cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Topik-topik yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan, teknologi penangkapan, desain alat tangkap, fish behaviour, experimental fishing, fishing boat desain, fishing port management, sosial ekonomi perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 4: Oktober, 2014" : 15 Documents clear
PERBEDAAN JENIS UMPAN DAN MATA PANCING TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN LAYUR (Trichiurus sp) DI PERAIRAN LEMPASING, BANDAR LAMPUNG Jaya, Muhammad Sapta Dian; Pramonowibowo, -; Fitri, Aristi Dian Purnama
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.946 KB)

Abstract

Kegiatan penangkapan ikan layur di Lempasing umumnya menggunakan pancing vertical longline. Hal ini dikarenakan ikan layur yang ditangkap dengan pancing layur kondisinya masih bagus dan segar sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Penggunaan umpan dan ukuran mata pancing yang efektif akan dapat memberikan hasil tangkapan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hasil tangkapan ikan layur terhadap penggunaan umpan dan ukuran mata pancing yang berbeda serta menganalisis hubungan interaksi antara pemakaian mata pancing dan jenis umpan terhadap hasil tangkapan layur.Penelitian ini menggunakan metode eksperimental fishing antaralain dengan 4 perlakuan yaitu (tembang, layur, nomor 8, dan nomor 10). Masing-masing dilakukan dengan 10 kali ulangan. Analisis data menggunakan uji Kenormalan data dan uji ANOVA dengan SPSS 17.0.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan umpan tembang dan umpan layur pada penelitian ini berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan layur hal ini dilihat dari hasil tangkapan umpan layur bernomor 8 sebanyak 67 ekor, dan umpan layur bernomor 10 sebanyak 43 ekor, serta umpan tembang bernomor 8 sebanyak 24 ekor, dan umpan tembang bernomor  10 sebanyak 19 ekor. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa, dimana menggunakan alat tangkap pancing dengan kombinasi umpan layur dan ukuran mata pancing nomor 8 lebih baik digunakan. Fishing activities of layur in Lempasing generally use vertical longline fishing This is because layur fish caught by fishing rod layur conditions are still nice and fresh so it was a high selling value. The use of bait and hook size that will be able to effectively provide good catches. The purpose of this study was to analyze layur catches against the use of bait and hooks of different sizes as well as analyzing the interaction between the the use of hooks and the type of bait to layur catches. This study uses an experimental fishing include with 4 treatments, namely (tembang, layur, number 8 and number 10). Each performed with 10 replications. Analysis of data using the test data normality and ANOVA test with SPSS 17.0. The results showed that differences in tembang lures and baits layur in this study affect the number of catches layur it is seen from the catch bait layur numbered 8, 67 tails, and bait layur numbered 10 by 43 tail, and feed as many as 24 tambang numbered 8 tails , and feed as many as 19 tembang numbered 10 tails. ANOVA test results indicate that, where the use of fishing rod gear and bait combination Layur hook size number 8 is better used.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (GIS) DALAM PENENTUAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN TERI (Stolephorus spp) DI PERAIRAN PEMALANG JAWA TENGAH Saifudin, -; Fitri, Aristi Dian Purnama; Sardiyatmo, -
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.785 KB)

Abstract

Kegiatan penangkapan ikan teri (Stolephorus spp.) akan lebih efektif dan efisien apabila daerah penangkapan bisa diprediksi terkait dengan pengetahuan tentang penyebaran daerah penangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran klorofil-a dan suhu permukaan laut, menganalisis hasil tangkapan dan daerah penangkapan ikan teri (Stolephorus spp.) berdasarkan citra satelit Aqua MODIS melalui klorofil-a dan suhu permukaan laut serta parameter oceanografi (kecepatan arus, kedalaman dan salinitas) sebagai parameter pendukung, menggunakan alat tangkap puring di perairan Pemalang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dan metode analisis regresi linear berganda. Hasil analisis menunjukan bahwa sebaran klorofil a di perairan Pemalang berkisar antara 2 sampai 3 mg/m3dan sebaran suhu permukaan laut berkisar antara 29 sampai 32 0C. Berdasarkan uji statistik klorofil a, Suhu Permukaan Laut, kecepatan arus, kedalaman, salinitas  secara bersama-sama berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus spp.) tetapi faktor yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan di perairan Pemalang Jawa Tengah adalah khlorofil-a. Fishing activities anchovy (Stolephorus spp.) would be more effective and efficient when fishing area can be predicted associated with the spread of knowledge about arrest. The aim of this research is to determine distribution of chlorophyll-a and sea surface temperature, analyzing catches and fishing ground anchovies (Stolephorus spp.) based on Aqua MODIS satellite imagery through chlorophyll-a and sea surface temperatures and oceanographic parameters (flow velocity, depth and salinity ) as supporting parameters, using fishing gear puring in waters Pemalang. The method used in this research is descriptive method and the method of multiple linear regression analysis. The results of the analysis showed the distribution of chlorophyll a in the waters Pemalang ranging from 2 to 3 mg / m3 dan distribution of sea surface temperatures range from 29 to 32 ᴼC. Based on chlorophyll a statistical test, Sea Surface Temperature, flow velocity, depth, salinity jointly influence on anchovies (Stolephorus spp.) catches  But the factors that showed significant influence on catches In waters Pemalang Central Java is the chlorophyll-a.  
PENGARUH PERBEDAAN MATA JARING (MESH SIZE) GILLNET TERHADAP CARA TERTANGKAP IKAN KEMBUNG PEREMPUAN (Scomber neglectus) DI PERAIRAN MORODEMAK, KABUPATEN DEMAK Making, Alberth Duli Lopot; Asriyanto, -; Yulianto, Taufik
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.442 KB)

Abstract

Perairan Morodemak merupakan laut tempat muara dari Sungai Tuntang Lama. Ikan kembung (scomber neglectus) adalah salah satu ikan hasil tangkapan jaring insang (gillnet), yang  termasuk jenis ikan ekonomis penting yang memiliki potensi cukup tinggi di Perairan Morodemak. Jaring insang (gillnet) adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi pemberat-pemberat pada tali ris bawah dan pelampung pada tali ris atas. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui dan menganalisis total hasil tangkapan ikan kembung perempuan terhadap perbedaan mesh size 1,75 inchi dan 2 inchi, perbedaan cara tertangkap ikan dan ada tidaknya interaksi antara perbedaan mesh size dengan cara tertangkap terhadap hasil tangkapan ikan kembung perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental fishing. Metode eksperimental ini adalah observasi di bawah kondisi buatan, dimana kondisi tersebut dibuat oleh peneliti. Hasil penelitian adalah pada penggunaan mesh size yang berpengaruh nyata terhadap jumlah maupun berat hasil tangkapan ikan kembung perempuan, dimana jaring dengan ukuran mesh size 1,75 inchi mempunyai jumlah dalam ekor maupun berat hasil tangkapan ikan kembung perempuan yang lebih banyak daripada penggunaan mesh size 2 inchi; Adanya perbedaan nyata jumlah maupun berat antara ikan yang terjerat dengan cara tertangkap dari total hasil tangkapan ikan kembung perempuan, dimana dari total hasil tangkapan ikan lebih banyak tertangkap dengan cara gilled; dan adanya interaksi antara perbedaan mesh size 1,75 inchi dan 2 inchi dengan perbedaan cara tertangkap gilled dan entangled terhadap jumlah ekor maupun berat hasil tangkapan ikan kembung perempuan (Scomber neglectus). Morodemak waters was where the estuary of Tuntang Lama River. Short Mackerel (Scomber neglectus) was one of the fishing net, which include economically important species of  fish that have a high enough potential in Morodemak waters. Gillnet is a net of rectangular equiped with sinkers on the bottom rope and float on the head rope. The purpose was knowing and analyzing total short mackerel catch on the difference mesh size of 1.75 inch  and 2 inch, differences in the way the fish caught and whether there was interaction between the different mesh size in a way caught on short mackerel catches. The method was experimental fishing. This experimental method was observation under artificial conditions, where the conditions created by the researcher. The result was in the use of mesh size which significantly affect the number and weight of short mackerel catches, where nets with a mesh size of size 1.75 inch and have a total weight in the short mackerel catches more than the use of mesh size 2 inch; the existence of significant differences between the number and weight of fish caught by means caught from total catch short mackerel, where of the total catch more fish caught by means of gilled, and the interaction between the different mesh size of 1.75 inch and 2 inch with difference in the way caught gilled and entangled to the quantity and weight of short mackerel catches (Scomber neglectus).
MANAJEMEN KOLABORATIF UNTUK INTRODUKSI PENGELOLAAN RAJUNGAN YANG BERKELANJUTAN DI DESA BETAHWALANG, DEMAK Abidin, Zaenal; Bambang, Azis Nur; Wijayanto, Dian
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.903 KB)

Abstract

Desa Betahwalang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah merupakan wilayah yang memiliki potensi perikanan tangkap. Rajungan merupakan komoditas tangkapan paling tinggi di perairan pantai tersebut. Aktivitas penangkapan yang tidak terkendali dan terus menerus dapat menyebabkan over fishing dan berakibat menurunnya ketersediaan rajungan di perairan Betahwalang. Kegiatan pengelolaan rajungan yang berkelanjutan akan menjaga kelestarian dan ketersediaan rajungan pada masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengelolaan yang sedang berjalan kemudian merumuskan manajemen kolaboratif yang baru untuk pengelolaan yang berkelanjutan. Berdasarkan observasi yang dilakukan terdapat banyak kegiatan penangkapan rajungan yang belum terstruktur, sehingga perlu pelaksanaan program baru yang bersifat konservasi seperti pembenihan, pembangunan area perlindungan, pembatasan minimum ukuran rajungan yang tertangkap, serta pengawasan yang berkala terhadap peraturan yang telah dibuat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dan metode pemberian skor terhadap jawaban responden dengan skala Guttman. Berdasarkan skala guttman diperoleh hasil rata-rata skor 20 dari 50 responden sehingga presentase skor adalah 40% yang dikategorikan dalam kriteria kurang efektif. Kurang efektifnya peraturan yang telah dibuat adalah karena kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat Betahwalang dan masih lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan. Betahwalang Village, Demak, Central Java, is a territory that has the potential fisherie.  Swimming crab  is the highest catch commodity in these coastal sea. Uncontrolled and continuously fishing activity cause over fishing and decreasing the availability of crabs in Betahwalang sea. Sustainable crab management activities will preserve the availability of small crab on the future. The purpose of this study was to determine the management system then to formulate a new collaborative management for sustainable management. Based on observations, there are many unstructured small crab fishing activities. Therefore, the implementation of new conservative programs are needed, such as seeding, construction of protection area, restrictions on the minimum size of crabs caught and periodic monitoring of the rules that have been made. Used in this study is discriptive method and to scoring respondent’s answers is using Guttman scale method. Based on Guttman scale, the average yield score is 20 out of 50 respondents so that the precentage score is 40% which is categorized in less effective criteria. The effective regulation due the lack of socialization to Betahwalang society and the weakness of the regulatory implementation.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ALAT TANGKAP BUBU (BAMBU, KAWAT, LIPAT) SERTA PENGARUH UMPAN PADA PENANGKAPAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) DI PERAIRAN RAWA PENING Putri, Laras Puspa Anggraini; Pramonowibowo, -; Setiyanto, Indradi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.55 KB)

Abstract

Perairan Rawa Pening memiliki salah satu spesies introduksi bernilai ekonomis tinggi yaitu lobster air tawar jenis Red claw (Cherax quadricarinatus). Produksi udang air tawar yang didalamnya termasuk jenis lobster air tawar di perairan Rawa Pening mencapai 95.200 kg pada tahun 2012. Nelayan setempat biasa menangkap lobster air tawar dengan menggunakan alat tangkap perangkap yaitu bubu yang terbuat dari bambu dan kawat. Diperlukan teknologi penangkapan ikan yang lebih mengarah pada penggunaan teknologi penangkapan ikan yang efektif dan efisien, yaitu lewat uji coba alat tangkap baru menggunakan bubu lipat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian umpan dan jenis bubu yang terdiri dari bubu bambu, bubu kawat, dan bubu introduksi yang dibawa oleh peneliti yaitu bubu lipat terhadap hasil tangkapan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus), serta menentukan alat tangkap paling efektif dalam menangkap lobster air tawar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini berupa 3 jenis bubu, yaitu bubu bambu memiliki panjang 80 cm dan diameter mulut bubu 20 cm, menggunakan bambu sebagai bahan pembuatanya; bubu kawat memiliki panjang 80 cm dan diameter mulut bubu 14 cm; serta bubu lipat memiliki panjang 45 cm, lebar 31 cm, dan tinggi 17 cm. Umpan yang digunakan pada bubu lipat ini yaitu keong mas, serta tanpa umpan sebagai kontrol. Penelitian ini dilakukan pada perairan Rawa Pening, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2014. Analisis data yang dilakukan adalah analisis One Way Anova dengan bantuan program SPSS 16. Hasil penelitian menunjukkan pemberian umpan tidak berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan. Jenis alat tangkap bubu yang berbeda tidak berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan. Efektivitas penangkapan tertinggi didapatkan pada alat tangkap bubu lipat. Fresh water lobster or crayfish (Cherax quadricarinatus) has one of introduction species in Rawa Pening, it has high economical value. In 2012 the productions of crayfish (Cherax quadricarinatus) up to 95.200 kg. Bamboo and wire traps mostly use for catch crayfish by local fisherman. To maximized the catch new technology will introduce, in this case folding traps will be used. The aim of this research is to now catchability of folding traps for catch crayfish (Cherax quadricarinatus), weather baited or not baited folding traps, and determine the most effective fishing gear in capturing crayfish. This research used experimental methods. In this research three kind of traps which made of bamboo, wire, and introduction folding trap were used and specification are the bamboo trap’s length was 80 cm with 20 cm of mouth diameters and made by bamboo; wire trap with 80 cm length and 14 cm mouth diameters; and also folding trap with 45 cm length 31 cm width, 17 cm height. Snail is used as a bait in this research of the fishing gear and unbaited for the control. This research was conducted in Rawa Pening Waters, Asinan Village, Bawen District, Semarang Regency, Central Java Province. The research held on March to April 2014. One Way Anova analysis is used to analyze the data within the help of SPSS 16 program. Is the result baited traps has no significantly different with unbaited traps. Also the different of trap designs has no significantly different too for catching crayfish (Cherax quadricarinatus). But folding trap has the best catchability for crayfish (Cherax quadricarinatus). 
PENGARUH KEDALAMAN DAN SUHU MENGGUNAKAN FISH FINDER TERHADAP HASIL TANGKAPAN ARAD (SMALL BOTTOM TRAWL) DI PERAIRAN REMBANG Ayowa, Yonathan Triyoga; Bambang, Aziz Nur; Rosyid, Abdul
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.834 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kedalaman dan suhu yang diukur menggunakan fish finder terhadap hasil tangkapan arad serta kajian teknisnya di perairan Rembang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2013. Materi yang digunakan penelitian ini adalah kedalaman, suhu, fish finder dan hasil tangkapan di perairan Rembang. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian juga uji regresi digunakan untuk analisis data di penelitian ini.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedalaman dan suhu tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan arad dan kajian teknis yaitu estimasi bukaan otterboard didalam perairan adalah 7,5m dan 5,08m. The objective of this research are to know the effect of depth and temperature were measured using a fish finder to catch arad and technical studies in the waters of Rembang. This research held in August-September 2013. Material used in this research is depth, temperature, fish finder and arad catching in the waters of Rembang. The research carried out by descriptive method. Primary and secondary data was used in this research also regression testing was used for data analysis on this research. The research showed that the depth and temperature does not affect the arad catching and technical studies that estimate otterboard openings in the waters is 7,5m and 5,08m.
PENGARUH PERBEDAAN UMPAN DAN WAKTU PENGOPERASIAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) DENGAN ALAT TANGKAP PANCING RENTENGAN (RAWAI) DI RAWA JOMBOR KABUPATEN KLATEN Falah, Safrizal Nur; Asriyanto, -; Setiyanto, Indradi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.753 KB)

Abstract

Perairan Rawa Jombor merupakan salah satu perairan di wilayah Klaten yang memiliki potensi perikanan mencapai 23,2 ton/tahun. Ikan gabus (Ophiocephalus striatus) adalah salah satu jenis ikan ekonomis penting dan menjadi target tangkapan utama. Penggunaan pancing rentengan tidak terlepas dari dari atraktan (umpan) yang efektif agar mendapatkan hasil tangkapan yang banyak dan waktu penangkapan yang sesuai bagi ikan sasaran. Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pancing rentengan (rawai) dengan perlakuan umpan dan waktu penangkapan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis umpan  yaitu umpan anakan katak/precil dan jangkrik, perbadaan waktu penangkapan (siang dan malam), serta mengetahui ada tidaknya interaksi anatara jenis umpan dengan waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental.Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan jenis umpan yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan, dimana nilai sig untuk umpan anakan katak (0,073) dan umpan jangkrik (0,086) > 0,05. Sedangkan waktu penangkapan siang maupun malam juga tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan dengan nilai sig (0,549) dan (0,687) > 0,05. Selain itu tidak ada interaksi antara jenis umpan dengan waktu penangkpan dibuktikan dengan nilai sig 0,81 > 0,05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan Penggunaan jenis umpan yang berbeda (anakan katak dan jangkrik) dan Perbedaan waktu operasi penangkapan yang berbeda (siang dan malam) secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Jombor swamp waters is one of the waters in Klaten region which has the potential of fishery reaches 23.2 tons/year. Snakehead (Ophiocephalus striatus) is one of the economically important species of fish and became the main target species. The use of longline cannot be separated from baits that is effective to get a lot of catches and fishing time is appropriate for the fish target. This study was conducted by using “rentengan” fishing gear (longline) with bait and different catching time. The purpose of this study was to determine the effect of different types of bait there arepuppies frogs and crickets, the different catching time (day and night), and to determine whether there is interaction between the types of bait and catching time to snakehead catching result (Ophiocephalus striatus). The method used in this study is the experimental method. The result showed that the use of different types of bait did not significantly affect the catch, which is significant value of puppies frogs (0.073) and crickets (0.092) > 0.05. while the different catching time, day or night, also had no effect on the catch with significant value (0.549) and (0.341) > 0.05. Moreover there is no interaction between the type of bait with the catching time proven by the significant value 0.81 > 0.05.  From these results can be concluded that the use of different types of bait (puppies frogs and crickets) and different catching time (day and night) was not statistically significant effect on the amount of snakehead catching result (Ophiocephalus striatus).
ANALISIS PERBEDAAN KEDALAMAN DAN SUBSTRAT DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Swimming Crab) DENGAN ARAD RAJUNGAN DI PERAIRAN WEDUNG, DEMAK Wulandari, Wahyu Rizki; Boesono, Herry; Asriyanto, -
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.97 KB)

Abstract

Desa Wedung yang terletak di Kabupaten Demak merupakan salah satu wilayah penghasil perikanan rajungan yang cukup potensial. Nelayan arad desa Wedung menentukan daerah penangkapan ikan hanya menggunakan insting dan informasi nelayan lain, sehingga tidak efektif karena hasil tangkapan belum tentu sesuai. Karena itu penangkapan akan lebih efektif jika daerah penangkapan ikan dapat diketahui terlebih dahulu melalui pengkajian karakteristik dan distribusi rajungan pada kedalaman yang berbeda sehingga rajungan yang tertangkap sudah layak konsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hasil tangkapan dan daerah penangkapan rajungan pada kedalaman berbeda serta variabel yang mempengaruhi hasil tangkapan rajungan. Metode yang digunakan adalah metode observasi langsung dengan penentuan sampling stratified random sampling. Terdapat 6 kisaran kedalaman yaitu kedalaman A (3-4,2 m), B (4,3-6,3 m), C (6,4-8,5 m), D (8,6-10 m), E (10,1-12,5 m), dan F (12,6-13,6) dengan jenis hasil tangkapan rajungan Portunus pelagicus dan Charybdis feriatus. Hasil penelitian menunjukkan kedalaman berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan rajungan, semakin dalam perairan ukuran tubuh hasil tangkapan rajungan semakin besar namun jumlah yang didapat semakin sedikit dan begitu pula sebaliknya. Hasil tangkapan rajungan dengan ukuran rajungan muda lebih dominan pada kedalaman D (8,6-10 m), karena ukurannya yang sudah memenuhi ukuran telah matang gonad sehingga penangkapan efektif dilakukan pada kedalaman D. Berdasarkan analisis statistik uji t, faktor oseanografi terhadap hasil tangkapan yang berpengaruh adalah salinitas dimana nilai signifikansinya 0,027 lebih kecil dari alfa (0,05). Hasil uji laboratorium substrat dasar perairan di setiap kedalaman memiliki klasifikasi jenis substrat yang sama yaitu berupa “heavy clay” atau disebut dengan liat/lumpur.  Wedung Village located in Demak Regency is one of the regions that potential enough to produce small crab fishery. mini trawl fishermen in Wedung determine the fishing area just by using their instinct and other fishermen’s information, so it is not effective because the catch is not necessarily appropriate. Therefore, the catch would be more effective if the fishing area can be known in advance by reviewing the differences in depths so that the crab caught has already suitable for consumption. The purpose of this study is to analyze the catch and crab fishing area at different depths and the variables that affect the catch of crab at different depths. The method used in this study is the direct observation method using stratified random sampling method in determining sampling. There are 6 depth ranges, detph A (3-4,2 m), B (4,3-6,3 m), C (6,4-8,5 m), D (8,6-10 m), E (10,1-12,5 m), and F (12,6-13,6) with the type of crab catches Portunus pelagicus and Charybdis feriatus. The result showed significant effect on the depth of the catch crab,  the deeper the waters the larger crab body size caught but with less the quantities obtained and vice versa. The catch crab with young-crab size is more dominant at depth D (8,6-10 m), due to its size which already meet ripe gonads size that the effectively catching carried out at depth D. Based on statistical analysis t test, the oceanographic factor that influences the catch is salinity where the significance value is 0.027 smaller than alpha (0.05). The result of laboratory tests from basic substrate on each depth have the same classification of the type of substrate in the form of “heavy clay” or called with clay/mud.
UJI PERFORMANSI ALAT PEMISAH LIMBAH CAIR BERMINYAK (OILY WATER SEPARATOR) UNTUK KAPAL PERIKANAN DALAM SKALA LABORATORIUM Wibowo, Tri Wahyu; Boesono, Herry; Setiyanto, Indradi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.028 KB)

Abstract

Perkembangan jumlah armada kapal perikanan membawa implikasi terhadap pencemaran lingkungan perairan akibat pembuangan limbah cair berminyak dengan kuantitas dan kualitas yang semakin meningkat yang disebabkan oleh kapal perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performansi dan perkiraan biaya OWS antara buatan luar (CYF-0.05Y) dengan buatan lokal (Prototipe BBPPI). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Metode penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain. OWS CYF-0.05Y memiliki efektivitas pemisahan lebih besar 1,6% yaitu 77,3 % sedangkan OWS BBPPI hanya 75,7 %. Kapasitas kerja alat OWS BBPPI lebih besar 63,67 liter/jam yaitu 176,33 liter/jam sedangkan OWS CYF-0.05Y hanya 112,66 liter/jam. Untuk biaya listrik pada saat pengoperasian OWS BBPPI dengan bahan uji 10 liter dengan waktu pemrosesan selama 3 menit 36 detik lebih rendah Rp. 2,- (Dua Rupiah) yaitu senilai Rp. 3,- (Tiga Rupiah) sedangkan OWS CYF-0.05Y selama 5 menit 32 detik senilai Rp. 5,- (Lima Rupiah). Estimasi biaya untuk pembuatan sebuah OWS untuk satu unit alat OWS buatan luar dengan tipe CYF-0.05Y yaitu Rp. 7.900.000,- (Tujuh Juta Sembilan Ratus Ribu Rupiah) sedangkan harga OWS buatan lokal yaitu Rp. 6.100.000,- (Enam Juta Seratus Ribu Rupiah). Selisih harga kedua OWS adalah Rp. 1.800.000,- (Satu Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah) lebih murah OWS buatan lokal. The growth of fishing vessels carries implications to aquatic environment pollution due to the increasing quantity and quality of oily liquid waste disposal, originated from those fishing vessels. Nevertheless, the captain and/or the crew should, as early as possible, attempt to prevent pollution from happening as produced by the vessel in order to avoid or at least reduce polluting oil spill. This research aims at knowing the performance and the estimated costs of the operation of foreign- (CYF-0.05Y) and local-made (BBPPI’s prototype) oily water separator. This research applies experimental method which is employed to seek the influence of certain treatment over one thing to another.OWS CYF-0.05Y has 1,6 % greater separation effectiveness than BBPPI OWS holding only 75,7 %, that is 77,3 %. Performance capacity, BBPPI OWS holds 63,67 % lt/hr larger than CYF-0.05Y OWS—that is 176,33 lt/hr for BBPPI OWS and 112,66 lt/hr for CYF-0.05Y OWS. Meanwhile, for electricity costs spent during BBPPI OWS operation taking 3 minutes 36 seconds leads to Rp 2,- (two rupiah) lower that CYF-0.05Y OWS—BBPPI OWS costs Rp 3,- while CYF-0.05Y OWS costs Rp 5,- with 5 minutes 32 seconds operation. Estimated cost to manufacture a single unit foreign-made OWS type CYF-0.05Y is Rp 7.900.000,- (Seven million and nine hundred thousand rupiah) while a local-made OWS takes Rp 6.100.000,- (Six million one hundred thousand rupiah). The difference between the two is Rp 1.800.000,- (A million and eight hundred thousand rupiah) ranking local-made OWS cheaper.
PERANAN SUBSEKTOR PERIKANAN TANGKAP TERHADAP PEMBANGUNAN WILAYAH DI KABUPATEN PATI MENGGUNAKAN ANALISIS LOCATION QUOTIENT DAN MULTIPLIER EFFECT Zulfi, Ali Akbar; Wijayanto, Dian; Pramonowibowo, -
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 4: Oktober, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.43 KB)

Abstract

Kabupaten Pati merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Tengah yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Potensi ini dapat dimanfaatkan guna meningkatkan peranan dan dampak subsektor perikanan terhadap ekonomi wilayah di Kabupaten Pati. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan peranan subsektor perikanan tangkap dan menghitung efek penggandaan dalam pembangunan wilayah serta mengetahui komoditas unggulan perikanan tangkap. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Loqation Quotient (LQ) dan Multiplier Effect (ME). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi rata-rata subsektor perikanan tangkap di Kabupaten Pati selama periode tahun 2008-2012 terhadap total PDRB sebesar 1,57% dan terhadap sektor pertanian sebesar 4,85%. Peranan subsektor perikanan tangkap selama tahun 2008-2012 terhadap perekonomian wilayah di Kabupaten Pati termasuk pada kegiatan basis (LQ>1). Multiplier Effect subsektor perikanan tangkap berdasarkan indikator Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi sebesar 57,09 pada tahun 2009. Komoditas hasil tangkapan unggulan di Kabupaten Pati jenis ikan demersal yaitu ikan Manyung, Cucut, Bambangan, dan Ekor Kuning sedangkan jenis ikan pelagis yaitu ikan Layang dan Lemuru. Pati regency is one of Central Java Province region which have large potential of fisheries resources. This potential could be used to increase the role of fisheries subsector to economic growth of Pati regency. The purpose of the research was to determinate the role of capture fisheries subsector, to count the Multiplier Effect and, to identify the primary commodity of capture fisheries. The analysis method used a Loqation Quotient (LQ) and Multiplier Effect (ME) analysis. The research showed that the average of capture fisheries contribution in Pati Regency during 2008-2012 of GDRB total was 1,57% and agriculture sector was 4,85%. The research also proved if capture fisheries subsector during 2008-2012 of economic Pati Regency was a basic activity (LQ>1). The highest of multiplier effect for capture fisheries subsector based Gross Domestic Regional Bruto (GDRP) indicator was 57,09  in 2009. The primary commodity of capture fisheries in Pati Regency for demercal species is Marine Catfish, Balfourus Skarks, Red Snapperfish, Yellowtail Fusilier and for pelagic spesies is Round Scad and Sardinella.

Page 1 of 2 | Total Record : 15