cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 687 Documents
Analisis Kerapatan Mangrove dan Keanekaragaman Makrozoobenthos di Kawasan Ekowisata Mangrove Lantebung Kota Makassar Amal Arfan; Wahidah Sanusi; Muhammad Rakib
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.38060

Abstract

Ekosistem mangrove berada dalam posisi yang mengkhawatirkan karena ekosistem tersebut terancam mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Sementara ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologis dan menyediakan berbagai manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerapatan mangrove dan keanekaragaman makrozoobenthos di kawasan ekowisata mangrove Lantebung, Makassar. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan sistem informasi geografis yakni analisis citra pengindraan jauh menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), selanjutnya dilakukan ground check yaitu survei lapangan untuk mengidentifikasi keanekaragaman dan kelimpahan jenis mangrove dan makrozoobenthos. Secara umum, kerapatan mangrove di lokasi penelitian tergolong lebat, dan sebagian kecil kerapatan sedang. Nilai kerapatan tertinggi sebesar 0,63 ind/m2, sedangkan nilai terendah sebesar 0,42 ind/m2. Jenis mangrove yang terdapat di lokasi penelitian diantaranya Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, Brugaria gymnorhiza, Avicennia marina, Avicennia alba, dan Sonneratia alba. Rhizophora mucronata menjadi spesies mangrove yang paling dominan, sedangkan Sonneratia alba merupakan yang paling sedikit ditemukan pada lokasi penelitian. Makrozoobenthos yang hidup di ekosistem tersebut cukup beragam dan berlimpah, paling dominan ditemukan Uca sp. (kelas crustacea). Muara sungai merupakan area dengan kerapatan mangrove yang paling tinggi serta area yang paling banyak hidup makrozoobenthos. Ekosistem mangrove di Lantebung masih tergolong sehat dan perlu dijaga agar tetap lestari. Analisis kerapatan mangrove dan keanekaragaman makrozoobenthos penting untuk mendukung pemanfaatan ekosistem mangrove salah satunya pengembangan ekowisata mangrove yang berkelanjutan.  Mangrove ecosystems are in a worrying position because they are threatened by a decline in quality and quantity. While mangrove ecosystems have an important role in maintaining ecological balance and providing various benefits. This study aims to analysis mangrove density and macrozoobenthos diversity in the Lantebung mangrove ecotourism area, Makassar. The research was conducted by applying geographic information systems, namely remote sensing image analysis using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) method, followed by ground checks, namely field surveys to identify the diversity and abundance of mangrove species and macrozoobenthos. In general, the density of mangroves in the study site is classified as dense, and a small portion of moderate density. The highest density value was 0.63 ind/m2 while the lowest value was 0.42 ind/ m2. Mangrove species found in the study site include Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculate, Brugaria gymnorhiza, Avicennia marina, Avicennia alba, and Sonneratia alba.  Rhizopora mucronata became the most dominant mangrove species, while Sonneratia alba was the least occupying the study site. Macrozoobenthos that live in the ecosystem are quite diverse and abundant, most dominantly found Uca sp. (crustacean class). The estuary is an area with the highest mangrove density and the most macrozoobenthos. The mangrove ecosystem in Lantebung is still relatively healthy and needs to be maintained to remain sustainable. Analysis of mangrove density and macrozoobenthos diversity is important to support the utilization of mangrove ecosystem, one of which is the development of sustainability mangrove ecotourism.
Keberadaan mikroplastik pada kerang darah (Anadara granosa) dari TPI Tambak Lorok, Semarang Arifin, Muhammad Sholeh; Suprijanto, Jusup; Ridlo, Ali
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36448

Abstract

Keberadaan mikroplastik diperairan dapat terakumulasi dalam tubuh biota melalui insang dan rantai makanan. Kerang darah termasuk organisme sesil yang hidup bergantung pada ketersediaan zooplankton, fitoplankton dan material organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mikroplastik pada kerang darah (Anadara granosa) di TPI Tambak Lorok, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel kerang darah diambil dari hasil tangkapan nelayan TPI Tambak Lorok pada bulan Oktober 2021 dan Januari 2022. Sampel dibedakan dengan perlakuan pencucian dan tanpa pencucian. Sampel didestruksi menggunakan KOH 10% sebanyak 3:1 berat sampel selama 24 jam, apabila terdapat sisa bahan organik maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 5 ml selama 24 jam. Sampel disaring menggunakan filter paper dengan bantuan vacuum pump. Hasil penelitian menunjukan adanya mikroplastik pada kerang darah dari TPI Tambak Lorok, Semarang. Berdasarkan hasil identifikasi visual menggunakan mikroskop binokuler, bentuk mikroplastik yang ditemukan yaitu fiber, film, fragment dan pellet. Proses pencucian mengakibatkan penurunan mikroplastik sebesar 18% (42,8 partikel/individu) pada bulan Oktober 2021 dan 16% (20,8 partikel/individu) pada bulan Januari 2022. Hasil kelimpahan mikroplastik pada sampel tanpa pencucian dan dengan pencucian secara berturut – turut pada bulan Oktober 2021 sebesar 134,2 dan 91,4 partikel/individu dan Januari 2022 sebesar 72,6 dan 51,8 partikel/individu. The presence of microplastics in the waters can accumulate in the body's biota through the gills and the food chain. Blood clams are sessile organisms that live depending on the availability of zooplankton, phytoplankton and organic matter. This study aims to determine microplastics in blood clams (Anadara granosa) at TPI Tambak Lorok, Semarang. The research method used is descriptive qualitative. Samples of blood clams were taken from the catches of TPI Tambak Lorok fishermen in October 2021 and January 2022. The samples were different with washing and non-washing treatment. Samples were destructed using 10% KOH as much as 3:1 sample weight for 24 hours, if there was residual organic matter then 30% H2O2 was added as much as 5 ml for 24 hours. The sample is filtered using filter paper with the help of a vacuum pump. The results showed the presence of microplastics in blood clams from TPI Tambak Lorok, Semarang. Based on visual acquisition using a binocular microscope, the forms of microplastics found were fiber, film, fragments and pellets. The washing process resulted in a reduction of microplastics by 18% (42.8 particles/individual) in October 2021 and 16% (20.8 particles/individual) in January 2022. The results of microplastic retention in samples without washing and with washing respectively in October 2021 it was 134.2 and 91.4 particles/individual and January 2022 it was 72.6 and 51.8 particles/individual.
Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Biologis Daun Mangrove Lumnitzera racemosa di Pantai Teluk Awur dan Pantai Blebak Jepara Dewi, Melati Sukma; Tri Nuraini, Ria Azizah; Yulianto, Bambang; Sibero, Mada Triandala
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.34584

Abstract

Lumnitzera racemosa tumbuh luas di hutan bakau di daerah tropis, menjanjikan potensi sumber daya untuk digunakan manusia sebagai bahan farmakalogi dari senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan ekstrak L. racemosa berpotensi sebagai antimikroba, antihipertensi, anti diare, dan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik senyawa bioaktif dan juga mengetahui aktivitas antibakteri dan antioksidan pada ekstrak daun mangrove L. racemosa asal Pantai Teluk Awur dan Pantai Blebak, Jepara, Jawa Tengah. Metode ekstraksi menggunakan maserasi bertingkat dengan tiga pelarut berbeda berdasarkan kepolarannya. Uji fitokimia dan Analisa Metabolite Finger Printing dengan TLC (Thin Layer Chromatography) dilakukan untuk mengetahui senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun mangrove L. racemosa, untuk mengetahui aktivitas biologis yaitu aktivitas antibakteri digunakan metode agar well dengan menggunakan empat bakteri MDR (Multi Drug Resistance), sedangkan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Hasil uji fitokimia menujukkan senyawa bioaktif ekstrak daun L. racemosa yang meliputi alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, dan steroid. Analisa Metabolite Finger Printing dengan uji TLC menunjukkan senyawa bioaktif yang terkandung antara lain: terpenoid, fenol, dan alkaloid dan positif menunjukkan aktivitas antioskidan. Aktivitas antibakteri, menunjukkan hasil negatif yaitu tidak terbentuknya zona hambat pada ke empat bakteri. Aktivitas antioksidan dilihat dari nilai IC50 daun L. racemosa Pantai Teluk Awur menujukkan nilai IC50 paling baik adalah ekstrak metanol 161,606 ppm (lemah) sedangkan pada lokasi Pantai Blebak menunjukkan nilai IC50 yang berpotensial pada ekstrak etil asetat 17,441 ppm (sangat kuat). Daun mangrove L. racemosa Pantai Teluk Awur dan Pantai Blebak memiliki potensi untuk bidang farmakologi dilihat dari hasil aktivitas senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun L. racemosa. Lumnitzera racemosa grows widely in mangrove forests in the tropics, promising potential resources for pharmaceutical ingredients from the bioactive compounds contained in it. Previous studies have shown the extract may have biological activities such as antimicrobial, antihypertensive, antidiarrheal, and antioxidant. The purpose of this study was to determine the bioactive antibacterial compounds and also to determine the activity and antioxidants in the extract of the mangrove leaves of L. racemosa from Teluk Awur Beach and Blebak Beach, Jepara, Central Java. The extraction method uses graded maceration with three different solvents based on their polarity. Phytochemical tests and Metabolite Finger Printing Analysis with Thin Layer Chromatography (TLC) tests were carried out to determine the bioactive compounds contained in the mangrove leaves of L. racemosa, to determine the biological activity, namely the antibacterial activity used by the agar method using four MDR (Multi-Drug Resistance) bacteria, while the activity test antioxidant using the DPPH method (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). The results of the phytochemical test showed that the bioactive compounds of L. racemosa leaf extract included: alkaloids, flavonoids, phenol hydroquinone, and steroids. Metabolite Finger Printing Analysis with Thin Layer Chromatography (TLC) test showed that the bioactive compounds contained include terpenoids, phenols, and alkaloids and positively indicated antioxidant activity. Antibacterial activity showed negative results, namely no inhibition zone was formed on bacterial empathy. Antioxidant activity seen from the IC50 value of L. racemosa leaves showed the best IC50 value was methanol extract 161,606 ppm (weak) while at Blebak Beach location showed possible IC50 value in ethyl acetate extract 17,441 ppm (very strong). The mangrove leaves of L. racemosa Teluk Awur Beach and Blebak Beach have potential in the field of pharmacology seen from the results of the activity of bioactive compounds contained in the leaves of L. racemosa leaves.
Struktur Komunitas Mangrove di Ekosistem Hutan Mangrove Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati Rachellia Rose Nugraha; Sunaryo Sunaryo; Sri Redjeki
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36227

Abstract

Ekosistem mangrove dapat dimanfaatkan oleh beberapa biota sebagai tempat untuk mencari makan, sebagai tempat memijah dan area asuhan. Kondisi ekosistem mangrove dapat mengalami penurunan salah satunya karena alih fungsi hutan mangrove. Hal ini akan berdampak buruk terhadap perekonomian nelayan, petambak dan masyarakat lainnya pada daerah tersebut. Penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis struktur komunitas mangrove yang ada di ekosistem hutan mangrove Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling untuk penentuan lokasinya. Terdapat 4 stasiun dan setiap stasiun terdiri dari 3 plot, masing-masing plot berukuran 10m x 10m untuk tingkat pohon dan 5 x 5 m untuk anakan. Pengolahan data struktur komunitas mangrove dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak berupa Microsoft Excel. Terdapat dua jenis mangrove yang ditemukan pada penelitian ini yaitu Avicennia marina dan Avicennia alba. Kerapatan mangrove di lokasi penelitian tergolong sangat rapat. Berdasarkan nilai frekuensinya jenis Avicennia marina selalu ditemukan pada setiap plot pengamatan. Hasil indeks dominansi menyatakan bahwa pada Stasiun I hingga Stasiun IV terdapat jenis yang mendominasi dengan kisaran nilai sebesar 0,7 – 0,78. INP paling tinggi ada pada jenis Avicennia marina dengan nilai sebesar 260% dan tergolong tinggi. Hasil nilai indeks keanekaragaman menyatakan bahwa keanekaragaman mangrove pada lokasi penelitian ini tergolong rendah. Sedangkan nilai indeks keseragamannya termasuk dalam kategori sedang dan kurang. Secara umum parameter kualitas perairan (suhu, pH, salinitas, substrat dan kandungan nitrat, fosfat substrat) dinyatakan sesuai dan baik untuk kehidupan mangrove. Mangrove ecosystems can be used by some biota as a feeding, spawning and nursery ground. The condition of the mangrove ecosystem can experience a decline, one of which is due to the conversion of mangrove forests. This will adversely affect the economy of fishermen, farmers and other communities in the area. This study needs to be done with the aim to analyze the structure of mangrove communities in the mangrove forest ecosystem in Tayu District, Pati Regency. This research used a survey method with purposive sampling technique to determine the location. There were 4 stations and each station consisted of 3 plots, each plot measuring 10 x 10m for tree level and 5 x 5m for saplings. Mangrove community structure data processing was done by using software such as Microsoft Excel. There were two types of mangroves found in this study, namely Avicennia marina and Avicennia alba. The density of mangroves at the research site was classified as very tight. Based on the frequency value, the type of Avicennia marina was always found in each observation plot. The results of the dominance index states that at Station I to station IV there were types that dominate with a range of values of 0.7 to 0.78. The highest INP value was in the type of Avicennia marina with a value of 260% and was classified as high. The results of the diversity index value states that the diversity of mangroves at this research location is relatively low. While the value of the uniformity index was included in the category of medium and less. In general, water quality parameters (temperature, pH, salinity, substrate and nitrate phosphate content in the substrate) were stated to be suitable and good for mangrove life. 
Perbandingan Kondisi Terumbu Karang pada Zona Pemanfaatan Wisata Bahari dan Zona Perikanan Tradisional di Pulau Kumbang, Taman Nasional Karimunjawa Zalfa Apricia Durotunasha; Steven Sutanto; Fedorova Nitaaqaini Al Haliim; Yasmin Izzatunnisa; Nandika Abubakar Putri
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.37077

Abstract

Pulau Kumbang merupakan bagian dari kawasan konservasi laut Kepulauan Taman Nasional Karimunjawa yang terletak di Perairan Utara Jawa. Pulau tidak berpenghuni ini dijadikan sebagai lahan penangkapan ikan oleh nelayan dari pulau di dekatnya, terutama Pulau Parang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi terumbu karang yang berfokus di 4 titik lokasi pada 2 zona kawasan konservasi laut, diantaranya Zona Perikanan Tradisional dan Zona Pemanfaatan Wisata Bahari. Pendataan dilakukan pada 2 kedalaman (5 dan 10 meter) dengan metode yang digunakan untuk mengetahui kondisi tutupan karang yaitu Line Intercept Transect (LIT), keanekaragaman dan kelimpahan ikan karang dengan metode Underwater Visual Census (UVC), dan kelimpahan invertebrata menggunakan metode Belt Transect. Rata-rata tutupan karang di Zona Perikanan Tradisional (59,78%) ditemukan lebih tinggi daripada Zona Pemanfaatan Wisata Bahari (40,61%). Sementara itu, kelimpahan ikan lebih tinggi pada Zona Pemanfaatan Wisata Bahari (14700 individu/ha kedalaman 5m). Famili Pomacentridae (Amblyglyphidodon) menunjukkan kelimpahan yang signifikan dengan 627 individu di salah satu lokasi. Invertebrata yang dilindungi yaitu Kima (Tridacna sp.) ditemukan di semua lokasi, terutama di kedalaman dangkal sebagai invertebrata yang paling melimpah dalam penelitian. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di Zona Perikanan Tradisional berada dalam kondisi yang lebih baik daripada Zona Pemanfaatan Wisata Bahari. Kumbang Island is located in the archipelago of Karimunjawa National Park, a Marine Protected Area (MPA) in the Java Sea. Although uninhabited, the island is one of the fishing grounds for local fishers in neighboring islands. This research is aimed to assess the coral reef condition in Kumbang Island, focusing on 2 Sites in 2 MPA Zones: Traditional Fisheries Zone and Marine Tourism Utilization Zone. The assessment was conducted at 2 depths (5 and 10 meters) to observe coral coverage using Line Intercept Transect (LIT), reef fish diversity and abundance with Underwater Visual Census (UVC), and megabenthos abundance using Belt Transect method. The coral cover in the Traditional Fisheries Zone (59,78%) was found to be higher than the Marine Tourism Utilization Zone (40,61%). Meanwhile, the fish abundance was higher in the Marine Tourism Utilization Zone (14700 individual/ha at a depth of 5m). The family Pomacentridae (Amblyglyphidodon) showed a significant abundance with 231 individuals in one of the Sites. The protected Giant Clam (Tridacna sp.) was found in all Sites, mainly in the shallow depth as the most abundant megabenthos in the research. The overall result indicates that the coral reef condition in the Traditional Fisheries Zone is in a better condition than the Marine Tourism Utilization Zone.
Komposisi dan Kepadatan Mikroplastik di Sedimen Perairan Pulau Los, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Mita Hasteti; Tri Apriadi; Winny Retna Melani
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36691

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keberadaan sampah plastik di sedimen perairan Pulau Los, Kota Tanjungpinang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kepadatan jenis mikroplastik serta perbedaan antara nilai rata-rata kepadatan mikroplastik pada setiap jenis sedimen di Pulau Los, Kota Tanjungpinang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juli 2022. Pengambilan sampel menggunakan metode Random Sampling di 30 titik dengan satu kali pengambilan sampel. Sampel sedimen diambil menggunakan transek kuadran ukuran 0,5x0,5 m pada kedalaman 5 cm. Sampel sedimen kemudian dikeringkan dengan oven, setelah kering sampel diberi larutan H2O2 30% untuk menghancurkan bahan organik serta larutan ZnCl2 untuk memisahkan partikel mikroplastik dengan non-plastik. Selanjutnya sampel diidentifikasi di laboratorium menggunakan mikroskop stereo. Komposisi mikroplastik di sedimen berpasir dan pasir berlumpur terdiri dari jenis fiber, fragmen, dan film sedangkan untuk jenis foam dan pelet tidak dijumpai dalam penelitian ini. Kepadatan mikroplastik jenis fiber mempunyai nilai rata-rata yang lebih tinggi di sedimen pasir berlumpur yaitu sebesar 6,75 partikel/25 gram sedimen kering dibandingkan dengan sedimen berpasir yang hanya sebesar 5,83 partikel/25 gram sedimen kering. Fragmen merupakan jenis mikroplastik yang nilai rata-rata kepadatannya hampir mendekati antara sedimen pasir berlumpur yang memperoleh nilai sebesar 5,58 partikel/25 gram sedimen kering dengan sedimen berpasir sebesar 5,22 partikel/25 gram sedimen kering. Mikroplastik jenis film mempunyai nilai rata-rata kepadatan yang lebih tinggi di sedimen pasir berlumpur yaitu sebesar 5,08 partikel/25 gram sedimen kering dibandingkan dengan sedimen berpasir yang hanya sebesar 3,83 partikel/25 gram sedimen kering. Hasil uji Kruskal Wallis dan uji ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan secara nyata antara kepadatan jenis mikroplastik pada sedimen berpasir dan pasir berlumpur di Pulau Los, Kota Tanjungpinang.  This research is based on the presence of plastic waste in the sediments of the waters of Los Island, Tanjungpinang City. The objective of this study was to determine the composition and density of microplastics along the differences between the average values of microplastic density in each type of sediment on Los Island, Tanjungpinang City.This research was conducted in May-July 2022. Sampling used the Random Sampling method at 30 points with one sampling. Sediment samples were taken using a 0,5x0,5 m quadrant transect at a depth of 5 cm. The sediment sample was then dried in an oven, after drying the sample was given a 30% H2O2 solution to destroy organic matter and a ZnCl2 solution to separate microplastic particles from non-microplastics. The samples were then identified in the laboratory using a stereo microscope. The composition of microplastics in sandy and muddy sand sediments consisted of fiber, fragments, and films, while foam and pellet types were not found in this study. The density of fiber-type microplastics has a higher average value in muddy sand sediments, which is 6,75 particles/25 grams of dry sediment compared to sandy sediments which are only 5,83 particles/25 grams of dry sediment. Fragments are a type of microplastic with an average density value close to that of silty sand sediments with a value of 5,58 particles/25 grams of dry sediment and sandy sediments of 5,22 particles/25 grams of dry sediment. Film-type microplastics have a higher average density value in muddy sand sediments namely 5,08 particles/25 grams of dry sediment compared to sandy sediments which are only 3,83 particles/25 grams of dry sediment. The results of the Kruskal Wallis test and the ANOVA test showed that there was no significant difference between the densities of microplastic species in sandy and muddy sand sediments on Los Island, Tanjungpinang City.
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) di Perairan Bandengan Kendal serta Analisis Batas Aman Konsumsi Nadaa Salsabiila Nuri; Adi Santoso; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35276

Abstract

Perairan Bandenga Kendal termasuk dalam kawasan pantai utara di Laut Jawa. Perairan Bnadengan Kendal di kelilingi oleh berbagai industri, dan juga terdapat Pelabuhan Kendal, serta pemukiman warga. Hal ini dapat berpotensi adanya pencemaran laut. Perkembangan industri tersebut akan berdampak negatif bagi lingkungan laut termasuk organisme yang hidup di dalamnya seperti Kerang Bulu. Kerang Bulu menjadi komoditas penunjang ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan timbal yang terkandung dalam air, sedimen dan jaringan lunak kerang bulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2022 dan penelitian ini menggunakan analisis dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan timbal dalam kerang bulu pada bulan Maret – April 2022 berkisar antara 0,840 – 4,093 mg/kg, dalam air berkisar 0,134 - 0,47 mg/l dan dalam sedimen berkisar 5,251 – 12,303 mg/kg. Berdasarkan baku mutu yang ditetapkan oleh PP No 22 tahun 2021 kandungan timbal dalam air yaitu 0,008 mg/l., kandungan logam berat timbal di air dari perairan Bandengan Kendal sudah melebihi baku mutu. Berdasarkan ANZECC/ARMCANZ baku mutu logam berat timbal dalam sedimen yaitu 50 mg/kg, kandungan logam berat timbal dalam sedimen di Perairan Bandengan Kendal, Kabupaten Kendal masih di bawah baku mutu. Sedangkan, baku mutu logam berat timbal dalam kerang bulu menurut SNI 7387:2009 yaitu 1,5 mg/kg. Kandungan logam berat timbal dalam kerang bulu sudah melebihi batas baku mutu. Faktor konsentrasi logam berat dari sedimen ke air berkisar 19,463 – 42,440. Faktor biokonsentrasi (BCF) dari kerang bulu ke air berkisar antara 5,021 – 11,932 dan BCF dari kerang bulu ke sedimen berkisar antara 0,159 – 0,404.Bandengan Kendal waters are in the northern coastal area of the Java Sea. Industries, Bandengan Kendal Port, and settlements surrounding the waters potentially polute with heavy metal such as the lead. The industry development may harm the marine environment, such as for the Antique Ark (Anadara antiquata). A. antiquata is one of the commodities which can support the community's economy. This study aimed to measure the lead contents in the water, sediment, and the soft tissue of A. antiquata. The research did from March - April 2022, and it used the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) analysis method. The results showed that the lead contents in water, sediment, and soft tissue were 0.134 - 0.470 mg/l, 5.251 - 12.303 mg/l, and 0.840 - 4.093 mg/kg, respectively. Based on the Quality Standards set by the Regulations of Government of Republic Indonesia no 22 in 2021 is 0.008 mg/l, the lead content in water from Bandengan Kendal waters had exceeded the quality standard. Based on ANZECC/ARMCANZ the standard quality of lead in sediments is 50 mg/kg, and the lead content in sediment in Bandengan Kendal waters was still below the quality standard. Meanwhile, the quality standard for lead in soft tissue according to SNI 7387:2009 is 1.5 mg/kg. The lead content in A. antiquata soft tissue had exceeded the quality standard limit. The concentration factor of heavy metals from sediment to water ranged from 19.463 – 42.440. The bioconcentration factor (BCF) from the clam to water ranged from 5.021 – 11.932, and BCF from the clam to sediment ranged from 0.159 – 0.404.
Dinamika Garis Pantai Pulau Karimunjawa dan Kemujan Tahun 2000 - 2030 Dzakwan Taufiq Nur Muhammad; Djati Mardiatno
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.32269

Abstract

Perubahan iklim secara langsung menyebabkan terjadinya kenaikan muka air laut bagi wilayah kepesisiran. Hal ini menyebabkan garis pantai menjadi tidak stabil, sehingga perlu untuk dilakukan pemantauan secara spasial dan temporal. Pulau Karimunjawa dan Kemujan merupakan dua pulau kecil dengan garis pantai yang saling terhubung oleh hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dinamika garis pantai Pulau Karimunjawa dan Kemujan tahun 2000 – 2030. Identifikasi garis pantai tahun 2000 – 2020 diperoleh melalui ekstraksi garis pantai metode single band (B5) dan band ratio (B4/B2 dan B5/B2) citra Landsat 7 ETM+, sedangkan untuk identifikasi garis pantai tahun 2030 diperoleh melalui prediksi garis pantai metode Kalman Filter Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garis pantai cenderung mengalami akresi dengan rata-rata perubahan garis pantai sebesar +0,76 meter per tahun dan diprediksi akan mengalami kemajuan garis pantai rata-rata sebesar +1,02 meter per tahun. Garis pantai daerah penelitian tergolong stabil dengan sedikit akresi (akresi sedang).Climate change causes sea level rise for coastal region. This causes the shoreline become unstable, so spatial and temporal monitoring is necessary. Karimunjawa and Kemujan Islands are two small islands with a shoreline [H1] that are connected by mangrove forests. This research aims to identify shoreline dynamics of Karimunjawa and Kemujan Islands in 2000 – 2030. The identification of shoreline in 2000 – 2020 was obtained through the extraction of shoreline using single band (B5) and band ratio (B4/B2 and B5/B2) method from Landsat 7 ETM+, while for identification of shoreline in 2030 was obtained through shoreline forecasting using Kalman Filter Model method. The results show that the shoreline tends to be accreted with an average shoreline change of +0.76 meters per year and predicted to be accretion with an average shoreline change of +1.02 meters per year. The Shoreline of the study area is [H2] relatively stable with little accretion (medium accretion).
Identifikasi Tingkat Kesegaran Ikan Tongkol (Euthynnus sp.) Di Pasar Bumiayu, Kabupaten Brebes M. Fajrun Najjah Al Fatich; Aryanti Indah Setyastuti; Dewi Kresnasari; Sarmin Sarmin
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.40444

Abstract

Tingkat kesegaran ikan dapat mempengaruhi kualitas dan nutrisi ikan. Pemasaran ikan tongkol segar yang dipasarkan di Pasar Bumiayu, Kabupaten Brebes kurang memperhatikan penanganan, sehingga dapat menurunkan kualitas dan nutrisi ikan tongkol segar. Tingkat kesegaran  ikan dapat diidentifikasi atau dinilai secara organoleptik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan tongkol segar di Pasar Bumiayu. Metode penelitian ini dengan pengambilan sampel ikan tongkol pada pukul 06.00; 09.00; dan 12.00 WIB, selanjutnya diidentifikasi kesegarannya secara organoleptik dan pengujian pH ikan segar. Pengambilan sampel dilakukan selama 3 minggu yaitu tanggal 14 September 2022; 28 September 2022; dan 12 Oktober 2022. Analisa data menggunakan analisa deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahawa ikan tongkol masih dikategorikan segar pada pengambilan sampel di pukul 06.00 hingga 09.00; sedangkan pada pukul 12.00 ikan sudah mengalami proses kemunduran mutu. Nilai organoleptik rata-rata diantara 8,33 hingga 3,67. Berdasarkan SNI ikan segar SNI 2729:2013, nilai organoleptik ikan segar adalah 7. pH daging ikan tongkol diperoleh sebesar 5,56 hingga 6,11. pH merupakan indikator tingkat kemunduran mutu ikan. Semakin tinggi nilai pH menunjukkan bahwa terjadi aktivitas mikroorganisme pembusuk dalam tubuh ikan.   The level of fish freshness can affect the quality and nutrition of fish. The marketing of fresh little tuna which is marketed in Bumiayu Traditional Market, Brebes Regency less attention to fish handling, it can reduce the quality and nutrition of fresh eastern little tuna. The level of fish freshness can be identified or assessed organoleptic test. The purpose of this study was to determine the level of fish freshness of fresh little tuna in the Bumiayu Market organoleptically. This research method by taking little tuna samples at 06.00am; 09.00am; and 12.00pm WIB, then the freshness was identified organoleptically and tested the pH of fresh fish. Sampling was carried out for 3 weeks, namely September 14, 2022; September 28, 2022; and October 12, 2022. Data analysis used descriptive analysis. The results of the 3-week study showed that tuna was still categorized as fresh when sampling at 06.00 to 09.00; while at 12.00 the fish had experienced a decline in quality. The average organoleptic value is between 8.33 and 3.67. Based on SNI fresh fish SNI 2729:2013, the organoleptic value of fresh fish is 7. The pH of little tuna meat is obtained from 5.56 to 6.11. pH is an indicator of the level of decrease in fish quality. The higher the pH value indicates that there is activity of decomposing microorganisms in fish body.
Analisis Nilai Estetika Pulau Gili Labak Kabupaten Sumenep Dengan Metode Scenic Beauty Estimation (SBE) Ach Wahyudi; Dyah Ayu Sulistyo Rini; Firman Farid Muhsoni
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.37149

Abstract

Keanekaragaman hayati laut dan kepulauan mempunyai daya tarik wisata yang potensial untuk dikembangkan. Pulau kecil dengan kondisi terumbu karang yang baik menjadi obyek wisata yang sangat diminati.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi terumbu karang dan evaluasi keindahan Pulau Gili Labak Sumenep.Metode pengukuran terumbu karang menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) dan Metode Scenic Beauty Estimation (SBE) digunakan untuk menilai dan menganalisis kualitas pemandangan lanskap. Metode ini menggunakan kuisioner berisi dokumentasi (foto lokasi) dengan foto lokasi pembanding (Pulau Gili Trawangan sebagai pembanding).Hasil penelitian menunjukkan karang hidup 63,1%, karang mati 33,1%, fauna lain 0,6%, algae 3,61% dan abiotik 2,6%.  Rasio kematian karang (Indeks mortalitas) masuk dalam kategori sedang (0,35). Hasil analisa SBE menunjukkan dari 15 foto yang dibandingkan ada 5 foto yang nilainya positif dan 10 foto yang nilainya negatif.Hal ini menunjukkan ada 5 lokasi lanskap yang lebih baik di Pulau Gili Labak, dan ada 10 lokasi lanskap yang lebih baik di lokasi pembanding. Nilai terendah terdapat -8.36 pada foto lanskap 13 dan nilai tertinggi  6,26 pada foto lanskap 3. Pada kawasan yang memiliki nilai yang rendah perlu dilakukan perlakukan khusus untuk meningkatkan nilai lanksap.Fasilitas yang kurang menarik menjadikan alasan beberapa foto lanskap menjadi rendah, perlu pengembangan fasilitas untuk menunjang kepuasan pengunjung. Marine biodiversity and archipelagic have a potential tourist attraction to be developed. Small island with good Coral reef condition are very popular tourist attractions. The purpose of this study is to determine the condition of Coral reefs condition and evaluate the beauty of Gili Labak Island, Sumenep. The method of Coral reef measurement uses LIT (Line Intercept Transect) method and the Scenic Beauty Estimation (SBE) method is used to assess and analyze the quality of landscape views. This method uses a questionnaire containing documentation (location photos) with photos of comparison location (Gili Trawangan Island as comparison) athe results showed live coral 63.1%, dead coral 33.1%, other fauna 0.6%, algae 3.61%, and abiotic 2.6%. Coral mortality ratio (mortality index) is in the moderate category (0.35). The results of SBE Analysis showed that from 15 photos that were compared, there were 5 photos with positive values and 10 photos with negative values. This shows that there are 5 better landscape locations on Gili Labak Island, and there are 10 better landscape locations on the comparison location. The lowest value is -8.36 for landscape photos 13 and the highest value is 6.26 for landscape photos 3. In areas with low values, special treatment is needed to increase the landscape value. Unattractive facilities are the reason why some landscape photos are low, it is necessary to develop facilities to support visitor satisfaction.