cover
Contact Name
Muhamad Zaenal Muttaqin
Contact Email
mz.muttaqin@uinssc.com
Phone
+6282210831252
Journal Mail Official
diyaalafkar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : https://doi.org/10.24235/diyaafkar.v13i2
Core Subject :
Diya al-Afkar is a scholarly journal focusing on the study of the Qur’an and Hadith. This journal publishes scholarly articles in the form of studies on the sciences of the Qur’an and Hadith, interpretations and understandings of the Qur’an and Hadith, research findings-including both literature reviews and field research-related to the Qur’an or Hadith, and/or book reviews. The journal is published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
PENGARUH QIRĀ’ĀT TIGA TERHADAP PENAFSIRAN AL-RAḤMĀN: Studi Pola Perbedaan Shaykh ‘Abd-Fattāḥ ‘Abd al-Ghānī al-Qāḍī Fuadiyati Firdausiana
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18767

Abstract

The discourse of qirā'āt is an important discussion to be studied, due to the wide scope of knowledge accompanied by its lack of dissemination in the elements of Indonesian society. The dissemination of qirā'āt should be preserved as a form of relaying Qur'ānic knowledge from the Prophet. Especially the discussion of qirā'āt three mutammimah li al-'ashr, which are three complements of qirā'āt seven to become qirā'āt ten. This study aims to broadly introduce the qirā'āt three mutammimah li al-'ashr and provide an understanding of analyzing the differences in implications associated with interpretation. This study uses the approach of tafsir and qirā'āt criticism as well as the philological approach with the study of manuscripts. As an analytical tool, it uses the pattern of differences in qirā'āt designed by Shaykh ‘Abd-Fattāḥ ‘Abd al-Ghānī al-Qāḍī (d. 1402 AH). It is concluded that there are implications in the interpretation of various patterns, but it can be concluded in general that the first pattern of ikhtilāf fī al-lafẓi wa ittifāq fī al-ma'nā (different in pronunciation but consistent in meaning) is the majority Diskursus qirā’āt menjadi pembahasan yang penting untuk dikaji, disebabkan karena luasnya lingkup ilmu yang disertai dengan kurang tersebarluasnya di elemen masyarakat Indonesia. Penyebaran qirā’āt hendaknya terus dilestarikan sebagai bentuk estafet keilmuan Al-Qur’an yang bersambung dari Rasulullah Saw. Terutama pembahasan tentang qirā’āt tiga mutammimah li al-‘ashr, yang merupakan tiga pelengkap qirā’āt tujuh untuk menjadi qirā’āt sepuluh. Dengan adanya penelitian ini, ditujukan untuk dapat mengenalkan secara luas qirā’āt tiga mutammimah li al-‘ashr dan memberikan pemahaman analisa perbedaan implikasi yang dikaitkan dengan penafsiran. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir dan kritik qirā’āt serta pendekatan filologi dengan pengkajian naskah. Sebagai pisau analisa menggunakan pola perbedaan ragam qirā’āt yang dirancang Shaykh ‘Abd-Fattāḥ ‘Abd al-Ghānī al-Qāḍī (w. 1402 H) yang mengklasifikasikan perbedaan menjadi tanawwu’ dan taghayur. Dan menghasilkan kesimpulan, bahwa terdapat implikasi dalam penafsiran dengan pola yang beragam, namun dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa pola pertama ikhtilāf fī al-lafẓi wa ittifāq fī al-ma’nā (berbeda pada lafaz namun bersesuaian makna) menjadi mayoritas. 
DIMENSI KEBEBASAN DALAM AL-QUR’AN: Kajian Tafsir Maqāṣidī terhadap Nilai-Nilai Politik Muhammad Rahman; Said Agil Husin Al-Munawar; Arrazy Hasyim
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18808

Abstract

This study uses a qualitative descriptive method, and uses deductive analysis, namely explaining the political value of freedom in the Qur'an in Surah Yūnus verse 99 by combining verses that are relevant to the research and looking for correlations between verses, in order to obtain a complete and comprehensive paradigm. Then analyzed using the Maqāṣidī interpretation approach. The conclusion is that among the political values in the Qur'an that must be a reference for policy makers in national and state life is the value of freedom. When this freedom is implemented in public policy, it will have implications for the upholding of the maqashid of the Qur'an and the maqashid of sharia, namely; ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-'aql and ḥifẓ al-māl. Penelitian ini menggunakan metode jenis deskriptif yang bersifat kualitatif, dan mempergunakan analisis deduktif yaitu memaparkan nilai politik kebebasan dalam Al-Qur’an pada Surah Yūnus ayat 99 dengan cara mengkombinasikan ayat-ayat yang relevan dengan penelitian serta mencari korelasi antar ayat, guna mendapatkan paradigma yang utuh dan komprehensip. Kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tafsir Maqāṣidī. Adapun konklusinya, bahwa di antara nilai-nilai politik dalam Al-Qur’an yang harus menjadi acuan para pemegang kebijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu nilai kebebasan. Ketika kebebasan ini diimplementasikan dalam kebijakan publik akan berimplikasi tegaknya maqashid Al-Qur’an dan maqashid syariah yaitu; ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-’aql dan ḥifẓ al-māl.  
MODEL TAFSIR MAQĀṢIDĪ ALA MUHAMMADIYAH: Studi Ayat-Ayat Tentang Konsep Negara dalam Tafsir At-Tanwir Ahmad Zaeni; Siti Hajar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18831

Abstract

This article examines the analytical model of Maqāṣidī interpretation of verses about the state according to Muhammadiyah. Muhammadiyah has produced institutional tafsir works, such as Tafsir At-Tanwir. One of its interpretations addresses verses about the state, which gave rise to the concept of Dār al-‘Ahd wa al-Shahādah. This concept orbits around the values of mercy and moderation while considering current and contemporary contexts. Such an interpretation represents a Maqāṣidī approach that actualizes Qur'anic values to benefit present-day realities. This study is crucial because Muhammadiyah, one of the world's largest Islamic organizations, offers a unique Maqāṣidī interpretation model that contributes significantly to the discourse on moderation. The methodology employed to construct the Muhammadiyah-style Maqāṣidī Tafsir model for state-related verses includes inductive reasoning and content analysis. The findings of this study are twofold: first, Muhammadiyah interprets state-related verses using a thematic-taḥlīlī approach combined with the Maqāṣidī method; second, the Muhammadiyah-style Maqāṣidī interpretation model consists of five procedural steps: i) collecting all verses relevant to the theme through linguistic analysis and intratextual methods; ii) examining prophetic traditions or hadiths related to the verses using intertextual methods; iii) extracting ethical values by identifying connections between relevant verses, their historical context, and contextual hadith dialectically (intertextual analysis); iv) determining dynamic Maqāṣid based on the complexity of current and contemporary contexts; and v) conceptualizing the findings. Artikel ini bertujuan untuk membahas model analisis tafsir Maqāṣidī terhadap ayat-ayat tentang negara menurut Muhammadiyah. Muhammadiyah telah menghasilkan buku tafsir kelembagaan seperti Tafsir At-Tanwir. Salah satu produk penafsirannya adalah tafsir ayat-ayat tentang negara yang telah melahirkan konsep Dār al-‘Ahd wa al-Shahādah (negara hasil konsensus dan negara kesaksian), dengan menjadikan nilai rahmah dan moderasi sebagai orbit penafsiran disertai mempertimbangkan kondisi kekinian dan kedisinian. Penafsiran semacam ini merupakan produk pendekatan Maqāṣidī yang mereaktualisasikan nilai universal al-Qur’an untuk kemaslahatan yang sesuai kondisi kekinian. Kajian ini penting karena Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, menawarkan model tafsir Maqāṣidī yang unik, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap wacana moderasi. Metode yang digunakan untuk mengonstruk model Tafsir Maqāṣidī ala Muhammadiyah terkait ayat-ayat negara ini terdiri dari metode istqirā’ (induktif) dan metode analisis isi.  Hasil penelitian ini yaitu pertama,  penafsiran Muhammadiyah terkait ayat-ayat negara menggunakan metode Taḥlīlī tematik cum Maqāṣidī; kedua, secara teknis model tafsir Maqāṣidī ala Muhammadiyah terdiri dari lima langkah penafsiran yaitu; i) menghimpun seluruh ayat yang relevan dengan tema (analisis bahasa dan metode intratekstualitas); ii) penelusuran tradisi kenabian (hadis) yang relevan dengan ayat (metode intertekstualitas); iii) mengekstrak nilai-nilai etis dengan cara menentukan berbagai kaitan antara ayat yang relevan dengan konteks historisnya lalu menghubungkan secara dialektis dengan kontekstual hadis (secara intertekstual); iv) menentukan Maqāṣid yang dinamis berdasarkan kompleksitas konteks kekinian dan kedisinian; dan v), konseptualisasi.  
LIVING QUR’AN DALAM TRADISI PEMBACAAN SURAH AL-INSHIRĀH DI LEMBAGA TAMAN PENDIDIKAN IHYAUL ULUM CANGAAN GRESIK Kurnia Wahidah; Ahmad Saddad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 12 No. 2 (2024): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18850

Abstract

This research examines the tradition of reciting Surah Al-Inshirāh at the Ihyaul Ulum Education Park Institution in Cangaan, Gresik Regency, from the perspective of Living Qur'an. The study aims to reveal the "because" and "in order" motives of this tradition using Alfred Schutz's phenomenological approach. Data was collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the "because motive," or the reason motive, includes remembering Allah SWT, obtaining rewards, following OSIS regulations, and knowing the virtues of Surah Al-Inshirāh. Meanwhile, the "in order motive," or the purpose motive, includes istiqomah (consistency), a calmer heart, obtaining the virtues of the surah, increasing faith in Allah, and facilitating memorization and preventing forgetfulness. The tradition of reciting Surah Al-Inshirāh has the potential to be applied in other Islamic educational institutions, with the impact of increasing student spirituality, which can be adapted through integration into daily activities and providing understanding of its meaning and virtues. Penelitian ini mengkaji tradisi pembacaan Surah Al-Inshirāh di Lembaga Taman Pendidikan Ihyaul Ulum Cangaan Kabupaten Gresik dalam perspektif Living Qur'an. Penelitian bertujuan untuk mengungkap motif "because" dan "in order" dari tradisi ini menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa Because motive, atau motif sebab, meliputi mengingat Allah Swt., mendapatkan pahala, mengikuti peraturan OSIS, dan mengetahui fadilah dari Surah Al-Inshirāh. Sementara itu, in order motive, atau motif tujuan, mencakup istiqomah, hati menjadi lebih tenang, mendapatkan faḍīlah dari surah tersebut, meningkatkan iman kepada Allah, serta memudahkan dalam menghafal dan tidak mudah lupa. Tradisi pembacaan Surah Al-Inshirāh memiliki potensi untuk diterapkan di lembaga pendidikan Islam lainnya, dengan dampak peningkatan spiritualitas siswa yang dapat diadaptasi melalui integrasi dalam kegiatan harian dan pemberian pemahaman tentang makna serta fadhilahnya. 
TAFSIR TEKS KEAGAMAAN OLEH PEMUDA MUSLIM DI DESA PLAJAN JEPARA UNTUK MODERASI BERAGAMA Nur Mahmudah; Abdullah Abdullah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11 No. 02 (2023): Desember
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.19662

Abstract

Moderate reasoning in religion cannot be separated from the understanding of religious texts by its adherents. Youth are a strategic part of society who are expected to continue and maintain the values and traditions of religious moderation. The residents of Plajan Jepara village adhere to four religions, namely Islam, Hinduism, Christianity and Buddhism.  This article aims to describe the form of religious tolerance in Plajan village and explain the youth's understanding of religious texts that support good practices of religious moderation in Plajan village. The research was carried out in the form of field research with a qualitative approach that explored data from 10 respondents from Muhammadiyah and Nahdhatul Ulama.  This article concludes that the good practice of religious moderation in Plajan village is based on a number of things, namely a history of peace, mutual cooperation, acceptance of other parties and based on local culture. This practice of religious moderation is supported by the government and local religious leaders. These values influence youth leaders who strive to maintain the  peace  theology and mutual cooperation between religious believers. Religious texts are understood by young people as the embodiment of divine values which provide freedom of religion (lakum dinukum wa liyadin), respect for neighbors and relatives and mutual love for each other. Thus, understanding religious texts is directed at supporting the function of religion as a unifier. Membentuk nalar moderat dalam beragama tidak dapat dilepaskan dari pemahaman teks keagamaan oleh para pemeluknya. Pemuda merupakan bagian masyarakat strategis yang diharapkan menjadi pelanjut dan perawat nilai dan tradisi moderasi beragama. Penduduk desa Plajan Jepara  memeluk empat agama yaitu Islam, Hindu, Kristen dan Budha.  Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud toleransi beragama di desa Plajan dan menjelaskan pemahaman para pemuda atas teks keagamaan yang mendukung praktik baik moderasi beragama di desa Plajan. Penelitian dilakukan berjenis field research dengan pendekatan kualitatif yang menggali data dari responden berjumlah 10 orang dari unsur Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama.  Artikel ini menyimpulkan praktik baik moderasi beragama di desa Plajan dilatarbelakangi oleh sejumlah hal yaitu sejarah damai,  kegotongroyongan,  peneriman atas pihak lain dan berbasis budaya lokal. Praktik moderasi beragama ini didukung oleh pemerintah dan pemuka agama setempat. Nilai-nilai ini mempengaruhi para tokoh pemuda yang berupaya merawat filosofi damai dan gotong rotong antar pemeluk agama. Teks keagamaan dipahami oleh para pemuda sebagai pengejawantahan nilai-nilai ke-Tuhanan yang memberikan kebebasan beragama (lakum dinukum wa liyadin), penghormatan kepada tetangga dan kerabat serta saling mengasihi sesama. Dengan demikian, pemahaman teks keagamaan diarahkan unuk mendukung fungsi agama sebagai pemersatu.
KONTEKSTUALISASI HADIS “KECANTIKAN SEBAGAI SALAH SATU KRITERIA PEREMPUAN IDAMAN” TERHADAP KAUM DIFABEL: Analisis Hermeneutika Double Movement Fazlur Rahman Muhammad Alfreda Daib Insan Labib; Khulanah Khulanah; Muhammad Ghossan Nazhif Dhiya’elhaq; Hanan Aslamiyah Thoriq
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.19980

Abstract

This article discusses the analysis of hadiths related to the criteria for women in Islam who are recommended to marry. Of the four criteria mentioned (beauty, wealth, lineage, and religion), the researcher specified the study to one of the four, namely beauty. This is the background to the widespread use of this hadith as defence against refusing to marry women who are not beautiful, especially those with disabilities. Misunderstanding of this hadith has implications for discrimination against people with disabilities. This research method is descriptive analysis, namely describing the data that has been collected and then analyzing the data. Some of the focuses of discussion in this article include; 1). What is the quality of the hadith on the four criteria for a dream woman in Islam? 2). What is the meaning of this hadith if analyzed using hermeneutics double movement Fazlur Rahman? 3). How to address societal heterogeneity in the interpretation of this hadith? One of the conclusions from this article is that the meaning of hadith like this actually tends to create division rather than problem solving, so it is necessary to provide proper socialization and interpretation of the hadith on the four criteria for the ideal woman.Tulisan ini membahas tentang analisis hadis terkait krtieria perempuan dalam Islam yang dianjurkan untuk dinikahi. Dari empat kriteria yang disebutkan (kecantikan, harta, nasab, dan agama), peneliti menspesifikasikan kajian kepada salah satu di antara empat, yaitu kecantikan. Hal ini di latar belakangi maraknya penggunaan hadis ini sebagai defence terhadap penolakan menikahi perempuan yang tidak cantik terlebih difabel. Salahnya pemahaman hadis tersebut berimplikasi pada diskriminasi terhadap kaum difabel. Metode penelitian ini adalah deskritif analisis, yaitu melakukan deskripsi terhadap data yang telah dihimpun kemudian melakukan analisis terhadap data tersebut. Beberapa fokus pembahasan dalam tulisan ini di antaranya adalah; 1). Bagaimana kualitas hadis empat kriteria perempuan idaman dalam Islam? 2). Bagaimana makna hadis tersebut jika dianalisis menggunakan hermeneutika double movement Fazlur Rahman? 3). Bagaimana menyikapi hegerogenitas masyarakat dalam interpretasi hadis tersebut? Di antara kesimpulan dari tulisan ini salah satunya adalah pemaknaan hadis yang seperti itu justru cenderung menghadirkan perpecahan daripada problem solving, sehingga perlu diberikan sosialisasi dan interpretasi yang tepat terhadap hadis empat kriteria wanita idaman. 
SIGNIFIKASI POTRET PEREMPUAN MULIA DALAM AL-QUR’AN SERTA KORELASINYA DENGAN PRINSIP KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER Lu'luatul Aisyiyyah; Wildan Taufiq; Eni Zulaiha
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20424

Abstract

This study aims to examine the Qur'anic verses that contain noble female figures using Roland Barthes' signification theory approach. Signification enriches the understanding of God's word through linguistic and mythical analysis. The object of study includes seven female figures immortalized in the Qur'an, namely Maryam, the mother of Moses, Asiyah, Bilqis, two daughters of Prophet Shu'aib, Siti Sarah, and Siti Hajar. This research uses a qualitative method based on library research, with a thematic approach (dirāsat al-mawḍū'iyyah) to one main verse of each character. The results of the analysis show that the portraits of these noble women not only serve as ibrah, but also reflect the principles of gender equality and justice. The reinterpretation of these figures reveals the spiritual and social roles of women in the construction of revelation. The novelty of this research lies in the specific focus on female figures endowed with noble degrees in the Qur'an as well as the integration of Barthes' semiotic approach with the discourse of gender equality. The findings contribute to the development of gender-sensitive Qur'anic interpretation and open up space for a fairer interpretation of the role of women in religious texts. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tokoh-tokoh perempuan mulia dengan menggunakan pendekatan teori signifikasi Roland Barthes. Signifikasi memperkaya pemahaman firman Allah melalui analisis linguistik dan mitos. Objek kajian mencakup tujuh tokoh perempuan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yakni Maryam, ibunda Musa, Asiyah, Bilqis, dua putri Nabi Syu’aib, Siti Sarah, dan Siti Hajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research), dengan pendekatan tematik (dirāsat al-mawḍū‘iyyah) terhadap satu ayat utama dari masing-masing tokoh. Hasil analisis menunjukkan bahwa potret perempuan-perempuan mulia tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ibrah, tetapi juga mencerminkan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan gender. Pemaknaan ulang terhadap figur-figur tersebut mengungkap peran spiritual dan sosial perempuan dalam konstruksi wahyu. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik terhadap tokoh perempuan yang dikaruniai derajat mulia dalam Al-Qur’an serta integrasi pendekatan semiotika Barthes dengan wacana kesetaraan gender. Temuan ini berkontribusi terhadap pengembangan tafsir Al-Qur’an yang peka gender dan membuka ruang pemaknaan yang lebih adil terhadap peran perempuan dalam teks keagamaan.
METODOLOGI KRITIK HADIS ‘Ā`IḌ AL-QARNĪ: Telaah Normatif dan Kontekstual terhadap Karya-karyanya Ilham Ramadan Siregar; Asrul Hamid; Raja Ritonga; Muhammad Irsan Barus; Andri Muda Nst; Zuhdi Hsb
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20427

Abstract

This study examines ‘Ā`iḍ al-Qarnī's approach to understanding ḥadīth, focusing on matan analysis and the application of maqāṣid al-sharī‘ah in contextual interpretation. The research method used is qualitative through a literature review of ‘Ā`iḍ al-Qarnī's works and classical and contemporary ḥadīth literature. The main findings indicate that al-Qarnī criticises the literalist approach to ḥadīth matan, which often overlooks the maqāṣid dimension, and offers a thematic understanding model that integrates social context and universal Islamic values. Although he does not explicitly develop a methodology for sanad criticism, al-Qarnī emphasises the validity of meaning and the relevance of ḥadīth messages in the context of modern life. This study contributes theoretically by expanding the discourse on contemporary ḥadīth methodology through the integration of textual validity and maqāṣid al-sharī‘ah, while also providing practical implications for the renewal of a more adaptive and applicable approach to ḥadīth studies in modern Islamic education. Penelitian ini mengkaji pendekatan ‘Ā`iḍ al-Qarnī dalam memahami hadis dengan fokus pada analisis matan dan penerapan maqāṣid al-sharī‘ah dalam tafsir kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya ‘Ā`iḍ al-Qarnī dan literatur hadis klasik serta kontemporer. Temuan utama menunjukkan bahwa al-Qarnī mengkritisi pendekatan literalistik terhadap matan hadis yang sering mengabaikan dimensi maqashid, serta menawarkan model pemahaman tematik yang mengintegrasikan konteks sosial dan nilai universal Islam. Meskipun tidak membangun metodologi kritik sanad secara eksplisit, al-Qarnī menekankan validitas makna dan relevansi pesan hadis dalam konteks kehidupan modern. Studi ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas wacana metodologi hadis kontemporer melalui integrasi antara validitas tekstual dan maqāṣid al-sharī‘ah, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi pembaruan pendekatan studi hadis yang lebih adaptif dan aplikatif dalam pendidikan Islam modern.
TAKHRĪJ HADIS TAWĀZUN DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM BUKU AL-QUR’AN HADIS KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH Anadita Veria Sandi; Romlah Abubakar Askar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20674

Abstract

The principle of tawāzun (balance) in Islam holds a central position as a foundation for character building and education that integrates spiritual aspects with social life. This article examines the hadiths on tawāzun presented in the Al-Qur’an Hadith textbook for Grade VIII of Madrasah Tsanawiyah, published by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. The study employs a library research approach with the method of takhrīj al-hadith to trace the chain of transmission (sanad) and the text (matan) of the hadiths used as references. The findings indicate that the tawāzun hadiths in the textbook originate from authoritative hadith collections, particularly Ṣaḥīḥ Muslim and Sunan al-Nasā’ī, and are classified as authentic in terms of both sanad and matan. The content of these hadiths emphasizes the necessity of maintaining balance in life, covering both worship and worldly activities. The Islamic educational values contained therein include moderation, responsibility, harmony between the physical and spiritual, as well as awareness of life’s holistic purpose. Thus, the tawāzun hadiths are highly relevant as a basis for Islamic character education in shaping students’ moderate and balanced attitudes. Prinsip tawāzun (keseimbangan) dalam Islam menempati posisi penting sebagai landasan pembentukan karakter dan pendidikan yang menyatukan aspek spiritual serta sosial kemasyarakatan. Artikel ini mengkaji hadis-hadis tentang tawāzun yang terdapat dalam buku al-Qur’an Hadis kelas VIII Madrasah Tsanawiyah terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan metode takhrīj hadis untuk menelusuri sanad dan matan hadis yang dijadikan rujukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis-hadis tawāzun dalam buku tersebut bersumber dari kitab-kitab hadis otoritatif, terutama Ṣaḥīḥ Muslim dan Sunan al-Nasā’ī, serta dinilai sahih dari segi sanad dan matannya. Kandungan hadis-hadis tersebut menegaskan pesan penting mengenai keseimbangan hidup dalam aspek ibadah dan aktivitas duniawi. Nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung meliputi moderasi, tanggung jawab, harmoni jasmani dan rohani, serta kesadaran akan tujuan hidup yang holistik. Dengan demikian, hadis tawāzun relevan dijadikan dasar pendidikan karakter Islami dalam membentuk sikap moderat dan seimbang bagi peserta didik. 
TANTANGAN METODE TAFSIR TAḤLĪLĪ DI ERA MILENIAL Didi Junaedi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20886

Abstract

This paper discusses the challenges of using the taḥlīlī interpretation method -as one of the methods of interpreting the Quran, which is very popular and has become the method of the majority of commentators in writing their commentary books- in the millennial era. This research is a library research using descriptive-analytical method. From the results of the study, the author concluded that this method, although it has drawbacks because the scope of the discussion is very broad, partial, not thematic, but this method can also be an alternative choice for millennials in understanding the Qur'an, if packaged properly, using popular scientific language. , by presenting the moral message of each verse in the studied sura. The results of this study indicate that the taḥlīlī interpretation method, if presented with a new paradigm, is adapted to the current context, uses popular scientific language, and is presented concisely, by taking the moral message from each verse, then conclusions are drawn in the form of moral values from the sura , remains relevant to the current context and is able to answer the needs of millennials.Tulisan ini membahas tentang tantangan penggunaan metode tafsir taḥlīlī---sebagai salah satu metode tafsir al-Qur’an, yang sangat populer dan menjadi metode mayoritas ulama tafsir dalam menulis kitab tafsir mereka--- di era milenial. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Dari hasil kajian penulis disimpulkan bahwa metode ini, meskipun memiliki kekurangan karena cakupan bahasannya sangat luas, parsial, tidak tematik, tetapi metode ini juga bisa menjadi alternatif pilihan kaum milenial dalam memahami al-Qur’an, jika dikemas dengan baik, menggunakan bahasa ilmiah populer, dengan menghadirkan pesan moral dari setiap ayat dalam surat yang dikaji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode tafsir taḥlīlī, jika dihadirkan dengan paradigma baru, yaitu menyesuaikan dengan konteks kekinian, menggunakan bahasa ilmiah populer, serta disajikan dengan ringkas, dengan mengambil pesan moral dari setiap ayat, kemudian ditarik kesimpulan berupa nilai-nilai moral dari surah tersebut, tetap relevan dengan konteks kekinian dan mampu menjawab kebutuhan kaum milenial.