cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol. 17 no. 1 (2026)" : 5 Documents clear
Pesta Demokrasi di Kota Benteng: Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Kota Tangerang Tahun 2024 Muhammad Raihan Averoes; Ading Kusdiana; Mardani
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024 menjadi momentum penting bagi Kota Tangerang. Karena merupakan pelaksanaan Pilkada serentak yang kedua bagi Kota Tangerang sejak kebijakan pemilihan serentak diberlakukan. Hal tersebut tidak dapat dimungkiri, sebab pada tahun 2024 Kota Tangerang telah menyelenggarakan agenda politik lokal yang dilaksanakan secara serentak. Sebelumnya Kota Tangerang telah menyelenggarakan Pilkada serentak yang pertama di tahun 2018. Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya fase baru dalam penyelenggaraan demokrasi di tingkat lokal, yang berlangsung seiring dengan diberlakukannya kebijakan nasional mengenai pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejarah Kota Tangerang dari era kolonial hingga berstatus kota, dinamika pelaksanaan Pilkada Kota Tangerang tahun 2018, serta menjelaskan dinamika pelaksanaan Pilkada Kota Tangerang tahun 2024. Penelitian ini menerapkan metode penelitian sejarah sebagai pendekatan utama. Metode tersebut mencakup empat tahap, yakni heuristik sebagai tahap pengumpulan sumber, kritik untuk menilai keaslian dan keabsahan data, interpretasi sebagai proses penafsiran, serta historiografi yang berfokus pada penyusunan dan penulisan hasil kajian. Kata kunci: Pilkada, Demokrasi, Kota Tangerang
Jawa Dibawah Kekuasaan Prancis Pemerintahan Gubernur Jenderal J. W. Janssens Mei-September 1811 Harto Juwono
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v17i1.99576

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan hasil dari rekonstruksi yang dibuat berdasarkan kajian dan analisis mengenai tindakan yang diambil oleh Jan Willem Janssens sebagai gubernur jenderal dan panglima tertinggi pasukan Belanda-Prancis di Jawa pada periode Mei-September 1811. Periode ini merupakan masa ketika Jawa berada di bawah ancaman serangan Inggris. Persoalan dari tulisan ini adalah apa yang mendasari pemilihan Janssens oleh Napoleon sebagai panglima dan apa tindakannya menghadapi situasi Jawa yang kritis secara strategis militer. Focus dari penelitian ini adalah sosok Janssens dalam lingkungannya di kalangan para petinggi Prancis atau Belanda, dan sikapnya dalam menghadapi Inggris. Oleh karenanya metodologi yang digunakan dalam kajian ini adalah strukturasi dengan tujuan untuk mengungkapkan proses agency yang dilakukan oleh agent dalam lingkup perubahan structural yang dihadapinya. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini, berdasarkan analisis yang menggunakan teori Anthony Giddens, bisa diketahui bahwa pilihan atas Janssens oleh Napoleon untuk mempertahankan Jawa lebih didasarkan pada aspek loyalitas daripada kualitas pribadinya, sementara bagi Janssens sendiri penunjukkan ini merupakan suatu penghormatan besar yang dirasakannya dari seorang tokoh terkenal di Eropa masa itu. Dengan demikian factor psikis sangat memegang peranan dalam proses perubahan penting dalam bidang strategis militer dan politik di Hindia Timur pada awal abad XIX. Kata Kunci : Janssens, Napoleon, loyalitas, militer
Negosiasi Negara dan Masyarakat dalam Pembangunan Pariwisata di Bali pada Awal Orde Baru: Turisme Hippies 1968-1979 Eka Ningtyas
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v17i1.100129

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana pembangunan pariwisata Bali pada awal Orde Baru menjadi arena negosiasi antara negara dan masyarakat melalui fenomena turisme hippies pada 1968-1979. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menekankan peran negara dalam pembangunan pariwisata atau pembentukan citra Bali sebagai destinasi wisata internasional, artikel ini menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata Bali juga dibentuk oleh interaksi antara kebijakan negara dan agensi masyarakat lokal. Dengan menggunakan perspektif state-society relations, artikel ini memperlihatkan bagaimana pemerintah Orde Baru berupaya membentuk model pariwisata ideal melalui pembangunan infrastruktur, penataan kawasan wisata, pengawasan terhadap wisatawan asing, serta berbagai kebijakan administratif untuk mengendalikan turis hippies. Pada saat yang sama, masyarakat Bali, khususnya di Kuta dan Ubud, tidak sekadar menjadi objek kebijakan negara, tetapi juga memanfaatkan kedatangan turis hippies untuk membangun berbagai bentuk usaha pariwisata yang kemudian menjadi fondasi ekonomi wisata lokal. Berdasarkan arsip pemerintah, surat kabar Indonesia dan Belanda, statistik pariwisata, serta wawancara dengan pelaku dan saksi sejarah, artikel ini berargumen bahwa perkembangan pariwisata Bali pada awal Orde Baru merupakan hasil negosiasi antara kontrol negara dan inisiatif masyarakat lokal. Dengan demikian, artikel ini memperluas historiografi pariwisata Indonesia dengan menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata tidak sepenuhnya merupakan hasil perencanaan negara, melainkan juga dibentuk oleh praktik-praktik sosial masyarakat dalam merespons mobilitas global yang dibawa oleh turisme hippies. Kata Kunci : Orde Baru, pariwisata, Bali, turisme hippies, negara dan masyarakat
Storytelling Berbasis Arsip Visual Dalam Interpretasi Artefak Budaya di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta Thibburruhany
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v17i2.96407

Abstract

Museum tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai ruang interpretasi yang membangun pengalaman budaya bagi pengunjung. Namun, penyajian artefak di museum umumnya masih didominasi informasi deskriptif sehingga konteks historis dan makna filosofis yang melatarbelakangi koleksi belum sepenuhnya dapat dipahami. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model storytelling berbasis arsip visual untuk memperkuat interpretasi koleksi di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan practice-based research yang memadukan observasi berulang terhadap ruang pamer, refleksi pengalaman pengunjung, eksplorasi arsip visual dari berbagai repositori terbuka, serta proses perancangan hingga produksi video The Past and Future of Java sebagai luaran kreatif penelitian. Analisis dilakukan melalui interpretasi visual dan pengembangan narasi untuk menghubungkan artefak museum dengan konteks sejarah dan praktik budaya masyarakat Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsip visual memiliki tiga kontribusi utama. Pertama, arsip visual mengembalikan konteks historis artefak melalui representasi praktik budaya yang tidak lagi hadir dalam ruang pamer. Kedua, arsip visual memperkuat interpretasi terhadap nilai-nilai filosofis yang melekat pada artefak sehingga pengunjung tidak hanya mengenali bentuk fisik koleksi, tetapi juga memahami sistem nilai budaya yang melatarbelakanginya. Ketiga, integrasi arsip visual ke dalam storytelling membangun pengalaman interpretatif yang lebih reflektif dan imersif melalui hubungan antara artefak, narasi, dan pengalaman audiovisual. Penelitian ini menghasilkan model storytelling berbasis arsip visual yang dapat menjadi alternatif pendekatan interpretasi museum serta berkontribusi pada pengembangan kajian museum, digital heritage, dan komunikasi budaya melalui pemanfaatan arsip visual sebagai media interpretasi. Kata kunci: arsip visual, digital heritage, museum, practice-based research, storytelling.
Sekitar Peristiwa (Kota) Jogja Kembali, 1949 Aan Ratmanto; Dyah Ayu Anggraheni Ikaningtyas
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v17i1.98306

Abstract

Artikel ini membahas tentang kerancuan dan bias pemaknaan peristiwa Jogja Kembali. Selama ini ada beberapa lapis bias pemaknaan narasi peristiwa Jogja Kembali, baik dalam ranah nasional maupun lokal. Bias pemaknaan ini kemudian menyebabkan pewarisan narasi peristiwa Jogja Kembali menjadi tidak utuh terutama mengenai hari peringatan Jogja Kembali. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah kritis berupa heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan menggunakan dua sumber primer koleksi Museum Perjuangan Mandala Bhakti Kodam IV/Diponegoro berupa laporan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam peristiwa Jogja Kembali. Hasil penelitian membuktikan bahwa peristiwa Jogja Kembali merupakan peristiwa penarikan tentara Belanda dari Daerah Istimewa Yogyakarta pada 24 Juni – 30 Juni 1949. Peristiwa ini kemudian ditandai dengan Proklamasi 30 Juni 1949 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kata Kunci: Jogja Kembali, penarikan tentara Belanda, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Proklamasi 30 Juni 1949.

Page 1 of 1 | Total Record : 5