cover
Contact Name
Muhamad Zaenal Muttaqin
Contact Email
mz.muttaqin@uinssc.com
Phone
+6282210831252
Journal Mail Official
diyaalafkar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : https://doi.org/10.24235/diyaafkar.v13i2
Core Subject :
Diya al-Afkar is a scholarly journal focusing on the study of the Qur’an and Hadith. This journal publishes scholarly articles in the form of studies on the sciences of the Qur’an and Hadith, interpretations and understandings of the Qur’an and Hadith, research findings-including both literature reviews and field research-related to the Qur’an or Hadith, and/or book reviews. The journal is published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
PERKEMBANGAN TAḤAMMUL WA AL-ADĀʼ DI PESANTREN TEBUIRENG: Studi Tradisi Pengajian Ṣaḥīḥayn Tahun 2020-2025 Muhammad Fatkhun Niam; M. Rizki Syahrul Ramadhan
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.21412

Abstract

The article discusses the process and development of the practice of taḥammul wa al-adā’ (transmission and delivery of hadith) at Tebuireng during the period 2020–2025 AD, as one of Indonesia’s leading centers of Islamic scholarship. The study aims to reveal how the model of hadith inheritance is applied, transformed, and recontextualized within the educational system of the Tebuireng pesantren. Utilizing a qualitative-descriptive approach through library research, anthropology, validity testing, and field observation, it was found that the Tebuireng pesantren not only implements traditional methods such as simāʿ, qirāʾah, and munāwalah, but also integrates them with modern formal education systems—including live broadcasts of Islamic lecture, which provide public access and expand the continuity of the sanad. The results of the research indicate that the taḥammul wa al-adā’ system in Tebuireng has undergone significant adaptation: in terms of the authority of the sanad, the venues (including at the Ma’had Aly Hasyim Asy’ari as a campus for training hadith specialists), and the media of delivery. These adaptations have played a crucial role in preserving the authenticity of the sanad and revitalizing the classical tradition of Islamic scholarship amidst the currents of modernization. This study contributes to a deeper understanding of the dynamics of hadith transmission in contemporary Islamic educational institutions in Indonesia.Artikel ini membahas proses dan perkembangan praktek taḥammul wa al-adā’ (transmisi dan penyampaian hadis) di Tebuireng dalam kurun waktu 2020-2025 M, sebagai salah satu pusat keilmuan Islam serta menjadi rujukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana model pewarisan hadis diterapkan, ditransformasikan, dan direkontekstualisasi dalam sistem pendidikan pesantren Tebuireng. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka, antropologi, uji validitas dan observasi lapangan, ditemukan bahwa Pesantren Tebuireng tidak hanya menerapkan metode tradisional seperti simā, qirāʼatan dan munāwalah, tetapi juga mengintegrasikannya dengan sistem pendidikan formal modern termasuk siaran langsung pengajian yang membuka akses publik sekaligus memperluas keberlanjutan sanad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem taḥammul wa al-adā’ di Tebuireng mengalami adaptasi signifikan, baik dari sisi otoritas sanad, tempat termasuk di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sebagai kampus pengkader ahli hadis, maupun media penyampaian, sehingga berperan penting dalam melestarikan otentisitas sanad dan menghidupkan tradisi keilmuan Islam klasik di tengah arus modernisasi. Studi ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman dinamika transmisi hadis di lembaga pendidikan Islam kontemporer Indonesia. 
RITUALISASI QUR’ANI DALAM TRADISI LOKAL: Transformasi Ruwatan Santri di Desa Kedungasri, Banyuwangi, dalam Perspektif Tindakan Sosial Weberian Saichul Anam; Yusuf Yusuf
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.21754

Abstract

This study examines the process of Qur’anic ritualization within Javanese local tradition by exploring the practice of ruwatan santri in Kedungasri Village, Banyuwangi. This ritual represents a transformation of the classical ruwatan—rooted in wayang narratives and mystical incantations—into a Qur’an-centered practice, while still retaining its Javanese cosmological framework. Employing the living Qur’an approach and Max Weber’s theory of social action, this research analyzes the community’s motivations in performing ruwatan santri, which are classified into traditional, affective, instrumental-rational, and value-rational actions. The findings reveal that ruwatan santri is perceived as: (1) an act of preserving cultural heritage; (2) a means of seeking divine blessing and inner peace; and (3) a religious instrument to ward off misfortune. In this context, the Qur’an is positioned not merely as a normative text, but as a living spiritual entity embedded in socio-cultural practices. This study highlights that Islamization at the local level unfolds through a dialogical and integrative process between sacred text and tradition, producing a distinctive form of Islamic expression. Its scholarly novelty lies in integrating Weberian social theory with living Qur’an studies in analyzing Islamic rituals within non-Arab Muslim societies. Penelitian ini mengkaji proses ritualisasi al-Qur’an dalam tradisi lokal Jawa dengan menelaah praktik ruwatan santri di Desa Kedungasri, Banyuwangi. Tradisi ini merupakan transformasi dari ritual ruwatan yang berakar pada narasi pewayangan dan mantera mistik menjadi praktik religius berbasis bacaan al-Qur’an, tanpa meninggalkan kerangka kosmologi Jawa. Dengan menggunakan pendekatan living Qur’an dan teori tindakan sosial Max Weber, penelitian ini menganalisis motivasi masyarakat dalam melaksanakan ruwatan santri, yang diklasifikasikan ke dalam tindakan tradisional, afektif, rasional-instrumental, dan rasional-nilai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruwatan santri dipahami sebagai: (1) bentuk pelestarian budaya warisan; (2) upaya pencarian keberkahan dan ketenangan batin; serta (3) instrumen religius untuk menolak bala. Dalam konteks ini, al-Qur’an diposisikan bukan sekadar teks normatif, melainkan entitas spiritual yang hidup dalam praktik sosial budaya masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa Islamisasi di tingkat lokal berlangsung melalui proses integratif yang dialogis antara teks suci dan tradisi, sehingga menghadirkan bentuk ekspresi keislaman yang khas. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis Weberian dengan studi living Qur’an dalam membaca dinamika ritual Islam di masyarakat non-Arab.
HETERODOKSI DALAM KAJIAN AL-QUR’AN DAN TAFSIR DI MASA PEMBENTUKAN DAN PERTENGAHAN Ahmad Ismatullah Basyari
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.21919

Abstract

This article investigates the dynamics of heterodoxy within Qur’anic exegesis from the formative period of Islam through the medieval era, with particular emphasis on critical themes such as interpretive authority and authenticity, the plurality of religious sources, the agency of exegetes, and the role of ijtihād and scholarly dissent in shaping diverse theological discourses. Adopting a historical-hermeneutical approach, this study seeks to demonstrate that heterodoxy is not a deviation from orthodoxy, but rather a legitimate expression of Islam’s intellectual plurality. By analyzing select Qur’anic passages—specifically Q. 4:59, Q. 24:35, and Q. 3:7—the article elucidates how various schools of thought, including Sunni, Shi‘i, Mu‘tazilite, and Sufi traditions, have formulated divergent exegetical constructs grounded in distinct epistemological frameworks and socio-political contexts. It further argues that tafsir, as an intellectual discipline, is neither homogenous nor immutable; instead, it is inherently reflective, dialogical, and receptive to multiplicity. Heterodoxy emerges as a vital component in sustaining the dynamism and epistemic richness of the classical Islamic exegetical heritage. As a result, this study offers a conceptual contribution by advancing an alternative perspective that positions heterodoxy as essential to sustaining an exegetical tradition that remains inclusive, reflective, and dialogical. Artikel ini mengkaji dinamika heterodoksi dalam tafsir al-Qur’an dari masa pembentukan Islam hingga periode pertengahan, dengan menyoroti aspek-aspek kunci seperti otoritas dan otentisitas penafsiran, pluralitas sumber agama, agensi para mufassir, serta peran ijtihad dan perbedaan pendapat dalam membentuk ragam pemahaman keagamaan. Dengan menggunakan pendekatan historis-hermeneutik, studi ini ingin menunjukkan bahwa heterodoksi bukanlah bentuk penyimpangan dari ortodoksi, melainkan ekspresi sah dari keragaman intelektual Islam. Melalui analisis terhadap beberapa ayat al-Qur’an seperti QS 4:59, QS 24:35, dan QS 3:7, ditampilkan bagaimana berbagai mazhab—Sunni, Syi’ah, Muktazilah, dan Sufi—membangun konstruksi tafsir yang berbeda-beda sesuai dengan kerangka epistemologis dan konteks sosiopolitik masing-masing. Studi ini menegaskan bahwa tafsir sebagai disiplin ilmu tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan reflektif, responsif, dan terbuka terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, studi ini berkontribusi secara konseptual menawarkan perspektif alternatif yang memposisikan heterodoksi sebagai unsur vital dalam menjaga kelangsungan tradisi tafsir yang inklusif, reflektif, dan dialogis.  
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BUKU KAIDAH UMUM SEPULUH IMAM QIRĀ`AT DALAM MEMAHAMI QIRĀ`AT MUTAWĀTIR: Kajian pada mahasiswa Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Suska Riau Parlindungan Simbolon
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.22142

Abstract

The different readings in reading the Qur'an are tauqīfī or absolute provisions from Allah SWT. with the aim of providing convenience to Muslims. All Qirā`at may be recited inside or outside of prayer as long as they do not violate the requirements of Qirā`at maqbul. These different readings sometimes lead to polemics in the community due to their lack of understanding of the science of Qirā`at. This study aims to describe the General Rules of the Ten Imams of Qirā`at and analyze the extent to which its effectiveness can improve students' ability to understand the rules of Qirā`at. This study used the pre-test-posttest (quantitative) and interview (qualitative) methods to obtain data. The results of the study show that the book General Principles of the Ten Imams of Qirā`at was compiled by the author with an interesting explanation, systematically and comprehensively discusses the mutawatir rules of ushul Qirā`at. This book is very effectively used to improve students' ability to understand the principles of Qirā`at Science. This book can be used as a reference and guide for any study of Qirā`at. However, supporting references are still needed to understand specific terms in Qirā`at because they are not explained in detail. Perbedaan bacaan dalam membaca al-Qur’an merupakan tauqīfī atau ketentuan mutlak dari Allah Swt. dengan tujuan untuk memberikan kemudahan. Semua jenis Qirā`at boleh dimamalkan di dalam ataupun di luar shalat selama tidak menyalahi persyaratan Qirā`at maqbūl. Akan tetapi, perbedaan bacaan tersebut terkadang menimbulkan polemik di tengah masyarakat akibat kurangnya pemahaman terhadap Ilmu Qirā`at. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan buku Kaidah Umum Sepuluh Imam Qirā`at dan menganalisa sejauh mana efektifitasnya dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami kaidah Ilmu Qirā`at. Penelitian ini menggunakan metode pre-test-postest (kuantitatif) dan wawancara (kualitatif) untuk memperoleh data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku Kaidah Umum Sepuluh Imam Qirā`at disusun oleh pengarang dengan penjelasan yang menarik, sistematis dan komprehensif membahas kaidah ushul Qirā`at Mutawātir. Buku ini sangat efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami kaidah usul Ilmu Qirā`at. Buku ini dapat dijadikan sebagai rujukan dan panduan pada setiap pembelajaran Ilmu Qirā`at. Akan tetapi, masih diperlukan referensi pendukung untuk memahami istilah-istilah khusus dalam Ilmu Qirā`at karena di dalamnya tidak dijelaskan secara rinci.  
NILAI-NILAI EKOLOGIS DALAM AL-QUR´AN: Suatu Kajian Tafsir Tematik Wahida Rahim; Achmad Abubakar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22356

Abstract

This research aims to identify the Qur´anic verses related to the environment and to analyze the ecological values contained in the Qur´an along with their relevance to contemporary issues. It is a library research employing the thematic exegesis (tafsīr mauḍū´ī) method. The data were analyzed using content analysis by identifying Qur´anic verses concerning the environment and interpreting the opinions of classical and modern exegetes (mufassirīn). The research concludes that the Qur´an views the environment as an integral part of God´s creation that possesses spiritual, moral, and social values, and positions humans as khalīfah (stewards) responsible for maintaining the balance and sustainability of nature. These ecological values are highly relevant in addressing contemporary environmental crises such as climate change, deforestation, and pollution, by serving as ethical, policy, and educational foundations rooted in religious principles. Further research is encouraged to develop an Islamic environmental jurisprudence (fiqh al-bī´ah) that regulates the relationship between humans and nature based on the principle of public benefit (maṣlaḥah mursalah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ayat-ayat al-Qur´an tentang lingkungan hidup. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis nilai-nilai ekologis yang terdapat dalam al-Qur´an serta relevansinya terhadap permasalahan kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode tafsir mauḍū´i. Pendekatan yang digunakan yaitu tafsir tematik, ekologi dan studi kritis. Teknik analisis data menggunakan content analysis yaitu mengidentifikasi ayat-ayat al-Qur´an tentang lingkungan hidup dan menginterpretasikan pendapat mufassirin. Langkah-langkah identifikasi ayat-ayat tentang lingkungan hidup, seperti: amanah, khalifah dan fasad. Kemudian menyortir dan menyajikan ayat-ayat sesuai tema. Penelitian ini menyimpulkan bahwa al-Qur´an memandang lingkungan hidup sebagai bagian dari ciptaan Allah swt yang memiliki nilai spiritual, moral dan sosial, serta menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Hasil dari nilai-nilai ekologis ini relevan terhadap krisis lingkungan kontemporer seperti perubahan iklim, deforestasi dan pencemaran, dengan menjadikannya landasan etika, kebijakan dan pendidikan lingkungan berbasis keagamaan. Penelitian lanjutan dapat menginspirasi pembentukan fikih lingkungan (fiqh al-bī´ah) yang mengatur hubungan manusia dengan alam berdasarkan prinsip kemaslahatan (maṣlaḥah mursalah).
KONSEP SABAR DALAM TAFSIR ḤAQĀ’IQ AL-TAFSĪR KARYA AL-SULAMĪ: ANALISIS TAFSIR SUFISTIK ATAS KISAH NABI AYYŪB A.S. Syu'ban Aziz; Izzah Faizah Siti Rusydati Khaerani; Asep Faturahman
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22516

Abstract

This study analyzes the meaning and dimensions of patience in the story of the Prophet Ayyūb a.s. as interpreted in Ḥaqā’iq al-Tafsīr by Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. It seeks to reveal the meaning of patience from a Sufi perspective and analyze it through the framework of self-control theory proposed by James Averill (1973). This study employs a qualitative, library-based research approach. Content analysis is the primary analytical method used to examine Al-Sulamī's interpretation of Prophet Ayyūb a.s. The data are analyzed using Averill's three-part theory of self-control (behavioral, cognitive, and decisional). According to this study, Al-Sulamī viewed Ayyūb a.s's patience as an active spiritual practice, not just passive endurance. Its key dimensions include steadfast dhikr (remembrance of God) to manage suffering, merging the self (fanā) with the divine will and grace, and a pinnacle of patience manifested as tawakkal (complete surrender). According to Averill's psychological framework, these dimensions demonstrate behavioral control (restraining the body from complaining), cognitive control (reinterpreting hardship as divine will), and decisional control (a conscious choice to surrender to God). This analysis reveals the implicit psychological messages in the story. This study found that the story contains a sophisticated psychological model for resilience. It refutes the notion of patience as passive behavior, demonstrating that it is an active spiritual and psychological process. This study's novelty stems from its interdisciplinary approach, which bridges 10th-century classical interpretation with 20th-century psychological theory while also providing new insights into the psychological depth of Islamic spiritual concepts. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan dimensi kesabaran Nabi Ayyūb a.s. dalam Ḥaqā’iq al-Tafsīr  karya Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. Kesabaran tersebut dianalisis dengan teori self-control James Averill (1973). Penelitian ini berjenis kualitatif, menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data tersebut diinterpretasi oleh teori tripartit self-control (perilaku, kognitif, dan keputusan) Averill. Studi ini menemukan bahwa Al-Sulamī menafsirkan kesabaran Ayyūb a.s. bukan sebagai ketahanan pasif, melainkan sebagai praktik spiritual yang aktif dan kompleks. Dimensi-dimensi kuncinya meliputi: keteguhan hati, menjadikan zikir (mengingat Allah) untuk mengendalikan penderitaan, meleburkan diri (fanā) dengan kehendak—anugerah-- Allah, dan puncak kesabarannya diwujudkan dengan tawakal (kepasrahan mutlak). Dimensi-dimensi dalam kerangka psikologi Averill menunjukan kontrol perilaku (menahan tubuh dari keluhan), kontrol kognitif (menafsirkan ulang kesulitan sebagai kehendak Ilahi), dan kontrol keputusan (pilihan sadar untuk berserah diri kepada Tuhan), Tiga aspek ini merupakan pesan utama dari kisah Nabi Ayyūb a.s. Penelitian berhasil bentuk psikologis yang canggih untuk resiliensi. Sekaligus menentang bahwa kesabaran sebagai perilaku pasif, namun proses psikologis yang aktif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang menghubungkan tafsir sufistik klasik abad ke-10 dengan teori psikologi modern, sehingga memperkaya pemahaman terhadap dimensi psikologis dalam konsep spiritual Islam.  
MENAKAR SYARAT MUFASIR AL-QUR'AN: Menolak Otoritarianisme Perspektif Khaled Abou El-Faḍl Achmad Lutfi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22523

Abstract

This article examines Khaled Abou El Faḍl’s thought regarding the qualifications of a Qur’anic interpreter (mufassir). The study aims to understand Abou El Faḍl’s perspective that rejects authoritarian attitudes in interpreting the Qur’an. Using a qualitative method and descriptive-critical analysis through a literature review of his ideas presented in Speaking in God’s Name, the study shows that Abou El-Faḍl opposes all forms of authoritarianism in Qur’anic interpretation. However, he also does not accept completely free or unrestricted interpretations. According to him, certain requirements must be fulfilled by anyone who wants to interpret and understand the meaning of the Qur’an responsibly. This research contributes to the development of Qur’anic and tafsir studies, especially in discussions about interpretive authority and the ethics of the mufassir. Artikel ini mengkaji pemikiran Khaled Abou El-Faḍl terkait syarat-syarat bagi seorang mufasir al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang Khaled Abou El-Faḍl yang menolak praktik otoritarianisme dalam penafsiran al-Qur’an. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif-kritis melalui kajian literatur (literature review) terhadap pemikirannya yang tertuang dalam karya Speaking in God’s Name, penelitian ini menunjukkan bahwa Khaled Abou El-Faḍl menolak segala bentuk otoritarianisme dalam proses penafsiran al-Qur’an. Meskipun demikian, ia juga tidak menerima penafsiran yang bersifat bebas tanpa batas. Menurutnya, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang agar dapat menafsirkan dan memahami kandungan al-Qur’an secara bertanggung jawab. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi al-Qur’an dan tafsir, khususnya dalam kajian tentang otoritas penafsiran dan etika mufasir. 
MODEST FASHION SEBAGAI FENOMENA SOSIAL-RELIGIUS: Respons Tafsir al-Munīr dan al-Misbah terhadap Tren Busana Muslimah Mujiburohman Mujiburohman; Farah Farah Nurfadhilah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22713

Abstract

Modest fashion, as a modern trend in Muslim women’s clothing, raises new questions about how Qur’anic values are interpreted and expressed within contemporary dressing practices. This study addresses a research gap in examining the relationship between classical–contemporary Qur’anic exegesis and the phenomenon of modest fashion as both a religious and cultural expression. The research aims to analyze the interpretations of Wahbah al-Zuḥaylī in Tafsīr al-Munīr and M. Quraish Shihab in Tafsir al-Misbah on Qur’anic verses QS al-A‘rāf [7]:26 and QS al-Aḥzāb [33]:59, as well as to compare their hermeneutical implications for the development of modest fashion. This study employs a qualitative library research method using Wilhelm Dilthey’s hermeneutical approach. The analysis is conducted through reconstructing the historical context of the verses and mapping the interpretive arguments developed by each exegete. The findings show that al-Zuḥailī interprets the verses textually, emphasizing the function of clothing as a cover for the body and a marker of piety, whereas Quraish Shihab offers a contextual reading that links the meaning of clothing to social identity, public ethics, and modern cultural dynamics. This study contributes to contemporary Qur’anic exegesis by demonstrating that the hermeneutical frameworks of both exegetes provide distinct conceptual bases for understanding modest fashion—either as a continuation of Islamic norms of dress or as a cultural mode of expression within modern Muslim society.Modest fashion sebagai tren busana muslimah modern memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana nilai-nilai al-Qur’an dipahami dan diartikulasikan dalam praktik berpakaian kontemporer. Studi ini mengisi kekosongan riset yang belum banyak mengkaji hubungan antara konstruksi tafsir klasik–kontemporer dengan fenomena modest fashion sebagai ekspresi keagamaan dan kultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Wahbah al-Zuḥaylī dalam Tafsīr al-Munīr dan M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah atas Q.S. al-A‘rāf [7]:26 dan Q.S. al-Aḥzāb [33]:59, sekaligus membandingkan implikasi hermeneutisnya terhadap perkembangan modest fashion. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berbentuk library research dengan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey. Analisis dilakukan melalui rekonstruksi konteks historis ayat serta pemetaan argumen penafsiran yang dikembangkan masing-masing mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Zuḥaylī menafsirkan kedua ayat tersebut secara tekstual dengan menekankan fungsi pakaian sebagai penutup aurat dan penanda kesalehan. Sedangkan Quraish Shihab menawarkan pembacaan kontekstual yang mengaitkan makna pakaian dengan identitas sosial, etika publik, dan dinamika budaya modern. Studi ini berkontribusi pada kajian tafsir kontemporer dengan menunjukkan bahwa kerangka hermeneutik kedua mufasir menyediakan basis konseptual yang berbeda dalam memahami modest fashion—baik sebagai kelanjutan norma berpakaian Islam maupun sebagai ruang artikulasi budaya dalam masyarakat muslim modern.    
ORTODOKSI PESANTREN DALAM TAFSIR AL-BAYĀN KARYA KH. SHODIQ HAMZAH SEMARANG Zulaikhah Fitri Nur Ngaisah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22719

Abstract

Tafsir al-Bayān is a Qur’anic exegesis that emerged and was written by a pesantren (Islamic boarding school) scholar, Shodiq Hamzah. It is acknowledged that this work extensively refers to Qur’anic commentaries authored by earlier scholars. At this point, it is possible that he integrates, to some extent, the teachings of classical scholars, which indirectly positions his work as a Qur’anic exegesis with an orthodox paradigm. Orthodoxy itself refers to the preservation of religious understanding inherited from previous generations through interconnected scholarly transmission. This research aims to uncover the pesantren orthodoxy paradigm in Tafsir al-Bayān, as it was written by a productive pesantren figure and has been followed by the local community. The method employed is descriptive-analytical, using a content analysis approach directed at Tafsir al-Bayān, particularly focusing on its sources of reference and theological thought. To identify orthodoxy, this study applies five concepts of doctrinal orthodoxy proposed by John B. Henderson. The findings of this research affirm that Shodiq Hamzah’s Tafsir al-Bayān demonstrates an orthodox tendency due to its commitment to the works of earlier scholars (al-kutub al-muʿtabarah) and the opinions of the salaf as primary sources of reference. His scholarly background and Sunni scholarly networks also contribute to constructing this orthodox framework of thought. Furthermore, the orthodoxy of Shodiq Hamzah’s interpretation reinforces pesantren traditions, particularly in matters of theology (kalām) affiliated with Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah. Nevertheless, his interpretation has not yet elaborated on contemporary discourses, resulting in an impression of conservatism and indicating the need for a more comprehensive interpretation to address contemporary problems. Tafsir al-Bayān adalah sebuah tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh tokoh pesantren, Shodiq Hamzah. Karya ini diketahui banyak merujuk pada tafsir al-Qur’an karya ulama terdahulu, sehingga memungkinkan adanya integrasi ajaran dari generasi sebelumnya yang menjadikannya sebagai tafsir yang berparadigma ortodoks. Ortodoksi di sini merujuk pada upaya mempertahankan pemahaman agama yang diturunkan secara berkesinambungan melalui tradisi keilmuan yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri paradigma ortodoksi pesantren dalam Tafsir al-Bayān, mengingat penulisnya adalah tokoh pesantren yang produktif dan karyanya banyak diikuti masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan content analysis, berfokus pada sumber rujukan dan pemikiran teologis dalam tafsir tersebut. Untuk mengidentifikasi ortodoksi, penelitian ini menggunakan lima konsep ortodoksi menurut John B. Henderson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir al-Bayān memiliki kecenderungan ortodoks yang ditandai dengan komitmen penulisnya pada karya ulama terdahulu (al-kutub al-mu’tabarah) dan pendapat ulama salaf sebagai sumber utama. Latar belakang keilmuan dan jaringan keulamaan Sunni turut membentuk kerangka pemikiran ortodoks tersebut. Selain itu, ortodoksi tafsir Shodiq Hamzah memperkuat tradisi pesantren, khususnya dalam ranah teologi atau kalam yang berafiliasi dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Meski demikian, tafsir ini belum banyak menanggapi diskursus kontemporer, sehingga menimbulkan kesan konservatif dan memerlukan interpretasi lebih komprehensif untuk menjawab persoalan kekinian.  
MAPPING THE PARADIGM OF CONTEMPORARY MAQĀṢIDĪEXEGESIS:A Philosophical Inquiry Into The Works of Abū Zayd, Raḥmānī, and As’ad Muhammad Maimun; Muhamad Sofi Mubarok; Mohamad Yahya
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/yp294088

Abstract

Contemporary tafsir studies are experiencing a paradigm shift from textuality toward maqāṣid-based contextuality. However, the methodological diversity among contemporary scholars remains philosophically unmapped. This research aims to analyze the paradigmatic construction of tafsir maqāṣidī (maqāṣid-based exegesis) through the thoughts of three key figures: Waṣfī ’Ashūr Abū Zayd, Ibrahim Raḥmānī, and ‘Alī Muḥammad As’ad. Employing a qualitative library research method with a philosophy of science approach, this study examines the ontological, epistemological, and axiological aspects of their works. The findings indicate that ontologically, the three scholars concur in positioning the Qur'an as a text embodying a dynamic intentio dei (Divine intent). Epistemologically, significant differences exist; Abū Zayd emphasizes linguistic aspects and thematic induction, whereas Raḥmānī focuses on strict legal rationale ('illat) verification. Axiologically, tafsir maqāṣidī is oriented toward grounding universal Qur'anic values that offer solutions to humanitarian problems. This study concludes thattafsir maqāṣidī offers an integrative methodology that bridges the gap between the text of revelation and contemporary reality. Studi tafsir kontemporer mengalami pergeseran paradigma dari tekstualitas menuju kontekstualitas berbasis tujuan (maqāṣid). Namun, keragaman metodologi di kalangan sarjana kontemporer seringkali belum terpetakan secara filosofis. Penelitian ini bertujuan membedah konstruksi paradigmatik tafsir maqāṣidī melalui pemikiran tiga tokoh kunci: Waṣfī ’Ashūr Abū Zayd, Ibrahim Raḥmānī, dan ‘Alī Muḥammad As’ad. Menggunakan metode kualitatif-pustaka dengan pendekatan filsafat ilmu, penelitian ini menganalisis aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari karya-karya tafsir mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, ketiga tokoh sepakat menempatkan Al-Qur'an sebagai teks yang memuat intentio dei (maksud Tuhan) yang dinamis. Secara epistemologis, terdapat perbedaan signifikan bahwa Abū Zayd lebih menekankan aspek linguistik, sementara Raḥmānī pada illat hukum]. Secara aksiologis, tafsir maqāṣidī berorientasi pada pembumian nilai universal Al-Qur'an yang solutif bagi problem kemanusiaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir maqāṣidī menawarkan metodologi integratif yang menjembatani teks wahyu dan realitas kekinian.