cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENENTUAN SETTING PARAMETER PEMBUATAN BOTOL DK 8251 B PADA PROSES BLOW MOULDING DENGAN MENGGUNAKAN RSM (RESPONSE SURFACE METHODOLOGY) STUDI KASUS DI PT. REXAM PACKAGING INDONESIA MUSTHOFA, ARIEZAL
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk kemasan kosmetik kode DK 8251 B merupakan salah satu produk yang diproduksi oleh PT. Rexam Packaging Indonesia. Produk tersebut diproduksi dengan menggunakan proses blow moulding. Dalam proses produksi produk kemasan kosmetik kode DK 8251 B masih terdapat banyak ketidaksesuaian antara produk yang dihasilkan dengan spesifikasi yang diinginkan oleh customer. Penelitian ini merencanakan desain eksperimen mengunakan response surface methodology untuk mengoptimalkan variabel dari produk kode DK 8251 B yang diharapkan variabel dari produk kode DK 8251 B tersebut akan menjadi optimal secara kualitas dan kuantitas. Rancangan penelitian mengkombinasikan tiga variabel faktor yaitu blowing pressure 5, 6, dan 7 bar, blowing time 6.7, 7.7, dan 8.7 detik, dan stop time 0.1, 7.7, dan 1.3 detik dengan menggunakan aturan box-behnken design. Berdasarkan hasil optimasi dengan menggunakan Minitab 16 didapatkan setting parameter pembuatan botol DK 8251 B secara optimal yaitu dengan melakukan setting parameter blowing pressure sebesar 7,0 bar, blowing time 7,52192 detik, dan stop time 0,158796 detik. Dengan melakukan setting parameter pada level tersebut akan menghasilkan respon untuk diameter snap sebesar 19,7000 mm, temperatur botol sebesar 42,1562?C, dan cycle time sebesar 11,9237 detik dengan nilai composite desirability sebesar 0,755020. Kata Kunci: Optimasi, Extrusion Blow Moulding, Response Surface Methodology
ANALISIS KUALITAS PRODUK PAKAN TERNAK DENGAN METODE SIX SIGMA DI PT. CHAROEN POKPHAND INDONESIA (TBK) FENDY KUSSUMA H S, M
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persaingan pasar yang semakin ketat dalam perkembangan dunia perindustrian saat ini, agar mendapat peluang yang besar atau paling tidak tetap berada dalam persaingan maka kualitas menjadi hal paling krusial yang harus diperhatikan oleh setiap organisasi atau perusahaan. PT. Charoen Pokphand Indonesia (Tbk) – Krian adalah perusahaan yang memproduksi pakan ternak yang dalam proses produksinya perusahaan ini belum mencapai zero defect. Pada penelitian ini menggunakan metode peningkatan kualitas Six Sigma dengan siklus DMAIC. Pada tahap Define dilakukan identifikasi objek penelitian dan menentukan CTQ (Critical To Quality). Pada tahap Measure dilakukan penentuan defect yang dominan, pengukuran berdasarkan CTQ dan pengukuran baseline kinerja. Pada tahap Analyze dilakukan analisa terhadap kapabilitas proses dan pencarian penyebab defect yang dominan. Pada tahap Improve membuat usulan perbaikan pada penyebab kegagalan potensial yang bertujuan mengurangi defect. Pada tahap Control dilakukan pendokumentasian hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapabilitas proses produksi di perusahaan ini berada pada tingkat 4,664 sigma. Dari jumlah cacat yang teridentifikasi terdapat lima kegagalan paling potensial yakni pellet belang (56,21%), expired date (32,56%), mix up (4,92%), protein problem (3,20%), dan pellet hancur (1,38%). Langkah perbaikan yang harus dilakukan agar mencapai zero defect adalah perbaikan pada mesin produksi dan pergantian die yang sudah rusak, penyetelan steam sesuai kriteria, pemeriksaan kebersihan mesin pada pergantian produksi  per kode pakan, pengaturan speed mesin ayakan lebih rendah, pengkalibrasian timbangan mesin mixer, memaksimalkan metode FIFO (First In First Out), dan perbaikan pada metode kerja agar lebih mementingkan kualitas daripada kejar hasil maksimal.   Kata Kunci: Kualitas, Sigma, DMAIC
PENGARUH LATAR BELAKANG PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP KUALITAS POTONGAN LOGAM MENGGUNAKAN LAS GAS DI SENTRA INDUSTRI LOGAM DESA NGINGAS KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO TRIYADI, JOHAN
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja terhadap kualitas hasil pemotongan logam menggunakan las gas di Sentra Industri Logam Desa Ngingas Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini penelitian kuantitatif. Obyek penelitian adalah karyawan bagian pemotongan logam yang berjumlah 40 orang. Variabel bebas (X1) latar belakang pendidikan adalah SLTA, SLTP dan SD. Variabel bebas (X2) pengalaman kerja adalah kurang dari 3 tahun, antara 3-6 tahun dan lebih dari 6 tahun.  Variabel terikat (Y) kualitas hasil pemotongan adalah kehalusan permukaan, kelurusan jalur pengelasan, pengaturan tekanan gas, cacat pemotongan dan kebersihan.  Metode analisis data di uji dengan uji Independent T-test, Anova one way, dan Regresi Linier. Perhitungan analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan SPSS 17.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan kualitas pemotongan karyawan latar belakang pendidikan SLTA, kualitas pemotongan karyawan latar belakang pendidikan SLTP, dan kualitas pemotongan karyawan  latar belakang pendidikan SD jadi semakin tinggi latar belakang pendidikan karyawan maka semakin baik pula kualitas hasil pemotongan logam. Dan ada perbedaan yang signifikan kualitas pemotongan karyawan dengan pengalaman kerja kurang dari 3 tahun kualitas pemotongan karyawan dengan pengalaman kerja antara 3-6 tahun, kualitas pemotongan karyawan dengan pengalaman kerja lebih dari 6 tahun jadi semakin tinggi pengalaman kerja karyawan maka semakin baik pula kualitas hasil pemotongan logam.  Dan ada pengaruh yang signifikan antara variabel latar belakang pendidikan (X1) dan pengalaman kerja (X2) terhadap variabel kualitas hasil pemotongan logam menggunakan las gas (Y). Diketahui bahwa nilai R2 (R Square) diketahui sebesar 0,591. Hal ini berarti bahwa 59,1% kualitas hasil pemotongan menggunakan las gas dipengaruhi oleh variabel bebas yaitu latar belakang pendidikan sedangkan sisanya yaitu sebesar 40,9% dipengaruhi oleh variabel lain. Kata kunci : Latar belakang pendidikan, pengalaman kerja dan  kualitas hasil pemotongan  logam
PERBANDINGAN POLARIZED PAINT PROTECTION SYSTEM BERBAHAN DASAR TEFLON DENGAN PAINT PROTECTION WAX TERHADAP DAYA TAHAN KEKILAPAN CAT SUMARWOTO, AGUS
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan dari paint protection, saat ini terdapat teknologi terbarukan yaitu teknologi perlindungan cat PPS (Polarized Paint Protection System) berbahan dasar PTFE (Poly Tetra Fluoro Ethylene, nama ilmiah dari Teflon). Umumnya,teflon baru bisa melekat di permukaan benda lain pada suhu 600 derajat celcius dan tekanan yang besar. PPS adalah satu-satunya Paint Protection di dunia yang berhasil memiliki teknologi melapisi cat mobil pasca pengecatan dengan lapisan teflon di dalam suhu ruangan dengan tekanan normal. Selain PPS Teflon, ada paint protection lain yang saat ini banyak kita jumpai di jasa salon mobil yaitu paint protection dengan wax), paint protection jenis ini bersifat temporer ada berbagai macam wax saat ini yang tentunya memiliki tngkat perlindungan yang berbeda, kedua paint protection baik PPS teflon maupun wax memiliki kelebihan dan kekurangan dalam melindungi cat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen, karena untuk membandingkan peneliti terlebih dahulu mencari pengaruh perlakuan terhadap obyek penelitian, metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Pengambilan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode literatur dan metode eksperimen, metode eksperimen dilakukan untuk mengetahui daya tahan perlindungan dari kedua paint rotection hal ini dapat dibuktikan setelah proses paint protection dan di uji dengan cara pencucian berulang-ulang. Hasil penelitian menunjukkan polarized paint protection system berbahan dasar teflon dapat meningkatkan kekilapan cat lebih baik daripada paint protection wax, hal ini ditunjukan setelah permukaan cat di PPS teflon kilap cat meningkat 22,1%, waxco metalic wax 18,1%, turtle wax 21,7%, dan geff 1 carnauba liquid wax 21,3%. Setelah proses pengujian pada setiap paint protection dengan 1000 kali proses cuci polarized paint protection system berbahan dasar teflon kekilapan sebelum proses cuci 90,1 GU setelah 1000 kali proses cuci turun menjadi 16,9 GU, waxco metalic wax 86,9 GU setelah 1000 kali proses cuci turun menjadi 7,9 GU, turtle wax 89,3 GU setelah 1000 kali proses cuci turun menjadi 11,8 GU, gef 1 carnauba liquid wax 89,4 GU setelah 1000 kali proses cuci turun menjadi 13,1 GU. Kata kunci : PTFE (Poly Tetra Flouro Ethylene), teknologi paint protection.
PEMANFAATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH SERBUK GERGAJI KAYU JATI DAN JANGGEL JAGUNG SERTA TEPUNG KANJI SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MEI HERMAWAN, BAKTIYAR
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi bahan bakar sangatlah mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia saat ini. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat menyebabkan permintaan akan energi semakain bertambah, sedangkan cadangan minyak bumi semakin menipis karena di explorasi secara terus menerus. Untuk mengatasi cadangan minyak yang semakin menipis maka diperlukan energi alternatif. Energi alternatif yang bisa digunakan untuk menggantikan keberadaan minyak salah satunya adalah biomassa yang berasal dari limbah serbuk gergaji kayu jati, hal ini dikarenakan limbah serbuk gergaji kayu jati saat ini hanya menjadi limbah bagi masyarakat. Pemanfaatan limbah serbuk gergaji kayu jati menjadi biomassa lambat laun akan dapat menggantikan keberadaan minyak yang saat ini menjadi primadona di kalangan masyarakat.  Proses pembuatan briket diawali dengan melakukan pengarangan serbuk gergaji kayu jati dan janggel jagung pada suhu + 250ºC, kemudian serbuk gergaji kayu jati dan janggel jagung di buat perbandingan dengan komposisi yang telah ditentukan sebelumnya di campur dengan perekat dengan perbandingan 1:10. Sebelumnya telah di buat bubur terlebih dahulu . Setelah bahan di campur maka langkah selanjutnya adalah di lakukan proses pengepresan dengan tekanan kompaksi 2,5 ton, kemudian briket bioarang yang telah di cetak kemudian dipanaskan di oven dengan suhu 100ºC. Jenis spesimen dibuat 6 macam yaitu A (100% janggel jagung), B (20% serbuk gergaji kayu jati + 80% janggel jagung), C (40% serbuk gergaji kayu jati + 60% janggel jagung), D (60% serbuk gergaji kayu jati + 40% janggel jagung), E (80% serbuk gergaji kayu jati + 20% janggel jagung) dan F (100% serbuk gergaji kayu jati). Setelah briket biorang kering maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian karakteristik yaitu nilai kalor, kuat tekan, kadar abu, kadar air. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif dimana hasil pengujian karakteristik di masukkan kedalam tabel dan kemudian dideskripsikan dalam bentuk kalimat. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai kuat tekan jenis A adalah 15,17 kgf/cm²; jenis B= 14,21 kgf/cm²; jenis C= 11,23 kgf/cm²; jenis D= 8,35 kgf/cm²; jenis E= 6,60 kgf/cm²; jenis F= 6,84 kgf/cm², nilai kuat tekan tertinggi adalah jenis A= 15,17 kgf/cm². Nilai kalor jenis A= 5828,7 kal/g; jenis B= 6169,5 kal/g; jenis C= 6416,6 kal/g; jenis D= 6562,4 kal/g; jenis E= 6660,6 kal/g; jenis F= 6758,6 kal/g,  nilai kalor tertinggi adalah jenis F = 6758,6 kal/g. Kadar air jenis A adalah 11,69%; jenis B= 10,80%; jenis C= 10,78%; jenis D= 9,93%; jenis E= 9,35%; jenis F= 8,79%, kadar air terendah adalah jenis F= 8,79%. Kadar abu jenis A adalah 12%; jenis B= 10%; jenis C= 10%; jenis D= 6%; jenis E= 6%; jenis F= 2%, kadar abu terendah adalah jenis F= 2%. Kata Kunci : Bahan bakar alternatif, briket bioarang, serbuk gergaji kayu jati, janggel jagung.
PENGARUH JARAK PENYEMPROTAN SPRAY GUN TERHADAP KEOPTIMALAN HASIL PENGECATAN SENSIGUS RAHMAD WIJAYA, YUDHAR
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jarak penyemprotan spray gun adalah salah satu variable penting dalam sebuah proses pengecatan yang akan sangat  mempengaruhi hasil dari pengecatan  dan pada beberapa literatur menyebutkan bahwa jarak yang paling ideal untuk melakukan pengecatan dengan media yang akan dicat berupa metal dan cat yang digunakan adalah cat tipe solid adalah 10-20 cm. Maka penelitian ini bertujuan untuk menentukan jarak yang paling tepat untuk menghasilkan pengecatan yang paling optimal. Pada penelitian ini digunakan metode penelitian eksperimen, pada penelitian ini kualitas cat yang digunakan adalah cat dengan kualitas rendah ( nipe 2000) dan cat dengan kualitas sedang(Danagloss), jarak yang akan diteliti yaitu 10, 12, 14, 16, 18, 20 centimeter dan proses pengecatan dilakukan dengan mengguanakan bantuan sebuah trainer sehingga jarak pengecatan tersebut menjadi dapat diatur secara konstan dan tidak berubah-ubah pada saat proses pengecatan berlangsung sehingga hasil pengecatanya pun dapat merata, untuk variable perbandingan campuran cat dan kualitas thiner peneliti menggunakan hasil penelitian sebelumnya dan  untuk variabel-variabel lainya akan tetap berpatokan pada literatur yang telah ada. Dan masing-masing hasil pengecatan akan diukur kekilapanya dengan menggunakan alat Gloss Meter. Pada akhir dari penelitian ini telah mandapatkan hasil bahwa jarak penyemprotan spray gun yang paling ideal untuk cat kualitas rendah (nipe 2000) adalah 18 cm dan kualitas sedang ( Danagloss) adalah 16 cm, dan peneliti juga menemukan bahwa jarak penyemprotan yang terlalu dekat ( < 10 cm ) akan mengakibatkan lapisan cat meleleh (runs). Dan jarak penyemprotan yang terlalu jauh ( > 20 cm ) akan mengakibatkan lapisan cat menjadi berbintik dan kasar.   Kata kunci: Gloss Meter, jarak penyemprotan, spray Gun
PENGARUH PERBANDINGAN CAMPURAN CAT DENGAN THINNER TERHADAP KUALITAS HASIL PENGECATAAN JOHANSYAH H, NICO
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbandingan pada campuran cat dan thinner akan mempengaruhi kekentalan, proses pelapisan, konsumsi, dan tingkat kekilapan cat, atau dengan kata lain perbandingan inilah yang akan menentukan kualitas hasil pengecatan. Dari pengalaman peneliti di bidang pengecatan serta survei yang telah dilakukan, diketahui bahwa tidak semua perbandingan campuran cat dengan thinner adalah 1 : 1. Hal ini diperkuat dengan beberapa produsen cat yang menetapkan perbandingan campuran pada angka 1:1 hingga 1 : 1.5, sedangakan hasil (end coating) berupa kekilapan warna yang diperoleh tidak selalu maksimal. Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberapa bengkel jasa pengecatan yang menetapkan suatu perbandingan campuran dengan angka yang lebih tinggi, namun tidak menentu jumlahnya. Oleh karena itu, penulis akan melakukan penelitian tentang perbandingan campuran cat dengan thinner dengan jumlah 0 : 0.8 hingga     1 : 1.5. Penelitian yang dilakukan  bertujuan untuk mendapatkan perbandingan campuran antara cat dan thinner yang tepat dalam pengaplikasian pada produk cat tertentu guna mendapatkan kualitas hasil pengecatan terbaik.                  Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Obyek penelitian adalah 2 merek cat yakni Danagloss dan Nippe 2000 yang bersifat representatif berdasarkan klasifikasi cat berkualitas sedang dan cat berkualitas rendah. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah glossmeter.  Hasil penelitian yaitu berupa angka perbandingan antara cat dan thinner dengan hasil tingkat kekilapan terendah pada kedua sampel penelitian didapat pada angka perbandingan 1 : 0.8. Hasil terbaik untuk cat berkualitas rendah seperti Nippe 2000 didapat pada angka perbandingan 1 : 1.4 dengan tingkat kekilapan 91.8%, sedangakan angka perbandingan terbaik untuk cat berkualitas sedang seperti Danagloss adalah 1 : 1.5 dengan tingkat kekilapan 92.9%. Perbedaan tingkat kekilapan pada kedua sampel tersebut dipengaruhi juga oleh kadar senyawa nitroselulosa yang menghasilkan perbedaan karakteristik cat. Berdasarkan pengujian laboratorium yang dilakukan, diketahui kadar nitroselulosa pada cat Danagloss adalah sebesar 75.10%, sedangkan kadar nitroselulosa pada cat Nippe 2000 adalah sebesar 54.93%. Kata kunci: Cat, glossmeter, perbandingan campuran.
STUDI KOMPARASI PERFORMA MESIN BERBAHAN BAKAR SOLAR DAN BIODIESEL DARI CRUDE OIL NYAMPLUNG DENGAN PROSES DEGUMMING PADA MESIN DIESEL WIYONO, ANDRI
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi bahan bakar solar di Indonesia pada tahun 2013 menurut Sekertaris BPH Migas mengatakan bahwa untuk solar konsumsinya mencapai 11,72 juta kilo liter hingga September 2013, jumlah ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2012 yakni hanya 11,53 juta kilo liter. Untuk itu perlu adanya pengadaan energy alternatif di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan bahan bakar alternatif sebagai Bahan Bakar Minyak. Bahan bakar berbasis nabati seperti Biodiesel diharapkan dapat mengurangi ketergantungan konsumen terhadap bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable). Untuk itu bahan bakar dari nabati yang digunakan adalah campuran biodiesel dari crude oil nyamplung dengan bahan bakar solar. Penelitian ini bermaksud untuk studi komparasi performa diesel solar Nissan D-22 yang berbahan bakar campuran solar dan biodiesel dari crude oil nyamplung dan solar murni.Jenis penelitian ini adalah eksperimen, objek penelitian adalah mesin diesel Nissan D-22. Bahan bakar yang digunakan dalam penelitian adalah solar (kelompok standart) dan kelompok eksperimen meliputi solar dicampur biodiesel B5, B7,5, B10, B12,5, dan B15. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa Mesin Diesel Nissan D-22 yang berbahan bakar campuran biodiesel dan solar dengan solar murni. Langkah awal sebelum bahan diujikan adalah mencampur solar dan biodiesel. Setelah itu diujikan pada kendaraan. Analisis data dilakukan dengan metode deskripsi dengan memvariasikan rpm pada beban penuh (full open throttle valve) yang berpedoman pada standar SAE J1349 yaitu Engine Power Test Code-Spark Ignition and Compression Ignition-Net Power Rating.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa torsi yang optimal didapatkan dengan B-15 sulfat 9,07 kg.m pada putaran 2000 rpm dan B-10 cuka 9,25 kg.m pada putaran 2000 rpm. Daya efektif optimal dengan B-15 sulfat sebesar 29,984 PS pada putaran 2500 rpm dan B-10 cuka sebesar 30,194 PS pada putaran 2500 rpm. Peningkatan Tekanan efektif rata-rata optimal pada B-15 sulfat sebesar 0,329 kg/cm2 pada putaran 2000 rpm dan B-10 cuka sebesar 0,336 kg/cm2 pada putaran 2000 rpm. Dan sfc optimal pada B-15 sulfat sebesar 0,288 kg/PS.jam pada putaran 2000 rpm dan B-10 cuka sebesar 0,275 kg/PS.jam pada putaran 1500 rpm. Sehingga disimpulkan mencampurkan biodiesel crude oil nyamplung dapat meningkatkan performa mesin. Sehingga dapat disimpulkan campuran biodiesel dari crude oil nyamplung dengan degumming asam cuka yang paling optimal terhadap peningkatan performa mesin. Kata kunci : Crude oil nyamplung, Biodiesel, Performa Mesin.
PENGARUH TEGANGAN LISTRIK DAN JARAK ELEKTRODA PROSES PELAPISAN NIKEL KROM TERHADAP KARAKTERISTIK BAJA ST 42 AMRULLOH, FEBRIAN
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses elektroplating logam pada dasarnya dilakukan dengan tujuan untuk mencegah proses korosi yang menyerang pada permukaan baja. Metode pelapisan dengan cara elektroplating sangat digemari karena tampilannya yang cemerlang, distribusi bahan pelapis merata diseluruh bagian, tidak mudah terkorosi dan tahan lama. Kombinasi nikel-kromium yang digunakan pada dekorasi kendaraan bermotor, mempunyai dua fungsi, yaitu melindungi dari karat dan mempercantik penampilan kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tegangan listrik dan jarak elektroda pada pelapisan nikel-krom secara elektroplating terhadap karakteristik baja St 42. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan memvariasikan tegangan listrik dan jarak elektroda pada proses pelapisan nikel-krom. Spesifikasi spesimen dalam pengujian ini menggunakan baja St 42 dengan diameter 40 mm dan tebal 10 mm. Variasi tegangan listrik sebesar 6 volt, 9 volt, dan 12 volt. Variasi jarak elektroda: 4 cm, 6 cm, dan 8 cm. Kuat arus 15 Amper dan suhu proses pelapisan dikontrol sebesar 50ºC dengan durasi pelapisan selama 20 menit. Setelah itu spesimen akan diuji ketebalan, kekasaran, dan kekerasannya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tegangan listrik dan jarak elektroda mempunyai pengaruh terhadap karakteristik baja St 42. Nilai statistik untuk ketebalan lapisan, dengan nilai P value 0,00 dan Fhitung 35,70. Kekasaran dengan nilai P value 0,002 dan Fhitung 8,29, sedangkan kekerasan dengan nilai P value 0,00 dan Fhitung 26,90. Variabel-variabel terikat antara lain: ketebalan, kekasaran, dan kekerasan yang paling erat hubungannya adalah antara ketebalan dan kekerasan dengan nilai P value 0,00 dan pearson correlation 0,981. Hasil pelapisan yang optimal adalah pada tegangan 6 volt dan jarak 6 cm dengan nilai rata-rata kekasaran sebesar 0,28 µm ,0,75 µm, dan 0,67 µm, karena dari segi tampilan dan kehalusan permukaan mendukung untuk tujuan dekoratif pelapisan nikel krom. Kata kunci: elektroplating, baja st 42, jarak elektroda, tegangan listrik 
STUDI PENGARUH ORIENTASI ARAH SERAT DAN FRAKSI VOLUM SERAT TERHADAP KEKUATAN TARIK KOMPOSIT BERPENGUAT FIBERGLASS DENGAN MATRIK EPOXY HANSA, IMAFUL
Jurnal Teknik Mesin Vol 2, No 03 (2014): JTM : Volume 02 Nomor 03 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bahan komposit berpenguat serat fiberglass dengan matriks  epoxy resin. Penelitian ini terbagi dalam beberapa tahapan. Tahap pertama pembuatan model komposit, setelah itu dibuatlah komposit dengan fraksi volum 10%, 20%, 30%, 40%, 50% dengan arah serat 0º,45 º, 90 º. Pembuatan spesimen dengan metode hand lay-up. Tahap kedua yaitu pengujian material komposit. Pengujian yang dilakukan yaitu uji tarik. Uji tarik dilakukan menggunakan standar ASTM D 638M-84 M-1. Tahap ketiga yaitu hasil analisa data dan pembahasan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kekuatan tarik (tensile strength) terbesar pada fraksi volum 10% arah serat 0º (arah membujur) dengan nilai 7,96 kgf/mm2. Sedangkan semakin besar fraksi volum komposit terlihat kecenderungan semakin menurun. Ini dapat diperlihatkan dengan hasil terkecil didapatkan pada fraksi volum 50% arah serat 90º sebesar 6,38kgf/mm2. Dari hasil yang didapatkan bisa disimpulkan bahwa pengaruh fraksi volum dan arah penataan serat menunjukkan tren berbanding terbalik terhadap penambahan fraksi volum dan perubahan arah serat. Kata kunci : fiberglass, epoxy resin, fraksi volum, arah serat