cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Strategi Pengembangan Ekowisata dengan Konsep Community Based Tourism (CBT) di Pantai Kawaliwu Desa Sinar Hading, Flores Timur Nawastuti, Dati; Lewoema, Zefirinus Kada
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28287

Abstract

Ekowisata adalah perjalanan ke kawasan alam yang relatif masih asli dan tidak tercemar dengan minat khusus untuk mempelajari, mengagumi, dan menikmati pemandangan, tumbuhan, satwa liar dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi-potensi ekowisata yang ada di Desa Sinar Hading, menganalisis ekowisata dengan menerapkan CBT (Community Based Tourism), dan mengidentifikasi usaha dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata dengan menerapkan CBT. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sinar Hading Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur pada bulan Maret 2019. Data-data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur. Pertanyaan-pertanyaan diajukan berdasarkan dimensi-dimensi pada CBT yakni dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi budaya dan dimensi lingkungan. Subyek penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik penentuan secara sengaja. Dalam teknik pengambilan data tersebut, beberapa stakeholder dipilih berdasarkan pengaruh dan kepentingan dalam pariwisata di Pantai Kawaliwu yang terletak di Desa Sinar Hading. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif. Data yang terangkum dihitung di dalam persentase dan dibahas. Disimpulkan bahwa potensi-potensi ekowisata di Desa Sinar Hading terdiri atas potensi alam, manusia, sosial, dan budaya yang semuanya memberikan dampak nyata bagi pariwisata; dimensi-dimensi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan saling berkaitan dan memengaruhi secara individual maupun secara kolektif; dan usaha-usaha masyarakat masih berskala kecil dan bersifat sambilan dan belum merupakan usaha pokok meskipun berpotensi memajukan pariwisata apabila dikelola secara profesional. Eco-tourism is a trip to natural areas that are relatively pristine and not polluted with special interest to learn, admire, and enjoy the scenery, plants, wildlife and culture. This research aims to identify eco-tourism potencies in Sinar Hading Village, to analyze eco-tourism by applying Community Based Tourism (CBT), and to identify efforts and community participation in eco-tourism development by applying CBT. The research was conducted in Sinar Hading Village, Sub Regency of Lewolema, East Flores Regency, in March 2019. Data were collected by using structured interview. Questions are posted based on dymensions of CBT such as economy dymension, social dymension, culture dymension and environment dymension. The research units were determined by using purpossive sampling. In this data collecting, several stakeholders were chosen based on their influence and their interest on tourism in Kawaliwu Beach which is located in Sinar Hading Village. Data were analyzed by using descriptive analysis, composed in percentage and then discussed. It is concluded that eco-tourism potencies in Sinar Hading Village are nature, men, social, and culture which give significant impact on tourism; social, economy, culture and environment dymensions are interconnected and influence both individually and collectively; and community business characters are small scale and part time and have not become main job although they are potencial to enhance tourism if it is managed professionally. 
Identifikasi Mikroplastik di Muara Sungai Kendal, Kabupaten Kendal Hanif, Kharisma Haidar; Suprijanto, Jusup; Pratikto, Ibnu
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26832

Abstract

ABSTRAK: Kajian mengenai mikroplastik pada muara Sungai Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah perlu dilakukan untuk mengetahui jenis polimer dan bentuk dari mikroplastik karena Sungai Kendal berpotensi membawa mikroplastik hingga ke laut. Penelitian mengenai mikroplastik ini terbagi dalam 3 tahap yaitu pengambilan, pengolahan, dan identifikasi. Pengambilan sampel pada permukaan laut menggunakan plankton net 60 µm pada 4 stasiun berbeda. Pengolahan sampel dilakukan dengan 3 tahap yaitu pendegradasian bahan organik, pemisahan densitas, penyaringan. Identifikasi polimer mikroplastik menggunakan FTIR (Fourier Transform Infra Red) dan identifikasi bentuk menggunakan mikroskop stereo. Hasil identifikasi polimer mikroplastik yang terdapat pada muara Sungai Kendal adalah polyethylene dan polypropylene. Bentuk mikroplastik yang didapatkan adalah fragment, film, foam, dan fiber. ABSTRACT: The study of microplastics in Kendal Estuary, Kendal Regency, Central Java, is necessary to know the polymer and shape of microplastics because Kendal River has potential to bring microplastics to ocean.  This study contains three steps of processing. The first step is sampling, then sample processing, and identification. Sample of microplastics is taken in surface water using plankton net 60 µm at 4 stations. Sample processing had three steps, first is the degradation of organics matter, density separation, then sample filtration. Polymer identification used FTIR (Fourier Transform Infrared) and shape identification used stereo microscope. The results of polymer identification indicate that is two type of polymer, that is polyethylene and polypropylene. the shape of microplastics is fragment, film, foam, and fiber 
Kesuburan Perairan Berdasarkan Kandungan Nutrien pada Ekosistem Mangrove Desa Bedono, Demak Widiardja, Aufa Rifqi; Nuraini, Ria Azizah Tri; Wijayanti, Diah Permata
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28480

Abstract

Nutrien memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan biota laut dan merupakan hasil uraian dari bahan organik kompleks. Secara alamiah konsentrasi nutrien dalam perairan bervariasi dan dalam kondisi tertentu dapat terjadi keadaan di luar batas optimal bagi organisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrien (Nitrat, Nitrit, Ammonium dan Phosphat) dan mengetahui tingkat kesuburan perairan Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak sehingga dapat memberikan informasi dan acuan dalam memonitoring kandungan nutrient di perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2020 di Perairan Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif sedangkan pemilihan lokasi pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling method. Pengambilan parameter lingkungan yang dibutuhkan dilakukan secara insitu dan sampel air di analisis di Laboratorium Teknik Lingkungan, Universitas Diponegoro. Pengambilan sampel dilakukan tiga kali pengulangan dengan menyimpan sampel air dengan botol sampel polyetilene yang dimasukan kedalam coolbox untuk menghindari masuknya sinar matahari. Hasil penelitian menunjukan nilai analisis kandungan nitrat pada perairan Desa Bedono, Kabupaten Demak berkisar antara 2,353 – 2,973 mg/L. Kandungan nitrit berkisar antara 0 – 0,01 mg/L, kandungan ammonium berkisar antara 14,815 – 18,239 mg/L, sedangkan kandungan phospat berkisar antara 0,04767 – 0,05133 mg/L. Berdasarkan kandungan nutrient Nitrat dan Phosphat kesuburan perairan berada dalam klasifikasi mesotrofik.Nutrient had an important role in growth and development of organism and are result of the decomposition from complex organic materials. Naturally, the concentration of nutrients in the water varies and under certain conditions it can occur outside the optimal limits that was declared safe for organism. This research aims to determine the level of water fertility based on the content of nitrate, nitrite, ammonium and phosphate in the Coastal Waters Of Bedono Village, Sayung District, Regency of Demak. This research was conducted on January 2020 in the Coastal Waters Of Bedono Village, Sayung District, Regency of Demak. The method used in this research is descriptive method while the selection of sampling location used the purposive sampling method. Taking the required environmental parameters conducted in situ and sample analysis conducted at Laboratorium Teknik Lingkungan, Universitas Diponegoro. Sampling is done by storing water samples with polyetilene bottles to avoid the entry of sunlight in three repetitions. The result of this research shows that the average  range value of Nitrate content analysis at location is 2,353 – 2,973 mg/L. The average range value of nitrite content 0 – 0,01 mg/L, for the average range value of ammonium content is 14,815 - 18,239 mg / L, while the phosphate content ranged from 0.4767 - 0.05133 mg / L. Based on the nutrient content of nitrate and phosphate fertility waters at the level mesotrophic.
Analisis Kesesuaian Ekosistem Lamun sebagai Pendukung Ekowisata Bahari Pulau Panjang Kabupaten Jepara Pradhana, Handhikka Daffa Wira; Endrawati, Hadi; Susanto, AB
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30118

Abstract

Ekowisata bahari adalah kegiatan wisata berkelanjutan yang memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. Sumberdaya tersebut dapat dibagi menjadi sumberdaya alam dan manusia yang keduanya bersinergi dan berintegrasi untuk pemanfaatan ekowisata tersebut. Ekowisata lamun merupakan salah satu ekowisata berpotensi dimana potensi ekosistem lamun yang merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir dengan peran penting untuk melindungi wilayah pesisir tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ekosistem lamun untuk dijadikan pendukung ekowisata bahari dengan melihat presentase tutupan, parameter lingkungan, dan kelimpahan biota yang berasosiasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi langsung. Metode observasi langsung adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati dan mengukur langsung objek yang diamati. Metode pengambilan data menggunakan metode transek garis LIPI dengan transek kuadran 50 x 50 cm. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat lima spesies lamun yang dapat ditemukan di Perairan Pulau Panjang, yaitu: Thallasia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, dan Halophila ovalis. Kerapatan jenis lamun tertinggi adalah spesies Thallasia hemprichii di stasiun 1 dan kerapatan terendah adalah spesies Halophila ovalis di stasiun 1. Perairan Pulau Panjang juga memiliki potensi biota yang berasosiasi dalam ekosistem lamun, dimana terdapat berbagai jenis ikan karang, Mollusca, Cnidaria, dan Echinodermata yang meningkatkan daya dukung ekowisata lamun yang juga didukung dengan hasil persepsi masyarakat yang mendukung dan ingin berpartisipasi dalam kegiatan ekowisata pada ekosistem lamun.  Marine ecotourism is a sustainable tourism activity that utilized coastal and marine resources. These resources can be devided into natural resources and human resources that both of which can be sinergized and integrated for ecotourism use. Seagrass ecotourism is one of the potential ecotourism that seagrass ecosystem is one of the ecosystems in coastal areas with an important role in protecting the coastal area.  The purpose of this research is to determine the potential of seagrass ecosystem to support marine ecotourism in Panjang Island by also looking at the coverage percentage, environmental parameters, and the abundance of associated biotas. The research method used is direct observation method. Direct observation method is a method of collecting data by directly observing and measuring the object that being observed. The data collection method uses method by LIPI that uses quadrant transects of 50 x 50 cm. The results indicate that there’s at least five species of seagrass can be found in Panjang Island Waters, which is: Thallasia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, and Halophila ovalis. The highest coverage density of seagrass is Thallasia hemprichii in station 1, and the lowest coverage density is Halophila ovalis in station 1. Panjang Island Waters also have the potential of associated biotas in the seagrass ecosystem, where there are various types of reef fishes, Molluscas, Cnidarias, and Echinodermatas that can increase the potential of seagrass ecotourism which are also supported by the results of the community’s perception that support and want to participate in ecotourism activities in the seagrass ecosystem of Panjang Island.
Karakteristik Morfometrik Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Pesisir Pulau Bintan Sarinawaty, Pratiwi; Idris, Fadhliyah; Nugraha, Aditya Hikmat
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28432

Abstract

ABSTRAK: Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbiji (angiospermae) yang mampu hidup terendam di dalam air laut dan beradaptasi pada lingkungan dengan salinitas tinggi serta memiliki rhizome, daun dan akar sejati. Kajian terkait karakteristik morfometrik menekankan pada keadaan karakter morfologi suatau spesies yang mendiami suatu wilayah tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada ekosistem lamun di beberapa wilayah pesisir di Pulau Bintan. Penentuan lokasi penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling sedangkan pengambilan data lamun menggunakan transek kuadran ukuran 50x50cm. Karakteristik bagian lamun yang diukur yaitu panjang daun, lebar daun, diameter rhizome, panjang akar dan jumlah daun. Karakteristik morfometrik lamun di ketiga lokasi memiliki perbedaan. Lamun E. acoroides di lokasi Pantai Impian memiliki panjang daun yang terpanjang dan diameter rhizome yang paling besar dari lokasi lainnya. Sedangkan lokasi pengudang memiliki lebar daun tertinggi. Morfometrik Lamun jenis T. hemprichii yang mempunyai nilai panjang daun, lebar daun dan diameter rhizome tertinggi terdapat di lokasi Pantai Impian. Sedangkan panjang daun terendah terdapat di Pengudang.  ABSTRACT: Seagrass is the only seed plant (angiosperms) that can live submerged in seawater and adapt to environments with high salinity and has rhizomes, leaves, and tree roots. Studies related to morphometric characteristics emphasize the morphological character of a species that inhabits a particular area. This research was conducted in October 2019 to March 2020 in Dompak, Pengudang Village, and Pantai Impian to compare the morphometric characteristics of the seagrass Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii in seagrass ecosystems in some coastal areas of Bintan Island. The determination of the location of the study was determined by a purposive sampling method while seagrass data collection using a 50x50cm quadrant transect size. Morphometric characteristics of seagrasses in the three locations have differences. Seagrass E. acoroides at the Impian Beach location has the longest leaf length and the largest rhizome diameter than other locations. Whereas the storage location has the highest leaf width. Morphometrics of seagrass T. hemprichii which has the highest value of leaf length, leaf width, and rhizome diameter is at the Dream Beach location. While the lowest leaf length is found in Pengudang. 
Kajian Morfometri dan Tingkat Kematangan Gonad Rajungan di Perairan Betahwalang, Demak Maulana, Iqbal; Irwani, Irwani; Redjeki, Sri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.29247

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dimana berbanding lurus dengan penangkapan yang terus meningkat. Tingkat pemanfaatan yang tidak mengindahkan ukuran dan kondisi rajungan dapat mempengaruhi struktur ukuran dan stok rajungan di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran, hubungan lebar dan berat rajungan serta distribusi tingkat kematangan gonad (TKG) di perairan Betahwalang, Demak. Penelitian menggunakan metode survey dengan analisis yang bersifat deskriptif yang dilakukan secara “time-series”. Pengamatan sampel rajungan sebesar 10% dari hasil tangkapan yang didaratkan oleh setiap nelayan di pengepul rajungan.. Hasil dari penelitian ini menujukkan dari 3030 ekor rajungan yang diamati diketahui distribusi lebar karapas rajungan berkisar antara 35 – 185 mm dan kisaran berat sebesar 10 – 350 gram. Rajungan yang terdapat di perairan Betahwalang memiliki pertumbuhan yang bersifat allometrik positif pada rajungan jantan dan betina pada bulan Januari serta Februari.  Hasil nilai b sebesar 3,29 dan 3,08 (Januari & Februari) pada rajungan jantan. Nilai b sebesar 3,10 dan 3,15  pada rajungan betina (Januari & Februari) serta nilai b sebesar 3,14 pada keseluruhan rajungan. Sehingga diketahui pertumbuhan lebar karapas lebih cepat dibandingkan bobot rajungan. Sedangkan distribusi tingkat kematangan gonad rajungan betina adalah 21% pada TKG 1; 63% pada TKG 2; serta 16% pada TKG 3, dengan ukuran pertama kali matang gonad adalah 141,51 mm. Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a marine commodity has a high economic value , which is causing the crab catch to rise as well. The catch rate that does not consider the size and maturity of sea crab can affect the size structure and population stock of sea crab in waters. This study aims to determine the size distribution,the relationship of width and weight of Blue swimming crab and distribution of gonad maturity in Betahwalang, Demak. There’s a descriptive survey method used in this study with time-series observations. The sample size is about 10% of the total number landed crab from each fisherman. The results of this study showed that from 3030 crabs observed, the distribution of crab carapace width ranged from 35 – 185 mm and the weight range at 10 – 350 gram. The results showed the all crabs has a positive allometric on growth parameters. The value of  b 3,29 and 3,08 (January & February) in male blue swimming crab, 3.10 and 3.15 (January & February) on female sea crabs, and 3.14 on whole sea crabs. So it is known that the growth of carapid width is faster than the weight of crab. While the distribution of female crab gonad maturity level is 21% in level 1; 63% in level 2; and 16% in level 3, with the first size of mature gonad at 141,51 mm.
Perubahan Garis Pantai Menggunakan Citra Satelit Landsat di Pesisir Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak Ramadhani, Yualita Prasida; Praktikto, Ibnu; Suryono, Chrisna Adhi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i2.30468

Abstract

Wilayah pesisir Kabupaten Demak yang terletak di bagian utara Pantai Jawa merupakan yang rentan terhadap perubahan garis pantai. Perubahan yang serius ini perlu dilakukan pemantauan terus menurus. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang perubahan garis pantai yang disebabkan oleh tingkat abrasi dan akresi yang terjadi di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak pada tahun 2013-2020. Metode penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif studi kasus dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Metode penginderaan jauh yang digunakan untuk mengetahui perubahan garis pantai adalah dengan metode overlay (tumpang susun) garis pantai pada tahun yang berbeda dan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Hasil penelitian menunjukkan garis pantai Kecamatan Sayung dengan panjang pantai 20.953,59 m, telah mengalami abrasi pantai seluas 141,49 ha dan akresi sebesar 36,61 ha. Sehingga persentase tingkat abrasi sebesar 82% dan akresi sebesar 18%. Secara keseluruhan, rata-rata laju abrasi yang terjadi dalam kurun waktu periode 2013-2020 adalah sebesar 13,08 meter/tahun dan laju akresi sebesar 8,22 meter/tahun. Perubahan garis pantai yang terjadi dari tahun 2013 hingga tahun 2020 lebih banyak mengalami abrasi jika dibandingkan dengan akresi. The coastal area of Demak Regency, which is located on the northern coast of Java, is  vulnerable to shoreline changes. This serious change is necessary for ongoing monitoring. This research was conducted to obtain information about coastline change in coastal Sayung District of Demak Regency in 2013 until 2020. This research method is done by using descriptive method of case study by using remote sensing technology. The remote sensing method used to determine shoreline changes is overlay method and Digital Shoreline Analysis System (DSAS) in different years. Based on the research results can be seen the rate of change of coastline length of 20.953,59 m, shoreline changes that occur in the form of abrasion of 141,49 ha and changes in the form of accretion of 36,61 ha. So that the proportion of the abrasion rate is 82% and the accretion is 18%.Overall, the average rate of abrasion that occurred in the 2013-2020 period was 13.08 meters / year and the accretion rate was 8.22 meters / year. Coastlines that occur from 2013 to 2020 more experienced abrasion process when compared to the accretion process.
Komposisi Nutrisi dan Kandungan Pigmen Fotosintesis Tiga Spesies Alga Merah (Rhodophyta sp.) Hasil Budidaya Lumbessy, Salnida Yuniarti; Setyowati, Dewi Nur’aeni; Mukhlis, Alis; Lestari, Dewi Putri; Azhar, Fariq
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28688

Abstract

ABSTRAK: Berbagai alga merah memiliki potensi nilai nutrisi dan biopigmen yang dapat dimanfaatkan untuk menambah nilai manfaat serta nilai jual rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia dan kandungan pigmen fotosintesis pada tiga spesies alga merah, yaitu Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum dan Eucheuma striatum yang dibudidayakan di Perairan Sreweh, Lombok Timur, NTB. Ketiga sampel tersebut diambil dalam bentuk segar dari hasil budidaya selama 42 hari. Sampel dianalisa komposisi nutrisi dengan menggunakan uji proksimat sedangkan pigmen fotosintesis diuji dengan menggunakan spktrofotometer. Hasil analisa menunjukkan bahwa E. cottonii mempunyai kandungan lemak (5,77%), serat (15,22%), karbohidrat (47,36%) dan pigmen fikoeritrin (42,88 mg/g) yang tertinggi. Alga merah E. spinosum mempunyai kadar air yang tertinggi (29,72%) dan alga merah E. striatum mempunyai kandungan protein (4,51%), abu (32,49%), klorofil a (30,41 mg/g) dan klorofil b (54,95 mg/g) yang tertinggi. Ketiga spesies alga merahi ini mempunyai potensi sebagai sumber bahan pangan yang dapat meningkatkan nilai nutrisi dan kesehatan pada manusia maupun hewan sehingga dapat memberikan kontribusi sebagai sumber pangan fungsional.ABSTRACT: Various red algae have potential nutritional and biopigment values that can be utilized to add value and sale value of seaweed. This study aims to determine the chemical composition and content of photosynthetic pigments in three species of red algae, namely Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum and Eucheuma striatum cultivated in Sreweh Waters, East Lombok, NTB. The three samples were taken in fresh form the cultivation for 42 days. The nutritional composition of the sample was analyzed using the proximate test while the photosynthetic pigments were tested using a spectrophotometer. The analysis showed that E. cottonii had the highest content of fat (5.77%), fiber (15.22%), carbohydrates (47.36%) and phicoerythrin pigment (42.88 mg / g). Red algae E. spinosum has the highest air content (29, 72%) and red algae E. striatum has protein content (4.51%), ash (32.49%), chlorophyll a (30.41 mg / g) and chlorophyll b (54.95 mg / g) the highest. These three species of red algae have potential as a source of fodd ingredients that can increase nutritional value and health in humans and animals, so that they can contribute as a source of functional food.
Identifikasi Molekuler Kapang Asosiasi Spons menggunakan Metode DNA Barcoding Larasati, Stefanie Jessica Henny; Sabdono, Agus; Sibero, Mada Triandala
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28334

Abstract

Spons merupakan organisme yang memiliki pori-pori dan termasuk kedalam filum Porifera. Hewan ini merupakan filter feeders dimana spons menyaring makanannya masuk kedalam rongga tubuhnya, sehingga spons dapan memakan partikel organik algae, dan mikroba, termasuk kapang. Kapang merupakan mikroorganisme eukariotik dari kingdom fungi, multiseluler, menghasilkan miselium tanpa pembentukan badan buah. Kapang dapat berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem di perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dua isolat kapang yang telah diisolasi dari inang spons di ekosistem mangrove dengan menggunakan DNA barcoding. Metode dalam penelitian ini yaitu peremajaan isolat, karakterisasi morfologi yaitu warna koloni, tekstur, reverse, exudates, sclerotia, bentuk konidia, konidiofor, spora, dan septa. Identifikasi molekuler dari ekstraksi DNA, amplifikasi, elektroforesis, visualisasi DNA, sekuens dan BLAST. Optimasi suhu annealing dilakukan pada amplifikasi DNA. Berdasarkan identifikasi molekuler dengan menggunakan primer universal ITS1 5' TCCGTAGGTGAACCTGCGG 3' dan ITS4 5' TCCTCCGCTTATTGATATGC 3' dan persamaan homologi, isolat MKMS 2.1 merupakan Trichoderma reesei (100%) dan PKMS 2.2 merupakan spesies Fusarium solani (99,81%). A sponge is an organism that has pores and belongs to the Porifera phylum. These animals are filter feeders where the sponge filters its food into the body cavity, so the sponge can eat organic algae particles, and microbes, including fungi. Mold is a eukaryotic microorganism from Fungi kingdom, multicellular, that forms mycelium without fruiting body formation. Mold has an important role in balancing the environmental quality in an ecosystem. The purpose of this study was to identify two molds that had been isolated from sponge in the mangrove ecosystem using DNA barcoding. The study was conducted in April-October 2019 in Laboratory of Tropical Marine Biotechnology using the experimental laboratory method. The methods in this research were isolation refreshment, morphological characterization which were consisted of colony color, texture, reverse, exudates, sclerotia, conidia, conidiophores, spores, and septa. Molecular identification consisted of DNA extraction, amplification, electrophoresis, DNA visualization, sequences and BLAST. Annealing temperature optimization is carried out on DNA amplification. Based on molecular identification using universal primers ITS1 5 'TCCGTAGGTGAACCTGCGG 3' and ITS4 5 'TCCTCCGCTTATTGATATGC 3' and homological equations, MKMS 2.1 isolates were identified as Trichoderma reesei (100%) and PKMS 2.2 were identified as Fusarium solani (99.81%).
Analisis Komposisi Hasil Tangkapan Bagan Perahu Dan Tancap Di Perairan Teluk Kupang Surbakti, Joi Alfreddi; Sir, Rikka Welhelmina
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i1.28725

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan sumberdaya ikan adalah kurang selektifnya berbagai jenis alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan. Akibatnya adalah tertangkapnya ikan-ikan yang bukan menjadi tujuan penangkapan (bycatch) yang dalam prakteknya sebagian besar ikan-ikan tersebut dibuang ke laut (discarded catch). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi komposisi jenis dan ukuran ikan hasil tangkapandari alat tangkap bagan perahu dan bagan tancap.Lokasi penelitian di Kelurahan Oesapa sebagai sentra pemukiman nelayan bagan perahu danbagan tancap di Kota Kupang dan di Perairan Teluk Kupang.Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan obyek penelitian yaitu: fakta, proses, histori, persepsi tentang perikanan bagan perahu, komposisi jenis dan ukuran ikan tangkapan yang meliputi identifikasi hasil tangkapan, berat (kilogram), jumlah (ekor), panjang cagak (fork length), keliling maksimum (maximum girth), dan lebar badan ikan. Cara mengukur panjang baku pada penelitian ini yaitu jarak garis lurus antara ujung bagian kepala yang paling depan (biasanya ujung salah satu dari rahang yang terdepan) sampai ke pelipatan pangkal sirip ekor.Hasil menunjukkan bahwa jenis ikan yang dominan tertangkap pada bagan perahu adalah ikan teri, peperek dan kembung, sedangkan pada bagan tancap ikan peperek, teri dan tembang. One of the problems faced in using fish resources is the lack of selectivity of various types of fishing gear used by fishermen. The result is the catch of fish which is not the purpose of arrest(bycatch) which in practice most of the fish are discarded catch. This study aims to identify and inventory the type and size offish catches (boat lift net and fix lift net). Research location in Oesapa village in Kupang City in Kupang Bay. This research was conducted by survey method with research object that is: fact, process, history, perception of fishery boat lift net, species composition and size of fish catch including identification of catch, weight (kilogram), number (tail), length of fork length, maximum girth, and fish body width, mesh size. The method of measuring the standard length in this study is the distance of a straight line between the tip of the front of the head (usually the tip of one of the leading jaws) to the tail fin's base. The results show that the dominant fish species in boat lift net are anchovies, pony fishes, and long-jawed mackereland, from fix lift net, are pony fishes, anchovy and sardine. 

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue