cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Perubahan Lahan Mangrove di Pesisir Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat Maulani, Alin; Taufiq-SPJ, Nur; Pratikto, Ibnu
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28396

Abstract

Kecamatan Muara Gembong adalah wilayah dengan ekosistem mangrove yang cukup luas dan tersebar. Mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai subtropis di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob. Kondisi ekosistem mangrove sangat peka terhadap gangguan dari luar terutama dari kegiatan pencemaran, konversi hutan mangrove menjadi kawasan non-hutan, ekploitasi hasil mangrove yang berlebihan sehingga terjadi dinamika pada luasan lahannya. Perubahan yang terjadi pada ekosistem mangrove ini dapat berupa penambahan, pengurangan, dan lahan yang tetap. Metode yang dilakukan pada penelitian ini berupa pengolahan data satelit citra Sentinel 2A, Landsat 8, dan Landsat 5 untuk menganalisa sebaran mangrove pada tahun 2009, 2014, dan 2019, serta perubahan yang terjadi. Validasi data dilakukan dengan pengamatan kawasan langsung di lokasi penelitian berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan. Hasil pengolahan data menunjukan di Kecamatan Muara Gembong pada tahun 2009-2019 diketahui terjadi penambahan luasan lahan mangrove sebesar 1017,746 ha dan pengurangan luasan mangrove sebesar 275,37 ha. Selain itu, terdapat pula lahan mangrove yang tetap bertahan pada kurun waktu 2009-2019 seluas 255,057 ha. Sehingga perubahan lahan mangrove yang terjadi di Kecamatan Muara Gembong cenderung mengalami pertambahan luasan lahan mangrove, yaitu sebesar 66% lahan mangrove yang bertambah. Muara Gembong Subdistrict is an area with a wide and scattered mangrove ecosystem. Mangroves are a group of plant species that grow along tropical to subtropical coastlines in an environment that contains salt and landforms in the form of beaches with anaerobic soil reactions. The condition of mangrove ecosystems is very sensitive to outside disturbances, especially from pollution activities, conversion of mangrove forests to non-forest areas, excessive exploitation of mangrove products resulting in dynamics in the area of land. Changes that occur in this mangrove ecosystem can be in the form of addition, subtraction, and permanent land. The method used in this research is the processing of Sentinel 2A, Landsat 8, and Landsat 5 satellite image data to analyze the distribution of mangroves in 2009, 2014 and 2019, and the changes that occur. Data validation is done by direct observation of the area at the research location based on data processing that has been done. The results of data processing showed that in Muara Gembong Subdistrict in 2009-2019 it was known that there was an increase in the area of mangrove land by 1017, 746 ha and reduction in mangrove area by 275.37 ha. In addition, there are also mangrove lands that have survived in the period 2009-2019 covering 255,057 ha. So that changes in mangrove land that occur in Muara Gembong District tend to experience an increase in the area of mangrove land, which is equal to 66% of the mangrove land that is increasing.
Strategi Pemasaran, Penjualan dan Produksi Olahan Rumput Laut Berbasis IT saat Pandemi Covid-19 di Padepokan Suket Segoro Semarang Heriawan, Fauzan; Susanto, AB; Haryanti, Dwi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.29677

Abstract

Indonesia memiliki sumberdaya hayati laut yang beragam, salah satunya adalah rumput laut. Tumbuhan ini merupakan sumber komoditi laut yang saat ini mulai dilirik oleh masyarakat karena memiliki nilai ekonomis yang baik Kappaphycus alvarezii salah satunya jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis karena karagenannya dapat digunakan sebagai bahan makanan, obat-obatan dan kosmetik. Berwirausaha dalam bidang rumput laut khususnya hasil produksi olahan rumput laut menjadi pilihan baru dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dan mengasah keterampilan. Tingkat produktifitas dalam usaha produk olahan rumput laut kini terhambat karena adanya wabah Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak dari Covid-19 terhadap proses pemasaran, penjualan dan produksi olahan rumput laut. Penelitian ini diambil pada bulan April-September 2020 dilakukan secara deskriptif eksploratif dengan menggunakan metode wawancara online. Berdasarkan hasil penelitian dampak Covid-19 ini membawa dampak yang buruk terhadap Padepokan Suket Segoro. Pemasaran, penjualan dan produksi tidak berjalan secara baik. Hasil simulasi penjualan online pada bulan April-Mei 2020 terdapat sebanyak 12 pemesan dan bulan September sebanyak 8 pemesan, dari hasil analisis SWOT yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19 Padepokan Suket Segoro perlu melakukan strategi Weakness-Opportunity (WO) dengan memanfaatkan peluang untuk memperbaiki kelemahan.Indonesia has abundant marine biological resources, one of which is seaweed. This plant is a source of marine commodities that are currently starting to be glimpsed by the public because it has a good economic value. Kappaphycus alvarezii is one type of seaweed that has economic value because its carragenan can be used as a food, medicine and cosmetic ingredient. Enterpreneurship in the field of seaweed, especially the product of processed seaweed is a new option in improving the community’s economy and honing skills. The level productivity in the seaweed processed product business is now hampered due to the Covid-19 outbreak. The purpose of this research is to determine the impact of Covid-19 on the marketing, sales and production of processed seaweed. This research was taken in April-September 2020 and was conducted in a descriptive exploratory manner using the online interview method. Base on the results of the research on te impact of Covid-19 has a bad impact on Padepokan Suket Segoro. Marketing, sales and production are not going well. The simulation results of online sales in April-May 2020 have 12 orders and 8  in September. From the results of the SWOT analysis carried out during the Covid-19 pandemic Padepokan Suket Segoro needs to carryout a Weakness Opportunity (WO) strategy by making Opportunities improve Weakness.
Sebaran Salinitas secara Horisontal di Muara Sungai Bondet, Cirebon, Jawa Barat Haidar, Althaf Zhafran; Handoyo, Gentur; Indrayanti, Elis
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30461

Abstract

 Fluktuasi salinitas merupakan kondisi yang umum terjadi di daerah muara yang merupakan tempat bercampurnya massa air laut dengan air tawar. Salah satunya adalah muara Sungai  Bondet yang terletak  di  Desa  Mertasinga,  Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Masuknya air laut ke sungai menyebabkan menurunnya fungsi penting sungai sebagai penunjang kehidupan masyarakat sehari-hari, pertambakan, dan sarana transportasi nelayan. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui distribusi salinitas di muara Sungai Bondet ke arah hulu sungai. Pengambilan data dilakukan di 10 stasiun pengamatan dari tanggal 19 Agustus sampai 21 Agustus 2020, secara horisontal dan vertikal. Pengolahan data menggunakan software ODV (Ocean  Data  View) 4.0,  Surfer  9  dan  ArcGis  10.3.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi salinitas secara horisontal dari 10 stasiun pengamatan berkisar dari 0 sampai >30 ppt, dan masuknya air asin mencapai 1,2 km dari muara ke sungai. Salinity fluctuations are a common condition in estuary where seawater and fresh water mix. One of the estuary is the Bondet River which is located in Mertasinga Village, Cirebon Regency, West Java. Saltwater intrusion causes the important function of the river as a support for daily household activities, aquaculture, and also transportation for fishing boats become decrease. Therefore, this research was conducted to knowing the salinity distribution at the estuary of the Bondet River to the upstream. Data collection was carried out at 10 observation stations from August, 19 to August, 21 2020, horizontally and vertically. Data processing using ODV (Ocean Data View) 4.0, Surfer 9 and ArcGis 10.3 software. The results showed that the horizontal distribution of salinity from 10 observation station ranged from 0 to > 30 ppt, and the intake of saltwater reached 1,2 km from the estuary to the river. 
Variasi Karakter Anatomis Talus Padina australis Hauck 1887 (Dictyotales, Phaeophycota) di Pantai Karang Tengah Kabupaten Cilacap Samiyarsih, Siti; Ats’tsaury, Moch Iqbal Sufyan; Insan, Achmad Ilalqisny; Fitrianto, Nur
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28208

Abstract

ABSTRAK: Karakter anatomi dapat digunakan untuk menentukan produktivitas kandungan alginat rumput laut P. australis Hauck. Penelitian ini bertujuan mengetahui variasi karakter anatomis talus Padina australis Hauck. Pengambilan sampel dengan purposive random sampling di pantai Karang Tengah, Kabupaten Cilacap. Persiapan mikroskopis dengan metode parafin dengan safranin 1% dalam alkohol 70%. Parameter yang diamati meliputi ketebalan epidermis, ukuran sel medula, ketebalan talus, dan ukuran tetra sporangia. Pengamatan struktur anatomi secara deskriptif dengan membandingkan karakter anatomi P. australis Hauck pada garis konsentris. Data karakter anatomi dianalisis dengan Uji-t dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi karakter anatomi talus dengan garis konsentris 5 memiliki ketebalan epidermis adaxial dan abaxial masing-masing adalah 20,05 μm dan 12,55 μm, sedangkan pada garis konsentris 7 memiliki ketebalan 28,33 μm dan 18 μm. Ketebalan talus dengan garis konsentris 5 dan 7 masing-masing adalah 99,44 μm, 114,77 μm. Diameter meduler dengan garis konsentris 5 dan 7 masing-masing adalah 37,88 μm, 45,5 μm. Diameter rata-rata tetra sporangia masing-masing dengan garis konsentris 5 dan 7 yaitu 25,66 μm, 35,66 μm. Talus P. australis Hauck berdasarkan garis konsentris 5 dan 7 memiliki perbedaan ukuran pada ketebalan epidermis adaxial, ketebalan epidermis abaxial, ketebalan talus, diameter meduler, dan diameter tetra sporangia. Implikasi penelitian ini sebagai database pada data dasar karakter anatomi P. australis yang dikaitkan denggan produktsi alginat dan data dasar taksonomi.  ABSTRACT: Anatomical character data can be used to determine the productivity of P. australis Hauck's seaweed alginate content. Each thallus has a thallus size and the number of varied concentric lines. The aim of the research is to determine the anatomical characteristics of the Padina australis Hauck thallus. Seaweed sampling by purposive random sampling technique in Karang Tengah beach, Cilacap regency. Preparation of microscopic by paraffin method with safranin 1% in 70% alcohol. Parameters observed included thickness of the epidermis, size of a medullary cell, the thickness of thallus, and the size of tetra sporangia. The anatomical character data was analyzed by t-Test with a 95% confidence level. The result of the research showed that the anatomical character of the thallus with concentric line 5 had a thickness of adaxial and abaxial epidermis respectively is 20.05 μm and 12.55 μm, whereas in concentric line 7 had a thickness of 28.33 μm and 18 μm. The thickness of the thallus with concentric lines 5 and 7 respectively is 99.44 μm, 114.77 μm. Medullary diameter with concentric lines 5 and 7 respectively is 37,88 μm, 45,5 μm. The average diameter of tetra sporangia with concentric lines 5 and 7 respectively that is 25,66 μm, 35,66 μm. Thallus of P. australis Hauck based on concentric lines 5 and 7 has differences of sizes on the adaxial epidermal thickness, thickness of the abaxial epidermis, the thickness of the thallus, medullary diameter, and diameter of tetra sporangia. The implications anatomical characters associated with alginate productivity and taxonomic baseline data.
Pola Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) Di Perairan Desa Bandengan Kendal Munana, Nila; Irwani, Irwani; Widianingsih, Widianingsih
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28990

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan jenis kepiting yang banyak ditemukan di beberapa daerah, salah satunya di Perairan Desa Bandengan, Kendal. Kepiting bakau setiap harinya ditangkap oleh nelayan, keadaan ini dapat mempengaruhi terhadap populasi kepiting bakau. Fase bulan dapat memberikan pengaruh terhadap kepiting bakau, seperti pada tingkah laku kepiting bakau. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola pertumbuhan kepiting bakau pada  fase bulan mati dan purnama di Perairan Desa Bandengan Kendal. Metode yang digunakan yaitu bersifat deskriptif eksploratif. Pengambilan data dilakukan sebanyak 6 kali periode pada 28 Desember 2019 – 9 Maret 2020, data dari kepiting bakau meliputi panjang karapas, lebar karapas, berat tubuh, jumlah kepiting bakau, dan parameter perairan. Jumlah kepiting bakau yang diperoleh selama penelitian sebanyak 212 ekor bulan mati dan 236 ekor bulan purnama. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan kepiting bakau jantan bulan mati bersifat allometrik positif, sedangkan pada kepiting bakau betina bersifat allometrik negatif. Sedangkan, pada purnama 1 bersifat allometrik positif, bulan purnama 2 dan  bulan purnama 3 bersifat allometrik negatif, sedangkan kepiting bakau betina bersifat allometrik negatif. Mud crab (Scylla serrata) is a type of crab that is found in several areas, one of which is in the waters of Bandengan Village, Kendal. Every day mud crabs are caught by fishermen, this situation can affect the mangrove crab population. The moon phase can affect mud crabs, such as the behavior of mud crabs. The purpose of this study was to determine the growth pattern of mud crabs in the new moon and full moon phases in the waters of the village of Bandengan, Kendal. The method used is descriptive exploratory. Data collection was carried out 6 times during the period on 28 December 2019 - 9 March 2020, data from mud crabs included carapace length, carapace width, body weight, number of mangrove crabs, and water parameters. The number of mud crabs obtained during the study was 212 new moons and 236 full moons. The results showed that the growth pattern of male mud crabs in the new moon was positive allometric, while the female mud crabs were negative allometric. Meanwhile, full moon 1 is allometric positive, full moon 2, and full moon 3 allometric negatives, while female mud crabs are allometric negative.
Kandungan Klorofil-a dan Kelimpahan di Perairan Kendal, Jawa Tengah Garini, Bonita Nindya; Suprijanto, Jusup; Pratikto, Ibnu
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28655

Abstract

Kondisi perairan suatu wilayah memiliki tingkat kesuburan yang berbeda – beda salah satunya pada Perairan Jawa khususnya bagian utara. Perairan Utara Jawa memiliki kondisi arus dan gelombang yang cukup stabil dimana hal ini berpengaruh terhadap kandungan yang terdapat di dalamnya. Perairan Kendal merupakan salah satu perairan yang terletak di Utara Jawa yang dimanfaatkan dalam kegiatan perikanan. Kendal merupakan Kabupaten yang memiliki hasil tangkapan ikan yang cukup besar yang dimanfaatkan masyarakat untuk kehidupan sehari- hari. Kabupaten Kendal juga terkenal dengan kegiatan industri seperti industri Kayu Lapis. Kegiatan industri berdampak terhadap kondisi perairan di Kendal karena buangan limbah cair maupun padat yang dapat mempengaruhi tingkat kesuburan. Tingkat sesuburan perairan dapat dilihat salah satunya dari kandungan klorofil-a yang terdapat di dalamnya. Kandungan klorofil-a pada perairan dapat dilihat melalui banyaknya fitoplankton karena fitoplankton merupakan penghasil klorofil-a tertinggi di perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas Perairan Kendal dilihat dari kandungan klorofil-a dan fitoplankton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, metode deskripstif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang kualitas perairan melalui sebaran kandungan spasial klorofil-a pada Perairan Kendal. Teknik penentuan lokasi sampling dan pengambilan sampel menggunakan metode purpose sampling. Pengambilan data lapangan dilakukan sebanyak 10 titik. Titik lokasi ditandai menggunakan Global Positioning System. Hasil yang didapatkan dari penelitian menunjukkan hasil persebaran konsentrasi klorofil-a pada masing – masing stasiun berbeda dan hasil kelimpahan fitoplankton yang di dapatkan juga berbeda tetapi sesuai dengan konsentrasi klorofil-a pada masing – masing stasiun. Perbedaan disebabkan karena adanya faktor perbedaan lokasi sampling. Konsentrasi klorofil yang tertinggi terdapat pada stasiun 6 sebesar 1,7025 mg/m³ dan kelimpahan fitoplankton tertinggi juga pada stasiun 6 sebanyak 43.373 sel/L.The condition of the waters of an area has different fertility levels - one of which is in the Java waters especially in the north. The waters of North Java have relatively stable currents and waves which affect the content contained therein. Kendal waters is one of the waters located in North Java that is used in fisheries activities. Kendal is a regency that has a large enough fish catch that is utilized by the community for daily life. Kendal Regency is also famous for industrial activities such as the Plywood Industry. Industrial activities have an impact on water conditions in Kendal because of liquid and solid waste discharges that can affect fertility. Water fertility can be seen one of them from the content of chlorophyll-a contained in it. Chlorophyll-a content in water can be seen through the number of phytoplankton because phytoplankton is the highest chlorophyll-a producer in water. The purpose of this study was to determine the quality of Kendal Waters in terms of chlorophyll-a and phytoplankton content. The method used in this research is descriptive method, descriptive method is intended to get a picture of the quality of waters through the distribution of spatial content of chlorophyll-a in Kendal waters. The technique of determining the location of sampling and sampling uses the purpose sampling method. Field data collection was carried out by 10 points. Location points are marked using the Global Positioning System. The results obtained from the study showed that the distribution of chlorophyll-a concentrations at each station was different and the results of the abundance of phytoplankton obtained were also different but in accordance with the concentration of chlorophyll-a at each station. The difference is due to the sampling location difference factor. The highest chlorophyll concentration was found at station 6 at 1.7025 mg/m³ and the highest phytoplankton abundance was also at station 6 as many as 43,373 cells/L.
Pengaruh Kerapatan Berbeda Terhadap Produksi Dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove Xylocarpus granatum Koenig, 1784 (Meliaceae:Rosids) dan Rhizophora apiculate Blume,1827 (Rhizophoraceae: Rosids) di Perairan Pulau Bintan Muslimin, Muslimin; Susiana, Susiana; Nugraha, Aditya Hikmat
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30134

Abstract

Penelitian mengenai Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove Xylocarpus granatum dan Rhizophora apiculata di Perairan Busung dan Tanjung Unggat Pulau Bintan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove Xylocarpus granatum dan Rhizophora apiculata di perairan Busung dan Tanjung Unggat, Pulau Bintan. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Februari – Mei 2020 mengenai produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove X. granatum dan R. apiculata di perairan Busung dan Tanjung Unggat Pulau Bintan. Penelitian ini bertujuan membandingkan produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove X. granatum dan  R. apiculata. Penelitian ini dilakukan dengan penentuan lokasi, kemudian persiapan alat dan bahan dan dilanjutkan dengan pengambilan data kerapatan mangrove dan pengambilan data serasah serta laju dekomposisi. Hasil penelitian ditemukan 2 jenis mangrove di 2 stasiun yaitu X. granatum dan R. apiculata. Kerapatan total di Desa Busung berjumlah 2267 pohon/ha tergolong sangat padat dan masih dalam kondisi baik sedangkan kerapatan total di Tanjung Unggat berjumlah 1200 pohon/ha tergolong sedang dan masih dalam kondisi baik. Produksi serasah tertinggi yaitu terjadi pada Stasiun Busung yaitu R. apiculata 1.47 g/m2/hari dan X. ganatum 0.83 g/m2/hari dengan kerapatan yang padat dan untuk hasil terendah terjadi pada stasiun Tanjung Unggat yaitu R. apiculata 1.09 g/m2/hari dan X. granatum 0.65 g/m2/hari dengan kerapatan sedang. Laju dekomposisi serasah daun spesies X. granatum menunjukkan nilai 0.0192 dan Laju dekomposisi serasah daun spesies R. apiculata menunjukkan nilai 0.0203. Laju dekomposisi sersah daun terjadi penurunan yang sangat signifikan pada hari ke 14 yaitu dengan kisaran 0.04 – 0.06 gr/hr. Sedangkan pada hari ke-14 sampai hari ke-28 relatif  konstan, dengan kisaran 0.01 – 0.03 gr/hr. Research on the Production and Decomposition Rate of Xylocarpus granatum and Rhizophora apiculata Mangrove Litter in Busung and Tanjung Unggat Waters, Bintan Island. The purpose of this study was to compare the production and decomposition rate of mangrove litter from Xylocarpus granatum and Rhizophora apiculata in the waters of Busung and Tanjung Unggat, Bintan Island. This research was conducted in February - May 2020 regarding the production and decomposition rate of mangrove litter X. granatum and R. apiculata in the waters of Busung and Tanjung Unggat Bintan Island. This study aims to compare the production and decomposition rate of mangrove litter X. granatum and R. apiculata. This research was conducted by determining the location, then preparing the tools and materials, followed by collecting data on mangrove density and data collection of litter and decomposition rate. The results found 2 types of mangroves at 2 stations, namely X. granatum and R. apiculata. The total density in Busung Village was 2267 trees / ha which was classified as very dense and still in good condition, while the total density in Tanjung Unggat was 1200 trees / ha which was classified as moderate and still in good condition. The highest litter production occurred at Busung Station, namely R. apiculata 1.47 g/M2/day and X. granatum 0.83 g/m2 /day with a dense density and for the lowest yield occurred at Tanjung Unggat station, namely R. apiculata 1.09 g/m2/day and X. granatum 0.65 g/m2/day with moderate density. The leaf litter decomposition rate of species X. granatum showed a value of 0.0192 and the rate of decomposition of leaf litter of species R. apiculata showed a value of 0.0203. The decomposition rate of leaf litter decreased significantly on day 14, in the range of 0.04 - 0.06 gr/day. Meanwhile, on day 14 to day 28 it is relatively constant, with a range of 0.01 - 0.03 g/day.
Pengaruh Komposisi Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan Tukik Penyu Lekang di Serangan, Bali Br Ginting, Feny Amelia; Djunaedi, Ali; Ario, Raden
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28733

Abstract

ABSTRAK: Tingkat keberhasilan hidup tukik menuju dewasa dapat ditentukan dengan pemberian pakan. Tetapi, saat ini jenis pakan yang paling tepat untuk tukik penyu belum diketahui. Pemberian jenis pakan dengan komposisi dan dosis yang tepat akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan tukik penyu lekang dengan baik dan akan mempengaruhi keberhasilan hidupnya saat dilepaskan ke laut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian pakan dengan komposisi yang berbeda terhadap pertumbuhan tukik Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan mengetahui tingkat kelulusan hidupnya selama masa pemeliharaan 5 Minggu. Lokasi penelitian dilakukan di Turtle Conservation and Education Center Serangan, Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu ikan tongkol 100% (A),ikan tongkol 75% : kerang totok 25% (B), ikan tongkol 50% : kerang totok 50% (C), ikan tongkol 25% : kerang totok 75% dan masing- masing 3 ulangan disetiap perlakuan. Tukik Penyu Lekang diberikan pakan setiap pagi dan sore, dan diukur pertambahan berat, panjang, lebar dan morfologinya setiap 1 minggu sekali. hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan Ikan Tongkol dengan perbandingan komposisi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (p < 0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik berat, panjang karapas, dan lebar karapas tukik Penyu Lekang. Pakan dengan komposisi Ikan Tongkol 100% merupakan pakan paling baik diantara perlakuan pakan lainnya, dengan menghasilkan tingkat laju pertumbuhan spesifik berat 1,43% perhari, panjang karapas 0,62% perhari dan lebar karapas 0,94% perhari.  ABSTRACT: The success rate of living for hatchlings to adulthood can be determined by feeding. However, it is currently unknown what type of feed is most suitable for turtle hatchlings. The provision of types of feed with the right composition and dosage will affect the growth rate of the lekang turtle hatchlings and will affect their success when released into the sea. The purpose of this study was to determine the effect of feeding with different compositions on the growth of Olive Ridley (Lepidochelys olivacea) hatchlings and to determine their survival rate during the 5 week rearing period. The research location was conducted at the Turtle Conservation and Education Center Serangan, Bali. The research method used was an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments, namely 100% tuna (A), 75% tuna: 25% totok (B), 50% tuna: 50% totok ( C), tuna 25%: 75% totok clams and 3 replications each in each treatment. Lekang Turtle Hatchlings are given food every morning and evening, and their weight, length, width and morphology gain is measured every 1 week. The results showed that feeding Tuna Fish with different composition ratios had a very significant effect (p <0.05) on the specific growth rate of weight, carapace length, and carapace width of the Lekang turtle hatchlings. Feed with 100% tuna composition is the best feed among other feed treatments, with a specific weight growth rate of 1.43% per day, carapace length 0.62% per day and carapace width 0.94% per day.
Studi Morfometrik Kepiting Bakau (Scylla serrate) Forsskål, 1775 (Malacostraca : Portunidae) di Kecamatan Wedung, Demak, Jawa Tengah Panatar, Jakfar Shodiq; Djunaedi, Ali; Redjeki, Sri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.25960

Abstract

ABSTRAK : Kepiting bakau (Scylla serrata) adalah jenis kepiting yang hidup di perairan pantai, tambak, dan hutan bakau (mangrove). Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan komoditas ekspor bernilai ekonomis tinggi yang sangat potensial untuk dikembangkan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi di Indonesia, terutama kepiting yang sudah dewasa serta gemuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik morfometrik kepiting bakau (Scylla serrata) seperti kelimpahan relatif kepiting bakau (Scylla serrata), distribusi lebar karapas, dan hubungan lebar karapas – berat kepiting bakau (Scylla serrata). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelimpahan realatif kepiting dan analisis regresi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April 2019 di Kecamatan Wedung, Demak. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel kepiting bakau (Scylla serrata) hasil tangkapan nelayan di daerah tersebut. Kepiting bakau hasil tangkapan nelayan tersebut dihitung jumlahnya, diidentifikasi jenis kelaminnya, diukur lebar karapas dan ditimbang beratnya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepiting bakau (Scylla serrata) yang tertangkap pada bulan Februari – April 2019 diperoleh 300 individu yang terdiri dari 202 jantan dan 98 betina. Rata – rata ukuran lebar karapas tertinggi berkisar 9.8 cm pada hasil tangkapan di bulan Februari. Hubungan lebar karapas – berat Kepiting bakau (Scylla serrata) baik jantan maupun betina menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif. ABSTRACT : Giant mud crab (Scylla serrata) are types of crabs that live in coastal waters, ponds, and mangrove forests. Giant mud crab (Scylla serrata) is a high economic value export commodity that has the potential to be developed and has high economic value in Indonesia, especially crabs that are mature and fat. The purpose of this study was to determine the morphometric characteristics of giant mud crab (Scylla serrata) such as relative abundance of giant mud crab (Scylla serrata), carapace width distribution, and the relationship between carapace width - weight of giant mud crab (Scylla serrata). The analysis used in this study is the relative abundance of giant mud crab and regression analysis. This research was conducted in February - April 2019 in the subdistrict of Wedung, Demak. The material used in this study was a sample of giant mud crab (Scylla serrata) from the fishermen catch in the area. The giant mud crab captured by the fishermen are counted, identified by sex, measured in carapace width and weighed. The results showed that giant mud crab (Scylla serrata) caught in February - April 2019 obtained 300 individuals consisting of 202 males and 98 females. The highest average carapace width ranges from 9.8 cm in catches in February. Relationship between carapace and weight of giant mud crab (Scylla serrata) both male and female showed negative allometric growth patterns. 
Hubungan Panjang Berat Dan Faktor Kondisi Loligo chinensis yang Didaratkan di TPI Tambak Lorok Semarang Sitompul, Noel Mansen; Azizah, Ria; Munasik, Munasik
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.29991

Abstract

Loligo chinensis merupakan salah satu jenis cumi-cumi yang memiliki nilai ekonomis penting di TPI Tambak Lorok Semarang. Produksi cumi-cumi merupakan hasil tangkapan dari alam, upaya penangkapan yang semakin tinggi dapat menyebabkan penurunan stok sumberdaya cumi-cumi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi L.chinensis yang ada di Tambak Lorok yang meliputi hubungan panjang berat, faktor kondisi, dan pola pertumbuhan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2020. Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah regresi linier sederhana dari log PM (panjang mantel) dan log W (weight) untuk mengetahui hubungan panjang beratnya. Nilai hubungan panjang berat L.chinensis mempunyai persamaan W = 0,00048L2,4921 untuk keseluruhan sampel, W = 3,237L0,84 pada betina dan W = 3,29L0,827 pada jantan dengan nilai slope (b) 2,4921; 0,84; dan 0,827. Nilai slope tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan L.chinensis bersifat alometrik negatif. Nilai faktor kondisi (Kn) = 1,064 pada keseluruhan sampel, Kn = 1,713 pada betina dan Kn = 1,63 pada jantan, nilai tersebut menunjukkan spesies ini tergolong memiliki badan yang kurus. Pertumbuhan panjang mantel (PM) L.chinensis tumbuh lebih lambat dibanding organ tubuh lain, kecuali terhadap berat tubuhnya. Loligo chinensis is one type of squid that has economic value crucial in the Tambak Lorok Semarang. Squid production mainly comes from nature, high fishing effort can cause a decrease in squid resource stock. The purpose of this study is to know the biological aspect L.chinensis in the Tambak Lorok include long weight relationships, condition factors, and the quality of alometry growth. The study was carried out in June-July 2020. The data analysis used is simple linear regression from the PM’s log (mantle length) and log W (weight) to know the relationship of its weight length. The relationship value between total length and total weight of L.chinensis has a W = 0,00048L2,4921 equation for the entire sample, W = 3,237L0,84 in the female and W = 3,29L0,827 in the male with slope (b) 2,4921; 0,84; and 0,827. Value slope shows the growths L.chinensis is negative alometrice. The value of the condition factor (Kn) = 1,064 in the entire sample, Kn = 1,713 in the female and Kn = 1,63 in the male. The value suggests that the species is thick-skinned. The growth of the mantle length (PM) of L.chinensis grows slower than other organs of the body, except for its total weight.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue