cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENGARUH SUHU PADA PROSES TEMPERING TERHADAP SIFAT FISIS DAN SIFAT MEKANIK BAJA C55 DEFI SETIAWAN, ERWAN
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses perlakuan panas (heat treatment) pada baja C55 pada dasarnya dilakukan dengan tujuan untuk mengubah sifat-sifat logam. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh perbedaan suhu tempering terhadap nilai struktur mikro dan komposisi kimia pada baja C55. (2) mengetahui pengaruh perbedaan suhu tempering terhadap nilai kekerasan dan impak pada baja C55. (3) mengetahui suhu pada proses tempering yang optimal pada baja C55 terhadap sifat fisis dan sifat mekanik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan memvariasikan suhu pada proses tempering. Variasi suhu 150?C, 200?C dan 250?C dengan holding time 30 menit, 60 menit dan 90 menit . Dengan dimensi 5 mm x 5 mm, panjang 55 mm dan sudut takik 2 mm x 45?. Di quenching dengan media Oli Mesran 20W-50. Selanjutnya pengujian struktur mikro, komposisi kimia, kekerasan dan impak. Spesimen uji kekerasan mengacu pada standart DIN 50103 dan spesimen impak mengacu pada standart ASTM E23 02a. Hasil penelitian menujukan bahwa suhu tempering mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap nilai struktur mikro spesimen setelah proses tempering, tetapi untuk nilai komposisi kimia tidak ada perbedaan yang singnifikan. Sedangkan suhu tempering mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap nilai kekerasan dan nilai impak. Hasil tempering yang optimal adalah pada suhu tempering 100?C dengan holding time 30 menit nilai rata-rata kekerasan sebesar 61,3 HRC. Sedangkan nilai optimal impak pada suhu tempering 250?C dengan holding time 90 menit dengan nilai rata-rata ketangguhan sebesar 0,52 J/mm2. Kata kunci: heat treatment, suhu tempering, sifat fisis, sifat mekanik. 
PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN ELEKTROLIT DAN WAKTU TERHADAP KARAKTERISTIK LAPISAN ELEKTROPLATING NIKEL PADA BAJA ST 42 ALFI ZAHWANUL FARICH, MOCAMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Elektroplating dilakukan dengan mengalirkan arus listrik melalui larutan antara logam yang konduktif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas hasil pelapisan antara lain waktu, tegangan, arus, pH, suhu, dan elektrolit. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan elektrolit dan lama waktu pada proses elektroplating terhadap karakteristik Baja St 42 dan mengetahui pengaruh nilai ketebalan hasil lapisan elektroplating terhadap nilai kekerasan dan kekasaran pada Baja St 42. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, dengan memvariasikan konsentrasi elektrolit dan lama waktu pada pelapisan nikel secara elektroplating. Konsentrasi elektrolit diberi nama 1, 2, 3, 4, dan 5 dengan nilai boume berururtan dengan konsentrasi 26, 23, 20, 17, dan 14, sedangkan waktu pelapisan selama 600 detik, 1200 detik, dan 1800 detik. Hasil pengujian karakteristik spesimen setelah proses elektroplating diperoleh hasil uji ketebalan tertinggi pada konsentrasi 1 dan waktu 1800 detik dengan nilai sebesar 27,96 µm, 25,58 µm, dan 27,38, serta diperoleh F hitung  > F tabel dan nilai sig < α sehingga Ho ditolak. Hasil uji kekasaran paling rendah pada konsentrasi 1 waktu 600 detik dengan nilai 0,645µm atau turun 42,15% dari kekasaran raw material, serta diperoleh F hitung > F tabel dan nilai sig < α sehingga Ho ditolak. Hasil uji kekerasan diperoleh kekerasan tertinggi pada konsentrasi 1 dengan waktu 1800 detik dengan nilai 31,82 HRC, serta diperoleh F hitung > F tabel dan nilai sig < α sehingga Ho ditolak. Hubungan hasil ketebalan lapisan dengan kekasaran dan kekerasan lapisan diperoleh F hitung < F tabel dan nilai sig > α sehingga Ho ditolak. Kata kunci: baja st 42, konsentrasi elektrolit, waktu pelapisan, ketebalan lapisan, kekasaran lapisan, kekerasan lapisan.
PENGARUH DAUN TEH DAN DAUN JAMBU BIJI SEBAGAI INHIBTOR ORGANIK ALAMI PADA BAJA SS 304 DALAM LARUTAN ASAM LUBIS H, AFITHRONI
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi merupakan interaksi logam dengan lingkungannya yang mengakibatkan kerusakan pada logam. Korosi juga dapat terjadi pada baja SS 304 yang dikenal sebagai baja tahan karat. Korosi ini terjadi ketika proses pickling pada baja SS 304 dengan menggunakan larutan asam. Bila tidak dilakukan dengan benar, maka proses pickling akan merusak logam. Maka perlu ditambahakan inhibitor sebagai zat untuk menghambat laju korosi. Inhibitor yang umumnya digunakan merupakan inhibitor yang mempunyai sifat beracun bagi lingkungan, maka dari itu perlu digunakan inhibitor organik yang tidak merusak lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inhibitor ekstrak daun teh dan ekstrak daun jambu biji serta membandingkan efektifitas kedua inhibitor tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan uji rendam terhadap sampel dengan larutan asam berupa HCl dengan konsentrasi sebesar 32%, serta ditambahkanlah pengaruh variasi suhu (30oC dan 40oC) dan pengaruh variasi waktu perendaman (10 menit, 20 menit, dan 30 menit). Inhibitor organik alami yang digunakan adalah ekstrak daun teh dan ekstrak daun jambu biji yang memiliki kandungan zat tanin di mana zat tanin tersebut telah terbukti dapat menghambat laju korosi. Laju korosi dihitung menggunakan metode kehilangan berat. Konsentrasi inhibitor ditetapkan sebanyak 1111,11 ppm. Setelah dihitung laju korosinya, maka dihitung efisiensi inhibitornya dan membandingkan hasil efisiensi inhibitor daun teh dan daun jambu biji. Setelah dilakukan uji rendam, diketahui bahwa kedua inhibitor memiliki pengaruh. Hal ini ditunjukkan setelah melakukan uji statistik yang menunjukkan bahwa r hitung (0,902 untuk dau teh, dan 0,986 untuk daun jambu biji) tidak sama dengan nilai r tabel (0,811). Kedua inhibitor bekerja secara optimal pada suhu perendaman 30oC dengan waktu perendaman selama 10 menit (0,307 x 107 mpy untuk daun teh, dan 0,46 x 107 mpy). Terdapat perbedaan secara signifikan antar kedua inhibitor tersebut, ditunjukkan dengan hasil uji statsitik yang diperoleh nilai t hitung (-0,306) lebih kecil dari nilai t tabel (2,228). Untuk suhu perendaman 30oC inhibitor paling optimal adalah ekstrak daun teh, sedangkan untuk suhu perendaman 40oC adalah ekstrak daun jambu biji. Kata Kunci: korosi, baja SS 304, HCl, inhibitor organik, ekstrak daun teh, ekstrak daun jambu biji.
PENGARUH JENIS PAHAT, JENIS PENDINGINAN DAN KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP KERATAAN DAN KEKASARAN PERMUKAAN BAJA ST 42 PADA PROSES BUBUT RATA MUKA ABDAU, FAIZAL
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerataan dan kekasaran merupakan hal yang mutlak untuk komponen atau alat dalam hal pemesinan khususnya mesin bubut. Mesin bubut konvensional merupakan mesin yang banyak digunakan untuk proses pemesinan. Kerataan dan kekasaran suatu benda kerja yang dikerjakan oleh mesin bubut dipengaruhi oleh parameter – parameter yang ada. Semua itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan benda kerja. Dengan memvariasikan jenis pahat, jenis pendinginan dan kedalaman pemakanan mana yang mempunyai pengaruh terhadap kerataan dan kekasaran. Nantinya dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan proses pemesinan, khususnya mesin bubut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis pahat, pendingin dan kedalaman pemakanan terhadap tingkat kekasaran dan kerataan permukaan baja ST 42 pada proses bubut rata muka.       Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, menggunakan baja karbon rendah ST 42, dengan ukuran diameter 50.8 mm dan panjang 55 mm yang berjumlah 27 spesimen. Proses pemesinan ini menggunakan mesin bubut konvensional dan pembubutan rata muka. Variabel penelitian menggunakan variasi jenis pahat HSS Assab, HSS Bohler, HSS Prohex, dengan jenis pendinginan menggunakan collant, udara bertekanan dan tanpa perlakuan pendinginan, kedalaman pemakanan 0.1 mm, 0.2 mm dan 0.3 mm,. Setelah itu dilakukan uji kerataan dan kekasaran. Hasil pengujian menggunakan Uji Duncan SPSS 20 menyatakan signifikan dengan α = 0.05 menghasilkan P value 0.000. Pengujian kerataan permukaan terbaik atau terendah adalah (16.7 µm) yang diperoleh dari kedalaman pemakanan terkecil 0.1 mm, jenis pendinginan menggunakan coolant dan jenis pahat HSS Prohex. Sedangkan kekasaran terbaik atau terkecil adalah (3,14 µm) yang diperoleh dari kedalaman pemakanan terkecil 0.1 mm, jenis pendinginan menggunakan coolant dan jenis pahat HSS Prohex. Kata Kunci: Kerataan Permukaan, Kekasaran Permukaan, Jenis Pahat, Kedalaman Pemakanan, JenisPendinginan.
PENGARUH JENIS PAHAT, KEDALAMAN PEMAKANAN, DAN JENIS CAIRAN PENDINGIN TERHADAP TINGKAT KEKASARAN DAN KERATAAN PERMUKAAN BAJA ST. 41 PADA PROSES MILLING KONVENSIONAL AANG ASSEGAF, NAVY
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Milling konvensional merupakan mesin yang mampu mengerjakan suatu benda kerja dalam permukaan datar, sisi tegak, miring, bahkan alur roda gigi. Mesin milling konvensional prinsip kerjanya berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan diteruskan melalui suatu transmisi untuk menghasilkan gerakan putar pada spindel. Pada proses pengerjaan logam menggunakan mesin milling konvensional ada beberapa parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas hasil proses yakni kekasaran dan kerataan permukaan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas kekasaran dan kerataan permukaan antara jenis pahat, kedalaman pemakanan dan jenis cairan.  Sehingga muncul permasalahan yaitu bagaimana pengaruh jenis pahat, kedalaman pemakanan dan jenis cairan pendingin terhadap kekasaran dan kerataan permukaan baja ST 41. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis pahat, kedalaman pemakanan dan jenis cairan pendingin terhadap kekasaran dan kerataan permukaan baja ST 41. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Dalam penelitian ini benda kerja yang digunakan sebanyak 27 buah, yang mendapatkan perlakuan berbeda dalam setiap proses pengerjaannya, yaitu: variasi jenis pahat (Japan, JCK, Sutton), kedalaman pemakanan (0,2 mm, 0,4 mm, 0,6 mm), dan jenis cairan pendingin (Cutting APX, Global, Kyoso). Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kekasaran permukaan adalah surface tester, sedangkan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kerataan permukaan adalah dial indicator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pahat, jenis cairan dan kedalaman pemakanan berpengaruh terhadap tingkat kekasaran dan kerataan permukaan benda kerja ST 41 pada proses pengerjaan milling konvensional. Nilai kekasaran permukaan paling rendah yaitu 0,742 μm, diperoleh dengan menggunakan jenis pahat Japan, jenis cairan pendingin (Cutting APX) dan kedalaman 0,2 mm. Nilai kerataan permukaan paling rendah yaitu 0,033 mm, diperoleh dengan menggunakan jenis pahat Japan, jenis cairan pendingin (Cutting APX) dan kedalaman 0,2 mm. Kata Kunci: jenis pahat, kedalaman pemakanan, jenis cairan pendingin, kerataan permukaan, kekasaran permukaan
PENGARUH KEDALAMAN PEMAKANAN, KECEPATAN SPINDEL DAN JENIS CAIRAN PENDINGIN TERHADAP TINGKAT KEKASARAN DAN KERATAAN PERMUKAAN BAJA ST. 41 DAN PADA PROSES MILLING KONVENSIONAL REDI WINARTO, EKO
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dunia industri manufaktur memaksa para pelakunya untuk terus berinovasi . Dalam  proses pengerjaan logam salah satu alat yang digunakan  adalah mesin  milling konvensional. Produksi hasil dari proses milling konvensional dikatakan baik apabila memiliki tingkat kekasaran dan kerataan permukaan yang sesuai. Banyak faktor yang mempengaruhi proses antara lain kedalaman pemakanan, kecepatan spindel dan jenis cairan pendingin. Sehingga timbul permasalahan yaitu bagaimana pengaruh kedalaman pemakanan, kecepatan spindel dan jenis cairan pendingin terhadap kekasaran dan kerataan permukaan baja ST 41 pada proses milling konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan 27 benda uji. 27 benda uji difrais dengan  kedalaman yang berbeda yaitu: 0,2 mm, 0,4 mm dan 0,6 mm, kecepatan spindel yang berbeda yaitu: 540 rpm, 910 rpm dan 1500 rpm dan cairan pendingin global, cutting APX dan kyoso. Kekasaran  diukur dengan surface tester, sedangkan kerataan dengan dial indicator. Hasil  penelitian ini  untuk kekasaran permukaan baja ST 41 dipengaruhi oleh jenis cairan (global, cutting APX dan kyoso) ditunjukan dengan nilai P value 0,042 yang lebih kecil dari alpha 0,05  dan kedalaman pemakanan (0,2 mm, 0,4 mm dan 0,6 mm) ditunjukan dengan nilai P value 0,000 yang lebih kecil dari alpha 0,05, sedangkan untuk kecepatan spindel (540 rpm, 910 rpm dan 1500 rpm) tidak berpengaruh signifikan ditunjukan dengan nilai P value 0,164 yang lebih besar dari alpha 0,05. Kerataan permukaan baja ST 41 dipengaruhi oleh jenis cairan pendingin (global, cutting APX dan kyoso), kecepatan spindel (540 rpm, 910 rpm dan 1500 rpm) dan kedalaman pemakanan (0,2 mm, 0,4 mm dan 0,6 mm) ditunjukan dengan masing-masing nilai P value yang lebih besar dari alpha 0,05 yakni jenis cairan sebesar 0,032, kecepatan spindel sebesar 0,014 dan kedalaman pemakanan sebesar 0,005. Kombinasi variabel yang kekasaran paling baik adalah cairan cutting APX, kedalaman 0,2 mm dan kecepatan 1500 rpm sebesar 0,692 µm, sedangkan yang  kekasaran paling buruk adalah cairan kyoso, kedalaman 0,6 mm dan kecepatan 540 rpm sebesar 0,885 µm. Kerataan paling baik dengan cairan kyoso, kedalaman 0,6 mm dan kecepatan 1500 rpm sebesar 0,014 mm, sedangkan yang paling buruk dengan cairan global, kedalaman 0,2 mm dan kecepatan 540 rpm sebesar 0,056 mm. Kata Kunci: Kekasaran Permukaan, Kerataan Permukaan , Kedalaman Pemakanan, Kecepatan Spindel, Cairan Pendingin.
ANALISA LAJU KOROSI PADA BAJA KARBON RINGAN (MILD STEEL) DENGAN PERLAKUAN BENDING PADA MEDIA PENGKOROSI LARUTAN ASAM BAYU PERMADI, LINGGA
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan baja saat ini sudah menjadi hal yang umum terutama untuk konstruksi dan bahan bangunan. Dalam penggunaannya baja sangat rentan mengalami korosi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Objek dalam penelitian ini menggunakan baja karbon ringan (mild steel) yang biasanya digunakan untuk tulangan beton. Jumlah spesimen yang diujikan dalam penelitian ini ada 18 spesimen yang akan mendapatkan perlakuan berbeda dalam proses pengerjaan yaitu berbeda variasi waktu dan konsentrasi HCl. Spesifikasi spesimen menggunakan baja karbon ringan dengan diameter 6 mm dan panjang 102 mm dan ditekuk (bending) tepat ditengah panjang dari spesimen tersebut. Untuk uji rendam skala laboratorium menggunakan ASTM G31-72. Untuk perendaman dalam larutan HCl konsentrasi 16% laju korosi terbesarnya adalah 22802,38 mpy. Sedangkan untuk perendaman dalam larutan HCl konsentrasi 32% laju korosi terbesarnya adalah 73595,09 mpy. Untuk perendaman dalam larutan HCl konsentrasi 16% dan 32 % laju korosi terbesarnya terjadi pada waktu perendaman selama 10 menit. Sedangkan untuk laju korosi terkecil sebesar 4589,80 mpy dan 41125,11 mpy terjadi pada waktu perendaman selama 30 menit. Untuk perendaman dalam larutan HCl konsentrasi 16% dan 32% laju korosi terbesar terjadi pada sudut bending 60°. Sudut bending sangat berpengaruh terhadap laju korosi pada sebuah spesimen, semakin kecil sudut bending maka laju korosinya akan semakin besar, ini dikarenakan pori-pori atau lapisan spesimen semakin terbuka dan itu memberikan pengaruh terhadap proses terjadinya korosi. Kata kunci : korosi, baja karbon ringan, bending.
PENERAPAN MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP) DALAM PERENCANAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PRODUK BOTOL DK 8211 B DI PT. REXAM PACKAGING INDONESIA FAJAR S., RAHMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persediaan mempunyai peranan penting untuk menjamin kelancaran proses produksi. Oleh karena itu, sebuah perusahaan haruslah mempunyai sistem perencanaan produksi yang baik dengan ditunjang oleh perencanaan pengadaan material (bahan baku) yang baik pula. PT. Rexam Packaging Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi kemasan plastik produk kosmetik. Salah satu produk yang dihasilkan adalah produk botol DK 8211 B. Selama ini perencanaan persediaan bahan baku di perusahaan tidak berdasarkan metode yang sudah baku, melainkan berdasarkan pada pengalaman sebelumnya. Selain itu, supplier bahan baku produk botol DK 8211 B berasal dari luar kota bahkan luar negeri, sehingga menyebabkan adanya waktu ancang (lead time) pengiriman bahan baku. Namun, kekurangan persediaan bahan baku harus dihindari, karena akan mengakibatkan proses produksi terhenti. Untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut, telah dikembangkan sistem Material Requirements Planning (MRP). Penerapan sistem MRP bertujuan untuk mendapatkan jadwal dan jumlah pemesanan bahan baku produk botol DK 8211 B. Perencanaan persediaan bahan baku produk botol DK 8211 B dengan metode MRP, didapatkan jumlah dan jadwal pemesanan periode 2014 untuk HDPE Marlex 5502 BN dipesan pada bulan Maret, Mei, Juli, Agustus, September, Oktober, dengan jumlah pesan 5.000 Kg. MB White 102084 dipesan pada bulan Februari, Mei, Juli, Agustus, September dengan jumlah pesan 50 Kg. Sedangkan untuk Tinopin 327 dipesan pada bulan April, Juli, September dengan jumlah pesan 2 Kg. Kata kunci: Persediaan, MRP, DK 8211 B
PEMBUATAN BIOBRIKET DARI CAMPURAN LIMBAH KULIT PISANG DAN SERBUK GERGAJI MENGGUNAKAN PEREKAT TETES TEBU YUDI ARISTIYANTO, EKO
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biobriket merupakan bahan bakar alternatif yang paling murah dan dapat dikembangkan secara massal dalam jangka waktu yang relatif singkat yang merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari campuran biomassa.Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui perbandingan yang ideal biobriket dari campuran limbah kulit pisang dan serbuk gergaji dengan menggunakan perekat tetes tebu (2) mengetahui karakteristik biobriket yang meliputi nilai kalor, kadar abu, kadar air, kerapatan dan kuat tekan dari briket. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, objeknya menggunakan limbah kulit pisang dan limbah serbuk gergaji yang menggunakan tetes tebu sebagai perekat. Teknik analisis data menggunakan analisis data deskriptif yaitu menggambarkan hasil penelitian secara grafis dalam tabel, histrogram, dan grafik. Jumlah sampel biobriket yang dibuat dalam penelitian ini lima sampel dengan perbandingan bahan dasar yang berbeda-beda dengan berat total dari briket sebesar 30 gr. Perbandingan bahan dasar kulit pisang dan serbuk gergaji dalam penelitian ini meliputi: (1) 90:10 (2) 75:25 (3) 50:50 (4) 25:75 (5) 10:90, dengan menggunakan perekat tetes tebu sebanyak 50 gr. Ukuran dari biobriket yang dihasilkan berdiameter 5 cm dan tinggi 10 cm.Pengujian mutu dan kualitas biobriket dilakukan dengan pengujian kadar abu, kadar air, kerapatan, kuat tekan dan nilai kalor dari briket. Parameter yang dijadikan acuan dari mutu sesuai dengan Nilai Standar Mutu Briket Batubara. Hasil penelitian diperoleh nilai kadar air minimal pada sampel 5 dengan komposisi 10% kulit pisang + 90% serbuk gergaji sebesar 2,06%. Nilai kadar abu minimal pada sampel 4 dengan komposisi 25% kulit pisang + 75% serbuk gergaji dan sampel 5 sebesar 8%. Nilai Kerapatan maksimal pada sampel 1 dengan komposisi 90% kulit pisang + 10% serbuk gergaji sebesar 1,167 g/cm3. Nilai kuat tekan maksimal pada sampel 1 sebesar 17,83 kg/cm2. Nilai kalor tertinggi pada sampel 5 sebesar 6955,144 kal/gr. Kata kunci:biobriket, limbah kulit pisang, limbah serbuk gergaji, kuat tekan, nilai kalor.
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BOTOL DK 8211 B DENGAN STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC) STUDI  KASUS DI PT. REXAM PACKAGING INDONESIA BAYU WIYONO, SIGID
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengendalian kualitas sangat diperlukan oleh suatu perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Perusahaan harus menjaga dan mengendalikan kualitas produknya agar dapat diterima konsumen. Begitu halnya dengan PT. Rexam Packaging Indonesia yang merupakan perusahaan bidang produksi kemasan plastik. Dengan banyaknya jenis produk yang dihasilkan, pengendalian kualitas tidak berjalan merata dan maksimal. Hal ini terbukti dengan adanya produk rusak setiap produksi serta adanya complain dari customer yang salah satunya yaitu produk botol DK 8211 B. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengendalian kualitas produk botol DK 8211 B, jenis-jenis cacat yang terjadi, faktor-faktor penyebabnya dan menentukan usulan perbaikannya.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan objek adalah produk botol DK 8211 B. Variabel penelitian adalah jumlah cacat total, jumlah cacat perjenis, dan jumlah produksi. Teknik pengumpulan data dengan metode observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan metode Statistical Process Control (SPC) dengan alat bantu statistik menggunakan tabel periksa, peta kendali p (p-chart), diagram pareto, dan diagram sebab-akibat. Kemudian menentukan usulan perbaikan sesuai dengan hasil analisis yang telah didapat.Berdasarkan hasil analisis dengan Statistical Process Control dapat disimpulkan bahwa proses produksi botol DK 8211 B selama tahun 2013 tidak terkendali, terbukti dengan hanya satu sampel yang berada di dalam batas kendali. Jenis-jenis cacat yang terjadi yaitu Bintik Hitam 81,1%, Cacat Tampilan 9,4%, Bentuk Tidak Jadi 7,0% dan Warna Tidak Standar 2,5%. Penyebab cacat  karena bagian mesin kotor, olie bocor, tekanan blowing kurang, mesin panas, material terkontaminasi, material basah, dan salah takaran. Usulan perbaikan yaitu rutin memeriksa kebersihan dan fungsi mesin, mengontrol kinerja mesin, menjaga kebersihan material, mesin mixer dan lingkungan. Kata Kunci: Kualitas, DK 8211 B, SPC