cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 687 Documents
Perendaman Daging Kerang Hijau (Perna viridis) Menggunakan Asam Asetat dan Bubuk Sargassum sp. sebagai Penurun Kadar Logam Timbal (Pb) Khoirunnisah Riswanti; Sri Sedjati; Endang Supriyantini
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35603

Abstract

Akumulasi logam berat berlebih pada kerang hijau (Perna viridis) dapat membahayakan konsumen. Sargassum sp. merupakan rumput laut yang berpotensi sebagai penurun kadar logam karena mengandung alginat yang memiliki gugus fungsi penyerap logam. Gugus fungsi seperti hidroksil dan karboksil dapat menjerap ion logam timbal (Pb) yang terdapat pada daging kerang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bubuk rumput laut Sargassum sp. dan asam asetat sebagai penurun kadar logam timbal pada daging kerang hijau serta mengidentifikasi gugus fungsi yang terkandung dalam bubuk Sargassum sp. Metode yang digunakan yaitu percobaan labotatoris, menggunakan perlakuan konsentrasi sebanyak 3 kali pengulangan. Bubuk Sargassum sp. dikeringkan menggunakan oven suhu 45°C selama 24 jam, kemudian dihaluskan dan diuji FTIR. Daging kerang direndam pada konsentrasi bubuk Sargassum sp. 0%, 4%, 6%, dan 8%, dengan pH 5 (penambahan asam asetat) selama 90 menit. Sampel didestruksi dan dilakukan pengukuran kadar logam timbal menggunakan Atomic Adsorption Spectrofotometri (AAS). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi bubuk rumput laut Sargassum sp. tidak mempengaruhi penjerapan logam timbal dengan uji Anova (P≤0,05). Konsentrasi bubuk rumput laut Sargassum sp. dengan penurunan kadar logam tertinggi yaitu konsentrasi 8% sebesar 0,111 mg/kg. Gugus fungsi yang terdapat pada bubuk Sargassum yaitu hidroksil (-OH), amina (-NH2), dan alkana (-CH2).  Excessive accumulation of heavy metals in green mussels (Perna viridis) can harm consumers. Sargassum sp. is a seaweed that has the potential as a metal reducing agent because it contains alginate which has a metal-absorbing functional group. Functional groups such as hydroxyl and carboxyl can absorb lead metal (Pb) ions found in green mussel meat. This study aims to determine the effect of using powdered seaweed Sargassum sp. and acetic acid as lowering metal levels of lead in green mussels as well as identifying the functional groups contained in powdered Sargassum sp. The method was used is a laboratory experiment, using a concentration treatment of 3 repetitions. Sargassum sp. powder dried using an oven at 45°C for 24 hours, then mashed and tested FTIR. Scallop meat soaked in powder concentration of Sargassum sp. 0%, 4%, 6%, and 8%, with pH 5 (addition of acetic acid) for 90 minutes. The sample was destroyed and the lead content was measured using Atomic Adsorption Spectrophotometry (AAS). The results showed that the concentration of Sargassum sp. powder not affect lead metal adsorption by Anova test (P≤0.05). The concentration of powdered seaweed Sargassum sp. with the highest decrease in metal content, namely the concentration of 8% at 0.111 mg/kg. The functional groups in Sargassum powder are hydroxyl (-OH), amine (-NH2), dan alkane (-CH2).
Kajian Jenis dan Bobot Sampah Makroplastik di Kawasan Padang Lamun Perairan Pulau Kelapa Dua Kepulauan Seribu Jakarta Muhamad Syahrul Ramadhani; Munasik Munasik; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.33932

Abstract

Sampah merupakan sesuatu yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas makhluk hidup dan tidak mempunyai nilai ekonomi. Sampah makroplastik merupakan sampah yang sulit atau tidak dapat terurai oleh mikroorganisme. Sampah dari daratan terbawa ombak ke laut menyebabkan pencemaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sampah makroplastik terhadap kondisi padang lamun di perairan Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu, Jakarta. Materi penelitian yang digunakan yaitu sampah makro plastik yang diambil di perairan padang lamun dan air yang diambil di area padang lamun. Metode yang dilakukan yaitu persiapan, penentuan stasiun penelitian, pengambilan data, dan analisis data. Pengamatan sampah makroplastik di area padang lamun dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dalam satu stasiun. Hasil penelitian menunjukan bahwa tipe pasang surut di lokasi pengamatan memiliki tipe pasang surut diurnal type. Data kecepatan arus berkisar antara 0,021-0,030 m/s dengan arah arus menuju barat daya, suhu antara 29,5-32,6 oC, kadar salinitas berkisar antara 24-28 o/oo, kadar BOT antara 11,152-35,81 mg/liter, kadar DO antara 5,56-6,25 ppm, dan tingkat kecerahan menunjukan 100% jernih hingga dasar. Berat sampah makroplastik yang ditemukan di seluruh stasiun pengamatan berkisar antara 0,075-2,19 Kg dengan rata – rata ukuran sebesar 8,2-15,6 cm. Persentase penutupan lamun total memiliki nilai 26,77 %, hal ini menunjukan kondisi padang lamun di perairan Pulau Kelapa Dua termasuk kedalam kategori sedang.  Garbage is generally something that is wasted or thrown away from the source of the activities of living things and has no economic value. Macroplastic waste is waste that is difficult or even impossible to decompose with the help of microorganisms. Garbage from the mainland will slowly be carried by the waves to the bottom of the ocean which can cause pollution to the ecosystem in the sea. This study aims to determine the effect of macroplastic waste on seagrass conditions in the waters of Kelapa Dua Island, Thousand Islands, Jakarta. The research material used consisted of macro plastic waste taken from seagrass beds, as well as water collected from seagrass beds. The method employed involved the preparation, maintenance of research steps, data collection, and data analysis. Observation of macroplastic waste in the seagrass area was carried out 3 times in one station. The results showed that the tidal type at the observation site had a diurnal tidal type. Current velocity data ranged from 0.021-0.030 m/s with the current direction towards the southwest, temperature between 29.5-32.6 oC, salinity levels ranging from 24-28 o/oo, BOT levels between 11,152-35.81 mg/liters, DO levels are between 5.56-6.25 ppm, and the brightness level shows 100% clear to basic. The weight of macroplastic waste found in all observation stations ranged from 0.075-2.19 Kg with an average size of 8.2-15.6 cm. The percentage of total seagrass cover has a value of 26.77%, this shows that the condition of seagrass beds in the waters of Kelapa Dua Island is included in the medium category.
Hubungan Tekstur Sedimen Terhadap Vegetasi Mangrove Di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang Devtiana Marchelia Ardang; Nirwani Soenardjo; Nur Taufiq-SPJ
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35185

Abstract

Mangrove merupakan vegetasi yang tumbuh diantara garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut. Pertumbuhan ekosistem mangrove dapat dilihat melalui ukuran butir sedimen yaitu lumpur, liat dan pasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekstur sedimen terhadap mangrove di pantai utara Rembang. Metode kuantitatif diterapkan pada penelitian ini, pengambilan sampel didapat dari hutan mangrove Pasar banggi Kabupaten Rembang. Sampel sedimen dan data analisa vegetasi mangrove diambil dari 3 stasiun yang terbagi dalam 3 wilayah yaitu aliran sungai, daerah ekowisata dan daerah tambak garam. Hasil yang diperoleh dari tekstur sedimen di Desa Pasar Banggi didominasi oleh lumpur (28,48-49,3%), pasir (30,7-63,76) dan liat (0-18). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kawasan mangrove di desa Pasar banggi termasuk padat karena memiliki nilai kategori kerapatan berkisar 1496,29-4266,67 ind/ha (KepMen LH NO. 21, 2004). Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa hubungan antara tekstur sedimen dengan kerapatan mangrove pada PB1 (kerapatan rapat) mempunyai hubungan rendah dengan koefisien korelasi (R) 0,225; PB2 (kerapatan rapat) mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan koefisien korelasi (R) 0,942; PB3 (kerapatan sedang) mempunyai hubungan sangat kuat dengan koefisien korelasi 0,999. Mangroves are vegetation that grows between shorelines and is influenced by tides. The growth of the mangrove ecosystem can be seen through the grain size of the sediment, namely mud, clay and sand. This study aims to determine the relationship between sediment texture and mangroves on the north coast of Rembang. Quantitative methods were applied in this study, sampling was obtained from the mangrove forest of Pasar Banggi, Rembang Regency. Sediment samples and mangrove vegetation analysis data were taken from 3 stations which were divided into 3 areas, namely river flows, ecotourism areas and salt pond areas. The results obtained from the sediment texture in Pasar Banggi Village are dominated by mud (28.48-49.3%), sand (30.7-63.76) and clay (0-18). The results showed that the condition of the mangrove area in Pasar Banggi village was dense because it had a density category value ranging from 1496.29 to 4266.67 ind/ha (KepMen LH NO. 21, 2004). The results of multiple linear regression test showed that the relationship between sediment texture and mangrove density in PB1 (density) had a low relationship with a correlation coefficient (R) of 0.225; PB2 (density) has a very strong relationship with a correlation coefficient (R) of 0.942; PB3 (medium density) has a very strong relationship with a correlation coefficient of 0.999.
Perbedaan Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Terhadap Jarak Tanam Muhamad Ihsan; Rini Pramesti; AB Susanto
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36431

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekonomi yang menjadi unggulan Indonesia dan jenis yang banyak dibudidayakan adalah jenis Eucheuma cottonii (Kappaphycus alvarezii) dan Eucheuma spinosum. Usaha peningkatan produksinya dikembangkan melalui modifikasi metode budidaya untuk mencapai hasil produksi yang maksimal. Jarak tanam merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan peningkatan produksi. Penelitian ini bertujuan menguji perbedaan jarak tanam terhadap laju pertumbuhan rumput laut K. alvarezii. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan perlakuan berupa jarak tanam. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan jarak tanam (20 cm, 30 cm, 40 cm) dan masing-masing perlakuan dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati yaitu laju pertumbuhan spesifik mingguan, laju pertumbuhan mutlak dan kelulushidupan K. alvarezii. Hasil penelitian menunjukkan jarak tanam yang berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik serta terdapat perbedaan yang nyata dari tiap perlakuan dari waktu ke waktu. Hasil analisa statistik menunjukkan peningkatan pertumbuhan pada masing-masing perlakuan dari setiap waktu pengukuran. Jarak tanam yang memberikan hasil pertumbuhan terbaik pada jarak tanam 30 cm dengan hasil berat rata-rata 545,9 gr dan rata-rata laju pertumbuhan spesifik 3,84% per hari.  Seaweed is one of Indonesia’s leading economic commodities. The species that are widely cultivated in Indonesian waters are Eucheuma cottonii (Kappaphycus alvarezii) and Eucheuma spinosum. Efforts to increase production are developed through modification of cultivation methods to achieve maximum production results. Plant spacing is one the factors that affect growth and increased production in relation to nutrient absorption because the spacing will affect the movement of water carryiing nutrients. This study aims to examine differences in plant spacing on the optimal growth rate of K. alvarezii seaweed for the growth of K. alvarezii. The research method used is a quantitative method with treatment in the form of spacing. The experimental design used was a completely randomized design using 3 spacing treatments (20 cm, 30 cm, 40 cm) and 3 replications. Parameters observed were weekly specific growth rate, absolute growth rate and survival rate of K. alvarezii. The results showed that different plant spacing had an effect on absolute growth and specific growth rate and there were significant differences in each treatment from time to time. The results of statistical analysis showed an increase in growth in each treatment from each measurement time. The spacing that gave the best and optimal growth results was found in the 30 cm spacing treatment by producing an average weight gain of 545,9 g and an average specific growth rate of 3,84% per day.
Penyerapan Karbon Pada Vegetasi Lamun Di Pantai Legon Bajak Pulau Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa Karla Lutfia Rahmadanti; Gunawan Widi Santosa; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.37564

Abstract

Gas karbondioksida yang tinggi di atmosfer dapat memicu pemanasan global. Upaya mitigasi diperlukan untuk mengurangi dampak buruk, salah satunya dengan pemanfaatan lamun sebagai penyerap karbon yang dikenal dengan  blue carbon. Penelitian ini bertujuan mengetahui estimasi biomassa dan kandungan karbon pada vegetasi lamun di Pantai Legon Bajak Pulau Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa. Penelitian dilakukan pada 28 – 29 November 2021 dengan dua stasiun. Analisis vegetasi dilakukan menggunakan metode line transect quadrant, yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun LIPI. Pengambilan sampel lamun menggunakan seagrass core. Biomassa lamun terbagi menjadi bagian atas substrat (daun) dan bawah substrat (akar dan rhizoma). Nilai biomassa lamun ditentukan melalui berat kering dari dengan cara pengeringan. Nilai kandungan karbon diperoleh melalui metode LOI (Loss of Ignition) atau pengabuan kering.Hasil penelitian diperoleh 5 jenis lamun, antara lain Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis dan Halodule uninervis. Kondisi padang lamun tergolong memiliki penutupan sedang. Nilai biomassa yang terdapat di bawah substrat (585 g/m2) lebih besar dibandingkan yang terdapat di atas substrat (346,73 g/m2), diikuti dengan kandungan karbon di bawah substrat (182,54 gC/m2)yang lebih besar dibandingkan atas substrat (119,43 gC/m2). Vegetasi lamun di lokasi penelitian berpotensi menyimpan karbon sebesar 301,97 gC/ m2. The high level of carbondioxide gas in the atmosphere can trigger global warming. Mitigation efforts are needed to reduce adverse impacts, such as by the optimization of seagrass as a carbon sink which is known as blue carbon. This study aims to determine the estimation of biomass and carbon content in seagrass vegetation at Legon Bajak Beach, Kemujan Island, Karimunjawa National Park. The research was conducted on 28 – 29 November 2021 at two stations. Vegetation analysis was conducted by using the line transect quadrant method, which refers to the LIPI Seagrass Monitoring Guidebook. Seagrass sample was collected by using seagrass core. Seagrass biomass is divided into above substrate (leaves) and below substrate (roots and rhizomes). The value of seagrass biomass was determined through dry weight by drying process in the oven. The value of carbon content in seagrasses is obtained through the LOI (Loss of Ignition) method or dry ignition.The results o the study obtained 5 species of seagrasses, including E. acoroides, T. hemprichii, C. rotundata, H. ovalis and H. uninervis. The condition of seagrass meadows is classified as having moderate cover. The value of the biomass below substrate (585 g/m2) is greater than the value of biomass above the substrate (346.73 g/m2), followed by the value of carbon content below the substrate (182.54 gC/m2) which is greater than above substrate (119.43 gC/m2). Seagrass vegetation in the study site has the potential to store 301.97 gC/m2 of carbon. 
Identifikasi Jenis Ikan Demersal dan Pengelolaan Perikanan Tangkap Berkelanjutan di Pasar Ikan Anaiwoi Kabupaten Kolaka Asha Aulia Zahara; Audya Septria Ningrum; Baiq Kharisma Afrilia Putri Zain; Ivonne Siswanty; Selamet Kurniawan Riandinata
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.37074

Abstract

Perikanan tangkap adalah sumber daya yang dapat diakses secara terbuka atau milik bersama yang penggunaannya dapat mengalami penangkapan berlebih atau penangkapan ikan yang merusak jika ditangani tanpa menggunakan konsep yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ikan demersal hasil tangkapan nelayan dan mengetahui pengelolaan perikanan tangkap di perairan Desa Anaiwoi. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Oktober 2022 di Pasar Ikan Anaiwoi, Kabupaten Kolaka. Metode yang digunakan adalah metode wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 31 spesies ikan demersal yang termasuk dalam 12 famili. Jenis ikan yang paling dominan ditemukan dari famili Lutjanidae dan Lethrinidae. Secara umum hasil identifikasi perikanan berkelanjutan cukup baik, seperti alat tangkap, jenis kapal ramah lingkungan, lokasi penangkapan dan jenis ikan serta ukuran ikan yang ditangkap. Jenis perahu yang paling banyak digunakan nelayan adalah perahu motor tempel. Alat tangkap yang paling umum digunakan adalah tali pancing.Capture fisheries are openly accessible resources or common property whose use may experience overfishing or destructive fishing if handled without using environmentally friendly and sustainable concepts. This study aims to identify the species of demersal fish caught by fishermen and to determine the management of capture fisheries in the waters of Anaiwoi Village. The research was conducted from September to October 2022 at the Anaiwoi Fish Market, Kolaka District. The method used is the interview and documentation method. Based on the results of the study, there were 31 species of demersal fish belonging to 12 families. The most dominant fish species were found from the Lutjanidae and Lethrinidae families. In general, the identification results of sustainable fisheries are quite good, such as fishing gear, types of environmentally friendly vessels, fishing locations and types of fish and size of fish caught. The type of boat most used by fishermen is the outboard motor. The most commonly used fishing gear is the fishing line.
Struktur Komunitas Lamun di Pulau Sintok, Menjangan Besar dan Kemujan, Karimunjawa Yasmin Noor; Ria Azizah Trinuraini; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.34101

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu taman nasional yang memiliki kekayaan alam hayati yang sangat beranekaragam. Ekosistem padang lamun adalah salah satu ekosistem penting yang ada di laut dan memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, kerapatan lamun, persentase tutupan dan kualitas perairan di Pulau Sintok, Pulau Menjangan Besar dan Pelabuhan Legon Bajak. Pertumbuhan lamun sangat dipengaruhi oleh kualitas perairan disekitar ekosistem lamun. Perbedaan kualitas perairan diduga dapat mempengaruhi kondisi lamun di Pulau Sintok, Pulau Menjangan Besar dan Pelabuhan Legon Bajak. Metode pengamatan kondisi ekosistem lamun menggunakan metode line transek kuadrat. Metode analisis korelasi yang digunakan adalah analisis pearson correlation. Analisis hubungan kualitas perairan dengan kerapatan lamun di dapatkan nilai korelasi pada suhu sebesar -0.569, pada arus sebesar -0.216, pada kedalaman sebesar -0.706, pada pH sebesar -0.715, pada salinitas sebesar 0.715, pada nitrat  sebesar 0.136 dan pada fosfat sebesar 0.715. Berdasarkan hasil analisis variabel kedalaman, pH, salinitas, fosfat menunjukkan nilai korelasi yang kuat, variabel suhu menunjukan nilai korelasi yang cukup sedangkan variabel arus dan nitrat menunjukkan nilai korelasi lemah terhadap kerapatan lamun Karimunjawa National park are one of the national park which have a very diverse biological wealth. Seagrass ecosystem is one of the important ecosystems in the sea and has many benefits for the survival of marine life. This study aims to determine the species composition, seagrass density, cover percentage and  water quality in Sintok Island, Menjangan Besar Island and legon bajak harbor. The growth of seagrass is influenced strongly by the quality of the waters in the seagrass ecosystem. Differences in the quality of the waters are thought to affect the condition of seagrass on Sintok Island, Menjangan Besar Island and Legon Bajak Harbor. The method used to observe the condition of the seagrass ecosystem is seagrass-watch method. The correlation analysis method used is the regression analysis with correlation test. Analysis of the relationship of water quality with seagrass density indicated a correlation value at -0.569 temperature, at -0.216 current, at -0.706 depth, -0.715 pH, at 0.715 salinity, at 0.136nitrates, at 0.715phosphates. From this study, it can be concluded that the quality of the waters on Sintok Island, Menjangan Besar Island and Legon Bajak Harbor has a strong relationship in temperature, nitrate in water, nitrate phosphate in sediment, strong correlation relationship in current, medium correlation relationship at depth, pH, salinity, phosphate in water to seagrass density.
Pewarna Alami Limbah Mangrove Dengan Fiksasi Air Kelapa, Asam Jawa Dan Tawas Alfin Anggraeni; Delianis Pringgenies; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36450

Abstract

Mangrove termasuk tumbuhan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, memiliki adaptasi terhadap kadar garam yang cukup tinggi, dan selalu tergenang air. Manfaat mangrove salah satunya digunakan sebagai pewarna alami pada kain. Penerapan pewarna alami dapat mengurangi adanya dampak pencemaran yang disebabkan oleh pewarna sintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tahan luntur kain terhadap pencucian sabun, kelunturan, perbedaan warna, dan warna yang dihasilkan pada kain dari hasil pengujian beda warna kain sebelum dan sesudah pencucian sabun, pada pewarna limbah propagul dan akar mangrove dengan fiksasi air kelapa, asam jawa dan tawas. Penelitian dilakukan pada bulan Juni – Juli 2022. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen, yang terdiri dari ekstraksi zat warna alam mangrove, pencelupan dan fiksasi, serta pengujian kualitas kain yang  terdiri dari uji tahan luntur warna kain terhadap pencucian sabun, pengujian beda warna kain sebelum dan sesudah dilakukannya pencucian sabun, perhitungan perbedaan warna (ΔE) dan analisis warna dengan color analysis, ibisPaint X dan colorimeter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tahan luntur pada propagul tergolong baik (4) dan akar tergolong cukup baik (3,9), nilai beda warna kain sebelum dan sesudah pencucian sabun pada akar lebih tinggi daripada propagul, perbedaan warna paling rendah, yaitu air kelapa, dan rata-rata warna propagul lebih gelap dibandingkan akar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, fiksasi yang baik yaitu air kelapa, karena memiliki tingkat kelunturan paling rendah. Mangroves are plants that are affected by tides, have adaptations to high levels of salt, and are always inundated with water. The benefit of one of the mangroves is used as a natural dye on cloth. The application of natural dyes can reduce the impact of pollution caused by the synthesis of dyes. This study aims to determine the resistance of the fabric to washing, fading, color difference, and the color produced on the fabric from the color difference testing before and washing soap, on dyes of propagule waste and mangrove roots with fixation of coconut water, tamarind and alum. The study was conducted in June – July 2022. The method used is the experimental method, which consists of extracting natural mangrove dyes, dyeing and fixation, as well as testing the quality of the fabric which consists of testing the fastness of the fabric to washing soap, testing the color difference before and before execution of washing, calculation of differences (ΔE) and color analysis with color analysis, ibisPaint X and colorimeter. The results showed that the fastness of propagule was good (4) and the roots were quite good (3.9), the difference in the value of the fabric before and washing soap on the roots was higher than that of propagules, the lowest color difference was coconut water, and the average color of the propagules is darker than the roots. Based on the research conducted, a good fixation is coconut water, because it has the lowest level of fastness.
Estimasi Konsentrasi dan Stok Karbon Organik pada Sedimen Lamun di Desa Selangan, Kalimantan Timur Andi Fitri Sakmiana; Mohammad Sumiran Paputungan; Widya Kusumaningrum; Susi Rahmawati
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.38011

Abstract

Informasi mengenai stok karbon di sedimen ekosistem lamun di Indonesia masih sedikit, khususnya di Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi stok karbon organik pada sedimen lamun yang berada di perairan sekitar Desa Selangan, pesisir Bontang. Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada bulan September 2021, dengan menggunakan pipa PVC yang berdiameter 7 cm dengan panjang 130 cm. Pengambilan sampel sedimen berjumlah 3 core dimulai dari titik lamun yang berdekatan dengan ekosistem mangrove ke arah laut dengan jarak 50 m antar stasiun. Konsentrasi karbon organik sedimen diukur menggunakan metode loss on ignition (LOI) yang dilakukan di Laboratorium Botani Pusat Riset Oseanografi BRIN. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi karbon organik pada lokasi penelitian berkisar 1,70-4,90% dengan nilai rata-rata sebesar 2,72 ±0,20 %. Estimasi stok karbon sedimen lamun yang terdapat di perairan sekitar Desa Selangan adalah 210,94 Mg C/ha. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada konsentrasi dan stok karbon organik antar lapisan sedimen. Namun, kedua nilai tersebut cenderung rendah pada lokasi lamun yang berada jauh dari ekosistem mangrove. The available information on sediment organic carbon stock data of the seagrass ecosystem in Indonesia is limited, especially in East Kalimantan. This study aimed to estimate the concentration and stock of organic carbon in seagrass sediment in Selangan, a coastal area of Bontang. Field activities to collect sediment samples were done in September 2021 by using 7-diameter PVC tube core with 130 cm length. Three sediment cores were collected from seagrass adjacent to mangrove ecosystem with 50 m interval between the cores toward the sea. Organic carbon concentration in sediment measured by using loss on ignition method that was performed in Botanical Laboratory of Research Center for Oceanography BRIN. The results showed that the concentration of organic carbon at the study sites ranged from 1.70-4.90% with average at 2.72 ±0.20%. Organic carbon stocks in seagrass sediments in Selangan were estimated at 210.94 Mg C/ha. Both sediment organic carbon concentration and storage values were no significant difference through the layer of sediments. However, both values tend to low in seagrass sediment which were far from mangrove ecosystem.
Sebaran Jenis dan Kondisi Tutupan Lamun di Perairan Kepulauan Riau Aditya Hikmat Nugraha; Imam Pangestian Syahputra; I Wayan Eka Dharmawan; Ucu Yanu Arbi; Bambang Hermanto; Fajar Kurniawan; Syofyan Roni; Ganang Wibisono; Anggia Rivani
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36274

Abstract

Perairan Kepulauan Riau yang terdiri dari pulau-pulau kecil umumnya memiliki ekosistem pesisir yang tersusun dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem lamun merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang memiliki peran tidak kalah penting seperti habitat biota, area pengasuhan, regulasi karbon dan lain sebagainya. Monitoring terkait kondisi ekosistem lamun penting untuk dilakukan dalam rangka mengetahui status ekosistem sehingga kedepan dapat menentukan langkah pengelolaan ekosistem yang baik. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2021 di Perairan Kepulauan Riau meliputi Perairan Kota Batam, Perairan Pulau Bintan, Perairan Lingga, Perairan Natuna dan Perairan Anambas. Metode pengamatan dilakukan dengan menggunakan transek garis yang dibantu dengan transek kuadrat dalam mengamati tutupan lamun di setiap lokasi penelitian.  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan 11 jenis lamun di Perairan Kepulauan Riau, meliputi spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis, Halodule pnifolia dan Syringodium isoetifolium. Nilai tutupan berada pada kisaran 20,68%-54,44%, Berdasarkan tutupannya secara umum ekosistem lamun di Perairan Kepulauan Riau berada dalam status sedang.The waters of the Riau Archipelago which consist of small islands generally have coastal ecosystems consisting of mangrove ecosystems, seagrass ecosystems and coral reef ecosystems. Seagrass ecosystems are part of coastal ecosystems that have no less important roles such as biota habitat, nurturing areas, carbon regulation and so on. Monitoring related to the condition of seagrass ecosystems is important to do in order to determine the status of the ecosystem so that in the future it can determine steps for good ecosystem management. This research was conducted in 2021 in the waters of the Riau Archipelago including Batam City Waters, Bintan Island Waters, Lingga Waters, Natuna Waters and Anambas Waters. The observation method was carried out using line transects assisted by quadratic transects in observing seagrass cover at each research location. Based on the results of the research conducted, 11 species of seagrass were found in the waters of the Riau Archipelago, including species of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis, Halodule pinifolia and Syringodium isoetifolium. The cover value is in the range of 20.68%-54.45%, based on seagrass cover in general the seagrass ecosystem in the Riau Islands waters is in a poor status.