cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PEMBUATAN BIOETANOL DARI SENTE HIJAU (ALOCASIA MACRORRIZHA) SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF AFIF R., MACHRUS
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Permasalahan energi dunia saat ini adalah tidak sebandingnya jumlah produksi bahan bakar minyakdengan konsumsinya. Oleh sebab itu perlu adanya energi alternatif dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan berpati yang mengandung karbohidrat sebagai bioetanol. Salah satunya sente hijau. Sente hijau adalah tanaman yang dianggap tidak ada nilai gunanya. Kandungan yang terdapat dari 100 gram sente adalah 20 gram karbohidrat, 0,62 gram protein, 0,13 gram Lemak, 1,49 gram Abu. Karbohidrat merupakan syarat utama bahan baku untuk dijadikan bioetanol. Sehingga perlu dikaji secara mendalam. Jenis penelitian ini adalah eksperimen, dengan tiga tahapan proses. Proses pertama yaitu tahap persiapan, 500 gramumbi sente disakarifikasi kemudian dicampur air 1000 gram dan secara bertingkat untuk mendapatkan kadar etanol > 90%. Proses destilasi kedua dan destilasi ketiga dilakukan dengan garam dan silica gel untuk mempermudah menyerap uap air, sehingga etanol yang dihasilkan lebih murni. Selanjutnya bioetanol diuji spesifikasinya sesuai standart 1500 gram. Tahap selanjutnya adalah fermentasi menggunakan ragi (saccharomyces cerevisiae) dengan perbandingan 10 gram, 15 gram dan 20 gram dalam waktu 3 hari, 4 hari dan 5 hari. Terakhir tahap distilasi, yaitu pemisahan kadar etanol dan air dengan suhu 78oC. Destilasi dilakukan mengacukepada ASTM(American Standart Testing of Materials). Hasil dari penelitian ini didapatkan kondisi proses yang optimal pada perbandingan 500 gram umbi sente, 1000 gram air, 15 gram ragi selama 4 hari untuk dilanjutkan ke pembuatan bioetanol dalam skala besar. Proses pembuatan skala besar dengan bahan baku umbi sente 2000 gram, 4000 gram air, 60 gram ragi dan fermentasi 4 hari menghasilkan 1250 ml bioetanol pada distilasi I dengan kadar 23%, distilasi II dengan penambahan garam 175 gram menghasilkan bioetanol 700 ml kadar 57%, distilasi III dengan penambahan garam 75g menghasikan 450 ml bioetanol kadar 83% dan distilasi IV menggunakan silika gel 25 g menghasilkan 200 ml bioetanol kadar 94,96%.  Hasil uji karakteristik diperoleh bioetanoldengan nilai kalori sebesar 5444,78Kcal/kg, flash point15oC, pour point< -70oC, densitas 0,8281 gr/cm3 dan viskositas 3,45 cSt. Kata kunci:bioetanol, umbi sente, fermentasi, distilasi
UNJUK KEMAMPUAN MULTI CELL WATER ELECTROLYZER MODEL PLAT TERHADAP REDUKSI EMISI GAS BUANG DAN PERFORMA MESIN YAMAHA MIO KUSUMAWATI, ARIEZATIN
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Indonesia mengalami penurunan produksi minyak lima tahun terakhir ini akibat menurunnya jumlah cadangan minyak pada sumur – sumur produksi. Penurunan produksi minyak bumi ini tidak sebanding dengan kebutuhan minyak yang semakin meningkat di Indonesia. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor setiap tahunnya juga memicu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Untuk mengatasi kelangkaan BBM dan masalah polusi telah banyak dikembangkan energi alternatif, seperti air. Air harus melalui proses elektrolisis untuk bisa digunakan sebagai penghemat bahan bakar minyak. Setelah melalui proses elektrolisis air akan menghasilkan gas H2 dan O2 yang memiliki nilai oktan yang lebih tinggi, sehingga dapat meningkatkan kalori bahan bakar (bensin atau solar). Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud menggunakan air sebagai suplemen bahan bakar bensin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah katalis 2 gram, 3 gram, dan 4 gram KOH pada penggunaan multi cell water electrolyzer model plat terhadap peningkatan performa mesin Yamaha Mio dan reduksi emisi gas buang. Penelitian ini akan membandingkan kelompok standar (tanpa penggunaan water electrolyzer) dengan kelompok eksperimen (dengan menggunakan multi cell water electrolyzer model plat yang dilengkapi Automatic Voltage Regulator). Standar pengujian performa mesin berdasarkan SAE J1349 dan pengukuran emisi gas buang bedasarkan SNI 09-7118.3-2005. Instrumen dan peralatan yang digunakan adalah chasis dynamometer, stopwatch, exhaust gas analyzer, fuel meter, rpm counter, oil temperature meter, dan blower. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa penggunaan multi cell water electrolyzer model plat dan AVR berpengaruh terhadap reduksi emisi gas buang dan peningkatan performa mesin Yamaha Mio. Dengan menggunakan katalis KOH 4 gram, rata – rata persentase reduksi emisi CO dan HC masing - masing sebesar 23,94 % dan 22,03 %. Rata – rata persentase peningkatan gas buang CO2 dan O2 masing - masing sebesar  17,88 % dan 26,53 %. Sedangkan rata – rata persentase peningkatan torsi dan daya masing – masing sebesar 9,83 % dan 11,03 %. Konsumsi bahan bakar mengalami penurunan rata – rata sebesar 16,20 %. Kata kunci: Emisi gas buang, performa mesin, multi cell water electrolyzer model plat, AVR, dan KOH.
PENGARUH VARIASI SCREEN TERHADAP INTENSITAS TURBULENSI WIND TUNNEL TIPE OPEN CIRCUIT SUBSONICDI JURUSAN TEKNIK MESIN UNESA BAGAS SURYA, PATRIA
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas dari wind tunnel adalah turbulensi. Turbulensi adalah gerakan partikel yang sangat tidak teratur dalam suatu aliran fluida yang sulit untuk diperkirakan gerakannya. Tingkat fluktuasi turbulensi dalam aliran disebut intensitas turbulensi. Semakin tinggi nilai intensitas turbulensi maka fluktuasi kecepatan semakin besar. Turbulensi yang tinggi akan mengakibatkan hasil penelitian menjadi kurang akurat. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya agar intensitas turbulensi di test section menjadi rendah.Dalam penelitian ini screen digunakan untuk meningkatkan kualitas aliran di bagian test section. Screen mereduksi fluktuasi kecepatan dengan membelokkan udara yang masuk agar semakin sejajar dengan sumbu x sehingga aliran menjadi lebih uniform. Aliran yang uniform ini menunjukkan intensitas turbulensi yang rendah pada test section. Pengujian dilakukan dengan menggunakan wind tunnel tipe open circuit subsonic dengan ukuran test section 1235 x 365 x 365 mm3. Screen dipasang setelah contraction cone. Kemudian divariasikan jumlahnya screenyang terpasang sebanyak  1 hingga 3 buah setiap jenisnya serta kerapatannya (screen porosity) yaitu 0,91; 0,81; 0,72 kemudian diletakkan pada X/L 0,74, 0,83, dan 0,91 dimana X merupakan jarak screen dari ujung settling chamber sedangkan L merupakan jarak settling chamber hingga screen holder paling belakang. Dikarenakan keterbatasan fasilitas, maka alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecepatan fluida adalah pitot static tube yang mana seharusnya menggunakan Hot Wire Anemometer (HWA). Pengukur tekanan menggunakan manometer berjenis V dengan sudut 7o. Selanjutnya dilakukan pengambilan data tekanan dinamik dengan pressure transducer dan data logger. Data yang diambil kemudian dikonversikan sehingga diperoleh kecepatan (U). Selanjutnya dihitung intensitas turbulensinya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa screen memiliki kemampuan untuk mereduksi intensitas turbulensi. Wind Tunnel yang dipasang menggunakan 3 buah screen memiliki intensitas turbulensi paling rendah yang divariasikan pada X/L 0,74, 0,83, dan 0,91, begitu pula semakin kecil porosity dari screen maka intensitas tubulensi semakin kecil. Namun dalam penelitian juga menunjukkan bahwa screen porosity yang terlalu kecil dan dipasang dengan jumlah yang banyak, kurang begitu efektif untuk mengurangi intensitas turbulensi seperti yang ditunjukkan pada variasi SM6-2 dan SM6-3. Hal ini dikarenakan screen merupakan suatu penghalang yang menghasilkan wake sehingga menimbulkan fluktuasi sendiri pada test section.  Dari semua variasi yang telah dilakukan, variasi SM4-3 (Screen Mesh 4 dipasang 3 buah) memiliki kemampuan paling baik dalam mereduksi intensitas turbulensi disetiap Bilangan Reynolds. Kata kunci: Intensitas Turbulensi, wind tunnel open circuit subsonic, screen 
PENGARUH JUMLAH MATA SAYAT ENDMILL CUTTER, KEDALAMAN PEMAKANAN DAN KECEPATAN PEMAKANAN (FEEDING) TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA PADA MESIN MILING CNC TU-3A DENGAN PROGRAM G01 RAKHMAD F, YOPI
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi kedalaman pemakanan (0,4 mm; 0,6 mm; 0,8 mm) dan kecepatan pemakanan terhadap tingkat kekasaran permukaan benda kerja aluminium 2036 pada mesin milling CNC TU-3A dengan program absolut G01, mengetahui pengaruh variasi jumlah mata sayat pahat endmill cutter 2 flute dan 4 flute. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium CNC teknik mesin Balai Latihan Kerja Surabaya dan untuk pengujian tingkat kekasaran permukaan benda kerja dilakukan di Laboratorium Pengujian Bahan, Teknik Mesin, Balai Latihan Kerja Surabaya. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan benda kerja tersebut adalah surface tester. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Ada pengaruh variasi jumlah mata sayat pahat dan kedalaman pemakanan, yaitu pada kedalaman 0,4 mm; 0,6 mm; dan 0,8 mm dengan jumlah mata sayat 2 flute dihasilkan rata-rata tingkat kekasaran permukaan benda kerja secara berturut-turut adalah 0,83 µm, 0,92 µm, dan 1,25 µm dan jumlah mata sayat 4 flute  adalah 0,75 µm, 0,87 µm, dan 0,93 µm. Jadi semakin dalam pemakanan dan semakin sedikit jumlah mata sayat pahat, maka tingkat kekasaran permukaan benda kerja akan semakin tinggi. (2) Ada pengaruh variasi kecepatan pemakanan, yaitu pada kecepatan 70 mm/menit, 80 mm/menit, 90 mm/menit dengan kedalaman 0,4 mm dan jumlah mata sayat pahat 4 flute dihasilkan rata-rata tingkat kekasaran permukaan benda secara berturut-turut adalah 0,75 µm, 0,87 µm, dan 0,93 µm. Jadi, semakin rendah kecepatan pemakanan, maka semakin rendah tingkat kekasaran permukaan benda kerja. (3) Variasi jumlah mata sayat pahat, kedalaman pemakanan dan kecepatan pemakanan yang menghasilkan benda kerja dengan nilai rata-rata tingkat kekasaran paling rendah adalah pengerjaan dengan mata sayat 4 flute, kedalaman pemakanan 0,4 mm dan kecepatan pemakanan 70 mm/menit, yaitu sebesar 0,75 µm. Kata Kunci: jumlah mata sayat, kedalaman pemakanan, kecepatan pemakanan, kekasaran permukaan, aluminium 2036.
ANALISIS KAPASITAS PRODUKSI DALAM MENGANTISIPASI KENAIKAN JUMLAH PERMINTAAN PEMBUATAN KERANGKA BAJA DI PT. OMETRACO ARYA SAMANTA DENGAN METODE ROUGHT CUT CAPACITY PLANNING (RCCP) SUBCHAN, MUCHAMMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada saat ini hampir semua perusahaan yang bergerak di bidang industri terutama pada manufactur dihadapkan pada suatu masalah yaitu adanya tingkat persaingan yang semakin kompetitif, sehingga ada yang mengalami penurunan permintaan tetapi ada juga yang mengalami peningkatan permintaan. Dari data tahun 2011 – 2012 PT. Ometraco arya Samanta mengalami peningkatan permintaan sebesar 40.1%.Menghadapi hal ini apakah perusahaan akan menambah jumlah mesin atau menambah jumlah pekerja sebagai respon dari besarnya jumlah permintaan yang terus meningkat, sehingga perlu dilakuakan penelitian yang lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif.Analisis kapasitas menggunakan metode Rought Cut Capacity Planning (RCCP).Dengan menggunakan 3 metode peramalan untuk meramalkan permintaan yaitu moving average, weight moving average, dan single exponential smoothing. Hasil peramalan permintaan dengan metode Single Exponential Smoothing tahun 2014 dari Januari – Desember sebanyak 840.557 ton, 731.813 ton, 773.806 ton, 701.423 ton, 917.266 ton, 1023.198 ton, 1092.794ton, 890.425 ton, 652.042 ton, 683.753 ton, 763.154 ton, dan 962.034 ton. Kapasitas yang diperlukan untuk tiap – tiap Work Station yaitu: WS I = 3300 ton (terdiri dari mesin plotting), WS III = 6754 ton (terdiri dari mesin cutting, mesin radial drilling, mesin punch cnc), WS IV = 4609 ton (terdiri dari mesin las mig, mesin gerinda), WS VI = 9163 ton (terdiri dari mesin brander manual, brander otomatis, las mig, gerinda), WS VIII = 2442 ton (terdiri dari mesin sandblasting). Kapasitas tersedia untuk tiap – tiap Work Station yaitu: pada WS I = 848.23 ton, WS III = 3337.22 ton, WS IV = 20027.70 ton, WS VI = 30394.96 ton, WS VIII = 1118.41 ton. Kekurangan kapasitas terjadi di WS I sejumlah 2451.77 ton, WS III sejumlah 3416.78 ton, WS VI sejumlah 217.67 ton, WS VIII sejumlah 1323.59 ton, sehinggaperlu dilakukan langkah - langkah alternatif untuk mengatasi masalah kekurangan kapasitas produksi untuk jangka pendeknya dengan  cara melakukan overtime (jam lembur) dan melakukan subkontrak dengan perusahaan lain atau bisa juga untuk jangka panjangnya melakukan penambahan mesin di WS I = 6 unit, WS III = 11 unit, WS VIII = 4 unit. Kata kunci: peramalan, kapasitas.
PENGARUH KUALITAS THINNER PADA CAMPURAN CAT TERHADAP HASIL PENGECATAN INDRA PERMANA, FACHRUDIN
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Thinner adalah larutan yang memiliki komposisi  dari beberapa tipe solvent dan merupakan bahan campuran yang digunakan dalam proses pengecatan yang akan mempengaruhi kekentalan, kekilapan, dan pengeringan cat. Diketahui bahwa fenomena tentang aplikasi thinner dimana tidak maksimalnya suatu proses penguapan reaksi thinner serta pembentukan lapisan cat yang terjadi sesudahnya disebabkan oleh jenis thinner yang tidak tepat. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tentang aplikasi beberapa kualitas thinner pada suatu campuran cat yang ideal agar diketahui pengaruh-pengaruh yang terjadi di dalamnya. Yang pengecatannya menggunakan trainer untuk memastikan variabel-variabelnya tidak berubah kemudian diuji pada dua tingkat kualitas cat, yakni cat berkualitas sedang (medium quality) dan cat berkualitas rendah (low quality). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Obyek penelitian adalah tiga merek thinner yang memiliki karakteristik dan tingkat kualitas yang berbeda, yaitu A special, cemerlang dan autoglow yang divariasikan dengan perbandingan 1:0,8, 1:1, 1:1,2, 1:1,4 dan 1:1,5 yang di aplikasikan dengan dua cat beda kualitas yakni nippe 2000 dan danagloss. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Instrumen penelitian yang digunakan  adalah tess cromatografi dan gloss meter. Dari penelitian eksperimen ini didapatkan hasil terbaik dengan perbandingan 1:1,4 pada cat nippe 2000 dicampur dengan thinner A special di dapatkan angka GU 89,1 sebagai sampel terbaik, dan pada perbandingan 1:1,5 dengan sampel danagloss dicampur dengan thinner cemerlang didapatkan angka GU 87 sebagai hasil terbaik. Dan peneliti menemukan bahwa campuran yang terlalu encer memang memiliki kekilapan yang bagus tetapi cat akan meleleh karena cat yang di semprotkan tidak dapat menempel ke permukaan plat, dan kualitas dari sample thinner terbaik yaitu auto glow mengalami kehilangan kekilapan setelah mengering. Kata kunci : glossmeter, thinner, rasio campuran
PENGARUH MODIFIKASI CDI DC TERHADAP TEGANGAN INDUKSI KOIL PADA KENDARAAN BERMOTOR MASHUDI, ANTOK
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Seiring dengan semakin pesatnya ilmu perkembangan ilmu pengetahuan, tentunya memberikan dampak pada berbagai sektor. Mengingat semakin berkembangnya zaman semakin berkembang pula teknologi yang ada di dunia terutama perkembangan pada dunia teknologi otomotif, sehingga manusia menginginkan apa yang dihasilkan itu bersifat lebih baik. Dalam sebuah mesin pasti kita akan mendengar sebuah kata performa atau unjuk kerja mesin. Untuk performa yang dihasilkan suatu mesin di pengaruhi oleh beberapa hal salah satunya yaitu dipengaruhi oleh sistem pengapian, sistem pengapian mempunyai peranan  yang  sangat penting dalam pembangkitan tenaga (daya) yang dihasilkan oleh suatu mesin bensin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana pengaruh penggunaan CDI modifikasi terhadap tegangan induksi koil pada sepeda motor.Obyek yang digunakan dalam penelitian iniyaitu sistem pengapian arus DC dengan kapasitas besarnya tegangan induksi koil pada mesin berkapasitas 150cc – 160cc  yang di wakilkan pada mesin kendaraan sepeda motor  Honda Mega pro perakitan tahun 2007. Tempat penelitian dilakukan di PT. PLN Distribusi Jawa Timur Area Mojokerto – Rayon Ploso Jombang.Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan cara melakukan eksperimen melalui pengujian terhadap objek yang akan diteliti dan mencatat data-data yang diperlukan.Prosedur pengujian yaitu pengambilan data dilakukan pada setiap putaran kelipatan 500rpm. Diawali dari putaran 1500rpm sampai putaran 9000rpm. Untuk analisa data dilakukan dengan metode deskripsi, yaitu dengan mendeskripsikan atau menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai realita yang diperoleh selama pengujian.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan CDI Modifikasi pada sepeda motor Honda Mega Pro tahun 2007 dapat meningkatkan tegangan induksi koil.Besarnya tegangan yang dihasilkan dengan menggunakan CDI modifikasi dari awal putaran stasioner yaitu 1500 rpm sampai 9000 rpm rata-rata terjadi peningkatan yang signifikan. Peningkatan tegangan tertinggi yaitu sebesar 12,7% yang didapatkan pada putaran 1500 rpm. Kita dapat melihat bahwa penggunaan CDI modifikasi sangat membantu untuk meningkatkan tegangan induksi koil suatu kendaraan bermotor. Kata kunci:  CDI DC, Tegangan induksi koil
PENGARUH PENGGUNAAN VARIAN BAHAN KABEL TEGANGAN TINGGI TERHADAP DAYA HANTAR LISTRIK PADA SISTEM PENGAPIAN KENDARAAN BERMOTOR PANDU WIJANARKO, SOFFYANTO
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pembakaran sempurna dalam suatu mesin pembakaran dalam, menjadi kunci pokok dalam indikasi suatu mesin dengan performa yang baik, ramah lingkungan dan mempunyai efisiensi bahan bakar yang baik. Pengapian haruslah tepat waktu. Namun pengapian atau ignition yang tepat, dirasa masih belum cukup untuk menunjang pembakaran yang sempurna jika loncatan bunga api belum mampu membakar semua bahan bakar di dalam silinder (bunga api besar). Dalam menyikapi hal ini diperlukan komponen sistem pengapian yang mampu menunjang agar tegangan untuk pengapian bisa lebih besar. Penelitian ini bermaksud mencari bahan inti kabel yang mampu menghantarkan tegangan yang paling besar, untuk menunjang pengapian sempurna pada mesin berkapasitas 160 cc. Kabel tegangan tinggi atau ignition cable merupakan media penghantar listrik bertegangan tinggi untuk dihantarkan menuju busi (pengapian). Inti (core) dari kabel tegangan tinggi yang digunakan dalam penelitian adalah inti dari serat karbon, stainless stell, Alumunium dan tembaga (standart). Data diambil di tiap kelipatan 500rpm, dari putaran terendah 1500 rpm hingga 9000 rpm. Dan data tegangan tinggi diperoleh dari Volt meter (Voltstick) pada setiap varian bahan inti kabel. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan cara melakukan eksperimen melalui pengujian terhadap obyek yang akan diteliti dan mencatat data-data yang hasilkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan varian kabel tegangan tinggi (eksperimen) pada mesin berkapasitas 160 cc menghasilkan perbedaan tegangan dari kabel standart. Peningkatan tegangan tertinggi yaitu sebesar 17,61% dengan menggunakan kabel berinti Alumunium berdiameter 1,02 mm, peningkatan tegangan 12,44% dengan menggunakan kabel berinti serat karbon berdiameter 2,32 mm dan peningkatan tegangan 6,76% dengan menggunakan kabel berinti Stainless steel. Bahan (core) kabel tegangan tinggi mempengaruhi proses penghantaran listrik. Selain itu diameter kawat juga berperan dalam proses penghantaran listrik. Penggunaan kabel eksperimen mampu meningkatkan proses penghantaran listrik dengan baik, guna menyempurnakan proses pengapian yang sempurna, Kata Kunci: Bahan, Sistem Pengapian, Kabel Tegangan Tinggi
EKSPERIMEN PEMBUATAN BIOETANOL BERBAHAN BAKU UMBI SUWEG (AMORPHOPHALLUS CAMPANULATUS) SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF QOMARUDDIN, ACH
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu energi dengan persentase konsumsinya terbesar dan terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Selain itu, dengan diiringi peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi, mengakibatkan kelangkaan bahan bakar minyak di Indonesia. Sehingga pemerintah berupaya mencari sumber bahan bakar alternatif nonfosil yang dapat diperbarui sebagai pengganti BBM. Salah satu sumber energi alternatif tersebut yaitu bioetanol. Tumbuhan yang dapat menghasilkan bioetanol adalah tumbuhan yang memiliki kandungan karbohidrat, misalnya suweg. Suweg merupakan tanaman penghasil umbi yang berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa. Umbi suweg memiliki kandungan karbohidrat sebesar 18%. Jenis penelitian ini adalah eksperimen, dengan tiga tahapan proses. Proses pertama yaitu tahap persiapan, 250 gram umbi suweg dikukus kemudian ditumbuk dan dicampur dengan 500 ml air. Proses kedua yaitu fermentasi (peragian) dengan bantuan ragi Saccharomyces cerevisiae (ragi tape) dengan variasi 4 gram, 6 gram, 8 gram dan 10 gram dan lama fermentasi selama 1 hari, 2 hari, 3 hari dan 4 hari. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kadar bioetanol yang paling optimal. Proses terakhir distilasi, yaitu pemisahan kadar etanol dan air dengan suhu 780C. Dari rancangan penelitian, peneliti mendapatkan perbandingan parameter yang optimal yaitu jumlah umbi suweg 250 gram, jumlah air 500 ml, jumlah ragi 6 gram dan lama fermentasi 4 hari dihasilkan kadar etanol 26%. Perbandingan parameter optimal tersebut menjadikan peneliti untuk memproduksi bioetanol dalam skala besar untuk bisa diuji karakteristiknya. Perbandingan 1000 gram umbi suweg : 2000 ml air : 24 gram ragi difermentasi selama 4 hari menghasilkan 160 ml bioetanol dengan kadar 94,86% dengan tahapan distilasi bertingkat. Dan dari uji karakteristik bioetanol dari umbi suweg ini didapatkan bahwa nilai kalori 5892 Kcal/kg, flash point 180C, pour point <-700C, viskositas 5 cPs, dan density 0,82032 gram/cm3.   Kata kunci:  bioetanol, umbi suweg, fermentasi, distilasi
PROSES PEMBUATAN BAHAN BAKAR BIOETHANOL DARI PEMANFAATAN LIMBAH PERMEN BLASTER POP BALONG BENDO - SIDOARJO WAHYU FIRMANSYAH, SHOLICHUDIN
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 02 (2014): JTM : Volume 03 Nomor 02 Tahun 2014
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kebijakan pemerintah untuk melakukan subsidi sebaiknya membatasi jumlah kendaraan, hal ini dilakukan untuk mengurangi konsumsi BBM yang digunakan di Indonesia. Oleh karena itu untuk menanggulangi harga BBM yang akan naik dan dengan semakin menipisnya jumlah bahan bakar yang tidak diimbangi oleh jumlah kendaraan, maka dengan berinovasi diharapkan dapat mencari pengganti BBM yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bahan bakar alternatif yang bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar yaitu biodiesel, bioethanol, biogas, dan biomassa. Dalam hal ini peneliti mengkhususkan pada bahan bakar bioethanol. Bioethanol adalah sebuah bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan, atau dari limbah yang mengandung glukosa atau karbohidrat. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah permen Blaster Pop yang ada di daerah Balongbendo – Sidoarjo. Limbah ini sangat banyak tetapi masih belum maksimal dalam mengolah limbah permen ini menjadi sebuah lapangan usaha yang menjanjikan. Selama ini hanya digunakan sebagai campuran makanan ternak.Metode yang dipakai adalah bahan baku limbah permen Blaster Pop sebanyak 250gr. Variasi air adalah 1500ml, 1750ml, dan 2000ml. Variasi berat ragi adalah 15gr dan 20gr. Sedangkan lama fermentasi menggunakan variasi 4 hari, 5 hari, dan 6 hari. Setelah memperoleh hasil yang maksimal dilakukan distilasi lanjutan dengan menambahkan garam dan silika gel. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan bioethanol dengan kadar ³ 95%. Penelitian menggunakan model eksperimen. Eksperimen ini dilakukan dengan memvariasi waktu, ragi, dan jumlah air. Hasil penelitian ini untuk mengetahui jumlah air, lama fermentasi, lama distilasi bertingkat yang optimal pada bioethanol dari limbah permen Blaster Pop.Hasil dari penelitian ini didapatkan perbandingan yang optimal yaitu 250gr limbah permen Blaster Pop, 2000ml air, 20gr ragi, dan lama fermantasi 4 hari. Pada pembuatan bioethanol skala besar 400gr limbah permen Blaster Pop menghasilkan 500ml bioethanol dengan kadar 94,82% dan diperoleh pada distilasi ketiga. Hasil uji karakteristik bioethanol limbah permen Blaster Pop  untuk titik nyala (flash point) 300C, titik tuang (pour point) < -700C, viscosity 4,964 cSt, density 0,818 g/cm3, nilai kalor 5759,116 cal/gr. Untuk kadar bioethanol murni dengan kadar 99,5% diperoleh karakteristik sebagai berikut, untuk titik nyala (flash point) 120C, titik tuang (pour point) -17,20C, viscosity 1,17 cSt, density 0,789 g/cm3, nilai kalor 6380 cal/gr. Kata kunci : Bioethanol, limbah permen