cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENGARUH KECEPATAN PUTARAN SPINDLE DAN KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP TINGKAT KERATAAN DAN KEKASARAN PERMUKAAN ALUMUNIUM 6061 PADA MESIN FRAIS CNC HEADMAN WAHYU HERMAWAN, ASEP
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi dalam bidang industri saat ini semakin pesat. Terutama penggunaan sistem komputer dalam bidang pemesinan. Tuntutan konsumen yang menghendaki kualitas benda kerja yang presisi, kualitas sama baik, selesai dengan waktu singkat dan dalam jumlah banyak, akan lebih mudah dikerjakan dengan mesin perkakas CNC dari pada menggunakan mesin perkakas konvensional. Kerataan dan kekasaran permukaan merupakan hal mutlak yang harus diperhatikan dalam proses pemesinan khususnya mesin frais CNC Headman. Mesin CNC Headman merupakan mesin frais CNC yang dapat dioperasikan secara manual maupun secara otomatis dengan menggunakan kontrol program GSK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kecepatan putaran spindle dan kedalaman pemakanan terhadap tingkat kerataan dan kekasaran permukaan alumunium 6061 menggunakan mesin frais CNC Headman. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, menggunakan spesimen alumunium 6061 dengan ukuran panjang 80 mm, lebar 35 mm dan tebal 15 mm berjumlah 9 spesimen yang mendapatkan perlakuan berbeda dalam proses pengerjaannya yaitu variasi kecepatan putaran spindel (1400 rpm, 1800 rpm dan 2200 rpm) dan kedalaman pemakanan (0,1 mm, 0,2 mm dan 0,3 mm). Proses pengefraisan dengan melakukan penyayatan permukaan benda kerja, setelah itu dilakukan uji kerataan dan kekasaran. Data yang di analisis adalah hasil pengujian I, II dan III tingkat kerataan dan kekasaran permukaan alumunium 6061 yang nantinya akan diambil nilai rata-rata dari setiap perubahan kecepatan putaran spindle dan kedalaman pemakanan untuk dianalisis menggunakan metode deskripsi kuantitatif. Hasil penelitian menggunakan SPSS 20 menyatakan signifikan dengan α = 0.05 menghasilkan P value 0.001 dan 0.003 untuk analisa kerataan permukaan alumunium 6061 dan P value 0.000 dan 0.001 untuk analisa kekasaran permukaan alumunium 6061. Pengujian kerataan permukaan terbaik atau terendah adalah 17.3 µm yang diperoleh dari kecepatan putaran spindle 2200 rpm dan kedalaman pemakanan terkecil 0.1 mm. Sedangkan kekasaran terbaik atau terkecil adalah 3.69 µm yang diperoleh dari kecepatan putaran spindle 2200 rpm dan kedalaman pemakanan terkecil 0.1 mm. Kata kunci           : putaran spindle, kedalaman pemakanan, kerataan permukaan, kekasaran permukaan.
PENGARUH JENIS PAHAT, JENIS PENDINGIN DAN KECEPATAN PEMAKANAN TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN BAJA ST 42 MENGGUNAKAN SOFTWARE MASTERCAM PADA MESIN CNC MORI SEIKI CL2000 EKO HARIYANTO, ALFIAN
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kekasaran yang rendah pada proses pemesinan khususnya mesin bubut. Tidak jauh beda halnya pada proses pemesinan menggunakan mesin CNC Mori Seiki CL2000 yang sudah menggunakan sistem otomatis. Software mastercam dipilih karena Software ini memiliki fasilitas-fasilitas komputer grafis yang memungkinkan penggunaannya untuk melakukan berbagai bentuk simulasi proses pemesinan sebelum diimplementasikan pada proses pengerjaan pemesinan yang sesungguhnya berbasis Computer Numerically Controlled (CNC), hal ini akan sangat membantu untuk mempermudah proses pemesinan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu baja karbon rendah ST 42 berjumlah 18 spesimen dengan ukuran diameter 25 mm dan panjang 80 mm. Pada setiap spesimen mendapat perlakuan yang berbeda dengan menggunakan variasi jenis pahat Kyocera dan Wolframcrab, jenis pendingin menggunakan coolant, udara bertekanan dan tanpa perlakuan kemudian dipadukan dengan kecepatan pemakanan 0,15 mm/rev, 0,20 mm/rev dan 0,25 mm/rev. Untuk mengetahui tingkat kekasaran permukaan yang dihasilkan, maka perlu dilakukan pengukuran kekasaran dengan menggunakan alat ukur surface tester mitutoyo 301. Hasil pengukuran tingkat kekasaran permukaan dari penelitian ini didapatkan yaitu, ada pengaruh variasi jenis pahat insert, yaitu kyocera dan wolframcarb dihasilkan tingkat kekasaran permukaan benda kerja terendah yaitu 3,309 μm pada penggunaan pahat insert wolframcarb. Ada pengaruh variasi jenis pendingin yaitu pada pendingin menggunakan Coolant menghasilkan nilai kekasaran terendah 3,309 μm dan pada pendinginan tanpa perlakuan menghasilkan tingkat kekasaran paling tinggi dengan nilai kekasaran 5,606 μm. Ada pengaruh variasi kecepatan pemakanan, yaitu pada kecepatan pemakanan 0,15 mm/rev dihasilkan kekasaran paling baik dengan nilai kekasaran terendah 3,309 μm. Sedangkan kecepatan pemakanan paling tinggi 0,25 mm/rev menghasilkan tingkat kekasaran permukaan yang tinggi pula dengan nilai kekasaran 5,606 μm.Kata kunci : jenispahat,jenis pendingin, kecepatanpemakanan, kekasaran permukaan,software Mastercam.
KARAKTERISTIK ALIRAN UDARA PADA PLAT DATAR DENGAN PENGGANGGU BERBENTUK SILINDER MUQTADIRU, MOHAMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aerodinamika merupakan cabang ilmu mekanika fluida yang mempelajari tentang aliran udara yang bergerak di dalam dan di sekitar objek. Pada penerapan di lapangan ilmu aerodinamika banyak digunakan untuk menganalisa suatu aliran udara yang melewati bodi kendaraan, sehingga akan didapatkan desain bodi yang aerodinamis dari sebuah produk kendaraan. Didalam pengujian bodi suatu kendaraan diperlukan adanya plat datar untuk peletakan model. Pada penelitian ini akan diteliti karakteristik aliran udara pada plat datar dengan diberi pengganggu silinder dengan tujuan untuk mempercepat aliran menjadi turbulen, dengan mengukur profil kecepatan dan distribusi koefisien tekanan pada permukaan plat datar. Penelitian ini akan dilakukan di dalam open circuit subsonic wind tunnel dengan ketinggian 365 mm, lebar 365 mm, dan panjang 1220 mm pada Reynolds number 4,4 x 104, 8,8 x 104, 1,3 x 105. Karakteristik aliran diamati secara eksperimental baik tanpa maupun yang diberi silinder pengganggu dengan diameter 4 mm. Plat datar tersebut terbuat dari acrylic dengan tebal 10 mm dan panjang 1220 mm yang terletak pada bagian tengah test section subsonic wind tunnel, serta pada bagian leading edge diberi sudut 300. Pada penelitian ini pengukuran profil kecepatan (velocity profile) dilakukan pada permukaan plat datar dengan rasio X/L 0,224 ; 0,286 ; 0,347 ; 0,409 ; 0,470 ; 0,531 ; 0,593, dan distribusi koefisien tekanan sepanjang plat datar dengan penempatan pengganggu berbentuk silinder bervariasi antara 150 mm, 175 mm, 200 mm, 225 mm, dan 250 mm dari leading edge. Karakteristik aliran yang diamati adalah profil kecepatan, yang selanjutnya dapat diketahui shape factor dan distribusi koefisien tekanan pada plat datar dengan menggunakan pitot static tube dan pressure tap, yang dihubungkan dengan pressure tranducer dan data logger. Dari hasil penelitian didapatkan pada rasio X/L 0,224 ; 0,286 ; 0,347 ; 0,409 ; 0,470 ; 0,531 ; 0,593 dengan Reynolds number 4,4 x 104, 8,8 x 104, 1,3 x 105 baik tanpa maupun dengan pemasangan silinder pengganggu. Untuk nilai defisit aliran dengan semakin besar rasio X/L dan semakin tinggi Reynolds number nilai defisit aliran relatif menurun. Sedangkan untuk nilai shape factor paling rendah terjadi pada rasio X/L dan pada variasi penempatan silinder tertentu, secara keseluruhan terjadi penurunan dengan diberikannya silinder pengganggu. Kemudian untuk nilai distribusi koefisien tekanan cenderung menurun dengan semakin besar rasio X/L dan semakin tinggi Reynolds number, dan beberapa memiliki nilai terendah pada rasio X/L tertentu. Fenomena separasi bubble berinteraksi kuat pada dinding sehingga mempengaruhi karakteristik aliran yang terjadi pada plat datar.              Kata Kunci: karakteristik aliran, plat datar, profil kecepatan, koefisien tekanan
PENGARUH WAKTU PENCELUPAN DAN TEMPERATUR PROSES ELEKTROPLATING TERHADAP KETEBALAN DAN KEKERASAN PERMUKAAN BAJA ST 42 DEVIANA, RATIH
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Elektroplating merupakan suatu proses pengendapan zat (ion-ion logam) pada suatu logam dasar (katoda) melalui proses elektrolisa. Elektroplating akan baik jika memperhatikan faktor waktu pencelupan dan temperatur proses pelapisan yang digunakan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah baja ST 42 dengan kadar karbon 0,23% C. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh waktu pencelupan dan temperatur proses elektroplating terhadap nilai ketebalan permukaan pada baja ST 42. Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pencelupan dan temperatur proses pelapisan elektroplating agar didapatkan hasil atau nilai ketebalan dan kekerasan permukaan lapisan yang baik. Bahan material berbentuk silinder dengan diameter 40 mm dan panjang 20 mm. Proses elektroplating ini menggunakan waktu pencelupan 15 menit, 30 menit, dan 45 menit, dengan temperatur 30oC, 40oC dan 50oC, serta dilakukan pengujian ketebalan hasil lapisan dan kekerasan Rockwell.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ketebalan lapisan tertinggi terjadi pada temperatur 50oC dan dalam waktu pencelupan 45 menit dengan penambahan nilai ketebalan 30,6 µm, serta nilai ketebalan lapisan tererndah terjadi pada temperatur 30oC dan dalam waktu pencelupan 15 menit dengan penambahan nilai ketebalan 20,8 µm. Sedangkan nilai kekerasan permukaan tertinggi terjadi pada temperatur 30oC dan dalam waktu pencelupan 15 menit dengan nilai kekerasan 30,3 HRC, serta nilai kekerasan permukaan terendah terjadi pada temperatur 50oC dan dalam waktu pencelupan 45 menit dengan nilai kekerasan 27,7 HRC. Kata Kunci: baja ST 42, waktu pencelupan, temperatur pelapisan, elektroplating, ketebalan, kekerasan.
MODIFIKASI RUANG BAKAR DENGAN PENAMBAHAN RUANG BAKAR MULA PADA MOTOR BAKAR 4 LANGKAH SILINDER TUNGGAL UNTUK MENURUNKAN KONSUMSI BAHAN BAKAR AL ROSYIDI, TAUFIQ
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin banyaknya kebutuhan kendaraan bermotor memicu kenaikan konsumsi bahan bakar hal ini berbanding terbalik dengan jumlah kandungan minyak mentah di Indonesia. Penggunaan ruang bakar mula pada motor bensin dapat digunakan padarasio udara bahan bakar 15:1 ~ 22:1. Dengan perbandingan normal antara 12:1~15:1, hal ini akan berdampak pada berkurangnya penggunaan bahan bakar secara signifikan. Penggunaan ruang bakar mula pada motor bakar 4 langkah dengan variasi main jet yang berukuran 1,05 mm, 1,00 mm, 0,95 mm, dan 0,90 mm untuk mendapatkan perbandingan udara dan bahan bakar yang lebih besar dengan penggunaan dan tanpa ruang bakar mula yang berukuran 2 ml. Dari penelitian ini didapatkan torsi tertinggi terdapat pada pengujian dengan penambahan ruang bakar mula dan mainjet 1,05 mm yaitu sebesar 16,90 Nm pada 4500 rpm, jika dibandingkan dengan tanpa ruag bakar mula hanya sebesar 12,76 Nm pada 4500 rpm. Sedangkan daya tertinggi didapat pada pengujian dengan ruang bakar mula dan mainjet 0,95 mm yaitu sebesar 13,81 Hp pada 8000 rpm sedangkan pada pengujian tanpa ruang bakar mula daya tertinggi hanya tercapai sebesar 11,55 Hp pada 8000 rpm. Untuk penggunaan bahan bakar terendah tercapai pada pengujian dengan ruang bakar mula dan mainjet 1,00 mm dan 0,95 mm. Pada penggunaan bahan bakar spesifik hasil terbaik ditunjukkan  pada pengujian dengan ruang bakar mula dan mainjet 1,00 mm yaitu sebesar 171 gr/kW jam, sedangkan tanpa menggunakan ruang bakar mula konsumsi bahan bakar spesifik terendah yaitu sebesar 203 gr/kW jam. Sehingga hasil terbaik dari pengujian didapatkan konsumsi bahan bakar serendah-rendahnya tanpa terjadi kehilangan daya yang berarti, motor dapat menggunakan ruang bakar mula dengan mainjet 1,00 mm.  Kata Kunci: Ruang Buka Mula, Irit Bahan Bakar, Performa Motor
PROSES PRODUKSI BIOETHANOL DARI BISKUIT AFKIR CAMPUR PT. UNITED BISCUIT MANUFACTORY WARU SIDOARJO PUSPITASARI, AMBARINI
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya alam berupa minyak bumi adalah salah satu sumber energi utama yang banyak digunakan berbagai negara di dunia pada saat ini. Di Indonesia kebutuhan bahan bakar ini selalu meningkat seiring dengan penggunaannya di bidang industri maupun transportasi. Ketersediaan bahan bakar minyak bumi terbatas dan sifatnya tidak terbarukan, sehingga diprediksikan akan terjadi kelangkaan bahan bakar minyak dan menimbulkan adanya krisis energi. Bioethanol adalah salah satu bahan bakar alternatif yang berbahan dasar nabati. Di daerah Waru Sidoarjo terdapat industri yang bergerak dalam bidang pengolahan biskuit yakni PT. United Waru Biscuit Manufactory. Di sekitar industri tersebut terdapat toko pengepul biskuit afkir campur UBM yang dijual dengan harga rendah dan berkualitas rendah. Biskuit afkir campur tersebut setelah diuji memiliki kandungan karbohidrat 59,06 %. Karbohidrat merupakan syarat utama bahan baku untuk dijadikan bioethanol. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan potensi biskuit afkir campur menjadi bioethanol.  Jenis penelitian ini adalah eksperimen, dengan tiga tahapan proses. Proses pertama yaitu tahap persiapan, 250 ml biskuit afkir dicampur air dengan variasi 1750 ml, 2000 ml, dan 2250 ml kemudian disakarifikasi. Tahap kedua, adalah fermentasi (peragian) dengan bantuan ragi saccharomyces cerevisiae (ragi tape) dengan masing-masing perbandingan diberi 6 gram dan 12 gram dalam waktu 3 hari, 4 hari dan 5 hari. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang paling optimal. Tahap ketiga distilasi (pemurnian), yaitu pemisahan kadar etanol dan air dengan suhu 78oC. Metode penelitian awal menggunakan bahan baku biscuit afkir campur sebanyak 250 g, variasi air 1750 cc, 2000 cc, dan 2250 cc. Variasi jumlah ragi tape 6 g dan 12 g dengan lama fermentasi 3 hari, 4 hari, dan 5 hari. Dari penelitian awal ini di hasilkan bioetanol berkadar 59% (kondisi paling optimum) pada jumlah air 1750 cc, jumlah ragi 6 g, dan lama fermentasi 5 hari. Berdasarkan kondisi optimum ini, maka untuk membuat bioetanol kualitas tinggi (≥90%) dilakukan distilasi bertingkat menggunakan silica gel 50 g dan bioetanol dicampur dengan garam sebanyak 10% dari hasil distilasi pertama. Pada penelitian lanjutan, memakai bahan baku sebanyak 1 kg, air 7000 cc, ragi 24 gr dan lama fermentasi 5 hari menghasilkan bioethanol kadar 95% sebanyak 380 cc. Hasil uji karakteristik bioethanol biskuit afkir campur untuk nilai kalor sebesar 5899 kcal/kg, flash point 190C, pour point -160C, densitas 0,8248 Kg/l, dan viskositas 1,542 cSt. Kata Kunci : bioethanol, biscuit afkir campur, ASTM
PENGARUH INTAKE MANIFOLD MODIFIKASI DENGAN VARIASI SUDUT KELENGKUNGAN  TERHADAP EMISI GAS BUANG PADA MOTOR EMPAT LANGKAH SEVRINANDA, FRAFASTA
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan pertumbuhan sepeda motor di Indonesia dari tahun 2005 berjumlah 28.556.498 unit menjadi 52.433.132 unit pada tahun 2009 dapat menyebabkan peningkatan emisi gas buang kendaraan bermotor yang mengandung zat beracun dan tidak beracun. Oleh karena itu untuk mengatasi peningkatan emisi gas buang kendaraan bermotor dengan modifikasi design intake manifold untuk menghasilkan pembakaran sempurna sehingga emisi yang ditimbulkan oleh kendaraan menurun. Penelitian dilakukan untuk mengetahui emisi gas buang kendaraan dengan menggunakan intake manifold variasi dengan sudut kelengkungan 340, 730, dan 1080 dibandingkan dengan emisi gas buang kendaraan dengan menggunakan intake manifold standar. Variabel bebas yang digunakan adalah intake manifold standar, intake manifold variasi 1 dengan sudut lengkung 340  kanan, variasi 2  dengan sudut lengkung 730 kanan  dan variasi 3 dengan sudut lengkung 1080  kanan. Sedangkan variabel kontrol meliputi putaran mesin yaitu stasioner (1.500 rpm) sampai 9000 rpm dengan range putaran 500 rpm pada mesin 4 langkah, suhu mesin pada suhu kerja (60°C), suhu ruangan 27°C, pada mesin Honda Legenda 2003. Pengujian sesuai dengan standart pengujian emisi gas buang menurut ISO 3930/OIML R-99. Untuk variabel terikat yaitu melihat tingkat polutan dari kadar emisi gas buang yang ditimbulkan yaitu CO, HC, dan CO2. Data hasil penelitian yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk grafik selanjutnya dideskripsikan dengan kalimat sederhana. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan intake manifold dengan variasi sudut kelengkungan kanan 340, 730, 1080 pada Honda Legenda Tahun 2003 dapat menurunkan konsentrasi CO, HC dan meningkatkan konsentrasi CO2. Penurunan emisi CO terendah sebesar 0,38% vol dengan persentase penurunan 78,65% pada putaran 1500 rpm dengan menggunakan intake manifold variasi 3 sudut kelengkungan kanan 1080. Penurunan emisi HC terendah sebesar 276 ppm vol dengan persentase penurunan 22,90% pada putaran 9000 rpm dengan menggunakan intake manifold variasi 3 sudut kelengkungan kanan 1080 dan peningkatan emisi CO2 tertinggi sebesar 12,0% vol dengan persentase peningkatan 30,43% pada putaran 9000 rpm dengan menggunakan intake manifold variasi 3 sudut kelengkungan kanan 1080. Kesimpulan dari hasil penelitian di atas bahwa kendaraan dengan menggunakan intake manifold variasi dengan sudut kelengkungan 340, 730, dan 1080 pembakaran yang dihasilkan jauh lebih baik dari kendaraan dengan menggunakan intake manifold standar, karena pengaruh perubahan intake manifod yang terjadi aliran turbulensi pada ruang bakar sehingga campuran bahan bakar dan udara menjadi lebih homogen dan kesempurnaan dalam pembakaran, sehingga menurunkan konsentrasi CO dan HC, meningkatkan konsentrasi CO2 pada Honda Legenda tahun 2003. Kata kunci : Emisi gas buang, Intake Manifold, Sudut Kelengkungan.
PENGARUH VARIASI LOBE SEPARATION ANGLE (LSA)PADA CAMSHAFT TERHADAP UNJUK KERJA MESIN SUPRA X 125 TAHUN 2008 ESTU WIJANATA, DESTRIO
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan sudut LSA camshaft terhadap unjuk kerja mesin Honda Supra X tahun 2008. Variasi sudut LSA kelompok standar (LSA= 104°) dan kelompok eksperimen (modifikasi LSA= 102° dan LSA= 103. Metode pengujian unjuk kerja mesin berdasarkan SAE J1349 pada beban penuh (Full Open Throtle Valve) dengan posisi transmisi top gear. Analisis data dengan menggunakan deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa secara umum penggunaan sudut LSA camshaft modifikasi 103° pada mesin Honda Supra X tahun 2008 lebih baik dibandingkan dengan sudut LSA camshaft standar 104° maupun modifikasi 102° dari segi unjuk kerja mesin. Hal ini dibuktikan dengan Torsi optimal dihasilkan dengan menggunakan sudut LSA camshaft modifikasi 103° sebesar 1,09 kgf.m dengan persentase peningkatan sebesar 7,92% pada 5500 rpm dan 12,62% pada 6000 rpm. Daya efektif optimal dihasilkan dengan menggunakan sudut LSA camshaft modifikasi 103° sebesar 10,24 PS dengan persentase peningkatan sebesar 20,24% pada 7000 rpm. Konsumsi bahan bakar dihasilkan dengan menggunakan sudut LSA camshaft modifikasi 102° sebesar 0,28 kg/jam dengan persentase penurunan sebesar -5,03% pada 3500 rpm. Tekanan efektif rata-rata optimal dihasilkan dengan menggunakan sudut LSA camshaft modifikasi 103° sebesar 2,55 kg/cm² dengan persentase peningkatan sebesar 11,93% pada 6000 rpm dibandingkan dengan menggunakan sudut LSA camshaft standar 104°. Kata kunci: Camshaft, Lobe Separation Angle (LSA), Unjuk Kerja Mesin.
ANALISIS KUALITAS BILLET DENGAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC)   ANALISIS KUALITAS BILLET DENGAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC) PADA PT. HANIL JAYA STEEL SUTANTO, EKO
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 01 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 01 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Billet adalah bahan utama dalam bidang produksi besi beton. Besi beton itu banyak di gunakan pada bangunan dan infra struktur lain. Seperti jembatan, pondasi gedung, menara tower, dermaga dan bandara. Dalam produksinya PT. Hanil Jaya Steel masih belum mencapai zero defect, karena masih ditemui adanya defect pada proses produksinya. Oleh karena itu masalah yang diteliti adalah tingkat kecacatan billet, penyebab cacat dan perbaikan yang harus dilakukan di PT.Hanil Jaya Steel. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif kuantitatif. Subyek penelitian analisis kualitas billet. Obyek penelitian adalah cacat billet dengan menggunakan metode statistical process control, instrumen penelitian berupa interview, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan, cacat 3,9%. Jika dilihat dari total cacat menurut jenis : rumbik 40,37% ; retak 33,72% ; patah 29,91% dari total produk cacat. Penyebab cacat adalah : manusia : kemampuan dan tingkat ketelitian operator kurang, mesin : kerak pada saluran mould jaket, ausnya kepala mould, pipa spray bermasalah, metode : setting mould, setting pipa spray, material : terlalu banyak campuran kapur dan vanadium, lingkungan : suhu air pendinginan tidak normal. Langkah perbaikan yang harus dilakukan adalah : manusia : pelatihan dan training untuk meningkatkan skill operator, mesin : perawatan saluran mould jaket, perbaikan keausan mould dan pipa spray, metode : setting mould dan pipa spray harus benar, material : komposisi bahan aditif harus benar, sesuaikan campuran kapur dan vanadium, lingkungan : menjaga suhu air tetap normal pada cooling water. Kata Kunci : Kualitas Billet, Statistical Process Control
PREVENTIVE MAINTENANCE PADA MESIN FILTER AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE AGE REPLACEMENT SEBAGAI PENGOPTIMALAN BIAYA DOWN TIME DI CV. SEGAR MURNI MOJOKERTO SULISTIAWAN, AGUS
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan mesin secara kontinyu akan mengalami penurunan tingkat kesiapan mesin itu sendiri dalam usaha untuk menjaga tingkat kesiapan mesin agar hasil produksi tetap terjamin akibat penggunaan mesin secara terus-menerus, maka dibutuhkan kegiatan pemeliharaan mesin secara baik dan terencana. Selama ini perusahaan hanya menggunakan sistem break downmaintenaince yaitu ketika mesin mati baru dilakukan perbaikan sehingga dapat mengganggu proses produksi yang berimbas pada meningkatnya biaya down time yang harus dikeluarkan oleh pabrik untuk proses perbaikan berlangsung tanpa adanya prefentive maintenance. tentunya hal ini sangat merugikan CV. Segar Murni Mojokerto. Seringkali kita melihat dalam suatu masalah pemeliharaan mesin baru dilakukan setelah kondisi dari mesin /alat produksimengalami kerusakan dan tidak dapat dioprasikan kembali. Dengan adanya masalah tersebut, maka akan dilakukan optimalisasi biaya perawatan mesin filter air menggunakan metode Age Replacement dengan harapan dapat mengoptimalkan biaya pemeliharaan mesin filter air secara berkala dan teratur yang meliputi waktu kegiatan pemeliharaan.Penelitian ini dilakukan pada pabrik air mineral CV. Segar Murni Mojokerto, yang berlokasi di Jl. Raya Mojokerto – Mojosari No. 01. Denagn pengambilan data waktu rata-rata lama perbaikan akibat kerusakan peralatan. Waktu yang dibutuhkan dalam melakukan pemeliharaan penggantian komponen catridge. Repair Time dinyatakan dalam jam untuk masa selama 1.5 tahun (18 bulan), mulai bulan januari 2012 sampai dengan bulan juni 2013 (Data diperoleh dalam bentuk dokumen dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan Manager Plant ). Dari hasil penelitian yang telah dilakukanpreventive maintenance dengan menggunakan metode Age ReplacementPenentuan penjadwalan interval waktu penggantian komponen catridge sebagai bentuk mengoptimalkan biaya downtimedengan menggunakan metode Agereplacement di CV. Segar Murni Mojokerto diperoleh interval waktu penggantian yang paling optimal adalah 17 hari dengan tingkat keandalan komponen diatas 50 % yaitu sebesar 53,7% sehingga terjadi 26 kali penggantian komponen dalam 18 bulan kedepan Penghematan biaya downtime sebesar Rp.113.166.250 atau 38,44% dibandingkan dengan sebelum menggunakan penjadwalan  dengan metode agereplacement. Kata kunci: Preventive Maintenance, Age Replacement.