73,33% (perlakuan B), 96,67% (perlakuan C) dan 86,67% (perlakuan D). Perendaman ekstrak daun jambu biji berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan patin yang diinfeksi bakteri E. tarda. Pengamatan histologi hati terdapat nekrosis, kongesti degenerasi dan melanomakrofag, dapat disimpulkan dosis terbaik ekstrak daun jambu biji untuk mengobati infeksi E. tarda adalah 700 ppm. Intensification of Catfish (P. hypophtalamus) aquaculture increases a disease risk, such as E. tarda infection. Infection of this bacteria resulted in economic disadvantage in aquaculture. The usage of antibiotics resulted in a high resistant and endanger for human health, therefore the use of  natural ingredient such as guava leaves (P. guajava. L) could be promoted. The aims of this research were to determine the sensitivity of  guava leaves extract  as  antibacterial toward E. tarda, determine the soaking effect and the best dose of guava leaves extract toward the survival rate and histhology of Catfish infected by E. tarda. Guava leaves extract was obtained by dipping in ethanol 96%. Catfish used were 120 fish, around 7-9 cm in size and were injected by E. tarda with density of 107 CFU / mL intramuscularly. This research used 4 treatments and 3 replication,namely were 0 ppm (treatment A), 500 ppm (treatment B), 700 ppm (treatment C) and 900 ppm (treatment D). The soaking of guava leaves extract was done in 2nd day post-infection. Guava leaves extract has ability toward antibacterial in 500-1100 ppm contentrate. The result showed that survival rate of Catfish were 10% (treatment A), 73,33% (treatment B), 96,67% (treatment C) dan 86,67% (treatment D). The soaking of guava leaves extract showed a significant effect (P<0.05) toward survival rate of Catfish infected by E. tarda. The histhology of liver howed of necrosis, congestion,degeneration and melanomacrofag. It can be concluded that the best guajava leaves extract to combat E. tarda infection was 700 ppm.
PENGARUH VITAMIN C DAN PROBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Pangestyastuti, Indira; Suminto, - -; Pinandoyo, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.542 KB)

Abstract

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah ikan air tawar yang menjadi salah satu komoditas unggulan di Indonesia, yang  ditunjukan dengan permintaan pasar  meningkat. Peningkatan  permintaan pasar harus diimbangi dengan meningkatnya produktivitas budidaya ikan nila, salah satunya melalui kualitas pakan. Oleh karena itu perlu peningkatan kualitas pakan dengan menambahkan vitamin C dan probiotik pada pakan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji  pengaruh dan interaksi  antara vitamin C  dan probiotik terhadap  efisiensi pakan, pertumbuhan  dan kelulushidupan ikan nila (O. niloticus). Ikan uji yang digunakan  adalah ikan nila  dengan bobot individu rata-rata 3,24±0,17 g/ekor. Pemberian  pakan  yaitu  pada  pukul 09.00, 13.00 dan 16.00 secara relative feeding rate (5%) dari bobot biomasa.  Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 1 ekor/2l dengan  lama  pemeliharaan 42 hari. Penelitian  ini dilakukan dengan metode eksperimen faktorial dengan dua faktor (ordo 2x3) dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penambahan vitamin C pada pakan dengan dosis 500 mg/kg, dan 1000 mg/kg dan penambahan probiotik dengan dosis 105,106, dan 107 CFU/mL. Data yang diamati meliputi total  konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukan perlakuan A2B3 menghasilkan TKP sebesar 227,13 g, FCR sebesar 1,55,  EPP sebesar 63,56%, PER sebesar 2,11% dan  RGR sebesar 3,58% per hari. Kualitas air pada media  pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Kesimpulan dari penelitian  ini adalah vitamin C dan probiotik memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) dan terjadi  interaksi  yang  mempengaruhi variabel nilai total konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP),  protein efisiensi rasio (PER), dan laju pertumbuhan relative (RGR), dan vitamin C dan probiotik tidak memberikan  pengaruh yang nyata (P≥0,05) terhadap tingkat konsumsi pakan (TKP) dan tidak  terjadi interaksi terhadap nilai kelulushidupan (SR). Tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater fish that became one of the leading commodities in Indonesia, showed that the market demand increases. Theincreasedof  market demand should be offset by increased productivity of tilapia fish farming, one of them is through the quality feed. For that we need to improve the quality feed by adding vitamin C and probiotics in the feed. This research aims to examine the effect and interaction of vitamin C and probiotics on feed efficiency, growth and survival of tilapia (O. niloticus).The trial fishwas nile tilapia (O. niloticus) with the average body weight was 3,24±0,17 g/fish.  The feeding frequency was at 09.00, 13.00 and 16.00,  by applying relative feeding rate method with(5%) from weight of biomass.  The fish was cultured in an aquarium with stocking density of 1 fish/2lfor42 days. This research was used an experimental factorials with two factors( order 2x3 ) and3 replicates. The treatmentswere the addition vitamin C in the feed doses of 500 mg/kg and 1000 mg/kg, and probiotic doses of 105,106, dan 107 CFU/mL.The measured data included thefood consumption ratio, food convertion ratio (FCR,) feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), survival rate (SR), and water quality. Treatment A2B3 produced the  value of  TKP was 277,13 g, FCR was 1,55, FE was 63,56%, PER was 2,11%, and RGR was 3,58%/day.  Water quality parameters during rearing period were suitable for the trial fish.The  research conclusion that vitamin C and probiotic was significantly effect (P<0,05) and there was interaction on  food consumption ratio,  food convertion  ratio (FCR,) feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR),but vitamin C and probiotic was not significantly effect (P≥0,05) on food consumption ratio and there was not  interaction on survival rate (SR).
Substitusi Tepung Ikan dengan Tepung Cacing (Lumbricus rubellus) dalam Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pemanfaatan Pakan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Widyasunu, Candra Aulia; Samijan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 1 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.665 KB)

Abstract

ABSTRAK Sumber bahan baku hewani alternatif diperlukan untuk mengganti sumber protein dari tepung ikan untuk pakan kerapu macan. Cacing tanah dapat dipilih sebagai bahan baku lokal sumber protein hewani dikarenakan cacing tanah mempunyai prospek yang baik kedepannya untuk menjadi sumber protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi dan dosis substitusi tepung ikan dengan tepung cacing yang tepat pada formulasi pakan buatan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan kerapu macan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April s/d Juni 2012 di BBPBAP Jepara. Hewan uji yang digunakan adalah kerapu macan dengan bobot 4,04±0,023 g/ekor. Pakan uji adalah pakan buatan berbentuk  pelet. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu, perlakuan A (0% substitusi tepung ikan dengan tepung cacing), B (25% substitusi tepung ikan dengan tepung cacing),  C (50% substitusi tepung ikan dengan tepung cacing), D (75% substitusi tepung ikan dengan tepung cacing) dan E (100% substitusi tepung ikan dengan tepung cacing). Peubah yang diukur yaitu pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, rasio efisiensi protein, tingkat konsumsi pakan, kelulushidupan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan substitusi tepung ikan dengan tepung cacing memberikan  pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap  pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan tingkat konsumsi pakan tetapi  tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasio konversi pakan, rasio efisiensi protein dan kelulushidupan kerapu macan. Pakan dengan substitusi 100% tepung cacing memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bobot mutlak (6,27±0,66 g) dan laju pertumbuhan spesifik (2,22±0,16%/hari) kerapu macan.  ABSTRACT The other raw materials as animal protein sources needed to replace fish meal. Earthworms can be selected as the local raw material source of protein for fish diet because earthworm has a good prospect as a source of protein in the future. This study aimed to determine the effect of fish meal substitution with earthworm meal toward growth and efficiency of feed utilization tiger grouper, and also the best dose earthworm subtstitution can be done. This research was carried out on April to June 2012 in the BBPBAP Jepara. This experiment used tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) with the weight range about  4.04±0.023 g/tail. The diet test was an artificial diet with different doses of earthworm meal substitution. This experiment used an experimental laboratory method which is done with completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replicates i.e. Treatment A (0% substitution of fish meal with earthworm meal), B (25% substitution of fish meal with earthworm meal), treatment C (50% substitution of fish meal with earthworm meal), treatment D (75% substitution of fish meal with earthworm meal) and treatment E (100% substitution of fish meal with earthworm meal). The measured variables are absolute growth rate, spesific growth rate (SGR), voluntary feed intake (VFI), feed conversion ratio (FCR), protein efficiency ratio (PER), survival rate (SR) and water quality. The results revealed that substitution of fish meal with earthworms meal gave a highly significant effect (P<0.01) toward the absolute growth rate, SGR and VFI, but had no significant effect (P>0.05) toward the FCR, PER and SR of tiger grouper. Diet with 100% substitution of earthworms meal (treatment E) gave the best effect on the absolute growth rate (6,27±0,66g) and SGR (2,22±0,16%/day) of tiger grouper.