cover
Contact Name
Rahyu Zami
Contact Email
tamaddun.fah@uinjambi.ac.id
Phone
+6281278884033
Journal Mail Official
tamaddun.fah@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16 Simpang Sungai Duren Kab. Muaro Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jambe: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
ISSN : 27159515     EISSN : 27158217     DOI : https://doi.org/10.30631/jambe.v8i2.247
Core Subject :
Jambe :Jurnal Sejarah Peradaban Islam terbit dua kali dalam satu tahun (Januri dan Juli). Pertama kali terbit tahun 2019 dan merupakan kumpulan hasil karya dosen, sejarawan, peneliti dengan lingkup kajian Sejarah dan budaya Islam, karena itu menjadi wadah perkembangan ilmu sejarah dan peradaban islam yang kritis, dinamis dan aktual. Jurnal Jambe memuat dan mengkomunikasikan artikel-artikel hasil penelitian dan karya ilmiah yang berkaitan dengan sejarah Peradaban Islam yang memfokuskan kajian pada bidang sejarah/budaya melayu Indonesia dan melayu jambi khususnya. Jurnal ini diterbitkan oleh Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sutlhan Thaha Saifuddin Jambi, baik edisi cetak maupun online. Jurnal ini bertujuan menyebarluaskan hasil kajian dan penelitian serta penelaahan pustaka tentang keilmuan Sejarah/budaya melayu Indonesia, khususnya Sejarah melayu Jambi
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
LEMBAGA BAITUL MAL PADA ABAD KE-7–15 M:KAJIAN HISTORIOGRAFI Dimas Dwi Putra
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 7 No. 2 (2025): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v7i2.217

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fungsi Lembaga Baitul Mal dalam sejarah Islam, khususnya peranannya dalam pengelolaan keuangan negara dan distribusi kesejahteraan sosial. Baitul Mal merupakan lembaga keuangan publik yang berfungsi mengumpulkan dan menyalurkan berbagai sumber pendapatan negara Islam seperti zakat, kharaj, jizyah, dan ghanimah. Dalam perkembangan sejarah, Baitul Mal tidak hanya berperan sebagai tempat penyimpanan harta, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan ekonomi umat. Melalui kajian deskriptif-historis, penelitian ini menyoroti dinamika pengelolaan Baitul Mal dari masa Rasulullah ﷺ, Khulafaur Rasyidin, hingga pemerintahan Islam klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem Baitul Mal berkontribusi signifikan dalam menciptakan keseimbangan sosial, pemerataan ekonomi, serta menjadi inspirasi bagi pengembangan lembaga keuangan Islam modern.
SEJARAH PERKEMBANGAN SASTRA ARAB DI ABAD PERTENGAHAN (ABAD 7-13 MASEHI) Fajar Nur Syah Alam
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 1 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i1.222

Abstract

Abad Pertengahan di abad 7-12 Masehi era Bani Umayyah dan Abbasiyah, merupakan masa puncak Peradaban Islam yang signifikan, yang tidak hanya menyaksikan kemajuan dalam Agama dan Sains, tetapi berkembang pesat dalam bidang literatur Arab. Sastra Arab, yang berakar kuat pada tradisi lisan di era Jahiliyah dan periode awal Islam (Shadr al-Islam), mengalami perubahan besar hingga menjadi bentuk yang lebih terstruktur, beragam genre-sastra, dan karya ilmu bahasa lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-deskriptif dengan metode kajian pustaka (library research). Peneliti mengumpulkan data dari sumber buku-buku sejarah sastra klasik dan modern beserta jurnal ilmiah yang membahas perkembangan sastra Arab, kemudian langkah berikutnya yaitu menganalisis data untuk melihat hubungan sastra dengan kondisi sosial pada masa itu.Setelah data terkumpul, peneliti melakukan verifikasi atau kritik sumber untuk menguji otentisitas fisik teks serta kredibilitas isinya. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa Sastra Arab di Abad Pertengahan adalah cerminan dari kemajuan peradaban Islam yang kompleks dan dinamis. Periode ini tidak hanya mengukuhkan puisi sebagai mahkota sastra Arab, tetapi juga meletakkan dasar bagi perkembangan prosa modern, kritik sastra, dan narasi populer.
TRADISI BETANGAS MENGGUNAKAN SEREH WANGI SEBAGAI WARISAN MASYARAKAT MELAYU DI DESA KEMUNING MUDA Anggini Istikhomah
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 1 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i1.232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi betangas menggunakan sereh wangi sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Melayu di Desa Kemuning Muda. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif etnobotani melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap informan kunci seperti tetua adat dan perempuan yang pernah melakukan betangas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa betangas merupakan ritual pra-pernikahan yang berfungsi sebagai pembersihan fisik, persiapan mental, serta simbol penyucian diri calon pengantin. Sereh wangi (Cymbopogon nardus) digunakan sebagai bahan utama karena aromanya yang harum serta dipercaya memiliki khasiat antiseptik,menyegarkan tubuh, dan menghilangkan bau badan. Tradisi ini juga mengandung nilai sosial dan spiritual yang memperkuat ikatan komunitas serta menjaga kesinambungan adat. Namun, modernisasi menyebabkan generasi muda mulai meninggalkan praktik ini. Oleh karena itu, dokumentasi tradisi betangas penting dilakukan sebagai upaya pelestarian pengetahuan lokal dan warisan budaya takbenda masyarakat Melayu.
SIRIH DAN PINANG: SIMBOL ADAT DAN PENGOBATAN TRADISIONAL MASYARAKAT MELAYU JAMBI M.arif januarda Saputra
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 1 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i1.236

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran sirih (Piper betle L.) dan pinang (Areca catechu L.) dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Melayu pesisir di Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Fokus penelitian diarahkan pada dua aspek utama, yaitu pemanfaatan sirih–pinang sebagai bagian dari pengobatan tradisional dan sebagai simbol adat dalam kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri atas tokoh adat, pelaku pengobatan tradisional, serta masyarakat yang masih mempraktikkan penggunaan sirih–pinang dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirih dan pinang dipercaya masyarakat memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan mulut, mengatasi keluhan ringan, serta menjaga kebugaran tubuh, yang pemanfaatannya didasarkan pada pengetahuan turun-temurun. Selain itu, sirih–pinang juga memiliki makna simbolik yang kuat sebagai lambang penghormatan, kesantunan, dan keharmonisan sosial dalam berbagai kegiatan adat. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa meskipun praktik ini masih bertahan, pemahaman generasi muda terhadap fungsi medis dan makna budaya sirih–pinang cenderung mengalami penurunan. Penelitian ini menegaskan pentingnya dokumentasi dan kajian etnomedisin untuk memperkuat pelestarian pengetahuan lokal masyarakat Melayu pesisir. Penelitian ini juga menunjukkan adanya dinamika perubahan dalam praktik penggunaan sirih–pinang di tengah modernisasi, yang memengaruhi pola pewarisan pengetahuan lokal. Dengan demikian, kajian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami keberlanjutan etnomedisin dan simbol budaya Melayu pesisir pada konteks lokal yang spesifik.
JEJAK KEEMASAN ANDALUSIA PADA INTEGRASI AGAMA DAN SAINS PERIODE DINASTI UMAYYAH (756-1031 M) Tutik Agustina; Najma Mustafidah; Anisa Dwi Setyani; Nabilah Nur Rahmadani
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 2 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i2.247

Abstract

Peradaban Islam di Andalusia pada masa Dinasti Umayyah (756–1031 M) dikenal sebagai salah satu periode penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan yang berjalan secara beriringan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi agama dan sains pada masa tersebut dalam membentuk peradaban Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (library research) dengan mengkaji berbagai sumber berupa buku, jurnal, dan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan rasional berkembang secara harmonis dan menjadi faktor penting dalam kemajuan peradaban di Andalusia. Ilmu agama berperan sebagai landasan nilai dan etika, sedangkan sains berkembang sebagai sarana untuk memahami alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kemajuan tersebut didukung oleh kebijakan penguasa, berkembangnya lembaga pendidikan, serta lingkungan sosial yang toleran. Namun, peradaban ini mengalami kemunduran akibat konflik internal, ketidakstabilan politik, serta krisis sosial dan ekonomi. Meskipun demikian, warisan keilmuan Andalusia tetap memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan dunia.
MODERNISASI DAN TRANSFORMASI MARITIM KESULTANAN UTSMANIYAH: STUDI ATAS FREGAT ERTUĞRUL DAN KAPAL SELAM NORDENFELT (1863–1890) Naufal Rahmansyah Nur Wilakso; Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid; Dwi Susanto
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 2 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i2.250

Abstract

Penelitian ini membahas modernisasi maritim Kesultanan Utsmaniyah pada paruh kedua abad ke-19 dengan fokus pada kapal fregat Ertuğrul dan kapal selam Nordenfelt dalam periode 1863–1890. Penelitian bertujuan menganalisis kondisi politik dan militer Utsmaniyah, perkembangan teknologi kapal perang, serta strategi maritim yang diterapkan dalam mempertahankan kedaulatan dan memperkuat posisi internasional kekaisaran. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan memanfaatkan sumber pustaka berupa buku, jurnal ilmiah, serta dokumen sejarah terkait perkembangan angkatan laut Utsmaniyah abad ke-19. Pendekatan sejarah militer dan teori tantangan dan respons digunakan untuk memahami kebijakan modernisasi sebagai bentuk adaptasi terhadap tekanan geopolitik dan kemajuan teknologi militer Eropa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi maritim Utsmaniyah merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kapasitas pertahanan laut melalui adopsi teknologi modern. Kapal fregat Ertuğrul berperan dalam pelatihan militer dan diplomasi internasional, sedangkan kapal selam Nordenfelt merepresentasikan inovasi pertahanan maritim. Meskipun demikian, modernisasi tersebut masih menghadapi keterbatasan struktural, terutama ketergantungan teknologi asing dan kondisi ekonomi kekaisaran.
MODERASI BERAGAMA SEBAGAI INSTRUMEN HEGEMONI NEGARA: ANALISIS PERSPEKTIF ANTONIO GRAMSCI Tezar Pirliansa
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 2 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i2.308

Abstract

Moderasi beragama dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu agenda strategis negara dalam menjaga stabilitas sosial dan kehidupan keberagamaan masyarakat Indonesia. Wacana tersebut diproduksi secara massif melalui lembaga pendidikan, media, birokrasi keagamaan, serta berbagai kebijakan pemerintah sebagai upaya menghadapi meningkatnya intoleransi, radikalisme, dan polarisasi sosial berbasis agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis moderasi beragama dalam perspektif teori hegemoni Antonio Gramsci dengan melihat bagaimana negara membangun konsensus sosial melalui produksi wacana keagamaan di ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research melalui analisis berbagai literatur, jurnal ilmiah, buku, dan dokumen resmi pemerintah yang berkaitan dengan moderasi beragama dan teori hegemoni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya berfungsi sebagai proyek sosial-keagamaan dalam menjaga toleransi dan harmoni masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen hegemonik negara dalam membentuk pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Dalam perspektif Gramsci, dominasi negara berlangsung melalui mekanisme persetujuan sosial (consent) dengan memanfaatkan institusi pendidikan, media, dan otoritas keagamaan untuk membangun legitimasi terhadap model keberagamaan tertentu yang dianggap sesuai dengan kepentingan nasional. Penelitian ini menegaskan bahwa relasi agama dan negara di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari praktik produksi wacana dan kepentingan kekuasaan yang bekerja di dalamnya. Kata Kunci: Moderasi Beragama, Hegemoni, Antonio Gramsci, Negara
ANALISIS INFORMATION POVERTY DAN REKONSTRUKSI SOSIAL-EKONOMI NELAYAN MELAYU PESISIR KECAMATAN MENDAHARA M. Rizal Pahlefi
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 2 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i2.309

Abstract

Sistem patron-klien antara nelayan pesisir Melayu dan tengkulak telah berlangsung lama secara historis dan menciptakan kemiskinan struktural yang sulit diputus. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana relasi kuasa ekonomi tersebut langgeng melalui fenomena kemiskinan informasi (information poverty) serta bagaimana rekonstruksi sosial-ekonomi dapat dilakukan berbasis nilai kebudayaan Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus kritis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap nelayan di Kecamatan Mendahara, observasi partisipatif, dan analisis dokumen historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tengkulak mempertahankan monopolinya melalui taktik asimetri informasi, di mana nelayan sengaja diisolasi dari informasi harga pasar riil, regulasi bantuan pemerintah, dan alternatif pembiayaan syariah. Secara historis-kultural, ikatan utang dianggap sebagai jaminan sosial normatif dalam masyarakat Melayu, meskipun bertentangan dengan prinsip keadilan ekonomi (‘adalah) dalam Islam. Sebagai solusi, artikel ini merumuskan model Community Information Center (Pusat Informasi Komunitas) berbasis masjid pesisir yang mengintegrasikan literasi informasi keuangan dengan sistem pembiayaan mikro syariah (BMT). Melalui model ini, ketergantungan nelayan terhadap tengkulak dapat dikikis secara bertahap melalui pemenuhan hak akses informasi ekonomi.
FOLKLOR LISAN: LEGENDA DANAU KERINCI DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI BUDAYA JULIAN STEWARD Hawanda Nicolla
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 2 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i2.312

Abstract

Penelitian ini mengkaji Legenda Danau Kerinci, khususnya kisah Calungga dan Calupat, sebagai mitos etiologi yang merekam ingatan kolektif masyarakat Kerinci tentang terbentuknya bentang alam di sekitar Gunung Kerinci. Dengan menggunakan teori Ekologi Budaya Julian Steward, analisis difokuskan pada bagaimana narasi mitologi amukan naga Calungga dan jebolan ekornya yang membentuk Sungai Batang Meranginmerupakan representasi simbolis dari fenomena geologi vulkano tektonik yang sesungguhnya membentuk Danau Kerinci dan lembah sekitarnya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Legenda Danau Kerinci berfungsi sebagai historiografi alam berbasis kearifan lokal: Masyarakat Kerinci kuno mengodekan perubahan geologis dramatis ke dalam bahasa mitologi agar dapat diwariskan secara lisan kepada generasi berikutnya. Tiga prosedur ekologi budaya Pengurus hubungan teknologi lingkungan, pola perilaku pemanfaatan lingkungan, dan pengaruh pola perilaku terhadap sistem budaya terbukti hadir dalam struktur naratif legenda ini. Pelestarian legenda ini menjadi mendesak karena para penutur (tukang kunun) semakin berkurang akibat modernisasi.
STIGMA FISIK DAN PERLAWANAN SENYAP DALAM CERITA RAKYAT JAMBI BUJANG BUNGKUK: ANALISIS TEORI STIGMA SOSIAL ERVING GOFFMAN Nelson Muhammad Nabil
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 1 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i1.313

Abstract

Cerita rakyat merupakan salah satu media yang merepresentasikan nilai sosial dan budaya masyarakat pada suatu masa. Salah satu cerita rakyat Jambi, Bujang Bungkuk, menghadirkan tokoh utama yang mengalami diskriminasi akibat kondisi fisiknya berupa tubuh pendek dan bungkuk. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk stigma sosial yang dialami tokoh Bujang Bungkuk menggunakan teori stigma sosial Erving Goffman. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data penelitian berupa narasi dan dialog dalam cerita rakyat Bujang Bungkuk. Analisis dilakukan melalui teknik pembacaan intensif, klasifikasi data, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma terhadap Bujang Bungkuk muncul melalui pelabelan negatif, ejekan, serta penilaian masyarakat berdasarkan penampilan fisik. Namun demikian, tokoh Bujang Bungkuk tidak merespons stigma dengan kekerasan ataupun balas dendam. Ia justru melakukan bentuk perlawanan simbolik melalui sikap rendah hati, kemampuan mengobati, kecerdasan, serta keikhlasan menolong tanpa mengharapkan imbalan. Pada akhir cerita masyarakat mengalami perubahan persepsi sehingga stigma yang sebelumnya melekat berubah menjadi penghormatan sosial. Cerita rakyat ini menunjukkan bahwa masyarakat Melayu Jambi telah menghadirkan kritik terhadap diskriminasi fisik jauh sebelum isu body shaming menjadi perhatian publik pada masa kini