cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 123 Documents
RUANG TANPA BATAS: SEJARAH DAN POLITIK MEMORI PADA PUBLIC SPACE MONUMEN SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 Nanang Setiawan
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.152 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i2.45212

Abstract

Berangkat dari peristiwa perang kemerdekaan yang disampaikan melalui pesan utama bahwa segala bentuk perjuangan demi bangsa dan negara layak untuk dikenang generasi penerus, ternyata mampu menyimpan berbagai ingatan serta menempatkan Soeharto di mata masyarakat Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut Orde Baru benar-benar masuk di dalamnya sebagai sebuah sosok sentral yang berusaha mengkonstruksi ingatan melalui penggunaan simbol-simbol tertentu di dalam kehidupan masyarakat. Melalui public space khususnya monumen, simbol dan wacana direpresentasikan untuk menunjukkan sebuah identitas agar mengendap dalam ingatan masyarakat. Dengan demikian dapat diketahui, bahwa konstruksi sejarah melalui sebuah monumen yang mengandung pengalaman masa lalu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan. Lebih dari itu, monumen telah dijadikan sebagai perantara guna menyatukan persepsi atau konstruksi makna atas sebuah peristiwa sejarah untuk kepentingan masa kini yang mengarah pada monopoli penguasa. Konstruksi sejarah di dalamnya kemudian menjadi penting karena terdapat kepercayaan bahwa siapa yang menguasai sejarah maka akan menguasai masa depan. Nampaknya inilah yang dilakukan Orde Baru di bawah Soeharto melalui monumen bernama Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949.Kata Kunci: Memori, Monumen, dan Soeharto
JALUR KERETA API YOGYAKARTA-SRANDAKAN: KEPENTINGAN KOLONIAL DAN DAMPAK EKONOMI PADA MASYARAKAT SEKITAR (1895-1930) Eko Ashari
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.589 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i1.45206

Abstract

Penelitian ini ingin melihat bagaimana perkembangan dan pengaruh alat transportasi kereta api di Jalur Djogja-Srandakan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar, di samping sebagai alat angkutan tropical product. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalur kereta api Djogja-Srandakan Vorstenlanden mampu memangkas waktu tempuh pengangkutan hasil komoditas. Namun perkembangannya justru angkutan ini menjadi primadona alat transportasi masal manusia kala itu. Sehingga mobilisasi massa menjadi lebih mudah dari satu tempat ke tempat lain. Karena halte-halte kecil maupun stasiun besar dibangun di beberapa titik lokasi yang strategis. Disamping itu pengaruh munculnya alat transportasi ini menjadikan tempat-tempat sepanjang jalur tersebut ramai hilir mudiknya orang-orang dan mendorong munculnya aktivitas ekonomi kelas bawah seperti berjualan, kuli angkut, maupun persewaan dokar/andong.Kata Kunci: Transportasi, Kereta Api, Srandakan, Yogyakarta
PERDAGANGAN OPIUM DI KERESIDENAN MADIUN TAHUN 1830-1925 Muhammad Kemal
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.359 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i2.45208

Abstract

Pasca berakhirnya Perang Jawa di tahun 1830, Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih wilayah Keresidenan Madiun dan mulai memperdagangkan opium dengan sistem Opiumpacht. Pada tahun 1901 sistem Opiumpacht dihapuskan, digantikan dengan sistem Opiumregie. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum wilayah Keresidenan Madiun, dimulainya praktik perdagangan opium melalui sistem Opiumpacht dan perdagangan opium melalui system Opiumregie dalam rentang tahun 1830-1925. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa reformasi birokrasi dan diterapkannya Sistem Tanam Paksa di wilayah Keresidenan Madiun telah mendorong peningkatan perekonomian masyarakat. Pemberlakuan sistem Opiumpacht di Keresidenan Madiun pada tahun 1830 mendatangkan keuntungan yang besar untuk para bandar Cina pemegang hak monopoli opium dari pemerintah Hindia Belanda. Merebaknya opium gelap serta tingginya tingkat kecanduan masyarakat membuat sistem Opiumpacht dihapuskan di akhir abad ke-19. Sistem Opiumregie mulai diterapkan dan dikendalikan penuh oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1901. Keuntungan perdagangan opium di bawah sistem Opiumregie mengalami pasang surut. Kemerosotan terjadi karena adanya pembatasan konsumsi opium oleh pihak ototritas serta merebaknya wabah Pes di tahun 1911 yang menurunkan daya beli masyarakat untuk mengonsumsi opium.Kata Kunci: Keresidenan Madiun, Opiumpacht, Opiumregie, Perdagangan opium.
HISTPRIOGRAFI FEMINIST: PERAN PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT DAN ISLAM A. Fadhilah Utami Ilmi Rifai; A. Fadhilah Utami Ilma Rifai
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.213 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i2.45214

Abstract

Masuk dan berkembangnya islam di Indonesia tidak menjadikan negara ini tertutup dengan banyaknya paham selain islam. Salah satu paham yang menjadi sangat menarik yaitu feminis pada kalangan perempuan. Menarikanya bahwa keragaman agama, budaya dan perspektif menjadikan paham feminis tumbuh dan berkembang dengan berbaur dengan hal tersebut. Hal yang menarik bahwa dalam melihat perempuan lokal bagaimana paham ini dapat menjadi sebuah paham yang mengerti bagaimana perempuan sejak dahulu menjadi salah satu dasar dan tombak dalam mengusir penjajah dibeberapa daerah. Salah satu rujukan yang terlihat adalah pemrempuan dari Sulawesi Selatan. Bagi beberapa suku yang berada di Sulawesi Selatan, perempuan merupakan sebuah simbol besar yang menjadi identitas mereka. Dalam tulisan ini, penulis akan fokus mengunakan konsep historiografi dan antropologi dalam aspek perumpuan lokal dalam perspektif feminis dan pandangan islam didalamnya. Dalam melihat kajian tentang perempuan lokal mungkin telah banyak dibahas akan tetapi, dalam tulisan ini penulis akan tetap berfokus pada bagaimana pandangan islam dan feminis berbaur dan menjadi satu pada perempuan lokal sejak dulu hingga saat ini yang mungkin terjadi akibat adanya akulturasi.Kata Kunci: Perempuan Lokal, Feminis, Padangan Islam
KONFLIK TAMBANG PASIR BESI LUMAJANG: ANALISIS AKAR DAN RESOLUSI Hardian Wahyu Widianto
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.587 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i1.45207

Abstract

Pertambangan pasir yang membawa berkah ekonomi bagi sebagian masyarakat, di sisi lain memicu kemunculan konflik tragis. Konflik yang berujung pada kematian warga penolak tambang pasir besi di desa selok Awar-awar, Lumajang, Jawa Timur, menyedot perhatian publik luas. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan kronologi, proses resolusi dan akar dari konflik tambang pasir. Konflik ini dimulai ketika tahun 2014 Kepala Desa Selok Awar-Awar dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta Paguyuban Pendukung Penambangan berencana mendirikan penambangan pasir besi. Masyarkat yang tidak sepakat dengan keputusan itu lalu mulai menginisiasi berbagai aksi protes. Puncaknya, tokoh penggerak penolak tambang pasir besi dianiyaya hingga meninggal oleh kelompok lawanya. Proses resolusi konflik dilakukan lewat dua pendekatan sekaligus yakni konvensional lewat jalur persidangan dan alternatif dengan model mediasi. Akar konflik pada dasarnya bersumber dari kebijakan pemerintah desa Selok Awar-awar yang tidak mengakomodir kepentingan dari penolak tambang pasir.Kata kunci: Konflik, Tambang Pasir, Lumajang
DARI KONFRONTASI SAMPAI REKONSILIASI: STUDI KASUS KONFLIK MUHAMMADIYAH DENGAN PKI DI KOTAGEDE TAHUN 1950-1970 Erik Muhammad Rizkia
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.291 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i1.45202

Abstract

Penelitian ini diorientasikan untuk mengetahui sejarah Muhammadiyah di Kotagede antara tahun 1950-1970. Sepanjang tahun 1950-1970 Muhammadiyah di Kotagede banyak mengalami berbagai peristiwa penting, terutama peristiwa yang berkaitan dengan unsur konflik politis antara Muhammadiyah dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Puncak konflik dua kelompok masa tersebut terjadi pada tahun 1950-1965 di Kotagede Yogyakarta, konflik tersebut dipicu oleh persaingan ekonomi, politik, dan soal kepercayaan yang berakhir penahanan orang-orang PKI karena terlibat kasus gerakan G30 S tahun 1965. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah kritis, yang terdiri dari : (1) Heuristik (Pencarian Sumber), (2) Kritik (kritik atau verifikasi data), (3) Interpretasi (Kemampuan menafsirkan sejarah yang berlandaskan pada teknik Accepted History),(4) Historiografi (Rekonstruksi/ penulisan sejarah). Adapun sumber yang kami peroleh merupakan sumber primer dan sekunder yang termuat dalam buku, jurnal, wawancara, majalah dan arsip. Hasil dari penelitian ini menunjukan pada awal tahun 1970 selesai operasi militer berlangsung, Muhammadiyah mencoba untuk melakukan rekonsiliasi dan pembinaan secara sosial terhadap orang-orang PKI, antara lain: kepada anak-anak PKI yang ditinggal oleh orang tua karena terjerat peristiwa G30 S 1965, dan keterlibatan Muhammadiyah dalam menyantuni orang-orang mantan PKI untuk ikut bergabung dalam keorganisasian pemudi Muhammadiyah “Nasyi atul Aisyiyah”.Kata Kunci: Konfrontasi, Rekonsiliasi, Muhammadiyah, PKI, Kotagede
JOSEPHUS VAN LITH DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI JAWA AWAL ABAD 20 Danar Widiyanta
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.934 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i2.45209

Abstract

Josephus Van Lith adalah tokoh dalam Pendidikan yang sezaman dengan Ki Hajar Dewantara, dan Ki Haji Ahmad Dahlan. Josephus Van Lith mengembangkan Pendidikan progresif berdasarkan pada Rohani kekristenan dan Budaya Jawa. Josephus Van Lith melakukan penyelarasan harmonis antara agama dan pengetahuan umum, dengan harapan manusia mencapai keseimbangan dalam kebutuhan material dan spiritual. Dalam mengembangkan pendidikannya Josephus Van Lith juga mengembangkan pendidikan karakter dengan basis kearifan lokal. Meskipun bukan orang Jawa, tetapi Josephus Van Lith menguasai dan mengembangkan Budaya Jawa.  Kearifan lokal Budaya Jawa diterapkan dalam pendidikan karakter yang dikembangkan dalam Pendidikan masyarakat pribumi di Muntilan khususnya dan Jawa pada umumnya pada awal abad ke-20.Kata Kunci: Josephus Van Lith, Pendidikan Karakter, jawa.
SEJARAH ORANG BALI DI LAMPUNG 1956 – 1997 Aan Budianto
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.867 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i1.45203

Abstract

Penelitian ini secara khusus membahas adaptasi ekonomi dan adaptasi budaya orang Bali di Provinsi Lampung dalam rentang waktu 1956-1997. Pulau Bali yang sebelumnya menjadi tempat bertahannya orang Bali dan Agama Hindu dari arus kedatangan agama Islam dan Kristen, pada abad 20an terpaksa ditinggalkan oleh sebagian orang Bali. Mereka yang meninggalkan Bali menganggap sudah tidak ada masa depan di pulau Bali. Provinsi Lampung menjadi salah satu tempat yang menjadi tujuan orang Bali pada tahun 1956. Di Lampung, orang Bali menghadapi tantangan adaptasi, baik dalam bidang ekonomi maupun budaya. Bagaimana mereka bertahan di tempat baru menjadi menarik untuk ditelisik. Guna memperoleh jawaban atas permasalahan utama tersebut, dipakai metode sejarah kritis dengan penggunaan sumber primer maupun sekunder, seperti foto, arsip, wawancara, pengamatan dan telaah referensi yang relevan. Hasil dari penelitian ini yaitu kondisi ekonomi menjadi faktor pendorong utama orang Bali menuju Lampung pada tahun 1956. Proses migrasi melalui program pemerintah dan swakarsa. Tujuan pertama adalah Seputih Raman, Lampung Tengah. Pertanian sawah menjadi pilihan pekerjaan utama di awal proses adaptasi karena sesuai dengan latar belakang mereka dan kondisi alam di Lampung. Perekonomian orang Bali mengalami kemajuan yang pesat ketika program irigasi dibangun hingga ke Seputih Raman pada tahun 1975. Hal berbeda ditunjukkan oleh orang Bali yang berada di Lampung Utara. Mereka tidak mengolah sawah, melainkan memilih pertanian kebun karena menyesuaikan dengan kondisi geografis alamnya. Kemajuan dalam bidang ekonomi orang Bali yang juga dipengaruhi oleh sikap budaya orang Bali kemudian berpengaruh pada aktualisasi kebudayaan. Berbagai tradisi kebudayaan yang tadinya sulit dilakukan kemudian bisa terlaksana ketika ekonomi mereka mengalami kemajuan. Setelah tahun 1980an, berbagai tradisi dan adat budaya Bali pun semakin berkembang di Lampung.Kata Kunci: Orang Bali, Lampung, Adaptasi, Ekonomi, Budaya.
PENGARUH PABRIK GULA PANGKAH PADA KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 1832-1870 Ammar Muhammad
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.025 KB) | DOI: 10.21831/moz.v11i2.45210

Abstract

Kabupaten Tegal merupakan daerah yang diwajibkan ditanami tanaman tebu karena memiliki dukungan alam yang subur. Pada tahun 1832 didirikanlah Pabrik Gula Pangkah yang menjadi pabrik gula pertama di Kabupaten Tegal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mengapa Pabrik Gula Pangkah berdiri dan perkembangan Pabrik Gula Pangkah tahun 1832-1870 serta dampak sosial ekonominya terhadap masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah kritis yang terdiri dari; heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Kabupaten Tegal merupakan wilayah yang memiliki kondisi geografis yang subur dan memiliki jumlah penduduk yang besar. Pada perkembangannya dari tahun ke tahun mengalami kenaikan jumlah produksi gula yang signifikan, karena didukung oleh kondisi perkebunan, tenaga kerja, dan infrastruktur yang cukup baik. Dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan yaitu meningkatnya jumlah penduduk di Distrik Pangkah dan pergeseran kepemilikan tanah petani, serta terserapnya tenaga kerja di sektor perkebunan dan pabrik gula.Kata Kunci: Pabrik Gula Pangkah, Sosial Ekonomi, Kabupaten Tegal
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN NILA DI KARESIDENAN KEDU MASA TANAM PAKSA 1840-1870 Hayfani Nur Pratiwi; Miftahuddin Miftahuddin
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.827 KB) | DOI: 10.21831/moz.v12i1.45628

Abstract

AbstrakPerkebunan nila merupakan salah satu perkebunan milik pemerintah kolonial yang berada di Karesidenan Kedu. Perkebunan ini berkembang pada masa Tanam Paksa dan muncul tahun 1840. Sistem yang dijalankan di perkebunan nila ini menggunakan sistem perkebunan Eropa yang berada di bawah pengawasan pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial mengembangkan budidaya tanaman nila dengan membuka perkebunan dan pabrik pengolahan nila di Karesidenan Kedu. Perkebunan nila di Karesidenan Kedu berkembang ditiga distrik yaitu Distrik Menoreh, Remameh, dan Probolinggo. Berkembangnya perkebunan nila di Karesidenan Kedu, diikuti dengan dibukanya pabrik pengolahan nila yang tersebar di ketiga distrik tersebut. Munculnya pewarna kimia menyebabkan ekspor nila semakin menurun dan tidak memberikan keuntungan. Pada tahun 1864 perkebunan nila di Karesidenan Kedu ditutup dan pabrik-pabrik pengolahan nila di Karesidenan Kedu tidak beroperasi lagi.Kata Kunci: Perkebunan, Nila, Kedu

Page 7 of 13 | Total Record : 123