cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 687 Documents
Biodiversitas Gastropoda dan Pengaruh Parameter Lingkungan terhadap Kelimpahan Gastropoda di Lahan Mangrove Silvofishery Desa Eyat Mayang, Lombok Barat Wahida, Nurul Safira; Rahman, Ibadur; Buhari, Nurliah
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.46219

Abstract

Gastropoda merupakan hewan bertubuh lunak yang menggunakan otot perutnya untuk berjalan. Tekanan ekologis dan kondisi lingkungan seperti vegetasi mangrove dapat mempengaruhi kelimpahan gastropoda pada suatu kawasan. Desa Eyat Mayang adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat yang memiliki kawasan hutan mangrove yang cukup luas, yang kemudian banyak dialihfungsikan menjadi lahan tambak intensif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui biodiversitas gastropoda, kelimpahan gastropoda, dan pengaruh beberapa parameter lingkungan terhadap kelimpahan gastropoda di lahan mangrove silvofishery Desa Eyat Mayang, Kecamatan Lembar, Lombok Barat. Pengambilan sampel gastropoda dilakukan dengan metode transek kuadran pada 3 plot sampling dengan 4 kali pengulangan. Kerapatan ekosistem mangrove di lahan mangrove silvofishery Desa Eyat Mayang, Kecamatan Lembar termasuk kedalam kategori padat (>1500 ind/ha). Terdapat 7 (tujuh) famili,10 genus, dan 14 spesies, dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada spesies Cerithidea quadrata (12 ind/m2). Sedangkan spesies Littorina brevicula, Nerita picea, dan Faunus ater memiliki nilai kelimpahan terendah, sebanyak 0,25 ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman pada ke 3 plot sampling termasuk ke dalam kategori sedang, indeks keseragaman termasuk ke dalam kategori tinggi, dan tidak terdapat spesies yang mendominasi. Parameter lingkungan berupa suhu, kerapatan mangrove, dan fraksi pasir halus memiliki pengaruh yang kuat terhadap kelimpahan gastropoda dengan nilai korelasi berkisar antara 0,5278 - 0,9999.Gastropods are soft-bodied animals that use their abdominal muscles to walk. Ecological pressures and environmental conditions such as mangrove vegetation can affect the abundance of gastropods in an area. Eyat Mayang Village is one of the villages in Lembar Sub-district, West Lombok Regency which has a fairly large mangrove forest area, which was later converted into intensive ponds. This study was conducted to determine the biodiversity of gastropods, gastropod abundance, and the influence of several environmental parameters on gastropod abundance in mangrove silvofishery in Eyat Mayang Village, Lembar District, West Lombok. Gastropod sampling was conducted using the quadrant transect method on 3 sampling plots with 4 repetitions. The density of mangrove ecosystems in the silvofishery mangrove land of Eyat Mayang Village, Lembar District is included in the dense category (>1500 ind/ha). There are 7 (seven) families, 10 genera, and 14 species, with the highest abundance found in Cerithidea quadrata species (12 ind/m2). While the species Littorina brevicula, Nerita picea, and Faunus ater had the lowest abundance value, as much as 0.25 ind/m2. The diversity index value in the 3 sampling plots is included in the medium category, the uniformity index is included in the high category, and there is no dominating species. Environmental parameters such as temperature, mangrove density, and fine sand fraction have a strong influence on gastropod abundance with correlation values ranging from 0.5278 - 0.9999.
Perubahan Lahan Mangrove di Pesisir Utara Teluk Banten Saleha, Amalia Narya; Cahyadi, Ferry Dwi; Sasongko, Agung Setyo
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.40294

Abstract

Kawasan pesisir utara Teluk Banten Secara geografis mencakup 6 kecamatan yang mengalami peningkatan kegiatan industri sehingga mengancam ekosistem mangrove serta biota yang berasosiasi di dalam kawasan pesisir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luas lahan yang berubah dan genus mangrove yang beradaptasi di kawasan pesisir utara Teluk Banten. Metode penelitian yang dilakukan dalam kajian ini adalah kuantitatif deksriptif menggunakan analisis NDVI yang meliputi pengolahan data citra tahun 2017 dan 2022 menggunakan perangkat lunak ArcGIS kemudian dilakukan observasi lapangan untuk mengetahui genus mangrove yang beradaptasi di kawasan tersebut. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa dari 6 kecamatan hanya ditemukan 3 kecamatan yang masih memiliki kawasan ekostem mangrove yaitu Kecamatan Kasemen, Pontang dan Tirtayasa. Sedangkan Kecamatan Pulo Ampel, Bojonegara dan Kramatwatu hampir didominasi oleh kawasan industri. Dalam waktu 5 tahun telah terjadi pengurangan luas lahan mangrove sebesar 1,027 ha dari total awal pada tahun 2017 seluas 39,794 ha. Kemudian, ditemukan 3 genus di ketiga kecamatan tersebut yang mana genus Rhizopora mendominasi di Kecamatan Kasemen, Pontang dan Tirtayasa. Setiap wilayah mempunyai potensi dan manfaat tertentu bagi biota dan manusianya demikian hal tersebut akan terus meningkatkan kesejahteraan apabila adanya semangat berkolaborasi antar sesama elemen masyrakat untuk terus menjaga ekosistem. The coastal region of Banten Bay's northern area encompasses six sub-districts that are currently experiencing an increase in industrial activity. Unfortunately, this uptick poses a severe threat to the mangrove ecosystem and associated biota in the area. The aim of this research was to assess the extent of the land that has undergone changes and the mangrove genera that have adapted to the region. To achieve this, a descriptive quantitative method and NDVI analysis were utilized. Image data from 2017 and 2022 was processed using ArcGIS software, followed by field observations to identify the mangrove genus that is adapted to the area. The research findings indicate that only three of the six sub-districts (Kasemen, Pontang, and Tirtayasa) still have mangrove ecosystem areas, while the others (Pulo Ampel, Bojonegara, and Kramatwatu) are almost entirely dominated by industrial areas. The research also revealed that the area of mangrove land decreased by 1,027 ha over the past five years from the initial total of 39,794 ha in 2017. Furthermore, the study identified three genera in the three sub-districts, with the Rhizopora genus being the most dominant in Kasemen, Pontang, and Tirtayasa. Each region has unique potential and benefits for its biota and humans, making it crucial to continue collaborating and protecting the ecosystem to ensure the area's continued prosperity.
Kajian Persentase Tutupan Kanopi Mangrove Menggunakan Metode Hemispherical Photography di Desa Sambiroto dan Desa Keboromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah Kassagi, Muhamad Fajar Azmi; Ario, Raden; Soenardjo, Nirwani
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35424

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis yang   dapat tumbuh dan beradaptasi pada daerah pasang surut. Keberadaan mangrove penting sebagai sumber nutrient bagi kelangsungan hidup biota di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem mangrove di Desa Sambiroto dan Desa Keboromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah melalui analisis persentase tutupan kanopi mangrove. Stasiun pengamatan terbagi mejadi tiga stasiun mengunakan purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Penelitian dilakukan di 2 lokasi, yaitu Desa Sambiroto (SB) dan Desa Keboromo (KB) yang terdiri dari 4 stasiun penelitian. Pengambilan data persentase tutupan kanopi mangrove mengunakan metode Hemispherical Photography. Hemispherical Photography merupakan metode fotografi yang digunakan untuk melihat tutupan kanopi mangrove melalui foto dengan lensa fisheye (kamera HP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 3 spesies mangrove di lokasi penelitian, 2 diantaranya di temukan di dalam plot. Spesies mangrove yang ditemukan di dalam plot yaitu Aviccenia marina dan A. alba yang di dominasi oleh A. marina. Nilai kerapatan mangrove berkisar antara 1.167 – 6.567 ind/ha .Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) dan Indeks Keseragaman (J’) termasuk rendah, Indeks Dominansi (D) di setiap stasiun >0,5 menunjukkan adanya kecenderungan dominansi jenis tertentu. Hasil persentase tutupan kanopi mangrove di Desa Sambiroto dan Desa Keboromo memiliki nilai sebesar 67,61 % dan termasuk ke dalam kategori sedang sesuai kriteria baku kerusakan mangrove (Keputusan Menteri LH No.201 Tahun 2004). The existence of mangrove forests is very important as a source of nutrients for the survival of the biota in it. This study aims to determine the condition of the mangrove ecosystem in Sambiroto and Keboromo Village, Pati Regency, Central Java through analysis of the percentage of mangrove canopy cover. The observation stations were divided into three stations using purposive sampling. This research was conducted by descriptive method. This research was conducte in 2 research locations, Sambiroto Village (SB) and Keboromo Village (KB), which consisted of 4 research stations. Data collection on the percentage of mangrove canopy cover using the Hemispherical Photography method. Hemispherical photography is a photography method used to see the mangrove canopy cover through photos with a fish eye lens (HP camera). The result showed that 6 species of mangrove were found in the study site, 2 of which were found in the plot. The mangrove species found in the plot were Avicennia marina and Avicennia alba which were dominated by Avicennia marina. The value of mangrove density ranges from 1.167 – 6.567 ind/ha. The values of the Diversity Index (H’) and the Uniformity Index (J’) are low, the Dominance Index (D) at eatch station >0.5 indicates a tendency for the dominance of certain species. The results of the percentage of mangrove canopy cover in Sambiroto Village and Keboromo Village have a value of 67.61% and are included in the moderate category according to the standard criteria for mangrove damage (Minister of Environment Decree No.201 of 2004).  
Analisis Laju Filtrasi dan Morfometrik Kerang Darah (Anadara granosa) pada Budidaya Sistem Kokultur dengan Berbagai Kombinasi Biota Kabangnga, Arnold; Heriansah, Heriansah; Nursida, Nur Fajriani
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.39977

Abstract

Keberadaan kerang dengan karakteristik filter feeder diperlukan untuk memanfaatkan limbah akuakultur yang tersuspensi di kolom air sehingga dapat direduksi. Penelitian ini, kerang darah dari empat sistem akuakultur dievaluasi untuk menentukan laju filtrasi, yaitu sistem monokultur, polikultur, kokultur IMTA non-padi, dan kokultur IMTA padi. Kerang darah, ikan nila, dan udang windu masing-masing ditebar sebanyak 20 ekor pada 90 L air payau, sedangkan kepadatan teripang adalah 10 ekor. Untuk padi, dipelihara dengan metode terapung menggunakan nampan. Selama 4 minggu, pakan diberikan 4 kali sehari sebanyak 10% dari biomassa.  biota sangat menentukan keberhasilan budidaya multibiota pada sistem ko-kultur. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kombinasi biota berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsentrasi amoniak, nitrat, dan fosfat. Konsentrasi ketiga bahan organik di akhir penelitian pada sistem polikultur dan sistem IMTA secara signifikan lebih rendah dibandingkan pada sistem monokultur. Sementara itu, pengaruh kombinasi biota terhadap karakteristik morfometrik tidak menunjukkan pengaruh nyata (P>0,05). Laju filtrasi dan morfometrik akan efektif jika dikultur dengan spesies trofik level yang lengkap melalui sistem IMTA. The existence of mussels with filter feeder characteristics is needed to utilize aquaculture waste suspended in the water column so that it can be reduced. In this study, blood cockles from four aquaculture systems were evaluated to determine the filtration rate, namely monoculture, polyculture, non-rice IMTA coculture, and rice IMTA coculture. Blood clams, tilapia and tiger prawns were each stocked with 20 individuals in 90 L of brackish water, while the density of sea cucumbers was 10 individuals. For rice, it is maintained by the floating method using trays. For 4 weeks, the feed was given 4 times a day as much as 10% of the biomass. biota greatly determines the success of multibiota cultivation in co-culture systems. The results of the analysis of variance showed that the combination of biota had a significant effect (P<0.05) on the concentrations of ammonia, nitrate and phosphate. The concentrations of the three organic matter at the end of the study in the polyculture system and the IMTA system were significantly lower than in the monoculture system. Meanwhile, the effect of the combination of biota on the morphometric characteristics did not show a significant effect (P>0.05). Filtration rate and morphometrics will be effective if cultured with complete trophic level species through the IMTA system
Analisis Kadar Pb dan Cu pada Kerang Hijau Budidaya di Tambak Lorok serta Analisis Risiko Kesehatan Konsumsi untuk Manusia Salsabila, Nada; Suprijanto, Jusup; Ridlo, Ali
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.38865

Abstract

Kota Semarang termasuk wilayah di Jawa Tengah yang memiliki aktivitas industri yang padat dan meningkat setiap tahun, aktivitas ini menyebabkan pencemaran oleh logam berat semakin meningkat. Tambak Lorok termasuk kedalam wilayah Kota Semarang yang dikelilingi oleh aktivitas industri dan sebagai wilayah untuk melakukan budidaya kerang hijau. Kerang hijau adalah komoditas makanan laut yang diminati oleh masyarakat karena mempunyai kandungan gizi serta bernilai ekonomis yang tinggi. Kerang hijau hasil budidaya dari Tambak Lorok diketahui mengandung logam berat dan tidak layak untuk dimakan oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kadar timbal dan tembaga yang terakumulasi pada kerang hijau hasil panen budidaya dari Tambak Lorok dan mengetahui jumlah aman konsumsi kerang hijau berdasarkan analisis risiko kesehatan lingkungan. Metode yang dilakukan pada penelitian yaitu menggunakan metode ICP-OES dan perhitungan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL). Logam berat yang terkandung dalam sampel yang diambil berdasarkan hasil penelitian yaitu untuk kadar logam berat timbal pada stasiun 1 dan 2 untuk kerang hijau yang berukuran kecil dan berukuran besar yaitu < 0,04 mg/kg sedangkan kadar tembaga stasiun 1 untuk kerang ukuran kecil yaitu 2,35 mg/kg, ukuran besar yaitu 2,85 mg/kg sementara stasiun 2 kerang ukuran kecil memiliki kadar 2,07 mg/kg, kerang ukuran besar yaitu 2,51 mg/kg. Jumlah aman konsumsi kerang berdasarkan perhitungan rata-rata berat badan orang dewasa 58 kg jumlah aman konsumsi kerang ukuran kecil yaitu 0,54 mg/kg/hari sedangkan kerang ukuran besar yaitu 0,45 mg/kg/hari. Semarang City is a region in Central Java which has dense and increasing industrial activity every year, this activity causes pollution by heavy metals to increase. Tambak Lorok are the areas in Semarang City that are near and surrounded by industrial activities and as an area for cultivating green mussels. Green mussels are a seafood commodity that is in high demand by the public because of its health nutritional and high economic value. Green mussels cultivated from Tambak Lorok are known to contain heavy metals and are unhealthy for consumption. Therefore this study aims to know the contents of heavy metals found in green mussels cultivated from Tambak Lorok and determine the safe amount of green mussels consumption based on an analysis of environmental health risks. The method of this research is used the ICP-OES method and the calculation of Environmental Health Risk Analysis (ARKL). The research results showed that the heavy metal lead content at stations 1 and 2 for small and large green mussels was <0.04 mg/kg while the heavy metal content of copper at station 1 for small shells was 2.35 mg/kg, for large shells was 2.85 mg/kg and station 2 small shells is 2.07 mg/kg, large shells are 2.51 mg/kg. The safe amount of shellfish consumption is based on the calculation of an average adult body weight of 58 kg. The safe amount of small green mussels consumption is 0,54 mg/kg/day while that of large green mussels is 0,45 mg/kg/day.  
Analisis Status Pengelolaan Ekowisata Di Pulau Gili Labak Sumenep Menggunakan Metode Rapfish Silvia, Dewi; Muhsoni, Firman Farid
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.42037

Abstract

Pengelolaan pengembangan wisata Gili Labak dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan daerah dan membuka lapangan pekerjaan baru, sehingga perlu dikembangkan kegiatan ekowisata yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status keberlanjutan pengelolaan ekowisata di  pulau Gili Labak Sumenep pada dimensi ekologi, potensi dan sumberdaya, ekonomi, sosial, hukum dan kelembagaan, dan keberlanjutan multidimensi untuk pengelolaan ekowisata di pulau Gili Labak. Metode analisis yang dipergunakan menggunakan Multi Dimensi Sistem (MDS) dengan analisis RAPFISH. Hasil penelitian mendapatkan status keberlanjutan dimensi ekologi pada kondisi sangat berkelanjutan (79,25), dimensi potensi dan sumberdaya pada kondisi cukup berkelanjutan (61,13), dimensi ekonomi pada kondisi cukup berkelanjutan (57,64), dimensi sosial pada kondisi sangat berkelanjutan (79,73), dimensi hukum dan kelembagaan pada kondisi kurang berkelanjutan (28,14). Status keberlanjutan multi dimensi pada kondisi cukup berkelanjutan (62,35).  Management of Gili Labak tourism development can be an effort to increase regional income and open new job opportunities. So, it is necessary to develop sustainable ecotourism activities. This research aims to determine the sustainability of ecotourism management on Gili Labak Island, Sumenep in the dimensions of ecology, potential and resources, economic, social, legal and institutional, and multidimensional sustainability for ecotourism management on Gili Labak Island. The method used is a Multi Dimensional System (MDS) using RAPFISH analysis. The research results obtained the sustainability status of the ecological dimension in a very sustainable condition (79.25), the potential and resource dimension in a fairly sustainable condition (61.13), the economic dimension in a fairly sustainable condition (57.64), the social dimension in a very sustainable condition (79.73), legal and institutional dimensions in less sustainable conditions (28.14). So the multi-dimensional sustainability status is fairly sustainable (62.35).
Asosiasi Megabenthos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang dan Pantai Prawean Bandengan, Jepara Saputri, Noviyani; Riniatsih, Ita; Widianingsih, Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.38410

Abstract

Megabenthos termasuk biota laut yang hidup dengan menetap diatas substrat maupun membenamkan diri dalam substrat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan kelimpahan jenis megabenthos pada ekosistem lamun di Perairan Pulau Panjang dan Perairan Pantai Prawean Bandengan. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dan penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan data megabenthos dan lamun dilakukan di Perairan Pulau Panjang dan Perairan Pantai Prawean Bandengan secara purposive sampling dengan menggunakan metode line transect Panduan Monitoring Padang Lamun. Perairan Pulau Panjang ditemukan 11 jenis megabenthos dari 4 kelas (Bivalvia, Gastropoda, Holothuroidea, dan Echinoidea). Perairan Pantai Prawean Bandengan ditemukan 7 jenis dari 2 kelas (Bivalvia dan Gastropoda). Perairan Pulau Panjang mendapatkan kelimpahan total megabenthos sebesar 9,45-20,73 ind/m2 dengan kelimpahan jenis terbesar ditemukan pada Paphia undulata dan Diadema setosum dengan nilai 2,79 ind/m2, serta kelimpahan jenis terkecil ditemukan pada Canarium labiatum dengan nilai 0,61 ind/m2. Perairan Pantai Prawean Bandengan mendapatkan kelimpahan total megabenthos sebesar 5,45-11,39 ind/m2 dengan kelimpahan jenis terbesar ditemukan pada Cerithium traillii dengan nilai 3,15 ind/m2 dan kelimpahan jenis terkecil ditemukan pada Canarium labiatum dengan nilai 0,36 ind/m2. Tingginya kelimpahan megabenthos pada ekosistem lamun di Perairan Pulau Panjang dipengaruhi oleh jumlah megabenthos, parameter perairan, kandungan bahan organik, dan karakteristik substrat perairan.  Megabenthos includes marine biota that lives by staying on the substrate or immersing themselves in the substrate. This research was conducted with the aim of comparing the abundance of megabenthos species in seagrass ecosystems in Pulau Panjang and Prawean Bandengan waters. The research method used is observation and station determination using the purposive sampling method. Megabenthos and seagrass data were collected from Pulau Panjang and Prawean Bandengan waters using purposive sampling using the line transect method. Long Island waters found 11 species of megabenthos from 4 classes (Bivalvia, Gastropoda, Holothuroidea, and Echinoidea). Prawean Bandengan beach waters found 7 species from 2 classes (Bivalvia and Gastropods). Long Island waters had a total megabenthos abundance of 9.45–20.73 ind/m2, with the highest species abundance found in Paphia undulata and Diadema setosum with a value of 2.79 ind/m2, and the smallest species abundance found in Canarium labiatum with a value of 0.61 ind/m2. The waters of Prawean Bandengan Beach obtained a total megabenthos abundance of 5.45–11.39 ind/m2, with the largest species abundance found in Cerithium traillii with a value of 3.15 ind/m2 and the smallest species abundance found in Canarium labiatum with a value of 0.36 ind/m2. The high abundance of megabenthos in seagrass ecosystems in Pulau Panjang waters is influenced by the number of megabenthos, aquatic parameters, organic matter content, and characteristics of the aquatic substrate.