cover
Contact Name
Muhamad Zaenal Muttaqin
Contact Email
mz.muttaqin@uinssc.com
Phone
+6282210831252
Journal Mail Official
diyaalafkar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : https://doi.org/10.24235/diyaafkar.v13i2
Core Subject :
Diya al-Afkar is a scholarly journal focusing on the study of the Qur’an and Hadith. This journal publishes scholarly articles in the form of studies on the sciences of the Qur’an and Hadith, interpretations and understandings of the Qur’an and Hadith, research findings-including both literature reviews and field research-related to the Qur’an or Hadith, and/or book reviews. The journal is published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
DIMENSI LOKALITAS PENAFSIRAN: Bentuk dan Karakter Lokal dalam Kitab Tafsir Resmi Pemerintah Orde Baru Republik Indonesia Achmad Lutfi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.15006

Abstract

The process of Qur’anic interpretation carried out by mufassir could not be separated from historical context. Every space and time as an integrated element of history, produces typical interpretation’s discourse, pattern, movement and reformation, where every single emphasis criticizes the previous interpretations while at the same time constructs a new theory of interpretation. Likewise, the existence of The Book of Al-Qur’an and its Interpretation are proposed and published by Ministry of Religious Affairs of Indonesia Republic, certainly in interpreting activities to its verses of Qur’an gave rise locality elements and endeavored an effortless to be arriving at the goal of word meaning being interpreted. Proses penafsiran Alquran yang dilakukan oleh mufassir tidak lepas dari konteks sejarah yang melekat dalam dirinya. Setiap ruang dan waktu sebagai elemen sejarah yang terintegrasi, menghasilkan wacana, pola, gerakan, dan reformasi interpretasi yang khas, di mana setiap penekanan mengkritisi interpretasi sebelumnya sekaligus membangun interpretasi baru. Demikian pula dengan keberadaan Kitab Al-Qur'an dan Tafsirnya yang dibuat dan diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, tentunya dalam kegiatan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur'annya memunculkan unsur lokalitas dan diupayakan dengan cara yang mudah. sampai pada tujuan makna kata yang ditafsirkan. Melalui pendekatan hermeneutika dan resepsi, artikel ini mengupas bentuk lokalitas yang terdapat dalam kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya.  
PEMAKNAAN INTERTEKSTUAL PADA HADIS TENTANG LARANGAN GHULUW Amin Iskandar; Komarudin Soleh
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11 No. 02 (2023): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.15243

Abstract

This article aims to discuss the Hadith regarding the prohibition of ghuluw with an intertextual approach, namely an approach to understanding texts by finding meaningful relationships between two or more texts. This research is library research. The method used in this research is a qualitative approach. The results of this research conclude that the hadith regarding the prohibition of ghuluw is an original hadith, its existence can be traced in famous hadith books, and has authentic quality. Through intertextual interpretation, it can be concluded that the Hadith regarding the prohibition of ghuluw is meaningful and at the same time functions as bayan at-ta'kid (reinforcement) for the verses in the Koran regarding the prohibition of excesses in religion and the verses regarding the recommendation to be moderate. This meaning is also strengthened by the Prophet's correction of the excessive attitudes carried out by several companions mentioned in other hadiths.  Artikel ini bertujuan untuk membahas Hadis tentang larangan ghuluw dengan pendekatan intertekstual, yaitu suatu pendekatan dalam memahami teks dengan cara menemukan hubungan-hubungan bermakna diantara dua teks atau lebih. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Hadis tentang larangan ghuluw merupakan Hadis yang orisinil, keberadaannya dapat ditelusuri di dalam kitab-kitab Hadis yang masyhur, serta memiliki kualitas yang shahih. Melalui pemaknaan intertekstual dapat disimpulkan bahwa Hadis tentang larangan ghuluw semakna dan sekaligus berfungsi sebagai bayan at-ta’kid (penguat) terhadap ayat-ayat di dalam Al-Qur’an tentang larangan bersikap berlebih-lebihan dalam beragama dan ayat tentang anjuran untuk bersikap moderat. Pemaknaan ini diperkuat pula dengan koreksi Nabi atas sikap berlebihan yang dilakukan oleh beberapa sahabat yang disebutkan di dalam Hadis-Hadis yang lain.  
REVALUASI KONSEPSI TAKWA DALAM AL-QUR’AN: Pembentukan Tindakan Melalui Penekanan atas Ancaman Mahbub Ghozali
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11 No. 02 (2023): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.15547

Abstract

          AbstractThe concept of piety as portrayed in the Qur'an, centered around the fear of divine consequences, lacks relevance within the context of da'wah. This study seeks to reevaluate the understanding of piety's significance. Employing a qualitative approach with content analysis, the research discerns that the term ittaqū, used in Qur'anic verses, addresses ethical, legal, and theological dimensions. This term serves as a directive for behavior to shield against divine retribution. The variation in themes mirrors the stages of the Prophet's da'wah, with discernible shifts between the periods of Makkah and Medina. This suggests an evolution in how protective measures and threats are articulated, underscoring the necessity of actions safeguarding humanity. Konsepsi takwa yang menjadi pusat pembahasan dalam al-Qur’an dengan identitas ketakutan terhadap ancaman tidak menemukan relevansinya dalam konteks dakwah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kembali konsepsi makna takwa. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analysis sebagai teknik analisisnya. Penelitian ini berkesimpulan bahwa diksi ittaqū digunakan pada ayat-ayat yang menjelaskan persoalan etika, hukum, dan teologis. Keberadaan tema berfungsi sebagai identitas tindakan yang digunakan untuk melindungi diri dari beragam ancaman Tuhan. Keragaman tema berkorelasi dengan tahapan dakwah Nabi. Klaim ini dibuktukan dengan perubahan tema terklasifikasi berbeda di masa dakwah Makkah dan Madinah. Hal ini menunjukkan pergeseran makna takwa tidak berlangsung dalam aspek terminologinya, akan tetapi berlangsung pada cara perlindungan dan ancaman yang dihadirkan untuk menekankan pelaksanaan tindakan yang menjadi pelindung manusia. 
KONTEKSTUALISASI PENAFSIRAN QS. AL-ḤUJURĀT [49]: 11 SEBAGAI RESPON TERHADAP FENOMENA CYBERBULLYING DI ERA DIGITAL Ade Rosi Siti Zakiah; Luthfi Karimatun Nisa’; Laily Fitriani
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11 No. 02 (2023): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.15609

Abstract

The high number of cyberbullying in Indonesia is strongly influenced by the use of the internet which is increasing every year, especially among teenagers. In general, this action is carried out in various forms, whether on social media, online games, or platforms that provide columns for chatting. At the same time, the Koran records a number of incidents related to this phenomenon. The Qur'an does not explicitly mention the word cyberbullying, but in Surat al-Ḥujurāt verse 11 there is a word like yaskhar which means to make fun of and make fun of, then act arbitrarily or trouble other people. In particular, the main objective of this study is to explain how the contextual interpretation of QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 and its relation to the phenomenon of cyberbullying in the digitalization era. This research is included in the category of library research with a normative-historical approach. The analysis theory used is Abdullah Saeed's contextual hermeneutics. As a result of this study, it was found that the text and context of QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 shows that bullying behavior during the time of the Prophet saw was the same as bullying. This verse was revealed as an order in the form of a prohibition or categorized as an instructional value verse. There are fundamental values contained in this verse, including: the value of justice, the value of humanity and the value of responsibility. Tingginya angka cyberbullying di Indonesia sangat dipengaruhi oleh penggunaan internet yang meningkat setiap tahunnya terutama dikalangan remaja. Secara umum, tindakan ini dilakukan dalam berbagai bentuk, baik di media sosial, game online, maupun platform yang menyediakan kolom untuk chatting. Bersamaan dengan itu, al-Qur’an merekam sejumlah kejadian tentang fenomena tersebut. Al-Qur’an memang tidak menyebutkan secara eksplisit kata cyberbullying, namun dalam surat al-Ḥujurāt ayat 11 terdapat kata-kata seperti yaskhar yang berarti mengejek dan mengolok-olok, kemudian berlaku sewenang-wenang atau menyusahkan orang lain. Secara spesifik, tujuan utama penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana penafsiran kontekstual QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 dan kaitannya dengan fenomena cyberbullying di era digitalisasi. Kajian ini termasuk pada kategori penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif-historis. Teori analisis yang digunakan ialah hermeneutika kontekstual Abdullah Saeed. Sebagai hasil dari kajian ini, ditemukan bahwa teks dan konteks QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 menunjukkan perilaku intimidasi pada masa Nabi Saw sama hal nya dengan tindakan bullying. Turunnya ayat ini sebagai perintah dalam bentuk larangan atau dikategorikan sebagai ayat instructional value. Terdapat nilai fundamental yang terkandung dalam ayat ini, antara lain: nilai keadilan, nilai kemanusiaan dan nilai tanggung jawab. 
EFEKTIVITAS AJARAN AL-QUR'AN DALAM MENGATASI OVERTHINKING: Kajian di Lembaga Healing Hypnotherapy Tangerang Selatan Fuadiyati Firdausiana; Yusriyatus Sa'adah; Nur Azizah Trijayanti; Ade Naelul Huda
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.16529

Abstract

Diseases mental illness is currently a problem that is often faced in society that requires special attention, as its presence can disrupt the stability and tranquillity of life. One of the centres of mental illness is overthinking, which not only affects young people, but also from all walks of life. One of the ways found to resolve the mental illness is to use hypnotherapy method which in its implementation, hypnosis becomes the basis for the healing concept. Hypnotherapy has begun to be widespread along with the increasing attention of the community with mental illness. So that Muslims need to study hypnotherapy in treating this mental illness, especially overthinking. This research aims to explore hypnotherapy as a solution in overcoming overthinking through the Qur'an. Through the Qur'an. The method used in this research is qualitative research with library research and field research, i.e. interview to the object of research. The place of the research object is in the environment of Bayt al-Qur'an Islamic Boarding School in Southcity Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, South Tangerang. This research also involved several respondents, namely one therapist and several others as the person being treated. The approach we use is a phenomenological approach by combining the theories of Craswell and Gerardus van Leeuw, to get a complete, systematic, and accurate data. complete, systematic, and accurate data. Through this research it was found that Qur'anic values can cure overthinking through hypnotherapy method. The integration of Qur'anic values is done to be incorporated into new data in human being so that they become a better person by minimising overthinking. Penyakit mental saat ini menjadi masalah yang sering dihadapi dalam masyarakat yang memerlukan perhatian khusus, karena keberadaannya dapat mengganggu stabilitas dan ketenangan dalam kehidupuan. Salah satu yang menjadi fokus dari penyakit mental tersebut adalah overthinking, yang tidak hanya menyerang anak muda, namun juga berbagai kalangan. Salah satu cara yang ditemukan untuk menyelesaikan penyakit mental adalah menggunakan metode hipnoterapi yang dalam pelaksanaannya, hipnosis menjadi dasar untuk konsep penyembuhan. Hipnoterapi sudah mulai marak seiring dengan bertambahnya perhatian masyarakat dengan penyakit mental. Sehingga umat Muslim perlu mengkaji hipnoterapi dalam mengobati penyakit mental ini, terutama overthinking. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas hipnoterapi sebagai solusi dalam mengatasi overthinking melalui al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan library research dan field research, yaitu interview terhadap objek penelitian. Tempat objek penelitian berada di lingkungan Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an di Southcity Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan. Penelitian ini juga melibatkan beberapa responden yaitu seorang terapis dan beberapa pasien yang diterapi. Pendekatan yang penulis gunakan adalah fenomenologi dengan menggabungkan teori Craswell dan Gerardus van Leeuw, untuk mendapatkan sebuah data yang lengkap, sistematis, dan akurat. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai al-Qur’an dapat menyembuhkan overthinking melalui metode hipnoterapi. Integrasi nilai-nilai al-Qur’an dilakukan untuk dimasukkan menjadi data baru dalam diri manusia sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dengan meminimalisir adanya overthinking.
TIPOLOGI RESEPSI MASYARAKAT BANJAR TERHADAP AL-QUR’AN DI DESA PANJARATAN, KECAMATAN PELAIHARI, KABUPATEN TANAH LAUT Husnul Hamidatul Munauwarah; Ahmad Mujahid; Najib Irsyadi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.16639

Abstract

The Banjar community in Panjaratan Village understands the Qur'an not only in terms of understanding the text, namely in the form of practice in reading or studying the Qur'an, more than that, the many cultures or traditions that exist in the community are the result of the development of community receptions, especially the Banjar community towards the Qur'an from time to time. This study aims to further examine how the community's reception of the Qur'an and will classify the typology of the Qur'an's reception and analyze the meaning contained in it. This research uses a qualitative approach, analyzing the typology of the Qur'an with the theory of Qur'anic reception by Ahmad Rafiq and analyzing the meaning using the theory of sociology of knowledge by Karl Mannheim. The results of the research on the typology of Al-Qur'an reception in Panjaratan Village obtained three receptions of the Al-Qur'an, namely exegesis reception implemented in recitation activities and religious assemblies, aesthetic reception manifested in decorations in people's homes and implemented from the existence of al-Qur'an learning with certain methods and tones and functionalist reception implemented in verses as certain functions in life. The meanings contained in the practice of Qur'an reception in Banjar society are first, the objective meaning is interpreted as a symbol of the high sense of religion and closeness to Allah Swt. Second, the documentary meaning is as a culture from ancestors that is preserved and acculturated with Islamic culture. Third, the expressive meaning is that the practice of Qur'anic reception is used as a wasilah in achieving certain goals, hopes and desires by the people who carry it out.Masyarakat Banjar di Desa Panjaratan terhadap Al-Qur’an, mereka memahami Al-Qur’an bukan hanya sekedar pemahaman yang berada pada teks yaitu berupa pengamalan dalam membaca atau mengkaji al-Qur’an, lebih dari itu banyaknya budaya ataupun tradisi yang terdapat di masyarakat merupakan hasil perkembangan resepsi masyarakat khususnya masyarakat Banjar terhadap al-Qur’an dari masa ke masa. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti lebih jauh bagaimana resepsi masyarakat terhadap al-Qur’an serta akan melakukan klasifikasi tipologi dari resepsi al-Qur’an dan menganalisis makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menganalisis tipologi al-Qur’an dengan teori resepsi al-Qur’an oleh Ahmad Rafiq serta menganalisis makna menggunakan teori sosiologi pengetahuan oleh Karl Mannheim. Hasil dari penelitian mengenai tipologi resepsi al-Qur’an di Desa Panjaratan didapatkan tiga resepsi al-Qur’an yaitu resepsi eksegesis terimplementasikan dalam kegiatan pengajian dan majelis taklim keagamaan, resepsi estetis termanifestasikan dalam hiasan-hiasan dalam rumah masyarakat serta terimplementasikan dari adanya pembelajaran al-Qur’an dengan metode dan nada-nada tertentu dan resepsi fungsionalis terimplementasikan dalam ayat sebagai fungsi tertentu dalam kehidupan. Makna yang terkandung dalam praktik resepsi al-Qur’an di masyarakat Banjar adalah pertama, makna objektifnya dimaknai sebagai simbol dari tingginya rasa beragama dan kedekatan dengan Allah swt. Kedua, makna dokumenternya adalah sebagai budaya dari nenek moyang yang dilestarikan serta diakulturasikan dengan budaya Islam. Ketiga, makna ekspresifnya adalah praktik resepsi al-Qur’an digunakan sebagai wasilah dalam mencapai tujuan, harapan dan hajat tertentu oleh masyarakat yang melaksanakannya.  
METODE ANALISIS TEORI KUANTITAS DAN KUALITAS HADIS Umayah Umayah; Nurkholidah Nurkholidah; Muhamad Zaenal Muttaqin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.16784

Abstract

The theory of quantity and quality of hadith is a theory that is used as an analytical tool in hadith research. These theories are used as analysis of data from searching for hadiths, because in this case the assumption is to look for data to understand the theories studied in this case, namely the theory of quantity and quality of hadiths. In studying the theories of quantity and quality of hadith, it is better to accompany the practice of searching for books that help with hadith research, both manually and digitally, because if you understand it only theoretically when asked again you will usually forget, but by searching for data and analyzing it accordingly with the theory, it will be remembered forever. Therefore, on this occasion we present themes related to theories of quantity and quality of hadith accompanied by examples, with the aim of making it easier to understand. Teori kuantitas dan kualitas hadis merupakan teori yang dijadikan pisau analisis dalam peneltian hadis. Teori-teori itu digunakan sebagai analisis data hasil penelusuran hadis, karena dalam hal ini asumsinya adalah mencari data untuk memahami teori-teori yang dipelajari dalam hal ini yaitu teori kuantitas dan kualitas hadis. Dalam mempelajari teori-teori kuantitas dan kualitas hadis ada baiknya disertai dengan praktik penelusuran terhadap kitab-kitab bantu penelitian hadis, baik secara manual maupun digital, karena jika difahami hanya secara teoritis ketika ditanya kembali biasanya akan lupa, tetapi dengan melakukan pencarian data dan menganalisis sesuai dengan teorinya maka akan bisa diingat sampai kapanpun. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami menyajikan tema terkait teori-teori kuantitas dan kualitas hadis disertai dengan contoh, dengan tujuan supaya lebih mudah difahami.  
TELAAH KRITIS ATAS PERAN STRATEGIS IMAM ABŪ ḤANĪFAH DALAM PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN HADIS Muhammad Abdul Aziz
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.16981

Abstract

Imam Abū Ḥanīfah is known as one of the great scholars in Islamic history who has made significant contributions to the development of jurisprudence and understanding of hadith. The relationship between fiqh and hadith is very close, because every sharia decision must refer to the revelation, the practice of the Prophet , or an analogy based on these two main sources. The works of Imam Abū Ḥanīfah consistently refer to the verses of the Qur'an and the ḥadīth of the Prophet  as the basis of law. This research aims to analyze the role and methods of Imam Abū Ḥanīfah in understanding, interpreting, and spreading hadith. Using a descriptive and analytical approach, this paper explores its contribution to narration as well as the methodology it uses in assessing hadith. In addition, this research also responds to various criticisms that have arisen against Imam Abū Ḥanīfah's understanding and approach in hadith, as well as straightening out misconceptions that have developed among scholars. Through the analysis of various sources and opinions of scholars, this paper confirms the credibility and depth of Imam Abū Ḥanīfah's knowledge in the field of hadith, which has been recognized throughout the history of Islam. Imam Abū Ḥanīfah dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Islam yang memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu fikih dan pemahaman hadis. Hubungan antara fikih dan hadis sangat erat, karena setiap keputusan syariah harus merujuk kepada wahyu, praktik Nabi Saw. atau analogi yang didasarkan pada kedua sumber utama tersebut. Karya-karya Imam Abū Ḥanīfah secara konsisten mengacu pada ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Saw. sebagai landasan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan metode Imam Abū Ḥanīfah dalam memahami, menafsirkan, serta menyebarkan hadis. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan analitis, makalah ini mengeksplorasi kontribusinya dalam periwayatan serta metodologi yang digunakannya dalam menilai hadis. Selain itu, penelitian ini juga menanggapi berbagai kritik yang muncul terhadap pemahaman dan pendekatan Imam Abū Ḥanīfah dalam hadis, serta meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di kalangan cendekiawan. Melalui analisis berbagai sumber dan pendapat ulama, tulisan ini menegaskan kredibilitas serta kedalaman ilmu Imam Abū Ḥanīfah dalam bidang hadis, yang telah diakui sepanjang sejarah Islam. 
Penafsiran Kata Al-Magḍūb dan Aḍ-Ḍāllīn dalam Tafsir At-Tanwir Karya Muhammadiyah Sirajuddin Bariqi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.17039

Abstract

One of the factors behind the emergence of tension and conflict between religious communities is the exclusive interpretation of religious texts. Therefore, to build and maintain peaceful coexistence between religious communities, producing inclusive religious interpretations is necessary. This article aims to examine how Muhammadiyah attempts to answer these needs. This is library research using descriptive-analytical methods. The primary source used is Muhammadiyah's Tafsir At-Tanwir. The inclusiveness of Tafsir At-Tanwir is manifest in the shift in the meaning of the words al-maghḍūb and al-ḍāllīn in Q.S. alFātiḥaḥ/1: 7, which is generally understood in a theological context - which emphasizes the subject dimension - to a sociological context - which emphasizes the cause dimension. Instead of interpreting al-maghḍūb as referring to Jews, Tafsir At-Tanwir interprets it as representing those who oppose the path of knowledge, hard work, and benefit. Similarly, al-ḍāllīn is no longer interpreted as referring to Christians, but as those who follow a path that does not lead to progress, prosperity, or ultimate happiness in the hereafter. On one side, the shift in meaning can be read as an effort from Muhammadiyah to minimize the occurrence of theological debates and/or tensions, and on the other side, it can be read as Muhammadiyah's effort to grow a high culture of civilization, namely by: (a) not becoming a wrathful person for being stupid, lazy, and destructive, and; (b) not becoming a misguided person for not being able to distinguish between ḥaq and bāṭil.Salah satu faktor yang melatarbelakangi munculnya ketegangan dan konflik antarumat beragama adalah penafsiran yang eksklusif terhadap teks-teks keagamaan. Oleh karena itu, dalam rangka membangun dan menjaga koeksistensi hubungan antarumat beragama, produksi tafsir keagamaan yang inklusif mutlak dibutuhkan. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana Muhammadiyah berupaya menjawab kebutuhan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Sumber primer yang digunakan adalah Tafsir At-Tanwir karya Muhammadiyah. Wujud inklusivitas Tafsir At-Tanwir adalah dengan menggeser makna kata al-maghḍūb dan al-ḍāllīn dalam Q.S. al-Fātiḥaḥ/1: 7 yang umumnya dipahami dalam konteks teologis --yang menekankan dimensi subjek—ke konteks sosiologis --yang menekankan dimensi sebab. Alih-alih memaknai al-maghḍūb sebagai Yahudi, Tafsir At-Tanwir memaknai kata tersebut sebagai bentuk oposisi dari jalan yang penuh ilmu, kerja keras, dan manfaat. Sementara kata al-ḍāllīn tidak lagi dimaknai sebagai Nasrani, tetapi jalan yang tidak mengarah pada kemajuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dunia akhirat. Di satu sisi, pergeseran makna itu dapat dibaca sebagai upaya dari Muhammadiyah untuk meminimalisir terjadinya perdebatan dan/atau ketegangan teologis, dan di sisi lain dapat dibaca sebagai upaya Muhammadiyah untuk menumbuhkan kultur peradaban yang tinggi, yakni dengan cara: (a) tidak menjadi orang yang dimurkai karena bodoh, malas, dan merusak, dan; (b) tidak menjadi orang yang sesat karena tidak mampu membedakan antara ḥaq dan bāṭil.   
تحقيق التوازن بين الفهم النصي والسياقي: دراسة منهج التفسير للحبيب عمر ابن حفيظ Muhamad Muhamad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 1 (2024): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.17129

Abstract

This research investigates the exegetical analysis of Surah Muhammad verses 17-19 as articulated by Habib Umar bin Hafidz. The emphasis is placed on its methodological framework and its implications within both global and contemporary paradigms. The methodologies employed encompass documentation analysis and critical analytical strategies. The findings of the inquiry indicate that the interpretation highlights the alignment between textual interpretation and context, thereby facilitating a profound comprehension that remains steadfast amidst evolving circumstances. Additionally, the outcomes of the research reveal how Habib Omar adeptly navigated traditional doctrines and modern ideologies, thereby ensuring that his interpretations are pertinent and comprehensible to a worldwide audience. Noteworthy discoveries encompass the significance of inner purification in Islamic teachings, the societal and spiritual worth of Quranic interpretation, and its impact on contemporary perspectives regarding Islam. These findings emphasize the necessity for a conscientious and contextualized approach to comprehending Islamic doctrine and for establishing a framework that enables Muslims to implement the teachings of the faith in their everyday lives.