cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 687 Documents
Estimasi Simpanan Karbon dan Bioekologi Lamun di Pantai Prawean, Jepara Endarwantti, Vionita; Djunaedi, Ali; Santosa, Gunawan Widi
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.35699

Abstract

Perubahan iklim global yang semakin meningkat dapat menyebabkan kenaikan kadar karbondioksida pada atmosfer. Lamun dapat mengurangi kadar karbondioksida pada atmosfer dengan cara menyerap karbon anorganik melalui proses fotosintesis lamun dan menyimpannya dalam bentuk karbon organik dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, kerapatan, penutupan, indeks ekologi, biomassa, dan karbon pada vegetasi lamun di Pantai Prawean, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data secara purposive sampling. Pendataan kondisi padang lamun mengacu pada metode LIPI 2014 dengan mendata penutupan, dan kerapatan lamun. Pengambilan sampel lamun menggunakan seagrass core secara acak. Sampel lamun diolah dengan metode Loss On Ignition (LOI) untuk mengetahui kadar karbon. Selanjutnya data kadar karbon dikonversikan berdasarkan nilai biomassa lamun. Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Prawean berjumlah 5 jenis antara lain Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichiii, Oceana serrulata, Enhalus acoroides dan Halodule uninervis. Kerapatan lamun di Pantai Prawean dapat mencapai 1717 individu/m2 pada stasiun 1 dan 780 individu/m2pada stasiun 2. Persentase penutupan lamun total di Pantai Prawean sebesar 39,20 % pada stasiun 1 dan 22,73 % pada stasiun 2. Indeks ekologi pada stasiun 1 memiliki keanekaragaman rendah, keseragaman rendah dan ada dominasi lamun. Sedangkan pada stasiun 2 memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman sedang dan dominasi sedang. Total biomassa lamun pada stasiun 1 dan stasiun 2 sebesar 2970,01 g/m2 dan 1345,85 g/m2. Total estimasi kandungan karbon lamun pada stasiun 1 dan stasiun 2 sebesar 1000,61 gC/m2 dan  447,27 gC/m2. Global climate change can cause an increase in carbon dioxide levels in the atmosphere. Seagrass can reduce carbon dioxide levels in the atmosphere by absorbing inorganic carbon through the seagrass photosynthesis process and storing it in the form of organic carbon for a long time. Therefore, this study was conducted to determine species composition, density, cover, ecological index, biomass, and carbon in seagrass vegetation in Prawean Beach, Jepara. This research uses purposive sampling data collection method. Data collection on the condition of seagrass beds refers to the 2014 LIPI method by recording the cover and density of seagrass. Seagrass sampling used random seagrass cores. Seagrass samples were processed by the Loss On Ignition (LOI) method to determine the carbon content. Furthermore, the carbon content data is converted based on the value of seagrass biomass. There are 5 types of seagrass found on Prawean Beach, namely Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichiii, Oceana serrulata, Enhalus acoroides and Halodule uninervis. The density of seagrass in Prawean Beach can reach 1717 individuals/m2 at station 1 and 780 individuals/m2 at station 2. The percentage of total seagrass cover in Prawean Beach is 39.20% at station 1 and 22.73% at station 2. station 1 has low diversity, low uniformity and there is a dominance of seagrass. While at station 2 has moderate diversity, moderate uniformity and moderate dominance. The total biomass of seagrass at station 1 and station 2 was 2970.01 g/m2 and 1345.85 g/m2. The total estimated carbon content of seagrass at station 1 and station 2 is 1000.61 gC/m2 and 447.27 gC/m2.
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asosiasi Daun Cymodocea serrulata di Perairan Pulau Panjang, Jepara Setiyorini, Alin; Pringgenies, Delianis; Ridlo, Ali
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.38169

Abstract

Lamun merupakan jenis tumbuhan berbunga yang mampu hidup terendam di laut dan memiliki banyak manfaat. Lamun memiliki banyak peran penting bagi ekossitem laut salah satu contohnya adalah sebagai sediment trap dan juga pemfiksasi CO2. Lamun juga memiliki fungsi penting lain bagi biota yang hidup di ekosistem lamun, mulai dari tempat berlindung dari predator, spawning dan feeding ground. Spesies Cymodocea sp. merupakan salah satu genus lamun yang dapat ditemukan di Pulau Panjang, Jepara. Lamun memiliki organisme asosiasi, salah satunya bakteri asosiasi yang memegang peranan penting secara biologi dan ekologis antar interaksi tumbuhan lamun dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies lamun yang digunakan dan mengetahui adanya bakteri asosiasi pada daun lamun tersebut. spesies lamun diidentifikasi secara morfologi sesuai buku panduan identifikasi LIPI. Bakteri asosiasi lamun diisolasi dari daun lamun dengan menggunakan metode pengenceran berseri. Isolat bakteri tersebut dikarakterisasi secara morfologi untuk mendapatkan isolat bakteri dengan ciri morfologi yang berbeda. Lamun dan bakteri asosiasi dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang mirip antara keduanya sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang bioteknologi dan farmasi laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies lamun yang digunakan adalah jenis Cymodocea serrulata. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat 7 isolat bakteri asosiasi daun lamun yang berhasil diisolasi dan memiliki karakteristik morfologi yang berbeda. Keberadaan bakteri asosiasi pada daun lamun ini memberikan informasi tentang terjadinya hubungan interaksi antara bakteri dan tumbuhan lamun.   Seagrass is a type of flowering plant that can live submerged in the sea and has many benefits. Seagrass has many important roles for marine ecosystems, one example is as a sediment trap and also a CO2 fixer. Seagrasses also have other important functions for biota that live in seagrass ecosystems, starting from shelter from predators, spawning and feeding ground. Species Cymodocea sp. is one of the seagrass genera that can be found on Panjang Island, Jepara. Seagrass has associated organisms, one of which is associated bacteria which play an important role biologically and ecologically in the interaction between seagrass plants and their environment. This study aims to determine the species of seagrass used and to determine the presence of associated bacteria in the seagrass leaves. Seagrass species were identified morphologically according to the LIPI identification guide. Seagrass-associated bacteria were isolated from seagrass leaves using serial dilution method. The bacterial isolates were characterized morphologically to obtain bacterial isolates with different morphological characteristics. Seagrasses and associated bacteria can produce bioactive compounds that are similar between the two so that they can be used in marine biotechnology and pharmaceuticals. The results showed that the seagrass species used was Cymodocea serrulata. The results also showed that there were 7 bacterial isolates associated with seagrass leaves which had different morphological characteristics. The presence of associated bacteria on seagrass leaves provides information about the occurrence of an interaction relationship between bacteria and seagrass plants.
Ekosistem Terumbu Karang di Pantai Tawang, Kabupaten Pacitan Handayani, Muliawati; Utama Dewi, Citra Satrya
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.38669

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang rentan terdegredasi. Pemanfaatan wilayah sekitaran Pantai Tawang untuk kegiatan wisata, pelelangan ikan dan pembangunan tambak intensif berpotensi menurunkan tutupan karang hidup dan mengganggu fungsi ekologis terumbu karang.  Hal ini tentu meningkatkan kerentanan ekosistem karang, selain akibat kenaikan suhu perairan dan faktor hidrooseanografi lainnya. Tutupan karang di pantai Tawang yang terus mengalami penurunan menjadinan alasan perlu upaya pengkajian yang presisi terhadap indeks ekologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi ekosistem terumbu karang di Pantai Tawang berdasarkan indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi. Pengambilan data lifeform, tutupan dan jenis karang dilakukan dengan metode LIT (Intercept Transect). Tutupan rata-rata substrat karang hidup pada tiga lokasi sampling sebesar 33,7% yang berarti bahwa sustrat pada kondisi penilaian yang sedang.  Padahal, nilai tutupan karang tahun 2020 sebesar 41,2%. Nilai indeks keanekaragaman karang (H’) pada titik I, II dan III berada pada kelas kisaran 1-<3,0 yang berarti ekosistem memiliki keragaman jenis yang rendah. Indeks keseragaman (E) ketiga titik mendekati 1, yang berarti bahwa jenis karang di ekosistem tersebut cenderung seragam. Sedangkan indeks dominansi (D) di semua titik berada pada kisaran <0,5 dan cenderung mnedekati 1. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat spesies yang mendominasi pada komunitas karang di Pantai Tawang.Pelestarian sumberdaya karang penting dilakukan untuk menjaga plasma nutfah yang ada di dalam ekosistem tersebut. Coral reef ecosystems are ecosystems that are potentially degraded. Coastal land use around of Tawang Beach for tourism activities, fish auctions and the intensive aquaculture has the potential to reduce live coral cover and disrupt the ecological functions of coral reefs. Certainly, it was increasing the vulnerability of coral ecosystems, apart from the effects of warming water temperatures and other hydro-oceanographic factors. The coral cover on the Tawang coast continues to decline every year, and it is the reason why precise assessment ecological index needed. This study aims to evaluate coral reef ecosystem in Tawang Beach based on diversity index, uniformity index and dominance index. Collecting data of coral lifeform, cover and species was using the LIT (Intercept Transect) method. The average live coral substrate cover at the three sampling locations was 33.7%, which means that the substrate was in moderate assessment conditions. In fact, the value of coral cover in 2020 was 41.2%. Diversity index (H') values at stations I, II and III are in the 1-<3.0 range, which means that the ecosystem has low species diversity. Evenness index (E) of all stations is close to 1, which means that the types of coral in these ecosystems tend to be uniform. Dominance index (D) at all stations is in <0.5 range and tends to be close to 1. This shows that there are no species that dominate the coral community in Tawang Beach. Conservation of coral resources is important to preserve biodiversity in the ecosystem.
Pengaruh Media Perendaman Dan Ukuran Partikel Terhadap Karakteristik Kimia Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Dari Perairan Sumenep Madura Tania, Irene Dyas; Hafiludin, Hafiludin
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.37072

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu tumbuhan laut yang mempunyai nilai guna tinggi dalam berbagai bidang khususnya pangan fungsional dan obat-obatan. Salah satu jenis rumput laut yang potensial untuk dikembangkan adalah Eucheuma cottonii. Kualitas rumput laut perlu dijaga dengan cara perendaman dan ukuran partikel bahan bakunya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan kimia rumput laut Eucheuma cottonii dengan perlakuan media perendaman dan ukuran partikel yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu preparasi sampel, karakterisasi kandungan kimia bahan baku rumput laut, karakterisasi kimia rumput laut hasil perendaman dan perbedaan ukuran partikel. Perendaman dilakukan dengan menggunakan larutan KOH dan air kelapa. Ukuran partikel terbagi menjadi dua yaitu 30 mesh dan 80 mesh. Eucheuma cottonii asal Sumenep Madura mempunyai kadar air 34,67%; kadar abu 27,11%; kadar lemak 0,64%; kandungan serat kasar 0,06%. Kandungan kimia pada perlakuan media perendaman air kelapa dan ukuran partikel 30 mesh dan 80 mesh yaitu kadar air 12,53–13,71%; kadar abu 23,88–26,7%; kadar lemak 0,848–0,854%; kandungan serat kasar 0,120–0,126%. Kandungan kimia pada perlakuan perendaman larutan KOH dan ukuran partikel 30 mesh dan 80 mesh yaitu kadar air 12,026–13,363%; kadar abu 25,49–28,09%; kadar lemak 0,842–0,844%; kandungan serat kasar 0,128–0,159%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rumput laut Eucheuma cottonii mempunyai kandungan gizi yang cukup baik sehingga dapat dimanfaatkan dan dikembangkan dalam bidang pangan fungsional. Seaweed is a marine plant with high use value in various fields, exceptionally functional food and medicine. One type of seaweed that has the potential to be developed is Eucheuma cottonii. The quality of seaweed must be maintained by soaking and the particle size of the raw material. This study aims to analyze the proximate content of Eucheuma cottonii seaweed with different soaking treatments and particle sizes. This research was conducted in several stages: sample preparation, characterization of the chemical content of seaweed raw materials, chemical characterization of soaked seaweed and different particle sizes. Soaking is done using KOH solution and coconut water. Particle sizes are divided into two, namely 30 mesh and 80 mesh. Eucheuma cottonii from Sumenep Madura has a moisture content of 34.67%, ash content of 27.11%, fat content of 0.64%, and crude fiber content of 0.06%. The chemical content in the coconut water immersion treatment and the particle size is 30 mesh and 80 mesh at a moisture content of 12.53–13.71%, ash content of 23.88–26.7%, fat content of 0.848–0.854%, crude fiber content of 0.120–0.126%. The chemical content in the KOH solution immersion treatment and the particle size of 30 mesh and 80 mesh at a water content of 12.026–13.363%; ash content 25.49–28.09%; fat content 0.842–0.844%; crude fiber content 0.128–0.159%. The results of this study indicate that Eucheuma cottonii seaweed has a reasonably good nutritional content, so it can be utilized in various functional foods.
Pola Distribusi Dan Kepadatan Populasi Bulu Babi (Tripneustes gratilla Linnaeus, 1758) di Ekosistem Intertidal Pantai Bilik Taman Nasional Baluran Setiawan, Rendy; Siddiq, Arif Mohammad; Pratiwi, Arif; Dwi Susanto, Miftha Amilia
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.37933

Abstract

Spesies Tripneustes gratilla merupakan bulu babi yang termasuk anggota dari kelas Echinoidea. Hewan ini dapat ditemukan di ekosistem intertidal dan tergolong sebagai biota bentik yang sering ditemukan di ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Spesies T. gratilla memiliki nilai ekologis yang penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, yaitu sebagai herbivor dan juga sebagai spesies kunci yang mampu mengendalikan pertumbuhan makroalga yang hidup di ekosistem terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pola distribusi dan kepadatan populasi T. gratilla di ekosistem intertidal Pantai Bilik Taman Nasional (TN) Baluran. Metode menentukan pola distribusi dilakukan metode transek plot sistematis dengan cara meletakkan plot paralon berukuran 1x1 m di sepanjang transek garis. Pola distribusi T. gratilla di ekosistem intertidal Pantai Bilik TN Baluran tergolong mengelompok berdasarkan hasil analisis menggunakan Indeks Morisita dengan nilai Id sebesar 4.8. Kepadatan T. gratilla di ekosistem intertidal Pantai Bilik TN Baluran tergolong rendah dengan nilai kepadatan 0.2 Ind/m2 atau apabila dikonversikan maka hanya ada 2 individu dalam area plot seluas 10 m2. Tripneustes gratilla is a sea urchin that belongs to the class Echinoidea. These animals can be found in intertidal ecosystems and are classified as benthic biota which are often found in coral reef and seagrass ecosystems. The species T. gratilla has an important ecological value in maintaining the balance of marine ecosystems, namely as a herbivore and also as a key species capable of controlling the growth of macroalgae that live in coral reef ecosystems. The purpose of this study was to determine the pattern of distribution and population density of T. gratilla in the intertidal ecosystem of Bilik Beach, Baluran National Park. The method of determining the distribution pattern is carried out using the systematic plot transect method by placing 1x1 m paralon plots along the line transects. The distribution pattern of T. gratilla in the intertidal ecosystem of Bilik Beach, Baluran National Park, is classified as clustered based on the results of an analysis using the Morisita Index with an Id value of 4.8. The density of T. gratilla in the intertidal ecosystem of Bilik Beach, Baluran National Park, is low, with a density value of 0.2 Ind/m2 or when converted, there are only 2 individuals in a plot area of 10 m2.
Analisis Produksi dan Distribusi Produk Teri Nasi (Stolephorus Sp) Kering di PT. Marinal Indoprima, Kapedi, Kabupaten Sumenep Chandrawati, Mehry; Hafiludin, Hafiludin
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.36788

Abstract

Produksi ikan teri nasi kering banyak dilakukan di Indonesia karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Pengeringan merupakan salah satu cara untuk mengolah ikan teri nasi menjadi ikan teri nasi kering. Pengolahan ikan teri nasi kering dengan penambahan garam banyak dilakukan untuk komoditas ekspor, karena teknik pengasinan dengan garam dapat menghambat pembusukan serta dapat menjaga kandungan gizi dengan tujuan ikan teri nasi asin kering sampai ke tangan konsumen dalam kondisi mutu dan gizi baik. Proses pengeringan dilakukan dengan tujuan agar mengurangi kadar air dalam daging ikan teri nasi, sehingga umur simpan dari ikan teri nasi kering lebih lama daripada ikan teri nasi segar. Produk ikan teri nasi dengan mutu yang baik dapat diekspor ke pasar luar negri. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis proses produksi, distribusi, menganalisis kadar air ikan teri nasi selama proses pengolahan di PT. Marinal Indoprima. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan melakukan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa input     produksi meliputi pengadaan bahan baku, penimbangan, pengecekan, dan pencucian. Proses produksi meliputi perebusan dan penggaraman, pengeringan, sortasi mesin, sizing, sortasi II, checking, metal detecting, dan uji kadar air. Output produksi meliputi pengemasan dan penyimpanan. Distribusi produk ikan teri nasi kualitas ekspor yaitu Jepang dan Singapura dengan harga 200.000/kg-250.000/kg, sedangkan produk teri nasi kualitas non ekspor didistribusikan pada restoran, pembuat rengginang, dan masyarakat sekitar dengan harga 30.000/kg-80.000/kg. Kadar air teri nasi dari daerah Kapedi pada bahan baku segar yaitu 81,17%, proses perebusan sebesar 63,67%, pengeringan 37,33%, penyimpanan 2 minggu 36,83%, penyimpanan 4 minggu 34,23%. Hasil analisa kadar air ikan teri nasi dari daerah Dungkek pada bahan baku segar yaitu 82,37%, perebusan 65,37%, penyimpanan 0 minggu 39,77%, penyimpanan 2 minggu 38,87%, dan penyimpanan 4 minggu 37,52%. The production of dried spined anchovies is primarily done in Indonesia because it has high economic value. Drying is one way to process spined anchovies into dried spined anchovies. Processing dried spined anchovies with salting is mainly done for export commodities because drying and salting can inhibit spoilage and maintain nutritional content. The dried and salted anchovies can reach the hands of consumers in good quality and nutritional conditions. The drying and salting process is carried out to reduce the water content in spined anchovies, so the storage time of dried spined anchovies is more prolonged than that of fresh anchovies. Anchovy products with good quality can be exported to foreign marketplaces. This study aims to determine the production process, distribution, and changes in the water content of spined anchovies at PT. Marina Indoprima. The method used in this research is a descriptive method by conducting interviews and observations. The results showed that production inputs include procurement of raw materials, weighing, checking, and washing. The production process includes boiling and salting, drying, machine sorting, sizing, sorting II, checking, metal detecting, and water content testing. Production output includes packaging and storage. The distribution of export quality spined anchovy products are exported to Japan and Singapore, which cost 200,000/kg-250,000/kg. In contrast, non-export quality anchovy products are distributed to restaurants, rengginang makers, and the surrounding community, costing 30,000/kg-80,000/kg. The water content of fresh spined anchovies from the Kapedi was 81,17%, after boiling 63.67%, drying 37.33%, 2 weeks storage 36.83%, and 4 weeks storage 34.23%. The results of the analysis of the water content of fresh spined anchovies from the Dungkek area obtained fresh anchovies at 82.37%, boiling at 65.37%, storage 0 weeks 39.77%, storage 2 weeks 38.87%, and storage 4 weeks 37.52 %.  
Pemetaan Perairan Dangkal Pulau Genting, Kepulauan Karimunjawa Choiriah, Nabila Fitri; Ismunarti, Dwi Haryo; Helmi, Muhammad
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41652

Abstract

Pulau Genting adalah salah satu pulau berpenghuni yang terletak di Kepulauan Karimunjawa bagian timur. Kegiatan pelayaran merupakan kegiatan utama bagi para penduduk Pulau Genting, baik untuk transportasi, jasa angkut, atau sebagai mata pencaharian masyarakat Pulau Genting. Pemetaan kedalaman perairan, terutama pada perairan dangkal perlu dilakukan untuk mendukung urgensi kegiatan pelayaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan perairan dangkal Pulau Genting untuk mendukung alur kegiatan pelayaran. Data yang digunakan adalah data pemeruman lapangan tanggal 26-28 Juni 2022, dan data pasang surut dengan periode 12 Juni–10 Juli 2022. Metode pengambilan data kedalaman lapangan dilakukan dengan alat fishfinder. Sedangkan pengolahan data pasang surut dilakukan dengan metode Admiralty, dan pengolahan data kedalaman lapangan menggunakan koreksi reduksi pasang surut (rt). Nilai kedalaman perairan dangkal Pulau Genting berkisar antara 0 hingga -20 meter, dengan nilai Z0=0,54 meter, HHWL=2,27 meter, MSL=1,77 meter dan LLWL 1,23 meter. Perairan dangkal Pulau Genting sebelah barat memiliki topografi yang lebih landai dibandingkan dengan perairan di sebelah timur. Topografi pantai sebelah timur Pulau Genting, yang cenderung lebih dalam, memungkinkan kapal perikanan kecil dapat bersandar tanpa khawatir kemungkinan kandas. In the eastern Karimunjawa Islands, Genting Island was one of the populated islands. The primary activity for Genting Island residents was shipping, whether it is for personal transit, moving goods, or as a means of support. To support the urgency of these maritime activities, water depth mapping was required, particularly in shallow waters. In order to facilitate maritime activity, this project examine and map Genting Island's shallow water. The data used includes tidal data for the period June 12-July 10, 2022, and field survey data for the period June 26–28, 2022. A fishfinder instrument was used to conduct the method of acquiring field depth data. While implementing the Admiralty method for tidal data processing and tidal reduction correction for field depth data processing. Genting Island's shallow water are between 0 and -20 meters deep, with Z0=0,54 meter, HHWL=2,27 meter, MSL=1,77 meter dan LLWL 1,23 meter respectively. The topography of Genting Island's shallow water to the west was softer than those to the east. Small fishing boats can dock on Genting Island's east coast without being concerned about the potential of running aground due to the terrain, which was often steep.
Karakterisasi Senyawa serta Uji Toksisitas Ekstrak Gonad dan Eksoskeleton Bulu Babi Echinometra oblonga dari Perairan Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Yogyakarta Kristi, Roselina Nadya; Trianto, Agus; Widowati, Ita
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.35079

Abstract

Bulu babi tersebar hampir di seluruh perairan di dunia salah satunya adalah perairan selatan Jawa yaitus Pantai Sepanjang Gunung Kidul. Salah satu jenis bulu babi yang ditemukan di Pantai Sepanjang Gunung Kidul adalah Echinometra oblonga. Informasi menarik lainnya mengenai bulu babi adalah racun (toksin) yang merupakan senyawa bioaktif yang terdapat pada duri-durinya. Informasi mengenai toksin bulu babi di wilayah Pantai Sepanjang Gunung Kidul masih kurang hingga saat ini, dan sebagian besar penelitian yang ada tentang toksin bulu babi hanya terbatas pada duri dan cangkangnya saja, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai bagian lain dari bulu babi seperti gonadi. Penelitian mengenai toksin gonad bulu babi perlu dilakukan karena gonad bulu babi merupakan bagian bulu babi yang banyak digemari masyarakat untuk dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui golongan senyawa dan tingkat toksisitas senyawa yang terdapat bagian gonad dan eksoskeleton dari bulu babi E. oblonga dari Pantai Sepanjang, Gunung Kidul. Sampel diambil dari Pantai Sepanjang, dan dilanjutkan ekstraksi sampel dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji penentuan kandungan senyawa pada sampel dilakukan dengan uji fitokimia dan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Penentuan tingkat toksisitas sampel menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) menggunakan hewan uji Artemia salina untuk mendapatkan data yang akan diolah dengan analisis probit untuk mengetahui LC50 (jumlah konsentrasi sampel yang dibutuhkan untuk membunuh 50% hewan uji) yang digunakan untuk penentuan tingkat toksisitas sampel. Hasil analisis kandungan senyawa dengan uji fitokimia diketahui bahwa ekstrak gonad E. oblonga mengandung saponin, flavanoid, dan triterpenoid, sedangkan pada ekstrak eksoskeleton mengandung alkaloid, saponin, flavanoid, dan triterpenoid. Hasil analisis kandungan senyawa menggunakan KLT diketahui bahwa ekstrak gonad dan esksokletenon E. oblonga mengandung steroid dengan nilai Rf masing-masing 0,89 dan 0,87. Hasil dari uji toksisitas dengan metode BSLT dan analisis probit diketahui bahwa nilai toksisitas lethal (LC50-24 jam) pada gonad dan eksoskeleton masing-masing adalah 6.224688.84 ppm dan 1420.83 ppm.  Sea urchin is one animal that is familiar among the general public as a nutritious seafood. Sea urchins are scattered in almost all waters in the world, one of which is the southern waters of Java, namely the Sepanjang Beach, Gunung Kidul, with one type of sea urchin found is Echinometra oblonga. Other interesting information about sea urchins is poison (toxin) which is a bioactive compound found in its spines. Information about sea urchin toxin in the  Sepanjang Beach, Gunung Kidul area is still lacking, so further research is needed. The purpose of this study was to determine the class of compound and the level of toxicity of the compounds contained in the gonads and exoskeleton of sea urchins E. oblonga from Sepanjang Beach, Gunung Kidul. Samples were taken from Panjang Beach, and continued with sample extraction by maceration method using 96% ethanol as solvent.The test to determine the compound content in the sample was carried out by phytochemical tests and TLC (Thin Layer Chromatography). Determination of the level of sample toxicity using the BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) method, namely testing using test animals Artemia salina to obtain data that will be processed with probit analysis to determine the LC50 (the amount of sample concentration needed to kill 50% of test animals) which is used to determine the level of toxicity of the sample. The results of the analysis of compound content by  phytochemicals test and TLC showed that the gonad extract of E. oblonga contains Saponins, Flavonoids, Triterpenoids, and Steroids, while the exoskeleton extract contains alkaloids, saponins, flavonoids, triterpenoids, and steroids. The results of the toxicity test using the BSLT method and probit analysis showed that the lethal toxicity value (LC50-24 hours) in the ethanol extract of Sea Urchin gonad (E. oblonga) was more than 1000 ppm. 
Studi Persebaran Kandungan Fosfat dan Material Padatan Tersuspensi di Perairan Muara Sungai Slamaran, Kota Pekalongan Arfastya, Farras Daffa; Wulandari, Sri Yulina; Rifai, Azis
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41538

Abstract

Kota Pekalongan dilalui oleh sungai Slamaran yang menjadi tempat masuknya fosfat dari darat ke laut. Fosfat adalah nutrient yang terkandung dalam bahan organik dari limbah domestik maupun pertambakan yang mempengaruhi kesuburan perairan muara Sungai Slamaran. Konsentrasi fosfat di perairan dapat dipengaruhi oleh material padatan tersuspensi (MPT). Penelitian ini bertujuan mengkaji persebaran konsentrasi fosfat dan MPT serta mengkaji hubungan antara sebaran fosfat dan MPT di muara sungai Slamaran, kota Pekalongan. Data lapangan diambil secara in situ. Sampel air dianalisis di laboratorium. Analisis fosfat menggunakan metode yang digunakan oleh Strickland dan Parson (1968). Analisis MPT menggunakan metode gravimetri. Peta sebaran konsentrasi fosfat dan MPT dibuat dengan software ArcGis. Arus permukaan laut dimodelkan dengan software Mike 21 selanjutnya divalidasi dengan nilai RMSE dan MAE. Analisis korelasi Pearson digunakan untuk menentukan korelasi antara konsentrasi fosfat dan MPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konsentrasi fosfat memiliki rentang 0.44–1,84 µM, dan konsentrasi MPT memiliki rentang 56-152 mg/L. Berdasarkan peta persebaran fosfat dan MPT di perairan muara Sungai Slamaran, diduga bahwa persebaran fosfat dan MPT mendapat pengaruh dari masukan sungai dan tambak udang yang berada di muara sungai Slamaran. Hasil analisis korelasi menunjukkan korelasi yang tidak cukup kuat antara sebaran konsentrasi fosfat dengan sebaran MPT.  Pekalongan city is crossed Slamaran River which is entry point phosphate from the land to the sea. Phosphate is a nutrient contained in organic material from domestic waste and aquaculture which affects the productivity of the waters of Slamaran river estuary. Phosphate concentrations in waters can be influenced by suspended solids (TSS). The aims of this study were to determine concentration of phosphate and TSS distribution and to examine correlation between phosphate and TSS concentrations in Slamaran River estuary. In situ data were taken at Slamaran River estuary. Water samples were analyzed at laboratory. Phosphate concentration analysis used method by Strickland and Parson (1968). TSS concentration analysis used gravimetric method. Distribution of Phosphate and TSS concentration were mapped using ArcGIS software. Ocean surface currents was numerically modeled used Mike 21 software then validated with RMSE and MAE methods. Pearson correlation method was used to analyzed correlation between phosphate and TSS concentration. The results showed that phosphate concentration were ranged from 0.44–1,84 µM mg/L and TSS concentration were ranged from 56-152 mg/L. Based on distribution map of phosphate and TSS in the Slamaran River estuary, it was predicted that phosphate and TSS distribution influenced by inputs from the river and shrimp ponds along the estuary Slamaran river. Results of the correlation analysis showed that correlation between phosphate and TSS concentrations distribution was not strong enough.
Analisis Tingkat Keberhasilan Rehabilitasi Rhizophora apiculata di Kawasan Mangrove Manawa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo Labuga, Falerins; Kandowangko, Novri Youla; Baderan, Dewi Wahyuni Kyai
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.38630

Abstract

Manawa merupakan salah satu kawasan di wilayah Kabupaten Pohuwato yang mengalami kerusakan hutan mangrove akibat alih fungsi hutan menjadi lahan tambak dan perkebunan. Rusaknya hutan mangrove berdampak pada berkurangnya berbagai biota laut diantaranya udang, kepiting, dan berbagai jenis ikan. Salah satu upaya perbaikan adalah dengan melakukan rehabilitasi hutan mangrove. Rehabilitasi merupakan salah satu upaya pemulihan ekosistem mangrove pada kondisi semula. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan rehabilitasi Rhizophora apiculata, mengukur tingkat pertumbuhan Rhizophora apiculata, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Rhizophora apiculata  yang di rehabilitasi di kawasan mangrove Manawa, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Analisis keberhasilan mangrove menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, dan faktor lingkungannya menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat keberhasilan rehabilitasi dinilai berhasil. Hal ini dibuktikan dengan persentase keberhasilan hidup Rhizophora apiculata mencapai 79.51%. Tingkat pertumbuhan Rhizophora apiculata baik dari segi tinggi tanaman maupun jumlah daun mengalami pertambahan namun tidak merata pada seluruh plot. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan rehabilitasi mangrove yaitu salinitas dan suhu masih dalam kisaran yang sesuai untuk Rhizophora apiculata. Substrat pada lokasi penelitian didominasi oleh substrat pasir debu. Hama yang ditemukan pada lokasi penelitian tergolong sedang dan didominanasi hama dari kelas Gastropoda.  Manawa, a village in Pohuwato Regency, has suffered damage to its mangrove forest because it was converted into ponds and plantations. A variety of marine biota is reduced when mangrove forests are destroyed, including shrimp, crabs, and a variety of fish species. In the process of improving the ecosystem, one of the improvements is the rehabilitation of mangrove forests. In order to restore the mangrove ecosystem to its original state, rehabilitation is one of the methods. The purpose of this study is to evaluate the success rate of Rhizophora apiculata rehabilitation, measure its growth rate, and determine the factors influencing Rhizophora apiculata rehabilitation in the Manawa Mangrove area, Patilanggio District, Pohuwato Regency, Gorontalo. The success of mangroves was analyzed using quantitative descriptive analysis, and environmental factors were analyzed using descriptive analysis. Results of the study showed that rehabilitation success rates were higher than expected. This is evidenced by Rhizophora apiculata's survival rate, which reached 79.51%. A higher growth rate in plant height and leaves has been observed in Rhizophora apiculata, but not uniformly across the plots. Salinity and temperature, two factors that affect mangrove rehabilitation, remain within the appropriate range for Rhizophora apiculata. The study site substrate is dominated by sand and dust. The pests at the study site were classified as moderate and the most dominant were found in the Gastropod class because the substrate content was suitable for this type of habitat.