cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 123 Documents
DINAMIKA PABRIK GULA TASIKMADU DI MANGKUNEGARAN TAHUN 1917-1935 Rantikah Rantikah
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.21 KB) | DOI: 10.21831/moz.v12i2.45618

Abstract

AbstrakPabrik gula Tasikmadu pada tahun 1917 terkena dampak dari reorganisasi agraria karena adanya perubahan kepemilikan tanah. Pada tahun 1919 pabrik gula Tasikmadu mulai meningkatkan sektor perkebunan dan sektor industri pabrik. Puncak kesuksesan pabrik gula Tasikmadu terjadi pada tahun 1928-1929 dengan semakin luasnya lahan perkebunan, tingginya jumlah produksi gula dan nilai jual gula. Tahun 1930 ketika terjadinya krisis malaise nyatanya juga berdampak terhadap pabrik gula Tasikmadu sehingga harus memotong biaya operasional agar pabrik gula tetap beroperasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui awal mula berdirinya pabrik gula di Mangkunegaran, perkembangan pabrik gula Tasikmadu tahun 1917-1935, serta dampak pabrik gula Tasikmadu dalam bidang sosial-ekonomi bagi Mangkunegaran dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan kondisi pabrik gula Tasikmadu sejak tahun 1917-1935 mengalami pasang surut baik dari sektor produksi dan penjualan, serta adanya pabrik gula Tasikmadu memberikan dampak sosial dengan dibangunnya saluran irigasi, fasilitas sekolah, dan kesehatan, serta berdampak terhadap ekonomi Mangkunegaran dan masyarakat.Kata Kunci: Pabrik gula, Tasikmadu, Mangkunegaran
RAGAM HIBURAN DI REGENTSCHAP PEMALANG AWAL ABAD 20 Ilham Nur Utomo
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i1.48844

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan ragam hiburan di Regentschap Pemalang beserta latar belakang kemunculannya. Hiburan yang berkembang pada masa kolonial berpusat di perkotaan Hindia Belanda. Meski demikian, Regentschap Pemalang yang bukan termasuk kota besar pada masa kolonial, turut ditemukan ragam hiburan yang dinikmati oleh orang-orang Eropa dan bumiputra. Hal tersebut menarik untuk didedah, mengingat populasi orang-orang Eropa yang dikenal gemar berpelesiran dan mencari hiburan tidak banyak di Regentschap Pemalang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Artikel ini menunjukkan bahwa masuk dan berkembangnya ragam hiburan modern di Regentschap Pemalang tidak terlepas dari kedatangan orang-orang Eropa di Regentschap Pemalang, yang kemudian menetap dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, letak Regentschap Pemalang yang berada di jalur utama transportasi Pulau Jawa, mempermudah persebaran ragam hiburan dari kota-kota besar ke Regentschap Pemalang. Ragam hiburan yang terdapat di Regentschap Pemalang cenderung bervariasi dan bersifat sederhana. Kesederhanaan hiburan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan pembangunan dan populasi orang-orang Eropa yang tinggal di Regentschap Pemalang.Kata kunci: Hiburan, Regentschap Pemalang, Sejarah Lokal. AbstractThe objective of this research is to explain the variety of entertainment at Pemalang Regentschap and the background of its emergence. The entertainment that developed during the colonial period was centered in the cities of the Dutch East Indies. However, Pemalang Regentschap, which was not a big city during the colonial period, also found a variety of entertainment enjoyed by Europeans and natives. This is interesting to examine, considering that the population of Europeans who were well-known to love to travel and seek entertainment was still less at Pemalang Regentschap. The method used in this research was the historical method. This article showed that the entry and development of modern entertainment in Pemalang Regentschap can’t be separated from the arrival of Europeans in Pemalang Regentschap. Furthermore, they settled for a certain time. In addition, the location of Pemalang Regentschap was the main transportation route for the island of Java. It eased to spread of a variety of entertainment from big cities to Pemalang Regentschap. The variety of entertainment found in Pemalang's regentschap tended to be varied and simple. The simplicity of the entertainment was affected by the limitations of development and the population of Europeans who lived in Regentschap Pemalang.Keywords: Entertainment, Pemalang Regentschap, Local History.
IMPELEMENTASI UU NO. 5 TAHUN 1979 LEWAT PROGRAM MANUNGGAL SAKATO DALAM SEJARAH PEMBANGUNAN DESA DI SUMATERA BARAT 1984-1991 Fikri Surya Pratama
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i1.48751

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah pembangunan desa di Sumatera Barat selama pemberlakuan UU No. 5 Tahun 1979. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan teknik pengumpulan data yakni studi pustaka. Sumber data yang digunakan berupa artikel jurnal, buku-buku serta kumpulan koran terbitan tahun 1990-an milik PDIKM Padang Panjang yang memberitakan kondisi desa-desa Sumatera Barat selama pemberlakuan UU No. 5 Tahun 1979. Masa Orde Baru Indonesia diwarnai dengan pembangunan nasional dan pembangunan daerah, salah satu bentuk regulasi yang mengatur kegiatan pembangunan ini ialah UU No. 5 Tahun 1979 mengenai pembangunan dan pemberlakuan sistem desa di seluruh wilayah Indonesia. Sistem desa yang identik dengan sistem politik tradisional masyarakat Jawa-Madura menyebabkan kesulitan untuk beradaptasi dan megimplementasikan regulasi ini. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Sumatera Barat berinovasi untuk menjawab tantangan yang terjadi dengan mengeluarkan Program Manunggal Sakato sebagai alat menjalankan kandungan undang-undang tersebut. Dengan mengkombinasikan sistem pemerintahan nagari dengan nilai-nilai modernitas yang ada, serta menjalankan asas gotong-royong, desa-desa di Sumatera Barat mampu menjalankan isi UU No. 5 Tahun 1979 dengan baik ketimbang desa-desa luar Jawa-Madura yang “kaget” dengan sistem.Kata kunci: Desa, Manunggal Sakato, Nagari. AbstractWrite This article aims to explain the history of village development in West Sumatra during the enactment of UU No. 5 of 1979. The research method used is a historical research method with data collection library research techniques. The data source used was article journals, books and collection of newspapers published in the 1990s in PDIKM Padang Panjang that reported on the condition of West Sumatran villages during the enactment of UU No. 5 of 1979. Indonesia's New Order (Orde Baru) period was marked by national development and regional development, one form of regulation that regulates these development activities is UU No. 5 of 1979 about the development and implementation of the desa (village) system throughout Indonesia. The desa (village) system which is identical to the traditional political system of the Javanese-Madurese society makes it difficult for other regions to adapt and implement this regulation. Therefore, the West Sumatra Regional Government innovates to answer the challenges that occur by issuing the Manunggal Sakato program as a tool to carry out the contents of the law. By combining the nagari government system with existing modernity values, as well as implementing the principle of gotong royong (mutual cooperation), villages in West Sumatra are able to carry out the contents of Law no. 5 of 1979 better than the villages outside Java-Madura which were "shock" by the system.Keywords: Manunggal Sakato, Nagari, Villages.
PEMBERANTASAN PENYAKIT BERI-BERI DI PULAU BELITUNG TAHUN 1856-1908 Dony Agustio Wijaya
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i1.50806

Abstract

AbstrakPulau Belitung merupakan pulau penghasil timah di Indonesia. Terlacak eksploitasi timah Pulau Belitung dimulai sejak tahun 1852 melalui pertambangan swasta Belanda. Namun pada perkembangannya pertambangan tersebut membawa masalah kesehatan berupa penyakit beri-beri. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi Pulau Belitung sebelum masuknya pertambangan timah swasta, hubungan pertambangan dengan penyakit beri-beri, dan pemberantasan penyakit beri-beri. Metode penelitian sejarah digunakan dalam penulisan ini dengan tahapan, seperti heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan timah Pulau Belitung sempat digelapkan oleh Kesultanan Palembang. Eksploitasi timah Pulau Belitung lantas terlambat bila  dibandingkan dengan Pulau Bangka yang telah dimulai sejak awal abad ke-18. Pertambangan  timah swasta yang baru hadir pada 1852 berkait dengan merebaknya beri-beri di Pulau Belitung. Pertambangan timah swasta menarik migrasi kuli tambang Cina, yang seringnya tidak selektif karena banyak membawa calon kuli sakit, terutama beri-beri. Pemberantasan beri-beri yang menuai hasil positif baru terjadi pada tahun 1908.Kata kunci: Beri-beri, Pemberantasan, Belitung. AbstractBelitung Island is a tin-producing island in Indonesia. The traces of tin exploitation in Belitung Island began in 1852 through a Dutch private mining company. However, in its development the mining brought health problems in the form of beriberi.This study aims to determine the condition of Belitung Island before the entry of private tin mining, the relationship between mining and beriberi, and eradication of beriberi. The historical research method used in this paper is carried out in stages, such as heuristics, verification, interpretation, and historiography. The results showed that the tin of Belitung Island had been embezzled by the Sultanate of Palembang. The exploitation of Belitung Island's tin is then late when compared to Bangka Island which has started since the early 18th century. The private tin mining which only came into existence in 1852 was related to the spread of beriberi on Belitung Island. Private tin mining attracted migration of Chinese miners, who were often not selective because they brought in many sick prospective coolies, especially beriberi. The eradication of beriberi that reaped positive results only occurred in 1908.Keywords: Beriberi, Eradication, Belitung.
PERKEMBANGAN TREM BATAVIA TAHUN 1869-1930 Muhammad Hadian Saputra
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i1.50808

Abstract

AbstrakTransportasi merupakan alat yang berguna bagi manusia, karena transportasi membuat perpindahan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lain menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien. Transportasi dahulu ditarik oleh hewan seperti sapi, kerbau, atau kuda dan ketika teknologi modern mulai berkembang maka alat transportasi menyesuaikan dengan menggunakan tenaga mesin uap dan listrik. Bersamaan dengan hal tersebut menempatkan kota Batavia sebagai pusat perdagangan dan perekonomian yang sangat dekat dengan keberadaan transportasi khususnya trem yang terus berkembang pesat dan amat populer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang Batavia memerlukan jalur trem, perkembangan Trem Batavia tahun 1869-1930, dan dampak Trem Batavia bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Batavia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini yaitu awal mula hadirnya Trem Batavia yaitu ketika  Batavia dijadikan pusat kegiatan perekonomian dan perdagangan oleh pemerintah Hindia Belanda yang mengakibatkan wilayah ini dipenuhi oleh pendatang dari daerah lain untuk bekerja. Batavia memerlukan transportasi yang efektif dan efisien untuk memperlancar mobilitas penduduk maka muncul trem yang dinilai cocok dioperasikan di Batavia. Pada tahun 1869, hadir trem kuda sebagai transportasi trem pertama di Batavia yang dikelola oleh BTM, pada tahun 1881 muncul trem uap yang  dikelola NITM menggantikan trem kuda, dan tahun 1899 muncul trem listrik yang dikelola oleh BETM. Pada tahun 1920 terdapat perselisihan antara NITM dan BETM yang membuat penggabungan  kedua perusahaan trem menjadi BVM. Keberadaannya pun kemudian menimbulkan dampak sosial seperti berkembangnya mobilitas penduduk dan adanya pelapisan sosial, serta dampak ekonomi yaitu berkembangya kota perdagangan di Batavia dan terbukanya lapangan usaha baru.Kata Kunci: Transportasi, Batavia, Trem. AbstractTransportation is a useful tool for humans, because transportation makes the movement of people and goods from one place to another easier, more effective, and efficient. In the past, transportation was pulled by animals such as cows, buffalo, or horses and when modern technology began to develop, the means of transportation adapted to using steam and electric engines. At the same time, it places the city of Batavia as a center of trade and economy which is very close to the existence of transportation, especially the tram which continues to grow rapidly and is very popular. This study aims to determine the background of Batavia's need for a tram line, the development of the Batavia Tram in 1869-1930, and the impact of the Batavia Tram on the social and economic life of the Batavian people. This study uses critical historical research methods, namely heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results of this study are the beginning of the presence of the Batavia Tram, namely when Batavia was made the center of economic and trade activities by the Dutch East Indies government which resulted in this area being filled with immigrants from other areas to work. Batavia requires effective and efficient transportation to facilitate the mobility of the population, so trams appear which are considered suitable to be operated in Batavia. In 1869, there was a horse tram as the first tram transportation in Batavia managed by BTM, in 1881 there was a steam tram managed by NITM to replace the horse tram, and in 1899 there was an electric tram managed by BETM. In 1920 there was a dispute between NITM and BETM which led to the merger of the two tram companies into BVM. Its existence then causes social impacts such as the development of population mobility and social stratification, as well as economic impacts, namely the development of a trading city in Batavia and the opening of new business fields.Keywords: Transportation, Batavia, Tram.
EKSPEDISI LINTAS LAUT JAWA-SULAWESI OLEH ALRI DIVISI VI PASUKAN SEBERANG TAHUN 1946-1947 Eva Suchi Adi Cahyani
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i1.48909

Abstract

AbstrakMasa Perang Kemerdekaan tahun 1945-1950 merupakan masa krusial bagi bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaannya. Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sebagai representasi kekuatan militer matra laut telah menunjukkan eksistensinya di awal perintisan kemerdekaan dengan mengadakan Ekspedisi Lintas Laut ke luar Pulau Jawa. Menggunakan metode sejarah kritis, penelitian ini melalui beberapa tahapan yakni heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ALRI Divisi VI Pasukan Seberang mempunyai peran penting dalam menyebarluaskan berita kemerdekaan dan membentuk kekuatan militer di wilayah Sulawesi Selatan. Ekspedisi terbagi dalam 6 kloter keberangkatan. Perjalanan ekspedisi yang biasanya singgah dari satu pulau ke pulau lain dimanfaatkan oleh pasukan ALRI untuk menyebarkan berita kemerdekaan kepada penduduk setempat. Angkatan Laut Republik Indonesia Divisi VI Pasukan Seberang berhasil melakukan konsolidasi dengan kelaskaran di Sulawesi yakni Pasukan Harimau Indonesia hingga terbentuk kekuatan gabungan menjadi ALRI Daerah III/Barru dan Daerah I/Mandar Majene.Kata Kunci: Ekspedisi, Jawa-Sulawesi, ALRI. AbstractThe Indonesian War of Independence in 1945-1950 was a crucial period for Indonesia in order to maintain their independence. The Navy of the Republic of Indonesia or ALRI as it is called as a representation of marine military force demonstrated its pioneering nature in the period of independence by conducting Cross-Sea Expedition out of Java Island. Using the critical history method, this research went through several stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The result of this study indicate that ALRI Division VI Troops of Seberang had an important role in spreading the news of independence and forming a military power in South Sulawesi. The Navy of the Republic of Indonesia troops took their time from one island to another announcing news of independence to the local people. The Navy of the Republic of Indonesia Division VI Troops of Seberang successfully joined with the paramilitary troops in Sulawesi namely Pasukan Harimau Indonesia and formed combined forces called ALRI Region III/Barru and Region I/Mandar Majene.Keywords: Expedition, Java-Sulawesi, ALRI.
DINAMIKA WARGA NEGARA INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA DI SURABAYA TAHUN 1966-1980 Andya Sabila
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i1.51696

Abstract

AbstrakKebijakan asimilasi merupakan upaya pemerintah Orde Baru untuk menghilangkan sifat eksklusivisme Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa. Asimilasi dilakukan dengan cara menghilangkan kebudayaan dan identitas khas mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses pelaksanaan kebijakan asimilasi selama tahun 1966-1980 serta dampak yang ditimbulkan terhadap WNI keturunan Tionghoa di Surabaya. Penulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahapan, antara lain: pengumpulan sumber-sumber sejarah yang relevan (heuristik), penilaian terhadap kredibilitas sumber-sumber yang telah didapat (verifikasi/kritik sumber), penafsiran berbagai sumber yang telah diverifikasi (interpretasi), dan penulisan hasil rekonstruksi sejarah secara kronologis (historiografi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan asimilasi dikeluarkan pemerintah Orde Baru pasca terjadinya peristiwa 1 Oktober 1965 dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang homogen. Pelaksanaannya sudah diikuti oleh sebagian besar WNI keturunan Tionghoa di Surabaya dengan banyaknya jumlah mereka yang telah menghilangkan unsur-unsur ke-Tionghoaannya secara sukarela, terutama ganti nama. Namun, penerapan kebijakan asimilasi belum sepenuhnya efektif dalam mengatasi permasalahan sosial. Hal tersebut terjadi karena kebijakan asimilasi masih sebatas usaha ideologis beberapa tokoh dalam pemerintahan Orde Baru. Adapun pelabelan istilah “Warganegara Keturunan Tionghoa” maupun “non pribumi”, masih tetap saja ditujukan kepada WNI keturunan Tionghoa di Surabaya yang sudah mengasimilasikan dirinya secara total.Kata Kunci: WNI Keturunan Tionghoa, Surabaya, Asimilasi. AbstractThe policy of assimilation was an attempt by the New Order government to eliminate the exclusivism behavior of Indonesian citizens of Chinese descent. Assimilation is done by eliminating their culture and identity. This study aims to understand how the process of implementing the policy of assimilation during 1966-1980 and the impact it had on Indonesian citizens of Chinese descent in Surabaya. This writing uses historical research methods which include four stages, including: collecting relevant historical sources (heuristics), assessing the credibility of the sources that have been obtained (source verification/criticism), interpreting various verified sources (interpretation), and writing the results of historical reconstruction in chronological order (historiography). The result of this research indicate that the assimilation policy was issued by the New Order government after the event of October 1, 1965 in order to create homogeneous Indonesian society. The implementation has been followed by the majority of Indonesian citizens of Chinese descent in Surabaya with a large number of them having voluntarily removed their Chinese identities, especially in changing names. However, the implementation of the policy of assimilation has not been fully effective in overcoming social problems. This happened because it was still limited to the ideological efforts of several figures in the New Order government. As for the labeling of the terms "citizen of Chinese descent" and "non-native", it is still aimed at Indonesian citizens of Chinese descent in Surabaya who have totally assimilated themselves.Keywords: Indonesian Citizens of Chinese Descent, Surabaya, Assimilation.
PERKEMBANGAN SEKOLAH GURU B (SGB) I DI PURWOREJO TAHUN 1950-1961 Fitri Cahyani; Danar Widiyanta; Ririn Darini
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i2.51416

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui didirikannya SGB di Purworejo, penyelenggaraan SGB di Purworejo, dan dampak didirikannya SGB di Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri empat langkah yaitu heuristik, kegiatan pencarian dan pengumpulan sumber yang berhubungan dengan topik dalam penelitian ini yaitu Daftar Buku Induk SGB dan Surat Keputusan Penghapusan SGB. Kritik atau verifikasi, merupakan kegiatan penentu keautentikan dan kredibilitas sumber-sumber yang telah terkumpulkan. Aufassung atau interpretasi, kegiatan menafsirkan sumber yang sudah valid kebenarannya untuk memperoleh suatu peristiwa sejarah. Darstellung atau historiografi, kegiatan menyatukan seluruh hasil penelitiannya dalam suatu penulisan yang utuh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanakan Kewajiban Belajar mengalami kesulitan biaya, gedung dan tenaga pengajar. Purworejo didirikan SGB untuk mengatasi kurangnya guru untuk Sekolah Rakyat. Tahun 1950-1961 di Purworejo terdapat tiga SGB yaitu SGB I Purworejo SGB II Purworejo dan SGB Kutoarjo. SGB di Purworejo juga memberikan dampak lahirnya golongan priyayi dan lulusan SGB mampu untuk mensejahterakan kehidupannya. Adanya SGB  memunculkan kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Kemudian SGB telah memenuhi kebutuhan guru untuk SR sehingga terjadi kelebihan jumlah guru.Kata Kunci: SGB, Purworejo, Kewajiban Belajar, Kesejahteraan hidup.
FLU SPANYOL DI JAWA 1918-1920: DARI PENYEBAB, HOAX, INFLUENZA ORDONANTIE, HINGGA KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA Sekar Ayu Asmara
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i2.51607

Abstract

AbstrakTopik yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejarah flu Spanyol di Jawa tahun 1918-1920 yang meliputi (1) Penyebaran flu Spanyol, (2) Hoax flu Spanyol di Jawa, (3) Influenza Ordonantie, dan (4) Kearifan lokal masyarakat Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah yang meliputi empat langkah, di antaranya heuristik, kritik sumber, interprestasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa flu Spanyol pertama kali masuk ke Hindia Belanda melalui aktivitas ekonomi di pelabuhan internasional lalu menyebar ke Jawa dengan gejala demam tinggi, nyeri otot dan tulang, batuk, tidak nafsu makan, lemas, dan lain-lain. Adanya hoax mengenai jumlah kematian dari virus ini menambah kepanikan di kalangan masyarakat hingga akhirnya pemerintah kolonial Belanda resmi mengeluarkan Undang-Undang Influenza (Influenza Ordonantie) pada tahun 1920. Di sisi lain, masyarakat Jawa juga menghadapi wabah penyakit ini dengan menjalankan berbagai kearifan lokal yang telah diyakini secara turun temurun.Kata Kunci: Flu Spanyol, Jawa, Hoax, Influenza Ordonantie, Kearifan Lokal.
PERBANDITAN DI BATAVIA MASA POLITIK LIBERAL HINDIA BELANDA 1870-1930 Enggar Istiyana
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v13i2.51632

Abstract

AbstrakPeristiwa perbanditan sebagai bentuk pergolakan sosial masyarakyat Jawa masa Hindia Belanda mampu menunjukan adanya permasalahan social. Kajian ini akan mengkesplor sejarah Hindia Belanda yang bukan hanya membahas bentuk penjajahan saja, namun terkait pergolakan sosial yang dilakukan rakyat yang masih diabaikan. Penelitian ini dilakukan juga untuk mengidentifikasi secara rinci apa penyebab dan bagaimana penanganan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dengan metode interpretasi sumber primer penelitian ini menjadi tulisan yang menunjukan kegaduhan bandit dalam lingkup pedesaan masa Hindia Belanda. Hasil penelitian ini mengungkapkan argumen bahwa perbanditan pada masa Hindia Belanda dalam kurun waktu 1870-1930 memperlihatkan situasi rakyat dan pemerintah yang mengalami pergeseran dari sistem Tanam Paksa menuju Ekonomi Liberal. Tindak kriminal perbanditan yang dilakukan oleh para bandit Batavia tidak semata-mata untuk memperkaya diri sendiri melainkan juga untuk mensejahterakan rakyat kalangan bawah. Aksi perbanditan yang semakin meningkat dan hampir setiap malam terjadi membuat sistem keamanan pemerintah Kolonial terganggu. Selain itu, bandit Batavia mengajak rakyat untuk membangun kekuatan agar mau melawan atas tindasan yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Bandit Batavia mengkampanyekan kehidupan yang lebih sejahtera dengan cara menjarah dan mengambil hak-hak rakyat yang semestinya diterima secara paksa. Kajian ini menjelaskan konsekuensi yang diterima rakyat karena melakukan pergolakan sosial dengan munculnya berbagai respon pemerintahan Hinda Belanda untuk mempertahankan keamanan.Kata Kunci: Ekonomi Liberal, Bandit Sosial, Batavia. 

Page 9 of 13 | Total Record : 123